[EXOFFI FREELANCE] Play(Boy) (Chapter 2 END)

|  PLAY (BOY)  |

| Oh Sehun & Hwang Mora |

| Byun Baekhyun, Ahn Hee Yeon (Hani EXID) |

| Jung Soojung [Krystal F(X)], Kim Jongin (Kai EXO), Lee Jieun (IU) |

| Romance x Drama |

| PG-17 | Twoshot |

2017 – Storyline by JHIRU H.

Aku sudah memutuskan saat aku memanggilmu

dan memberikan sebuah ciuman,

kau tidak bisa berhenti dalam permainan ini.

Prev : Teaser|Prologue|1

*warning : mature content akan ada banyak kata-kata kasar dengan

unsur dewasa bertebaran dalam fanfiksi ini.

*Hargai karya penulis dengan meninggalkan jejak di kolom comment

◦ ◘ ♯ ♯ ♯ ◘ ◦

—×◦ play(boy) ◦×—

In Author’s Eyes . . .

    Kepalanya serasa akan pecah, Hee Yeon tahu sejak tadi keadaannya sedang tidak baik. Tapi wanita itu tidak punya pilihan lain, Hee Yeon harus bertahan hidup.

“Hani, aku tidak membayarmu untuk duduk diam.”

    Pupil matanya bergerak, mencoba menatap pria yang berada di sebelahnya yang sejak tadi sibuk menggerayangi tubuhnya. Sungguh, Hee Yeon ingin segera pergi dari sini. Suara musik yang berputar keras menambah rasa sakit pada kepalanya, wanita itu membutuhkan pertolongan. Tapi siapa? Tak ada satupun orang yang ingin menolongnya.

    Untuk meminta bantuan pun, wanita itu tidak tahu pada siapa. Sehun tak berada di sini, pria itu sudah sangat jarang mengunjungi klub malam. Jika pun dia datang, Pemuda Oh itu pasti akan langsung mencari Hee Yeon.

“Maaf tuan, tapi wanita cantik ini lebih dulu bersamaku.”

    Terdengar suara yang sangat dia kenal, mata Hee Yeon membulat sempurna begitu mendapati Baekhyun yang sudah menariknya untuk mendekat.

“Tidak bisa! Aku sudah membayarnya,”

“Kalau begitu, saya akan mengembalikan uang anda dua kali lipat.”

    Baekhyun meletakkan cek di atas meja, lalu membawa Hee Yeon pergi keluar dari klub. Ketika mereka telah berada di dalam mobil, Baekhyun memaksa untuk mengantar wanita itu pulang ke rumah. Tapi dengan tegas, Hee Yeon menolaknya. Wanita itu tidak ingin berhutang budi pada Baekhyun.

“Akan kukembalikan uangmu,”

“Noona, sudah kubilang itu tidak perlu.”

“Kalau begitu, aku akan kembali ke dalam dan mengambil uangmu.”

    Hee Yeon baru saja akan membuka pintu mobil tapi dengan sigap Baekhyun menahannya, pria itu segera mengunci pintu mobil agar wanita itu tidak dapat melarikan diri. Hee Yeon sudah melarangnya, gadis itu meminta Baekhyun untuk tidak mencampuri kehidupan malamnya. Jadi, mereka berdua akan berpura-pura tidak mengenal saat bertemu di klub malam.

    Karena keberadaan Baekhyun merupakan bukti bahwa Hee Yeon punya sisi baik di dalam hidupnya, Mora dan Baekhyun menghargai wanita itu selayaknya manusia. Jadi, setidaknya Hee Yeon merasa ada hal lain yang dapat dia syukuri di kehidupannya ini.

    Baekhyun menghela napas, Pria Byun itu diam nampak sedang berpikir.

“Malam ini, noona harus menemaniku. Jadi, kita impas.”

    Mendadak, sakit kepala Hee Yeon menghilang. Wanita itu menjadi gugup sekarang, tapi dia juga bingung akan sikap Baekhyun. Pria itu tidak mungkin berselingkuh, bukan?

    Mobil Baekhyun membelah jalanan di malam hari, tak ada satupun suara yang keluar dari bibir mereka berdua. Sejujurnya, Hee Yeon masih merasa pusing tapi wanita itu tidak dapat menutup matanya. Dia terlalau gugup dan gelisah, sungguh! Dari semua lelaki yang membelinya, hanya satu yang tidak Hee Yeon inginkan yaitu Baekhyun.

“Apa noona masih tidak enak badan?”

    Hee Yeon tersentak, apa raut wajahnya terlihat jelas hingga Baekhyun bisa mengetahui keadaan Hee Yeon.

“Jauh lebih baik dari sebelumnya,”

    Lagi-lagi, hening melanda mereka. Hee Yeon tahu, situasi mereka saat ini sangatlah canggung. Tapi wanita itu sedikit bersyukur bahwa pria yang menolongnya adalah Baekhyun.

    Perlahan, mobil memasukki kawasan apartemen. Setelah mobil terparkir dengan rapi, Baekhyun mengajak Hee Yeon masuk ke gedung menuju apartemenya.

“Noona bisa meminjam baju Mora, aku akan memintanya untuk membuatkan sup hangat untukmu.”

    Hee Yeon mengernyitkan dahinya dan memandang bingung pada Baekhyun, apa Pemuda Byun ini menyuruh Mora datang saat tengah malam begini? Jika Sehun tahu hal ini, Baekhyun pasti sudah dihajar Tuan Muda Oh itu.

    Baekhyun membuka pintu apartemennya dan mempersilahkan Hee Yeon untuk masuk, meski ragu-ragu wanita itu tetap menginjakkan kakinya ke dalam apartemen. Hee Yeon pikir, ini pertama kalinya dia datang sendiri—Mora melarangnya ke apartemen Baekhyun kecuali jika Hee Yeon mengajak orang lain—dengan canggung wanita itu mengikuti Baekhyun berjalan ke kamar.

“Mora! Ada Hee Yeon noona, cepatlah keluar!”

‘Cklek’

    Mora keluar dari kamar tamu, gadis itu tersenyum senang begitu melihat Hee Yeon dan segera membawanya masuk ke dalam kamar.

    Hee Yeon menghela napas lega, lalu mengelus dadanya tanda bahwa ia benar-benar bersyukur. Mora yang hendak memberikan pakaian ganti pada Hee Yeon menatap heran pada wanita itu, setelah Gadis Hwang itu berpikir sejenak, kini Mora mengerti mengapa Hee Yeon merasa lega.

    Gadis Hwang itu menyuruh Hee Yeon berganti pakaian, sedangkan dia membuatkan teh hangat. Setelah mengganti bajunya, Hee Yeon hanya duduk termenung di ranjang ketika Mora datang membawa teh hangat dan sedikit kue, wanita itu memberikan senyum tipis.

“Aku dengar dari Sehun, eonni berniat menjual toko bunga.”

    Itu benar, Hee Yeon ingin mencoba hidup dengan baik. Wanita itu berniat menjual toko bunga peninggalan dari orang tuanya untuk melunasi hutang, tak ada gunanya dia mempertahankan toko jika hidupnya saja masih berantakan.

“Hm, aku mencoba untuk hidup dengan benar.”

“Apa ini karena Baekhyun? Eonni menyukai Baekhyun, bukan?”

    Hee Yeon terdiam begitu mendengar penuturan dari Mora, wanita itu diam tidak menjawab apapun.

“Tenang saja, aku tidak akan melarang atau mengatakan apapun. Itu hak eonnie, aku tahu selama dua tahun ini eonnie mencoba untuk menahan diri dan aku bangga akan hal itu. Eonnie tidak perlu rendah diri,”

    Wanita itu tersenyum mendengar ucapan Mora, awalnya dia sangat takut Gadis Hwang itu akan marah dan membencinya jika Mora tahu tentang perasaannya pada Baekhyun.

“Tapi, bukan berarti aku mendukung eonni. Bagaimanapun Baekhyun sudah punya Jieun,”

“Aku tahu itu,”

    Aroma hangat yang dihirup Hee Yeon dari teh buatan Mora membuat sakit kepalanya mereda, lalu wanita itu pelan-pelan meminum tehnya.

“Lalu bagaimana denganmu? Apa kau sudah memberitahu Sehun tentang rencana studimu?”

“Dua hari lagi, jika aku sudah mendapatkan pernyataan diterima. Baru, aku akan memberitahunya.”

    Mora tahu, Hee Yeon nampak tidak setuju dengan keputusannya. Dua tahun sudah berlalu sejak pertama kali Mora sepakat menjalin hubungan dengan Sehun, tapi Gadis Hwang itu tidak pernah membiarkan Sehun mengusik privasinya.

“Dengar Mora! Sehun tak pernah bermain dengan wanita lain lagi, dia datang hanya untuk minum. Sehun selalu mencariku ketika dia datang ke klub dan menjadikanku tameng agar wanita-wanita lain tidak mendekatinya, aku juga bersumpah! Bahwa aku dan Sehun tak melakukan apapun.”

    Gadis Hwang itu tersenyum geli mendengar ucapan Hee Yeon, Mora tahu Sehun tak pernah lagi melirik wanita di sekitarnya. Hanya saja, Mora tak pernah yakin perasaan Sehun untuknya.

“Eonnie, aku tak pernah yakin atas dasar apa seseorang menjalin sebuah hubungan. Baekhyun berkata itu karena rasa cinta, lalu Soojung mengatakan kesetiaanlah yang paling penting. Tapi kupikir, aku dan Sehun tak punya salah satunya. Kami nyaman satu sama lain dan saling membutuhkan, tapi kupikir itu tidaklah cukup.”

“Apa karena Sehun tak pernah mengungkapkan perasaannya? Kau tahu, Sehun bukanlah pria yang dengan mudahnya mengatakan hal itu.”

    Mora menggelengkan kepalanya, bukan! Bukan karena itu. Entah kenapa, Mora merasa Sehun hanya membutuhkannya untuk tetap di samping pria itu bukan untuk dicintainya.

    Hee Yeon mengakhiri konversasi malam itu dan menyarankan pada Mora bahwa dia dan Sehun harus membicarakan hal ini dengan baik-baik dan serius, karena menurut Hee Yeon mereka berdua sama-sama memiliki perasaan lebih. Hee Yeon juga mengatakan bahwa Mora harus membatalkan kesepakatan konyol yang mereka buat dan memulai hubungan mereka dengan cara yang lebih baik.

×◦◦×

In Sehun’s Eyes . . .

    Begitu pintu lift terbuka, dengan terburu-buru kulangkahkan kaki menuju apartemen Baekhyun. Secara beruntun bel apartemen Pemuda Byun itu kutekan, tak lama pemilik apartemen membuka pintu dengan tampang kesal.

“Hey! Tak bisakah kau bersabar,”

“Dimana Mora?”

    Kuacuhkan protes dari Baekhyun, lalu menerobos masuk tanpa izin. Mora di sana, gadis itu sedang duduk santai sambil menatapku dengan heran. Wah! Gadis ini sungguh tak berperasaan, setelah menipuku dia bahkan masih bisa duduk santai sambil menonton tv.

“Apa?”

    Itu kata pertama yang kudengar darinya, dahi Mora mengernyit masih menatapku dengan pandangan tak mengerti. Kesal! Tentu saja, kulemparkan sebuah amplop berwarna coklat padanya. Gadis itu menangkap dengan baik, lalu membuka isi amplop dan membacanya.

    Sesaat kemudian, Mora tersenyum senang hingga melompat-lompat kegirangan. Sial! Dia bahkan tak peduli padaku, gadis itu bahkan tak berniat menjelaskan apapun padaku.

“Tak ada yang ingin kau katakan? Seperti memberi penjelasan padaku,”

“Aku akan melanjutkan studiku di Cambridge,”

    Lucu sekali! Dia mengatakan hal itu tanpa merasa bersalah. Dipikirnya, aku tidak tahu isi amplop itu. Kenapa dia mengatakan hal yang sudah pasti kuketahui, Tentu saja! Aku sedang menahan amarah agar tidak meledak.

    Melihat situasi yang memburuk, Baekhyun meninggalkan kami berdua dan masuk ke dalam kamarnya. Kini aku mengambil tempat di sebelah Mora, menunggu penjelasan dari gadis itu.

“Setelah menipuku, kau masih bisa berteriak senang?”

“Aku memang berniat memberitahumu jika aku berhasil diterima, siapa yang memberikan amplop itu?”

    Diterima? Jadi, jika dia tak berhasil lulus berarti aku tak akan pernah tahu. Wah, luar biasa! Jika saja Soojung tak memintaku untuk memberikan amplop itu, mungkin hingga saat ini aku belum mengetahuinya.

    Tidak! Bukan ini yang menjadi permasalahannya, aku tidak peduli jika Mora memberitahuku atau tidak. Tapi bagaimana denganku? Apa gadis ini akan meninggalkanku begitu saja?

“Soojung yang memberikannya, apa kau sungguh akan pergi? Lalu bagaimana denganku?”

“Memangnya kenapa denganmu? Kita masih bisa berhubungan jarak jauh,”

    Aku terdiam, memikirkan ucapan Mora. Kenapa dia dengan mudahnya mengatakan hal itu? Aku membutuhkan gadis ini untuk tetap di sisiku, Mora selalu mengerti dan memahami keadaanku. Kupikir, aku tak bisa berada jauh darinya.

“Tak bisakah kau tetap di sini?”

“Apa kau mencoba untuk melarangku pergi? Itu mengusik privasiku, Sehun. Dan kau tahu, apa artinya itu?”

    Aku tahu! Aku sangat tahu, jika selama ini Mora tak benar-benar membiarkanku tahu tentangnya. Karena gadis itu juga tak berusaha mengusik apa yang aku lakukan, tapi aku dengan tangan terbuka memberi tahunya tentang urusan pribadiku. Jadi, aku tak bisa menyalahkannya.

“Katakan! Sejujurnya, apa aku bagimu?”

    Mora menghela napas, sesaat gadis itu menatapku dalam diam.

“Itu pertanyaanku, Sehun. Apa bagimu aku hanya seseorang yang kau butuhkan untuk memahamimu? seseorang yang bersedia memihak padamu apapun yang terjadi? Kau sama sekali tak mengerti arti dari sebuah hubungan, Sehun-a.”

“Jangan berkata seakan kau mengerti perasaanku. Kau sendiri tidak mengerti, bukan?”

“Ya, aku tidak tahu. Aku tidak mengerti, karena itu lebih baik kita memikirkan arti hubungan ini.”

    Kami sama-sama terdiam, ini berubah menjadi canggung. Aku tak mengerti, mengapa keadaan menjadi seperti ini? Kupikir, hubungan kami baik-baik saja. Kami nyaman satu sama lain, meski tak ada kata ‘aku menyukaimu’ atau ‘aku mencintaimu’ tapi bagiku menghabiskan waktu bersama Mora adalah saat yang paling menyenangkan.

    Kuputuskan untuk pergi dari sini, aku beranjak dari tempatku dan berjalan menuju pintu keluar.

“Aku menunggu jawaban darimu, Sehun. Pikirkan lah hal ini baik-baik,”

    Sesaat langkahku terhenti begitu mendengar ucapannya, setelah cukup lama terdiam, aku kembali melangkah keluar dari apartemen itu. Meninggalkan Mora yang duduk diam sendiri di ruang tamu.

×◦◦×

In Author’s Eyes . . .

‘Cklek’

    Baekhyun keluar dari kamar dan menghampiri Mora yang masih diam di tempatnya, Pemuda Byun itu menghela napas tak habis pikir. Bagaimana bisa gadis seperti Mora berkata seperti itu? Bukankah perkataannya tadi sedikit keterlaluan.

“Aku tahu, kau ingin memberi penegasan pada Sehun. Tapi, tidakkah ucapanmu sedikit keterlaluan?”

“Baek, aku hanya mengatakan sebuah fakta tidak kurang ataupun lebih.”

    Pemuda itu tahu sejak awal, hal inilah yang akan terjadi makanya dia berkali-kali mengingatkan pada Sehun agar tak menanggapi Mora. Terkadang, gadis itu terlalu tidak peduli dengan sudut pandang orang lain. Mora terlalu keras kepala.

“Kau sendiri, bagaimana? Tidakkah Jieun terlalu tidak peduli dengan urusanmu?”

“Aku dan Jieun tidak ada masalah, jangan mengubah topik pembicaraan.”

    Mora mendengus menatap tajam Baekhyun yang sejak tadi masih berdiri di depannya, gadis itu tahu Pemuda Byun itu terlalu buta dan tuli untuk menghadapi kenyataan yang ada.

“Kau sendiri yang pernah mengatakannya, Byun Baekhyun. Suatu hal tak hanya ada sisi buruk, kemarahan seseorang bisa berarti sebuah kepedulian, cemburu tidak selalu berarti dia posesif padamu tapi juga bisa bukti bahwa seseorang menyukaimu. Sayangnya, aku tak pernah melihat hal itu dari Jieun.”

    Baekhyun diam, pemuda itu tak menjawab ataupun mendebat ucapan Mora. Karena itulah faktanya, gadis itu hanya memaparkan fakta yang Baekhyun coba lupakan. Pemuda Byun itu tak akan pernah siap dengan kenyataan yang ada.

    Pada akhirnya, Mora benar-benar sendirian di apartemen. Baekhyun pergi keluar meninggalkannya, itu bagus membiarkan sepupunya untuk berpikir. Karena tidak hanya Mora yang perlu berpikir ulang tentang hubungannya, tapi Baekhyun juga perlu memulainya dari awal.

    Tanpa kebohongan, perjanjian, dan dengan dasar kesetiaan, saling peduli, memahami, kepercayaan, serta saling terbuka satu sama lain. Bukankah itu dasar dari sebuah hubungan? Tentu saja, perasaan menyukai seseorang adalah hal yang paling penting.

×◦◦×

“Aku pasti merindukanmu,”

    Mora memeluk Jieun, mereka akan berpisah. Gadis Hwang itu dengan keputusan mutlak akan melanjutkan studinya ke Cambridge, dia tak akan mengubah keputusan.

“Sehun sungguh keterlaluan, apa waktu satu bulan tidak cukup untuknya berpikir? Dia bahkan belum menemuimu sampai sekarang.”

    Gadis Hwang itu hanya tersenyum masam, kenapa perkataan Soojung menusuk hatinya?

    Jieun dan Soojung tak bisa mengantar Mora ke bandara, jadi mereka menemui Mora sebelum gadis itu pergi. Setelah berpamitan dengan keluarga dan temannya, Gadis Hwang itu berangkat menuju bandara dan Baekhyun lah yang dengan baik hati bersedia mengantarnya.

    Lalu hubungan Jieun dan Baekhyun? Mereka sama seperti dulu, Pemuda Byun itu merasa tak ada yang salah dengan hubungannya dan Jieun. Jadi, Mora tak ingin ikut campur. Itu keputusan Baekhyun dan ini adalah hidupnya, gadis itu sudah memperingatkan.

    Mora menatap heran pada Baekhyun ketika laju mobil melambat, lalu benar-benar berhenti di sebuah cafe tak jauh dari bandara. Pemuda Byun itu berkata bahwa Sehun sudah menunggunya di dalam, mereka harus bicara sebelum Mora pergi.

    Langkah kaki gadis itu membawanya ke dalam cafe yang sedikit sepi, mata Mora memandang sekitar mencari Sehun. Kemudian, dia menemukan keberadaan pemuda tampan itu. Sehun mengambil tempat di ujung, bagian kanan sudut cafe.

    Mora datang mendekatinya, mengambil tempat di hadapan Pemuda Oh itu. Dia tidak tahu arti tatapan itu, Sehun hanya menatapnya dalam diam. Untuk beberapa menit awal, mereka tak saling bicara.

“Maaf, aku baru menemuimu sekarang.”

    Gadis itu hanya tersenyum menanggapi Sehun, sudah lama dia tak mendengar suara berat lelaki itu. Entah kenapa, Mora sedikit merindukannya.

“Aku sudah memikirkannya, tapi aku masih bel—

“Kau masih tak tahu jawabannya?”

    Ucapan Sehun dipotong oleh Gadis Hwang itu. Dia senang, Mora senang Sehun sunguh-sungguh memikirkannya. Itu berarti, pemuda itu peduli pada Mora.

“Aku menyayangimu. Aku juga cukup yakin jika kita saling membutuhkan dan nyaman satu sama lain.”

“Kau tak perlu meragukanku, aku juga menyayangimu. Tapi itu tidak cukup, Sehun-a.”

    Sehun tahu, selama satu bulan ini pemuda itu banyak memikirkan tentang hubungan mereka. Pemuda itu bahkan sudah berhenti bermain dengan wanita lain, awalnya dia pikir itu merupakan keputusan yang tepat untuk hubungan mereka. Tapi ketika Sehun berpikir ulang, itu hanya bentuk dari rasa bersalahnya. Sehun tak benar-benar mengambil keputusan untuk memulai semuanya bersama Mora.

“Apa kau pernah sungguh-sungguh menyukaiku?”

    Pria itu bertanya dengan sedikit ragu, apa dia berhak menanyakan hal itu sedangkan Sehun sendiri tidak tahu bagaimana perasaannya.

“Lagi-lagi, kau mengambil pertanyaanku. Kau dan aku tahu perasaan saling menyukai adalah pondasinya dan kesetiaan akan menyempurnakan sebuah hubungan, karena itu aku menyuruhmu untuk berpikir. Menanyakan pada dirimu sendiri, apa kau punya perasaan itu untukku.”

    Entahlah, ini pertama kalinya Sehun menemukan seseorang yang memahaminya tanpa perlu pria itu memberi tahu. Mungkin, Sehun hanya merindukan seseorang yang hangat seperti keluarganya atau dia sungguh-sungguh sedang menyukai seseorang.

“Pikirkan dan pahami perasaanmu sendiri, buka hatimu untuk orang lain. Sudah kubilang, jangan merendahkan dirimu sendiri.”

“Aku tahu itu,”

    Mora memandang Sehun dan tersenyum, Gadis Hwang itu bisa saja menutup mata dan telinganya untuk tetap bersama Sehun. Tapi dia tidak tega melakukannya, Mora tidak bisa tak mempedulikan perasaan pria yang berada di depannya ini.

“Setelah kau yakin akan perasaanmu dan ingin memulainya dari awal, datang temui aku. Atau kau bisa memberitahuku maka aku akan terbang ke sini dan hadir di hadapanmu,”

    Mereka menghabiskan waktu bersama dalam diam, hanya memandang dan tersenyum satu sama lain. Merekam raut wajah masing-masing dan menyimpannya dalam ingatan.

    Ketika Mora merasa waktu penerbangannya sudah dekat, gadis itu beranjak dari tempat dan berniat untuk pergi. Tapi Sehun mengenggam tangannya, menahan gadis itu untuk melangkah.

“Apapun itu, aku pasti akan datang.”

    Lagi-lagi, mereka tersenyum satu sama lain.

—×◦ the end ◦×—

JHIRU’S Note :

Akhirnya, ada ff yang berhasil ane selesaikan. Entah kenapa, terharu sendiri.

Ada yang ingin tahu hubungan mereka di masa depan?

Hohohoho…

Tenang aja, ada Epilog untuk kalian semua.

Di Epilog nanti benar-benar tuntas habis ya, makanya jangan pelit-pelit buat kasih comment.

Klw kalian masih aja malas, dengan terpaksa mesti ane password. Yah, kalian memang bisa minta sma admin tp biasanya bakal lama dibalas. Bukankah itu lebih ribet? Kalau kalian minta ke ane, yah pasti bakal ada syaratnya. Hohohoho…

Ane jahat y, maaf gak bermaksud. Y udah, ane gak bakal banyak cuap. Terima kasih sudah membaca^^

23 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Play(Boy) (Chapter 2 END)”

  1. “Setelah kau yakin akan perasaanmu dan ingin memulainya dari awal, datang temui aku. Atau kau bisa memberitahuku maka aku akan terbang ke sini dan hadir di hadapanmu,”
    Huahh endingnya manis 😊
    Semoga epilog nya lebih manis dari ini 😊
    Semangat buat nuliss nya! 😊

  2. Thorrr keren ff nya
    Thor please jgn di PW dong ff nya
    Thor sehun mora hrs happy endingggg yayayyyya
    Semangat buat epilog nya ya,ditunggu next chap nya😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊

  3. Sehun labil ih, menyebalkan. Mora keren deh, bijak banget 🙂 dan aku paling suka bagian Mora saat dia bilang: “Setelah kau yakin akan perasaanmu dan ingin memulainya dari awal, datang temui aku. Atau kau bisa memberitahuku maka aku akan terbang ke sini dan hadir di hadapanmu,” Itu keren banget pokoknya. Pokoknya cerita ini harus dilanjut, harus 😀 Semangat author, lanjutkan 🙂

  4. Mora dewasa bngt… 😆😆😆 pokoknya sehun jgn ampe kehilangan mora deh nyesel nnti…
    Semangat kak ditunggu nextnya 🙋🙋🙋

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s