[EXOFFI FREELANCE] Vanilla Ice Cream (Chapter 2)

Tittle/judul fanfic        : Vanilla Ice Cream

Author                : Park Rin

Length                : Chaptered

Genre                : Romance, Family, Friendship, Angst

Rating                : PG-13

Main Cast&Additional Cast    : Byun Baekhyun

                 Arin (OC)

                 Park Chanyeol

                 All EXO’s Members

                 Ect.

Summary    : Aku yakin itu dirimu…. Tidak aku tidak yakin itu dirimu

Disclaimer            : FF ini murni buatan author sendiri, dengan terinspirasi dari film dan cerita yang pernah author bacam. Baca juga FF ini di blog milik author https://parkrin98.wordpress.com/. Happy Reading!

Lengan besar Chanyeol segera memisahkan mereka berdua setelah beberapa detik mereka berpelukan. Arin yang sedikit terdorong, segera di tarik chanyeol ke arah punggungnya. Tidak bisa dipungkiri, Chanyeol sedikit kesal kepada teman satu grupnya itu.

“Baekhyun, apa yang kau lakukan?” tanya Chanyeol geram.

“Yeol, dimana kau menemukan Rin?” Baekhyun malah balik bertanya kepada lelaki itu.

Chanyeol sedikit menghembuskan nafasnya saat mendengar pertanyaan Baekhyun. Ia sedikit mengerti mengapa temannya bertingkah seperti itu. “Baek, dia bukan Rin kekasihmu. Dia memang dulu tinggal di Buncheon, tapi dia bukan dancer seperti yang kau ceritakan. Dia seorang desainer,” jelas Chanyeol pada sahabatnya itu.

Baekhyun memandang tak percaya ke Chanyeol. Persaaannya mengatakan bahwa gadis itu memang Rin yang ia kenal. Tetapi mendengar kata-kata Chanyeol bahwa gadis itu adalah desainer bukannya dancer membuat Baekhyun sedikit ragu, ditambah melihat reaksi gadis itu yang terlihat tidak mengenalnya membuat ia semakin ragu.

“Maafkan aku, ku kira kau temanku,” kata Baekhyun kemudian. Lelaki itu berjalan sedikit lemas menuju ke tempat duduknya.

Memang bukan rahasia umum lagi di kalangan member EXO bahwa Baekhyun memiliki seorang kekasih yang tinggal di Buncheon. Hal itu sudah mereka ketahui bahkan saat mereka masih trainee dulu. Para member juga tahu bahwa faktanya Baekhyun dan kekasihnya itu sudah tidak memiliki hubungan baik lagi serta fakta bahwa gadis yang Baekhyun cintai itu sudah menghilang tanpa jejak. Mereka bahkan tahu jelas kebiasaan Baekhyun yang akan menyakan kepada orang-orang yang berasal dari Buncheon mengenai keadaan kekasihnya itu. Hal inilah yang membuat mereka khawatir karena mood Baekhyun akan teramat turun jika ia menemukan fakta bahwa orang-orang itu tidak mengenal kekasihnya atau mereka tidak tahu keberadaanya.

***

Bulan datang, ia menggantikan matahari yang lelah menyinari bumi hari ini. Seiring dengan bulan datang, acara di rumah Chanyeol terasa makin meriah. Hal ini mungkin karena beberapa kotak daging yang dibawakan oleh  ibu Chanyeol tadi. Daging dan perut lapar adalah kombinasi yang cukup baik untuk membuat orang berubah menjadi bahagia.

Begitupula Arin, gadis itu sedang sangat kelaparan. Salahkan saja deadline yang datang terlalu cepat membuatnya harus melewatkan makan siangnya hari ini. Mata gadis semakin berbinar saat lelaki berambut cepak bernama Kyungsoo itu menaruh daging sapi ke atas pemanggang yang kemudian menciptakan bunyi khas daging panggang.

“Tutup sedikit mulutmu, Rin. Liurmu bisa membasahi meja ini,” kata Chanyeol menatap satu-satunya wanita disana dengan tatapan jahil.

Arin melirik lelaki yang mengejeknya itu jengkel. Syukurlah karena kelaparan ia menjadi malas untuk menggerakan sumpit alumunium di tangannya ke arah kepala kekasihnya itu.

“Kau melewatkan makan siangmu lagi?” tanya Chanyeol setelah melihat reaksi kekasihnya yang hanya menatapnya jengkel. Chanyeol sangat tahu, jika gadis itu diledek seperti ini sudah dapat dipastikan sumpit alumunium yang ada di tangannya akan mendarat mulus dikepalanya.

Rin sedikit mendengus, ia menyesal karena secara tidak langsung ia memberikan sinyal kepada Chanyeol bahwa ia melewatkan makan siangnya lagi. Sekarang, ia akan mendengarkan ceramah panjang lelaki jangkung itu.

“Benarkan? Kau melewatkannya lagi’kan? Sudah berapa kali aku katakan…” kini Chanyeol sudah bersiap untuk berceramah.

“Sudahlah Chan, ceramahmu simpan besok saja. Lagipula tidak baik kau marah-marah di depan makanan,” suara Xiumin menghentikan gerakan bibir Chanyeol. Lelaki itu kemudian menatap kakak tertuanya jengkel, kemudian beranjak dari tempat duduknya menuju ke dalam rumah.

Gadis itu menghembuskan nafasnya lega, jika saja tidak ada Xiumin yang menghentikan Chanyeol mungkin saja ia sekarang sedang menerima ceramah hingga membuat nafsu makannya menghilang.

“Terima kasih,” bisik Arin kepada Xiumin.

Xiumin tersenyum, “Tidak masalah.”

“Jadi kau pemilik brand “SR” itu?” kini seorang lelaki yang duduk disebelah Xiumin mengeluarkan suaranya. Lelaki itu Suho.

“Ya,” jawab Arin ramah.

Design bajumu memang sangat bagus,” puji Suho.

“Terima kasih,” ucap Arin sungkan.

Noona-ku juga sangat suka baju rancangamu. Ah, dia pasti akan sangat iri karena aku bisa mengenalmu,” timpal Kai sambil menggosok dagunya bangga.

Arin tersenyum, ia sangat senang karena banyak orang menyukai baju rancangannya.

“Ku dengar kau akan meluncurkan koleksi pria untuk musim dingin ini, ya?” tanya Kyungsoo sambil membalikkan daging di atas panggangan.

Arin menoleh ke arah lelaki itu, “Iya, akan ada beberapa koleksi pria untuk musim dingin ini.”

“Wah, ternyata benar. Ku kira hanya sekedar rumor. Aku benar-benar menantikan rancangan untuk lelaki itu,” ucap Kyungsoo sambil menatap Arin senang.

“Kau yang men-design-nya sendiri?” tanya Chen penasaran.

Arin menangguk, “Aku ingin mencoba men-design baju laki-laki. Aku ingin karyaku bisa di sukai semua golongan.”

“Hm… pasti kau sangat sibuk sekarang. Apalagi musim dingin juga akan datang sebentar lagi,” ucap Suho prihatin.

Arin tersenyum, “Ada beberapa design yang belum sempurna, jadi aku memang harus memperbanyak waktu untuk bekerja.”

“Tapi, seberapa banyakpun pekerjaan yang harus kau kerjakan. Kau tidak boleh menyiksa dirimu seperti ini. Jangan lupakan fakta bahwa kau memiliki lambung yang lemah,” ucap Chanyeol yang tiba-tiba masuk ditengah obrolan Arin dengan member EXO yang lain.

Bibir gadis itu sedikit mengerucut, Chanyeol benar lambungnya lemah dan ia selalu melupakan fakta itu.

“Makanlah ini sebelum makan dagingnya,” Chanyeol menyodorkan sebuah pil berwarna hijau mint itu pada Arin.

Gadis itu sedikit tertunduk, ia menerima pil itu kemudian segera ia kunyah. Lelaki itu dengan otomatis memberikan gelas berisi air putih kepada Arin yang sedang diwarnai perasaan menyesal.

“Jangan pernah berani-berani menyentuh jus jeruk ataupun bir yang ada disini. Aku benar-benar tidak berniat untuk mengantarkanmu ke rumah sakit hari ini,” ujar Chanyeol sedikit dingin yang hanya di balas anggukan malas dari kekasihnya.

“Ah, Chanyeol hyung, kau romantic sekali…” ujar Sehun di pojok sana, kata-kata itu berhasil membuat Chanyeol sedikit memiringkan bibirnya senang. “Tapi, alangkah baiknya jika kau tidak merusak mood kami dengan berkata dingin layaknya batu es seperti itu,” tambah si bungsu itu yang sukses membuat Chanyeol mengarahkan tinjuan kepadanya. Beruntung si tertua, Xiumin dapat menahan tubuh jangkung itu sehingga ia tidak menhajar adik termuda mereka.

Member lain berserta Arin tertawa mendengar pertengkaran kecil antara Chanyeol dan Evil Maknae EXO tersebut. Arin bahkan melupakan perasaan menyesalnya Karena membuat kekasihnya khawatir.

Ditengah acara tertawa mereka, mata Arin tidak sengaja menangkap lelaki berambut hitam yang tengah duduk di sebelah Chanyeol. Lelaki itu sama sekali tidak menikmati semua kegembiraan disini. Wajah lelaki itu terlihat muram, bahkan matanya sedikit berkaca-kaca.

Pandangan Arin kepada lelaki itu tiba-tiba teralihkan saat Kyungsoo datang dengan sepiring besar daging yang sudah dipanggang. Tak berselang lama, gadis itu sudah sibuk mengeenyangkan perutnya dengan daging panggang.

***

“Ku dengar kau juga dari Buncheon,” ujar Rin sambil menyodorkan segelas bir pada pria yang tengah duduk di tepi kolam berenang.

Pria itu sedikit tersentak, kemudian tangannya dengan otomatis mengambil gelas bir yang di serahkan kepadanya. “Maaf, tapi aku tidak minum,” jawabnya sambil menaruh gelas itu disebelahnya.

Rin membulatkan bibirnya, “Ah… ku kira kau minum. Mau aku ambilkan minuman lain?” tawarnya.

“Tidak usah, aku tidak haus,” ucap Baekhyun sedikit dingin.

Mendengar jawaban itu, Rin hanya diam. Tiba-tiba suasana malam itu terasa begitu canggung. Rin sedikit menyesali tindakannya mengambil gelas bir untuk lekaki ini. Jika saja ia mengambil kaleng coca-cola, pasti dia mentutaskan rasa penasarannya pada lelaki bernama Baekhyun ini.

“Duduklah, aku tahu kau penasaran denganku,” ucap Baekhyun telak, seakan kepalanya bisa membaca apa yang ada di dalam pikiran gadis itu.

Rin langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tertangkap basah itu memang benar-benar tidak menyenangkan.

“Maaf, sepertinya kau salah. Aku akan pergi ke dalam sekarang,” ucap Rin kikuk kemudian berusaha berlari kedalam rumah itu dan berkumpul bersama Chanyeol dan member lainnya.

“Jika kau tidak duduk sekarang, maka selamanya aku tidak akan menceritakannya padamu,” kata Baekhyun lagi.

Gadis itu mendengus frustasi. Baekhyun benar-benar bisa membuat rasa penasarannya kembali memuncak. Jika seperti ini, ia pasti tidak bisa menolak ajakan untuk duduk disana.

“Dia benar-benar mirip denganmu,” ujar Baekhyun setelah Arin menaruh pantanya di tepi kolam berenang itu.

“Siapa?” tanya Arin penasaran.

“Seseorang… wajahmu, suaramu, semuanya benar-benar mirip.”

“Benarkah? Tapi, aku tidak mengenalmu,” ucap Rin heran.

“Aku tahu, tapi kalian memang benar-benar mirip. Orang itu juga pekerja keras. Dia juga suka melupakan makan siangnya saat ia bekerja, dan setelah itu ia akan kesakitan karena memiliki lambung yang lemah.”

Arin menatap lelaki itu heran. Semirip itukah dirinya dengan orang yang Baekhyun kenal?

“Tapi, diantara semua kemiripan itu ada hal yang membuatku ragu padamu,” ucap Baekhyun melirik gadis itu.

“Apa?”

“Pekerjaanmu. Dia adalah orang yang tidak pandai menggambar dan selera fashion-nya juga tidak bagus.”

Arin menangguk, membenarkan keraguan yang di katakana lelaki itu.

“Satu lagi…”

“Apa?”

“Rambutmu. Dia paling benci rambut pendek. Katanya rambut panjangnyalah yang membuatnya mirip dengan ibunya,” kini Baekhyun menatap Arin, membuat gadis itu menjadi sedikit kikuk.

Arin mengusap rambut pendeknya lembut, berusaha mengalihkan perasaan gugup yang tiba-tiba menyerangnya. “Aku memang tidak suka rambut panjang, entah mengapa aku malah benci menggunakan rambut panjang,” jawab gadis itu mengalihkan pandangannya agar tidak bertemu dengan mata tajam Baekhyun.

“Maka dari itu, aku ragu padamu. Awalnya aku yakin 100 % bahwa kau adalah orang yang aku cari, tapi setelah mengetahui dua hal tadi semuanya turun menjadi 40 %,” kata Baekhyun sambil memainkan kakinya yang berada di dalam kolam.

“Benar, didunia ini memang banyak orang yang mirip,” ucap Arin kemdian.

Tak lama keheningan menyelimuti mereka berdua, bukan keheningan yang canggung. Ini hanya keheningan yang tercipta karena keduanya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.

“Hei, sedang apa kalian berdua disini? Cepat masuk! Udara akan semakin dingin,” ucap leader EXO dari arah pintu.

Rin menoleh, “Baik. Aku akan segera masuk,” ucap gadis itu kemudian bersiap untuk bangun.

“Ya, Baekhyun! Kau tidak masuk?” Tanya Suho pada Baekhyun yang terlihat tidak bergerak dari posisinya.

“Nanti saja, aku masih ingin disini. Didalam terlalu berisik,” Teriak Baekhyun yang tengah menatap langit malam

Suho hanya menggeleng, “Jangan lama-lama, kau bisa masuk angin,” nasihat sang leader.

“Sebaiknya kau gunakan ini. Cuacanya akan semakin dingin,” ucap Arin sambil menyerahkan jaket cokelat yang ia kenakan.

Baekhyun menatap Arin terkejut, entah kenapa ia merasakan perhatian yang sangat ia rindukan.

Arin memandang Baekhyun heran, tapi ia tidak peduli. Udaranya memang semakin dingin, dan dia tidak mau sakit.

Saat gadis itu akan beranjak masuk, tiba-tiba tangannya di hadang oleh Baekhyun. Arin sedikit terkejut, ia segera berbalik menatap laki-laki yang tengah memandangnya dengan tatapan sedih.

“Aku ingin menanyakan sesuatu padamu.” ujar lelaki itu yang entah mengapa membuat Arin sedikit takut.

“Apa?” ucap Arin ragu.

“Apa kau bisa menari?” tanya Baekhyun pelan.

Arin menggeleng, “Tidak, aku tidak bisa menari,” ucap Arin pelan.

Setelah itu tangan Baekhyun tiba-tiba lemas. Ia kemudian melepaskan genggaman tangannya dan berbalik menuju tempat ia duduk.

Arin memandang lelaki itu heran, tapi sekali lagi ia tidak memperdulikannya. Saat ini, yang ada dipikirannya hanyalah bergegas masuk karena udara sudah benar-benar membuatnya kedinginan.

***

“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Chanyeol ketus setelah Arin memasuki rumah.

“Kau cemburu?” ucap Arin jahil sambil merampas mangkuk eskrim yang tengah di bawa Chanyeol.

Chanyeol sedikit mendecih kesal, kemudian memukul kepala gadis itu pelan. “Awas belepotan!” ucap lelaki itu kemudian berlalu meninggalkan Arin yang terkekeh.

Tanpa mereka berdua sadari, ada sepasang mata yang mempehatikan mereka. Sepasang Mata yang menatap Arin dengan tatapan kerinduan.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s