[KRIS BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in HUNAN (2) — IRISH’s Tale

HOL(M)ES

DESTINATION in Hunan  ]

— in a ruined city, can you survive? —

Starring by:

OC`s Wang Jia-yi with Kris Wu

Supported by EXO`s Baekhyun, Chanyeol, Suho; OC`s Minrin, Ren, Hyerim, Runa, Wang Jin-yi

An adventure, dystopia, family, melodrama and politic story rated by PG-17 served in mini-chapter length with series type

This story is not suitable for readers under 15 years old

2017  ©  storyline by IRISH ft. Len K

in association with

EXO Fanfiction Indonesia

Disclaimer:

Cerita ini murni berdasarkan fiksi dan tidak bermaksud untuk menyinggung/menjelek-jelekkan salah satu pihak. Seluruh bagian cerita yang berhubungan dengan suatu negara dan/atau organisasi, dipergunakan semata-mata hanya untuk hiburan dan bukannya merugikan salah satu pihak. Tidak ada bagian dari cerita ini yang menggambarkan kehidupan politik secara nyata. Hol(m)es sendiri berasal dari kata Holmesinspired from Sherlock Holmes—yang memiliki makna tersirat sebagai perpaduan dari kata Holes, dan Holmes yang maknanya akan didapatkan pembaca setelah menyelesaikan pembacaan cerita dengan seksama. Sekali lagi, tidak ada tujuan menjatuhkan nama baik/citra dari salah satu negara/organisasi/perorangan/kedudukan yang nantinya akan ada di cerita ini. Penyebaluasan karya, duplikasi isi cerita, dan mengadaptasi cerita ini tanpa seizin/sepengetahuan penulis,  adalah sebuah tindakan tidak menyenangkan yang tidak seharusnya dilakukan.

This story was created and dedicated for:

Kris (ex) of EXO

Previous story:

Hol(m)es in Gangnam-gu [Lay]

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

Malam, rupanya tengah mencipta sebuah sandiwara. Di mana kencangnya hembusan angin yang bertiup, tengah jadi peran utama bersama dengan dingin yang menggigit. Dan di sanalah dua insan—yang tak jelas apa relasinya—berdiri dengan membalut diri mengenakan mantel tebal berwarna hitam.

Atensi keduanya tertuju pada jalan satu jalur kosong beberapa puluh meter dari tempat mereka sekarang menunggu. Tidak jauh di belakang mereka, di landasan yang menghampar terlihat sebuah pesawat pribadi tengah bertengger, menunggu penumpang gelapnya—tentu saja.

Dan jangan lupakan sepasang muda-mudi yang merupakan penguasa pesawat pribadi tersebut malam ini. Junmyeon, sang pilot, beserta ko-pilot wanita cantiknya, Minrin.

“Mereka belum tiba juga?” Junmyeon bertanya pada Minrin, sembari mempersiapkan pesawat yang sudah dipesan oleh Chanyeol. Dia tinggalkan kesibukan menunggunya dua menit lalu, merasa bahwa mengecek ulang kondisi pesawat yang hendak mereka terbangkan malam ini jauh lebih penting daripada sekedar berdiri dan menunggu.

“Belum. Kurasa sebentar lagi.” Minrin berdiri dari kursi yang sejak tadi didudukinya, dilemparkannya pandang sekilas ke arah Junmyeon yang memilih tak peduli, sebelum akhirnya Minrin merajut langkah yang berhasil mengusik perhatian Junmyeon.

“Kau mau kemana?”

“Menyambut kedatangan mereka,” balas Minrin.

Gadis itu tidak melangkah begitu jauh, dia hanya berusaha mencari tempat menunggu yang lebih nyaman saja, sehingga dia bisa melihat dengan jelas bagaimana tamu-tamunya datang. Sesekali dilemparnya pandang ke arah langit malam yang entah mengapa jadi satu-satunya pemandangan indah yang membuatnya merasa sedikit lebih tenang di antara kekacauan yang belakangan ini terjadi.

Minrin bukannya tidak tahu apa yang tengah terjadi, ia tahu beberapa hal. Termasuk soal penerbangannya kali ini. Seharusnya, semua penerbangan dibatalkan. Seoul terisolasi. Tapi kali ini pengecualian. Minrin juga sedikit-banyak tahu mengenai penumpangnya kali ini, tujuan mereka, dan mengapa mereka menuju ke sana.

Lamunan Minrin dibuyarkan oleh Mercedes SUV yang memasuki landasan terbang. Seorang gadis keluar dari mobil tersebut. Kemudian ia memutar dan kemudian tahu-tahu ia sudah memapah seorang pria bertubuh jangkung. Ada yang tidak beres, batin Minrin ketika melihat si pria terluka cukup parah.

Whoa, ada apa ini, Chanyeol-ssi?” sapa Minrin begitu si pria dan wanita sudah berada dalam radiusnya. “Dimana Jongdae?”

“Tidak ada apa-apa. Jongdae tidak bisa ikut. Segera bawa Jia-yi pergi, jangan menunda keberangkatan kalian,” Chanyeol meringis menahan rasa sakit. Tidak lupa ia mendorong Jia-yi. Dari perkataan Chanyeol, Minrin tahu jika situasinya bisa memburuk dengan tiba-tiba. Mungkin ancaman mendadak datang.

“Kau dengar apa kata Chanyeol, Nona,” kata Minrin pada Jia-yi yang rupanya masih memilih menatap Chanyeol dengan kekhawatiran yang sarat dalam pandangnya. “Kita harus bergegas.”

Setelah menilik ekspresi Minrin dengan penuh curiga, gadis Tiongkok itu kemudian menaiki tangga pesawat. “Bagaimana denganmu, Chanyeol?” Jia-yi berhenti di anak tangga ketiga.

“Jangan pikirkan aku. Masih ada yang harus kulakukan di sini.” Chanyeol mengibaskan tangannya. “Cepatlah. Kita berlomba dengan waktu mulai dari sini.”

Jia-yi hanya bisa mengangguk dan menggumamkan ‘terima kasih’ tanpa suara sebelum memasuki pesawat diikuti Minrin. Begitu masuk ke ruang utama pesawat, Jia-yi justru disambut oleh pemandangan mengejutkan yang membuat benaknya kembali berpikir dengan cepat.

Bagaimana bisa keempat orang yang dicarinya tahu-tahu sudah ada di sana?

“Kakak!”

“Apa yang kau inginkan?”

“Sebuah pesawat yang bisa membawa empat orang sampai ke Hunan.”

Inikah, maksud dari permintaan Baekhyun tempo hari?

“Jin-yi, Runa, Hyerim, bagaimana kalian bisa selamat?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Kau yakin cara ini sudah benar?”

Sepeninggal pesawat pribadinya dari landasan, Chanyeol masuk kembali ke dalam mobilnya, disandarkannya tubuh di kursi kemudi sementara di kursi penumpang, seorang pria telah duduk dengan santai.

“Ya, satu-satunya jalan untuk menyelamatkan mereka adalah dengan menjadikan mereka umpan pada musuh.” si pria Byun, menyahut dari kursi kemudi.

Chanyeol terdiam sejenak. Butuh tiga puluh menit baginya tadi untuk memercayai semua rencana yang sudah Baekhyun ungkap setelah keduanya ‘membereskan’ mayat dua orang pengkhianat yang meregang nyawa di kediaman Chanyeol.

Dan sekarang, Chanyeol hanya bisa menuruti rencana yang telah Baekhyun susun, menjadi pion dari rencana tersebut dan menanti hasil akhirnya.

“Aku belum berterima kasih padamu, omong-omong.” kemudian Chanyeol berkelakar.

“Untuk apa berterima kasih padaku? Aku bukannya hendak menyelamatkan nyawamu. Kau kuselamatkan karena kau masih bisa berguna.” Baekhyun menyahut dengan nada dingin. Tapi tentu, Chanyeol tahu benar jika Baekhyun tidak benar-benar berkata begitu.

“Karena kau sudah menyelamatkan Jongin. Tanpa adanya kedatanganmu ke rumahku, aku mungkin tak akan pernah tahu jika sahabatku dipaksa untuk meregang nyawa di dalam rumahku sendiri.

“Selama ini kupikir Jongin telah berkhianat dariku dan melarikan diri. Ternyata, dia terkurung di dalam kamar Arin, dan keadaannya tadi sungguh mengerikan. Kalau kau tidak menyelamatkannya, sekarang dia mungkin sudah tidak bernyawa.”

Mendengar penuturan Chanyeol, Baekhyun hanya bisa mendengus pelan. “Kau tidak seharusnya berterima kasih padaku. Jia-yi lah yang menemukan keberadaan pria itu, lalu dia memberitahuku sehingga aku bisa menghubungi kolegaku untuk menyelamatkannya.”

Chanyeol tersenyum kecil.

“Benar, aku belum berterima kasih pada Nona Wang juga.” gumamnya pelan, tidak akan Chanyeol lupakan, bagaimana dia melihat keadaan Jongin yang sudah begitu menyedihkan, saat Chanyeol sendiri sudah tidak tahu harus berbuat apa.

Sekonyong-konyong seorang pria dengan penampilan kacau mengaku sebagai dokter dan membawa Jongin bersamanya dengan menaiki sebuah ambulance.

“Siapa nama rekanmu itu?” kemudian Chanyeol bertanya.

“Kenapa? Kau ingin menjadikannya sekutumu juga? Tidak akan bisa, dia ada di pihak yang sama denganku.” sahutan dingin Baekhyun lagi-lagi membuat Chanyeol merasa geli. Sedikit banyak dia tahu bagaimana perangai Baekhyun.

Pria itu lebih senang memanfaatkan seseorang yang bisa dimanfaatkannya, mengumpulkan kolega sebanyak mungkin dan mempergunakan mereka di saat yang tepat. Baekhyun adalah seorang kriminal yang jenius.

Kalau saja Chanyeol boleh membandingkannya dengan Arshavin, Chanyeol berani bertaruh jika Baekhyun bisa jadi seorang kriminal yang lebih jenius daripada Arshavin. Hanya saja, Baekhyun lebih suka membabat habis semua sasarannya dengan tangan sendiri. Tidak seperti Arshavin yang bermain cantik.

Ya, menghancurkan kota Seoul tanpa menggunakan tangannya sendiri adalah cara yang cantik untuk membalas dendam sekaligus mendapatkan kekuasaan, menurut Chanyeol.

“Aku sudah punya rencana dengannya juga. Jika sesuatu terjadi padaku di tengah rencana kita, aku titipkan dia padamu, Chanyeol. Dia bisa dipercaya, setidaknya dia juga memercayai orang-orang yang kupercaya.” tiba-tiba saja Baekhyun berkata.

“Apa maksudmu? Kau, memercayaiku, begitu?” Chanyeol sudah akan tergelak saat mendengar kalimat Baekhyun barusan, tapi dia tentu berhasil menahan diri.

“Ya, mengajakmu bekerja sama berarti aku percaya padamu. Sekarang kau juga sudah tahu, aku tak punya hubungan apapun dengan Wang Jia-yi. Dia hanya seorang target yang harus kuhabisi.

“Jadi, mainkan peranmu dengan baik sebagai penyelamatnya saat aku menghancurkannya, Park Chanyeol. Atau aku sendiri yang akan menghancurkanmu.”

Ada ancaman tersirat dalam ucapan Baekhyun sekarang. Dan Chanyeol tahu benar, apa yang sedang dibicarakan pria itu. Diam-diam, Chanyeol merasa iri juga, dia bisa saja menaruh ketertarikan pada Jia-yi karena keanggunan dan keangkuhan si gadis, tapi cara Baekhyun sekarang bicara tentang gadis itu jelas memberi Chanyeol sebuah gambaran bahwa pria itu juga tertarik pada Jia-yi dengan cara yang berbeda.

“Apa yang membuatmu tertarik padanya, Baekhyun?” tak ayal bibir Chanyeol bertanya jua.

Mencoba mengelak dari pertanyaan Chanyeol, Baekhyun awalnya memilih bungkam. Tapi pada akhirnya pria itu juga memberanikan diri buka suara.

“Karena dia adalah wanita pertama yang benar-benar memahamiku. Dia tidak melihat dunia ini dari satu sisi. Dia tidak melihat pembunuh hanya sekedar sebagai pembunuh saja. Dia juga tidak menilai orang baik dari tindakan baik mereka saja.

“Dia adalah wanita paling jenius yang pernah kutemui. Itu sebabnya aku tertarik padanya. Tapi siapapun pasti tahu, dan tidak akan ingin gadis itu berakhir dengan seorang psikopat sepertiku.

“Akan lebih baik baginya jika sosok penyelamat yang pada akhirnya dia ingat adalah seorang yang berkompeten sepertimu—meski kau juga sebenarnya seorang pria brengsek—daripada dia diselamatkan oleh seorang pembunuh.”

Untuk kedua kalinya, Chanyeol akui dia merasa iri. Dia tak pernah berhasil memerlakukan Yara dengan cara yang baik sebelum ini, dan tak juga punya kesempatan untuk menghabiskan waktu lebih lama dengan Jia-yi—wanita ke-tiga; setelah ibunya, dan Yara—yang membuatnya tertarik.

“Bukankah kau juga akan menyelamatkannya, Baekhyun?” akhirnya tanya itu menguar dari bibir Chanyeol. Dia tidak habis pikir, mengingat bagaimana Baekhyun menjelaskan rencananya tadi, bahwa pada akhirnya setelah masalah Arshavin terselesaikan, dia juga akan menyelesaikan misinya demi jutaan dollar.

Chanyeol sempat menjanjikan Baekhyun angka yang lebih fantastis sebagai upah jika pria itu bisa berbelok dari seorang pembunuh menjadi seorang pelindung. Tapi Baekhyun dengan tegas menolaknya, berkata bahwa dia adalah pembunuh yang berdedikasi tinggi pada pekerjaannya dan apapun yang terjadi, dia akan selesaikan semua tugas yang sudah dibebankan padanya.

Jadi, Chanyeol juga tak punya pilihan lain selain menuruti rencana yang sudah disusun oleh pembunuh jenius tersebut.

“Aku tidak akan menyelamatkannya, Chanyeol. Karena aku adalah orang yang akan membunuhnya.” Chanyeol terdiam mendengar kalimat dari Baekhyun. Berusaha dia hapus prasangka juga keinginannya untuk kembali menggoyahkan Baekhyun, karena dia tahu semua itu percuma.

Dia juga tak mau mempertaruhkan nyawanya sendiri. Mempertahankan nyawa itu sulit, dan Chanyeol belum ingin terlibat dalam perselisihan di mana nyawa menjadi taruhannya lagi.

“Lalu, apa yang mungkin akan terjadi pada mereka semua di Hunan?”

“Kita lihat saja nanti. Aku sudah menghubungi kolegaku di Hunan, dia akan menyambut kedatangan mereka.”

“Baguslah kalau begitu, aku juga sudah menghubungi rekanku di sana. Hanya untuk berjaga-jaga kalau saja mereka membutuhkan bantuan.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Awalnya, Jia-yi sudah memasang niat begitu besar untuk membuka percakapan hangat dengan tiga orang yang bersama dengannya sekarang. Namun, satu-satunya konversasi lancar yang terjadi hanyalah pembicaraan melepas rindunya dengan Jin-yi.

Dia bahkan tak melepaskan sang adik dari dalam rengkuhan, seolah takut kalau saja dia akan terpisah dari sang adik lagi begitu dia lepaskan gadis itu.

Ehm,” Jia-yi berdeham pelan, berusaha merenggut atensi dari dua orang gadis yang sibuk dengan lamunan masing-masing di seberangnya sebelum dia kemudian berhasil mendapatkan atensi dari Hyerim.

Um, Hyerim, boleh aku tahu di mana Luhan? Kenapa dia tidak bersama denganmu?” tanya Jia-yi hati-hati. Mendengar tanya Jia-yi sekarang, Hyerim hanya bisa menghela nafas panjang.

“Ada banyak kekacauan yang terjadi. Tahu-tahu saat sadar aku sudah bersama dokter dingin itu.” Hyerim mengedikkan dagunya pada Runa yang duduk di sebelah.

Baru saja Jia-yi ingin bertanya pada Runa, Minrin sudah ada di depan kabin dan menepuk tangan untuk meminta perhatian tiga orang di sana.

“Aku minta perhatian kalian semua… terima kasih. Aku Choi Minrin, ko-pilot kalian kali ini. Pesawat akan lepas landas sebentar lagi jadi kuharap kalian sudah memakai sabuk pengaman saat ini. Tidak perlu kujelaskan panjang lebar bagaimana prosedurnya, aku tahu kalian tidak seawan itu.

“Pelampung dan masker oksigen berada di tempat seharusnya, seperti biasa. Dan yah, kurasa sudah cukup penjelasannya. Aku akan kembali ke kokpit dan penerbangan ini akan dimulai.”

Ketiga penumpang di sana hanya diam. Entah kenapa tiba-tiba atmosfernya terasa cukup menegangkan di sini, tidak seperti dalam perjalanan-perjalanan menggunakan pesawat di tempat lain yang biasanya terasa menyenangkan, tempat ini justru jadi mencekam dengan adanya empat orang penumpang saja.

Begitu selesai dengan penjelasannya—yang tidak mendapatkan respon apapun—Minrin akhirnya memasuki ruang kokpit. “Penumpang kita sudah siap. Saatnya berangkat,” ujar Minrin pada Junmyeon.

“Oke, last check.” Junmyeon kemudian mulai mengutak-atik beberapa tombol yang ada di sana dan Minrin menyahuti ‘clear’ berulang-ulang. “Baiklah para penumpang, disini pilot kalian, Kim Junmyeon, kuharap sabuk pengaman kalian sudah terpasang,” kata Junmyeon melalui pengeras suara. “This is captain Kim Junmyeon to ATC. United one-two-nine ready to take off IFR, runway two-niner.”

“United one-two-nine, winds two-eight at eleven, cleared to take off.”

Begitu mendapat aba-aba dari menara ATC, pesawat mulai melaju. Take off berjalan dengan lancar. Junmyeon kembali memberi kabar pada menara ATC dan pengumuman pada penumpangnya bahwa kini pesawat telah mengudara.

“Langitnya indah,” gumam Minrin.

“Yah, kau benar. Beginilah ‘kantor’ kerja kita setiap hari,” Junmyeon menyahuti.

“Dan sayangnya, aku harus terjebak bersamamu.” balas Minrin sinis. Dan Junmyeon cukup melempar senyum saja. Sudah biasa baginya. “Aku akan memberi penumpang kita beberapa camilan.” Minrin pamit pergi.

“Bawakan croissant untukku ya?”

“Ambil saja sendiri, bodoh!”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Sejak awal, batin Minrin sudah tidak enak. Kalau saja Junmyeon mau mendengar, dia mungkin sudah melarang pria itu untuk terlibat dalam perjalanan ini. Sebab, pemandangan yang sekarang Minrin tonton selagi dia menyiapkan kudapan untuk penumpang-penumpangnya, adalah hal mengerikan yang sudah diduganya.

Pertama, Chanyeol yang datang dalam keadaan terluka. Meski pria itu tidak memamerkan luka di tubuhnya, tapi ringisan kesakitan di raut pria itu sudah menjelaskan semuanya.

Kemudian, netra Minrin sekarang dipaksa untuk menjadi saksi hidup dari kebrutalan seorang pria berwajah kalem yang tahu-tahu muncul dari mana asalnya, menodongkan senjata api di tangan kanan dan senjata tajam di tangan kiri, serta-merta menarik paksa penumpang termuda di dalam pesawatnya menjadi sandera.

Satu. Dua. Tiga.

Minrin menghitung, dan hanya ada tiga orang di sana. Kemana yang satunya?

“Luhan…”

Ah, rupanya penumpang terakhir yang dicari Minrin sekarang berdiri di belakang Minrin. Baru saja, penumpang terakhir itu kembali dari kamar kecil usai mendengar suara jeritan melengking dari penumpang termuda yang tak lain adalah saudarinya.

“Diam di sini, Jia-yi. Dia membawa senjata.” peringat Minrin.

“Dia akan membunuh Jin-yi.” desis Jia-yi, gadis itu seolah tak ingin tinggal diam, tetapi dia tidak bisa berbuat apapun. “Jangan kemana-mana, tunggu di sini, Jia-yi.” perintah Minrin lebih tegas lagi.

Masih menatap eksistensi Luhan—yang sekarang menduduki kursi Jia-yi tadi dengan menyarangkan sebuah pisau di leher Jin-yi sembari marah-marah dengan kalimat yang tak bisa Minrin dengar dengan jelas, tangan Minrin bergerak memindahkan piring kudapannya ke atas nampan.

“Aku akan atasi situasi di sana, kau diamlah di sini. Jangan lakukan tindakan bodoh apapun.” kata Minrin. Berusaha memberanikan diri, gadis itu lantas meletakkan tiga gelas air putih ke atas nampan, dan dengan langkah tenang dibawanya nampan tersebut keluar dari ruang sempit tempatnya sedari tadi mengawasi dalam diam.

Tidak lupa, dia tutup tirai kecil yang membatasi ruang tersebut dengan ruang tempat Luhan sekarang berada, hendak menutupi eksistensi Jia-yi di sana, rupanya.

“Oh! Lihat siapa yang jadi penumpang ilegal di sini—hey! Jangan todongkan senjata itu padaku! Aku ini ko-pilot, tahu!” ucapan lantang Minrin menjadi kalimat pertama yang masuk ke dalam pendengaran Jia-yi selagi dia melangkah dengan hati-hati mendekati tirai pembatas tersebut.

Dari usaha hati-hati Jia-yi mengintip melalui celah kecil yang diciptanya di antara tirai, bisa dia lihat bagaimana sekarang Minrin berdiri tidak jauh dari tempat duduk mereka, masih dengan membawa nampan.

“Baiklah, jadi namamu Luhan? Oke, aku tidak peduli apa yang hendak kau lakukan pada mereka semua, tapi jangan berbuat kekacauan di atas pesawat ini, mengerti?” lagi-lagi vokal lantang Minrin terdengar.

Gadis itu rupanya sengaja bicara dengan nada cukup lantang sehingga Jia-yi bisa mendengarnya. Jelas, Jia-yi lihat bagaimana bibir Luhan menggumam, tapi tekanan udara yang ada di dalam pesawat membuat pendengaran Jia-yi tak bisa menangkap konversasi di depan sana dengan baik.

“H—Hey! Aku hanya membawa kudapan untuk mereka!” lagi-lagi vokal Minrin, rupanya Luhan baru saja menodongkan pistol lagi padanya saat Minrin berusaha melangkah mendekat.

Upaya pendekatan Minrin ternyata membuahkan hasil juga. Terbukti dengan bagaimana sekarang gadis itu berhasil meletakkan nampannya di atas meja, manik Luhan masih mengawasi dengan tatapan seolah ingin membunuh, sementara pisaunya di leher Jin-yi jelas-jelas Jia-yi lihat telah mencipta luka gores yang berdarah.

“Sialan, apa yang terjadi pada pria itu sebenarnya? Dia tiba-tiba saja berubah menjadi pembunuh.” Jia-yi menggumam sendiri, dia melangkah menjauh dari tirai, tak ingin perasaan tak nyamannya saat melihat keadaan Jin-yi membuatnya mengacaukan usaha Minrin.

“Apa kau ingin minum sesuatu? Wine, mungkin?” terdengar vokal Minrin lagi-lagi memberanikan diri bicara.

“Ah, baiklah, baiklah. Aku akan membawakanmu wine. Tapi jangan lukai siapapun sampai aku kembali.” kata Minrin.

Wine, wine. Lekas benak Jia-yi berputar mencari rencana. Ditemukannya sebotol wine di rak yang berada di dekatnya, dan dengan cepat, tangan Jia-yi bergerak meraih botol wine tersebut.

Hati-hati, Jia-yi bergerak membuka botol wine tersebut sebelum dia lagi-lagi memutar otak. Dia ingat pada kantung kecil—yang dikatakan Baekhyun berisikan racun yang Arin gunakan untuk berusaha membunuh mereka saat makan malam tadi—yang Baekhyun selipkan di kantong pakaian Jia-yi tadi.

“Untuk sekedar berjaga-jaga, siapa tahu kau membutuhkannya. Kau tidak bisa melawan musuhmu dengan tangan kosong, maupun senjata. Benda itu setidaknya bisa membantumu menjadi pembunuh tanpa harus berbuat apapun.”

Ugh, sekarang Jia-yi terpejam ketakutan. Dia sungguh tidak pernah membayangkan jika dirinya akan membunuh seseorang, dengan cara sekotor ini, pula. Tapi dia tidak punya pilihan lain. Keberadaan Luhan adalah ancaman, dan tak ada polisi yang bisa dia hubungi untuk menyelamatkan mereka semua.

Memangnya Jia-yi punya pilihan?

Pada akhirnya, Jia-yi putuskan untuk mengambil kantong kecil tersebut, diperhatikannya bubuk berwarna putih yang ada di dalamnya sejenak, sebelum Jia-yi dengan hati-hati memasukkan sedikit demi sedikit bubuk itu ke dalam botol wine.

“Ah…”

Sialnya, tindakan Jia-yi itu justru terpergok oleh Minrin, yang sekarang berdiri di dekat tirai dan menatapnya dengan tatapan membulat.

“Ini tidak seperti apa yang kau pikirkan.” tiba-tiba saja Jia-yi tergeragap, ditariknya kantong kecil tersebut menjauh dari botol wine sementara Minrin mengerjap cepat, memahami apa yang baru saja terjadi.

Lantas, Minrin melangkah ke arah Jia-yi dan disunggingkannya sebuah senyum meledek. “Tidak seperti yang kupikirkan? Aku sudah melihat semuanya.” kata Minrin membuat Jia-yi akhirnya menghela nafas panjang.

Tentu dia paham benar, kalau ucapan Baekhyun benar adanya. Dia tak bisa begitu saja memercayai orang-orang yang ditemuinya.

“Jadi kau ada di pihak siapa, hm?” Jia-yi terdiam untuk beberapa saat setelah mendengar pertanyaan Minrin.

“Aku hanya ingin bertahan hidup di tengah kekacauan ini,” jawab Jia-yi kemudian.

Minrin terdiam mendengar jawaban Jia-yi dan memandanginya hingga membuat Jia-yi merasa risih. “Well … kita semua tentu ingin bertahan hidup.” Minrin tersenyum simpul.

Dia lantas mengedikkan dagunya ke arah botol wine tersebut. “Yang kau tuangkan tadi tidak akan cukup untuk membunuhnya. Kau masih harus memasukkan lebih banyak lagi kalau ingin membunuhnya secara instan.” kata Minrin, memberi saran yang cukup bagus pada Jia-yi.

Mendengar persetujuan dari sekutu dadakannya, Jia-yi kemudian mengangguk mantap. Dikeluarkannya kantong kecil yang tadi disembunyikannya, sebelum dia meneruskan tindakannya.

“Omong-omong, racun apa itu? Darimana kau mendapatkannya?” tanya Minrin sambil mengambil beberapa potong croissant dan memindahkannya ke nampan baru. “Seorang teman, yang aku tahu racun ini tadi hendak digunakan membunuhku, kurasa—setidaknya, hampir terbunuh.” kata Jia-yi.

Penuturan Jia-yi agaknya membuat Minrin mengerti juga tentang apa yang sudah dihadapi si gadis. Lantas, setelah Jia-yi menutup kembali botol wine tersebut rapat-rapat, Minrin meraih botol tersebut dan meletakkannya di atas nampan.

“Kau tahu kau harus menanggung akibat dari tindakanmu ini, bukan?” kata Minrin sebelum dia melenggang meninggalkan Jia-yi lagi di sana, bersembunyi. Kemunculan Jia-yi tentu akan jadi pemandangan yang tidak diharapkan.

“Pesananmu sudah datang, Luhan.” kata Minrin seraya meletakkan nampannya di atas meja. Dia buka botol wine tersebut dan dituangnya ke dalam satu gelas kosong seraya menyerahkan gelas wine itu pada Luhan.

Luhan menerima sambil tetap menodongkan pistol pada Minrin. “Bagus. Sekarang kau duduk disana. Duduk!” bentaknya pada Minrin.

Hey, santai saja, Bung!” Minrin mengikuti perintah Luhan. Ia duduk tepat di kursi kosong yang ada di belakang Hyerim dan Runa—mengingat kursi yang berhadapan hanya bisa diisi oleh masing-masing dua orang saja.

Tanpa menaruh curiga apapun, Luhan menenggak wine-nya. Pria itu sudah menyunggingkan tawa puas karena merasa bahwa dia memenangkan peperangan sekaligus menambah jumlah sanderanya saat tiba-tiba saja dia merasa tercekik.

Ugh!” Luhan sontak melepaskan cengkramannya pada Jin-yi, pria itu baru saja hendak bangkit dan menyerang Minrin yang duduk membelakanginya dengan kedua tangan terlipat di depan dada saat tubuhnya tiba-tiba saja terkapar ke lantai, kejang-kejang sembari memuntahkan darah.

“LUHAN!” Hyerim segera menghambur menuju kekasihnya yang dalam hitungan detik sudah berubah menjadi korban sekarat itu. “Apa yang sudah kau lakukan padanya!?” pekik Hyerim saat dilihatnya bagaimana darah sekarang menghambur keluar dari mulut Luhan tiap kali pria itu menggelepar kesakitan, mengerang tapi tak mendapatkan bantuan.

Berselang lima sekon, Luhan sudah tidak mengerang kesakitan sama sekali, dengan mata membelalak lebar. Yang tersisa hanya tubuhnya yang masih kejang-kejang meregang nyawa.

“Wah, tidak kusangka racunnya benar-benar ampuh untuk membunuh.” satu kalimat yang lolos dari bibir Minrin berhasil membuat Hyerim berubah berang.

“Apa yang kau lakukan!?” lagi-lagi Hyerim berteriak dengan marah, bagian depan pakaian gadis itu sudah penuh oleh darah Luhan sementara dia dengan berang bergerak menarik Minrin dari tempat duduknya.

Jika Hyerim berpikir ia akan menang dengan mudah, ia salah besar. Gadis itu bahkan belum sempat menarik kerah baju Minrin untuk diberinya pukulan saat dengan mudahnya Minrin dapat melumpuhkan Hyerim.

BRUGK!

Argh!” Hyerim mengerang kesakitan begitu punggungnya menghantam lantai akibat tindakan Minrin. Sekon kemudian, Minrin berdiri di dekat kepala Hyerim sembari memamerkan sebuah seringai. “Kau menyerang orang yang salah, Nona.”

“Apa maksudmu?! Sudah jelas-jelas kau yang memberikan wine itu pada Luhan!” Hyerim tidak terima, lekas gadis itu bangkit dari tempatnya barusan terbanting, baru saja dia menggerakkan lengannya untuk menyerang Minrin, si gadis sudah memberikan perlawanan duluan.

Minrin mencekal kedua lengan Hyerim kuat-kuat, sembari menatap si gadis dengan sebuah senyum di wajah.

“Aku hanya mengantarkan wine itu,” kata Minrin. “…, Kenapa tidak kau tanyakan saja pada ‘kawanmu’ yang baru saja keluar dari persembunyiannya? Dia yang memberikan wine itu padaku.”

Minrin menggeser bola matanya ke samping. Hyerim mengikuti arahnya dan mendapati Jia-yi tengah mematung tidak jauh dari mereka, baru saja gadis Wang itu memunculkan diri dari balik tirai tempat dia sedari tadi bersembunyi.

“A—Apa? A—Aku tidak—”

BUAGH!

“Tidak, kakak!”

“Hyerim hentikan!”

Belum sempat Jia-yi menjelaskan apapun, Hyerim sudah dengan brutal menyerangnya. Dasarnya, Jia-yi memang tidak tahu apa-apa tentang membela diri jadi dia hanya bisa memejamkan diri dengan pasrah saat Hyerim menyarangkan pukulan demi pukulan di wajah dan tubuhnya.

“Wanita jalang! Sialan kau!”

“Kau sudah seharusnya mati! Harusnya aku membunuhmu sejak dulu!”

“Dasar wanita sialan! Aku bunuh kau!”

“Akan kubunuh kau! Matilah! Matilah seperti Luhan! MATI!!!”

Tanpa peduli, Hyerim bahkan tak segan menginjak Jia-yi beberapa kali sambil meneriakkan puluhan umpatan kemarahan yang tak lagi bisa Jia-yi dengar dengan jelas. Satu-satunya yang Jia-yi harapkan dari kejadian yang menimpanya sekarang adalah pertolongan dari seseorang.

Tapi rupanya tak ada yang berniat melerai dua gadis dalam pertarungan tidak seimbang itu. Minrin dengan tenangnya menyaksikan perkelahian itu sementara Runa dan Jin-yi sama-sama tak bisa berbuat apapun. Luhan? Jangan tanya bagaimana keadaan pembunuh yang terbunuh itu sekarang. Malaikat maut mungkin sudah menjemputnya sejak tadi.

Jia-yi kini sudah babak belur. Sementara pukulan Hyerim mulai melemah dan lelehan air matanya semakin deras saja.

Well, well, sepertinya sudah saatnya mereka dilerai.” kata Minrin. Melihat Jia-yi sudah dipukul habis-habisan seperti itu Minrin mulai bertindak. Dipukulnya kepala belakang dan tengkuk Hyerim menggunakan pangkal senjata api—senjata yang tadi Luhan todongkan padanya. Otomatis, Hyerim jatuh tak sadarkan diri menimpa Jia-yi.

Kemudian dengan santainya, Minrin menyingkirkan Hyerim dari atas tubuh Jia-yi menggunakan kakinya. Dibantunya Jia-yi berdiri dan didudukkan ke salah satu kursi penumpang.

“Kau pantas mendapatkannya karena sudah membunuh kekasih orang. Bayangkan saja bagaimana sakit hatinya kau jika harus menyaksikan kematian orang yang kau sayangi.” Minrin mengatakannya seraya tersenyum simpul.

Jia-yi mendecih sebal, meski perasaan bersalah sekarang perlahan-lahan melingkupi batinnya, tapi dia memang tak punya pilihan lain. Satu hal yang Jia-yi tangkap dengan pasti, Minrin, si gadis berwajah polos di hadapannya ini diam-diam juga merupakan orang gila. “Tunggu sebentar, kuambilkan peralatan P3K.”

Minrin berkata sebelum dia melangkah meninggalkan Jia-yi bersama dua orang saksi bisu di sana. Ya, Runa yang masih dalam tahap luar biasa shock akibat menjadi korban penculikan oleh Baekhyun saat dia tengah bersama dengan Jin-yi di kediaman Luhan, memilih membeku, menyudutkan diri sejauh mungkin dari Jia-yi—yang sekarang di mata Runa tak lebih dari seorang pembunuh.

Sementara Jin-yi sendiri ragu-ragu. Ia hendak melakukan hal yang sama persis seperti Runa lakukan, tapi sosok yang dianggapnya pembunuh ini adalah kakaknya. Mana mungkin dia bisa menjauh dari kakak yang telah berjuang demi menyelamatkannya?

“Mengapa… kakak melakukannya?” tanya Jin-yi dengan suara bergetar ketakutan.

“Karena dia hendak membunuh kalian semua, dia itu berbahaya. Sama saja dengan wanita itu, juga wanita yang menolong kakak tadi. Mana mungkin kakak biarkan kau dan Runa yang tidak tahu apa-apa terluka?”

Memang benar, dari yang Jia-yi diam-diam analisis, Runa satu-satunya orang yang tak tahu apa-apa di sini. Dia hanya terlibat secara tidak sengaja hanya karena kedekatannya dengan Sehun.

Dan sekarang, gadis itu bahkan terlempar jauh dari dunia normalnya, terpaksa ia terjebak di antara orang-orang yang tidak dikenalnya dan malah berusaha saling membunuh.

“Kemana aku akan dibawa? Aku tak ingin mati juga, Jia-yi.” lirih Runa, dia masih enggan menatap Jia-yi, tapi dari pantulan yang kaca pesawat pamerkan, jelas Jia-yi lihat bagaimana Runa sekarang menangis dalam diam.

“…, Kutitipkan beberapa orang padamu, Jia-yi. Kau harus menjaga mereka semua sampai Hunan.”

“Seseorang sudah menitipkan keselamatan kalian padaku. Jadi… mau tak mau, aku harus memastikan kalau kau—Runa, adikku, dan Hyerim, harus selamat.” tegas Jia-yi akhirnya membuat Runa memberanikan diri menatap ke arahnya.

Sebuah senyum samar Runa pamerkan di wajah, sebelum dia mengusap air mata di pipinya dan hati-hati, jemarinya bergerak meraih croissant yang tadi Minrin suguhkan.

“Ini tidak ada racunnya, bukan?” tanya Runa satu sekon sebelum dia memasukkan croissant tersebut ke dalam mulutnya.

“Tidak beracun, tapi jangan makan terlalu banyak croissant itu. Karena aku menyiapkannya untuk pilotku. Kalau kau mau, aku masih punya banyak kue lain di dalam.” tiba-tiba saja Minrin menyahut santai.

Dia lantas duduk di kursi kosong yang ada di sebelah Runa, sembari membuka kotak P3K yang dibawanya dan ditatapnya Jia-yi dengan pandang menyedihkan.

“Terima kasih,” gumaman pelan Runa terdengar sebelum dia mulai memakan croissantnya. Tak lagi ingin memikirkan apa yang baru saja terjadi, Jin-yi berangsur-angsur mengikuti tindakan Runa juga.

Entah, mental mereka yang sudah terlalu hancur akibat kejadian yang selama beberapa hari berturut-turut mereka lalui, atau memang tubuh mereka sudah meronta kelaparan, tapi Jia-yi akui, dia sendiri juga kelaparan.

Aw,” Jia-yi meringis pelan saat Minrin mengobati luka-lukanya. “Sabar sedikit, keadaanmu ini sangat menyedihkan sekarang.” kata Minrin. Dia pun melanjutkan tindakannya, mengobati Jia-yi.

“Aku tak tahu kau cukup terampil mengobati orang,” kata Jia-yi setelah dia berhasil berdamai dengan rasa sakit. “Sebenarnya kau terampil dalam banyak hal.” Minrin tersenyum, sedikit menyombongkan dirinya sendiri.

“Terima kasih.” Jia-yi memilih untuk mengabaikan narsisme Minrin dan berterima kasih pada gadis itu ketika sudah selesai mengobatinya.

Minrin tertawa kecil. “Jangan berterima kasih padaku, Nona.”

“Kenapa?”

“Karena aku berpihak pada dalang semua kekacauan ini.” Minrin tersenyum. Begitu dingin dan terasa mematikan.

“Ka—Kau ada di pihak Arshavin?” tanya Jia-yi memastikan.

Minrin mengedikkan bahu tak peduli. “Secara teknis, faktanya memang begitu. Tapi… yah, entahlah. Aku merasa kalau aku tidak benar-benar memihak Arshavin dan melakukan semua ini karena keterpaksaan.”

“Apa maksdumu dengan keterpaksaan?”

“Aku ada di pihak Arshavin karena pilot kita, Kim Junmyeon—yang super bodoh itu—ada di pihak Arshavin.” jawab Minrin.

“Oh, karena alasan klasik, eh? Cinta ya?”

Tawa Minrin meledak. “Haha! Ya ampun, jangan konyol, Nona. Aku semata mengikuti Kim Junmyeon untuk mengawasi si bodoh itu agar tidak melakukan hal-hal super bodoh lainnya. Dia itu kelihatan tenang. Tapi itu hanya luarnya saja. Di dalam, dia itu orang yang cukup temperamental. Lagipula, baik aku maupun Junmyeon sudah saling merencakan pembunuhan satu sama lain. Ah, rasa-rasanya aku ingin melemparkan si bodoh itu ke jurang…”

“Kemudian kau akan berlari untuk menangkapnya lagi.” sambung Jia-yi seraya tersenyum. Jia-yi tidak sebodoh itu. Dia tahu kalau sebenarnya Minrin ini mempunyai perasaan khusus terhadap Junmyeon. Jia-yi amat yakin akan hal itu karena sekarang Minrin terdiam, terpaku pada perkataannya barusan.

Minrin, sedang apa kau di belakang? Cepat kembali ke kokpit!” suara Junmyeon terdengar dari walkie-talkie yang berada di pinggang Minrin.

“Yah, terserah kau mau bilang apa, Nona.” Minrin berdiri dari tempatnya dan mulai berlalu. Tapi baru beberapa langkah, Minrin berbalik dan menatap Jia-yi. “Ngomong-ngomong, alasan Junmyeon memihak pada Arshavin ialah karena ia mempunyai dendam terhadap ayahmu.

“Wah, wah, apa saja yang telah dilakukan ayahmu hingga mempunyai banyak musuh? Aku yakin, jika setiap perbuatan keji yang dilakukan ayahmu dilambangkan sebagai noda hitam, maka tangannya saat ini pasti sudah berwarna hitam legam.”

please wait for the next story: Hol(m)es in Hunan (3) —

IRISH’s Fingernotes:

EH MAAF IPANNYA ENGGAK ADA, WKWK. Awalnya mau aku bagi setengah-setengah sama Ipan, tapi kayak agak-agak kasian sama Suho kalo bagiannya Suho dipotong, LOLOLOL.

Berhubung, series Chanyeol nanti bakal jadi series terakhir jadi aku harus kelarin semua member biar dapet bagian semua.

AH, SIAPA YANG SENENG KARENA ENGGAK SEMUA MEMBER EKSONYA MATI? Aku enggak sekejam itu lah ngebunuh member eksoh, cukup OC-OC aja yang dibunuh, sama para mantan juga deh, cieh.

Jadi, ceritanya besok di awal bagian Hunan ke-tiga Suhonya agak-agak eksis lagi, baru kemudian Ipan mendominasi—sama Ren juga, huhu—nanti di bagian Chanyeol, mungkin Icing agak-agak sering nampang juga, dan baru Chanyeol di penutup as the hero.

EH SORI, ITU BUKAN SPOILER, WKWK.

Chanyeol jadi hero karena dia penutup series Hol(m)es kok…

INGET, KITA MASIH PUNYA PEMBUNUH BERDEDIKASI TINGGI DI DALAM CERITA INI, LOL (mau ngakak sebenernya aku tuh pas ngetik bagian Baekhyun jadi pembunuh berdedikasi).

Ah terus apa lagi yang mau aku pamerin ~ ini masih hasil kerja duet sama Len. Cerita rincinya udah enggak perlu diceritain lagi kan wkwk. Yah, yang jelas diajak kolab sama diriku itu banyakan resiko meruginya daripada untungnya, BUAKAKAKAKAKAK.

Btw, akan ada yang terbunuh besok, enaknya siapa ya, aduh-duh, karena tadi sesorean aku menyolaki diri dengan video-video colongan deepweb sama baca-baca creepy-pasta jiwa thrillerku terasah kembali (meskipun ujung-ujungnya aku jadi paranoid karena mau ke kamar mandi pun takut, LOLOL).

AH, YANG JELAS CARA BUNUHNYA ELIT DONG… ya, mau gimana lagi, fanfiksi ini banyakan kriminalnya daripada faedahnya (apa aku udah pernah bilang gini sebelumnya?) jadi kayak enggak wajar aja kalo di akhir mereka dibuat bahagia.

Enggak adil buat dunia, cieh. Nah, udah dulu ya, sampai ketemu besok!

Ps: setelah poster pertama yang bernuansa mistis dan poster kedua yang agak-agak random, akhirnya aku terpikir untuk bikin poster ketiga yang sekaligus bakal menemani sampai akhir series ini! Yes, akhirnya muka Jia-yi keliatan kalem (padahal aku suka loh karena visualisasi Jia-yi itu wanita muda yang demen pake lipstik merah merona plus alis) wkwk.

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

4 tanggapan untuk “[KRIS BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in HUNAN (2) — IRISH’s Tale”

  1. KAMPRET WKWKWKWK SUMVEH AKU TUH NGAKAK BAHAGIYAA PAS LUHAN MATI TERUS HYERIM MARAH2 BRUTAL. IHHH SUKAK WAKAK /DITAMPAR BOLAK-BALIK/

    Biedewei suho punya dendam kesumat apa sih inihhh, bapaknya jia ini real antagonis di sini. Coba dia gak gitu, anak gadisnya kan gak akan ngenes

  2. Ooohh.. ternyata “konsumsi”nya author tu deep web, apa lg? Video anonymous jg kah? Jgn2 baca teori konspirasi illuminati jg.. Hehehehe

  3. Wah, ternyata gitu-gitu mbak pecinta dipweb :’v Aku kadang juga colong² liat, dan ketakutan pada akhirnya. Rasanta itu greget, saat rasanya takut banget, tapi kepo lebih mendominasi.

    Dannnn… Gak bisa komentar lagi lah sama hol(m)es ini karena terlalu banyak spekulasi² ya g bertebaran diotakku. Saking banyaknya, aku dimarahin Bu guru gegara main hp—baca ini ff. Gimana lagi, udah gabisa nahan —ga bisa nahan buat ga naca, maksudnya.

    So, hwaiting aja dariku^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s