[EXOFFI FREELANCE] Stay With Me (Chapter 24)

STAY WITH ME

Author :

Angeline

Main Cast :

Oh Sehun (EXO)

x

Bae Joo Hyun a.k.a Irene (RV)

Additional Cast :

EXO Members |Kim Ji Yeon (LOVELYZ)|Kim Seolhyun (AOA)| Im Jung Hoo  (B.I.G)| Lee Hyo Eun (STELLAR) |Krystal Jung (FX) |Wu Yifan a.k.a Kris Bae | etc~

Rating PG-17|Length Series Fic

Genre : romance | Angst | AU |slice of life | Drama |etc~

Disclaimer :

Ff ini murni dari pemikiran author sendiri , ceritanya tiba-tiba muncul dalam otak author #ea ,dan dari pada lupa langsung dituangkan dalam bentuk FF seperti ini. Bila ada kesamaan tokoh maupun jalan cerita didalam ff ini , itu bukan merupakan bentuk plagiat #noplagiat! melainkan unsur ketidaksengajaan. Don’t judge, don’t copas.  Terimakasih sudah mau meluangkan waktu untuk membacanya  (nunduk)

Summary :

Bagaimana jika seorang Oh sehun yang berwatak dingin dan tidak pernah peduli pada orang lain terjebak bersama seorang gadis amnesia bernama Irene?. Melalui sebuah pertemuan tidak terduga hingga masalah-masalah yang datang saat keduanya tengah menjalin sebuah hubungan.

Poster bye ByunHyunji @ Poster Channel

.

.

.

–Chapter 24–

.

.

.

Suho cs mendorong tubuh Leo dan anak buah pria itu memasuki kantor polisi, beberapa junior Suho nampak menunduk pada pria Kim itu, terlihat jika mereka benar-benar terpesona pada sosok pria tampan yang selalu menyelesaikan kasusnya dengan baik. Menjadikan Suho sebagai panutan yang baik bagi para juniorya. Suho juga terkenal dengan ramah dan baik pada setiap orang, untuk itulah Suho merupakan salah satu polisi favorit di divisi mereka.

Borgol yang menggelut pergelangan tangan  pria-pria brengsek itu, membuat mereka tidak bisa berkutik lagi dan hanya tertunduk lesu dan pasrah, menerima nasib mereka setelah ini. Taemin dan anggotanya juga sudah tiba dengan anak buah Leo yang berhasil mereka lumpuhkan.

“Woah, aku selalu bangga padamu hyung.” Ucap pria bernama Doyoung sambil mengacungkan jempolnya pada Suho. Dan pria Kim itu hanya tersenyum tipis sambil menepuk pundak Doyoung.

Tap tap tap

Kini mata Suho dan yang lain menatap seorang pria berahang tegas, yang merupakan petinggi di kantor pusat kepolisian mereka itu tengah memasuki ruangan tersebut, dengan seragam polisi khasnya, yang nampak memancarkan karisma pria bermarga Choi tersebut. Tentu saja, siapa yang tidak terpesona pada pria bernama Choi Siwon itu? Bahkan pria sekali pun nampak menganggumi sosok Siwon.

Mereka menunduk hormat pada Siwon, dan pria Choi itu hanya mengangguk. Tanpa menunggu lama, Suho langsung memberikan sebuah map cokelat pada Siwon. Di mana di dalam map itu berisi catatan criminal Leo selama ini. Siwon pun membacanya dengan seksama, seperti tidak ingin melewatkan satu kata saja.

Tangannya juga sibuk membolak balik halaman lembar kertas putih itu. Hingga senyumannya menyungging setelah membaca seluruh informasi tentang Leo itu. Siwon mengembalikan map itu pada Suho, dan menatap Leo yang masih berada di kursi dengan tangan di borgol.

“Apa ini istri dari Oh Sehun pemilik Willis group?” tanya Siwon pada Suho mengenai salah satu korban terakhir Leo. Dan pria Kim itu mengangguk, membuat Siwon mencibir singkat.

“Bahkan hukuman penjara seumur hidup masih terlalu ringan untukmu.” Ujar Siwon, sambil memasukkan tanganya ke dalam saku celanannya. Leo hanya bisa memendam amarahnya dalam hati.

“Sidang mereka, dan hadirkan beberapa saksi dari korbannya.” Ujar Siwon cepat, kemudian pergi dari sana. Suho menghela nafasnya, sambil merenggangkan otot-ototnya. Rasanya hari ini ia sangat lelah secara fisik. Mengejar penjahat tidak seperti mengejar laying-layang yang putus kan?

Suho pun mengumbar senyumannya, dan berjalan menuju meja seseorang. Sedang pria bermata sipit itu hanya mendengus kesal menatap Suho yang pasti menginginkan sesuatu darinya. Perlahan, Suho merangkul salah satu polisi yang masih sibuk dengan layar komputernya.

“Yesung hyung –“

“Pergi!”

“Ey, tidak boleh seperti itu hyung.”

“Aish, sialan kau Kim Suho! Baiklah, aku akan mengurus mereka. Kau puas?!” bentak Yesung sambil menatap tajam pada pria bermarga Kim itu, dan Suho yang mendengarnya langsung bersorak dalam hati.

“Gomawo hyung. Kau adalah hyung terbaikku. Aku akan membelikanmu minuman.” Ucap Suho dengan tersenyum manis, namun Yesung hanya menatap jengah padanya, sambil melanjutkan pekerjaannya.

“Kalian sudah bekerja keras. Jadi malam ini, aku traktir makan malam!” pekik Suho dengan semangat, dan para anggota divisi kasus criminal langsung bersorak bahagia mendengarnya.

.

.

.

Pria bermarga Do itu berjalan monadar-mandir di dalam ruang kerjanya sendiri. Berkali-kali ia memaksa otaknya untuk menghasilkan sebuah ide, agar bisa terlepas dari masalah ini. Bagaimana tidak? Jika kaki tangannya sedang di tahan oleh para polisi. Lalu siapa yang akan memberikannya infromasi?

“Hah.” Ji Sung menghela nafasnya, sambil mengacak rambutnya kasar. Ia benar-benar tidak menemukan jalan keluar.

Biasanya Myungsoo akan dengan cepat memberikan solusi terbaik jika ia sedang bingung. Namun nyatanya, Myungsoo tidak ada di sini setelah pria itu berhasil ditangkap oleh pihak kepolisian.

“Apa yang harus kulakukan sekarang?” ucapnya frustasi. Rasanya ia sedikit takut sekarang. Ia takut semua rencana yang ia bangun hancur begitu saja hanya karena Myungsoo tidak berada di sisinya lagi. Tidak! Semua ini harus berjalan sesuai rencana, dan ia tidak boleh gagal untuk mendapatkan gadisnya kembali.

Ji Sung menghela nafasnya, kemudian melirik botol obat berwarna putih lengkap dengan segelas air putih di atas nampan. Ji Sung mengambil botol obat itu lalu membukanya, dan mengeluarkan satu buah obat dari dalam sana. Ji Sung menatap dengan lekat, obat berwarna putih itu, hingga ia tersenyum sinis, entah senyuman itu untuk siapa.

“Akan kubuktikan, jika aku bisa melakukannya sendiri.” Lirihnya dengan seulas senyuman mengerikan, kemudian membuang botol obat itu ke dalam tempat sampah.

“Aku akan menjemputmu, dan membawamu ke tempat di mana mereka tidak bisa mengganggu ketenangan kita sayang.”

.

.

.

Sehun menekuk wajahnya, saat memandang istrinya itu sedang asik menonton acara tv di kamar hotel mereka. Irene nampaknya sangat serius, hingga tidak melihat Sehun yang dari tadi kesal karena tidak diperhatikan. Ah, apa Sehun sedang merajuk saat ini?

“Irene sayang, sudah nontonnya ya?” ucap Sehun sambil memeluk pinggang Irene mesra, namun Irene masih malas untuk meninggalkan kegiatannya itu.

Sehun menghela nafasnya kasar, dan dengan lancang, Sehun meraih remot tv dan langsung mematikannya. Irene melotot pada Sehun, seakan tidak percaya jika Sehun baru saja mematikan tv, saat Irene lagi asik menonton acara memasak itu.

“Aku lapar.” Ucap Sehun manja, merengek pada Irene seperti seorang bocah 5 tahun. Ayolah, suaminya itu sudah besar, dan seharusnya ia tidak memiliki sifat menjijikan seperti ini. Tapi ingatkah Irene, jika ajhuma Han pernah bilang bahwa tuan mudanya itu adalah seorang yang sangat manja? Ya, sepertinya Irene mengerti sekarang.

“Kau kan sudah makan malam sayang.” Kata Irene sambil membaringkan tubuhnya pada ranjang, dan menarik selimut sebatas dadanya. Sehun menghela nafas panjang.

“Bukan itu maksudku.” Ucapnya menggeleng, dan Irene mengerutkan keningnya bingung.

“Lalu apa?”

“Itu, kau tahu maksudku. Yang itu sayang.” Sehun nampak frustasi menjelaskan maksud perkataannya pada Irene. Oh, benarkah Irene tidak mengerti? Atau pura-pura tidak mengerti?

“Sehun, aku tidak mengerti maksudmu!”

Sehun menghela nafasnya, kemudian menindih tubuh Irene. Tangannya ia gunakan untuk menopang berat tubuhnya, Irene masih menatap tidak mengerti apa yang Sehun lakukan.  Kini pria Oh sedikit membenamkan ciumannya pada leher Irene, mengecupnya beberapa kali, kemudian menatap Irene lagi.

“Bisakah malam ini kita –“

“Hm..” Irene nampak berpikir sejenak, sambil melingkarkan tangannya pada Sehun, “Kita apa?”

“Oh Irene! Jangan sok polos begini!” geram Sehun sambil mencium bibir Irene berkali-kali. Irene tertawa geli, kemudian nampak berpikir lagi.

“Jangan terlalu lama berpikir, aku tidak bisa menunggu.” Ucap Sehun mendesak, dan Irene mengangguk kecil. Sehun yang mendapat ijin, langsung mencium leher Irene, menghisap dan membuat tanda kepemilikan di sana. Irene mendesah pelan, sambil meremas rambut Sehun. Perlahan, Sehun membuka satu persatu kancing kemejanya yang Irene kenakan di tubuhnya.

3 kancing lolos dengan sempurna, memperlihatkan bra berwarna hitam yang menempel indah di tubuh Irene. Gadis itu merona ketika Sehun memandangnya. Dengan perlahan, Sehun mulai mencium leher Irene dan merambat turun di sekitar dadanya. Irene menggeliat, rasanya geli jika Sehun mempermainkannya seperti ini.

Tangan Irene juga ikut andil dalam membuka kaos putih Sehun, hingga lolos melalui kepalanya. Sehun mengusap lengan berotot suaminya itu, dan kembali mengalungkan tangannya pada leher Sehun, dan akhirnya menarik kepala Sehun untuk berciuman dengannya. Entah dari mana ia mendapat semua keberanian itu, Irene hanya mengikuti instingnya.

“Kau mulai ahli?” Sehun tersenyum menggoda sambil melumat bibir merah Irene yang terus menggodanya untuk di cium. Irene membalas ciuman itu, mereka saling berciuman panas untuk selang beberapa menit. Hingga tanpa sadar, Irene dan Sehun kini sudah polos tanpa sehelai kain di tubuhnya.

Dan saat-saat penyatuan tubuh mereka…

RING….

“Sialan!” umpat Sehun saat mendengar dering telfon miliknya. Demi apa pun juga, ia ingin sekali membunuh orang yang sudah mengganggu kegiatannya bersama Irene. Gadis itu tersenyum kecil, kemudian menyuruh Sehun mengangkat telfonnya.

“Biarkan saja.” kata Sehun sambil mencium sekitar dada Irene, namun gadis itu menarik kepala Sehun menjauh, “Sayang, angkat telfon itu. Siapa tahu penting.” Ucap Irene mengusap dada Sehun lembut.

BUGH

Sehun memukul sandaran ranjang mereka, dan bangkit dari atas tubuh Irene, dan segera meraih ponselnya yang berada di atas nakas. Irene tersenyum sambil menggeleng pelan.

Sehun menatap siapa penelfon yang sudah mengganggu acaranya, dan ternyata orang itu adalah Suho. Sehun menghela nafasnya sebentar, kemudian menekan tombol hijau itu dan menempelkan ponselnya pada telinga kanannya.

HYUNG!” Bentak Sehun membuat Irene terkejut.

“Yak! Kau mau membuatku tuli huh?! Brengsek!”

“Kau mengganggu acaraku!”

“A –ah, benarkah? Sudah sampai mana memangnya?”

“Aku hampir memasukinya!” geram Sehun sambil menatap Irene yang kini hanya melongo mendengar ucapan Sehun mengenai kegiatan mereka. Apa pria itu harus mengumbarnya pada orang lain? Astaga!

“Sialan! Kau mau membuatku iri huh?!”

“Makanya kau harus menikah! Sudah, untuk apa hyung menelfonku?”

“Aku mau bilang, jika aku sudah menangkap Leo. Dan besok, tim-ku akan berangkat menuju Indonesia, karena menurut infromasi, keberadaan Jung Hoo dan Hyo Eun berada di sana.”

“Baguslah jika mereka sudah diketemukan. Terimakasih karena sudah membantuku hyung. Mungkin, 3 hari lagi aku akan pulang ke Korea.”

“Baiklah, kalau begitu aku tutup. Lanjutkan kegiatanmu!”

Bip

Sehun mematikan ponselnya, dan menaruh ponsel itu di atas nakas kembali. Ia berbaring di samping Irene dan tersenyum pada istrinya, sedang Irene hanya berusaha menebak apa yang baru saja mereka bicarakan di telfon?

“Leo sudah ditemukan, dan berikutnya mereka akan menangkap Jung Hood an Hyo Eun yang berada di Indonesia.”

“Mereka berada di sana? Aku tidak percaya ini.” Sehun hanya mengangguk kecil, kemudian memeluk pinggang Irene dan merapatkan tubuh mungil gadis itu padanya, “Jadi, sampai mana kita tadi?”

“H –hm?” Irene nampak gugup ketika tangan Sehun mulai mengusap perutnya sambil tersenyum manis, “Kau tahu sayang? Aku tidak sabar menunggu seseorang di dalam sini.” Bisik Sehun sambil mencium kelopak mata Irene, membuat gadis itu tersenyum.

“Aku ingin anak perempuan.” Kata Sehun, dan Irene mengerutkan keningnya bingung, “Kenapa? Biasanya pria menginginkan anak laki-laki kan?”

“Tidak, aku ingin anak pertama kita adalah perempuan. Lalu yang kedua laki-laki.” Irene tertawa kecil, kemudian mencubit pipi Sehun, “Memangnya siapa yang mau melahirkan dua anak huh? Cukup satu saja.”

“Tidak! Pokoknya harus 2, perempuan dan laki-laki. Dan kau harus mau!” kata Sehun sambil menggigit jemari Irene gemas.

“Bagiku, mau perempuan atau pun laki-laki, sama saja. Yang penting mereka lahir dengan sehat.” Kata Irene tersenyum, dan Sehun nampak berpikir sejenak, “Ah, kalau begitu kembar saja bagaimana?” tanya Sehun tersenyum manis.

“Hm, tidak masalah. Yang penting mereka sehat sayang.” Ucap Irene kembali sambil mengusap pipi Sehun, pria itu tersenyum, kemudian menindih Irene lagi, dan mencium bibir istrinya dengan lembut. Sedang kedua tangan Irene, ia genggam di sisi kepala Irene. Memebuat Irene sedikit sulit bergerak.

Kini permainan mereka di mulai. Sehun mulai mengusap setiap inci tubuh Irene, tanpa terlewat sedikit pun. Dan hal itu membuat gadis itu menggeliat geli, Irene juga mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Sehun, namun pria itu menahannya dengan kuat. Dan itu membuat Irene sedikit kesakitan.

“Sa – sakit Sehun.” pekik Irene ketika pria itu memulai kegiatan panas mereka, “Masih sakit? Meskipun sudah beberapa kali?” ucap Sehun menatap wajah Irene yang memerah, dan gadis itu mengangguk kecil.

“Pe –pelan-pelan.” Kata Irene menggigit bibir bawahnya, “Ini sudah pelan-pelan sayang.” ucap Sehun sedikit menyesal karena nyatanya sang istri masih kesakitan.

Namun, perlahan-lahan, rasa sakit itu berubah menjadi rasa nikmat yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Dengan kedua tangan Irene yang masih digenggamm oleh Sehun, membuat Irene tidak bisa melampiaskan hasratnya pada apa pun. Ia hanya bisa mendesah nikmat, yang membuat gairah Sehun semakin memuncak.

“Sehunh, ah..” deru nafas mereka saling beradu, mencari titik kepuasan masing-masing. Sehun menatap wajah sayu Irene yang nampak lelah, namun terselip kepuasaan di dalamnya. Oh, istrinya sangat cantik dan beanr-benar sexy, bahkan keringat yang menghiasi wajahnya, membuat Sehun terpesona.

“Kau sangat cantik Irene.” ucap Sehun sambil mencium kening istrinya dengan lembut, dan Irene tersenyum kecil.

Setelah akhirnya mereka mendapatkan puncak kepuasan itu, Sehun ambruk pada dada Irene dan genggaman tangannya terlepas. Irene mengatur deru nafasnya, sambil mengusap rambut basah Sehun karena keringat, keduanya benar-benar lelah, khususnya Irene.

“Aku lelah.” Ucap Irene parau, dan Sehun mengangguk lemah.

“Aku juga. Tapi, ini begitu nikmat.” Ucapnya dengan nafas yang terengah-engah.

“Be –berat Sehun.” kata Irene pelan, dan Sehun yang tersadar langsung berguling ke samping, kemudian memeluk pinggang Irene dan kembali menempelkan tubuh keduanya.

“Selamat tidur sayang.” Ucap Sehun pelan, sambil mencium punggung Irene beberapa kali, dan Irene yang sudah lelah tidak menjawab, melainkan ia sudah berada di alam mimpinya.

.

.

.

Suho berjalan memasuki lorong kamar rumah sakit, untuk menuju kamar Myungsoo. Beberapa suster yang berpapasan dengannya, tersenyum malu-malu ketika Suho mengumbar senyuman manisnya. Oh tentu saja, siapa yang tahan melihat senyuman pria itu?

Namun perjalanannya sedikit terhentikan, ketika ia melihat dari arah depannya, ada seorang gadis dengan pakaian rumah sakit, lengkap dengan infus yang mash terpasang di tangannya, sedang berjalan cepat membawa tiang infusnya. Suho mengerutkan keningnya bingung.

Namun, kebingungannya itu sedikit berkurang, ketika melihat 2 orang suster yang berlari di belakang seperti mengejarnya. Lantas, gadis yang sedang berjalan cepat itu, langsung mempercepat gerakannya, menjadi sedikit berlari. Hingga saat gadis itu hampir melewati Suho, dengan gerakan cepat, Suho dengan sengaja mengangkat kakinya untuk menghalangi jalan gadis itu.

Dan karena tidak melihat, gadis itu tersandung kaki Suho dan hampir saja jatuh, jika Suho tidak menahan tubuh gadis itu. Kini mereka berpandangan cukup lama. Suho menatap lekat bola mata berwarna cokelat milik gadis itu, kulit putih mulusnya dan bibir pucat tipisnya. Meski begitu, ia tetap gadis yang cantik menurut pemandangan Suho.

Sedang gadis itu kini masih sedikit terkejut dengan apa yang terjadi padanya. Ia juga menatap Suho. Wajah tampan, bibir tipis dan menurutnya, Suho adalah pria yang berkarisma.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Suho menaikkan alisnya, setelah menegakkan tubuh gadis itu dengan benar. Sang gadis hanya mengangguk kecil salah tingkah.

“Ah, akhirnya kami menangkapmu nona!” ucap salah seorang suster dengan nafas tesenggal-senggal. Gadis itu menatap kesal pada Suho. Karena menurutnya, Suholah yang membuatnya tertangkap oleh suster-suster ini.

“Lepaskan aku!” ucapnya meronta, namun sang suster masih menahan tangannya.

“Nona harus minum obat.”

“Tidak! Aku tidak mau!” ucapnya berusaha melepaskan diri dari para suster itu.

“Nona, jangan membuat kami kesusahan seperti ini!” kata suster lagi, namun ia menggeleng kuat masih dengan kekuatannya berusaha melepaskan tangan suster itu dari tangannya. Suho yang melihat itu masih sedikit bingung, kenapa gadis ini tidak mau minum obat? Seperti anak kecil saja.

“Nona – Akh!” salah satu suster menjerit, ketika gadis itu menggigit tangan salah satu suster, kemudian dengan gerakan cepat, ia segera kabur setelah genggamannya terlepas.

“Nona Ana!” teriak suster itu, namun gadis yang di panggil Ana itu sudah menghilang dari pandangan mereka.

“Kenapa dia seperti itu?”

“Ah? Nona Ana selalu begitu setiap ingin minum obat.” Jelas salah seorang suster pada Suho, dan pria itu hanya mengangguk, “Memangnya dia sakit apa?”

“Tumor otak. Dan saat ini sudah stadium 3.” Mata Suho melebar seketika. Gadis itu terlihat masih muda dan cantik, namun sudah mengidap penyakit mengerikan seperti itu? Suho benar-benar iba melihatnya.

Lantas, saat Suho ingin pergi, lagi-lagi pandangannya teralihkan pada seorang dokter yang sedang menjewer telinga pasien bernama Ana. Dan dokter itu adalah Donghae, Ana terlihat menunduk pasrah mengikuti ke mana Donghae membawanya.

2 orang suster itu nampak bernafas lega, namun sedikit takut juga karena mereka bisa saja terkena marah, karena lalai mengurus pasien. Suster itu menundukkan kepala takut setelah Donghae berdiri di depan mereka, sambil masih menjewer telinga Ana.

“Kau keras kepala sekali!” ucap Donghae menggeleng jengah. Sungguh, kelakuan Ana benar-benar membuat kepalanya hampir pecah. Dan hal ini tidak terjadi satu atau dua kali, namun setiap ia ingin minum obat, Ana akan menghilang dari kamarnya. Rasanya, Donghae ingin mengikat tubuh gadis mungil ini saja.

Oppa sakit!” rengek Ana pada Donghae, namun pria itu mendengarkannya.

“Lihat! Ini gara-gara kau! Jika saja kau tidak menghalangi jalanku, aku mungkin sudah –akh! Oppa sakit!” pekik Ana saat Donghae kembali menjewer pelan telinga gadis itu. Suho tertawa kecil melihat kelakuan menggemaskan Ana itu. Namun Ana malah menatap sebal padanya.

“Maafkan adikku Suho-ya.” Ucap Donghae menyesal, karena Suho harus melihat kelakuan gadis yang ia sebut adik itu seperti ini. Berbicara dengan tidak sopan pada orang yang lebih tua.

“Adik? Dia adikmu hyung?” yakin Suho pada Donghae dan pria Lee itu mengangguk mantap, “Lee Ana. Dia memang sedikit cerewet.” Donghae menatap Ana yang hanya menatap malas kakaknya itu, sambil menyilangkan tangannya di dada. Seakan ia tidak peduli dengan percakapan Suho dan Donghae.

“Minum obat sekarang, sebelum aku melaporkannya pada eomma!”

“Iya! Tapi lepaskan dulu! Ini sakit, orang tua!”

“Ish, dasar tidak sopan!” ucap Donghae ingin mencubit pipi Ana, namun gadis itu lebih dulu pergi bersama kedua suster yang mengurusnya. Suho menatap kepergian gadis itu, dalam hatinya ia sedikit terpesona akan sifat lucu dan menggemaskan Ana.

“Aku tidak tahu hyung memiliki adik?” Suho menaikkan alisnya pada Donghae, dan pria Lee itu menyunggingkan senyuman kecil, “Ya, memang aku tidak pernah menceritakan adikku pada siapa pun. Termasuk Sehun.” jelas Donghae membuat kening Suho berkerut, “Kenapa hyung?”

“Entahlah, mungkin lebih mudah seperti itu.” ucap Donghae lagi, kemudian menatap Suho, “Aku duluan hm? Aku harus memeriksa pasien.”

Ne hyung.”

Selepas kepergian Donghae,  Suho melanjutkan langkahnya lagi menuju kamar Myungsoo. Setelah sampai di depan pintu itu, pria Kim itu membuka pintu berwarna putih itu, dan melihat dua orang polisi yang ia suruh menjaga Myungsoo sedang duduk di sofa. Dan Myungsoo sedang tertidur.

Dua orang polisi itu berdiri setelah melihat Suho, dan menundukkan kepala mereka pada pria itu. Suho tersenyum kecil dan mengangguk, “Kalian boleh istirahat, aku akan menjaganya.”

Ne sunbae.”

Kedua polisi itu pun pergi dan menyisahkan Suho yang berada di ruangan itu seorang diri bersama Myungsoo yang sedang tertidur. Namun mengapa bagi Suho, Myungsoo seperti bukan seseorang yang sedag tertidur, meski Suho akui actingnya saat ini benar-benar terlihat nyata.

“Bisakah kita bicara?” ucap Suho setelah duduk di sebuah kursi yang berada di dekat ranjang Myungsoo. Nampak pria yang terbaring di ranjang itu tidak merespon apa pun kecuali diam, “Apa yang terjadi pada Ji Sung kecil?” tanya Suho, dan kini Myungsoo sediki merepson dari pergerakan tangannya.

“Hm, masih tidak mau bicara?” gumam Suho, kemudian memutar otaknya lagi agar Myungsoo mau menjelaskan seusatu tentang Ji Sung padanya. Suho pun tersenyum, kemudian mengambil pistol dari dalam saku jasnya, dengan berani pria Kim itu menyodorkan pistol tersebut pada kepala Myungsoo. Dan sontak, Myungsoo langsung membuka matanya.

Pria itu benar-benar terkejut dengan apa yang Suho lakukan padanya ini. Apa ini sebuah ancaman? Atau pria itu benar-benar berniat membunuhnya? Suho tersneyum kemenangan, akhirnya Myungsoo bangun juga.

“Kau gila?! Turunkan senjatamu brengsek!” umpat Myungsoo pada Suho, namun pria Kim itu terkekeh kemudian semakin menempelkan pistol itu pada kepala Myungsoo, membuat pria itu semakin bergidik ngeri.

“Yak!” teriak Myungsoo dan Suho tersenyum tipis, lalu menurunkan pistol itu dan memasukkannya kembali ke dalam saku jasnya.

“Dasar gila!” umpat Myungsoo, namun Suho hanya mengidikkan bahunya tidak peduli dengan ucapan itu, kini Suho kembali fokus pada tujuan utamanya. Ya, menanyakan hubungan Myungsoo dan Ji Sung lebih detail. Dan Suho harap, ia mendapatkan sesuatu yang baru dari bibir pria di depannya ini.

“Jelaskan padaku, apa hubungan kalian?” ucap Suho sekali lagi, dan Myungsoo memalingkan wajahnya ke samping sambil mendesah berat. Mungkin Myungsoo berpikir, jika Suho adalah pria paling keras kepala di dunia, dan tukang memaksakan sesuatu, dan satu lagi, pria itu pantang menyerah. Buktinya, ia terus menanyakan pertanyaan yang sama.

“Aku hanya anak buahnya. Tidak kah kau tahu itu? Aku kira kau pintar, namun bodoh!” ejek Myungsoo tanpa menatap Suho yang sudah tersenyum mendengar tuturan Myungsoo mengenai dirinya, “Hm, kau tahu? Di sini, bukan aku yang bodoh. Melainkan dirimu yang bodoh, sudah tahu jika aku tidak bisa dibodohi, namun kau tetap berusaha membodohiku, bukankah kau bodoh?” Suho tersenyum tipis saat mendapati Myungsoo menatapnya geram dan tajam. Seperti sorot matanya, ingin membunuh Suho saat ini.

“Aku berkata jujur! Sialan!” Myungsoo menggeram, rasanya ia benar-benar malas menatap Suho saat ini.

“Myungsoo-ssi, belum terlambat jika kau menjadi pria yang baik. Apa kau tidak merindukan itu? Maksudku, hidup normal dengan bekerja layaknya orang normal lainnya. Kau tahu pekerjaanmu saat ini bukanlah sebuah pekerjaan yang baik.” Jelas Suho, membuat Myungsoo terdiam. Ia nampak mencerna ucapan bijak Suho. Pria Kim itu benar, dan sejujurnya Myungsoo sangat ingin melakukan itu. Pekerjaan baik? Oh, itu adalah kerinduannya selama 2 tahun, ia menjadi kaki tangan Ji Sung.

“Kau tidak tahu apa-apa! Jadi, tidak usah ikut campur.” Elak Myungsoo berbohong. Padahal saat ini, hatinya benar-benar bergejolak berkata ‘iya’. Sungguh, Myungsoo ingin melakukan hal itu. Hidup normal, bisakah ia merasakan hal itu lagi? Atau mungkin, mengembalikan semuanya seperti semula?

“Jangan memaksakan dirimu menjadi penjahat seperti Ji Sung. Karena aku yakin, kau tidak seperti itu.”

“Jangan ikut campur!”

“Aku tidak ikut campur, hanya menasehati. Dan aku mohon, jelaskan padaku apa yang terjadi padanya. Hey, dengan menjelaskan hal ini padaku, kau sudah membantu kami untuk menghentikkan rencana jahatnya. Membantunya untuk kembali seperti Ji Sung kecil yang selalu bermain denganmu.” Jelas Suho, dan entah kenapa kali ini air mata pria itu mengalir tanpa sadar.

Myungsoo menatap kosong ke depan, dengan tangannya yang terkepal. Kenapa hatinya merindukan kata-kata itu? Ji Sung kecil. Ya, ia rindu sosok pria bernama Ji Sung, yang sejak kecil selalu bermain dengannya, sebelum sebuah kecelakaan besar terjadi.

“Aku –“ Suho yang mendengar Myungsoo sudah bersiap untuk menceritakan apa yang terjadi antaranya dan Ji Sung, langsung membuka alat perekam dari dalam ponselnya.

“Kami sangat dekat. Bahkan seperti saudara kandung jika di bilang, aku menyayanginya melebihi diriku sendiri. Aku adalah anak seorang pengawal di rumahnya. Saat itu, Ji Sung masih duduk di bangku sekolah dasar, sedang aku sudah SMP. Kami selalu bermain bersama, dan bercita-cita menjadi seorang dokter –“ Myungsoo menjeda kalimatnya sambil tersenyum masam.

“Namun semua berubah, saat siang ia menemukan kedua orang tuanya meninggal bunuh diri. Aku tidak yakin, namun aku rasa ayah Ji Sung bunuh diri, setelah tidak sengaja membunuh istrinya sendiri. Dan kami tidak tahu permasalahan apa yang terjadi di antara mereka. Ji Sung benar-benar terpukul melihat ayahnya yang tergantung di kamar, dan ibunya dengan darah yang sangat banyak.” Myungsoo menghela nafasnya sebentar, sambil menghapus air matanya.

“Sejak saat itu, ia menjadi pendiam di sekolah dan tidak suka bergaul dengan siapa pun. Ia juga menjauh dariku, ia menutup dirinya dari siapa pun dan tidak mau bicara atau pun makan. Setiap siang, ia mengunci kamarnya dan keluar hanya untuk makan malam. Begitu terus, hingga ia SMA. Gadis itu, Irene. Dia adalah gadis pertama yang membuat Ji Sung ingin kembali berbicara, anggaplah ia jatuh cinta dalam pandangan pertama.” Myungsoo tersenyum mengingat masa-masa Ji Sung kembali ceria karena Irene.

Suho masih mendengarkan dengan baik. Bahkan, pemikirannya benar jika apa yang tertulis pada profil Myungsoo tidak sepenuhnya benar, jika keduanya hanya sebatas bos dan anak buah. Suho yakin, hubungan keduanya tidak se- simple itu.

“Ia kembali tersenyum, dan mau berbicara. Bahkan, ia juga sering menceritakan Irene padaku. Ia bertanya, bagaimana cara membuat gadis jatuh cinta padanya. Kami kembali dekat, namun – semua berakhir saat pihak sekolah memanggilku –“

“Di mana ayahmu?” potong Suho sebelum Myungsoo melanjutkan ceritanya, “Ayahku meninggal 3 tahun setelah kedua orang tua Ji Sung meninggal, factor usia.” Jelas Myungsoo, dan Suho mengangguk paham.

“Pihak sekolah memanggilku, karena Ji Sung dilaporkan sudah melecehkan Irene di gudang sekolah. Itu sebuah pukulan berat untukku. Aku merasa gagal menjadi hyung untuknya. Aku tidak menyangka Ji Sung akan melakukan hal itu, terlebih kepada gadis yang ia cintai. Setelah hari itu, Irene pindah sekolah. Dia kembali menjadi Ji Sung yang pendiam dan tidak suka berbicara. Aku pun masih kuliah dengan baik saat itu, namun semua menjadi mimpi buruk ketika Ji Sung memasuki bangku kuliahan. Ia suka mabuk, dan bermain dengan wanita-wanita pelacur. Aku benar-benar pusing melihatnya seperti itu.”

“Namun, aku menyadari siapa diriku untuknya. Aku hanya seorang pembantu di sana, pengawalnya, dan tidak lebih. Aku juga sadar, siapa yang membiayai kuliahku, jika bukan Ji Sung. Keluarganya sudah memberikan banyak hal padaku, dan aku tidak bisa membalas apa-apa. Setelah Ji Sung lulus, ia mengelola perusahaan ayahnya, menjadi seorang petinggi di sana dan bekerja. Namun ia berubah, nyatanya cinta pada Irene tidak runtuh begitu saja. Nyatanya ia membuat rencana untuk mendapatkan Irene kembali sejak ia kuliah, dan ia menjadikanku kaki tangannya. Mengawasi Irene, dan menceritakan apa saja yang gadis itu lakukan.”

“Kenapa kau melakukannya?” tanya Suho pada pria itu, dan Myungsoo tersenyum masam, “Balas budi mungkin? Ia mengancam akan meminta semua biaya kuliahku, jika aku tidak mau melakukannya. Dan di sinilah aku, seorang penjahat yang benar-benar brengsek.” Myungsoo tersenyum masam lagi, dan air matanya sukses keluar. Suho benar-benar iba mendengar ceritanya, rasanya hatinya juga sakit jika berada di posisi Myungsoo.

“Tapi dalam profilmu, kau mengenalnya selama 2 tahun? Aku tidak tahu jika kau sudah selama ini mengenalnya.”

“Ya, aku memang sudah bekerja dengannya selama 2 tahun ini. Dan aku juga yang menyelamatkannya dari overdosis obat. Jika saja aku terlambat membawanya ke rumah sakit saat itu, mungkin ia sudah mati. Karena Ji Sung memiliki gangguan kejiwaan.” Jelas Myungsoo membuat Suho melebarkan matanya tidak percaya, apa ini nyata? Ji Sung benar-benar pria yang mengerikan.

“Ku rasa, nyawa Irene dalam bahaya.” Ucap Myungsoo lagi membuat Suho menatap pria itu dengan serius, “Apa maksudmu dalam bahaya?” tanya Suho.

“Terakhir, ia menyuruhku membunuh Sehun. Namun aku tidak berhasil melakukannya, dan ku rasa ia akan melakukannya sendiri. Dan setelah itu, ia akan menculik Irene dan membawanya pergi jauh, kau harus memperingati Sehun tentang ini.” Suho melongo mendengar penjelasan pria itu, ia tidak menyangka sebuah cinta akan merambat seperti ini. Benar-benar tidak bisa dipercaya.

.

.

.

-TO BE CONTINUED-

Aku gak terlalu yakin dengan apa yang kutulis di chapter ini sebenarnya. Awalnya, aku gak pernah ngebayangin memasukkan genre thriller gini ke dalam ff-ku, tapi entah mengapa karena keseringan baca ff yang ada psikopatnya, aku jadi tertarik masukin yang begituan, hehe.

Agak aneh mungkin, maaf jika demikan wkwkwk. Aku harap kalian tetap suka sih ya, aku mohon untuk komen dari kalian. Biar aku semangat apdetnya yekan? -,-

Bye bye semuahhhh 🙂

10 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Stay With Me (Chapter 24)”

  1. Nyeremin bgt si jisung jisung ini
    Kenapa si irene-sehun lucu bgt
    Mereka berdua terlalu kyut buat hubungan pernikahan wkwkkwkkw
    Irene-sehun shipper

  2. Akhirnya bisa baca ff kesukaanku setelah beberapa hari pusing mikirin kerjaan 🙂
    Masih tetep menunggu hari bahagianya hun rene 🙂 hwaiting kak next chap nya 🙂 :*

  3. Aduh.. takut banget kalo ji sung bakal nyulik irene..
    Romantis pas sehun pengeb punya anak dari irene.. uluh2.. anak ayam ku..

    Sehun jaga irene..

  4. uh….
    kayaknya masalahnya bakal nambah ni…
    semangat ya sehun dan irene
    semangat juga buat author kece…
    ditunggu nextnya ya…
    eh kyaknya suho juga mw ngalami love story ya…

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s