SADISTIC NIGHT -CH. 8 : The Reason P.2- by AYUSHAFIRAA

PicsArt_09-20-10.46.19

`SADISTIC NIGHT`

A fanfiction by AYUSHAFIRAA |

Starring Baekhyun, Kim Yoojung as Kim Yoora, Chanyeol, Sehun, Suho | Supported by D.O, Tao, Xiumin, Kai, Chen, Lay, Lee Pace |

3f63733d-cc79-44d0-bc3e-af316248711d
Kim Sohyun as Crown Princess, Hong Yoonjoo

AU, Drama, Fantasy, Romance, Violence |

PG-17/M | Chaptered |

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri yang terinspirasi dari Diabolik Lovers dan berbagai film serta anime yang bergenre fantasy. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan dramatis cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.

*Already published since 2015, here.

AYUSHAFIRAA©2015. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

Prev. Night : WAY? P.1 | WAY? P.2 | MS P. 1 | MS P.2 | D P.1 | D P.2 | WIL? P.1 | [GET PASSWORD] | [Protected] WIL? P.2 | TS P.1 | TS P.2 | TEOMS P.1 | TEOMS P.2 | [Protected] YHTG P.1 | YHTG P.2 | TR P.1

| BAB II ▶ CH. 8 : The Reason P.2 |

“…Aku benar-benar bodoh…”

.

Part 2

.

Fotor_15080004113664

“Jangan! Kau tidak boleh melihat ini!” Yoora bangkit dan berlari menghampiri Puteri Yoonjoo yang masih tetap pada posisinya. Pangeran Lee Hyun dan Baek Soomin sepertinya terlalu sibuk untuk menyadari kehadiran si Puteri Mahkota.

“Pergilah, Puteri! Kumohon jangan lanjutkan, jangan sakiti dirimu sendiri untuk melihat apa yang mereka lakukan! Pergilah!” Yoora terus berusaha berbicara dengan Puteri Yoonjoo, meski ia tahu Puteri Yoonjoo tidak akan bisa mendengarnya. Ia ingin menyentuh Puteri Yoonjoo, namun tangannya lolos begitu saja. Ia, tidak bisa menghentikan Puteri Yoonjoo untuk melihat semua pemandangan menyakitkan di depan matanya itu.

“Yoora, hentikan! Apa yang kau lakukan itu sia-sia saja!” Tao menarik Yoora ke pelukannya, dan akhirnya gadis itu hanya bisa menangis di pelukan Tao tanpa bisa melakukan apa-apa.

♥♥♥

“Yang Mulia, apakah Yang Mulia percaya reinkarnasi?”

Soomin menyandarkan kepalanya di dada Baekhyun. Selain selimut berwarna merah gelap yang menyelimuti tubuh mereka, tak ada kain-kain lain yang melekat di tubuh dua insan berbeda jenis kelamin ini. Sisa-sisa peluh masih terlihat membasahi wajah dan tubuh mereka. Baekhyun mendekap Soomin erat, tak ada alasan baginya untuk berhenti mencintai wanita itu. Tak ada, takkan pernah ada.

“Kenapa membicarakan hal yang tidak-tidak?” tanya Baekhyun sembari mengerutkan kening.

“Tidak,” Soomin menggenggam erat tangan Baekhyun, “Aku hanya ingin Yang Mulia percaya, bahwa meski aku dilahirkan berkali-kali, lelaki yang kupilih sebagai takdirku tetaplah dirimu…”

“Jika aku harus hidup sebagai orang lain di masa depan dan tak pernah bisa menemukan Yang Mulia, maka akan lebih baik rasanya jika aku tak pernah dilahirkan kembali dan hanya hidup satu kali saja sebagai Baek Soomin yang dicintai seorang lelaki tampan bernama Lee Hyun.”

“Ada apa sebenarnya, Soomin-ah? Sedaritadi, yang kau bicarakan hanya tentang reinkarnasi, hidup kembali, dan terlahir kembali. Apa tidak ada topik lain yang ingin kau bicarakan denganku?” tanya Baekhyun dengan suara lembut.

“Apa kata-kataku melantur lagi? Kalau memang begitu, maafkan aku, Yang Mulia. Sepertinya, aku membuat Yang Mulia tidak nyaman berada di sisiku.”

“Reinkarnasi? Hidup kembali? Terlahir kembali? Apa itu semua mungkin, Oppa?” tanya Yoora yang saat ini sedang berada dalam dekapan Tao, bersandar lemas di dada bidang lelaki itu.

“Tentu saja. Sudah berapa kali kau mendengar kata ‘tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini’ saat bersama keluarga kami? Jika aku saja bisa membawamu kembali ke masa lalu, apa lagi alasanmu untuk meragukan hal itu?” lembut, Tao menjadi benar-benar lembut setelah melihat Yoora yang seperti ini.

Yoora dan Tao kini berada di sudut kamar, memperhatikan Soomin dan Baekhyun dari tempat mereka bersandar.

Menyadari hari yang mulai senja, Baekhyun bergegas mengenakan kembali pakaiannya, serapi mungkin agar orang-orang di Istana tidak mencurigainya. Sebelum pergi, Baekhyun menyempatkan dirinya untuk mencium kening sang kekasih.

“Kau juga pulanglah, Ayahmu pasti sedang menunggu.”

“Aku akan pulang setelah Yang Mulia, jika kita terlalu sering terlihat bersama, aku takut orang akan berpikir macam-macam.” Ucap Soomin yang juga sudah rapi memakai pakaiannya dan menata rambutnya.

“Mereka romantis sekali.” gumam Tao.

Soomin mengantar Baekhyun keluar rumah, di luar sudah ada para pengawal yang setia menanti Pangeran mereka sejak siang tadi. Baekhyun memasuki tandunya dan memberikan senyuman pada ‘kekasihnya’ sebelum akhirnya tandu yang membawanya hilang dan luput dari pandangan Soomin.

“Kita akan bermalam di sini? Kau kan sudah tahu bagaimana masa lalu Baekhyun Hyung, bukankah sebaiknya kita kembali ke masa depan saja?” tanya Tao menyarankan.

“Tidak, aku tidak bisa pergi begitu saja. Aku harus tetap di sini sampai aku benar-benar tahu, bagaimana kisah cinta mereka selanjutnya. Aku harus tahu.” Jawab Yoora, yakin.

♥♥♥

Pagi itu, Yoora terbangun dari tidurnya lebih dulu daripada Tao. Gadis itu tak berniat untuk membangunkan Tao karena dari wajahnya saja tersirat jelas bahwa lelaki itu sangat kelelahan.

Yoora melangkah keluar dari rumah itu, memejamkan matanya dan menghirup udara segar di tahun 1839. Udaranya lebih terasa menyegarkan daripada udara di masa depan, mungkin karena saat itu alat transportasi darat yang orang-orang gunakan hanya tandu dan menunggang kuda saja.

“Oh? Dia sudah ada di sini? Dengan siapa?” Yoora bertanya-tanya pada dirinya sendiri saat melihat Baek Soomin yang sudah cantik itu berdiri berhadapan dengan seorang lelaki berpakaian rapi seperti pengawal istana kemarin.

“Sampaikan surat ini pada Pangeran Lee Hyun, dan sampaikan juga padanya aku akan menunggunya di sini sampai ia datang. Ini surat yang penting.” Ucap Soomin sembari memberikan sepucuk surat pada lelaki yang sepertinya memang benar seorang pengawal dari istana yang dapat ia percaya.

“Baik, Nona. Saya akan segera menyampaikan surat ini pada Yang Mulia. Saya benar-benar masih berharap, Nona yang akan menjadi Ratu Joseon nantinya.” Lelaki itu pamit pada Soomin dan menghilang di balik dinding pagar.

Baru saja Soomin hendak mendudukkan dirinya di teras kayu rumah itu, sebuah anak panah melesat secepat kilat menusuk tepat ke perutnya. Hal itu sontak membuat Yoora terkejut dan berlari menghampiri Soomin yang jatuh terkapar di tanah. Anak panah itu berhasil membuat Soomin kehilangan banyak darah.

“S-s-soomin! Soomin-ah! Baek Soomin! Bertahanlah!” teriak Yoora panik.

Oppa! Tao Oppa!!” Yoora berlari masuk ke dalam rumah, membangunkan Tao dari tidurnya. Sedetik kemudian, Yoora membawa lelaki itu keluar, hendak menunjukkan pada lelaki itu apa yang baru saja terjadi di luar, namun langkah mereka harus terhenti tepat di depan pintu saat melihat seorang wanita berpenutup wajah dan memegang busur panah di tangannya menghampiri Soomin yang sekarat. Bukannya menolong, wanita itu hanya berdiri dan memberi tatapan jijik ke arah Soomin.

“Puteri… Yoonjoo?” bola mata Yoora dan Tao hampir loncat seketika dari tempatnya, saat wanita berpenutup wajah itu membuka kain hitam yang menutupi wajahnya.

Ya, wanita itu… Puteri Yoonjoo.

“P-put..puteri… tolong selamatkan aku… tolong aku… Puteri…” lirih Soomin susah payah sambil menahan rasa sakit yang dirasakannya, wajahnya sudah benar-benar pucat.

“Itu tidak mungkin,”

“Bagaimana bisa aku menyelamatkanmu jika kau adalah seorang wanita yang berhasil menghancurkan kebahagiaanku? Bagaimana bisa aku menyelamatkanmu? Jika aku menyelamatkanmu, bisakah aku menyelamatkan pernikahanku sendiri setelahnya?” Puteri Yoonjoo menitikkan airmatanya, menatap dengan jelas wajah penuh derita yang semakin memucat di depannya.

Penuh derita? Ah, tidak, dirinyalah yang paling menderita selama ini.

“KAU SAMPAH! KAU TIDAK SEHARUSNYA DILAHIRKAN KE DUNIA INI! KAU… MATI SAJA!” kata-kata kasar itu tak sepantasnya terlontar dari mulut seorang Puteri Mahkota yang teramat sangat dihormati rakyatnya.

Puteri Mahkota itu kembali menutup wajahnya, melenggang pergi membawa busur serta anak panah yang tersisa di punggungnya, meninggalkan Soomin yang sudah tak sanggup untuk bertahan.

Yoora dan Tao berlari menghampiri Soomin, tapi wanita itu tak lagi membuka matanya. Matanya sudah tertutup dengan sudut mata yang basah, sementara darah terus mengalir dari perutnya yang tertusuk anak panah.

“Aku pernah melihat ini…” ucap Tao yang juga menitikkan airmatanya, sementara Yoora menangis tak percaya.

“Dia sudah meninggal… dan sebentar lagi…” Tao mengarahkan pandangannya ke arah luar pagar pekarangan rumah itu. Tak lama, seorang lelaki bahagia berlari memasuki pekarangan rumah itu dengan membawa sepucuk surat dalam genggamannya. Namun kebahagiaan itu seakan sirna dalam sekejap setelah maniknya mendapati wanita yang teramat sangat ia cintai kini sudah tak bernyawa.

“S-s-soo..soomin-ah…” Airmata lelaki itu menetes tak tertahankan. Ia berlari dengan kaki lemas, menjatuhkan sepucuk surat yang semula digenggamnya dan memeluk kekasihnya itu erat-erat, berharap kekasihnya dapat kembali membuka mata dan melanjutkan kisah hidup mereka yang hampir sempurna.

unnamed

“Soomin-ah… bangunlah… jangan begini… bukankah, kau bilang kau akan menungguku sampai aku datang? Lihat, aku sudah datang… aku di sampingmu…”

“Bangunlah, Sayang… buka matamu…” lelaki yang tak lain adalah Pangeran Lee Hyun terus mengajak kekasihnya, Baek Soomin, untuk berbicara seolah-olah wanita itu bisa membalas setiap perkataannya. Ia tidak bisa mempercayai kematian kekasihnya semudah itu.

Yoora dengan berderai airmata melangkah gontay mendekati Baekhyun, hingga kakinya menginjak sepucuk surat yang lelaki itu jatuhkan ke tanah. Gadis itu memposisikan dirinya dalam posisi jongkok, menghapus airmata yang terus berlinang sebelum akhirnya membaca setiap kata demi kata yang terdapat di surat itu tanpa menyentuhnya.

Yang Mulia… ini aku, kekasihmu.

Maafkan aku yang telah lancang mengirimkan surat ini untukmu.

Yang Mulia, kau tahu? Aku sangat mencintaimu. Rasanya sudah tak terhitung berapa kali aku mengatakan kata-kata itu, mungkin Yang Mulia saja sudah bosan untuk mendengarnya.

Cinta yang kita miliki, sudah tak terukur lagi betapa besarnya bukan? Aku harap, cinta kita tidak akan pernah berakhir sampai kapanpun itu, apalagi, saat ini, ada nyawa lain di dalam diriku. Buah cinta kita.

Semalam, ayah mengkhawatirkan keadaanku yang terlihat tak sehat. Ayah memanggilkan seorang tabib untuk memeriksa kondisiku. Tapi ternyata, aku tidak sakit. Tabib itu berkata aku akan segera memiliki seorang bayi, dan tabib itu juga menyarankanku untuk segera memberitahu ayah dari bayi itu. Sudah kulakukan sekarang.

Yang Mulia, aku hamil.

Aku sama sekali tak berharap banyak… yang aku harapkan, Yang Mulia bisa terus ada di sisiku sampai kapanpun dan memberiku cinta tanpa akhir. Aku hanya menginginkan itu.

Yang Mulia, aku mencintaimu. Sejak awal adalah dirimu hingga selamanya tetap dirimu, saat senang ataupun sedih aku akan selalu mencintaimu.

Dari kekasih yang selalu merindukanmu. Baek Soomin.

Airmata Yoora mengalir deras. Perlahan tapi pasti, bayangan-bayangan yang selama ini mengganggu pikirannya yang tak mengerti apa-apa itu kembali muncul tapi kali ini tanpa rasa sakit yang menyiksanya lagi.

♥♥♥

Di sebuah hutan di dekat istana, tampak dua orang anak berumur 7 tahunan sedang bermain seru di bawah pepohonan yang tingginya beberapa kali lipat dari tinggi mereka. Dua anak itu, tepatnya seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki bermain seru tanpa mempedulikan perbedaan status sosial mereka yang jauh berbeda. Anak laki-laki itu bernama Lee Hyun, seorang pangeran kecil yang nantinya akan menjelma menjadi seorang Raja di masa depan. Sementara gadis kecil itu, Baek Soomin, putri satu-satunya dari pasangan rakyat biasa yang tak memiliki kekuasaan apapun.

“Soomin-ah, bisakah kita memainkan permainan yang lain saja?” Pangeran kecil itu terlihat bosan dengan apa yang dilakukannya saat ini.

“Kalau begitu…” Soomin bangkit dari posisinya semula dan menyeringai.

“Kejar aku!”

“Yak! Kau mau ke mana?! Jangan berlari! Kau tahu aku tidak akan bisa mengejarmu!” teriak Pangeran kecil itu sambil berusaha mengejar teman perempuannya yang berlari-lari dengan lincah. Memang, Pangeran kecil itu sangat payah dalam hal berlari. Tapi, apa mungkin istana tak pernah mengajarkannya untuk berlari dengan cepat?

“Kau payah!” ledek Soomin.

Waktu terus berlalu, hingga tanpa terasa, dua orang anak yang tadi tengah bermain kejar-kejaran itu kini perlahan menginjak usia remaja mereka. Tak ada yang berubah dari keduanya, mereka masih selalu bermain bersama tanpa sepengetahuan orang istana. Pangeran Lee Hyun yang semakin tampan, dengan Baek Soomin yang terus tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik. Mereka, terlihat lebih baik jika bersama.

“Yak! Soomin-ah! Baek Soomin! Berhenti berlari! Aku sudah lelah!” lagi-lagi Pangeran Lee Hyun meneriaki nama gadis itu dengan susah payah, pasalnya, lelaki itu benar-benar lelah jika harus mengejar gadis itu yang jika sudah berlari pasti akan melupakan fakta bahwa dirinya adalah seorang gadis yang seharusnya berjalan dengan anggun.

“Ternyata kau benar-benar payah, Pangeran!”

BRUK!

“Ahh!” jerit Soomin kesakitan. Gadis itu baru saja terjatuh karena ulahnya sendiri dan berhasil melukai lutut mulusnya.

Lee Hyun menghampiri Soomin dan memandang gadis itu khawatir.

“Soomin-ah, kau tidak apa-apa?”

“Lututku sakit. Bagaimana kalau nanti aku tidak bisa berdiri? Bagaimana kalau nanti aku tidak bisa berjalan lagi? Bagaimana kalau nanti aku tidak bisa berlari lagi? Ah, bagaimana ini?!”

Pangeran itu hanya tertawa melihat tingkah menggemaskan sahabat kecilnya itu. Tanpa ba-bi-bu, sang pangeran mengangkat tubuh sang puteri dengan gagahnya, padahal saat itu, tubuh sang pangeran masih kurus seperti remaja-remaja lelaki seusianya. Perlakuan sang pangeran yang tanpa diduga itu membuat wajah Soomin merona seketika. Antara malu dan senang bukan kepalang. Diam-diam, gadis itu menarik sudut bibirnya hingga melengkung sempurna.

“Soomin-ah, aku mencintaimu.”

“Maksud Pangeran?” Soomin membulatkan matanya, terkejut dengan pengakuan ―yang dirasanya― terlalu tiba-tiba dari sang Pangeran.

“Kau ini!” Lee Hyun menghimpit kepala Soomin dengan tangannya, membuat si empunya kepala berteriak manja.

“Jangan membuat aku harus mengulangi perkataanku! Aku… sedang melamarmu sekarang.”

“Huh? Melamar?”

Tapi itu adalah kejadian dua tahun yang lalu, saat usia mereka sama-sama menginjak tahun ke-17. Karena faktanya, seorang pangeran tidak pernah bisa menikah dengan seorang gadis biasa. Istana, sudah memilihkan calon pendamping hidup yang ―menurut mereka― terbaik bagi sang Pangeran yang akan meneruskan tahta Kerajaan Joseon. Seorang gadis, puteri dari Sekretaris Kerajaan yang dihormati, Hong Yoonjoo namanya. Ya, Yoonjoo-lah yang terpilih menjadi istri Pangeran Lee Hyun. Bukan Baek Soomin, seorang gadis miskin.

Cinta tak pernah bisa dipaksakan. Meski sang pangeran memberi perhatian yang sangat berarti bagi istrinya, cintanya tak pernah berpaling sedikitpun dari sosok Soomin. Hanya Soomin-lah yang mampu membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari yang seharusnya. Hanya Soomin-lah, gadis yang mampu membuatnya merasakan apa itu cinta.

“Yang Mulia, apakah Yang Mulia percaya reinkarnasi?”

Soomin menyandarkan kepalanya di dada Hyun. Selain selimut berwarna merah gelap yang menyelimuti tubuh mereka, tak ada kain-kain lain yang melekat di tubuh dua insan berbeda jenis kelamin ini. Sisa-sisa peluh masih terlihat membasahi wajah dan tubuh mereka. Hyun mendekap Soomin erat, tak ada alasan baginya untuk berhenti mencintai wanita itu. Tak ada, takkan pernah ada.

“Kenapa membicarakan hal yang tidak-tidak?” tanya Hyun sembari mengerutkan keningnya.

“Tidak,” Soomin menggenggam erat tangan Hyun, “Aku hanya ingin Yang Mulia percaya, bahwa meski aku dilahirkan berkali-kali, lelaki yang ku pilih sebagai takdirku tetaplah dirimu…”

“Jika aku harus hidup sebagai orang lain di masa depan dan tak pernah bisa menemukan Yang Mulia, maka akan lebih baik rasanya jika aku tak pernah dilahirkan kembali dan hanya hidup satu kali saja sebagai Baek Soomin yang dicintai seorang lelaki tampan bernama Lee Hyun.”

Ya, seperti itulah cinta. Membuat mereka seakan buta. Terus bercinta tanpa peduli seseorang di Istana mungkin tak kuasa lagi menahan kesakitannya.

Malam itu, setelah bercinta dengan sang Pangeran di siang harinya, Soomin mengeluh sakit pada ayahnya. Wajahnya memang pucat, itu sebabnya sang ayah benar-benar khawatir dan segera memanggil seorang tabib yang dikenalnya dengan sangat baik.

“Kau hamil, Nona.” Begitulah kata si tabib, membuat senyuman di bibir Soomin merekah bak bunga yang bermekaran di musim semi.

Hamil bukanlah sesuatu yang harus membuat Soomin terkejut, bercinta ratusan kali dengan Pangeran Lee Hyun mungkin cukup menjadi alasannya untuk tidak takut pada apapun yang akan terjadi di masa depan.

“Segeralah beritahu ayah dari bayimu ini, dia pasti akan sangat senang mendengarnya.”

Hari sudah larut, tapi Soomin masih tetap terjaga. Sibuk merangkai kata untuk ia tulis di secarik kertas yang nantinya akan ia kirimkan pada ayah dari janin yang dikandungnya, ya, Pangeran Lee Hyun.

Yang Mulia… ini aku, kekasihmu.

Maafkan aku yang telah lancang mengirimkan surat ini untukmu.

Yang Mulia, kau tahu? Aku sangat mencintaimu. Rasanya sudah tak terhitung berapa kali aku mengatakan kata-kata itu, mungkin Yang Mulia saja sudah bosan untuk mendengarnya.

Cinta yang kita miliki, sudah tak terukur lagi betapa besarnya bukan? Aku harap, cinta kita tidak akan pernah berakhir sampai kapanpun itu, apalagi, saat ini, ada nyawa lain di dalam diriku. Buah cinta kita.

Semalam, ayah mengkhawatirkan keadaanku yang terlihat tak sehat. Ayah memanggilkan seorang tabib untuk memeriksa kondisiku. Tapi ternyata, aku tidak sakit. Tabib itu berkata aku akan segera memiliki seorang bayi, dan tabib itu juga menyarankanku untuk segera memberitahu ayah dari bayi itu. sudah kulakukan sekarang.

Yang Mulia, aku hamil.

Aku sama sekali tak berharap banyak… yang aku harapkan, Yang Mulia bisa terus ada di sisiku sampai kapanpun dan memberiku cinta yang tanpa akhir. Aku hanya menginginkan itu.

Yang Mulia, aku mencintaimu. Sejak awal adalah dirimu hingga selamanya tetap dirimu, saat senang ataupun sedih aku akan selalu mencintaimu.

Dari kekasih yang selalu merindukanmu. Baek Soomin.

♥♥♥

Yoora terduduk lemas, tak sanggup menahan airmatanya yang terus mengalir seakan tanpa henti.

Kenapa ia baru menyadari hal ini? Kenapa ia tak menyadari kalau sejak awal seorang lelaki bernama Baekhyun diam-diam selalu memperhatikannya? Kenapa ia baru menyadarinya sekarang?

Di saat seorang lelaki bernama Baekhyun itu terus setia menantinya terlahir kembali ke dunia, ia malah sibuk mencintai lelaki lain. Apa seperti itu balasan yang pantas untuk seorang lelaki yang dengan setia menunggu kembali cintamu hingga 176 tahun?

“Permisi, Baekhyun-ssi.”

“Ya?”

“Maaf jika pertanyaanku ini tidak sopan, tapi kenapa kau terus memandang ke arahku? Bahkan saat perkenalan tadi, kau hanya memandangiku tanpa mau memperkenalkan dirimu sendiri. Apa… ada yang salah denganku?”

“Jangan bertanya apapun padaku, aku tidak akan menyukainya.”

….

“Kau mau jalan-jalan keluar?”

“Ya?”

“Kau tetap sama.”

“Maksudmu?”

“Tidak.”

“Aku bertanya, apa kau mau jalan-jalan keluar?”

“Sudah lebih dari jam 8 malam, apa tidak apa-apa kalau kita pergi keluar? bukankah sebaiknya kita di rumah saja?” 

“Jangan bertanya padaku, aku tidak suka itu.”

“Lagipula, aku yang lebih dulu bertanya padamu. Kau cukup menjawabnya saja, Yoora.”

“Ah? Baiklah, maafkan aku.”

“Kau tidak akan menjawabnya?”

“Hm?”

“Pertanyaanku yang tadi…”

“Anggap saja ini, sebagai tawaran kencan.”

“Bagaimana?”

….

“Jangan! Jangan! Chanyeol-ssi!”

PLAK!

“Bukankah sudah kubilang untuk menyimpan teriakanmu?! Itu sangat menggangguku!”

“YAK! CHANYEOL LEE!”

“B-b-baekhyun-ssi.”

“Pergilah!”

“Kalau kau melangkahkan kakimu selangkah saja, itu berarti kau tidak patuh padaku!”

“Diam kau!”

“APA YANG KAU TUNGGU?! CEPAT KELUAR!”

….

“Yoora! bisa kau dengar aku? Jawab aku!”

“Katakan sesuatu agar diriku bisa sedikit tenang!”

“B-Baek-hyun-ssi.”

“Maaf… Maafkan aku… Sungguh maafkan aku, Yoora. Aku seharusnya bisa lebih menjagamu. Maafkan aku.”

“Maaf… untuk meninggalkanmu sendirian, untuk tidak pernah mengkhawatirkanmu, untuk membawamu ke dalam kesulitan seperti ini. Aku benar-benar minta maaf.”

“Kenapa kau selalu menyelamatkanku?”

….

“Baekhyun-ah, giliranmu.”

“Wah! Hanbok!”

“Indah sekali!”

“Akan ku anggap itu sebagai dress.”

….

“Aku tahu Baekhyun Hyung mencintaimu, tapi kupikir, dia hanya menjadikanmu sebagai pelampiasan rasa kesepiannya selama kurang lebih 176 tahun, karena selama itu, dia tidak pernah terlihat memiliki wanita di sampingnya. Terbayang bukan olehmu betapa kesepiannya Baekhyun Hyung? Dia tidak benar-benar mencintaimu.”

….

“….Tapi aku masih ingat sekali, Baekhyun masih saja kekanak-kanakan walaupun ia sudah dijodohkan dengan putri sekretaris kerajaan. Menurut kabar burung yang kudengar samar-samar, Baekhyun ternyata jatuh cinta pada gadis lain. Gadis itu……”

….

PRANG!

“Hyung! Kau baik-baik saja?!”

“Kita harus mencucinya lebih dulu.”

“Aku tidak akan mati hanya karena luka kecil seperti ini.”

“Kau… benarkah itu kau?”

“Kau memang tidak akan mati karena luka kecil itu, tapi bayangkan saja apa yang akan terjadi jika luka kecil itu terus kau biarkan tanpa kau obati. Seharusnya kau lebih tahu tentang itu, Oppa.”

“Biarkan gadis itu mengobati luka di tanganmu, Baekhyun-ah. Dia tahu apa yang harus dia lakukan.”

….

“Sudah selesai.”

“Dia tidak akan pernah mengkhianatiku.”

“Oppa, kenapa kau melakukan itu? lihat sekarang, kau melukai tanganmu sendiri.”

“Kau mencintai Suho Hyung? Chanyeol? Dio? Atau Sehun?”

“Kenapa-”

“Jangan bertanya apapun padaku, aku tidak suka itu.”

“Baiklah, aku tahu kau tidak pernah suka berumit-rumit untuk menjawab pertanyaan dari orang lain. Tapi kau tahu, Oppa? Kau egois.”

“Egois? Ya, itu adalah aku. Lalu? Jawab saja pertanyaanku!”

“Jangan bertanya apapun padaku, aku tidak suka itu.”

….

“Baekhyun Oppa?”

BREG!

“Soomin-ah… aku merindukanmu.”

….

“Haruskah aku mengulang cerita yang kalian buat selama 9 jam itu?”

….

“Kim Yoora.”

“Aku benci memiliki kekuatan seperti ini. Aku benci mendengar apa yang tak bisa orang lain dengar, aku benci melihat apa yang tak bisa orang lain lihat. Aku membenci kekuatanku sendiri.”

“Kau tahu kenapa? Karena aku bisa mendengar kata hati dan membaca pikiran lelaki lain yang mencintaimu, karena aku bisa melihat apa yang sedang kau lakukan bersama lelaki lain, dan itu, membuatku terluka.”

“Aku terluka. Aku terluka saat menyadari bahwa penantianku selama ini ternyata berujung sia-sia.”

“Aku meminta Tao untuk kembali membawaku ke masa lalu, tapi semua itu tetap saja tidak bisa merubah apapun. Jika aku bisa, aku ingin kembali dan mati saat itu juga. Aku tidak ingin menjadi monster abadi paling menakutkan di muka bumi ini kalau pada akhirnya aku tidak bisa membawamu kembali.”

“Kumohon… jangan mencintai lelaki lain. Jangan berikan hatimu pada lelaki lain. Cukup aku, cintai aku saja.”

“Kenapa?”

“Kenapa aku tidak boleh mencintai lelaki lain dan hanya boleh mencintaimu?”

“Ternyata aku memang bodoh,”

“-bertanya pada seseorang yang sama sekali tidak akan memberikan jawabannya.”

“Kenapa aku harus jatuh cinta pada lelaki egois seperti dirimu kalau lelaki lain saja bisa memberiku segalanya yang kubutuhkan?!”

“Jika memang tak ada lagi ruang di hatimu untukku, mungkin ini adalah akhir dari ceritaku. Dan aku, tak pernah ingin melanjutkannya lagi.”

“Aku mencintai Chanyeol, dan akan tetap mencintainya.”

PRANG! PRANG! PRANG!

“AAAAAARGH!”

“HYUNG! HENTIKAN, HYUNG!”

….

“Aku mencintaimu.”

“Aku terlalu naif untuk menyadari kalau kau bukanlah bagian dari takdirku. Aku terlalu naif untuk mengakui kalau ada lelaki lain yang sudah memilihmu ke dalam takdirnya jauh lebih dulu daripada aku. Aku bahkan terlalu naif untuk menepati janjiku sendiri dan malah menganggap janji itu seakan tak pernah ada.”

….

“Hhh…hh…”

“Soomin-ah…hhh… Soomin…”

“Hhh..Soo..min… Soomin-ah…”

“Iya, aku di sini.”

“Jangan pergi..hhh… jangan tinggalkan aku…”

“Aku tidak akan pergi, aku tidak akan meninggalkanmu… tapi kau harus bangun, jangan biarkan aku pergi tanpa sepengetahuanmu. Bangunlah.”

….

“Oppa, jangan banyak bicara dulu, ya? Kau pasti kuat, aku percaya itu.”

“Yoora…”

“Aku…. tidak akan mati… kau tidak perlu…. mengkhawatirkanku.”

“Iya, aku tahu…”

“Kau tidak akan mati.”

“Oppa?”

“Kenapa kau selalu menyelamatkanku?”

….

“Oppa… jika saja kau bisa membaca pikiranku, jika saja kau bisa mendengar kata hatiku, kau pasti akan tahu betapa bersyukurnya aku bertemu dengan lelaki sepertimu. Aku bahagia, hanya berdiri tepat di belakangmu dan memandangi punggungmu saja, itu sudah cukup membuatku bahagia. Entah kenapa, aku sendiri tidak mengerti.”

Tao berlari menghampiri Yoora yang terduduk lemas, ia membawa gadis itu menjauh dari Baekhyun dan Soomin.

Yoora menangis tersedu-sedu di pelukan Tao. Pasti inilah alasannya kenapa seorang Baekhyun Lee selalu bisa menjadi penyelamat bagi Kim Yoora. Mungkin ini juga alasannya kenapa seorang Kim Yoora bisa langsung merasa nyaman jika berada di dekat Baekhyun Lee. Mereka terikat, cinta mereka masih ada.

“Aku melakukan kesalahan… aku melakukan kesalahan.”

“Aku seharusnya menyadarinya sejak awal, aku seharusnya bisa menjaga cintaku hanya untuk Baekhyun Oppa. Aku gadis yang bodoh, aku tak bisa memegang kata-kataku sendiri. Aku benar-benar bodoh…” Yoora tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri.

Tao hanya diam, memeluk Yoora erat, berharap pelukan dinginnya itu mampu menenangkan Yoora walau sebentar saja.

Para pengawal Pangeran Lee Hyun datang dan menemukan Pangeran mereka menangis memeluk wanita yang wajahnya pucat pasi tak bernyawa lagi. Baekhyun yang menyadari kehadiran para pengawalnya pun mulai mengepalkan tangannya kuat-kuat, berusaha menahan amarahnya yang ia rasa hampir meledak, berambisi untuk menangkap siapapun yang telah berani membunuh kekasih tercintanya.

“Siapapun! Siapapun itu! tangkap dia hidup-hidup dan bunuh dia di hadapanku! Jika kalian menangkapnya dalam keadaan mati, kalian akan ikut mati bersama bajingan itu! Kalian mengerti?!!”

“Mengerti, Yang Mulia!” jawab para pengawal itu serempak.

Seorang pengawal mengerenyitkan dahinya, melihat seorang lelaki tinggi tegap yang tak dikenal berdiri sendiri di sudut rumah itu.

“Yak! Siapa kau?!”

Tao dan Yoora bergidik terkejut, para pengawal itu ternyata bisa melihat mereka.

“Tangkap dia!”

Tao menarik tangan Yoora dan menggenggamnya kuat-kuat, berlari secepat yang mereka bisa, berusaha menghindar dari kejaran para pengawal istana.

Langkah kaki mereka membawa mereka lari ke sebuah hutan, sementara di belakang, para pengawal istana yang tak terhitung jumlahnya terus mengejar mereka sebagai wujud kepatuhan terhadap sang Pangeran. Mereka, dikejar sebagai pembunuh kekasih Pangeran.

Oppahh…. kenapa mereka terus… mengejar kita?”

“Aku, hanya aku yang mereka kejar…” balas Tao sambil terus berlari.

“Mereka berpikir akulah pembunuh Baek Soomin.”

SRET! BRUK!

“Tao Oppa!

Sebuah anak panah berhasil melesat menusuk dan menembus tepat ke kaki kiri Tao, membuat lelaki itu lumpuh dan jatuh tersungkur. Yoora menangis panik, tak tahu harus berbuat apa sedangkan para pengawal istana yang mengejar mereka terus bergerak semakin dekat.

“Yoora…” panggil Tao dengan sisa-sisa suaranya yang terdengar serak.

“Ya?”

“Cium aku…”

“Apa?”

PicsArt_09-21-11.38.04

♥♥♥

[Preview Chapter berikutnya]

“Kai-ya! Cepat bawa mereka jauh-jauh dari sini!” ucap Suho yang juga berusaha keras melawan nafsunya.

“Ma-maaf, Hyung… Aku juga tidak bisa menahannya… darah itu…”

PLAK!

Suho menampar pipi Yoora keras-keras,

“Aku tidak pernah berkencan dengan perempuan jalang!”

Tangan hangatnya menyentuh pagar pembatas balkon yang dingin, wajahnya perlahan tertunduk.

“Apakah aku benar-benar Baek Soomin? Gadis yang sangat dicintai Baekhyun Oppa, gadis yang dirindukan Baekhyun Oppa selama ini, aku kah gadis itu?”

“Kau… benarkah itu kau?”

Yoora membaringkan tubuhnya di samping Tao, membiarkan setiap gerakan lelaki itu yang kini sudah menindihnya. Tao melumat bibir Yoora kasar, terkadang menggigit-gigit bibir bawah gadis itu tanpa membuatnya berdarah. Mata Yoora terpejam.

“Yoora… apa kau mencintaiku?”

“Apa?”

Bulan purnama di luar sana mulai keluar dari selimut awan dan menampakkan warna merah layaknya darah. Vampir-vampir yang bukan keturunan keluarga Lee di luar sana memandang agung bulan purnama merah tersebut, dan tunduk menghormati kekuasaan keluarga Lee atas langit bumi Asia.

“Aku sepertinya tidak akan bisa melupakan saat di mana aku ikut bernyanyi dan menari bersama kalian.”

Dahi saudara-saudaranya itu mengkerut, bingung.

“Kenapa kau berkata seolah-olah kau tidak akan bernyanyi dan menari lagi bersama kami?”

Gadis itu terdiam saat melihat Suho sedang mencabut angka 10 dari jam dindingnya dengan mata berair.

“Oppa… apa yang kau lakukan?”

Kalau angka 2 dan 3 yang hilang itu adalah untuk Luhan dan Kris, lalu angka 10?

“Tidak mungkin…” Yoora tiba-tiba saja menitikkan airmatanya.

21 tanggapan untuk “SADISTIC NIGHT -CH. 8 : The Reason P.2- by AYUSHAFIRAA”

  1. Cuma bisa ngomong,
    Wah daebbakkkkkkkkkkk. Merinding bacanya.
    Itu nasibnya baik baik aja kan…..
    Romantis bgt ya soomin lee hyun
    Tapi sayang mereka gk bisa lanjut

  2. wah bner2 critanya dluar dugaan.. tapi dari awal aku emanv udah sreg nya bakal sama baek.. huaaa sedih banget..
    masih penasaran kenapa baek gasuka ditanya.. hmm
    lanjutt 🙂

    1. Hihi syukurlah kalau ceritanya bisa mengejutkan kamu^^ oh yes oh siip wkwk BaekYoo shipper detected😍❤ Sebenernya gak akan dijelasin secara rinci sih kenapa Baek gak mau ditanya, cuma diambil kesimpulan aja kalo masa lalunya lah yang bikin Baek jadi sedikit dingin :”) sudah dilanjut yaa^^

    1. Walah wkwk maapin yaa kalo ceritanya malah ngebingungin XD aku masih butuh banyak belajar kayaknya yaa biar bisa bikin cerita yg gak bikin bingung orang XD ikutin terus jalan ceritanya yaa biar gak penasaran, insyaallah bisa mengurangi kebingungan :”)

  3. Fix ini ch penuh dengan tangisan T.T
    baekhyun sama baek soomin bener” dapet bngt sedihnya kak ;”
    yoonjoo gacocok dipanggil puteri ih!! ngeselin bngt.. mana baek soomin lagi punya dede gt kan T.T astagah ini puteri bnr” :3
    yoora juga :”v kenapa pula si tao dikejar gt/? jangan sampe tao mati, ntar yoora gabisa pulang ;v wkwkw

    1. Iya ada perihperihnya gitu huweee :””” alhamdulillah kalo sedihnya dapet :”) baekhyun sama baek soomin kan ceritanya true love gitu ya walaupun kudu selingkuh2an uhuks :”(
      Ya, yoonjoo juga gak sepenuhnya salah sih :”) lagian siapa istri yg mau liat suaminya selingkuh? Suaminya gak bisa nyentuh dia sedangkan nyentuh wanita lain bisa, kan sakiddd 😥 jadi ya maklumin ajalah ya yoonjoo emosi:”)
      Tao kan bisa diliat pengawal istana, tapi gak bisa diliat peran utama di cerita ini alias Pangeran Lee Hyun, Soomin, sama Puteri Yoonjoo :”) jadi pengawal istana ngiranya dia yg ngebunuh Soomin uhuks :””” wkwk iya ya, ribet juga ntar masalahnya kalo si Yoora gak bisa balik XD

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s