[KRIS BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in GANGNAMGU (3) — IRISH’s Tale

HOL(M)ES

PARTNER in Gangnam-gu  ]

— in a ruined city, can you survive? —

Starring by:

OC`s Wang Jia-yi with Kris Wu

Supported by EXO`s Baekhyun, Chanyeol, Chen, Suho; OC`s Arin, Minrin, Ren

An adventure, dystopia, family, melodrama and politic story rated by PG-17 served in three-shot length with series type

This story is not suitable for readers under 15 years old

2017  ©  storyline by IRISH ft. Len K

in association with

EXO Fanfiction Indonesia

Disclaimer:

Cerita ini murni berdasarkan fiksi dan tidak bermaksud untuk menyinggung/menjelek-jelekkan salah satu pihak. Seluruh bagian cerita yang berhubungan dengan suatu negara dan/atau organisasi, dipergunakan semata-mata hanya untuk hiburan dan bukannya merugikan salah satu pihak. Tidak ada bagian dari cerita ini yang menggambarkan kehidupan politik secara nyata. Hol(m)es sendiri berasal dari kata Holmesinspired from Sherlock Holmes—yang memiliki makna tersirat sebagai perpaduan dari kata Holes, dan Holmes yang maknanya akan didapatkan pembaca setelah menyelesaikan pembacaan cerita dengan seksama. Sekali lagi, tidak ada tujuan menjatuhkan nama baik/citra dari salah satu negara/organisasi/perorangan/kedudukan yang nantinya akan ada di cerita ini. Penyebaluasan karya, duplikasi isi cerita, dan mengadaptasi cerita ini tanpa seizin/sepengetahuan penulis,  adalah sebuah tindakan tidak menyenangkan yang tidak seharusnya dilakukan.

This story was created and dedicated for:

Kris (ex) of EXO

Previous story:

Hol(m)es in Gangnam-gu [Lay]

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

Jia-yi duduk terpekur sendirian di kamar—ruang sementara yang disebutnya sebagai kamar sebab selama beberapa jam dia singgah di sana bersama dengan Baekhyun—sementara Baekhyun masih menyelesaikan ‘pembicaraan’-nya dengan Jongdae dan Arin.

KRIET!

Atensi Jia-yi sontak tertuju pada pintu yang terbuka, menampakkan sosok Baekhyun yang masuk ke dalam ruangan tersebut.

“Ada apa? Kenapa kau memasang ekspresi seperti itu?” tanya Baekhyun begitu didapatinya raut pucat Jia-yi.

“J—Jongin. Dia ada di kamar Arin.” lirih Jia-yi. Seolah sudah menduga hal semacam itu akan terjadi, Baekhyun hanya membulatkan mulutnya selama beberapa sekon, sebelum dia kembali bungkam, menunggu Jia-yi melanjutkan kalimatnya.

“Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku ingin menolongnya tapi keadaan Jongin sudah sangat mengerikan. Bagaimana aku harus menyelamatkannya, Baekhyun? Tubuhnya penuh luka yang—tidak. Luka-luka itu pasti sudah terinfeksi.” batin Jia-yi berkemelut, kekhawatiran dan ketakutannya sekarang sama-sama berebut meluncur keluar melalui kalimatnya.

“Apa yang kau dapatkan dari Jongin?” mendengar pertanyaan Baekhyun, Jia-yi akhirnya menatap pria itu. Ekspresi tenang yang sekarang dipasang pria itu entah mengapa justru membuat Jia-yi merasa waspada.

“Tidak ada—” Jia-yi berkata, dia hentikan kalimatnya sejenak sebelum lantas melanjutkan. “—yang kutemukan hanya tubuh sekaratnya saja.”

Sungguh, Jia-yi berani bersumpah dia melihat ekspresi kecewa di raut Baekhyun sekarang. Batin Jia-yi pun makin curiga, bagaimana jika masuknya Jia-yi ke dalam kamar Jongin adalah bagian dari rencana Baekhyun yang dibicarakannya dengan Jongdae dan Arin?

Baekhyun sendiri tadi yang mengatakan kalau Jia-yi tidak seharusnya memercayai siapapun, bukan?

“Baiklah kalau begitu. Jika kau sudah tenang kau bisa keluar. Semua orang sudah menunggu di ruang makan. Apa kau tidak lapar? Kau belum makan seharian.” kelakar santai Baekhyun sekarang justru makin memicu kecurigaan.

Jia-yi ingat Baekhyun tak pernah terlihat peduli padanya. Bukannya pria itu juga punya misi untuk membunuh Jia-yi? Meski membiarkan Jia-yi kelaparan bukanlah cara membunuh yang efektif, tapi setidaknya ketidak pedulian seharusnya jadi tindakan masuk akal yang Baekhyun tunjukkan.

Tapi tidak, Jia-yi tidak ingin terjebak di tengah rencana apapun lagi. Jadi, Jia-yi harus pandai-pandai mengambil langkah di tengah jalur penuh ranjau di hadapannya sekarang. Salah injak, nyawa bisa jadi taruhan.

“Ya, kau benar, selain takut karena keadaan Jongin tadi, aku juga lapar.” kata Jia-yi setelah terdiam selama beberapa saat. Baekhyun sendiri hanya memberi sahutan berupa anggukan cepat.

“Ayo, lekaslah keluar. Kita makan malam dahulu sebelum melanjutkan perjalanan.”

Usai menyelesaikan kalimatnya, Baekhyun pun memilih untuk melangkah keluar dari kamar, meninggalkan Jia-yi sendirian sekaligus memberi ruang bagi si gadis untuk memikirkan rencana penyelamatan diri.

Jia-yi, segera mengeluarkan USB dan memory card yang didapatkannya. Diselipkannya memory card tersebut ke dalam tutup USB yang ada di tangannya. Mau tak mau, Jia-yi harus mengambil cara paling ekstrim sekalipun untuk menyelamatkan USB itu sekarang.

Dia tak mungkin menyelipkan benda itu di saku celananya lagi, tempat itu terlalu minim pengawasan, Jia-yi bisa-bisa kehilangan USB-nya tanpa sadar. Jadi setelah menimbang-nimbang, Jia-yi putuskan untuk menyelipkan USB tersebut ke bagian dalam pakaian dalam yang dikenakannya.

Setidaknya, pikir Jia-yi eksistensi benda itu akan terasa di permukaan kulitnya. Meski jika dipikir-pikir lagi, tempat Jia-yi menyembunyikannya sangatlah tidak higienis.

“Jia-yi?”

“Ya?” Jia-yi refleks menoleh ketika ditemukannya Baekhyun melongok dari pintu, rupanya pria itu bertanya-tanya mengapa Jia-yi sejak tadi tidak keluar dari kamar.

“Ayo, aku menunggumu sejak tadi.” kata Baekhyun.

Tanpa bicara apapun Jia-yi akhirnya melangkah keluar dari kamar, menyejajari langkah Baekhyun. “Kita akan langsung pergi setelah makan malam. Semua barang-barangmu sudah kau bawa?” tanya Baekhyun memecah keheningan.

“Ya, sudah kubawa semua. Toh, aku tidak membawa banyak benda. Bagaimana denganmu?” tanya Jia-yi.

“Hmm. Ranselmu sudah kutaruh di ruang makan, di dekat kursimu. Barang-barangku sendiri sudah melekat di tubuhku. Setidaknya semua senjata bawaanku sudah kuabsen.” kelakar Baekhyun.

“Ah… ya, benar juga. Kau tidak membawa banyak benda, cukup membawa senjata saja.” komentar Jia-yi. Keduanya kemudian berbelok ke ruang makan, sempat membuat Jia-yi terperangah juga karena ruang makan Chanyeol benar-benar terlihat mewah.

Tidak salah lagi, mereka sedang berada di rumah seorang milyuner. Meja pahat pualam mengkilap berwarna putih menjadi meja makan mereka, dengan enam kursi putih berhias serat kain berwarna emas di sisi kiri dan kanan meja tersebut, beserta dua buah kursi serupa di bagian ujung dan pangkal meja.

Benar-benar mewah.

Meskipun begitu, mereka tidak disuguhi dengan menu-menu berlebihan seperti yang ada di dalam film yang pernah Jia-yi tonton. Mereka hanya disuguhi masakan rumahan yang sebenarnya, sangat Jia-yi rindukan.

Entah kapan terakhir kali Jia-yi merasakan makan dengan layak, dia juga tidak bisa mengingatnya dengan baik. Tapi duduk berhadapan dengan Jongdae bahkan tidak jadi ancaman bagi Jia-yi sekarang, karena dia sedang lapar.

Begitu Jia-yi dan Baekhyun duduk bersebelahan—di kursi yang ada di seberang Jongdae—vokal Chanyeol serta merta terdengar memecah keheningan.

“Makanannya nampak lezat,” mata Chanyeol berkilat melihat hidangan-hidangan yang kini tersaji di meja makannya. “Terima kasih, Arin.” kata Chanyeol pada juru masak malam itu.

Arin hanya tersenyum, selagi dia masih berdiri di sebelah Jongdae, perannya malam ini adalah sebagai seorang juru masak.

“Ya, mari kita nikmati makannya. Tidak ada salahnya kita sedikit membuat diri kita senang dengan menyantap semua hidangan enak ini. Bisa jadi, ini makan malam terakhir kita.” Chanyeol tertawa getir atas sarkasmenya sendiri.

Baekhyun dan Jongdae yang duduk di sana tersenyum tipis. Kontras dengan senyum ringan Baekhyun di sampingnya. Sedangkan rupa Jia-yi sudah mulai memucat. Gadis itu rupanya merasa waspada tiap salah satu dari dua kriminal itu memamerkan senyum.

Baru saja Chanyeol menyendok hidangan pembuka, Baekhyun sudah mencegahnya.

“Tunggu sebentar, Chanyeol.” kata Baekhyun. “Arin,” panggilnya. “Kenapa kau hanya berdiri di samping Jongdae dan tidak menyicipi masakanmu sendiri?” serang Baekhyun.

“Hei, Baekhyun. Apa maksudmu?” tanya Chanyeol.

“Bukan apa-apa, Chanyeol. Aku hanya curiga nona Arin mungkin saja sudah meracuni makanan kita.” Baekhyun menatap tajam Arin.

Suasana di sana mendadak begitu tegang dan mencekam.

“Kenapa nona Arin? Tidak berani makan? Jadi soal racun itu benar ya? Aku pikir aku hanya salah dengar saja tadi.” memanasi suasana, Baekhyun makin berkelakar.

Arin diam tak bersuara untuk beberapa saat. Sementara kini bukan hanya Baekhyun yang memandanginya, melainkan seluruh orang yang ada di sana. Chanyeol memandanginya dengan dahi berkerut, Jia-yi menatapnya dengan raut wajah cemas, dan terlebih lagi Jongdae kekasihnya juga menatapnya dengan khawatir.

“Baiklah, akan kucoba.” akhirnya Arin buka suara.

“Apa?!” Jongdae menyela.

“Ada apa, Jongdae? Kau takut kekasihmu mati? Tenang saja, jika makanan ini tidak beracun kekasihmu akan tetap hidup. Jika kekasihmu mati, itu artinya… sayang sekali kau kurang beruntung.” Baekhyun tersenyum miring. Dan di seberang sana, Jongdae bersumpah akan menghabisi pembunuh berdarah dingin itu. “Silahkan, nona Arin.”

Setelah rautnya tampak menimbang-nimbang, Arin akhirnya menyendok sup yang ada tanpa rasa ragu agar Baekhyun tidak curiga. Namun sebelum sendoknya bahkan menyentuh mulut, Jongdae sudah menampar sendok itu hingga jatuh berkelontang di lantai.

“Ah, jadi soal racun itu benar ya.” Baekhyun tersenyum penuh kemenangan. Dengan satu isyarat, Baekhyun memperingati Jia-yi. Jemari pria itu sekarang terulur ke bawah meja, disenggolnya pelan tangan Jia-yi yang terjuntai bebas, seolah memberitahu si gadis untuk segera waspada.

“Jongdae…” desis Arin.

“Cukup.” Jongdae berdiri dari duduknya. “Kenapa tidak kita akhiri sekarang juga?” seringai Jongdae.

Detik berikutnya, Jongdae sudah mengeluarkan pistol Glock hitam miliknya dan mengarahkannya pada Baekhyun. Dua timah panas telah ditembakkan. Tapi semuanya meleset, Baekhyun dengan cepat menghindar seraya melindungi Jia-yi. Dengan cekatan, Baekhyun menarik Desert Eagle miliknya dan membalas serangan Jongdae. Dalam sekejap, ruang makan mewah Chanyeol sudah berubah menjadi medan perang.

“Jongdae! Apa yang kau lakukan?!” tanya Chanyeol berang dari balik tembok. Ya, Chanyeol kini juga sudah dipersenjatai oleh pistol S&W yang ia curi dari brankas ayahnya. Chanyeol tidak ingin mati begitu saja.

“Sebenarnya kau berpihak pada siapa?” beberapa fakta merangsek masuk ke kepala Chanyeol pada saat yang bersamaan dengan berbagai spekulasi.

“Maaf Chanyeol, kau hanya batu loncatanku.” ujar Jongdae dengan tenangnya. Jelas sudah, Jongdae merupakan orang Arshavin.

“Sialan…” umpat Chanyeol. “BERANINYA KAU!” dalam sekejap Chanyeol keluar dari persembunyiannya dan menembakkan peluru pada Jongdae. Sayang sekali, tembakannya meleset. Saat itu Chanyeol menyesal tidak begitu menaruh minat pada pelajaran menembak.

DOR!

Satu tembakan dari Jongdae hampir mengenai Chanyeol. Beruntung hanya mengenai vas langka dari Tiongkok di samping kanannya. Fokus Chanyeol teralihkan oleh vas yang pecah berkeping-keping, Jongdae yang memang sudah terlatih langsung keluar dan kembali menyasar Chanyeol.

DOR!

Satu peluru berhasil bersarang di bahu kanan Chanyeol dan membuat pria jangkung itu tumbang ke lantai, mengerang kesakitan. Darah mulai merembes keluar dari pakaiannya.

“Sial, harusnya aku membunuhmu langsung. Tapi kurasa sayang sekali jika aku harus melewatkan kesempatan untuk bersenang-senang denganmu.” Jongdae berjongkok di samping Chanyeol. Ditempelkannya pistolnya ke pelipis kiri Chanyeol.

Sementara di sudut rumah Chanyeol yang lain, Baekhyun terdiam di tempatnya. Di hadapannya kini, Jia-yi telah ditawan oleh Arin. Sebuah pisau kecil menempel di leher Jia-yi.

Wow, bukankah harusnya kau menjamu kami dengan baik, Arin?” cibir Baekhyun.

“Diam kau! Atau leher gadis ini akan kukoyak.”

Nampaknya negosiasi akan berjalan sulit bagi Baekhyun.

Sementara itu di lain tempat, Chanyeol masih tampak kepayahan berusaha mempertahankan diri sekaligus memberi perlawanan, meski saat ini perlawanan apapun tidak akan berarti banyak.

“Kenapa kau malah berpihak pada Arshavin?” tanya Chanyeol dengan suara bergetar. Luka tembaknya terasa berdenyar dan panas, kucuran darahnya juga masih terasa.

“Kenapa? Hahahaha!” Jongdae justru tertawa keras. “Tentu saja aku akan memihak pihak yang jauh lebih menguntungkan bagiku. Nah, mari kita akhiri di sini, Chanyeol-ssi.”

DOR!

AAAAAARGGHH!”

Jongdae berteriak kesakitan. Satu timah panas berhasil menembus betis kirinya.

“Hhh … hhh … hahahaha. Kau pikir kau bisa melumpuhkanku dengan menembakkan satu peluru ke bahu kananku? Jangan bercanda,” Chanyeol tertawa puas. “Bodoh. Ceroboh. Harusnya kau langsung menyingkirkan pistolku. Harusnya kau tidak meremehkanku seperti itu, dasar keparat!”

DOR!

Sekali lagi Chanyeol menyasar Jongdae. Kini perut Jongdae yang jadi sasaran. Dan teriakan Jongdae kembali memenuhi udara.

AAAAAARGGHH!”

“Jongdae!” Arin terkesiap mendengar teriakan kesakitan kekasihnya.

Kini suara tembakan dan jeritan Jongdae kembali terdengar. Tanpa mempedulikan tawanannya, Arin segera berlari ke arah jeritan Jongdae berasal.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Baekhyun begitu Jia-yi terlepas dari status sandera sementara. Jia-yi mengangguk. “Lukamu…” Jia-yi melihat tetesan darah dari tangan Baekhyun. Ada pula rembesan darah di baju Baekhyun. Pasti lukanya kembali terbuka saat kekacauan tadi.

“Bukan apa-apa. Sekarang ayo kita lihat keadaan Chanyeol sebelum dia jadi bulan-bulanan pasangan psikopat itu.”

“Tidak, tunggu dulu Baekhyun.” Jia-yi berkata.

“Ada apa lagi? Kita harus bergerak cepat!” sergah Baekhyun tidak sabar.

Lekas, Jia-yi bergerak merogoh pakaiannya dari atas, hal yang lantas membuat Baekhyun membuang pandang juga. Pemandangan seorang wanita yang meraba-raba bagian atas tubuhnya sendiri bukanlah pemandangan menyenangkan bagi pria itu.

Dan juga, dia memang pembunuh, tapi dia tidak mesum!

“Apa yang kau lakukan!? Sekarang bukan saatnya kau bertindak tidak seronoh!” kata Baekhyun setengahnya kesal. Atensinya pada pertarungan di tempat ini sudah terpecah karena tindakan Jia-yi sekarang.

“Siapa yang sedang berbuat tidak seronoh? Ini, untukmu.” Jia-yi menarik paksa tangan Baekhyun, diletakkannya USB yang sudah gadis itu sembunyikan tadi. “Aku tidak yakin apa isinya akan berguna untukku, tapi kau bisa mempergunakannya. Dari penjelasanmu padaku, aku bisa yakin kau adalah seorang yang memanfaatkan orang lain dengan sangat baik.”

Sedikit menyindir, tapi juga memuji. Jia-yi tak bermaksud apapun saat mengatakannya, tapi Baekhyun justru merasa dia tengah disindir sekaligus dipuji oleh si gadis.

“Terima kasih.” kata Baekhyun, dia kemudian meraih lengan Jia-yi, menyampirkan ransel gadis itu di bahu kiri Jia-yi selagi Baekhyun menatap si gadis dengan tatapan serius.

“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Tapi kita harus pastikan Chanyeol selamat. Karena hanya dia satu-satunya jalan bagimu untuk kembali ke Hunan. Kutitipkan beberapa orang padamu, Jia-yi. Kau harus menjaga mereka semua sampai Hunan.”

Jia-yi tidak tahu apa yang Baekhyun rencanakan. Tidak sedikit pun dia bisa menduga. Tapi dia tahu pria itu sebenarnya telah menolong Jia-yi, dengan cara yang luar biasa menyebalkan sampai Jia-yi pikir pria itu hanya memanfaatkannya saja.

Menitipkan beberapa orang? Menjaganya? Apa tempat duduk yang Baekhyun minta di pesawat pribadi Chanyeol itu tidak lain dan tidak bukan ditujukannya untuk beberapa orang ini?

Sedangkan, Baekhyun sendiri memilih tinggal?

DOR!

Argh!”

“Baekhyun.” hampir saja jantung Jia-yi berhenti bekerja saat didengarnya suara desingan peluru di ruang tempat Chanyeol berada. Tidak lagi jelas siapa yang sekarang berteriak kesakitan, Chanyeol atau Jongdae.

Tapi yang jelas salah seorang dari mereka terluka.

“Hentikan!” terdengar suara teriakan Arin, diikuti suara hantaman samar-samar yang masih bisa Jia-yi dengar.

“Tunggu di sini, aku akan selesaikan masalah di sana.” Baekhyun berkata, kemudian dia tinggalkan Jia-yi di sudut terjauh ruang makan, sendirian dengan memeluk erat ranselnya.

Jia-yi tahu benar situasi apa yang sedang menjebaknya. Dia berada di antara orang-orang yang ingin membunuhnya. Baekhyun sendiri termasuk dalam jajaran pembunuh itu. Tapi, Jia-yi tahu saat ini Baekhyun belum berperan sebagai pembunuhnya, melainkan seorang partner.

Dan pada akhirnya Jia-yi tidak menyesali keputusannya memberikan USB itu pada Baekhyun. Entah bagaimana caranya, Jia-yi yakin pria itu akan selamat.

DOR!

“Hentikan pertengkaran konyol kalian. Toh, semua kartu sudah terbuka.” perkataan tegas Baekhyun juga dua tembakan yang diarahkannya ke lantai di dekat tubuh Chanyeol—yang sekarang tengah dipukuli habis-habisan oleh Arin—sementara Jongdae sendiri sudah terbaring tidak berdaya di lantai, dengan wajah penuh luka dan darah yang mengalir keluar dair luka-luka tembakannya.

“Hah! Kau pikir kami tidak tahu tentangmu, Byun Baekhyun? Kau juga sama saja dengan ka—”

SRAK! BUGK!

Ugh!”

Belum sempat Arin menyelesaikan kalimatnya, Baekhyun sudah menarik kasar tubuh si gadis, lantas kemudian ia sarangkan sebuah pukulan keras di wajah Arin, membuat gadis itu terjerembap ke lantai dan mengerang kesakitan.

“Memukul seorang wanita bukanlah gayaku, tapi untuk seorang sepertimu, pukulan ini sangatlah pantas.” kata Baekhyun, dia kemudian mengarahkan pistolnya ke tubuh tidak berdaya Jongdae di lantai.

“Kau dan aku sama-sama tahu, apa yang akan Arshavin lakukan jika tahu Jongdae terbunuh, bukan?” meski dalam kesadarannya yang tidak penuh, Chanyeol bisa mendengar dengan jelas apa yang sekarang tengah Baekhyun bicarakan.

Arshavin.

“Coba saja bunuh dia kalau kau punya nyali. Nyawamu, adalah taruhannya Byun Baekhyun.” Arin berucap, diusapnya darah yang mengalir keluar dari mulut akibat pukulan Baekhyun beberapa sekon yang lalu. Arin pikir, gusinya pasti pecah karena pukulan keras pria itu.

“Oh, begitu ya? Kalau begitu aku tak akan segan lagi membunuhnya. Karena, aku sendiri sudah terbunuh bertahun-tahun lalu di tangan Arshavin sendiri.” dengan tegas Baekhyun berkata, sebelum dia akhirnya menekan pelatuk pistolnya dan—

DOR! DOR!

—dua tembakan dengan sengaja disarangkannya di kepala Jongdae.

Jeritan seharusnya menjadi hal pertama yang dapat Arin lakukan saat melihat kepala dari pria yang ia cintai hancur akibat dua timah panas yang baru saja menembusnya, sekarang hanya tertinggal dalam bentuk pandangan nanar.

Arin terlalu terkejut. Jangankan menjeritkan nama Jongdae, untuk berkedip saja gadis itu sudah tidak ingat lagi bagaimana caranya.

“K—Kau…” lirihan itu lolos dari bibir Arin begitu darah yang keluar dari tengkorak Jongdae sekarang menyentuh jemari Arin yang bertumpu di lantai.

“Sekarang giliranmu, Arin.” kata Baekhyun, tentu saja Baekhyun sadar jika Chanyeol sedari tadi telah menjadi penonton setia. Pria jangkung itu bahkan sudah berhasil membersihkan bekas darah di wajahnya dengan menggunakan tangannya, selagi maniknya mengawasi apa yang sekarang terjadi di depan matanya.

“Kalian berdua sama-sama pengkhianat, aku tahu itu. Tapi Baekhyun, Arin adalah urusanku karena aku yang memercayainya, dahulu.” kata Chanyeol kemudian, teringat pada waktu tidak singkat yang telah dilaluinya bersama Jongdae dan Arin sebelum malam ini semua fakta pahit di balik kepercayaan itu diungkap oleh Baekhyun.

“Kalau Arin memang harus dibunuh, aku sendiri yang akan membunuhnya.” putus Chanyeol. Pria itu membenci pengkhianat, dia juga sebenarnya tidak pernah menyukai kekerasan.

Bisa dikatakan, Jongdae adalah orang pertama yang dibuatnya mendekati fase meregang nyawa karena terdesak. Catat, karena terdesak. Pada dasarnya, Chanyeol tak pernah suka membunuh orang lain dengan tangannya sendiri. Dia tak suka mengotori tangannya.

“Dia juga pengkhianat, mengapa kau membiarkannya hidup?” tanya Arin di tengah keputus asaan. Tidak lagi penting bagi gadis itu, hidup atau matinya, sebab pria yang jadi tujuan hidupnya sudah tiada.

Apa lagi tujuan Arin ada di muka bumi jika Jongdae saja sudah tidak ada?

“Aku tahu dia juga pengkhianat. Tapi, bukankah dia baru saja mengkhianatimu untuk memberitahuku tentang siapa yang sesungguhnya berkhianat dariku di tempat ini. Tidakkah alasanku membiarkannya hidup sudah jelas?” Chanyeol melirik Baekhyun sekilas sebelum dia melemparkan pandang ke arah Arin yang sekarang tertawa jengah.

Arin sudah muak. Dia lelah dengan semua sandiwara menyedihkan yang harus dia jalani selama bertahun-tahun, dan malah berujung pada sebuah akhir yang tidak dia inginkan. Tidak ada jalan keluar, dan Arin tak mau repot-repot bicara soal apa saja yang diketahuinya selama ini.

Jadi Arin memilih jalan pintas. Dia raih pistol Jongdae yang teronggok di dekatnya, gadis itu mengarahkan pistol tersebut ke kepalanya sendiri, dipamerkannya sebuah senyum menyedihkan pada Chanyeol dan Baekhyun seolah mengucap selamat tinggal.

“Kalian tahu, kalau aku mati semua rahasia yang kuketahui akan ikut mati bersamaku.” kata Arin, bukannya mengucap selamat tinggal, dia justru memberi sebuah ancaman. Dia tahu, orang-orang ini masih membutuhkan informasi darinya, dan Arin tentu tidak akan mau buka mulut begitu saja.

“Kalau begitu matilah. Kau pikir kami peduli pada rahasia dari iblis sepertimu?” tanya Baekhyun santai, dia melangkah mendekati Arin dengan cukup yakin, membuat Arin tak ayal merasa gentar juga.

“Kau akan menyesal karena—”

DOR!

Arin tak sempat menyelesaikan kalimatnya saat Baekhyun sudah menyarangkan peluru terakhir dari pistolnya di kening gadis itu.

BRUGK!

Tubuh Arin ambruk kemudian, sementara Baekhyun menatap tubuh gadis itu dengan sebuah dengusan muak.

“Sialan. Dasar wanita jalang, kelakuannya dan kekasihnya sama saja.” umpat Baekhyun sebelum dia melempar ludahnya ke lantai di dekat tubuh Arin yang sudah terbaring tidak bernyawa.

Baekhyun kemudian melemparkan pandang ke arah Chanyeol yang masih terduduk di tempat yang sama, sedari tadi memerhatikan gerak-geriknya.

“Ayo, kita harus selesaikan perjanjian kita dulu. Baru aku berikan apa yang kau inginkan.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Lunar Hotel, Hunan.

PIP! PIP! PIP! PIP!

“Ya?” seorang pria lekas mengangkat teleponnya yang baru saja berdering. Selama beberapa sekon pria itu terdiam sembari mendengarkan apa yang lawan bicaranya instruksikan dari seberang sana, sebelum akhirnya pria itu menghela nafas panjang.

“Aku mengerti. Aku hanya perlu memastikan dia sampai di tangan orang itu saja, bukan? Setelah itu kau akan berhenti menerorku?” tanya si pria, berupaya memastikan bahwa dia akan hidup dengan cukup tenang setelah ini.

“Baiklah. Ya, ya, anggap saja aku percaya padamu kali ini. Sampai bertemu, kalau begitu.”

PIP!

Si pria memutuskan koneksi telepon begitu didengarnya suara di seberang sana mengucap selamat tinggal. Tidak jelas apa yang membuat pria tersebut merasa begitu terbebani setelah mendengar dua kalimat panjang dari lawan bicaranya di telepon tadi.

Tapi raut muram yang sekarang terpasang di wajah si pria jelas tidak menunjukkan hal baik. Lantas, dengan kasar pria itu melempar telepon genggamnya ke atas meja kaca yang ada di ruang tengah hotel yang disinggahinya sementara ini.

Ia sandarkan tubuhnya di sofa dengan gusar sambil memejamkan mata, tanpa tahu kalau tindakan gusarnya barusan telah membangunkan seseorang yang tadinya tengah terlelap.

Dad, ada masalah apa?”

Mendengar tanya yang masuk ke dalam telinganya, si pria lantas membuka lebar kedua maniknya, dipandangnya seorang gadis belia yang sekarang mengusap-usap kedua matanya dengan punggung tangan.

Wajah mengantuk gadis belia itu jelas menunjukkan kalau kegusaran si pria lah yang telah membangunkannya.

“Tidak ada, Ren. Kupikir kita harus check-out dalam waktu dekat.” kata si pria.

“Mengapa? Ada masalah apa lagi?” si gadis belia sontak memasang raut waspada. Menilik dari ekspresi Ayahnya juga apa yang diucapkan si pria, sudah jelas mereka tidak lagi berada dalam fase tenang yang baru beberapa hari ini mereka nikmati.

Mengenali nada curiga yang dilontarkan putrinya, si pria—Kris Wu—lantas mengembuskan nafas panjang sebelum dia akhirnya melempar pandang ke luar jendela lebar yang ada di sisi kiri kamar hotelnya.

Pandangan Kris sekarang menerawang, pada hal mengerikan lain yang mungkin menantinya di luar sana. Dengan nyawa Ren juga ketenangan keluarga mereka yang jadi ancaman, bagaimana bisa Kris berdiam sementara dia hanya diharuskan untuk melakukan tindakan kriminal kecil saja?

“Tidak ada, Ren. Tidak ada masalah. Aku hanya diharuskan menjemput seorang teman.”

please wait for the next story: Hol(m)es in Hunan (2) —

IRISH’s Fingernotes:

YES. AKHIRNYA HOL(M)ES BISA LANJUT, SEKALIGUS MENDEKATI KATA END. WKWK. Btw, ini sebenernya ngerjainnya bareng sama Len, niatan ngerapel ulang tahun Suho bareng Icing tapi enggak keturutan juga.

Dan berniat ngegarap bagiannya Kris bareng juga sepertinya enggak akan keturutan. Kaerna draft dari Len buat yang bagian Junmen sudah ada, jadi aku fiks-in aja kalo nasib Ayah-Anak yaitu Kris-Ren biar saya pribadi saja yang menentukan, HUAHAHAHA.

Maaf ya Len, enggak apa, aku enggak akan bunuh Ren kok, paling bapaknya yang aku bantai, lolol. Nah, ini dosa kedua aku adalah enggak sempet minta catetan penulis alias celoteh dari Len juga (yaampun dosaku kuadrat) karena aku nyelesein storyline mantepnya Hol(m)es baru malem ini (sebenernya Len udah tau banyak sih storylinenya, tapi berkat rapel bolak balik jadi muncullah sebuah ide pembantaian massal yang sadest) dan yah, tunggu aja nanti saat ulang tahun member EXO terakhir di tahun ini.

Inshaa Allah Hol(m)es juga end di sana, dengan ending yang tentu aja enggak bahagia. Aku udah enggak tega kalo mau buat hepiending, cerita ini sudah penuh dengan hal enggak bener, kriminalitas, yang harus dibumi hanguskan. Wkwk.

Ya sudah, sekian dulu babblinganku, sampai ketemu di Hol(m)es berikutnya!

Ps: Happy Belated Day, Mas Ipan! Sisa umurmu sudah berkurang satu tahun!

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

10 tanggapan untuk “[KRIS BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in GANGNAMGU (3) — IRISH’s Tale”

  1. Kak irish let me spamming dari sini hueheheh

    Saat tetiba Arin-Chen mati. YA LORD. ITU PASANGAN SAIKO, KUGAKNYANGKA AKAN MATI BEGINI GAKKKK. LAGI, SI KRIS TETIBA ADA DI HUNAN, WHYY BUKANNYA MAU KE KANADA???!!!

  2. Belagak lupa kalo ff ini sangat mungkin ada adegan sadisnya yg berdarah2.. pindah dari ff sebelah yg udah berdarah2 trus ke sini sama aja.. LOL
    Akhirnya mau ending juga ya ni ff.. kasihan lihat 2 anak gadis g pulang2..

  3. Wowowoww, Ini yang aku pikir keras, Baek gak maanfatin Jia-yi bener kan? Terus itu Jongin gimana nasibnya?? masa iya mas aku ditinggal sekarat dewean nde lemari T_T KAN SAKNE TOYA T_T

    Semangat terus lah pokoknya!! Hwaiting!!

    oh, btw… Dream udah stop sampe situ?? Ga dilanjut lagi, mba?

  4. Wahhh keknya aku yg komen pertama nihh.. Lanjooottt kakk… Di tunggu.. Walaupun malem gpp aku ttp stay sama kak irish wkwkwkwk😂😂😂

Tinggalkan Balasan ke ara Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s