[EXOFFI FREELANCE] KOKOBOP (TRACK 6)

K O K O B O P (Track 6)

Author: El Byun

Chaptered

Rate: Pg-17

Genre:

Alternate Universe, Action, Romance, Angst, Mature

Cast:

Lee Hanbi (OC)

Zhang Yixing aka Lay | Huang Zitao aka Tao | Wu Yifan aka Kris | Xi Luhan aka Luhan

Summary:

Ketika tarian musim panas mengajakmu untuk memiliki seorang pasangan. Kemudian seseorang yang tidak kau ketahui melemparmu ke dalam kencan buta dengan 8 pria beda profesi.

Desclimer:

This story is my real imagination from ‘Kokobop’ song. Don’t be plagiarsm, please! Be a good readers!

Fanfic ini juga dipost di akun Wattpad saya @elisabethbyun bersama dengan karya saya yang lain.

Previous list: Cast + Introduction | Intro | Verse | Chorus | Track 1 |Track 2 | Track 3 | Track 4 | Track 5

~~~

[Track 6 : CODE]

~~~

Gaun peach bercorak bunga merah muda menghiasi tubuh wanita 25 tahun ini atas paksaan dua pria China yang belakangan ini mengusik kehidupannya. Lee Hanbi, perempuan cantik keturunan China-Korea itu melangkah ragu saat memasuki sebuah restoran western mewah di Seojong’s street, masih di sekitar kota Seoul.

Gedung dengan paduan warna putih dan krem ditambah hiasan lampu gantung raksasa di tengah ruang utama di lantai dasar restoran itu menambah kesan dalamnya kocek yang harus diraih untuk setiap pelanggan yang datang. Restoran berkelas itu didominasi pengunjung pria berpakaian suit dan wanita mengenakan gaun maupun blazer khas kantoran mereka. Hanya gaun Hanbi yang terlihat lebih chic untuk sebuah makan malam mewah. Lagi pula ia berkencan bukan dengan kekasihnya sendiri. Haruskah ia tampil anggun maksimal seperti wanita pada umumnya?

Tidak!

Hanbi tetaplah Hanbi. Walaupun gaunnya bukan pilihannya sendiri. Namun ia menerima itu. Setidaknya ia tidak terlihat seperti wanita yang haus kasih sayang.

“Boss!” panggil Zitao pada Lay yang tengah memperhatikan langkah wanita itu memasuki restoran dari ujung pintu masuk. Mereka telah selesai memarkirkan mobil dan akan menyusulnya masuk.

“Hmm?” sahut Lay menggumam.

“Aku masih berat melepaskan Hanbi berkencan dengan orang itu.” ujar Zitao dan membuat Lay harus menoleh ke arahnya. Namun kemudian ia hanya tertawa dalam senyum.

“Dia harus mencari hidupnya…” ucap Lay menggantung lalu menghembuskan nafasnya sesak.

“Kita tidak bisa membiarkannya sendirian…” lagi-lagi nafasnya tercekat hingga harus bernafas lebih dalam lagi. Setidaknya pria itu tahu sedikit ungkapan tulus perasaan Hanbi.

“Jangan pergi! Aku tidak ingin sendirian.”

“Aku tidak ingin menikah dengan Yifan…”

“Apa kau tega melihatnya menderita saat menikahi si brengsek Yifan itu? Yah, kau tahu sendiri bagaimana Lee Donghae membuat keputusan itu. Kita hanya seorang petugas dengan misi melindunginya. Tidak untuk mencintainya, Zitao.”

.

.

.

[34 hour before]

.

.

.

.

.

[8.53 am]

“Aku tidak ingin menikah dengan Yifan. Bisakah kau menyelamatkanku dengan menikahiku?”

“Hanbi!”

Mendengar seruan panggilan untuk Hanbi. Lay memalingkan wajahnya pada sosok Tao yang tengah berdiri di ambang pintu dengan menenteng sebuah baskom.

“Huang, aku..?”

BRUK!!

“Argh..!”

Melihat Zitao masuk Hanbi buru-buru mendorong Lay hingga terjelembab di lantai. Hanbi menepuk bibirnya sendiri kesal. Ia menyesal mengatakan hal di luar kontrolnya seperti tadi. Ia seharian memikirkan perjodohan paksa itu kemudian tiba-tiba seorang pria lain ada di depan matanya dan Hanbi dengan cerobohnya mengatakan ingin menikah dengannya. Mungkinkah Hanbi sedang tersengat lebah putus asa? Terlebih Zitao mendengarnya. Mungkin? Yah walaupun ia tidak punya hubungan apa-apa, tetap saja Hanbi malu karena dia juga orang lain. Sekarang mau di bawa kemana muka Hanbi? Kemana wibawanya pergi?

“Kalian merencanakan hal lain tanpa berdiskusi denganku?”

“Merencanakan apa? Kalian kenapa kembali ke sini? Huang, aku sudah memecatmu. Jadi aku tidak punya urusan denganmu…”

“… Apalagi dengan dia!” Hanbi menunjukk Lay tepat di depan mukanya.

“Pecat? Bi-ah… Ayolah, aku…” Zitao menggantung pernyataannya. Haruskah ia katakan mereka adalah anggota dari kepolisian?

“Tidak Huang. Sekarang kalian pergi dari rumahku! Aku bisa mengurus diriku sendiri. Aku tidak butuh bantuan kalian.” Hanbi mulai kembali pada wilayahnya. Namun siapa yang percaya perkataannya di saat orang lain tahu apa yang sedang ia alami?

Keburukan?

Ah, kesialan lebih tepatnya.

Bahkan ia sendiri heran kenapa dua manusia yang sebelumnya tak ia kenal ini bisa berurusan dengan hidupnya padahal ia sendiri telah bersumpah akan membenci sosok laki-laki. Namun pada akhirnya ia terjebak dengan laki-laki sepanjang ia menjangkahkan satu kakinya. Ia heran kenapa tidak wanita saja yang sekarang ada di hadapannya. Ibunya misalnya.

“Tidak butuh bantuan?” Lay menyahut sesaat setelah ia berdiri. Ia berkacak pinggang di hadapan Hanbi yang begitu keras kepala mengusir mereka pergi.

“Hey, coba kau berkaca! Apa sekarang kau baik-baik saja sekarang?”

“Tidak. Rumahmu seperti gudang angker dan tubuhmu demam.”

“Apa hidupmu aman, tentram, damai?”

“Tidak juga kan? Kau di hantui bayang-bayang ayahmu dan si brengsek itu. Kau yakin masih baik-baik saja?”

“Apa aku perlu mendetailkan semua kejadian akhir-akhir ini yang melibatkan aku dan Zitao masuk ke dalam carut marut masalahmu? Kau yakin masih bisa mengurus dirimu sendiri?”

Kata-kata Lay barusan membungkam amarah meluap-luap dari Hanbi. Wanita itu bahkan memperhatikan baik-baik setiap kata yang keluar dari bibir pria berkemeja itu. Bahkan untuk kunjungan santai di rumahnya Lay harus menggunakan pakaian formal. Tidak seperti Zitao yang hanya mengenakan kaus dan jeans hingga sebuah jamper melilit di pinggangnya. Di mata Hanbi, Lay ini sungguh terlalu kuno dalam menyetel fasionnya.

“Jika kalian tahu aku bermasalah, kenapa kalian susah payah untuk membantuku? Wae?”

“Aku kadang-kadang heran..” Hanbi menatap dua manusia China itu bergiliran.

“Memangnya siapa yang menyuruh kalian memasuki kehidupanku? Dan sialnya kenapa harus kalian yang membantuku?” Hanbi menatap sedikit lebih lama pada Lay, kemudian mengalihkan pandangan lagi pada Zitao.

“Kalian bahkan saling kenal. Kalian bersekongkol ya?”

“Apa kalian teroris?”

“Buronan?”

“Kalian ini sebenarnya penjahat model apa?”

“Apa kalian membantuku lalu pada akhirnya menculikku, menyiksaku…”

“Membunuhku..” ucapnya sengit.

“Atau setelah aku tidak berdaya kemudian kalian memperkosaku? Begitu?” ia akui kalimat terakhir ini membuat Hanbi harus menelan ludahnya sendiri. Betapa liarnya halusinasi Hanbi bisa sampai ke tahap itu. Jujur saja, Hanbi memang perpenampilan anggun di setiap kesempatan. Namun bibir pedas dan pikiran kotornya tidak pernah ia dustakan.

Hanbi kini seperti sedang menonton film action, mystery bahkan sampai thriller dimana sang tokoh akan mati satu per satu dengan cara yang sadis.

“Apa kami terlihat seperti alien?” ujar Zitao yang kini semua mata tertuju padanya.

Hanbi tersenyum miring setelah mendengarnya. Selepas itu ia menyibak selimutnya sendiri dan menurunkan betis-betis menawannya hingga akhirnya ia berdiri. Walaupun kepalanya sedikit pusing akibat demam ia tetap berusaha bergerak biasa. Sekali lagi ia harus terlihat kuat dan menawan demi mempertahankan karakter tegas nan dinginnya.

“Huang, sepertinya aku harus bicara sesuatu dengan rekanmu. Bisa kau keluar dari kamarku?” nada dingin Hanbi terdengar kembali. Ia seolah mengusir Zitao untuk pembicaraan yang lebih intim dengan Lay.

“Kenapa tidak bicara langsung saja?” tanya Zitao heran. Memang ia merasa sedikit berbeda dengan sikap Hanbi akhir-akhir ini. Terlebih setelah kedatangan inspekturnya.

Lay menatap mata Hanbi yang memandang tegas pada Zitao. Sedangkan Zitao masih terpaku di tempat lengkap dengan baskom air dingin yang sudah tidak dingin lagi sekarang. Entah kenapa Lay merasa ada sisi tersembunyi lain yang di sembunyikan wanita itu. Atau hanya Lay saja yang mengalami perbedaannya. Bahkan Zitao sepertinya tidak mengenali Hanbi lebih baik darinya.

“Ah, jangan menatapku seperti itu!” ujar Zitao lemas. Dalam batinnya terasa bongkahan batu es meluncur dari atas kepala, dada, perut, kemudian kakinya. Ia tidak bisa menampik bahwa tatapan seorang Hanbi lah yang mampu melumpuhkannya.

“Keluar!” Hanbi akhirnya mendorong Zitao paksa keluar dari pintu kamarnya.

“Hey kalian punya rahasia ya? Boss, jangan coba-coba untuk mencuri kesempatan, ingat itu!” Zitao masih mengomel bahkan saat pintu akan ditutup. Batinnya berkecamuk hebat saat meninggalkan dua insan itu terkunci di dalam kamar. Bahkan pikiran-pikiran ganjilnya terus keluar begitu saja. Ia meletakkan baskom air di lantai dan mulai mendekatkan telinganya berusaha untuk mengorek informasi.

Klek!

Setelah Hanbi mengunci pintu, ia membalik tubuhnya menghadap ke arah Lay yang sedang berdiri heran. Ia bahkan tidak bergerak se-inci pun dari posisinya. Tenggorokkannya bahkan terasa kering hingga harus menelan ludahnya sendiri. Ia melihat Hanbi tengah sibuk menautkan jemari-jemarinya di kedua tangannya gugup sebelum menatap Lay.

“Hmm.. Begini..” karena gugup Hanbi sesekali mengalihkan pandangannya acak ke arah yang lain sambil mengelus lehernya yang agak basah akibat keringat.

“Kau.. Bisakah kau membantuku lagi?” Hanbi menyelesaikan kalimatnya dengan cepat.

“Menikah?” sahutan Lay membuat Hanbi harus melebarkan kedua mata sembabnya. Ia tidak mengira pria ini akan membahas hal tadi yang sempat membuat Hanbi lupa diri. Wanita itu menggeleng bersamaan dengan lambaian kedua tangannya.

“Tidak, bukan itu. Ah, maaf sebenarnya tadi hanya reflek.” ujar Hanbi basa-basi.

“Memangnya kau mau?” lanjutnya yang kemudian membuat atensi Lay pada gordyn jendela Hanbi yang menyilaukan berganti.

“Ck, lupakan! Sebenarnya apa yang ingin kau katakan? Kau mau aku bantu bagaimana? Bukankah kau lebih dekat dengan Zitao?” Lay sepenuhnya meluruskan pembicaraan. Ia tidak ingin mereka menjadi salah paham dan dirinya menjadi pihak yang disalahkan Zitao karena sudah mencuri Hanbi darinya. Yah, Lay tahu itu.

Hanbi berlari kecil menuju ranjangnya dan mengais sesuatu di antara bantal-bantalnya. Raut wajahnya sedikit bingung karena ia tidak menemukan apa yang ia cari. Ia kembali menatap Lay yang sedang menunggunya. Ia sepertinya harus membatalkan niatnya kembali karena sesuatu itu hilang. Namun batinnya juga khawatir karena mungkin masa depannya tak semulus dengan apa yang diinginkannya.

“Maaf, sepertinya aku tidak jadi…”

“Kau mencari surat ini?” Hanbi mematung mendapati Lay tengah melambaikan secarik kertas di tangan kanannya. Hebat, dan bahkan Hanbi tidak tahu bagaimana pria itu menemukannya terlebih dahulu.

“Bagaimana kau menemukannya?” Hanbi menyahut kertas itu dari tangan Lay paksa lantas memeriksanya kembali.

“Aku tadi mengambilnya saat kau bilang ingin menikah denganku.” Hanbi membulatkan bibirnya sambil menganggukkan kepalanya mengerti.

Haruskah pria itu membahasnya lagi? Hanbi sudah cukup merasa malu dengan mengingat kata-kata laknat itu keluar dari bibirnya. Ia baru sadar telah mempunyai sisi lain seorang jalang, bahkan ia terkesan akan menggoda Lay di tempatnya.

“Jadi kau bisa membantuku?” ujar Hanbi mengulangi permintaan di awal pembicaraan mereka.

“Apa balasannya untukku?” sahut Lay cepat.

“Dasar penjilat!”

“Baiklah selain uang kau akan dapat…”

“Berikan aku satu permintaan!” tiba-tiba Lay menyahut lagi lantas Hanbi mengekspresikan sahutan itu dengan kata ‘What?’ tak bersuara.

“Apa?”

“Tidak sekarang, untuk antisipasi. Permintaan ini khusus dariku. Setuju?” ungkap Lay sembari menjulurkan tangan kanannya. Hanbi merasa permintaan itu wajar di dunia jilat menjilat. Tentu ia sudah banyak belajar dari ayahnya. Setidaknya ini baru pertama kalinya terlibat hal seperti ini. Begitu Hanbi meraih tangan Lay untuk bersalaman pria itu justru menghindar.

“Eung?” gumamnya heran.

“Surat. Mana suratnya?” ucap pria itu dengan nada rendah.

Hanbi merasa dipermainkan. Ia memberikan lembaran kertas itu di tangan Lay kasar seolah seperti sedang mengumpulkan kertas ujian kepada dosen killernya sendiri. Lay mengamati kumpulan tulisan yang tertera di atasnya.

[Jika kau ingin Nyonya Lee Fengfei selamat, kencanlah dengan pria pilihanku dan ambil perkamen dari mereka untuk petunjuk. Para priamu akan kau temui saat kau memecahkan kode di bawah ini!]

“Wine, Grandma, and Porcelain”

“Fengfei? Ibumu?”

“Yah, dia orang China.”

“Aku tahu. Bagaimana kalau kita bicarakan dengan Zitao juga?”

“Tentu, dia juga sudah tahu isinya.”

Lay berdecih sesaat kemudian menarik kembali tangannya untuk berhenti membaca lagi. Ia memperhatikan Hanbi yang sudah mulai menampilkan wajah dinginnya kembali. Lay memutar tubuhnya menuju pintu untuk mengijikan Zitao masuk. Dalam batinnya Lay merasa Hanbi memang memiliki kepribadian ganda. Saat bicara dengannya tentang pribadinya seolah Hanbi memiliki ketertarikan sosial yang baik. Tapi saat di luar ia kembali menjadi dingin dan anti sosial. Ia ingat bagaimana dinginnya sosok Hanbi saat pertama kali bertemu di bandara dan kedua kalinya di restoran Jepang. Wanita itu sangat menghindari percakapan panjang yang melibatkan batin dan kejujuran dirinya. Namun saat mereka terlibat konversasi berdua saja, Hanbi seolah memuntahkan apa yang ada dipikirannya termasuk ketika mabuk dan ajakannya menikah beberapa menit yang lalu.

Zitao yang tengah menempelkan telinganya di badan pintu itu hampir saja terjelembab saat Lay tiba-tiba membuka pintu kamar Hanbi. Zitao menatap heran Lay dengan wajah datarnya seolah memang tidak terjadi apa-apa. Lay menginstruksikan untuk masuk, namun pria itu justru berdiam di tempatnya.

“Apa yang kau lakukan pada Hanbi?” tanyanya sarkas. Lay tentu saja heran. Memangnya apa salah dirinya?

“Hanbi pingsan, minggir!” suruh Zitao sembari menyingkirkan tubuh Lay dari balik pintu.

Pingsan?

Perasaannya bilang tadi baru saja mereka melalui percakapan panjang yang biasa. Tidak mungkin wanita itu tiba-tiba pingsan. Bahkan tanpa tanda-tanda apapun dari tadi. Mungkin hanya pucat biasa yang ia lihat.

“Hanbi! Sadarlah! Kau kenapa?” Zitao terus bergumam frustasi sambil menggoyangkan tubuh lemas itu di pangkuannya. Ia merasa iba dengan keadaannya hingga ingin meneteskan air mata. Lay mendekat bahkan Zitao tidak ingin melihatnya padahal ia tahu itu.

“Hanbi, tubuhmu panas sekali. Ya Tuhan!”

“Yeobseyeo, segera kirimkan ambulance. Di sini ada seorang wanita pingsan dengan demam tinggi dan detak jantung tidak stabil.” suara Lay pada sebrang ponselnya membuat Zitao bernafas lega. Namun kekecewaannya pada keteledoran atasannya masih membekas di benaknya.

[~~~~~]

.

.

.

.

.

.

.

[12.35 pm]

.

.

.

Hari telah siang namun sosok Hanbi masih terbaring tak sadarkan diri di ranjang perawatan setelah 2 jam di tangani oleh dokter. Selain mengalami gejala maag, Hanbi juga divonis tengah mengalami depresi tingkat tinggi yang membuat kondisi tubuhnya menjadi tidak stabil. Dokter menyarankan Hanbi untuk istirahat lebih lama. Namun sebuah surat di tangan Lay membuat keduanya tidak bisa tenang menunggu Hanbi bangun. Kode-kode yang diberikan sang pengirim terlalu sulit untuk mereka pecahkan. Bahkan untuk seorang inspektur bermarga Zhang itu.

“Apa ini sebuah tempat? Tapi dimana?” Lay mencoba mencocokkan beberapa sumber dari google sebisanya. Tapi ketiga kata itu tidak ada kaitannya sama sekali. Hanya sebuah website bisnis online yang menjual wine, dan porselen. Untuk kata grandma alias nenek itulah yang menjadi tanda tanya. Memangnya ada nenek-nenek yang menjual anggur sekaligus porselen? Pemikiran sederhana itu yang ada di benaknya.

“Bagaimana kalau kita mencari narasumber dari penduduk lokal? Biasanya mereka yang lebih tahu.” usul Zitao selepas menegak capuccino instan di cangkir kertasnya.

“Tapi aku sudah pernah tinggal di Korea selama 5 tahun.”

“Itu waktu kau kecil Boss.”

Kriet!

Pintu ruangan mereka terbuka menampakkan sosok perawat yang membawa sebuah kotak tensimeter dan seorang lagi membawa nampan jarum suntik dan sebuah botol obat. Perawat itu tersenyum sebentar pada mereka berdua yang terduduk di sofa lantas melanjutkan kembali mendekati ranjang Hanbi.

“90 per 85, sus.”

“Maaf, siapa suaminya?”

Mendengar pertanyaan sang perawat yang ditujukan pada Zitao dan Lay. Keduanya tampak linglung dan memilih untuk bungkam namun tidak baik kan jika status Hanbi diabaikan begitu saja?

“Maaf kami hanya pengawalnya.” Lay akhinya menyahut. Lidahnya terlanjur gatal jika tidak mengungkapkannya. Sedangkan Zitao sepertinya tidak ingin menambahi lebih jauh.

“Katakan saja, anggap saja kami walinya.”

“Baiklah. Dokter mengatakan Nona Lee tidak bisa pulang secepatnya. Dia perlu perawatan khusus untuk beberapa hari kedepan. Tekanan darahnya masih rendah. Dan kami sudah memberinya obat pereda nyeri untuk sakit kepalanya. Kami takut dia akan drop lagi.”

Mendengar penuturan sang perawat baik Zitao maupun Lay hanya mengangguk mengerti. Mereka rasa Hanbi memang butuh istirahat. Perawat-perawat itu berpamit pergi dan meninggalkan keheningan kembali menyelimuti ruangan itu.

“Kita harus selidiki ini segera walaupun Hanbi masih belum sehat.” kini Zitao mulai menerima keadaan dan mencoba untuk bergerak sesuai alur. Tanpa bantuan atasannya ia tidak akan berpikir sejauh ini.

[~~~~~]

.

.

.

[8.01 pm]

.

.

.

Lay berjalan santai melewati lobby rumah sakit. Sesekali ia melirik arah mobil ambulance yang lalu lalang melewati halaman rumah sakit yang masih terlihat oleh penglihatannya. Tangan kirinya mencoba menahan terpaan suhu panas dari cup dark coffee yang baru saja ia beli di toko kelontong seberang jalan setelah satu jam menghabiskan 3 cup ramyun rasa kari ayam. Sedangkan tangan kanannya sibuk mengotak-atik layar ponselnya memandang heran foto sebuah potongan surat yang berisi 3 kode yang menjadi sumber masalahnya.

Kini ia telah sampai di koridor tempat para pasien di rawat. Tepatnya ia memilih koridor Lavender menuju ruang VVIP Hanbi. Tampaknya Lay tidak berniat terlalu cepat untuk kembali ke dalam menggantikan Zitao berjaga. Ia memandang bangku tunggu di sepanjang koridor tak jauh dari pintu rawat Hanbi. Ia menyesap kopinya sebentar lalu menemukan seseorang juga tengah duduk menunggu di sana. Pria itu sendirian rupanya. Dari sisi luar, tampaknya ia pria yang baik. Mungkin Lay akan mencoba mendekatinya untuk mencari petunjuk kode-kode yang sedang ia cari.

“Permisi, bolehkah aku ikut duduk di sini.” Lay mengacungkan jarinya di bangku di sisi pria itu. Pria itu mengangguk sopan lalu sedikit membenarkan blazernya. Pria itu terlihat seperti pria beruang. Seluruh pakaian yang ia kenakan tampak rapi dan bersih berkilau. Lay sedikit menangkap aroma daging sapi saat duduk di sebelahnya. Ia pikir pria itu mungkin habis memakan Steak bersama pasangannya.

“Sedang menunggu?” Lay mencoba untuk membuat konversasi halus.

“Ya.”

Mungkin pertanyaan Lay sedikit tidak penting. Bukankah ini kursi tunggu yang gunanya untuk menunggu? Tapi mungkin Lay tetap menganggap hal itu sebagian dari sisi kesopanan. Tidak mungkin dia harus mengatakan ‘Kau menunggu ya?’. Pertanyaan itu lebih tepat seperti orang yang sok tahu. Lay mencoba menawarkan kopinya sebagai tindakan basa-basi walaupun ia tahu pria itu pasti menolaknya.

“Emm, boleh aku bertanya sesuatu?” lagi-lagi ia membuat konversasi canggung yang bahkan tanpa di jawab pun ia pasti akan menanyakannya.

“Aku baru saja datang dari China. Sedikitnya aku tahu beberapa tempat di Seoul, Busan, dan sekitarnya. Seorang temanku memberiku pesan dengan sangat tidak jelas. Dia hanya mengatakan wine, seorang nenek, dan porselen. Aku pikir itu hanya sebuah kesalahan ketik saja. Haha..” Lay mencoba mentransfer kode-kode tersebut dengan sebuah cerita humor yang tidak jelas. Bahkan ia tertawa setelahnya. Sedikitnya ia merasa sedikit geli melakukan hal yang kurang bermanfaat untuk orang yang baru saja ia temui.

“Di Bukcheon ada sebuah gubuk khusus menyimpan anggur yang dibuat oleh seorang nenek Belanda 30 tahun lalu. Gubuk itu juga menyimpan barang porselen untuk pajangan sekaligus museum mini bagi pengunjungnya.”

Bibir Lay yang sempat tertawa tadi mendadak bisu mendengar ucapan mengejutkan dari pria tampan di sebelahnya. Ia sadar bibir menawan berwarna merahnya ternyata memiliki suara yang merdu saat pria itu berbicara lebih banyak. Lay mencoba merespon dengan menganggukkan kepalanya mengerti.

“Kau begitu mengenal kota ini.” Lay memuji.

“Pekerjaan, membuatku harus mengenal tempat-tempat seperti itu.”

Kriet!

“Bagaimana keadaannya?”

Belum lagi Lay akan menyahut tiba-tiba seorang dokter ditemani perawatnya muncul dari balik pintu sebelah ruanh rawat Hanbi. Pria sebelahnya kini berdiri menghadang seorang dokter muda. Mereka berkonversasi sebentar tentang keadaan pasien kemudian dokter itu pergi. Ia juga melihat seorang kakek tua di balik pintu datang menghampiri pria tadi.

“Tuan Do, terima kasih sudah membantu cucuku mendapatkan perawatan semahal ini. Aku tidak yakin bisa membalas kebaikanmu.”

“Tidak apa-apa. Lagi pula dia koki yang bekerja tepat pada porsinya. Cucu Anda perlu mendapatkan penghargaan.”

“Tapi ia sudah mengacaukan dapurmu.” kakek itu memandang pria itu memohon bahkan ia meremas kedua tangan pria itu sayang.

“Keselamatan pegawai adalah tanggung jawabku. Jadi aku harap ia segera sembuh dan kembali bekerja.” tatapan lembut pria itu dibarengi dengan senyum lepas yang menawan. Bahkan Lay pun mengakuinya sebagai seorang pria.

Melihat mereka sibuk mengobrol Lay memutuskan untuk pergi dan kembali ke dalam ruang rawat Hanbi untuk menemui Zitao bahwa ia telah memecahkan kodenya. Kopi panas dalam genggamannya bahkan sudah tidak ia hiraukan lagi. Di dalam Zitao tengah berbaring di sofa dan tertidur di sana. Lay mencoba membangunkannya dengan mengguncang pelan lengan Zitao yang menyilanh di dahinya.

“Ada apa boss?” pria berkantung mata itu mulai bangkit dari tidurnya. Ia menguap sebentar lalu melihat ke sisi tempat duduknya menatap Lay dengan mata sayunya khas orang bangun tidur.

“Besok kita ke Bukcheon, aku sudah memecahkan kodenya.” ucapnya sembari mengangkat alis.

[~~~~~]

.

.

.

[9.05 am]

.

.

.

Hanok Bukcheon village, sebuah khawasan rumah tradisional khas Korea Selatan sebagai tempat tinggal para bangsawan peninggalan jaman Jeoson. Kawasan ini sering kali menjadi kunjungan wajib wisatawan ketika datang ke Korea Selatan. Pagi ini Lay dan Zitao telah memasuki gang sempit setelah melewati beberapa persimpangan jalan besar setelah meninggalkan kendaraan mereka di pinggir jalan khusus tempat parkir. Jalanan yang mirip sebuah maze ini mempersulit mereka untuk menghafal jalan. Kini mereka hanya berdiri di tempatnya sembari menganalisi kembali jalan yang telah mereka lalui. Bahkan sepagi ini masih tidak ada satu orang pun yang mereka temui sebagai petunjuk jalan.

“Jadi kita akan pergi kemana lagi boss?” Zitao tampak menggaruk belakang lehernya sambil memutar tubuhnya mengamati bangunan yang hampir sama itu.

“Aku tidak tahu. Kita sudah berputar-putar selama 1 jam tapi tidak menemukan sebuah gubuk. Apalagi dengan hiasan porselen.” Lay mengujar dan menyipitkan matanya yang di terpa cahaya pagi.

Suara botol-botol plastik berjatuhan ditangkap oleh pendengaran Zitao. Ia membalik tubuhnya melihat sosok pria paruh baya dengan pakaian lusuh sedang memungut botol plastik yang berserakan kembali ke kantungnya. Ia tampak kerepotan karena botol itu sangat banyak. Zitao berpikir mungkin saja pria itu mengumpulkan sampah-sampah yang ditinggalkan pengunjung sembarangan. Tanpa meminta ijin pada atasannya Zitao dengan sigap memungut beberapa botol untuk diberikan padanya.

Khamsahamnida!” pria paruh baya itu membungkuk pada Zitao tanpa berniat untuk menatapnya. Orang rendahan seperti dirinya merasa tidak pantas jika bertatapan langsung dengan Zitao yang kini jelas memakai sepatu mahal saat pertama kali melihatnya.

“Tunggu!” Zitao kembali menarik lengan pria itu berhapan dengannya. Dengan sedikit ketakutan akhirnya pria itu mencoba mendongakkan wajahnya sebagai tindakan sopan saat berbicara dengan orang asing.

“Ada apa tuan?”

“Aku ingin bertanya sesuatu. Kami sudah 1 jam berkeliling tempat ini tapi tidak menemukan tempat yang kami tuju. Anda bisa membantu?” mendengar keseriusan Zitao, pria itu mengangguk.

“Baiklah. Anda tahu dimana sebuah gubuk penyimpanan wine tradisional yang dibuat oleh nenek Belanda? Mereka juga menyimpan beberapa porselen atau keramik untuk dipajang. Anda tahu?”

Pria paruh baya itu tampak sedikit bingunh dengan penjelasan Zitao. Namun beberapa saat kemudian ia mengernyitkan keningnya berpikir. Mencoba mengingat sesuatu.

“Zitao, haruskah kita mengulanginya dari gang depan?” Lay mendekati Zitao yang tengah berdiri membelakanginya.

“Ada apa?” Lay bertanya.

“Ada sebuah rumah kecil tua yang katanya menyimpan minuman beralkohol. Banyak rekanku yang bilang minuman itu bukanlah soju khas negara kami. Tapi aku tidak tahu jika tempat itu juga menyimpan benda porselen yang tuan maksud.”

“Dimana tempatnya!” sahut mereka berdua hampir bersamaan. Pria paruh baya itu hanya menunjukkan sebuah gang kecil yang di tandai dengan rumah berhias patung kucing di depannya. Ia bilang mereka harus masuk dan menemukan pintu sebesar 3/4 dari besar tubuh manusia normalnya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Tidak ada yang tidak bisa ditemukan di bumi ini. Mereka menemukannya. Hanya saja tidak dikunci dan mereka tidak menemukan penjaganya. Aroma batang kayu merah menyengat samar-samar di penciuman Zitao. Ia melihat sebuah penjemuran kayu merah yang sengaja diletakkan di sudut tanah yang tersengat matahari.

Mereka terus memutari halaman rumah itu hingga ke belakang. Puluhan tong tanah liat berderet rapi di sana. Kali ini mereka benar-benar yakin bahwa tempat inilah yang dimaksud di kode itu. Namun sayangnya mereka belum menemukan benda porselen yang sangat mereka ingin lihat. Setidaknya semua kode harus berada di tempat ini. Bukan di tempat lain yang semakin membuat mereka kehabisan waktu untuk sebuah petunjuk misterius.

“Boss, bagaimana kalau kita masuk ke dalam. Sepertinya tempat ini terlalu terbuka jika kita mencari petunjuk misterius itu.” benar saja, Lay setuju dengan usulan Zitao yang mulai masuk akal. Ketika mereka akan membuka salah satu pintu, sebuah dehaman lirih menghentikan mereka.

Hm..

“Maafkan kelancangan kami Tuan. Kami hanya…” Lay membungkuk.

“Di rumah ini tidak ada yang harus kalian lihat. Barang kami sudah cacat sepenuhnya.” seorang nenek-nenek tua memotong kalimat Lay sepenuhnya yang memanggilnya dengan sebutan ‘tuan’. Zitao memandang pergerakan lemah nenek tua berbaju hanbok kuno itu membuka sendiri pintu rumahnya.

“Lihatlah, hanya debu dan sarang laba-laba yang kami simpan. Pemerintah menghentikan aliran dana untuk mengelola tempat ini selama setahun. Dan sejak itu tidak ada pengunjung lain yang datang untuk melihat.”

Seketika pandangan Lay dan Zitao terpaku pada isi ruangan itu. Mereka saling memandang sesaat untuk memberikan kode bahwa sang porselen yang mereka cari ada di sini.

.

.

.

.

.

[2.10 pm]

.

.

.

…Hospital…

“Kita harus bawa Hanbi keluar dari rumah sakit secepatnya!”

Lay dan Zitao melangkah cepat dalam koridor rumah sakit menuju ruang rawat VVIP Hanbi. Hari ini mereka benar-benar merasa beruntung. Semuanya tampak berjalan dengan lancar. Namun setelah mereka mendapatkan petunjuk masalah lain mulai terjadi.

Kriet!

Zitao lebih dulu menjulurkan tangannya untuk membuka pintu rawat Hanbi. Sesaat mereka akan masuk, mereka mendengar suara ribut yang begitu hebat di dalam.

“Yifan?”

“HEY!” dengan cekatan Zitao menarik pundak Yifan dan mencengkeram kerahnya hingga naik. Ia mendapati Hanbi sedang mencoba meloloskan diri dari tindakan pelecehan Yifan yang hampir saja menelanjanginya.

“BRENGSEK!”

Hanbi memberontak dari pegangan Lay yang terlebih dahulu mendekatinya. Wanita itu mencoba menendang Yifan dari ranjangnya namun tidak kena karena Zitao menarik Yifan semakin jauh. Gemuruh dalam hati Zitao tak bisa dibendung bahkan saat Yifan dengan wajah liciknya menyeringai.

BUG!

Dan tanpa umpatan rasa sakit.

Sekeras itukah tubuh Yifan?

“Cuih! Pengacau!” Yifan meludah jijik pada lantai. Ia kembali bangkit lantas mencoba untuk menjungkalkan Zitao dari posisi berdirinya.

“Dia calon istriku, bodoh!” Yifan mendorong pundak Zitao dengan jari telunjuknya.

“Kau yang bodoh, memperkosa yang belum menjadi milikmu. Bajingan!”

Adu gesekan dada tak terelakkan. Zitao sama emosinya dengan Yifan sekarang. Bahkan kedua pria itu tak berkedip satu sama lain. Lay dengan masih sabarnya mencoba untuk menenangkan Hanbi yang kini mulai menangis sesenggukkan di lengannya. Bahkan wanita itu tidak ingin melepaskan lengan Lay seolah pria itu memang malaikat pelindungnya.

Bukankah Hanbi membenci pria?

Lalu apa alasan wanita itu bertahan di sisinya?

“Hajima!”

Bahkan Hanbi tidak memperbolehkannya pergi untuk membantu Zitao.

Akhirnya Yifan pergi setelah meludah kembali dan memuntahkan semua kata-kata kotor dan ancaman kematian untuk mereka. Hanbi masih mendelik bahkan saat Zitao mendekatinya.

“Sumpah, rumah sakit ini fasilitasnya jelek sekali. Security tidak bisa membedakan mana orang brengsek dan yang tidak, ya? Untung saja kami cepat kembali Bi.” ujar Zitao. Setelah mengumpat tentang rumah sakit Zitao melunak untuk menghibur Hanbi. Wanita itu yang masih mengalungkan lengannya pada Lay perlahan melepaskannya. Ia tertunduk lesu dan melingkarkan tubuhnya di antara kakinya.

Lay dengan pergerakan lambat meraih pergelangan tangan Hanbi. Wanita itu tidak merespon apapun, ia hanya meringkuk. Bahkan sentuhan kecil yang ia terima terasa kebas di kulitnya. Untuk beberapa saat atmosfer ruangan itu terasa ringan. Hembusan nafas di ujung hidung ketiganya tampak terasa di indra pendengaran mereka.

“Sudah, ayo kita pergi!” suara berat Lay membuyarkan pikiran Hanbi tentang kejadian miris yang baru saja ia terima beberapa saat lalu. Wanita itu mendongak melihat wajah datar Lay lalu menoleh pada Zitao yang melihatnya dengan senyum hangatnya. Ia kembali melihat punggung tangannya hanya berbalut plaster tanpa selang infus yang menyiksa pergerakannya.

“Wae?”

“Kita pergi! Kami sudah temukan kotaknya. Malam ini kau harus menemui orang pertamamu untuk mengambil perkamen itu sebagai petunjuk. Kau bersedia?”

Hanbi terpaku dalam ekspresi terkejutnya. Ia hanya merasakan Lay menyentuh leher dan pergelangan nadinya sambil melihat ke arah jam tangannya. Ia mulai merasakan sesuatu yang aneh pada kedua pria ini. Entah apapun itu, bagaimana mereka bisa dengan cepat membuat segalanya menjadi mudah untuknya.

“Kau masih bisa selamat tanpa cairan infus itu. Aku jamin.”

Sungguh ilmu apa yang didapat dari pria China satu ini. Hanbi terkejut lagi saat menerima sebuah hasil pemeriksaan tubuhnya oleh seseorang yang bukan dokter. Mungkin Hanbi berpikir bahwa pria itu adalah seorang dokter yang menyamar.

.

.

.

.

.

[7.00 pm  – times out]

.

.

.

“Boss!” panggil Zitao pada Lay yang tengah memperhatikan langkah wanita itu memasuki restoran dari ujung pintu masuk. Mereka telah selesai memarkirkan mobil dan akan menyusulnya masuk.

“Hmm?” sahut Lay menggumam.

“Aku masih berat melepaskan Hanbi berkencan dengan orang itu.” ujar Zitao dan membuat Lay harus menoleh ke arahnya. Namun kemudian ia hanya tertawa dalam senyum.

“Dia harus mencari hidupnya…” ucap Lay menggantung lalu menghembuskan nafasnya sesak.

“Kita tidak bisa membiarkannya sendirian…” lagi-lagi nafasnya tercekat hingga harus bernafas lebih dalam lagi. Setidaknya pria itu tahu sedikit ungkapan tulus perasaan Hanbi.

“Jangan pergi! Aku tidak ingin sendirian.”

“Aku tidak ingin menikah dengan Yifan…”

“Apa kau tega melihatnya menderita saat menikahi si brengsek Yifan itu? Yah, kau tahu sendiri bagaimana Lee Donghae membuat keputusan itu. Kita hanya seorang petugas dengan misi melindunginya. Tidak untuk mencintainya, Zitao.” ucap Lay bijak yang kemudian dibalas anggukan oleh rekannya.

“Umm.. Bagaimana jika ternyata kau mencintainya?”

Pertanyaan Zitao justru disambut dengan tawa geli oleh atasannya. Lay pikir pertanyaan yang dilontarkan Zitao sungguh konyol. Mana mungkin ia meninggalkan prinsipnya untuk bertindak profesional di setiap misinya. Bahkan dengan statusnya yang sekarang ini.

“Kau lupa aku memiliki Lian yang sangat aku cintai? Kami bahkan akan menikah kau tahu kan? Kau begitu konyol, Zitao.” bahkan sahutan Lay masih terdengar meremehkan. Bahkan untuk sekedar pertanyaan konyol.

“Cinta datang tidak dengan permisi, Boss. Begitu juga saat cinta itu pergi.”

Lidah Lay tak berkecap. Kedua bola matanya tak henti memandang Zitao yang mengabaikannya setelah menguliahinya tentang bab cinta. Ia mengira mungkin Zitao kini sedang di landa kecemasan emosional setelah kedatangan tak diundang Yifan di kamar Hanbi. Ia tak menepis bahwa Zitao memang terlihat lebih buruk ketimbang mereka belum bertemu di misi ini. Jujur, Zitao adalah pribadi yang humoris saat menjadi agen terdidiknya beberapa tahun lalu. Ia bisa membuat semua rekan kelompoknya terhibur dengan banyolan dan kritikan pedas pada komandan-komandan killer yang mengajar mereka. Bahkan Lay pun termasuk didalamnya.

Come on! Kita lihat bagaimana wajah sang CEO Kim Junmyeon itu!”

Dan kini pria itu kembali pada dunianya. Dunia kejam dengan babak baru yang membuatnya kehilangan akal saat berada di dalamnya.

TBC . . .

Note:

Author harus guling-guling di kasur dulu baru dapat inspirasi. Haha…

Please, respon me! Komenan kalian jauh lebih berharga ketimbang rangking most visited. Saya tahu cerita ini nggak banyak yang minat. Tapi saya menghargai kalian yang masih menyemangati saya. Terima kasih.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s