[KRIS BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in HUNAN (3) — IRISH’s Tale

HOL(M)ES

DESTINATION in Hunan  ]

— in a ruined city, can you survive? —

Starring by:

OC`s Wang Jia-yi with Kris Wu

Supported by EXO`s Suho; OC`s Minrin, Ren, Hyerim, Runa, Wang Jin-yi

An adventure, dystopia, family, melodrama and politic story rated by PG-17 served in mini-chapter length with series type

This story is not suitable for readers under 15 years old

2017  ©  storyline by IRISH ft. Len K

in association with

EXO Fanfiction Indonesia

Disclaimer:

Cerita ini murni berdasarkan fiksi dan tidak bermaksud untuk menyinggung/menjelek-jelekkan salah satu pihak. Seluruh bagian cerita yang berhubungan dengan suatu negara dan/atau organisasi, dipergunakan semata-mata hanya untuk hiburan dan bukannya merugikan salah satu pihak. Tidak ada bagian dari cerita ini yang menggambarkan kehidupan politik secara nyata. Hol(m)es sendiri berasal dari kata Holmesinspired from Sherlock Holmes—yang memiliki makna tersirat sebagai perpaduan dari kata Holes, dan Holmes yang maknanya akan didapatkan pembaca setelah menyelesaikan pembacaan cerita dengan seksama. Sekali lagi, tidak ada tujuan menjatuhkan nama baik/citra dari salah satu negara/organisasi/perorangan/kedudukan yang nantinya akan ada di cerita ini. Penyebaluasan karya, duplikasi isi cerita, dan mengadaptasi cerita ini tanpa seizin/sepengetahuan penulis,  adalah sebuah tindakan tidak menyenangkan yang tidak seharusnya dilakukan.

This story was created and dedicated for:

Kris (ex) of EXO

Previous story:

Hol(m)es in Gangnam-gu [Lay]

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

“Ada apa?”

Mendengar suara pintu kokpit yang dibuka, Junmyeon menoleh. Didapatinya Minrin memasuki kokpit dan langsung duduk di kursi ko-pilotnya.

“Kenapa kau memanggilku jika kau sendiri mengaktifkan mode autopilot? Kau tidak bisa ya, melihatku santai sedikit?” gerutu Minrin.

“Kau itu ko-pilot. Tempatmu itu di kokpit, bukan di kabin/” balas Junmyeon. “Apa saja yang kau lakukan di belakang? Kenapa lama sekali?”

“Bukan urusanmu. Kenapa? Kau khawatir padaku?”

“Hei, jangan bicara sembarangan. Aku hanya ingin mengingatkanmu bahwa tidak sepatutnya ko-pilot itu mondar-mandir di kabin ketika sedang bertugas. Dan ya, aku khawatir jika kau nantinya melakukan hal-hal bodoh di kabin.”

“Harusnya aku yang bilang begitu.” dengus Minrin.

“Aku serius, Minrin. Apa yang sudah kau lakukan di belakang?” Junmyeon kembali bertanya.

“Mencari sesuatu untuk kugunakan bercinta. Kenapa?”

“CHOI MINRIN!” Junmyeon berseru. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras, dan matanya menatap tajam Minrin.

“Ada apa denganmu? Kenapa kau berteriak seperti orang gila, sih?!”

“Aku serius, Minrin. Apa yang menahanmu di belakang sana?”

Sifat temperamen Junmyeon muncul. Menurut pengalaman Minrin yang sudah cukup lama bersama Junmyeon, di saat seperti ini akan lebih baik jika Minrin tidak membuat Junmyeon semakin murka. Minrin tahu, Junmyeon tidak mungkin menyakitinya.

Tapi membuat kekacauan dan bahkan merusak benda-benda di sekitar mereka? Minrin tidak ingin itu terjadi. Terlebih saat mereka berada di ketinggian ribuan kaki di atas langit.

“Ada sedikit kekacauan di belakang.” kata Minrin.

“Kekacauan apa?”

“Tiba-tiba Luhan muncul…”

“Apa?”

“Kurasa itu ulah Jongdae. Luhan muncul dan mengancam semua penumpang dengan senjata tajam. Dia marah pada kekasihnya, Hyerim. Aku tidak mau repot-repot mencari tahu apa yang terjadi di antara mereka. Tapi kurasa Luhan merasa dikhianati. Namun aku yakin, pemicunya lebih dari itu.

“Kemudian Luhan meminta wine padaku. Karena di sini tidak ada awak lainnya, aku mengambilkan wine untuknya. Tapi sesaat setelah aku mengembalikan wine ke tempatnya, tiba-tiba Wang Jia-yi sudah membubuhkan racun ke dalam wine Luhan.

“Kemudian aku bertanya padanya, di pihak siapa dia berdiri? Dia hanya menjawab jika dia ingin bertahan hidup. Jadi yah, aku tetap memberikan wine itu pada Luhan. Tentu saja, Luhan kemudian mati. Dan kekasihnya, Hyerim, sempat menyerangku sebelum menyerang Jia-yi.

“Singkat cerita, dua gadis itu terlibat dalam pertarungan yang tidak seimbang. Lalu sebelum Jia-yi sekarat, aku membuat Hyerim pingsan. Kurasa. Kalau aku tidak memukul terlalu keras. Setelahnya aku mengobati Jia-yi kemudian terjebak di sini karena panggilanmu,” jelas Minrin panjang lebar.

“Apa kau sudah gila?! Kenapa kau membiarkan Luhan terbunuh?!” nampaknya Minrin salah, emosi Junmyeon kembali tersulut. “Memangnya kenapa? Bukankah Arshavin akan membuangnya sebentar lagi? Aku hanya meringankan pekerjaannya saja.” jawab Minrin santai.

“Tahu apa kau soal rencana Arshavin?” geram Junmyeon.

“Oh, aku mungkin tidak mengetahui rencana iblis gila itu sebanyak dirimu. Tapi yang pasti, aku tidak sebuta dirimu untuk mengikuti semua rencana Arshavin mentah-mentah.” cibir Minrin. “…, lagipula Baekhyun sudah jelas-jelas membelot dari Arshavin. Pasti terjadi sesuatu.”

“Kenapa kau selalu mengacaukan rencanaku?! Sebenarnya kau ini ada di pihak siapa? Lalu kenapa jika Baekhyun membelot? Dari awal orang itu tidak bisa dipercaya!”

“Kalau begitu harusnya kau perlakukan aku dengan perlakuan yang sama!” akhirnya Minrin berseru pada Junmyeon. Lelah juga telinganya sedari tadi mendengar teriakan-teriakan kemarahan pria itu.

“Apa maksudmu?”

“Harusnya kau perlakukan aku sama seperti kau memperlakukan Baekhyun, sebagai seorang pembelot juga.”

“Kenapa aku harus melakukannya?”

“Karena aku sejak awal tidak pernah memihak pada Arshavin sepenuhnya! Karena sejak awal aku mengikuti rencana-rencana Arshavin karena dirimu! Karena kau, terlalu bodoh untuk mencerna semua kegilaan ini! Karena kau terlalu dibutakan oleh dendammu hingga kau sendiri tidak melihat jika apa yang kau lakukan selama ini adalah tindakan yang sia-sia! Kenapa kau tidak menyadarinya?!”

Junmyeon terdiam sejenak. “Minrin, aku berjanji tidak ada yang sia-sia dari ini semua.”

“Sayang sekali aku tidak mempercayainya lagi, Junmyeon.” tukas Minrin yang kemudian melangkah pergi.

“Mau kemana kau?” Junmyeon dengan sigap menggenggam tangan Minrin, mencegah kepergian sang gadis dengan begitu eratnya.

Crew rest compartment, aku butuh sedikit istirahat.”

“Tetaplah di sini.” Junmyeon lirih memohon.

“Tidak mau.” Minrin menghempaskan tangan Junmyeon. “Aku tidak mau bersama orang bodoh. Kau tahu kan, aku tidak suka orang bodoh.” Minrin langsung memilih untuk pergi dan mengakhiri percakapan mereka sebelum mereka berdebat lagi.

Dan Junmyeon termenung di kursi pilotnya. Diusaknya wajahnya kasar. Lagi-lagi ia terjebak dalam siklus yang sama. Bukannya Junmyeon suka dan tidak ingin mengakhiri siklus menyebalkan seperti saat ini, hanya saja ia tidak yakin dirinya cukup mampu atau tidak.

“Choi Minrin… ada-ada saja ulahmu ini.”

Junmyeon baru saja akan menenangkan pikirannya sejenak dari rasa marah yang mendominasi akibat ulah Minrin saat tiba-tiba saja salah satu saluran radio di kokpitnya berbunyi.

Sontak, Junmyeon melempar pandang ke arah pintu kokpit, sedikit merasa lega karena setidaknya Minrin tidak ada di dalam jarak dengarnya sekarang.

“Junmyeon? Kau sudah dalam perjalanan?”

“Ya, aku di sini.” Junmyeon berkata setelah dia mendengar apa yang lawan bicaranya di seberang sana katakan.

“Ingat tujuan kita, Junmyeon, jangan lengah dan jangan biarkan siapapun mengendalikan pikiranmu. Kau tahu apa yang harus dilakukan, bukan?”

Mendengar perkataan lawan bicaranya, Junmyeon hanya dapat menghela nafas pasrah. Ya, mau bagaimana lagi? Dia hanya bisa menuruti apa yang ‘atasan’-nya katakan.

“Hmm, aku mengerti. Aku akan membawanya segera setelah pesawat kami mendarat.” sahut Junmyeon kemudian.

Baguslah, tolong kau jaga dan tahan dia. Jangan sampai dia kabur.” vokal dari lawan bicara Junmyeon di saluran radio rahasia itu berkata.

“Baiklah, aku mengerti.” Junmyeon mengakhiri percakapan mereka dan menuju ke CRC—Crew Rest Compartment—untuk menjemput Minrin.

Di ruangan sempit yang disebut oleh banyak kru pesawat termasuk pilot sebagai ‘peti mati’ itu, Junmyeon melihat Minrin tertidur di salah satu kursi yang sudah diatur rebah. Pelan Junmyeon mendekati Minrin sebelum menepuk lengan gadis itu lembut. Refleks yang bagus membuat Minrin langsung terjaga.

“Sebentar lagi kita sampai.” kata Junmyeon sebelum Minrin bersuara.

“Oh, baiklah.” Minrin segera bangkit dan hendak bergerak menuju ke kokpit. Tapi lagi-lagi Junmyeon menahannya. Pria itu kini berlutut menggunakan satu kaki sambil memegang tangannya.

“Tapi ada pekerjaan lain yang harus kita lakukan.” Junmyeon beradu pandang dengan Minrin. “Kita harus mengamankan Wang Jia-yi.”

“Lalu?” Minrin menatap dengan alis terangkat.

“Kau tahu aku tidak bisa melakukannya tanpamu.”

Di luar dugaan, Minrin tertawa pelan dan itu membuat Junmyeon heran. “Menjijikkan sekali pemilihan katamu, Jun. Nampaknya kau masih belum sadar juga.”

“Minrin, kumohon.”

Minrin mencondongkan tubuhnya hingga menyisakan sedikit jarak antara wajahnya dengan wajah Junmyeon. “Lakukan itu sendiri, Jun. Jangan libatkan aku. Sekarang lepaskan aku sebelum kuhajar dirimu.” kata Minrin dingin.

Lagi, Junmyeon membiarkan Minrin pergi begitu saja.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Sejak Minrin memberitahunya jika gadis itu dan Junmyeon berada di pihak Arshavin, Jia-yi sudah menaruh waspada pada dua orang itu. Bagi Jia-yi kini, tidak ada yang bisa dipercayai lagi. Siapapun itu.

Termasuk Yixing yang tadi nampak sudah menunggu kedatangannya. Maka dari itu sebelum melangkah lebih jauh, Jia-yi berusaha menghindari Yixing. Namun malangnya, ia kini justru berhadapan dengan Junmyeon.

“Saudaramu menunggumu di sana, Nona Jia-yi. Kenapa kau tidakberlari menemuinya?” tanya Junmyeon. Jia-yi gelagapan. Dirinya dalam masalah besar. Ia tidak bisa lari begitu saja karena luka-luka yang ia dapatkan dari Hyerim saat perkelahian tadi.

“Aku tidak ada waktu untuk menemuinya saat ini.” jawab Jia-yi.

“Oh, begitu. Kalau begitu, bagaimana kalau aku mengantarmu ke tempat tujuanmu? Aku tahu bagaimana caranya kabur dari saudaramu itu,” tawar Junmyeon.

“Ngomong-ngomong, alasan Junmyeon memihak pada Arshavin ialah karena ia mempunyai dendam terhadap ayahmu…” Jia-yi teringat ucapan Minrin. “Tidak, terima kasih. Aku bisa pergi sendiri.” Jia-yi bergegas ambil langkah untuk menjauhi Junmyeon.

Namun terlambat, Junmyeon sudah menahannya dari belakang. Jia-yi meronta dan hal itu cukup membuat Junmyeon kewalahan. Namun Jia-yi hanyalah perempuan ringkih yang sedang terluka, jadi perlawanannya tidak begitu berarti saat ini. Dalam sekejap, Junmyeon sudah mampu membuatnya tak sadarkan diri.

“Aku tidak tahu jika kau kesulitan melumpuhkan seorang gadis.” tiba-tiba Minrin muncul entah dari mana dengan membawa sebuah mobil.

“Bukankah kau menyuruhku melakukan ini sendiri?” cibir Junmyeon.

Minrin turun dari mobil dan membopong tubuh Jia-yi yang tak sadarkan diri. Dengan mudahnya Minrin melempar tubuh kurus Jia-yi ke kursi belakang. Tidak lupa ia memasang borgol pada tangan Jia-yi, mengikat kakinya, menyumpal mulutnya, dan melilitkan kain untuk menutupi mata Jia-yi.

“Aku hanya memastikan kau tidak melakukan tindakan bodoh lainnya.”

“Oh, ya?” goda Junmyeon.

“Ya. Dan bukankah seharusnya kau berterima kasih karena aku datang tepat waktu?”

“Apa? Terima kasih? Enak saja.” Junmyeon tertawa pelan dan langsung menuju kursi pengemudi. Minrin secara otomatis mengikuti Junmyeon dan duduk di kursi samping Junmyeon.

“Aku menyesal telah membantumu.” gumam Minrin.

Junmyeon hanya tersenyum tipis dan mulai melajukan mobil yang ditumpanginya. “Kemana yang lainnya, omong-omong? Kau membunuh mereka?” tanya Junmyeon membuat Minrin terdiam sejenak.

Diam-diam dia tidak habis pikir, apa yang sebenarnya ada dalam benak Junmyeon sampai dia pikir Minrin akan sampai hati membunuh semua orang dengan mudahnya tanpa berpikir dua kali?

“Mereka ada di tempat yang aman. Setidaknya, kupastikan kau tidak bisa mengusik mereka juga.” sahut Minrin ringan. “Mengapa begitu?” nada bicara Suho kembali meninggi.

Minrin, terdiam sejenak sebelum akhirnya dia menjawab:

“Karena kau katakan urusanmu hanya dengan Wang Jia-yi saja.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Dad, sebenarnya kita ini sedang apa?”

Sebuah tanya masuk ke dalam rungu Kris. Hal yang membuatnya sadar kalau dia telah dengan terpaksa melibatkan putri semata wayangnya dalam sebuah kegiatan beresiko. Bagaimana tidak, pagi tadi saat Kris hendak berangkat diam-diam, Ren justru bersikap lebih waspada.

Gadis belia itu sudah duduk manis di depan ruang makan hotel yang mereka tempati, memangku kedua tangan di atas paha dan menatap lekat ke arah Kris yang sudah akan mengutarakan seribu alasan untuk membohongi si gadis.

“Aku mau ikut, kemanapun Dad pergi hari ini, besok, besoknya lagi, dan besoknya lagi.

Kalimat tegas tak terbantahkan itu Ren ucapkan sesaat sebelum Kris mulai mengeluarkan jurus seribu kebohongannya. Yah, pada akhirnya dia dan Ren terjebak di sebuah cafe kecil di pinggir kota, berpura-pura jadi sepasang Ayah-anak luar biasa akur yang sedang menghabiskan waktu di pagi hari bersama-sama.

“Kita sedang menunggu.” kata Kris.

Alis Ren sekarang bertaut, gadis belia itu sebenarnya cukup cerdas untuk mampu menganalisis apa yang sedang terjadi. Usianya tidaklah bisa dikategorikan sebagai anak-anak lagi secara mental.

Dia paham benar jika ayahnya mungkin sudah terlibat dengan sesuatu yang di luar dugaannya. Mengingat bahwa mereka tempo hari membatalkan penerbangan keluar dari Asia hanya karena sebuah telepon saja—yang kemudian membuat Kris memutuskan kalau mereka harus pergi ke Hunan.

Dan satu hari yang lalu, sebuah telepon aneh serupa kembali diterima Kris. Tentu, Ren paham pasti ada sesuatu yang telah terjadi tapi memang sengaja disembunyikan Kris darinya.

“Baiklah, sejak tiga jam yang lalu kita menunggu.” kata Ren dongkol. Dia tenggelamkan dirinya di balik layar smartphone yang sekarang ada di tangan, berpura-pura sibuk dengan dunianya sendiri padahal jelas-jelas dia memerhatikan tingkah laku Kris sekarang.

“Nah, itu dia!” Kris tiba-tiba saja berseru, mengejutkan Ren tentu saja, untung Ren tidak sampai terlonjak kaget seperti yang Kris lakukan sekarang.

Samar, Ren melihat sosok seorang wanita yang tengah berjalan tertatih-tatih, bertelanjang kaki dengan tubuh penuh luka. Apa wanita itu yang Kris tunggu sejak tadi?

“Siapa di—” vokal Ren terhenti saat dia mengingat benar wajah wanita yang sekarang terlihat benar-benar menyedihkan itu.

“—Dad, bukankah dia wanita yang bersama denganmu saat di Seoul?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Ugh!”

Jia-yi mengerang cukup keras saat dirasakannya bagaimana tangannya sekarang kaku karena terikat, sementara dia tak bisa melihat apapun akibat kedua maniknya yang tertutupi kain gelap.

“Kim Junmyeon!” Jia-yi temukan kemampuan vokalnya bekerja, dia berteriak cukup lantang, tapi suaranya bergema. Itu artinya dia ada di ruangan tertutup, sekarang.

“Kakak!” Jia-yi tersentak begitu dia mendengar suara Jin-yi. “Jin-yi?! Kau ada di sini?!” suara Jia-yi bahkan bergetar menahan takut saat ini.

“Kakak, tolong aku!” jeritan Jin-yi terdengar menggema, Jia-yi sendiri gemetar di tempat, dia ingin bergerak menolong sang adik tapi dia sendiri tidak berkutik. Lalu, dia bisa apa untuk menolong adiknya?

“Hyerim? Runa?” panggil Jia-yi kemudian.

Hmph!”

SRAK!

Jia-yi kembali berjengit saat didengarnya suara jeritan tertahan, juga pergerakan tergesa-gesa di dekatnya. Sudah jelas Jia-yi tahu, Hyerim dan Runa ada di ruangan yang sama dengannya.

Ugh, kita harus pergi dari sini.” kata Jia-yi kemudian. Tak lama, terdengar suara dehaman pelan, milik wanita.

“Mau pergi kemana?” tanya itu masuk ke dalam rungu Jia-yi. Dalam kebutaan sementaranya, rupanya Jia-yi tidak tahu jika Minrin sejak tadi sudah bersama dengan mereka.

“Choi Minrin!” teriak Jia-yi kemudian.

Minrin sendiri lantas menutup telinganya. “Berisik!” bentak Minrin kesal, “…, tidak bisa, ya? Bicara pelan-pelan? Memangnya kau pikir ruangan ini seluas apa?” sambungnya, Minrin kemudian duduk dengan nyaman di satu-satunya sofa yang ada di sana, selagi maniknya mengawasi pergerakan empat orang sandera di sana dari sudut mata.

“Apa yang kau inginkan dari kami?” kata Jia-yi.

“Diinginkan dari kalian? Lebih tepatnya, hanya kau, Nona Wang. Kau tidak tahu, kalau aku tidak mencegah Junmyeon dari tindakan bodohnya, mungkin saja saat ini kau sudah tidak bernyawa, tahu. Harusnya kau itu berterima kasih padaku.” kata Minrin mulai berkelakar.

Cih, berterima kasih? Dengan menerima perlakuan seperti ini darimu?!” balas Jia-yi tak kalah keras, dia tentu tak ingin kalah dari lawannya sekarang.

Mendengar ucapan Jia-yi, Minrin hanya tersenyum sarkatis. “Berteriak saja sampai kau puas, tidak akan ada yang bisa menemukanmu di sini.” katanya.

Jia-yi akhirnya hanya bisa menggerutu kecil. Dia juga tak mau buang-buang tenaga dengan berdebat melawan Minrin, lebih baik dia gunakan waktunya untuk memikirkan rencana lain saja.

Ugh! Sialan, penutup mulut ini!” Jia-yi kenali suara Hyerim di sana, gadis itu rupanya baru saja berhasil melepaskan dengan paksa kain yang digunakan menyumpal mulutnya. Beruntung, Hyerim cukup berpengalaman.

“Wah, kau sudah berhasil ternyata.” terdengar suara Minrin melangkah pelan, diikuti suara selotip yang ditarik dengan kasar berikut teriakan kesakitan lainnya.

Aw! Sakit!” suara Runa. “Aku membantumu, tahu. Supaya kau itu bisa berbincang-bincang dengan teman lama.” kata Minrin sebelum dia akhirnya kembali ke sofa, membaringkan diri berusaha untuk melepas sedikit penatnya.

Ugh, ini semua terjadi karena aku melibatkan diri pada Oh Sehun!” Runa terdengar mengumpat, tidak habis pikir gadis itu, kenapa dia harus mendapatkan masalah seperti ini hanya karena ketertarikannya pada seorang dokter yang ketampanannya di atas rata-rata?

Memang, semua yang berada di atas standar itu patut dicurigai.

“Kau pikir aku juga akan terlibat kalau Luhan tidak bertemu dengan Sehun-mu saat itu?” Hyerim terdengar menyahuti.

“Kenapa jadi Sehun yang salah?” nada bicara Runa tahu-tahu saja meninggi. “Ya memang dia yang salah! Kau juga salah! Bagaimana bisa kau dengan lemahnya membiarkan seseorang menculikmu!?” balas Hyerim tak mau kalah.

Hey! Dia mengancamku dengan pistol, tahu! Mana berani aku bertaruh nyawa, jadi kuturuti saja apa maunya. Toh, penculik itu juga terlihat baik.” sahut Runa mengingatkan Jia-yi pada insiden penculikan Runa dan adiknya, Jin-yi.

Tidak seperti yang Jia-yi duga tentang bagaimana kasarnya cara Baekhyun menculik adiknya dan juga Runa—yang saat itu tengah bersama dengan Jin-yi—ternyata pria itu tidak melakukan hal-hal mengerikan.

Tanpa sadar, hal itu membuat Jia-yi tersenyum juga. Selama ini Baekhyun selalu berperan seolah dia adalah antagonis yang sesungguhnya, pembunuh yang tidak berperasaan. Padahal, dia juga punya sisi ‘baik’ ini dalam dirinya.

“Yang menculikmu adalah Baekhyun, Runa-ssi.” kata Jia-yi kemudian.

“Kau mengenal Baekhyun?” tanya Minrin tiba-tiba, mendengar omelan Hyerim dan Runa bukanlah apa-apa baginya, tapi cara Jia-yi sekarang tiba-tiba saja menyebut nama seseorang dengan begitu lantang adalah hal yang baru.

Minrin tak pernah tahu kalau Jia-yi ternyata sudah pernah bertemu dengan Baekhyun.

“Ya, aku mengenalnya—cukup baik. Setidaknya aku bersama dengannya selama beberapa hari.” tatapan Minrin sekarang membulat mendengar ucapan Jia-yi.

Dia yakin seribu persen, Junmyeon tidak akan tahu tentang hal ini.

Cukup lama Minrin terdiam, larut dalam pemikirannya sendiri sampai kemudian dia menghela nafas panjang dan buka suara.

“Kalau kau mengenal Baekhyun, berarti kau juga bisa menghentikan Junmyeon.” katanya membuat Jia-yi menyernyit. “Apa maksudmu?”

Well, bicara pada pembunuh berdarah dingin itu lebih sulit daripada berbicara dengan Junmyeon yang tempramen. Aku tidak ingin Junmyeon terlibat dalam masalah ini lebih jauh lagi. Apa kau bisa menghentikannya?” lagi-lagi Jia-yi memutar akal.

Dia tahu dia tidak bisa percaya begitu saja pada siapapun. Jia-yi ingat dia sudah pernah bertemu dengan sepasang kekasih berjiwa psikopat yang hampir saja membuat nyawanya melayang sia-sia.

Tapi, Jia-yi juga sudah pernah bertemu dengan pasangan semacam Hyerim dan Luhan, di mana Hyerim yang tidak berhasil menghentikan kekasihnya pada akhirnya justru harus mendapati fakta bahwa kekasihnya itu dibunuh.

Oleh Jia-yi, pula.

“Kenapa kau ingin dia berhenti?” tanya Jia-yi. “Karena aku tidak ingin dia berakhir seperti Luhan. Apapun yang menunggu di akhir perjalanan ini, adalah kematian. Dan aku tidak ingin Junmyeon mati.”

“Sialan, kau!” umpat Hyerim, karena gadis itu juga masih menyimpan rasa sakit hati yang sarat ketika Minrin bicara tentang kematian Luhan seolah kematian itu bukanlah apa-apa.

“Apa kau akan melepaskan kami semua jika aku berhasil membuatnya berubah pikiran dan keluar dari rencana ini?” tanya Jia-yi akhirnya.

Minrin tersenyum kecil. “Jika dia kembali padaku, aku akan melepaskan kalian semua. Tidak, lebih tepatnya, kau kulepaskan sekarang, Jia-yi. Tapi untuk mendapatkan keselamatan tiga orang ini, kau harus membawa Junmyeon kembali padaku.”

“Dan bagaimana aku bisa percaya padamu?” kata Jia-yi, “Bagaimana aku bisa tahu kalau kau akan membawa tiga orang ini ke tempat yang aman?” sambungnya lagi.

Minrin, hanya menyunggingkan sebuah senyum kecil.

“Aku akan membawa mereka ke tempat pertama kali aku bertemu dengan Junmyeon. Jika kau berhasil membuatnya berubah pikiran, pastinya kau akan datang kembali bersama dengan Junmyeon.

“Kau bisa bertemu dengan mereka bertiga, dan aku bisa melanjutkan kehidupanku dengan si bodoh itu. Bagaimana? Tidakkah penawaranku sekarang terdengar sangat menggiurkan?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Jia-yi?”

“K—Kris?”

Hampir saja jantung Jia-yi berhenti bekerja saat ditemukannya wajah begitu familiar tiba-tiba saja menyapanya di tengah pelarian. Ya, setelah terlibat dalam konversasi berat bersama dengan Minrin, Jia-yi temukan dirinya dibuang begitu saja di pinggir pertokoan kecil yang letaknya saja sudah tidak Jia-yi kenali.

Demi Tuhan, Jia-yi kenal Hunan sebaik dia mengenal dirinya sendiri, tapi tempat ia sekarang berada terasa sungguh asing. Dan bertemu dengan Kris—juga putrinya yang mengekor lekat di belakang—serasa bagai menemukan sebuah bantuan berharga.

“Astaga! Apa yang terjadi padamu? Ren, bantu dia, aku akan bawa mobil kita ke sini.” kata Kris, tanpa menunggu persetujuan dari Jia-yi maupun putrinya, Kris sudah berlari ke arah deretan mobil yang terparkir di seberang jalan.

Ren sendiri tak mau bersikap apatis, jadi dia masukkan ponselnya ke dalam saku selagi dia—dengan tubuh mungilnya—membantu Jia-yi, setidaknya dia bisa jadi sandaran sementara bagi Jia-yi.

“Apa yang terjadi padamu?” tanya Ren tak sanggup membendung tanya dalam benaknya. Yang ditanya, masih kepayahan mengatur nafas, matahari pagi yang mulai meninggi rupanya membuat telapak Jia-yi merasa kesakitan juga.

Karena tak kunjung menjawab pertanyaannya, Ren akhirnya melempar pandang ke tubuh Jia-yi dari ujung kaki sampai ujung kepala. Beberapa bagian tubuh gadis itu membiru, memar, dan bahkan di sudut bibirnya ada bekas darah mengering.

Sekilas dilihat, Jia-yi seperti korban penganiayaan.

“Apa kau habis dipukuli?” kontan Ren bertanya saat dia sampai pada kesimpulan tentang penganiayaan yang mungkin diterima Jia-yi.

Mendengar tanya si gadis belia, Jia-yi akhirnya menoleh, dipandanginya Ren yang sekarnag memasang raut penasaran dengan sebuah senyum muram.

“Ya, Seoul baru saja memukuliku tanpa ampun.” kata Jia-yi membuat Ren menyernyit bingung. Dia sudah akan buka mulut untuk kembali bertanya pada Jia-yi saat kemudian Ren sadar kalau mobil gelap—yang Kris sewa dini hari tadi—sudah berhenti tidak jauh dari tempat mereka sekarang berdiri dan menjadi tontonan.

Iya, sekedar tontonan lewat tentu saja. Karena di Hunan tak ada yang benar-benar peduli pada keadaan orang lain. Mungkin, mereka justru menonton Jia-yi karena merasa aneh pada bantuan yang diterima gadis itu, ya?

“Ren, ayo.” kata Kris, dia keluar dari kursi kemudi dan dipapahnya tubuh Jia-yi sementara Ren langsung masuk dan mendudukkan dirinya di kursi penumpang depan.

“Kita akan membawanya ke rumah sakit?” tanya Ren begitu Jia-yi dan Kris sudah ada di dalam mobil. “Tidak, Ren.” sahut Kris sambil memasang seatbeltnya.

Tidak? Kali ini alis Jia-yi yang berkerut bingung. “Lalu, kemana kau akan membawaku? Kupikir kau hendak membantu.” kata Jia-yi, seolah tak peduli pada eksistensi pendengar cilik yang ada di depan.

“Benar, Dad, bukankah kita akan membantunya?” tanya Ren menggemakan pertanyaan Jia-yi barusan.

Tak langsung menjawab pertanyaan dua penumpangnya, Kris justru menyalakan mesin mobilnya dan mulai menjalankan kendaraan tersebut.

“Ada teman yang ingin bertemu dengannya, Ren. Dan aku hanya diharuskan mengantar nona ini padanya.” jelas Kris, pikirnya mungkin Ren tak akan mengerti. Tapi ya, memang Ren tidak mengerti, sih.

“Teman?” ulang Jia-yi penuh nada curiga. Kris kemudian melirik Jia-yi dari spion depan mobilnya, sebelum dia kemudian menyunggingkan sebuah senyum dan berkata:

“Ya, Arshavin sangat ingin bertemu denganmu, Jia-yi.”

“A—Arshavin?” sekarang Jia-yi membeku di tempat. Dia sudah tak bisa berbuat apa-apa. Baru saja, dia memercayai orang yang salah—lagi, dan dengan menyedihkannya mengharapkan bantuan dari seseorang yang jelas-jelas tidak akan memberinya bantuan.

“Siapa itu paman Arshavin, Dad? Kupikir kau akan menemui paman Baekhyun.” mendengar celetuk dari bibir Ren, bergeduplah jantung Jia-yi lebih kencang lagi.

“Tidak, aku akan menemui Baekhyun nanti denganmu, Ren. Nona ini harus diantar ke Arshavin dulu.” sahut Kris ringan, meninggalkan Jia-yi dalam ketidak mengertian juga rasa takut yang diam-diam mendominasi.

Kris nyatanya mengenal Arshavin dan mengenal Baekhyun juga? Sejak kapan? Saat mereka dulu bertemu Jia-yi yakin benar jika Kris tidak lebih dari seorang pria yang kehilangan anaknya saja.

Kalau mungkin Kris tiba-tiba saja terlibat karena seseorang tahu dia pernah bertemu dengan Jia-yi, lantas apa yang sekarang sedang Kris lakukan? Hendak mengantarnya pada Arshavin lalu bertemu dengan Baekhyun?

Sekarang, Jia-yi jadi bertanya-tanya. Sebenarnya Kris ini ada di pihak siapa?

please wait for the next story: Hol(m)es in Hunan (4) —

IRISH’s Fingernotes:

AKHIRNYA, aku bisa bernafas lega karena ulang tahun Kris aka Yipan gundul sudah berlalu. Meski dia enggak banyak eksis di sini tapi setidaknya dia sudah mendapatkan part paling greget kalo dibandingin sama yang lainnya.

Another mystery? Lol, ya sudah biarlah. Otak kriminalku lagi mode aktif ini, efek paranoid kemarin gara-gara deepweb masih ngebuntutin. Dan well, hari ini keparnoanku semakin menjadi gara-gara cari referensi buat Game Over (fanfiksi sebelah) dan berujung di reddit yang ngebahas soal game mematikan.

EH SYID KOKOROKU GA TAHAN WAKTU BACA-BACA ARTIKEL SOAL THE HOODED MAN, eh siyalan serius aku takut beneran, kenapa sih artikel-artikel (yang berusaha aku anggep fiktif, semoga aja bener fiktif karena tadi aku enggak sengaja juga nyasar ke reddit) itu kudu isinya serem-serem? Aku yang pada dasarnya takut sama hal-hal bernuansa horror jadi bener-bener terteror gara-gara baca artikel-artikel di sana. Ya Lord aku menyesal T…T tapi semuanya sudah terlanjur.

Again, big thanks buat Len yang sampai detik ini fingernotesnya enggak kuminta karena khawatir aku bakal dinistakan karena ngerjain fanfiksi kolab sampe enggak karuan begindang, wkwk.

Tapi serius, thanks a lot, dan sebagai ucapan maafku karena udah ngebuat kolab kita luntang lantung begini… besok di ulang tahun Chanyeol kamu masih akan dipertemukan dengan Kris sebagai bapak virtualmu yang botak dan doyan selingkuh :’)

Tbh, jangan salahkan Ipan yang tetiba aja jadi luntang lantung juga memihaknya. Salahin Ren, kalo enggak ada Ren pasti Ipan enggak bisa diancem macem-macem sama orang-orang jahat yang ada di dalem fanfiksi ini, termasuk authornya juga jahat.

Nah, segini dulu dariku. Udah malem dan aku masih mau ngelanjut mengeksplor hal-hal horror yang aku takutin itu (ya Tuhan enggak ada kapoknya) karena aku penasaran syekali ~~

Sampai ketemu di ulang tahun Chanyeol: tiga series Hol(m)es in Hunan terakhir!

Salam ketjup, Irish.

Ps: kasian, ulang tahun Yipan sepi fanfiksi yang ngerayain :’D

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

10 tanggapan untuk “[KRIS BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in HUNAN (3) — IRISH’s Tale”

  1. Ku sedih.. 😢 hikss!
    knapa pas bday 크리스 eps holmes’ny 없어!? 😭
    Bolak blk ku cari te2p nihil 😢 diselak sm suho, tp ga bs leave/bc2 komen jg 😯 knapa kah?
    Kan jd kloncat eps yg 백 nyelametin nyawa kai 😣 penasarann!! Sm drama couple luhan-hyerim 😕 detail’ny eike ngblank jg.
    Itu sbnr’ny eps bday 크리스 dah jd, dah irish post, dah da yg bc & komen tp trus irish delet kah??? Akh.. 왜!? 😣
    Anyway, akhr’ny disini 크리스 muncul 😗 ngbayangin’ny Papa 사스케 sm his only daughter 사라다 ja ah.. 😄 heheh..
    Jurus 1000 kebohongan!? 😂 pasti 크리스 got inspired by Itachi yg sk php-in 사스케 😁
    찬 jd Hero di closing ff bday project ni? Bwt ngalahin Tao a.k.a Arshavin sih.. bolehlah 😒 tp bwt jd pnyelamat 우리 main actress Ms. 왕 😞 mah 백 ajah, Jia yi & 백 dah srasi sjak nginep di t4 찬

  2. HANJAY MINRIN HANJAYYY. SENGAJA LU YEE BUAT KEKASIHKU MATI WKWKWKWK. GAK MAU TAU, DI EPILOG HARUS ADA HYERLU! LUHAN MERASA TERKHIANAT KDN TAU HYERIM MATA2 YG MAU NYELAMETIN JIAYIN KAN? ITU HOWW BISA TAUUU

    MIRIS JIAYI, DIKIRA KRIS BAIK. NYATANYA HOW… DIA KENAL ARSHAVIN SM BAEKHYUN, HANJAY, DIA KAN FOTOGRAFER BIASAAAA…. TERLEMPAR SANA-SINI MENUNGGU AJAL AJA JIAYI

  3. Kasian ya jia-yi, dilempar sana sini antara hidup dan mati entah teman atau musuh. Kalau hidup ya syukur, kalo mati ya udah, ikhlaskan :v

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s