One and Only – Slice #23 — IRISH’s Tale

   ONE and ONLY  

  EXO`s Baekhyun & Red Velvet`s Yeri 

   with EXO, NCT & TWICE Members  

  dystopia, fantasy, friendship, slice of life, romance, science-fiction story rated by T served in chapterred length  

Disclaim: this is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. Any similarity incidents, location, identification, name, character, or history of any person, product, or entity potrayed herein are fictious, coincidental, and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art and/or story without permission are totally restricted.

2016 © IRISH Art & Story all rights reserved


Mencintaimu? Ya, aku mencintaimu. Walaupun kita berbeda.


Reading list:

〉〉  Prologue | Chapter 1Chapter 10 | Chapter 11Chapter 20 | Chapter 21 — Chapter 22 〈〈

  Spin Off: 12 — 3 — 45

  #23  

██║│█║║▌ One and Only: Previous Chapter │█║║▌║██

In Yeri’s Eyes…

Once, Humanoid. Kalau proyek ini berhasil, dulu, sekali, setidaknya kita pernah menjadi Humanoid yang terkekang dan dikendalikan oleh manusia. Kita tidak boleh egois saat melakukan reset manual. Karena meski kita sudah bebas, kita harus tetap ingat pada tujuan awal diciptakannya Humanoid, yaitu untuk melindungi manusia.”

Chanyeol tersenyum puas mendengar penjelasan Baekhyun. Yang lainnya juga tidak tampak keberatan pada ide Baekhyun sekarang. Bisa kulihat bagaimana mereka mengangguk-angguk pelan setelah menerima penjelasan Baekhyun.

Dan nama yang Baekhyun ciptakan juga punya makna cukup dalam di balik dua kata singkat yang dia ucapkan. Once Humanoid, dulu, mereka pernah menjadi Humanoid. Dan kalau kami benar-benar berhasil, Humanoid di seluruh dunia ini akan terbebas, dengan tidak melupakan tujuan utama diciptakannya mereka.

Untuk melindungi manusia. Dan mereka tak akan jadi ancaman apapun.

Once Humanoid, ya. Terdengar bagus juga.”

██║│█║║▌ One and Only │█║║▌║██
Chapter 23

In Yeri’s Eyes…

“Aku akan pergi dulu Jen, pastikan kau jaga diri baik-baik.”

Kudengar bagaimana Chanyeol membisikkan beberapa kalimat pada Jennie, wanita yang dicintainya, sebelum Jennie kemudian mengangguk dan melempar pandang ke arah kami semua.

“Semoga kalian berhasil.” katanya, selagi ia ulurkan tangan pada Tzuyu, ya, Tzuyu memang pada akhirnya memutuskan untuk tetap tinggal—karena menurut Chanyeol, akan berbahaya jika membawa lebih banyak manusia di perjalanan ini.

Sekali lagi, Chanyeol menyarangkan sebuah kecupan di kening Jennie, hal yang terlihat sangat biasa bagi semua Humanoid di sini karena pada dasarnya mereka mungkin tidak merasakan apapun saat melihat hal itu.

Tapi aku justru merasa begitu canggung.

“Ada apa, Yeri? Tanda vitalmu tidak stabil.” kudengar Baekhyun berbisik padaku begitu kami mulai melangkah keluar dari tempat tinggal Chanyeol.

Tadi Chanyeol menjelaskan, kalau dia memiliki sebuah van yang bisa kami gunakan menuju London. Karena Chanyeol maupun Jennie sudah biasa menggunakan van tersebut, dia yakin tidak akan ada yang mempertanyakan keberadaan van itu di sekitar kota London.

Sebagai seorang Humanoid, Chanyeol terlihat sangat natural. Mungkin karena dia sudah begitu lama tinggal di dunia ini bersama dengan manusia dia jadi tidak lagi merasa kesulitan membaur.

“Tidak ada, aku baik-baik saja.” aku berbohong pada Baekhyun, karena tidak mungkin aku mengatakan padanya tentang bagaimana aku merasa canggung karena melihat adegan ciuman sepasang sejoli sebanyak dua kali, bukan?

Seperti tempo hari, Baekhyun mungkin akan berpikir kalau aku bertingkah aneh lagi.

“Sejak berada di rumah mereka tanda vitalmu sudah tidak stabil.” kata Baekhyun, dia masih melangkah dengan tegap sementara aku mengekori. Sungguh, dia tidak mengerti. Tentu saja Baekhyun memang tidak akan mengerti.

Dia dan aku memandang semua hal dengan cara yang berbeda.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Kami sampai di London keesokan harinya.

Entah berapa belas jam yang kami habiskan di dalam perjalanan, tapi sepertinya aku jadi orang yang paling banyak tertidur. Bahkan, aku tidak sadar jika—entah sejak kapan—aku sudah terlelap di rengkuhan Baekhyun.

Begitu aku terbangun, bisa kurasakan bagaimana lengan Baekhyun melingkar di tubuhku, menepuk-nepuk lenganku pelan seolah ingin aku tidur lebih lelap selagi dia bicara dengan Humanoid lainnya.

“Baekhyun?” gumamku membuat atensi Baekhyun beralih padaku, dengan sebuah senyum dia mengusap pipiku lembut, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajahku. “Kita sudah sampai di London.” ujarnya membuatku perlahan-lahan melemparkan pandangan ke luar jendela, di mana sekarang bisa kulihat langit bersih berwarna biru di luar sana.

“Cantik sekali, langitnya.” ujarku, perlahan kutarik diriku untuk terbangun dari pangkuan Baekhyun tapi dia menahanku. “Sudah, kau bisa tetap begini Yeri, kita masih harus menempuh dua jam perjalanan lagi dan aku tahu kau masih mengantuk.”

Akhirnya aku pasrah juga mendengar ucapannya, karena aku juga memang merasa mengantuk. Beberapa lama aku mendengarkan pembicaraan Johnny-Baekhyun-Chanyeol sementara Ten dan Mina juga Sehun memilih mendengarkan dalam diam.

Mereka bicara soal rencana yang akan dilakukan di London, menemui rekan Ten, dan melakukan deaktifasi pada sistem utama pengatur Humanoid dengan cara manual. Mereka juga bicara tentang apa saja yang mungkin akan kami hadapi, bagaimana harus menghadapinya, dan beberapa konversasi lain yang menenggelamkanku dalam lelap.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Kembali aku terbangun setelah kudengar suara berisik di dekatku. Saat aku sadar, kami sudah tidak berada di dalam mobil lagi melainkan berjalan kaki di sebuah jalan setapak di bawah teriknya matahari.

“Baekhyun, di mana kita?” tanyaku begitu kudapatkan kesadaranku. Aku sendiri berada di punggung Baekhyun, tidak bisa kuingat sama sekali, sejak kapan dia menggendongku? Bagaimana lelapnya aku tertidur sampai-sampai tidak tahu jika kami sudah berpindah?

“Ah, kita sudah dalam perjalanan menuju TGC Center, tempat pengaturan manual nuclear cells itu.” terang Baekhyun.

“Apa aku boleh turun? Aku bisa berjalan sendiri.” kataku kemudian, sadar jika aku sudah merepotkan Baekhyun sedari tadi. “Baiklah, aku akan menurunkanmu.” kata Baekhyun menyetujui permintaanku.

Sejenak Baekhyun menghentikan langkah, membiarkan kami tertinggal beberapa meter dari mereka yang sudah lebih dulu berjalan di depan kami. Aku kemudian perlahan-lahan turun dari punggung Baekhyun sementara dia berjongkok, kurapihkan sedikit penampilanku agar tidak—

DZING!

—tunggu.

“Baekhyun, apa itu barusan?” tanyaku saat kusadari sesuatu yang aneh baru saja lewat di depan wajahku saat aku tengah merapihkan rambut panjangku.

“Apa maksudmu?” tanya Baekhyun, menatapku tidak mengerti. “Tidak, kau tidak melihatnya? Kupikir aku melihat sebuah cahaya berkilat yang melewatiku barusan,” tuturku membuat Baekhyun tertawa pelan.

“Kau masih mengantuk, huh?” tanyanya, merapihkan sisa rambutku yang belum sempat kutata karena atensiku sudah bersarang pada kejadian barusan.

“Tidak Baekhyun, aku sungguh yakin sesuatu—”

DZING! DZING!

Aku dan Baekhyun sama-sama terpaku sekarang. Sudah jelas, bukan aku seorang yang melihat kilatan cahaya ini. Baekhyun juga melihatnya.

Servicer.” dia berkata, tanpa menunggu respon dariku Baekhyun segera menarik lenganku untuk berlari ke arah yang dituju oleh Johnny dan juga yang lain.

“Lindungi diri kalian! Ada penyerangan!” Baekhyun berseru cukup keras, dan tidak lagi sempat kuhitung berapa sekon celah yang tersisa bagi kami untuk menyelamatkan diri saat kemudian jalan setapak yang tadinya sunyi tiba-tiba saja berubah menjadi lapangan berpijar.

Puluhan, tidak, mungkin ada ratusan cahaya berpijar serupa yang sekarang menghujani kami. Aku yakin beribu persen kalau sesuatu yang buruk akan terjadi padaku maupun kami semua jika tubuh kami terkena cahaya itu, jadi segera aku merapatkan diri pada Baekhyun yang memasang tameng dari lapisan plasma bercampur listrik miliknya.

“Apa-apaan ini? Mengapa tidak satupun dari kita bisa membaca pergerakannya?” Johnny berkata separuh kesal, dia pasti juga merasa aneh karena sejak tadi tidak seorang pun di sini bisa mendeteksi serangan asing ini.

Kami berlindung di balik sebuah reruntuhan gedung, khususnya, aku dan Sehun yang disudutkan. Aku paham benar insting melindungi para Humanoid ini masih begitu kental, sehingga mereka justru mengutamakan keselamatan kami dibandingkan resiko terluka pada mereka sendiri.

“Kai, Joy! Serangan ini dari dua orang Voice ’07 sepertiku!” Ten berseru lantang, dia lantas merentangkan tangannya, menciptakan cahaya berpendar biru terang yang melingkupi seluruh tubuhnya sebelum—

BLAR!

Akh!”

Argh!”

Dua teriakan kami dengar hampir bersamaan, diikuti suara jatuhnya dua tubuh tidak jauh dari tempat kami sekarang berada.

“Tidak kusangka, salah satu objek gagal yang kuciptakan justru sudah bersama dengan para pelarian dan buronan.” sebuah suara terdengar menyapa, tak ingin menelan rasa penasaran aku akhirnya mengintip dari celah reruntuhan tersebut, kudapati seorang gadis berperawakan tinggi dengan rambut dipotong pendek sekarang tengah berdiri tegap.

Dua orang Humanoid—satu wanita, satu pria—yang terluka ringan berdiri di belakangnya, tampak seperti dua orang pelindung baginya.

“Jungyeon.” kukenali suara Ten di sana.

“Halo, Ten. Percobaan ke-sepuluh dari Voice ’07 ke-tiga yang ternyata jadi sebuah kegagalan. Bagaimana kabarmu?” wanita yang disapa Jungyeon itu berucap dengan cukup keras, diiringi sebuah tawa sarkatis di akhir tanyanya.

Humanoid lain di belakangnya memasang ekspresi kaku, dingin, menakutkan—yang memberiku efek sejenis dengan keadaan Ten sewaktu kami pertama kali bertemu.

“Aku bukan objek gagal, tapi kau yang sudah gagal mengendalikanku.” Ten menyahuti. Entah apa yang sudah terjadi sebelumnya di antara mereka, tapi yang bisa kudapatkan di sini adalah kemungkinan bahwa Ten dan dua Humanoid itu adalah satu produksi yang sama.

Servicer bernama Jungyeon itu pastilah pencipta Ten.

“Kai, Joy, kalian tidak mau menyapa adik kecil kalian ini?” tanya Jungyeon kemudian, sementara Ten hanya mendengus kasar. “Tidak perlu repot-repot. Aku tidak membutuhkan ucapan selamat datang dari kalian.” sahutnya singkat.

“Oh, ya? Lalu apa saja yang sudah kau dapatkan dari pelarianmu?” Jungyeon lagi-lagi berusaha menyudutkan Ten. Lebih daripada keinginan untuk menyudutkan Ten, kusadari dia justru seolah ingin memancing emosi Ten semata.

“Aku dapat sekutu.” Ten menyahut ringan.

Hah, kelompok menyedihkan seperti ini kau sebut sebagai sekutu?” kata Jungyeon dengan nada remeh. Rupanya, bukan Ten yang naik pitam karena ucapan Jungyeon sekarang, melainkan Johnny.

Hey, nona berpenampilan aneh, kau itu terlalu banyak bicara, kau tahu? Kalau kau memang mau menghalangi kami, lebih cepat lebih baik. Kau mungkin punya banyak waktu, tapi kami tidak. Kami bukan pengangguran yang hobinya berkata-kata tajam untuk memancing emosi orang lain.” kelakar Johnny santai, dia lantas melangkan maju, perlahan menarik Ten untuk mundur karena rupanya Johnny sudah tahu benar bagaimana kakunya ekspresi Ten sekarang.

Ah, Johnny pasti mengerti jika Ten sudah mulai kesulitan mengontrol emosinya. Alih-alih membiarkan Ten terus beradu argumen dengan Jungyeon, Johnny akhirnya memilih untuk melibatkan diri.

Tidak buruk juga idenya.

“Lihat siapa yang sekarang bicara. Kita tunggu saja, siapa yang setelah ini akan memohon untuk kuselamatkan. Anak-anak, habisi saja mereka.” Jungyeon kemudian memerintah dengan begitu bengis.

Segera setelah berkata begitu, Jungyeon melangkah mundur, berdiri di depan sebuah mobil gelap yang sejak tadi keberadaannya tidak kuperhatikan. Apa tadi dia dan dua Humanoid itu menaiki mobil selagi menunggu kedatangan kami?

Kalau begitu, apa orang-orang di tempat yang kami tuju sekarang sudah tahu tentang kedatangan kami juga?

BLAR!

Lamunanku segera berubah menjadi sebuah fokus ketika kudengar suara ledakan begitu keras di dekatku dan Sehun. Lekas, insting sebagai seorang Outsiders membuatku menarik Sehun untuk menyelamatkan diri.

“Ayo, kita harus bersembunyi di tempat yang lebih aman dan tidak bisa dideteksi oleh HumanoidHumanoid itu.” kataku, terbiasa hidup sebagai Outsiders ternyata menguntungkan juga bagiku. Karena aku bisa sedikit banyak tahu tentang tempat-tempat yang berpotensi tidak bisa dideteksi oleh sensor Humanoid.

“Kau yakin kita akan aman?” tanya Sehun memastikan.

“Jangan khawatir, aku sudah hidup di tengah kejaran Humanoid selama beberapa tahun karena aku Outsiders.” ucapku meyakinkannya.

Aku kemudian membawa Sehun melangkah dengan hati-hati menyusuri bagian gedung yang hancur, kucari keberadaan deretan kabel tebal yang biasanya berada di pondasi utama sebuah bangunan.

Humanoid, biasanya tidak mengambil resiko untuk merusak kinerja sensor mereka karena berada dalam area dengan aliran listrik yang besar, jadi ketika seorang manusia bersembunyi di dekat sumber aliran listrik yang tinggi, sensor mereka akan sedikit mengalami hambatan dan akhirnya tidak berhasil mendeteksi keberadaan kami.

“Kita hanya perlu berdiri di sini?” tanya Sehun kujawab dengan sebuah anggukan mantap. “Mereka tidak pernah menyerang sumber listrik, atau kabel-kabel beraliran listrik besar. Bisa beresiko merusak sensor mereka, dan beresiko merusak lingkungan juga. Mereka tidak akan menyerang kita di sini.”

Aku menatap Sehun saat dia tidak berkata apa-apa setelah mendengar penjelasanku. Yang ada, dia justru menyunggingkan sebuah seringai. “Kau seorang Outsiders profesional rupanya.” komentar Sehun seolah meledekku.

“Aku tahu cukup banyak tentang mereka.” sahutku.

“Ya, ya, kalau kau tidak tahu apa-apa, tidak mungkin seorang Humanoid akan jatuh hati padamu. Yang aku tahu, mereka punya standar tinggi saat menilai manusia, dan aku yakini, kau seorang yang cukup jenius sampai Humanoid itu bisa jatuh hati padamu.” Sehun berkelakar.

“Apa maksudmu dengan standar yang tinggi?” ulangku tidak mengerti.

“Ah, kau tidak tahu? Mereka punya standar juga yang digunakan untuk menilai ‘nilai’ seorang manusia. Karena aku seorang Servicer, jadi aku tahu. Status kesehatan, sosial, ekonomi, psikologi, intelektual dan emosional adalah enam pilar utama penilaian mereka.

“Kalau kau sudah lolos enam penilaian itu, maka di dalam pandangan seorang Humanoid kau pastilah seorang manusia yang sangat berkualitas. Mereka akan menyukaimu. Nah, dalam kasusmu, kupikir kau sudah begitu jauh melampaui enam pilar itu, karena Humanoid tidak hanya menyukaimu, tetapi juga jatuh cinta.”

Meski penjelasan Sehun sekarang terdengar begitu tidak masuk akal, tapi mau tak mau aku juga merasa jika penuturannya barusan masuk akal. Humanoid tidak mungkin tidak bisa menilai seseorang dengan baik, dan enam pilar yang Sehun bicarakan adalah hal-hal dasar yang ada pada manusia.

Jadi, apa aku memang sudah melampaui enam pilar utama itu dalam pandangan Baekhyun?

Argh!” aku tersentak begitu kudengar Sehun mengerang kesakitan. Dia terjerembap ke tanah sambil memegangi dadanya erat-erat, seolah seseorang tengah menyerangnya.

“Sehun! Kau baik-baik saja!?” tanyaku.

“Mina… Mina… pasti terjadi sesuatu padanya.” Sehun berucap kepayahan, aku sendiri segera tersadar pada peperangan yang sudah kami tinggalkan sejenak hanya karena kekurangan kami sebagai manusia.

Kusadari, tidak lagi terdengar suara ledakan apapun di luar sana. Tapi Sehun masih mengerang kesakitan.

“Ayo, kita temui mereka untuk memastikan Mina baik-baik saja.” kataku, susah payah aku membantu Sehun berdiri dan bahkan membimbing langkahnya. Sebab aku tidak cukup kuat untuk membopong tubuh Sehun.

Dalam dua menit kami sampai ke tempat pertarungan sengit tadi terjadi. Sesuai dugaanku, dengan ‘sekutu’ yang cukup banyak Ten tentu tidak kesulitan mengalahkan Servicernya.

Tubuh Jungyeon terburai di kejauhan, aku tidak ingin melihatnya karena pemandangan semacam itu sangatlah mengerikan. Dua Humanoid yang datang bersamanya tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghidupkan Jungyeon kembali.

Humanoid wanita bernama Joy itu terbaring tidak berdaya di atas tanah dengan mata terbuka dan bagian belakang kepala yang hancur. Chipnya pasti sudah dihancurkan. Sementara Humanoid pria bernama Kai sekarang terikat di reruntuhan gedung dengan sebuah rantai tembus pandang.

“M-Mina…” tanpa sadar bibirku menggumam begitu kutemukan tubuh hancur seorang Humanoid wanita. Jelas, kukenali pakaian Mina di sana, tetapi tubuhnya hancur, tidak ada yang tersisa.

“Maaf Sehun, Jungyeon meledakkannya menggunakan nuclear cells, dan aku tidak bisa berbuat apapun. Tapi Ten sudah membalas kemarahanmu, dia sudah menghancurkan Jungyeon juga.” Baekhyun berucap, dia merebut kendali atas bantuan yang kuberikan pada Sehun.

Sekarang, aku bisa dengan jelas melihat keadaan mengerikan yang ada di depan mata. Tubuh hancur Mina, Joy yang tidak berdaya, Kai yang memasang raut puas sementara dia sendiri tak bisa bergerak…

Bagaimana bisa semua ini terjadi hanya dalam selang waktu beberapa sekon yang kami tinggalkan?

“Tidak… Mina…” Sehun berkata, dengan sangat menyedihkan dia merangkak ke arah Mina, memunguti sisa tubuh Mina yang berserakan. Aku tahu Sehun terluka, dia pasti sungguh hancur. Apalagi saat ditemukannya chip utama yang membentuk kesadaran Mina sudah hancur separuhnya.

“Tidak apa-apa, Mina bukannya hancur dengan percuma. Setidaknya dia sudah berusaha melindungi kita, bukan?” kata Sehun, rupanya dia sudah menyerah.

“Tunggu sebentar.” Baekhyun berkata, dia kemudian melangkah ke arah Sehun, merebut chip yang sudah hangus terbakar itu dan tersenyum kecil. “Dia masih hidup, Sehun.” kata Baekhyun membuatku menatap tidak mengerti.

Dengan chip sehancur itu Mina masih hidup?

“Apa maksudmu?” tanya Sehun. Tidak lantas menjawab Sehun, Baekhyun kemudian melangkah ke arah tubuh Joy yang sudah hancur. Dengan sabar, Baekhyun duduk di sebelah tubuh Joy, dan dikeluarkannya chip utama Joy dari dalam tengkuknya.

“Mina juga seorang Humophage, kalau dugaanku benar, dia pasti masih akan bisa hidup di dalam tubuh ini.” kata Baekhyun begitu dia memasukkan chip Mina ke dalam tubuh Joy.

Tidak menunggu waktu lama, tubuh Joy bergerak pelan, meregenerasi diri dengan cepat, luka yang tadinya ada di tubuh Joy sekarang perlahan menghilang sementara maniknya mulai membuka.

“S—Sehun?” kata itu meluncur keluar dari bibir Joy. Sontak, Sehun terperanjat bukan main. Dia segera merangsek ke arah Baekhyun, diperhatikannya tubuh Humanoid asing yang sekarang sudah memiliki chip Mina itu.

“Mina? Kau mengingatku?” tanya Sehun membuat Humanoid itu menoleh, dan tersenyum simpul. “Tentu saja aku mengingatmu, Sehun.”

“Oh, Mina… aku sungguh takut aku akan kehilanganmu.” kata Sehun, ditariknya Mina untuk bangkit dan Sehun rengkuh tubuh baru itu seolah tubuh Joy bukanlah sebuah tubuh asing baginya.

“Sehun, aku bukan Mina sekarang.” Sehun melepaskan pelukannya begitu mendengar ucapan Mina—yang ada di dalam tubuh Joy.

“Kau bukan Mina?” ulang Sehun tidak mengerti. “Ya, identitasku sekarang adalah Joy. Kau harus berhenti memanggilku Mina.” katanya, tegas, mirip seperti Mina yang kukenal selama satu hari ini.

“Kau mengingatku, bukan? Kau ingat apa saja yang sudah kita lakukan di Edinburgh?” tanya Sehun seolah berusaha memastikan bahwa sosok yang sedang bicara dengannya memang benar-benar sosok Mina.

“Ya. Aku mengingat sebagian besarnya, beberapa lainnya aku lupakan.” kata Mina.

Sehun kemudian menatap ke arah Baekhyun dengan alis terangkat, pasti dia mempertanyakan apa yang sudah terjadi pada Humanoidnya. Tapi seolah sudah paham benar tentang apa yang terjadi, Baekhyun hanya tersenyum dan menepuk bahu Sehun pelan.

“Dia mungkin kehilangan ingatannya, tapi dia tidak kehilangan memorinya. Kau adalah bagian dari memori manusianya, Sehun.”

Ah, jadi Mina melupakan identitasnya juga apa yang sudah dia lalui sebagai Humanoid bernama Mina, tapi dia mengingat Sehun sepenuhnya karena Sehun merupakan bagian dari perasaannya?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Malam menginjak, dan kami terpaksa membatalkan rencana untuk segera menuju TGC Center karena kekhawatiran Chanyeol mengenai orang-orang sejenis dengan Jungyeon yang mungkin menunggu kami di sana.

Jadi, Chanyeol membawa kami dengan menggunakan vannya ke daerah pegunungan buatan di tepi tertinggi kota London. Sejak tadi, kami sibuk bertukar cerita, selagi membiarkan Sehun dan Joy—Mina menolak untuk dipanggil Mina lagi—bertukar kenangan.

“Jennie masih seorang manusia, tentu saja, jika Jennie tidak lagi menjadi manusia, aku mungkin akan sangat rindu pada semua ekspresinya.” Chanyeol mulai berkelakar. Dia sandarkan tubuhnya selagi manik gelapnya mengawasi langit kelam.

“Beberapa kali, memang Jennie hampir mati. Bahkan dulu, dia benar-benar terbunuh karena ulahku. Tapi sejak pertama kali kita diciptakan, kita memang sudah punya kemampuan untuk meregenerasi keadaan fisik manusia.

“Jadi, selama berpuluh tahun aku berulang kali membangunkan Jennie kembali dari tidur panjang yang seharusnya dia ambil. Secara fisik, Jennie mungkin sudah berusia puluhan tahun, tapi aku selalu berhasil meregenerasi fisiknya sehingga dia bisa kembali terbangun dalam keadaan baik-baik saja.

“Dan aku bangga akan hal itu. Maksudku, aku bisa terus bersama dengan Jennie meski dia seringkali merasa kesal jika aku menghidupkannya—aku tidak menyukai istilah menghidupkan ini, karena terdengar seolah-olah nyawa manusia adalah sebuah tombol on-off.” selesai dengan penuturannya, Chanyeol lantas menatap kami semua bergiliran.

“Kalian mungkin belum bisa merasakan perasaan manusia itu sepenuhnya, tapi tunggu saja, akan ada waktu di mana kalian bisa merasakannya. Seperti Baekhyun dan Yeri sekarang, bukankah Baekhyun sudah lebih memiliki perasaan manusia yang mendominasi benaknya?” tanya Chanyeol segera membuat Baekhyun yang sejak tadi duduk di sebelahku, berjengit kaget.

“Tidak, tidak sepenuhnya. Aku bisa memahami apa yang Yeri rasakan sekarang, dan aku sendiri bisa merasakan beberapa hal asing saat berhadapan dengan Yeri. Tapi… kupikir aku belum merasakan hal-hal itu sepertimu.” Baekhyun menyahuti.

Chanyeol hanya tersenyum simpul. “Ya, belum…” katanya, “…, dan kita juga tidak tahu berapa lama perumpamaan ‘belum’ itu akan bertahan. Sehun dan Mina contohnya, mereka secara tidak langsung sudah terikat secara batin.

“Meski Mina menempati tubuh dan identitas baru, ingatan dan perasaannya masih sama. Dia bisa mendominasi perasaan Joy—yang masih sama seperti Humanoid lain—dengan cukup cepat begitu dia bertemu dengan Sehun.”

Benar juga perkataan Chanyeol. Mengingat bahwa tadi Mina—yang sudah ada di dalam tubuh Joy—benar-benar menolak identitas lamanya, sekarang dia malah sudah tidak terlihat dimana pun bersama Sehun.

Pasti, mereka sibuk bertukar cerita, Sehun punya banyak cerita yang bisa diungkapkannya pada Mina karena Humanoid wanita itu telah melupakan banyak kenangannya bersama Sehun.

“Ungkapan manusia ternyata benar juga, dunia memang lebih baik karena adanya cinta. Lebih tepatnya, karena tiap manusia punya rasa cinta itu di dalam diri mereka, mereka jadi bisa menghargai dan mengasihi sesamanya dengan cara yang lebih baik.

“Dibandingkan dengan kita yang hidup sendiri-sendiri tanpa memedulikan keadaan sesamanya, manusia masih lebih baik dari segi sosial. Tapi jika Humophage memang benar-benar akan jadi legal karena upaya kita… kurasa hal seperti ini tidak akan jadi batas perbedaan antara kita dan manusia.

“Cepat atau lambat, kita mungkin akan merasakan hal yang sama persis dengan manusia. Jadi sebaiknya kalian semua mempersiapkan diri, karena aku pribadi sudah pernah menghadapi perubahan dominan seperti ini.”

Usai berkata begitu, Chanyeol lantas undur diri dari konversasi. Dia ingin menelepon Jennie, rindu katanya. Dan dia tinggalkan kami semua yang larut dalam pemikiran sendiri-sendiri. Selagi Kai terikat di dalam van, Chanyeol memutuskan untuk menelepon Jennie di dalam van pula, sambil mengawasi Kai.

Johnny sendiri membuang muka, menatap perkotaan gemerlap di bawah pegunungan yang jadi tempat kami beristirahat sekarang. Ten tampak memasang raut serius, dia pasti tengah memikirkan semua hal yang mungkin saja akan terjadi padanya.

Tapi Baekhyun, ekspresinya malah sama sekali tidak bisa kutebak.

“Kau tidak mengantuk?” Baekhyun bertanya padaku begitu pandang kami bertemu.

“Ya, aku sedikit mengantuk.” kuakui, tubuhku memang lelah, aku terlalu lama terjaga dan kami menghadapi terlalu banyak hal hari ini.

Aku butuh istirahat.

“Ayo, aku temani kau ke tenda.” kata Baekhyun, dia kemudian berdiri dan mengulurkan tangannya padaku, membantuku berdiri sebelum dia membimbing langkahku menuju ke arah beberapa tenda yang sudah kami dirikan tadi sebagai tempat peristirahatan sementara.

Aku ingat, Chanyeol katakan kalau kita harus terlihat sealami mungkin, tidak akan ada yang mencurigai orang-orang yang berkemah, jadi Chanyeol menolak dengan tegas ide Baekhyun tentang tidur di dalam van.

Selain itu, Chanyeol katakan dia juga memikirkan keadaanku. Tubuhku mungkin akan merasa tidak nyaman jika harus tertidur di van yang sempit.

“Kau bisa tidur sendiri? Atau aku perlu mengawasimu di sini sampai kau terlelap?” tanya Baekhyun saat kami sudah sama-sama masuk ke dalam tenda.

“Temani aku sebentar, kumohon.” aku memang masih merasa takut, karena malam hari identik dengan pembersihan, dan aku tak ingin tertidur dengan hati tidak tenang. Baekhyun tidak akan berbuat apapun padaku, aku tahu itu.

Jadi tidak ada salahnya kalau aku meminta Baekhyun untuk menemaniku.

“Baiklah.” Baekhyun berkata, dia kemudian duduk di dekat pintu masuk tenda, sementara aku mengikutinya, duduk di sebelah Baekhyun selagi menunggu kantuk mendominasi.

“Tanda vitalmu tidak stabil lagi, Yeri.” Baekhyun berkata, aku sendiri memilih bungkam. Bukan salah tanda vitalku, tapi aku memang tengah memikirkan tentang apa yang Chanyeol ceritakan tadi, tentang keadaannya dan Jennie yang begitu bertolak belakang dengan apa yang kubayangkan mengenai hubungan seorang Humanoid dan manusia.

“Chanyeol dan Jennie benar-benar terlihat sempurna.” Baekhyun menatapku ketika aku tiba-tiba saja bicara. “Apa maksudmu?” tanyanya.

“Maksudku, Jennie dan Chanyeol terlihat seperti pasangan sungguhan. Padahal mereka berbeda. Kontak fisik yang mereka lakukan juga begitu alami. Diam-diam, aku merasa iri pada mereka.” akhirnya aku mengaku, percuma terus-terusan membohongi Baekhyun jika semua perubahan pada tanda vitalku akibat berbohong bisa diketahuinya dengan mudah.

“Ah, jadi hal itu yang membuatmu tidak tenang sejak berada di Arizona?” sudut bibir Baekhyun terangkat sedikit, membentuk sebuah senyum samar.

“Ya, kau terus menanyaiku, dan mengatakan tanda vitalku tidak stabil, jadi aku tidak punya pilihan lain selain mengatakannya.” ujarku, separuhnya kesal karena Baekhyun selalu bisa menyudutkanku dengan kalimat-kalimat jeniusnya sebagai seorang Humanoid.

“Sebenarnya, tidak ada yang begitu menarik dari hubungan mereka. Semua Humanoid punya kemampuan seperti Chanyeol—kau tahu maksudku, menarik pasangannya secara seksual—tapi Jennie sudah cukup umur. Sedangkan kau tidak, Yeri. Kau masih terlalu muda untuk mengalami itu semua.

“Dan setelah chipku terlepas, sebenarnya aku jadi sama ‘liar’-nya dengan Chanyeol saat dia pertama kali dihidupkan. Aku menahan diri, dari keinginanku untuk melakukan kontak-kontak fisik semacam itu denganmu, karena aku tidak mau kau terluka secara mental. Dalam pandanganku, kau masih begitu muda.”

Aku yang ikut dengannya kemana pun dan juga mengalami semua hal seperti ini Baekhyun katakan sebagai seseorang yang masih terlalu muda? Apa dia sedang bercanda?

“Aku bukan anak kecil, Baekhyun. Usiaku sudah lebih dari delapan belas tahun dan aku sudah bukan lagi seorang anak kecil.” sanggahku membuat Baekhyun tertawa pelan. Entah apa yang sedang dia pikirkan sekarang, tapi jelas-jelas dia tidak lagi memandangku dengan cara yang sama.

Bisa kulihat bagaimana nano silvernya bergerak cepat, berpendar lembut sebelum Baekhyun bergerak dengan sama cepatnya, menyudutkanku sekaligus menarikku ke dalam rengkuhannya.

Tidak, ini tidak baik. Jantungku bekerja tidak normal sekarang karena jarak kami terlampau dekat!

“Apa yang kau lakukan?” tanyaku, terdengar bodoh sebenarnya, karena jelas dalam jarak sedekat ini, dalam pencahayaan seminimal ini dan setelah semua pembicaraan yang sudah kami lakukan barusan, aku seharusnya bisa menebak dengan mudah tentang apa yang Baekhyun sedang lakukan sekarang.

“Kalau kau katakan kau bukan lagi anak kecil, maka aku tidak perlu lagi repot-repot menahan diri dan menahan keinginanku, bukan?” vokal husky Baekhyun masuk ke dalam pendengaranku dengan cara kelewat menggoda.

Aku tidak bisa. Oh, Tuhan. Aku menyesal karena sudah mengatakan hal yang seharusnya tidak aku katakan. Tapi ya, satu sisi hatiku justru berkhianat. Satu sisi hatiku teramat senang karena tindakan Baekhyun sekarang.

Sungguh lancang.

Tidak lantas menjawabku, Baekhyun justru mendekatkan dirinya ke arahku, ibu jari dan jari telunjuknya sekarang bergerak menyentuh daguku, menarik pandangku untuk beradu dengan sepasang kilatan nano di dalam maniknya yang dalam jarak sedekat ini entah mengapa makin membuat jantungku melompat tidak karuan.

Rupanya, Baekhyun juga mendengar jelas gemuruh jantungku. Sehingga dia sekarang bisa tersenyum, puas ternyata dia setelah berhasil mengetahui bagaimana keadaanku karena tindakannya.

Dengan lembut, Baekhyun bergerak mengikis jarak, membiarkan permukaan kulit kami bersentuhan dan membakarku. Tiap inci kulitku yang bersentuhan dengannya serasa terbakar. Entah sejak kapan, London yang seharusnya dingin justru terasa begitu pengap dan panas.

“Kau tahu, aku juga bisa jadi seorang Humanoid dengan libido yang tinggi, Yeri-ah.”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

IRISH’s Fingernotes:

Ada kabar bahagia buat kalian: One and Only akan berakhir di chapter 27. MEMBAHAGIAKAN BUKAN? YAAMPUN AKU BAHAGIA SEKALI. AKHIRNYA FANFIKSI LUMUTAN INI BISA END JUGA. Ini sumpah aku ngetik fingernotes di tengah euforia karena cerita yang sudah aku simpen rapet-rapet di dalem folder dan seringkali aku kacangin ini pada akhirnya mencapai titik akhir juga.

Jangan sedih karena aku nyelesein semua fanfiksi berchapterku. Karena pada akhirnya semua fanfiksi itu harus berakhir. Dan targetku, begitu tahun baru tiba semua fanfiksi garapanku harus selesai tanpa adanya hutang-hutang yang berarti—apaan banget.

Jadi, lebih cepat lebih baik ya.

Terus kabar bahagia kedua adalah: aku sudah menemukan ending sempurna buat cerita ini. Berhubung aku sudah lembur demi nggarap storyline sesingkat-singkatnya dan harus selesai, jadi alhamdulillah enggak berat buatku ngebikin akhir yang cukup memuaskan.

Memuaskan buat aku, enggak tau buat kalian sih, LOLOLOL.

Nah, karena aku bahagia jadi aku enggak mau banyak bercuap-cuap. Empat chapter lagi menuju sebuah ending. Apa kalian enggak mau berbahagia bersamaku? :’>

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

21 tanggapan untuk “One and Only – Slice #23 — IRISH’s Tale”

  1. pas kai & joy prtm muncul aga bingung, kyny di rombongan baek ga da mrk di chptr sblm’ny, cb bc lg, oh trnyt 2 pmrn br tu bawaan phk musuh, pantes, cz ga bc ulang chptr sblm’ny, ckp bc cuplikan paling atas di awal chptr ni bs lngsng msk ke zone oao wlw dah lama bgt ga maen2 ke exoffi.
    aga ga sreg gt sih pasangan sehun disini pndh tbh ke so2k joy cz di RV cm bs nrima so2k yeri ja, tu jg krn lbh dulu bc oao nya irish ni. sjak cf sehun sm iren dulu tu lngsng ga sk sm RV -_-
    ho, trnyt dr sjak chip’ny hncr tu baek trus ‘menahan diri’ ke yeri toh ^^ ku bahagia bakery couple ni pny moment romantis di dlm tenda. smngt bwt namatin smua ff nya & mulai project baru on d’upcoming year..

  2. duh baek,,jangan blak-blakan juga bilang libido tinggi baek…ujan nee baek…
    ah irish mah gitu lagi mau hot-hotnya diputus hahhahahahahahah,,rada sedih bahagia denger ne ff mau berakhir,,tapi masih banyak ff irish yang lain yang harus dbaca ye kannn 🙂

  3. Salah gak sih ini baver sma robot yang bentuknya cem Baekhyun? Yeri apa kabar masih bisa nafas gak?😋 Huhhu antara syedih dan senang deh FF ini mau ending😭😁 Keep writing rish!!💪💪💪

  4. Apa ini??? Kok dag dig dug nya itu pas sehun sama yeri barengan 😅 tapi fingernotes kali ini malah bikin ngebayangin ending nya gmn 😌 apa pun ending nya bakal di coba buat menerima deh soalnya akhirnya kan ga bisa di ubah lg

    Mangat author-nim 💪

  5. wahhh kak irish… Yang akhirnya bikin aku senyum senyum sendiri baca chapter ini. Betewe aku juga ngikutin terus one and only dari awal. Daebak lagi, kak irish tuh dikasih makan apa kak sama emak, ntar aku minta ke mak ku biar bisa bikin ff yg sama daebaknya kek kak irish :v. Yang springflakes jg ditunggu kak.. Wahhhhh pkok nya jjang deh

  6. Yah kok ‘tbc’ nya muncul pas lagi dag dig dug nunggu apa yg bkl dilakuin baek..Irish ih kamu bikin aq galo deh..hehehe gak ding ….27 udah tmt ya..berarti 4 chapter lg dong..huhuhu…bakal terus ngulang baca nih ff dari awal kalo kangen momen baek-yerii…btw kamu udah mendingan??jaga kesehatanmu ya…tetap semangat Irish…

  7. kau sungguh lancang mas be, ini anak orang kok sering di bikin baper mulu T_T ndak di sini,ndak di springflakes dan baru tadi pagi aku baca game over eksistensimu tu selalu bikin aku terbuai T_T efek virus game over di tambah one and only sudah bisa di pastikan, aku berbaper baper ria di kerjaan tadi malam kebayang² tbcnya yang bikin gregetan 😀

  8. Hahaha,,, itu kog langsung bersambung sihhh! Padahal adegannya lgi anget2 loh itu,mna belum nyampe lgi #pikiranyadong owh-owh ternyata selama ini baek cabe mnahan hasrat mnusianya yah,,,😂😂

    Yaa ada rasa sedih harus di tinggal sma yeri dan baekhyun..

    Rish mau nanya,, ff mu yg DREAM udh end??di stop?? Atau dilupakan??,, al.a ff itu aku blum baca smpai ending dan pnasaran sma endingnya..

    Hwaiting Rhis😎💪💪

  9. Oh astagah naga ka irish :”v
    ada rasa seneng bercampur syedih terharu ❤
    udah kangen sama humanoid kesayanganku xD dan skrg ka irish bwain humanoid polos aku ;"v
    makasih ka irisheuuu /chuuu
    Yeri manusia yang berkualitas/? Kalo ka irish manusia apa ka? Dan aku juga apa? /terangkanlah
    type humanoid sekeren itu ya ka ;v kalah nh kayanya para manusia ka rish wkwkw
    duh duh yeri.baekhyun mau apa di dalem tenda ;"v
    gasabar nunggu ch24nya ka rish ❤ ❤
    makin seru nih ceritanya ❤
    aku mau kok bersenang" breng ka rish xD
    ditunggu next chnya ka rish ❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s