GAME OVER – Lv. 25 [Invisible`s Memories] — IRISH

G    A   M   E       O   V   E   R

‘ Baekhyun x Jiho (known as HongJoo) ’

‘ AU x Adventure x Fantasy x Romance x Science Fiction ’

‘ Chapterred x Teenagers ’

‘ prompt from EXO`s — Can`t Bring Me Down & EXO CBX`s — Crush U

Game Level(s):

ForewordPrologue A SidePrologue B Side — [ Level 1Level 10 ] — Tacenda CornerEden’s Nirvana — [ Level 11Level 20 ] — Royal ThropeLevel 21Level 22Level 23Level 24 — [PLAYING] Level 25

Even if everyone goes crazy

The world has changed tonight

2017 © GAME OVER created by IRISH

♫ ♪ ♫ ♪

Level 25 — Invisible`s Memories

In Jiho’s Eyes…

“Ini yang kau maksud dengan identitasmu?”

Aku berdiri di tengah Eden’s Nirvana sekarang, sendirian. Sejak menggunakan amulet Baekhyun dan menjadi seseorang yang berada dalam mode invisible, Baekhyun justru menghilang.

Tidak, maksudku, dia katakan bahwa dia ada di sebelahku, tapi aku sama sekali tidak melihatnya. Dia menyahuti voice chat dariku, tanpa aku tahu di mana dia berada sekarang.

“Aku di sebelahmu,” kudengar Baekhyun menyahuti chat dariku.

“Di sebelahku? Tapi aku hanya berdiri sendiri dan—ugh! Sudahlah, Baekhyun aku menyerah. Aku tidak menginginkan mode invisible kalau aku tidak bisa melihatmu.” aku akhirnya mengembuskan nafas panjang, kulepaskan amulet milik Baekhyun—sebuah amulet berbentuk kalung—sebelum aku akhirnya duduk di atas rerumputan Eden’s Nirvana.

Baekhyun tertawa pelan sebagai sahutannya terhadap chatku, sementara perlahan kulihat bagaimana amulet di tanganku bergerak pelan. Kuikuti pergerakan amulet tersebut, dan perasaan lega tanpa sadar muncul dalam benakku begitu kulihat bagaimana sosok Baekhyun perlahan muncul.

“Kupikir kau akan menyukai mode invisible.” kelakarnya santai, rupanya dia duduk di hadapanku. “Bagaimana aku bisa menyukainya jika kau berkeliaran di sekitarku seperti hantu?” sahutku ringan.

Baekhyun lagi-lagi tertawa pelan, lantas dia kemudian menarik dan mengembuskan nafas panjang selagi maniknya mengawasiku.

“Aku dulu seperti ini, saat pertama kali bertemu denganmu.” tutur Baekhyun.

“Bukankah kita bertemu pertama kali saat—ah, ya benar, kau katakan kita sudah pernah bertemu beberapa kali di turbulence juga custom match.” kataku mengingat-ingat konversasi ringan yang pernah kubicarakan dengan Baekhyun.

“Hmm, ya, benar. Tapi masih ada satu momen yang tidak kau ingat. Dan saat itu… aku ada dalam wujud seperti tadi, benar-benar tidak terlihat.” ia menjelaskan.

“Dan kau mengingatku? Bagaimana bisa? Apa semua NPC memang diciptakan sepertimu, Baekhyun?” aku semakin merasa penasaran. Kemandirian berpikir yang dimiliki para NPC di dalam permainan ini terlalu tidak masuk akal dan tidak bisa diabaikan.

Selama ini apa saja yang programmer mereka kerjakan? Mari lupakan tentang Johnny yang merupakan salah satu programmer WorldWare tapi hobinya adalah online di dalam game ini dan bahkan tidak sadar kalau NPC-NPC dalam permainan ini telah jadi benar-benar hidup.

Meski terlihat begitu keren, Johnny ternyata bodoh juga.

Lalu bagaimana dengan programmer yang lain? Apa tidak ada staf yang berkewajiban mengecek maintenance pada game? Atau tidak ada yang merasa adanya kemiripan-kemiripan ID NPC mereka dengan player yang tiba-tiba saja sudah berada di rank teratas?

Atau mereka pikir semua itu kebetulan saja? Apa… mereka benar-benar sama sekali tidak tahu menahu?

“Kau… adalah ingatan pertamaku.”

Lamunanku sontak terpecah begitu kudengar vokal Baekhyun masuk dengan cara yang begitu aneh, maksudku—ia seolah bicara sembari mengenang sesuatu. Dan hal ini aneh, dia tidak seharusnya begini.

“Bagaimana bisa aku jadi ingatan pertamamu?” tanyaku, tak ayal Baekhyun berhasil memancing rasa penasaranku, lagi.

Baekhyun terdiam sejenak, mengulum senyum sebelum dia dengan tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya, dengan cuek dia menjatuhkan tubuh di sebelahku, dia letakkan kepalanya di atas pangkuanku, selagi jemarinya meraih jemariku.

“Apa-apaan ini?” kataku tidak terima. Hendak kutepis tangan Baekhyun dan ingin kuusir dia dari pangkuanku tapi Baekhyun justru menahanku lebih kuat. “Anggap saja ini upah atas cerita yang akan kuceritakan padamu. Bukankah kau sangat penasaran tentang kami semua?”

Mendengar perkataan Baekhyun, aku akhirnya bungkam juga. Dia memang selalu bisa memenangkan argumen, dan pandai membuatku terjebak dalam kalimatnya. Dan ya, bungkamnya aku sekarang adalah bukti kalau aku telah kalah telak darinya.

“Baiklah, hanya sampai ceritamu selesai.” tandasku sementara Baekhyun memainkan jemariku satu persatu, tatapannya sekarang tertuju pada kuku-kukuku yang tiap ujungnya berhias cat kuku berwarna biru laut, senada dengan pakaian yang kukenakan.

“Banyak hal sudah terjadi pada kami, beberapa bisa kami ingat dengan baik, beberapa lagi tidak bisa. Begitu prototype dari tempat ini diciptakan, beberapa kali kami sempat mendapatkan kesadaran.

“Kebanyakan terjadi karena tindakan orang-orang yang ahli dalam dunia cyber, yang begitu ingin tahu tentang apa yang ada di dalam tempat tinggal kami dan bagaimana wujud kami. Salah satunya adalah Epic-T.

“Dia telah mengubah prototype-ku saat dia membuatkanmu pintu masuk ke dalam tempat ini, beberapa bulan sebelum demo version berlangsung. Kau tidak ingat? Saat kau masuk ke dalam sebuah stage, sendirian, kau berkata bahwa stage yang kau masuki tidak bisa kau akses.

“Padahal, aku ada di sana saat itu. Mengawasimu, merekammu sebagai ingatan pertamaku. Orang yang bertanggung jawab atas kesadaranku, sekaligus seseorang yang telah membuatku keluar dari tempat seharusnya aku berada.”

Aku terdiam sejenak setelah mendengar penuturannya. “Apa maksudmu? Memangnya, apa yang sudah aku lakukan?” tanyaku dijawab Baekhyun dengan sebuah senyum simpul. “Kau membangunkanku, Jiho.”

Apa maksudnya? Aku sudah membuatnya mendapatkan kesadaran saat aku masuk ke dalam WorldWare sebelum—ah.

“Apa itu… saat Taehyung meretas file prototype?” aku kemudian teringat, pada saat pertama kali aku mendapatkan file permainan ini dari Taehyung di sebuah flashdisk, membuat akun dan berusaha untuk login tapi tidak berhasil.

Taehyung kemudian melakukan peretasan di sana-sini pada command prototype tersebut selama beberapa jam dan akhirnya aku bisa melakukan login.

“Benar, aku ingat saat itu aku masuk ke dalam stage asing yang tidak bisa kuingat. Tapi bagaimana bisa tindakan Taehyung memengaruhimu? Maksudku, file prototype itu dan file asli game yang dirilis berbeda.” sangkalku, meskipun aku tidak memahami banyak hal tentang game ataupun programnya, tapi setidaknya aku bisa menyusun benang merah dari penjelasan Baekhyun dan mosaik ingatanku.

“Memang, file kedua prototype itu berbeda. Tapi kami sama, tidak berubah. Dan kami hidup di tengah sistem yang selalu terbangun—sistem online.” Baekhyun tersenyum simpul, seolah jawaban singkatnya bisa membuatku memahami apa yang tengah berusaha ia sampaikan.

Dan ya, aku memahaminya sekarang. Baekhyun, Wendy, dan NPC-NPC lainnya, mereka semua hidup di tengah-tengah sistem online game ini. Permainan ini tidak pernah tidur, sejak demo version di awal dulu, maupun saat Taehyung meretasnya.

Jadi Baekhyun katakan kalau mereka semua bisa berada dimana pun asalkan ada sistem online, bukan?

“Lalu apa maksudnya dengan kau keluar dari tempatmu seharusnya?” tanyaku, kembali pada perkataan Baekhyun tadi, dia sempat mengutarakan bagaimana aku telah membuatnya keluar dari tempat tinggalnya, Eden’s Nirvana.

“Ah, itu karena temanmu meretas sistemku, jadi saat aku keluar dari Eden’s Nirvana, selama beberapa waktu aku tidak bisa mengaksesnya kembali. Aku berkeliaran di dalam game, mencari DPS dan menaikkan rankku dengan melatih kekuatanku bersama dengan NPC yang lain.

“Sekarang, kau mengerti kenapa aku bisa ada di rank nomor satu, bukan? Aku bukannya diciptakan sebagai rank nomor satu. Tapi aku melatih diriku selama beberapa bulan yang kuhabiskan dengan terbangun sendirian di tempat ini.

“Kemudian saat versi percobaan di rilis, aku mengalahkan cukup banyak player pemula dan menaikkan rankku lagi. Jadi saat permainan ini benar-benar diresmikan aku tidak begitu kesulitan mendalami peranku sebagai seorang villain.

“Kalian lah, yang kesulitan menghadapi seorang villain terlatih sepertiku.”

Aku mengerti, aku sungguh mengerti. Baekhyun menjadi rank pertama bukan semata-mata karena dia diciptakan sebagai seorang NPC, tapi karena dia punya lebih banyak waktu dibanding semua orang untuk melatih dirinya. Dia benar-benar mendapatkan rank itu dengan usahanya sendiri.

“Saat kau menciptakan turbulence, apa itu bagian dari keinginanmu sebagai villain?” kemudian aku bertanya hati-hati. Mengingat bahwa Baekhyun adalah seorang NPC—terutama villain—dia pasti masih punya komando awalnya untuk membunuh semua player.

Seperti yang terjadi pada Wendy saat pertama kali bertemu denganku.

“Bisa dikatakan begitu. Sebagian besar karena keinginanku sebagai villain. Tapi seiring berjalannya waktu, aku bisa memahami kalian dengan cara yang lebih baik. Ada bagian dari kalian yang menginginkan kekuasaan, dan aku sangat tidak suka pada mereka semua.

“Kau telah salah paham padaku, Jiho. Aku bicara soal apa yang kau lihat dan kau dengar saat aku membantu Chen. Aku bukan seorang pembohong, dan Chen memang rivalku di dalam permainan ini. Dia seharusnya menjadi villain utama yang harus kau kalahkan di mode lama untuk menyelesaikan permainan.

“Tapi, aku tidak bisa membiarkan siapapun keluar dari permainan itu dengan cara yang mudah. Maksudku, apa yang akan terjadi pada kami jika semua player pada akhirnya meninggalkan permainan ini?

“Jadi aku melakukan sabotase pada Chen, dia kukalahkan di mode lama, sehingga aku jadi satu-satunya player yang sudah menyelesaikan mode lama, sementara semua orang masih berkeliaran mencari villain.

“Jangan kau pikir setelah mengalahkan Chen lantas aku mendapatkan posisi yang dimilikinya. Aku tetaplah seorang villain yang seharusnya mendekam di Eden’s Nirvana. Absennya Chen dari mode lama hanya sebuah penundaan, karena selain aku… ada orang lain yang juga tidak ingin permainan ini dihentikan.”

Susah payah aku berusaha memahami apa yang Baekhyun jelaskan sekarang. Dia katakan, dia adalah rival Chen, karena dia—dari yang kutangkap—mungkin memiliki setidaknya sedikit rasa iri pada Chen yang diciptakan sebagai seorang villain utama, Black Radiant.

Lantas, setelah mengalahkan Chen, Baekhyun seperti berada di atas awan. Tidak adanya villain utama di dalam WorldWare tentu saja menjadi masalah, karena tidak seorang pun dari kami bisa menyelesaikan permainan itu dan meninggalkannya.

Yang ada, permainan itu jadi semakin adiktif. Dan Baekhyun menyukai situasi itu, dia suka ketika ada orang-orang lain di tempat yang ditinggalinya. Karena, jika semua orang berhasil menyelesaikan WorldWare, Baekhyun akan berada di sana sendirian, bersama para NPC. Mereka tak akan punya kehidupan yang menyenangkan dalam sudut pandang mereka.

Tapi jika aku pikirkan lagi, tidak mungkin programmer permainan ini tidak menyadari kalau NPC-nya menghilang. Maksudku, apa mereka tidak mempertanyakan kemana perginya sang villain utama? Apa ini yang Baekhyun maksud sebagai adanya ‘orang lain’ yang juga menginginkan hal ini terjadi?

“Menurutmu pencipta permainan ini juga tidak ingin semua orang menyelesaikannya, begitu?” tanyaku akhirnya setelah terdiam beberapa saat. Aku tidak bisa lekas menyahuti penuturan Baekhyun, karena penjelasannya benar-benar membutuhkan pemikiran yang matang.

Sebagai NPC, kuakui Baekhyun luar biasa jenius. Apa saja yang sudah dipelajarinya selama dia hidup mengelana tanpa Eden’s Nirvana?

“Ya, kurang lebih seperti itu maksudku. Kalau bukan dia yang menciptakan kami, mungkin orang lain. Yang jelas, kau dan aku sama-sama tidak tahu apa yang mungkin ada di balik permainan ini, bukan?

“Wendy memberitahuku, dia bertemu dengan creatornya, dan juga Chen—karena Wendy dan Chen adalah dua NPC yang diciptakan oleh satu orang yang sama. Tapi, orang itu bahkan tidak tahu jika Chen sudah dijadikan villain utama.

“Ini aneh, maksudku… kadang aku juga bertanya-tanya, apa aku benar-benar terbebas karena ulahmu dan Taehyung? Atau karena hal lain? Aku tidak bisa mengetahuinya karena aku ada di dalam sini. Tapi mungkin, kau bisa mengetahuinya Jiho.

“Bukankah kau bekerja di perusahaan yang mengembangkan permainan ini? Siapa yang tahu, kalau kau mungkin bisa tahu permainan apa yang sedang disembunyikan di balik permainan ini.”

Benar, ucapan Baekhyun benar juga. Karena bekerja dengan Taeil dan yang lainnya, aku jadi mengenal Johnny—yang ternyata merupakan salah satu programmer game ini dan anehnya juga tidak tahu kalau ada yang salah dengan WorldWare.

Kemudian dari yang aku ingat, Taeil pernah berkata jika tim yang dipimpin oleh Johnny akan mengembangkan versi terbaru dari WorldWare. Artinya, akan ada prototype baru lagi. Sedangkan kesalahan pada NPC di sini sudah ada sejak prototype lama diciptakan.

Seseorang pasti telah berbuat sesuatu di sini. Bukan hanya karena ulah Taehyung saja. Karena jika semua ini semata-mata karena ulah Taehyung, seharusnya hanya Baekhyun saja yang terpengaruh, tidak dengan yang lainnya.

Tapi hampir semua NPC di sini kuyakini punya kesadaran yang sama. Mereka semua bisa berpikir dengan cara yang serupa dengan kami. Mereka bahkan sadar jika mereka hanyalah karakter fiktif yang diciptakan manusia.

Kejahatan sempurna macam apa yang sedang disembunyikan NG Game Factory di dalam WorldWare?

“Melihat ekspresi seriusmu sekarang, aku yakin kau sudah mengerti. Jadi aku tidak lagi perlu menjelaskan padamu tentang alasanku membantu Chen, bukan? Kurasa kau sudah mendengar garis besarnya tadi, bahkan mengalaminya.

“Kau bisa benar-benar terluka di dalam permainan ini, Jiho. Bahkan, bisa terbunuh. Kami semua sudah tahu itu, dan itu juga yang jadi alasan mengapa seorang villain diciptakan lebih kuat daripada player.

“Karena kami seharusnya yang menciptakan sebuah game over pada kalian. Keberadaan playerplayer seperti White Town, maupun House of Zeus, mereka semua yang dengan cara apapun berusaha membunuh player di sini tanpa tahu side effect yang akan terjadi, harus kami hentikan.

“Jadi aku membantu Chen. Mengapa? Karena Chen adalah satu-satunya jalan keluar kalian dari permainan ini. Jika kami—para NPC—sudah berhasil membuat kalian semua game over dan mensummon kalian kembali, tidak akan terjadi apapun pada kalian.

“Dan untuk keluar dari permainan ini, kalian harus mengalahkan Chen. Meski aku tidak benar-benar yakin, tapi kurasa seseorang sedang merencanakan pembunuhan massal dengan menggunakan permainan ini. Itu juga alasanku mengatakan bahwa permainan ini berbahaya buatmu, Jiho. Kau bisa terluka. Aku memang bisa mensummonmu kembali. Tapi apa yang akan terjadi jika kau terlalu sering kusummon? Orang itu mungkin akan menyadari ada yang aneh denganmu.

“Aku tak ingin siapapun membahayakanmu, dan seperti ucapanku tempo hari, aku tidak akan membiarkan siapapun melukaimu di dalam permainan ini. Kalau pada akhirnya kau harus menghadapiku, aku akan dengan senang hati membiarkanmu membunuhku, Jiho.”

Aku terdiam. Penjelasan panjang Baekhyun kali ini menarikku pada sebuah memori tentang konversasi kami tempo hari. Mengenai bagaimana Baekhyun dan aku berdebat tentang siapa yang akan mengakhiri kehidupan siapa.

Saat itu aku masih begitu tolol karena mengira bahwa semua ini hanya tentang perasaan semata. Tapi ternyata tidak. Baekhyun sudah mempertimbangkan hal ini akan terjadi, sehingga dia memperingatiku.

Karena terlalu banyak terlibat dengannya, aku justru terseret makin jauh dan makin banyak mengetahui tentang hal ini. Bukan salah Baekhyun, aku tak ingin menuduhnya sebagai penyebab dari terlibatnya aku, atau ketakutanku karena teringat pada tanganku yang terpotong karena ulah Baekhyun juga.

Dia sebenarnya sudah berusaha menghentikanku.

“Baekhyun, kenapa tidak kau bunuh saja aku sekarang? Maksudku, kita sudah berhadapan, kau bisa menyembunyikanku di manapun di dalam permainan ini setelah kau mensummonku kembali. Kenapa… kau malah memilihku untuk mengalahkanmu?”

Baekhyun, menatapku sejenak sebelum dia mengembuskan nafas panjang.

“Kalau kau terbunuh, apa yang akan terjadi pada player lain di sini, Jiho? Tidakkah kau ingin membantu mereka juga? Saat ini, kau satu-satunya orang yang sudah paham benar tentang situasi yang ada.

“Kau satu-satunya player yang bisa kami harapkan untuk membantu. Bukankah sudah kukatakan aku akan menjamin keselamatanmu selama kau ada di sini? Tadi, kau juga hendak membantu.” tuturnya, lembut, tidak ada paksaan dalam vokalnya meski aku tahu Baekhyun pasti paham benar bagaimana enggannya aku untuk berada di dalam permainan ini sekarang.

Baekhyun benar, peringatan tak langsung yang sudah diutarakannya padaku, semuanya benar. Permainan ini berbahaya, tempat ini mengancam nyawa. Tapi aku juga tidak bisa kabur begitu saja dan meninggalkan semua orang.

Taehyung, Ashley, mereka dua keluargaku yang harus aku selamatkan sebagai prioritas. Playerplayer lain juga begitu, bukankah aku akan jadi seorang pendosa jika aku membiarkan orang lain mati begitu saja padahal aku bisa membantu mereka?

“Tapi kau juga berusaha membunuhku. Maksudku, kau membuat tanganku terpotong. Apa kau tidak tahu bagaimana takutnya aku ketika terbangun di tengah-tengah survival tubeku yang berlumur darah?” pertanyaanku sekarang malah membuat Baekhyun mengulum senyum.

Lantas, kedua tangannya bergerak meraih tangan kiriku—tangan yang sebelumnya terpenggal dengan begitu mudahnya—sebelum Baekhyun mengusap pergelangan tanganku, lembut.

“Maaf soal tanganmu, tapi tidak ada cara lain untuk menyelamatkanmu saat itu, Jiho. Akan lebih mudah bagiku untuk memanggilmu kembali jika aku lah yang membunuhmu. Aku adalah seorang NPC, kau lupa?”

Ya, hampir saja aku lupa.

Pembicaraan kami sekarang sudah terlampau normal dan aku bahkan tidak lagi bisa membedakan Baekhyun dengan semua orang yang pernah aku ajak bicara. Malah, dia terlihat seperti seorang sarjana di luar sana yang bisa berkelakar dengan begitu tegas, yakin, dan punya pengetahuan luas.

Masa bodoh jika pengetahuan itu adalah tentang game. Toh, semua orang punya kepintaran dan keahliannya masing-masing. Orang-orang pintar tidak selalu berasal dari mereka yang ahli mengenai sains, bukan?

“Mau bagaimana lagi, kau juga pernah membunuhku menggunakan hades sword. Tangan yang terpotong bukanlah apa-apa.” kataku kemudian, berusaha mencairkan suasana karena ekspresi Baekhyun sekarang mengatakan tentang bagaimana khawatirnya dia tentang penerimaanku mengenai semua cerita yang telah diungkapnya.

Pada akhirnya, aku juga kembali terjatuh pada kalimat-kalimatnya. Aku mungkin sudah benar-benar gila, tidak—tidak hanya aku yang gila, tapi semua orang di dalam permainan ini telah berubah menjadi orang gila—apalagi jika mereka semua tahu tentang fakta mengerikan yang baru saja kudengar—tapi aku tidak peduli.

Pandanganku tentang dunia virtual ini telah berubah. Setidaknya malam ini, aku tahu aku tidak bisa menganggap remeh semua karakter fiktif yang ada di dalam tempat ini karena nyatanya yang sebenarnya mereka inginkan adalah keselamatan kami.

Dunia telah berubah malam ini. Batas tak kasat mata yang sebelumnya membatasiku dengan Baekhyun sekarang telah membaur. Aku memahaminya, dan dia juga memahamiku. Dengan adanya aku sebagai seorang player yang tahu tentang semua rahasia yang sudah Baekhyun simpan rapat-rapat, aku patut berbangga hati karena setelah ini Baekhyun maupun NPC lain mungkin tak akan menyembunyikan apapun dariku.

Aku mungkin bisa jadi orang pertama yang tahu tentang apa yang mereka pikirkan, yang hendak mereka lakukan, apa yang mereka inginkan. Dan aku tidak boleh egois, keinginan mereka saat ini sama pentingnya dengan keinginan di atas ketidak tahuan kami.

Hades sword adalah equipment pembunuh yang paling tidak menyakitkan, Jiho. Aku tahu kau sudah tahu tentang hal itu. Aku tidak berusaha membunuhmu saat itu, tapi aku berusaha merebut perhatianmu.”

Aku kini menatap Baekhyun saat dia kembali berucap. “Apa maksudmu?” tanyaku tidak mengerti. Tak langsung menjawabku, Baekhyun justru tersenyum, menenggelamkan sepasang manik kelamnya di balik senyuman lebar yang sekarang dipamerkannya. Sungguh, aku tak pernah melihat Baekhyun tersenyum seperti ini.

Dia jadi berkali lipat lebih sempurna daripada biasanya, sialan.

“Karena seseorang sudah membunuhmu dengan senjata paling tidak menyakitkan, semua orang jadi berpikir ada apa-apa di antara kau dan aku. Secara tak langsung, kau juga jadi menduga-duga hal yang serupa.

“Sehingga, kau mencariku. Bukankah itu yang terjadi? Pada akhirnya, usahaku untuk mendapatkanmu berujung pada keadaan kita saat ini. Kau adalah milikku. Dulu saat pertama kali kau masuk ke dalam tempat ini, keinginanku adalah menjadikanmu milikku—ralat, mangsaku, maksudnya.

“Tapi saat itu aku masih jadi seorang NPC bodoh yang tidak tahu apa-apa. Belakangan, saat menemukanmu kembali di tengah-tengah Enterprise, aku sadar aku lagi-lagi menginginkanmu. Bukan sebagai mangsa, melainkan partner.

“Dan lihat bagaimana keadaan kita sekarang? Aku benar-benar berhasil menjadikanmu sebagai milikku.”

Tanpa sadar, kalimat memabukkan yang Baekhyun utarakan berhasil membuatku tersenyum. Dia memang selalu pandai bermain kata, kuakui itu. Jika saja Baekhyun kuvisualisasikan sebagai seorang manusia, dia pastilah akan jadi seorang penyair, karena dia benar-benar berbakat untuk membuat jantung wanita melompat tidak karuan.

Atau hanya jantungku saja yang melompat kesana kemari karena kalimat-kalimat yang Baekhyun ucapkan? Tidak, tidak mungkin. Pasti wanita manapun yang mendengarnya akan merasakan hal yang sama.

Tapi lagi-lagi aku merasa tersikut karena ucapannya yang begitu terdengar realistis. Dipikir dari sudut pandang manapun, memiliki Baekhyun tidak akan membuat perbedaan padaku. Dia tetap jadi seorang NPC yang tidak bisa dimiliki.

Kalau diumpamakan sebagai ungkapan cinta, cinta ini bukannya cinta sepihak. Tapi, cinta ini tidak bisa direalisasikan. Tidak ada jalan bagiku maupun Baekhyun untuk benar-benar bersama. Dia mungkin tidak benar-benar punya perasaan, dan aku tak mungkin jadi seorang yang terlampau ‘gila’ karena jatuh cinta pada sebuah karakter fiktif.

Aku bukan lagi remaja berusia belasan yang berada dalam masa pubertas mereka sehingga dengan mudahnya bisa jatuh hati pada karakter fiktif yang sempurna.

Cinta ini tidak mungkin.

Hubunganku dan Baekhyun tidak masuk akal.

Aku tahu itu, tapi tetap saja aku berkeras untuk jadi tidak tahu diri. Sebab aku belum pernah merasakan kebahagiaan semacam ini saat bersama dengan pria lain. Kukesampingkan sejenak hubungan jarak jauhku yang bahkan… aku sendiri tidak tahu bagaimana wajah kekasihku itu karena kami secara tidak sengaja saling mengenal melalui situs kencan online dan berkencan melalui chatting saja.

Sejak awal, cintaku seringkali tidak masuk akal. Dan Baekhyun adalah ujungnya. Dia adalah cinta paling tidak masuk akal yang pernah aku alami. Ternyata, ada cinta yang lebih menyakitkan daripada cinta yang bertepuk sebelah tangan.

Mencintai seorang karakter fiktif, ternyata jauh lebih menyakitkan.

Tapi aku tidak mungkin menjelaskannya pada Baekhyun. Dia mungkin tidak akan mengerti, karena dalam sudut pandangnya, aku dan dia berada dalam dimensi yang sama. Berusaha menjelaskan situasi yang ada pada Baekhyun sama saja dengan berusaha memancing perdebatan lainnya di antara kami.

Dan untuk saat ini hal itu tidak seharusnya terjadi. Aku mungkin bisa memikirkan hal lainnya nanti, setelah aku keluar dari permainan ini. Mungkin juga, aku bisa mempertimbangkan untuk menghapus saja akunku dan melupakan Baekhyun. Meski rasanya akan menyakitkan, setidaknya mempersingkat tempo rasa sakit itu lebih baik daripada terlarut-larut di dalamnya.

Baekhyun memang sempurna, tapi dia tidak nyata.

— 계속 —

IRISH’s Fingernotes:

Ehem, ehem. Pertama, maaf dulu dong karena chapter ini lebih pendek daripada chapter-chapter sebelumnya. Diriku lagi kena demam huhu, ini efek karena ditugasin bakti sosial selama seminggu penuh dan akhirnya berujung bangun subuh pulang menjelang tengah malem terus. Badan ini akhirnya sampai di titik akhir pertahanannya.

Tapi yah, enggak apa-apa lah. Mengingat aku begitu banyak buka rahasia dan buka hati di chapter ini. Maksudnya, aku sudah buka hatinya Jiho, buka rahasianya Baekhyun, dll. Aku sudah super baik hati di sini.

Dan karena penjelasan di atas itu begitu rinci dan sejelas-jelasnya, anggaplah aku lagi sayang sama waktu dan kesadaran kalian. Karena memahami chapter ini mungkin akan sedikit lebih berat daripada chapter-chapter berikutnya. Sedangkan chapter ini akan jadi landasan teori untuk chapter-chapter berikutnya yang tentu akan membawa kalian pada kisah yang lebih melodrama lagi.

Ya iyalah, bukannya cinta bertepuk sebelah kaki, bukannya mencintai punyanya orang lain, Mba Jiho malah lebih gak realistis, cinta kok ya sama karakter fiktif, udah sejenis sama jatuh cinta sama karakter komik dong ya (kemudian digampar).

Terus ya, dengan memahami chapter ini kalian akan paham benar kalau menanyakan soal teori tentang NPC ini di chapter-chapter berikutnya akan ngebuat diriku gemes sama kalian dan mempertanyakan keabsahan memori kalian juga. Itulah pertimbangkanku saat ngebuat chapter ini lebih pendek daripada chapter lainnya.

Terakhir, aku mau klarifikasi sedikit aja. Kalau kesibukanku pasca kerja selesai itu sudah luar daripada biasa. Sudahkah aku bilang kalo dunia di zaman sekolah/kuliah itu jauh lebih menyenangkan daripada kerja? Fyi, aku berangkat jam tujuh pagi dan pulang sampe di rumah sekitar jam setengah sepuluh malem dengan pekerjaan masih menumpuk dan rasa lelah yang luar biasa.

Sampe di rumah aku cuma sempet mandi, sama cuci-cuci baju kalau ada cucian. Terus aku mengurung diri di kamar sampe kira-kira jam satu atau dua malem cuma buat ngetik fanfiksi, tidur beberapa jam dan bangun lagi buat ngelakuin rutinitas yang sama.

Lantas… dalam sekejap mata aku berubah jadi makhluk sombong yang tidak membalas komentar pembaca hanya karena hal itu? Ya sudahlah, manusia memang tempatnya salah. Aku nein aja biar palli.

Intinya, waktu senggangku cuma di hari minggu (itupun kalau enggak ada seminar atau jaga P3K yes) dan aku baru punya kesempatan di hari itu untuk balas semua komentar dari kalian satu persatu. Aku buka komentar dari pos-pos yang lama dulu, enggak lupa aku tulis ‘maaf baru bales’ udah kayak pacar atau gebetan kalian aja.

Jadi aku mohon dengan amat sangat, pahamilah kalau ngebales komentar kalian enggak semudah membacanya. Bacanya mah bisa aku curi-curi waktu satu-dua menit di tengah-tengah pelayanan waktu kerja, meski resikonya dikira main hape sama atasan, dll.

Kalian pengen aku update dua kali seminggu, pengen semua fanfiksi yang aku buat segera diupdate, dengan chapter yang panjang-panjang, tanpa paham kalau ngetik satu chapter panjang itu butuh sekitar dua sampai tiga jam, dan kalian masih menuntutku untuk membalas komentar kalian ASAP, kalo bisa semenit setelah kalian komentar, begitu? Ya sudahlah, enggak usah diinget-inget lagi. Akunya aja yang depresinya lagi kambuh.

Ya karena aku baik hati, biarlah jadi salahku aja sih. Memang aku salah ya, gapapa kok gapapa. Manusia tempatnya salah emang, ini adalah bukti otentik kalau aku masih jadi seorang manusia, bukannya alien. Enggak apa-apa, orang yang mengaku salah itu lebih baik daripada yang menyalahkan, kata guru PPKN zaman aku SD sih begitu, enggak tau valid enggaknya ajaran dia itu.

Sudahlah, daripada aku semakin baper karena memikirkan kalian, lebih baik aku udahin aja celotehan ini karena enggak berfaedah juga ya, wkwk. Sekali lagi, aku enggak ada niatan untuk menjudge subjek manapun, atau menyakiti kalian. Jadi, maaf sekali lagi kalau ada kalimat dalam celotehanku yang menyinggung hati kalian. Jangan lantas celotehan yang merupakan bagian dari uneg-uneg orang depresi itu bikin kalian berlarian dari fanfiksiku dan bertahan jadi siders lagi.

Aku selalu berusaha bales semua komentar dari kalian kok, meski terlambat. Katanya, terlambat lebih baik daripada enggak sama sekali, ‘kan? Fyi, aku juga tersakiti, hiks!

Kalau gitu, sampai ketemu di hari minggu ya!

Ps: aku sangat menghargai semua komentar yang sudah kalian berikan kok, dan aku sangat berterima kasih buat semua komentar itu, pendek maupun panjang. Jadi, jangan berpikir kalau aku berusaha buat jadi jahat ya… tenang aja, kalian bukan satu-satunya yang ngomel karena enggak aku bales-bales ungkapan hatinya, emak aku juga tiap hari ngomel karena WhatsApp-nya enggak aku bales, hueee.

Pps: setelah aku terbebas dari bakti sosial dan posyandu, inshaa Allah aku akan berusaha bales komentar kalian tiap hari atau secepat mungkin. Makasih, aku sayang kalian! Salam, Irish.

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

60 tanggapan untuk “GAME OVER – Lv. 25 [Invisible`s Memories] — IRISH”

  1. Hai kak btw aku readers ff sebelah aku komen disini karena ini ff pertama setelah mbak publish ff gidaryeo yang ke dua belas. Saya jadi tau mbak punya pekerjaan lain.. dan mbak lelah. Tapi sebagai fans ff gidaryeo yang datang ke ff ini buat komen aja sama baca fingernote nya kak irish.. saya mau nanya apa ff gidaryeo digantungkan atau apa ada chance mbak mau comeback lagi.. biar gak bingung kayak injung.. saya mau kepastian huhu.. please mbak
    Thanks.. moga nyampe dan mpga dibales mbak. Ff nya bagus banget sayang ke gantung.. btw mbak sehat kan mbak? Apa mbak memang mau berhenti? Post terakhir saya liat di sekitar akhir 2018 kalo gak salah.. yah mbakk. Kajima… tumben saya komen kayak gini. Only for you mbake.😃entah ini akan jadi apa. Komen panjang yang diabaikan atau komen yang membuat mbak irish balik. Saya gaada kalimat bagus amat untuk mendukung mbak. Fighting mbak

  2. Ka irish g bisakah baekhyun beneran hidup?? Aku sama temenku sampe ngeributin tentang sosok invisible black yg kelewat sempurna ini…
    Mungkin aku sama temen aku bakal ikutan kaya jiho 😀
    aku mau tau ka irish ini otaknya isinya apa sih? Ko bisa gitu bikin cerita serumit ini. Alurnya tuh perfect….
    Fighting kaa… Jaga kesehatan.. Semangat ya ka 🙂

  3. K irish g bisakah baekhyun beneran hidup?? Aku sama temenku sampe ngeributin tentang sosok invisible black yg kelewat sempurna ini…
    Mungkin aku sama temen aku bakal ikutan kaya jiho 😀
    aku mau tau ka irish ini otaknya isinya apa sih? Ko bisa gitu bikin cerita serumit ini. Alurnya tuh perfect….
    Fighting kaa… Jaga kesehatan.. Semangat ya ka 🙂

  4. Ini aku bener2 curiga kalau pembuat karakter invisible black adalah BYUN BAEKHYUN. kenapa? Nggak tau gimana njelasin. Pokoknya aku yakin aja.
    Dan pokoknya aku nggak mau tau kak irish….pembuat karakter itu harus Byun Baekhyun,karena seenggaknya baekhyun harus ada didunia nyata.biar baekhyun nggak selalu jadi makhluk astral di semua story kamu kak..(apaan sih maksa 😀 )
    Pusing aku tuh sebenernya.. masa iya tadi pagi pas nyuci baju,bawaannya kepikiran invisible black ama jiho mulu..padahal biasanya kalo nyuci aku nyambi nyanyi2 ga jelas..dan tadi pagi tanganku bergerak aktif ,tapi mulutku malah diem seribu bahasa gara gara otakku dipenuhi dengan fikiran tentang dua insan tidaknyata itu…(apaan ini.aku malah curhat)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s