GAME OVER – Lv. 26 [Unforgetable Scenery] — IRISH

G    A   M   E       O   V   E   R

‘ Baekhyun x Jiho (known as HongJoo) ’

‘ AU x Adventure x Fantasy x Romance x Science Fiction ’

‘ Chapterred x Teenagers ’

‘ prompt from EXO`s — Can`t Bring Me Down & EXO CBX`s — Crush U

Game Level(s):

ForewordPrologue A SidePrologue B Side — [ Level 1Level 10 ] — Tacenda CornerEden’s Nirvana — [ Level 11Level 20 ] — Royal ThropeLevel 21Level 25 — [PLAYING] Level 26

I’ll protect the newly blossomed innocence

2017 © GAME OVER created by IRISH

♫ ♪ ♫ ♪

Level 26 — Unforgetable Scenery

In Jiho’s Eyes…

Baekhyun memang sangat keras kepala, aku tahu itu. Dan setelah aku mengetahui rahasianya pun, dia masih sama keras kepalanya. Buktinya saja, dia tega meninggalkanku sendirian sementara dia terlibat dalam sebuah turbulence besar melawan White House—aku tidak tahu mengapa orang-orang terus menyebut mereka begitu padahal di tempat ini tidak ada Town.

Satu-satunya kabar mengenai turbulence ini adalah berita yang Johnny bawa ketika dia kembali bersama dengan Somi.

“Mereka semua sudah gila.” komentar Johnny setelah dia menjelaskan tentang bagaimana Baekhyun dikepung oleh dua puluh empat orang player dari White House.

“Dia pernah mengalahkan lebih dari itu. Tidak masalah, kurasa.” Taehyung menyahuti, tentu Taehyung masih ingat dengan baik tentang turbulence lain yang pernah Baekhyun kalahkan di mode lama.

Tapi di sana adalah mode lama, dan tempat ini adalah lahan pembantaian. Tidak masalah bagiku jika Baekhyun berhasil mengalahkan mereka semua lalu menyelesaikan keinginannya untuk mensummon para player yang sudah dia kalahkan.

Equipment yang ada di tempat ini lebih berbahaya, Invisible Black mungkin akan kesulitan.” Somi akhirnya angkat bicara. Memang benar ucapannya, keadaan di sini jelas jauh berbeda daripada keadaan yang ada di mode lama.

Melukai Wendy di mode ini saja tidak sesulit di mode lama, dan saat itu di hari penyerangan Wendy padaku, dia ambruk hanya karena serangan tiba-tiba yang Baekhyun berikan.

Apa yang mungkin akan terjadi pada Baekhyun jika dia dikepung oleh orang-orang tidak berperasaan itu?

“Aku akan membantunya.” putusku. “Apa? Tidak, Jiho. Kau mau melemparkan dirimu ke medan perang? Yang benar saja!” Taehyung segera berusaha mencegahku. Seperti yang semua orang tahu, game over di tempat ini sama dengan keluar dari permainan.

Jika aku lagi-lagi terbunuh karena ulah player di tempat ini, apa Baekhyun bisa mensummonku kembali?

“Kau tahu bagaimana keadaannya bukan, Jiho?” Johnny kini yang angkat bicara. “Ya, aku tahu. Aku tahu benar, itulah mengapa aku tidak bisa berdiam diri di sini selagi mereka berusaha menghancurkannya.” kataku.

Tanpa menunggu persetujuan siapapun lagi, aku akhirnya beranjak meraih peralatan battleku yang selama beberapa jam ini sudah kubiarkan menganggur. Lekas, aku membuka maps elektrikku dan kubuka profile yang telah kubagi bersama dengan Baekhyun.

Aku bisa menemukannya dari pelacakan GPS yang ada di dalam profile-sharing ini. Dan ya, Baekhyun rupanya tengah melakukan turbulence di Hall utama, lagi. Kenapa sepertinya semua orang begitu senang mengadakan battle di sana? Apa mereka tidak tahu bagaimana tidak nyamannya Seana karena ulah mereka?

“Jiho!” Taehyung berseru begitu dilihatnya aku berlari ke ujung gua yang jadi tempat persembunyian kami.

“Aku akan kembali Taehyung! Siapkan pengobatan, siapa tahu aku akan kembali dengan luka-luka!” aku balik berteriak padanya sembari melemparkan sebuah lambaian.

Selalu ada kemungkinan terburuk dari apapun yang terjadi. Dan ada juga kemungkinan aku akan kembali dengan keadaan sama mengerikannya seperti saat pertama kali kami menemukan Johnny dan Taeil.

Aku tak mau mengambil resiko dan membuat mereka terlambat membantu. Siapapun yang mungkin datang dengan luka-luka, harus diselamatkan bagaimana pun caranya.

Dalam dua menit aku sampai di Hall utama, dan aku terkejut bukan kepalang saat kulihat Baekhyun telah ambruk di tanah, dengan tubuh penuh luka dan—

“—Tidak! Berhenti menyakitinya!”

BLAR! BLAR!

Entah sejak kapan, tubuh ini tidak lagi bisa mengontrol tindakannya. Dua serangan besar kulemparkan pada White Tiger dan White Lion yang sekarang tengah merantai Baekhyun di tengah area turbulence mereka.

Dua serangan besarku ternyata cukup berpengaruh. Dua orang yang berada dalam rank tinggi itu terpelanting, membuat rantai yang mereka gunakan menyerang Baekhyun sekarang terlepas dan teronggok tidak berdaya sementara aku dengan lancang masuk ke dalam area turbulence mereka.

“Apa-apaan ini!?” YourZeus berkata murka, tapi aku tidak peduli. Mereka sudah menyakiti Baekhyun, dan aku tidak mungkin berdiam diri.

Hey, HongJoo. Kupikir kau akan tertarik untuk bergabung dengan kami jika kau sudah tahu hal mengerikan tentang pairmu itu.” White Tiger berkata, dia mengusap darah yang keluar dari mulutnya selagi berusaha bangkit.

“Ya, Sehun benar. Kau seharusnya bergabung dengan kami sekarang. Kau pasti tidak tahu kalau pairmu itu adalah seorang NPC, bukan?” perkataan White Lion sekarang membuatku mematung.

Apa yang sebenarnya sudah terjadi?

“B—Bagaimana mereka bisa—” aku baru saja berbalik menatap Baekhyun saat kudapati amuletnya—amulet yang kemarin hendak diberikan Baekhyun padaku—sudah hancur berserakan di dekat tubuh Baekhyun.

Amulet itu akan jadi benda yang rapuh setelah player menggunakannya.” Baekhyun berucap di tengah kesakitannya. Seketika itu juga aku tersadar, identitas Baekhyun terungkap karenaku.

Akulah player lain yang telah mencoba amulet tersebut. Dan sekarang, benda itu hancur berkeping-keping, mengungkap identitas Baekhyun pada semua orang di tengah situasi yang amat tidak tepat.

“Aku sudah kritis Jiho, pergilah, sebentar lagi aku akan game over.” kata Baekhyun menyadarkanku dari lamunan. “Apa kau akan mendapatkan after effect lagi?” tanyaku pelan selagi memasang posisi siaga pada semua orang yang rupanya masih berdiri tegap.

Aku tidak tahu serangan macam apa yang sudah White House berikan pada Baekhyun sampai-sampai berhasil menghancurkan amuletnya. Tapi keadaan semua orang di sini masih normal-normal saja.

Ketika aku menghitung, jumlah mereka bahkan masih lengkap.

“Tidak, tidak ada after effect karena aku tak lagi menjadi invisible.” perkataan lirih Baekhyun menyadarkanku, menarikku pada fakta bahwa dia akan benar-benar game over dari permainan ini jika dia terbunuh.

“Aku tidak akan membiarkanmu game over semudah itu.” kataku, lantas aku mengeluarkan ministry sword dari equipmentku, kupandang playerplayer di sekitarku dengan keinginan untuk menghabisi.

“Wah, wah. Reaksi tenangmu sungguh mengusikku sekarang. Jangan-jangan, kau sudah tahu kalau pairmu adalah seorang NPC?” pertanyaan YourZeus sekarang menginterupsiku.

“Ya, aku sudah tahu dia NPC, Suho-ssi.” jawabku tegas.

Terdengar helaan nafas terkejut, diikuti gunjingan-gunjingan kecil yang tak bisa kudengar dengan jelas, dari sekitarku. Aku tahu kira-kira apa saja yang mereka bicarakan, kekonyolanku, kegilaanku, semuanya, tapi aku tak peduli.

Aku sudah bertarung melawan kekonyolan itu beberapa hari yang lalu.

“Selain berani, kau ternyata sudah kehilangan akal sehatmu juga, ya.” kudengar bagaimana White Lion berkomentar.

“Lantas, apa kegilaanku ini tidak membuatmu takut? Aku tidak akan segan-segan menghabisi kalian semua sekarang.” ujarku.

“Dan, alasamu? Membela NPC itu?” White Tiger, bertanya sebelum dia kemudian tertawa dengan begitu lantang, meledekku. “Kalau iya, kau mau apa?” balasku tidak mau kalah, kuperhatikan bagaimana human wealth Baekhyun perlahan membaik.

Karena dia NPC, memperbaiki human wealth pasti tidak sesulit player sungguhan.

“Kau benar-benar membelanya? Sungguh menyedihkan, HongJoo-ssi. Kau membela seorang NPC yang bahkan tidak benar-benar menganggapmu ada.” kata White Tiger.

Aku sejenak terdiam saat mendengar ucapannya. Tidak salah, memang. Ketika aku keluar dari permainan ini Baekhyun mungkin—tidak, dia jelas mengatakannya tempo hari. Baekhyun tidak melupakanku.

Tidak pernah sekalipun.

Bahkan saat aku tidak mengingatnya sama sekali, dia masih mengingatku dengan baik.

“Kau salah, Sehun-ssi. Baekhyun, sudah mengenal dan mengingatku dengan sangat baik. Kalau kalian semua berpikir secara logis, melukai NPC tak akan menguntungkan kalian. Lantas, mengapa kalian berusaha keras melukainya?” aku akhirnya bisa menyebut nama Baekhyun juga.

Mengingat identitas Baekhyun sekarang sudah benar-benar terbuka, semua orang tentu bisa dengan mudah melihat ID yang digunakannya. Alternate ID itu, yang sebelumnya hanya aku yang mengetahuinya.

Player satu ini rupanya sudah benar-benar gila. Sudah, habisi saja dia.” Suho berkata, memerintah semua orang untuk mulai bersiaga dan bersiap menyerang kami. Lekas, aku menatap Baekhyun, mengawasi keadaannya.

“Kau katakan NPC harus mengakhiri kehidupan mereka, bukan? Aku akan menyerang mereka, di titik pertahanan akhir health bar mereka nanti, kau harus mengakhirinya. Berlindunglah di belakangku, Baekhyun, aku akan melindungimu.” aku berucap, kubantu Baekhyun berdiri dari tanah, kemudian kutarik dia rapat-rapat denganku.

“Mengapa kau melibatkan diri?” kudengar Baekhyun berbisik selagi dia masih memperbaiki keadaannya. “Karena sekarang giliranku, melindungimu. Mereka semua sudah tahu tentangmu, mana mungkin aku membiarkamu sendirian?”

Baekhyun belum sempat menyahuti ucapanku saat kemudian bertubi-tubi serangan dilemparkan ke arah kami. Sontak, aku menarik diri jauh-jauh, berusaha menghindari serangan mereka sekaligus melindungi Baekhyun.

SRASH!

“Baekhyun, cepat!” aku berseru begitu ministry swordku berhasil menyarangkan serangan di salah satu sekutu White House. Dengan cepat, Baekhyun menghancurkan sisa health bar player tersebut dengan serangan jarak jauh—archery.

Karena aku dan Baekhyun sudah sama-sama tahu tentang apa yang seharusnya terjadi dan bagaimana kami harus melakukannya, melumpuhkan bagian-bagian kecil dari White House tidak lagi jadi masalah sulit.

Mereka masih menerapkan cara bermain yang kuno, membiarkan playerplayer lemah bertarung di garis depan selagi mereka menonton. Baru kemudian setelah mereka kehabisan barisan prajurit, serangan yang benar-benar besar akan mereka berikan.

Dan ya, itu juga yang sekarang player kelas tinggi dari White Town maupun House of Zeus lakukan: menonton. Mereka tentu tidak tahu strategi apa yang sudah aku buat dengan Baekhyun. Di mata mereka, aku tengah berusaha menghabisi playerplayer terlemah dengan health bar paling rawan dihancurkan.

Mungkin aku dan Baekhyun sekarang terlihat menyedihkan di mata mereka, padahal yang kami lakukan adalah bagian dari strategi menyelamatkan playerplayer ini. Ugh. Kalau saja Baekhyun tidak keberatan, aku akan dengan senang hati membunuh Sehun, Chanyeol, dan Suho dengan menggunakan kekuatanku sendiri.

Membayangkan bagaimana konyolnya keadaan mereka ketika terbangun di dalam survival tube dengan tubuh terluka parah entah mengapa membuatku merasa penasaran juga. Apa yang akan mereka katakan ketika kembali?

Ah, mereka tentu tidak akan bisa—tunggu dulu. Seingatku, aku juga terbunuh karena ulah Baekhyun, bukan? Tapi aku terbangun di survival tubeku dengan luka-luka itu. Berarti, mereka yang sekarang terbunuh oleh kami juga mengalami hal yang sama!

“Apa semua orang akan terbangun di dalam survival tubenya seperti yang terjadi padaku?” kusempatkan diri bertanya pada Baekhyun saat kami menarik diri ke sudut arena, menunggu serangan dari empat orang prajurit yang tersisa, sebelum delapan lainnya adalah player kelas tinggi yang kubicarakan tadi.

“Tidak, mereka tidak akan sempat terbangun karena aku langsung memanggil mereka kembali. Dalam kasusmu, aku membawamu berpindah tempat ke lahan kami dulu baru aku memanggilmu kembali.”

Alasan yang masuk akal. Butuh waktu bagi Baekhyun untuk membawaku berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Sedangkan sekarang yang Baekhyun lakukan pastilah memanggil mereka semua kembali sebelum mereka sempat terbangun.

Baekhyun memang jenius. Ah, memangnya dia pernah tidak sejenius ini?

“Hati-hati, White Tiger mengincarmu.” satu bisikan Baekhyun masuk ke dalam pendengaranku begitu kami selesai dengan barisan prajurit tadi. Sekarang, tersisa delapan orang yang entah mengapa terasa begitu enggan untuk kuberi ruang di tempat yang aman.

Berada dalam genggaman para NPC sampai mode ini berakhir adalah cara yang aman untuk kembali tanpa luka, bukan?

“Aku tak mau mereka kembali begitu saja.” kataku kemudian membuat Baekhyun tertawa pelan. “Aku sudah menduga kau akan bicara begitu.” katanya menyahuti ucapanku dengan sama santainya.

“Kalau sudah tahu, apa aku harus tetap membuat health bar mereka kritis?” tanyaku lagi, aku melirik Baekhyun sekilas selagi dia mengeluarkan semua equipment andalannya. Pakaian yang Baekhyun kenakan bahkan sekarang sudah bertambah cantik.

Perlahan serat-serat perak melingkari sudut-sudut pakaiannya, membuat pakaian gelap yang selalu jadi favorit Baekhyun itu sekarang terlihat mewah sekaligus menakutkan, mengancam.

“Tentu tidak, Jiho. Sekarang giliranku, akan kuselesaikan mereka semua tanpa membawa mereka ke dalam titik aman tersebut. Aku tahu apa yang kau inginkan.” ucap Baekhyun, dengan lembut jemarinya bergerak menyentuh bahuku, menarikku mundur dari pertarungan sementara keadaan Baekhyun sendiri sudah sepenuhnya diperbaharui.

Dia sudah terlihat seperti biasanya, tanpa luka. Entah apa yang sudah terjadi tadi, terungkapnya identitas Baekhyun bisa jadi bagian dari rencana Baekhyun sendiri. Siapa yang tahu? Mungkin saja Baekhyun memang ingin semua orang mengenalnya, bukan?

Kupikir-pikir lagi, Baekhyun mungkin sungguh sengaja mengungkap identitasnya sebagai NPC. Karena, dia sekarang bisa dengan sombong memamerkan kelebihannya sebagai seorang NPC. Contoh saja, dia bisa memperbaiki health bar dan human wealthnya dalam waktu singkat.

“Pantas saja HongJoo dengan senang hati menjadi pairmu. Kau salah seorang NPC yang kuat ternyata, kemampuanmu pasti mendekati villain kecil di ujung maps.” aku menahan tawa saat kudengar Suho berkomentar.

Apa dia bodoh? Atau, keadaan Baekhyun sekarang sama sekali tidak mengancam baginya?

“Kekasihku ini adalah seorang villain, Suho-ssi.” tanpa sadar bibirku berucap juga, tidak tahan aku kalau harus melawan rasa geli karena kalimat konyol Suho barusan.

“Kekasih?” Baekhyun mengulang, dipandanginya aku dengan sebuah senyum di wajah sementara aku memberinya isyarat kecil. Tentu saja kedekatan kami akan jadi sebuah percikan api di tengah arena ini.

Mereka tentu merasa kesal jika tahu aku dan Baekhyun sudah begitu dekat, dan mungkin juga akan muncul spekulasi kalau aku sudah tahu sejak dulu tentang identitas NPC yang Baekhyun miliki.

“HongJoo, tidak kusangka kau memang benar-benar seorang pengkhianat.” kata Chanyeol. Ah, dia yang dulu pasti juga menyebarkan issue tentang aku yang jadi pengkhianat pada Johnny, bukan?

“Masa bodoh dengan pengkhianatan. Kita hanya berada dalam sebuah permainan, mengapa kau terlihat begitu sakit hati? Jangan terbawa perasaan, Chanyeol-ssi.” mengingat sindiran terbawa perasaan, seharusnya aku mengatakan hal serupa pada diriku juga.

Aku tidak boleh terbawa perasaanku sendiri pada Baekhyun. Ingat Jiho, dia tidak nyata. Ugh, mengapa sesuatu yang tidak nyata justru terlihat lebih memikat daripada yang nyata? Aku tak pernah benar-benar merasa tertarik pada pria-pria lain yang ada di sekitarku.

Tapi Baekhyun berbeda. Dia begitu menarik, dan membuatku sungguh ingin mencari cara apapun untuk menghancurkan batas yang mengharuskanku untuk berhenti dari perasaan ini.

“Sialan, dia meledek kita. Ayo cepat habisi!”

Kurasakan jemari Baekhyun menyusup masuk di antara jemari tanganku. Digenggamnya lembut jari-jariku sebelum kudengar dia berbisik:

“Tutup saja matamu, Jiho. Aku tidak ingin kau melihatku saat benar-benar menjadi villain.” ujarnya kujawab dengan anggukan pelan. “Baiklah. Pastikan tidak satupun dari mereka akan kau summon, atau aku akan berusaha untuk bunuh diri lagi.” bukan mengancam, sebenarnya, aku hanya mengingatkan Baekhyun saja.

Mengungkit soal keinginanku untuk bunuh diri hanyalah tambahan supaya Baekhyun tidak lepas kontrol. Aku tak ingin melihat bagaimana keadaan Baekhyun saat dia berubah menjadi sosok villainnya, belum saatnya. Suatu waktu, dalam waktu dekat, aku pasti akan berhadapan dengan Baekhyun juga.

Dan aku tidak mau curang. Baekhyun mungkin memerintahku untuk menutup mata karena tak ingin aku membencinya setelah tahu bagaimana mengerikannya Baekhyun sebagai seorang villain. Tapi aku memang tak ingin melihatnya.

Aku takut aku akan mengingat bagaimana cara Baekhyun menyerang mereka semua, dan lantas saat aku benar-benar berhadapan dengan Baekhyun aku justru tidak melawannya dengan cara yang bersih.

“Aku selesai.” aku tersentak begitu kudengar Baekhyun bicara, baru beberapa sekon yang lalu dia melepaskan jemariku, dan sekarang dia sudah kembali.

“Mengapa begitu cepat?” aku membuka mata, dan kudapati Baekhyun telah berdiri di hadapanku dengan bercak darah di wajahnya. “Apa yang kau lakukan pada mereka?” tanyaku, tak ayal merasa penasaran juga, kulongokkan kepalaku ke belakang tubuh Baekhyun dan kutemukan tubuh-tubuh player yang tersisa sudah terjerembap ke tanah dengan darah mengalir keluar dari tubuh mereka.

“Mereka tidak mati, bukan?” tanyaku pada Baekhyun sementara dia mengawasiku dalam diam. “Tentu saja tidak. Kau sendiri yang memintaku untuk tidak membunuh mereka.” jawab Baekhyun.

Tanpa sadar, aku tersenyum. Aku kemudian bergerak mengusap bekas darah di wajah Baekhyun, selagi dia masih memerhatikanku dalam diam.

“Kenapa menatapku seperti itu?” aku bertanya pada Baekhyun karena dia tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dariku sejak tadi. “Tidak, aku senang kau masih memperlakukanku dengan cara yang sama, Jiho. Bahkan setelah semua orang tahu tentangku.”

Tawa pelan akhirnya lolos dari bibirku. “Memangnya aku harus berbuat apa? Menjauh darimu? Aku tidak mungkin bisa melakukannya, kau tahu itu, Baekhyun.” Baekhyun mengangguk pelan mendengar perkataanku.

Jemari Baekhyun lantas mengusap kedua pipiku beberapa kali sebelum akhirnya kedua tangan Baekhyun bergerak menangkup wajahku. “Kenapa?” tanyaku tidak mengerti. Jarang sekali melihat Baekhyun bersikap seperti ini.

Karena dia biasanya membuat jantungku berdegup tidak karuan karena kalimatnya, sekarang kontak fisik kami justru tidak hanya membuat jantungku saja yang bekerja tidak normal, tapi juga pikiranku.

Bagaimana mungkin aku bisa berpikir dengan jernih kalau Baekhyun saja menatapku dengan pandangan seolah ia hendak—

“B—Baek—”

—menciumku.

Baekhyun menciumku. Dia baru saja menyejajari tinggi tubuhku sebelum kurasakan lembap bibirnya di atas bibirku. Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa? Bagaimana bisa Baekhyun menciumku sementara dia hanya seorang NPC?

Aku bukannya menginginkan ciuman ini. Sungguh. Membiarkan Baekhyun melumat bibirku selagi aku memejamkan mata dan berpikir keras adalah salah satu cara untuk menganalisis keadaan kami sekarang.

Dia hanya seorang NPC, karakter yang diciptakan oleh manusia. Seberapa jauh dia tahu tentang sebuah ciuman? Darimana dia bisa mengaksesnya? Tidak, jangan pikir aku menjadi seorang yang mesum karena masih membiarkan kontak fisik kami terjadi.

Tapi ini terlalu tidak masuk akal. Baekhyun tidak seharusnya bisa mencium—ugh! Bagaimana bisa dia menciumku dengan sangat baik? Sial, jantungku. Jantungku!

“Kupelajari cara semua orang melakukannya.” aku kembali pada kesadaranku begitu Baekhyun melepaskan tautan bibirnya, memberiku ruang untuk sedikit bernafas dan menetralisir kinerja jantungku yang jadi sepuluh kali lipat lebih tidak normal daripada biasanya.

Tunggu dulu, apa yang dia katakan tadi? Dia mempelajarinya?

“Siapa yang mengajarimu hal ini?” tanyaku sontak membuat Baekhyun tersenyum simpul. “Mereka, playerplayer yang baru saja menjadi pair di Temple. Aku sering ada di sana saat wedding berlangsung, sekedar melihat saja apa yang mereka lakukan.

“Dan ya, hampir semua pair melakukan ciuman seperti ini di Temple.” dengan santai Baekhyun berkelakar, dipandanginya keadaan di sekeliling kami seolah tempat ini bukanlah tempat yang tidak tepat untuk melakukan sebuah ciuman. Bayangkan, kami berciuman di antara tubuh-tubuh sekarat.

Sungguh mengerikan, sebenarnya. Kalau saja ini bukan permainan. Untungnya, tempat ini hanyalah tempat fiktif, jadi aku bisa membiarkan Baekhyun menciumku dalam keadaan mengerikan sekalipun. Ugh, jantungku. Lagi-lagi jantung ini bekerja tidak normal karena mengingat hal yang baru saja terjadi padaku.

“Aku heran, mengapa kita tidak melakukannya juga saat wedding dulu?” aku tersentak saat mendengar pertanyaan Baekhyun sekarang. Memangnya, dia pikir semua orang harus melakukan hal yang sama saat wedding?

“Hey, kita diserang dulu saat wedding. Kau sudah lupa?” ucapku membuat Baekhyun terkekeh pelan. “Tapi kita masih punya waktu sebelum penyerangan itu. Ah, kau saja yang kurang berpengalaman. Aku adalah pair pertamamu yang benar-benar berstatus sebagai pair—bukannya cara curang untuk menang seperti kerjasamamu dengan Taehyung—mu, bukan?”

Aku bungkam juga saat mendengar kalimat Baekhyun sekarang. Dia memang tidak salah, dia adalah pair pertamaku. Bukan berarti dia lantas bisa menentukan berpengalaman atau tidaknya aku dan dia.

Mana bisa dia bandingkan aku yang selalu sibuk bermain untuk menaikkan rank di dalam permainan ini. Sedangkan Baekhyun punya lebih banyak waktu luang untuk bisa bermain-main dan menjadi undangan ilegal wedding seseorang.

“Ah, tapi aku merasa lega juga.” aku menatap Baekhyun saat dia akhirnya berucap kembali. “Lega? Untuk apa?” tanyaku tidak mengerti. Baekhyun kemudian memandangku, dengan sebuah senyum kecil dia berkata:

“Aku selalu ingin punya satu momen untuk terus kuingat. Ciuman yang kulakukan denganmu barusan adalah momen itu. Momen tidak terlupakan yang ingin aku simpan, karena aku begitu bahagia saat melakukannya.

“Apa kau tidak bangga, Jiho? Ketika aku nanti kembali terlelap dalam sistem yang sedang offline, aku bisa memutar kembali momen ini. Dan kau akan jadi pemandangan tidak terlupakan dalam ingatanku itu.”

Dia akan mengingatnya? Baekhyun akan mengingatku meski dia berada di dalam sistem yang sudah offline? Itu artinya dia tahu jika suatu saat dia akan kembali tertidur sebagai bagian dari sistem game, bukan?

Tapi dia katakan dia akan mengingatku?

“Terima kasih… Baekhyun.” aku berucap tulus. Aku mungkin tak akan mengingat Baekhyun setelah belasan tahun berlalu, saat WorldWare sudah tidak lagi menjadi bagian dari game yang ada di dunia.

Baekhyun bisa saja hilang dari ingatanku. Tetapi, aku akan tetap ada dalam kenangannya. Karena dia mengenangku sebagai satu momen tidak terlupakan dalam kesadarannya.

Dan aku juga bahagia. Aku sangat bahagia karena membayangkan aku mungkin jadi satu-satunya wanita yang pernah singgah dalam kesadaran Baekhyun sebagai sebuah sistem yang hidup sebagai karakter fiktif.

Mungkin, Baekhyun adalah seorang karakter fiktif, tapi aku bisa meyakini kalau ingatannya bukanlah ingatan yang fiktif. Ingatannya, adalah bagian dari kenangan yang nyata, hidup, dan akan terus ada.

— 계속 —

IRISH’s Fingernotes:

Maaf banget ya karena level 26 lambat up-nya, ini semua terjadi karena diriku selama seharian sibok menjadi bagian dari perayaan hari pahlawan (bagian bersih-bersih, GAK DENG, diriku ke luar kota lebih tepatnya, enggak boleh bawa laptop sama emak jadi yah gak bisa ngedit-ngedit).

DAN TOLONG, jiwa skaifi-ku semakin akut karena MV-nya Mba Teilorswif, huhu (mianeekk, selain jadi trash of K-Pop saya ini penggemar berat Taylor Swift sama Selena Gomez). Kepengin nangis liat visualisasi sci-finya yang bener-bener luar biasa. Kapan fanfiksiku bisa terealisasi dalam bentuk nujuman begitu ya? :’D minimal ada drakor yang bernuansa Game over gitu kek.

Yah, mari kita kembali pada realita sejenak. Kalau menyatukan perbedaan itu enggak semudah menjadi perusak hubungan orang (analogi macam apa ini?) dan karena ini udah level 26 aku rasa udah sewajarnya aku ngungkap ‘identitas’ Baekhyun ke semua orang. Hitung-hitung, Baekhyun ngebuktiin ucapannya ke Jiho soal dia yang bakal hidup dengan identitasnya.

Ah, aku enggak ngoceh baper ala fingernotes level 25 dong WKWK, keadaan mentalku sudah stabil sekarang, alhamdulillah, karena setidaknya bakti sosial sudah selesai. Tinggal bias (bukan bias K-Pop) di SD yang menanti depan mata.

Berhubung ultah Kris juga, jadi yah… mohon bersabar kalau semisal weekend ini aku enggak posting Game over ya ~ sampai ketemu di level 27!

Ps: EH, TUMBEN DUA CHAPTER DAMAI. WKWK.

Pps: Happy Belated Day, Kriseu!

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

53 tanggapan untuk “GAME OVER – Lv. 26 [Unforgetable Scenery] — IRISH”

  1. Chukae irishnim, game over diapresiasi jadi MOTA, eh cie cie, uda nonton belum. Xixixi diriku aja ga sampe finish saking bikin gatalnya itu drakor.

  2. Jatuh cinta sama ff ini
    duuh bapeeer gimana bisa karakter game bikin orang orang pada baper gini…
    Momen waktu baekhyun bilang dia bakal offline ko aku g rela ya kl nnt baekhyun bakal ilang ;(

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s