[EXOFFI FREELANCE] Stay With Me (Chapter 23)

–Chapter 23–

.

.

.

Sehun tersenyum saat tangannya merasakan lembutnya kulit halus Irene, yang saat ini sedang ia peluk dengan erat pagi ini. Ingatannya kembali berputar pada kejadian semalam, disaat mereka baru saja melakukan malam pertama mereka yang benar-benar hebat.

Bahkan karena mungkin Sehun yang belum puas, tepat jam 2 pagi Sehun terbangun dan meminta Irene untuk melayaninya. Bukankah Sehun benar-benar sangat puas memiliki Irene. Dan karena percintaan kedua mereka yang sangat hebat, Irene baru bisa memejamkan matanya pada jam 4 pagi.

Dan akhirnya, sampai jam 8 pagi ini, Irene belum bangun, sedang Sehun sudah membuka matanya kemudian memulai kegiatan paginya dengan mengusap punggung telanjang Irene. Mencium daerah itu dengan lembut, membuat sang pemilik menggeliat pelan, dan akhirnya memutar tubuhnya menghadap Sehun.

“Sehun.” Irene bergumam pelan ketika merasa tidurnya benar-benar diganggu oleh suaminya itu. Bagaimana tidak, jika tangan Sehun menyentuh setiap sisi tubuhnya dengan beberapa ciuman mesra di bibirnya. Apa semalam ia tidak puas? Bahkan Irene masih merasa sakit yang luar biasa, rasanya remuk dan benar-benar lelah.

“Maaf, tapi dia sedang tegang di bawah sana.” Bisik Sehun membuat Irene mulai membuka matanya yang masih sayu, dan mencubit pinggang Sehun, sontak saja hal itu membuat Sehun meringis.

“Aku lelah!” kata Irene, kemudian membalikkan tubuhnya lagi membelakangi Sehun. Dan tentu saja kesempatan itu membuat Sehun kembali memeluk pinggang istrinya, “Apa yang ingin kau lakukan hari ini?” tanya Sehun sambil mencium mesra telinga Irene, dan bahkan menggigit daun telinga gadis itu dengan lembut.

“Aku ingin jalan-jalan.” Ucap Irene masih setia memejamkan matanya, dan ia hanya pasrah ketika Sehun kembali menyerangnya. Rasanya ia terlalu malas untuk mengomeli Sehun, toh pria itu tidak akan mendengarnya.

“Ke mana?” bisik Sehun sambil mengecup leher Irene serta mengendus aroma tubuh Irene yang sudah bercampur dengan aroma tubuhnya. Sungguh, itu perpaduan yang luar biasa.

“Aku tidak tahu Sehun, ah–“ Irene mendesah pelan ketika Sehun meremas pelan bagian dadanya.

“Aku lapar.” Gumam Irene setelah ia mendapat sebuah ide agar menghentikkan kegiatan mereka ini. Karena ia tahu jika Sehun tidak dihentikan, pasti pria itu akan kehilangan kesadarannya lagi.

“Baiklah, kita mandi, lalu sarapan dan pergi jalan-jalan.” Kata Sehun, kemudian melepaskan pelukannya dari Irene dan segera turun dari ranjangnya. Irene melebarkan matanya ketika melihat Sehun dalam keadaan polos tanpa pakaian, berjalan dengan bebas sambil mencari ponselnya.

Oh Tuhan, apa pria itu tidak waras?

“Kau tidak pa –pakai baju Sehun!” ucap Irene sambil menutup matanya dengan bantal guling. Sehun tertawa mendengarnya, “Untuk apa malu sayang, jika tadi malam kau sudah melihat, sekaligus merasakannya.” Ucapnya santai, kemudian memakai boxer dan membiarkan dadanya polos tanpa pakaian.

Sungguh, Irene rasanya ingin memukul wajah pria itu dengan bantal, mengapa ia bisa mengatakan hal sevulgar itu di pagi hari? Atau mungkin, ini yang ayah Sehun katakan sebelum mereka berangkat ke Swiss. Seorang pria akan berubah menjadi mesum ketika ia sudah menikah. Dan ya, ia merasakannya saat ini. Sehun sangat mesum, membuat jantungnya ikut berdebar disetiap kata-kata yang menyungging mengenai hubungan intim tersebut, keluar dari bibir sexynya.

“Aku sudah pakai baju sayang.” Kata Sehun setelah duduk di tepian ranjang, dan berusaha membuka bantalan yang menutup wajah Irene. Gadis itu sedikit bernafas lega, namun lupakah Irene jika gadis itu juga tidak memakai sehelai benang pun di tubuhnya? Dan sekarang hanya tertutup dengan selimut tebal berwarna putih.

“Jadi, kau mau sarapan di restaurant hotel? Atau kita pesan layanan kamar saja?” tanya Sehun sambil meraih tangan Irene dan mencium jemari gadis itu, dan terkdang sedikit menggigit gemas jemari kecil Irene, yang semalam membuat sensasi luar biasa pada tubuhnya.

“Hm, aku mau sarapan di tempat lain.” ucap Irene sambil menegakkan tubuhnya, dan mengucek pelan matanya. Sehun meneguk salivanya, ketika melihat indahnya ciptaan Tuhan di depannya ini. Oh, ia akan siap untuk memulai ronde ke-3 nya pagi ini.

“Irene sayang?”

“Hm?”

“Ka –kau belum pakai baju.” Ucap Sehun sedikit gugup, terlihat juga pria itu berkeringat di sekitar pelipisnya. Irene yang mengetahui itu langsung merona, dan menaikkan selimut tebal itu sampai batas dadanya.

“Sehun! tutup mata!” bentak Irene dan Sehun tidak mengindahkannya, dia malah melihat Irene seperti ingin menerkam gadis itu lagi.

“Bisa ambilkan aku baju di dalam koper?” pinta Irene dan Sehun menggeleng.

“Dari pada seperti itu, lebih baik kita langsung mandi.” Ucap Sehun, dan tanpa ijin langsung menyibakkan selimut tebal Irene, dan menggendong tubuh polos Irene ala brydal style, Irene melotot luar biasa.

“Sehun turunkan aku sekarang juga!” ucap gadis itu keras, namun Sehun tidak mendenganrya dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi. Ia tidak peduli dengan teriakan Irene dan hanya sibuk dengan tujuna utamanya, mandi. Tapi, benarkah hanya mandi? Entahlah, hanya kedua pasangan itu yang tahu.

.

.

.

Seorang pria berdarah China, nampak berlari dengan terburu-buru ke dalam rumah sakit, ia tidak sendiri melainkan bersama seorang sahabat se-divisinya. Sebut saja kedua pria dengan jaket hitam itu, Lay dan Minseok.

Sret

Lay mendorong pintu rumah sakit itu dengan sedikit keras, dan menemukan sosok pria bernama Suho yang sedang tidur di sofa ruangan rawat pasien bernama Myungsoo itu. Suho yang tersadar dengan suara bukaan pintu, langsung membuka matanya dan menatap beberapa teman se-divisinya yang berada di sana.

“Ada apa?”

“Kami men–“

SRET

Hyung, aku menemukannya!” baru saja Lay mau menjelaskan tujuan mereka berada di rumah sakit ini, junior mereka bernama Mingyu dan Seungyoon sudah lebih dulu membuka pintu itu dengan kasar, dan memotong ucapan mereka. Dan tentu saja membuat kedua senior Mingyu itu geram luar biasa.

“Hey, kau tidak tahu sopan santun huh? Kami Sunbae-mu!” bentak Lay pada pria tinggi itu, namun Mingyu mencibir sambil menyenggol bahu Lay dan duduk di sofa dengan mengatur nafasnya.

“Tsk! Bocah sialan! Ke mari kau!” Lay berniat memukul Mingyu, namun Minseok menahan tubuh pria itu membuat Lay hanya bisa menggeram kesal.

“Baiklah, bicara satu-satu. Ada apa Minseok-ah?” tanya Suho pada Minseok dan Lay.

“Kami menemukan keberadaannya.” Ucap Minseok sedikit terengah, Suho mengerutkan keningnya hingga pria itu melebarkan matanya lagi dan kini menatap serius kedua temannya itu, “Kalian serius? Di mana pria itu?” tanya Suho mendesak.

“Kami menemukan markas Leo, dan ternyata markasnya tidak hanya satu, melainkan ia memiliki rumah di daerah Daegu, dan di daerah Gangseo. Kemarin ketika aku menyuruh Jinwoo dan Seungyoon menyelidiki rumahnya di daerah Daegu, ternyata rumah itu adalah tempat di mana ia menyekap semua gadis yang ia beli.” Jelas Minseok sambil menunjukkan beberapa berkas pada Suho. Dan pria Kim yang merupakan ketua divisi kasus criminal mereka itu, nampak serius membaca setiap penggalan kalimat pada kertas putih itu.

“Dia sudah melakukannya selama 2 tahun belakangan ini?” Suho nampak terkejut membaca setiap detail informasi tersebut. Dan Lay juga Minseok hanya mengangguk kecil.

“Oh tidak hanya itu saja, dia juga menjual organ tubuh manusia secara ilegal. Sial, dia benar-benar pandai bersembunyi.” Umpat Lay sedikit kesal.

“Okay, ini masalah yang serius. Segera adakan rapat bersama anggota yang lain siang ini.” Ucap Suho memberi perintah dan Lay maupun Minseok hanya menyutujuinya dalam diam.

“Dan apa yang kalian berdua milikki hm?” tanya Suho pada dua orang juniornya itu, yang sedang tidur di sofa ruangan tersebut. Mereka yang mendengar suara Suho langsung membuka matanya, dan Mingyu langsung memberikan sebuah map pada Suho.

“Kami menemukan keberadaan Hyo Eun dan Jung Hoo. Mereka saat ini berada di –ah, hyung tidak akan percaya ini. Namun mereka melarikan diri ke Indonesia, jelasnya mereka berada di Bali saat ini.” Jelas Mingyu sedikit jengah, dan Suho juga Minseok dan Lay langsung melebarkan mata mereka bersama.

“Bukankah kemarin mereka akan ke Shanghai? Mengapa sekarang ada di Bali.”

“Ya, mereka memang harusnya ke sana, namun karena rencana mereka lebih dulu diketahui, mereka akhirnya menuju ke Bali. Dan itu membuatku hampir gila hyung.” Ucap Mingyu mengacak rambutnya frustasi.

“Sialan. Mereka memilih tempat persembunyian yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.”

“Ya, sedikit susah melacak keberadaan mereka.” Jelas Seungyoon sambil membuka bungkus permen cokelat yang ia ambil dari dalam saku jaketnya.

“Baiklah, kita rapat siang ini. Di café depan rumah sakit. Dan–“ ucapan Suho sedikit dijeda, karena pria itu rasanya mendapati sebuah pergerakan kecil dari Myungsoo. Seperti yang ia pikirkan, rasanya pria itu dari tadi menguping pembicaraan mereka.

“Aku tahu kau mendengarnya.” Ucap Suho membuat Myungsoo langsung membuka matanya. Pria itu menatap Suho sebentar dengan wajah kesal, kemudian membalikkan tubuhnya membelakangi Suho cs.

“Karena kau sudah sadar, bisakah aku menanyakan beberapa pertanyaan padamu?” Suho berjalan mendekat pada Myungsoo, yang saat ini hanya menatap datar ke depan. Sebenarnya ia sedang memikirkan cara untuk kabur dari rumah sakit, namun ia tahu keadaannya saat ini tidak memungkinkan.

Bahkan setelah ia sempat mendengar percakapan Suho dan seorang dokter yang dipanggil Donghae itu, jika tangan kanannya retak, dan ia yakin itu karena aksinya melawan Taeyong saat di gedung pernikahan Sehun.

“Aku tahu jika kau tidak akan mengatakan keberadaan Do Ji Sung padaku, tapi bisakah aku bertanya, apa hubunganmu dengannya?” Myungsoo terdiam sesaat, tidak ada hal lain yang ia pikirkan kecuali satu nama yang merekat pada pikirannya. Do Ji Sung, seorang pria yang membuat dunianya berubah sejak 2 tahun. Dan hal itu dimulai saat ia menginjak usia dewasa.

Myungsoo mengepalkan tangannya, dan mulutnya masih terkatup rapat. Seperti ia bisu dan berpura-pura tuli pada Suho. Hal itu membuat pria Kim itu menghela nafas panjang.

“Jika kau masih memilih bungkam, perlu kau ketahui jika aku sudah menyelidiki identitasmu. Apa perlu aku bacakan profilmu saat ini?” ujar Suho lagi, kali ini dengan sebuah ipad di tangannya. Myungsoo menghela nafasnya kasar, kemudian menatap Suho jengah.

“Apa kau selalu suka memaksa?” Myungsoo menatap geram pria itu, dan Suho tertawa kecil, “Woah, tebakanmu sangat benar.” Suho tersenyum dan itu membuat Myungsoo lebih kesal lagi padanya. Sedang anggota divisinya hanya menahan tawa melihat cara Suho mengobrol dengan sang tersangka.

“Meski aku sudah tahu hubungan apa yang terjalin antara kau dan Ji Sung, namun aku mau kau sendiri yang menjelaskannya, secara detail. Karena aku jamin apa yang tertulis di dalam map ini, tidak 100 % benar seperti ceritamu. Tapi jika kau belum mau bercerita, aku tidak memaksa. Tapi aku akan menyimpulkannya dengan caraku sendiri.” Kata Suho dan kali ini nampak santai.

“Hubungi 2 orang polisi untuk menjaganya.” Ucap Suho cepat pada kedua temannya itu.

Ne.” jawab Minseok dan Lay bersamaan.

.

.

.

Sehun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali, pria itu menatap sang istri yang saat ini sedang merajuk padanya. Ya, tentu saja karena perihal kegiatan mereka di dalam kamar mandi. Berkat Sehun, gadis itu sampai sekarang menangis karena kesakitan, dan berakhir sulit untuk berjalan.

Kau benar-benar luar biasa tuan Oh Sehun yang terhormat. Mungkin setelah ini Irene akan melaporkannya pada Kris, bahwa kau mengajaknya bercinta tanpa henti.

Sehun tidak tahu harus berbuat apa selain minta maaf, bahkan Sehun berkali-kali mengucapkan jika ia tidak akan menyentuh Irene, jika gadis itu tidak mengijinkan. Namun semua itu tidak cukup.

“Sayang maafkan aku.” Sehun berlutut di depan gadis yang sedang duduk di tepian ranjang.

“Kau jahat! Hiks..sakit!” Irene memukul dada bidang Sehun berkali-kali, dan pria itu rasanya semakin menyesal.

“Masih sangat sakit?” Sehun menaikkan alisnya, dan Irene mengangguk sambil terisak.

“Tapi aku harus bagaimana lagi, jika di dalam kamar mandi kau juga menyuruhku melakukannya terus menerus, dan bahkan kau juga menikmatinya, tidak! Bahkan sangat menikmatinya. Apa semua hanya salahku?” Sehun menaikkan alisnya, membuat Irene semakin kesal pada suaminya itu.

Blush

Rona merah di wajah Irene benar-benar bersemi setelah Sehun mengatakan kalimat frontal seperti itu, apa Sehun harus mengatakannya dengan gambling seperti ini? Oh, jantung Irene rasanya tidak sehat seketika. Berdebar, dang terasa luar biasa debarannya.

“Huwa! Sehun jahat! Kau tidak menyayangiku!” Irene memukul pria itu dengan bantal berkali-kali, “Hey, aku sangat menyayangimu Irene. Baiklah, begini saja–” Irene melebarkan matanya ketika Sehun menggendong tubuhnya ala brydal style.

“Kenapa digendong?”

“Katanya kau tidak bisa jalan kan? Jadi biarkan aku menggendongmu.”

“Tapi aku malu jika ada yang melihat.” Suara menggemaskan Irene membuat Sehun tersenyum, kemudian mencium bibir istrinya itu dengan sedikit melumat lembut, “Lalu kau mau jalan kaki?”Irene menggeleng imut, dan akhirnya menyandarkan kepalanya pada dada bidang Sehun.

“Maafkan aku sekali lagi.” Ucap Sehun mengecup puncak kepala Irene, dan gadis itu hanya mengangguk meski mukanya masih ditekuk.

“Astaga, istriku menggemaskan sekali sekarang.” Sehun terkekeh membuat Irene merona saja mendengarnya.

Sehun pun keluar dari kamar hotel setelah mengunci pintu kamar itu, Sehun masih menggendong istrinya itu dan Irene hanya menaruh kepalanya pada dada bidang Sehun. Ia malu, sekaligus senang Sehun menggendongnya, ia merasa menjadi seorang putri mungkin? Tanpa Sehun ketahui pun, Irene tersenyum kecil di persembunyiannya. Ia juga merasakan detak jantung Sehun yang terasa ikut menggetarkan hatinya, aroma pria itu yang benar-benar memabukkan, dan nyamannya dada Sehun yang ia gunakan untuk bersandar.

Hingga saat Sehun menaiki lift, pria itu tidak peduli dengan beberapa bisikan dari orang-orang yang saat ini mungkin tengah membicarakannya. Namun, haruskah Sehun memikirkannya? Sehun rasa tidak.

Mr. Oh, your car is ready.” Ujar seorang pegawai hotel, yang kini tengah menatap sedikit terkejut karena pria itu sedang menggendong istrinya.

Thankyou.” Sehun mengangguk, kemudian pegawai hotel itu mengantarkan Sehun pada mobilnya.

Is your wife, all right sir?”

Yes, she’s all right.”

“Aku bisa ja –jalan sendiri Sehun.” bisik Irene yang mulai tidak nyaman dengan posisi mereka, Sehun mengerutkan keningnya ketika ia hendak menaruh Irene dalam mobil, “Kau bilang masih sakit kan?” Sehun menaikkan alisnya, dan Irene menggeleng kecil.

“Kau yakin?” Irene mengangguk cepat, dan Sehun akhirnya menurunkannya dan membiarkan Irene berjalan memasuki mobil sendiri. Jujur, memang masih sedikit sakit. Namun Irene bisa menahannya, ia juga tidak ma uterus menerus merepotkan Sehun.

.

.

.

Seorang gadis sedang asik memanjakan matanya, dengan melihat jejeran tas, sepatu dan baju di beberapa toko. Ia tidak bosan dan tidak lelah, meski seseorang di belakangnya sudah menunjukkan wajah lelahnya. Namun gadis itu seakan tidak memperhatikannya, dan sibuk dengan dunia wanitanya. Tentu saja, dunia shopping.

“Irene pelan-pelan!” seru Sehun saat gadis itu masih sibuk berjalan mengitari setiap sudut toko belanjaan yang mereka datangi. Sudah hampir 20 tas shopping yang supir dari hotel mereka bawa, namun sepertinya Irene belum puas, dan itu membuat Sehun sedikit kewalahan.

Pasalnya sudah hampir 3 jam mereka berbelanja, tapi sang istri rasanya masih kuat berjam-jam untuk berkeliling toko. Namun, bukankah tadi ia mengeluh sakit? Tapi kenapa sekarang ia baik-baik saja?

“Kau lelah?” tanya Irene menghampiri suaminya yang sudah menunjukkan wajah cemberutnya itu.

“Kita masih ada waktu untuk berkeliling sayang, lebih baik kita ke tempat yang lain saja. Bagaimana?”

“Hm? Baiklah. Tapi belikan yang itu ya? Itu Sehun, tas yang itu.” rengek Irene menunjuk sebuah tas berwarna hitam yang berukuran sedang, dan terlihat simple namun sangat berkelas. Sehun menghela nafasnya. Sejujurnya Irene sudah membeli 5 tas selama mereka berbelanja 3 jam ini, dan ia masih menginginkan tas lagi?

Sebenarnya Sehun tidak mempermasalahkan mengenai uang yang ia keluarkan, dan mengingat juga mereka ada di kota Zurich, di mana kota ini merupakan salah satu kota dengan biaya hidup termahal di dunia. Tapi yang menjadi permasalahannya, apa gadis ini tidak bosan?

“Baiklah, setelah itu kita pergi.” Ucap Sehun akhirnya menurut, saat Irene menariknya untuk masuk ke dalam satu toko itu, dan langsung membayar tas tersebut dengan black card miliknya.

Irene tersenyum puas sambil merengkuh lengan Sehun, dan memberikan sebuah ciuman di bibir Sehun dengan cepat, “Terimakasih sayang.” Kata Irene bahagia, dan Sehun hanya memutar jengah matanya. Lalu akhirnya mereka pergi dari sana.

Tujuan selanjutnya, mereka tidak lagi berbelanja. Melainkan mereka mengunjungi Old Town Zurich, yang merupakan sebuah area, yang menjadi pusat di kota tersebut. Menikmati setiap sudut kota tersebut, di mana setiap bangunan memiliki gaya khas eropa yang indah.

Tidak lupa juga mereka berfoto bersama , menikmati setiap waktu yang mereka miliki berdua selama bulan madu ini. Irene benar-benar bahagia, begitu juga Sehun. Keduanya terlihat sangat serasi ketika bersama.

Hingga saat Sehun mengajak Irene untuk pergi Fraumunster Church, di mana tempat itu merupakan salah gereja terbesar di Zurich, Irene nampak senang melihat indahnya bangunan itu. Tampak megah dan kokoh, meski hanya melihatnya dari luar, namun tetap saja indah. Apalagi, gereja itu memiliki menara biru elegan yang menjulang tinggi di atas cakrawala Zurich.

Dan letaknya di sebelah danau yang menjadi salah satu kunci pemandangan Zurich. Tentu saja Zurich Lake, Irene benar-benar suka Sehun mengajaknya ke sini. Dan memang, beruntung saja Sehun sempat ke sini beberapa tahun yang lalu, karena urusan pekerjaan. Dan itu membuat Sehun, cukup tahu tempat wisata apa saja yang pantas mereka datangi.

TENG

Keduanya kini mendengar suara lonceng gereja, dan Sehun dengan tersenyum, mengulurkan tangannya untuk mengajak Irene berdansa. Dengan sedikit malu, Irene meletakkan tangannya pada tangan Sehun, dan mereka pun mulai berdansa dengan lonceng gereja yang masih berdengung di telinga mereka.

Entahlah, bukankah jika ingin berdansa harus disertai lagu yang romantis? Namun tidak, keduanya tidak membutuhkan itu untuk suasana romantis mereka, cukup Irene menatap Sehun dengan tersenyum, dan sebaliknya. Tertawa bak pasangan kekasih yang baru merasakan jatuh cinta.

Hingga saat Irene berputar, dan akhirnya membuat wajahnya begitu dekat dengan Sehun, hati gadis itu berdebar tidak karuan. Apalagi ketika nafas Sehun yang terasa menggelitik permukaan kulit wajahnya, dan rengkuhan Sehun di pinggangnya, membuat tubuh Irene semakin menegang.

Irene mencoba mengalihkan pandangannya ke samping, dan berusaha melepaskan dirinya dari Sehun, karena ia gugup ketika Sehun melihatnya dengan tatapan yang dalam membuat hatinya tidak terkontrol.

Namun ketika ingin berbalik, Sehun menarik gadis itu untuk jatuh dalam pelukan hangatnya. Irene lemas sudah rasanya, jantungnya benar-benar ingin lepas, karena debaran itu semakin tidak terkontrol. Padahal hanya sebuah pelukan, namun sensasinya membuat Irene ingin pingsan.

“Terimakasih.” Bisik Sehun lembut, dan Irene masih diam tanpa berkutik. Tangannya meremas kuat mantel hitam Sehun, “Terimakasih karena sudah memepercayaiku.” Ucapnya lagi, dan kali ini Irene tersenyum dan berangsur membalas pelukan Sehun.

“Terimakasih juga.” Balas gadisnya, dan Sehun yang tersenyum kali ini, “Terimakasih karena sudah mempercayaiku.” Ucapan yang sama dengan makna yang sama pula, dilontarkan dari bibir keduanya.

Kini Sehun melepaskan pelukannya dari Irene, dan mereka saling menatap sambil tersenyum, hingga Sehun menarik tengkuk Irene, dan segera menyambar bibir tipis gadisnya itu, melumat bibir tersebut dengan lembut dan membuat Irene mau tidak mau harus membalasnya.

Irene mengalungkan tangannya pada suaminya itu, sedang Sehun semakin menarik pinggang Irene lebih dekat. Saling melumat, hingga tanpa sadar membuat mereka menjadi pusat perhatian beberapa turis yang lewat. Namun itu bukanlah sesuatu yang harus Sehun pikirkan.

“Mmh.”

Bahkan dari bibir keduanya terdengar suara-suara decapan akibat ulah kegiatan mereka. Irene meremas rambut Sehun, menyalurkan sebuah perasaan asing yang menghampirinya.

“Sudah sayang.” Irene melepaskan tautan bibir mereka dengan sedikit terengah, dan Sehun malah menunjukkan wajah kesalnya, “Aku belum selesai.” Ucap Sehun sambil menarik dagu Irene untuk kembali berciuman dengannya, namun Irene melarangnya.

“Ini sudah sore, kita juga belum makan siang. Lebih baik kita pulang ke hotel, dan makan. Aku lapar.” Ucap Irene memeluk Sehun dengan manja, “Baiklah istriku. Apa pun yang kau katakan akan aku turuti.” Kata Sehun tersenyum, sebelum berakhir mencium pelipis Irene singkat.

.

.

.

Terlihat seorang pria yang memiliki postur tubuh tinggi itu, berjalan mondar mandir di dalam sebuah rumah mewah miliknya. Ya, pria bernama Leo itu tengah gelisah mengetahui tempat ia berlindung dan menjalankan bisnisnya tengah terbongkar.

Entah ia belum tahu siapa yang sudah berhasil melacak dirinya, namun menurut salah seorang anak buahnya yang memberi informasi, Leo berhasil dilacak oleh seorang anggota kepolisian. Berkali-kali Leo mengumpat dengan keras sambil membanting semua benda yang berada di dekatnya, dan hal itu membuat rumah pria tersebut menjadi kotor dan berantakan.

Terlihat Leo yang mulai mengeluarkan keringat dari pelipisnya, tentu saja ia takut saat ini, apalagi disaat ia keringat dingin seperti ini, rasanya otaknya sulit mencari jalan keluar.

“Apa yang harus kita lakukan sajangnim?” Tanya seorang anak buahnya, membuat Leo menatap tajam pada anak buahnya itu. Mereka pikir Leo bisa mencari ide secepat mencari situs porno di internet? Tidak! tidak semudah itu, kali ini mereka memiliki situasi yang berbahaya, dan jika Leo salah bertindak, maka semua akan berantakan dalam hitungan detik.

“Kau kira aku tahu?! Aku juga sedang berfikir brengsek! Kenapa kau tidak gunakan otakmu itu untuk berpikir juga huh?! Sialan!” Bentak Leo dengan keras, dan langsung membuat pria itu menunduk menyesal sudah bertanya pada Leo.

“Kita harus kabur segera!” Kata Leo sambil mengusap wajahnya kasar, setelah hampir satu jam berpikir, akhirnya yang keluar dalam otaknya hanya ide tersebut, yaitu kabur.

“Segera boking tiket pesawat menuju Osaka malam ini!” perintah Leo, dan beberapa anak buahnya mengangguk paham.

.

.

.

CKIIT

Suara mobil yang berhenti mendadak dari mobil sedan berwarna hitam itu, membuat beberapa penumpang di dalam mobil tersebut mendengus kesal. Sang pengendara yang bernama Jinwoo itu nampak terkekeh melihat beberapa temannya memandang kesal padanya.

Mian.” Ucapnya santai, namun ke- 5 orang itu nampak masih kesal.

Mereka pun turun dari mobil, dan menatap sebuah rumah mewah yang nampak sepi dan tidak ada penghuni di dalamnya. Rumah megah bercat putih yang berada di daerah Gangseo itu milik Leo.

Setelah mengadakan rapat siang tadi, mereka memutuskan untuk membentuk 2 tim. Setiap regu berisi 7 orang polisi. Dan Suho, Minseok, Lay, Jinwoo, Minhyuk, Minho dan juga pria bernama Mingyu menjadi tim A yang akan langsung mengepung kediaman Leo. Sedang tim B, akan menyelamatkan gadis-gadis yang Leo sekap di rumahnya yang berada di daerah Daegu.

Suho menekan tombol ear spacenya, “Taemin-ah, kau dengar aku?” Tanya Suho menunggu respon dari pria pemilik nama tersebut, “Oh hyung, aku mendengarmu.” Seru pria bernama Taemin itu, dari seberang sana. Suho menghela nafasnya mencoba menetralkan sedikit rasa gugupnya.

“Dimana kalian?” Suho melontarkan sebuah pertanyaan lagi.

“Kami sedikit lagi sampai di sana.”

“Baiklah, hati-hati! Jangan lupa mengabari jika ada masalah!” Ucap suho dan mengakhiri percakapan singkat itu.

Suho menarik nafasnya, rasanya meski ia sudah terjun sebagai polisi intel selama hampir 4 tahun, namun saat terjun langsung untuk melakukan misi, ia selalu gugup jika misi itu akan gagal. Pelatihan keras yang dulu ia jalani, menjadikan ia orang yang merasa selalu memiliki tanggung jawab besar dan beban untuk melakukan misi itu hingga sukses.

Suho pun segera melayangkan tangannya keatas memberi isyarat untuk maju memasuki rumah itu. Untuk urusan penjagaan di luar rumah, Suho mempercayakannya pada Mingyu. Minho dan Minseok. Sedang, Suho ,Jinwoo, Minhyuk dan Lay akan melakukan aksi terjun langsung ke dalam rumah, untuk menangkap Leo dan anak buahnya.

Beberapa senjata yang sudah diselipkan di dalam jaket-jaket mereka, para polisi itu dengan hati-hati membuka pintu pagar besar itu, dan mulai masuk ke dalam halaman rumah Leo dengan berhati-hati, takut jika Leo juga sudah menyiapkan anak buahnya untuk menyerang.

Tok tok

Minhyuk mengetuk pintunya, sedang Jinwoo, Suho juga Lay berada di samping kiri dan kanan pintu putih itu, dengan pistol di tangan mereka. Namun, meskipun mereka menunggu, tidak ada yang membuka pintu untuk mereka. Sehingga Minhyuk berinisiatif untuk mendobrak pintu tersebut.

BRAK

Minhyuk mendobrak pintu tersebut, dan pintu kokoh itu langsung jatuh ke bawah. Minhyuk , Suho dan Jinwoo langsung memasuki rumah itu dengan sikap siaga. Mereka melihat sekeliling rumah itu, menatap lantai atas dan bawah untuk mencari sosok pria yang mereka cari, namun nihil. Rumah itu kosong.

Minhyuk dan Jinwoo naik ke lantai atas, sedang Suho dan Lay memeriksa dibagian di lantai bawah. Sepertinya mereka harus mengumpat karena rumah itu sudah kosong, dan nampaknya tidak ada orang di sana. Apa mereka sudah kabur? Secepat itu?

Tidak lama mereka berempat kembali berkumpul di ruang tengah itu, dengan membawa hasil kosong. Ya, sayangnya mereka sedikit terlambat. Suho nampak menggeram kesal dan mengumpat berkali-kali.

“Mereka berhasil kabur!” Kata Jinwoo sedikit menghela nafasnya berat.

“Sial!” Umpat Suho sambil mengeraskan rahangnya, rasa marah dan frustasi memenuhi pikiran pria Kim itu, mengetahui Leo berhasil kabur sebelum mereka menangkap pria brengsek itu.

“Hyung! Mereka baru saja kabur!” Seru Mingyu melalui ear space. Membuat mata mereka melebar sempurna.

“APA?!” pekik Suho terkejut dengan paparan Mingyu. Tapi, mereka baru saja kabur kan? Itu berarti tidak akan sulit untuk mengejar mereka.

Dengan segera Suho, Jinwoo dan Minhyuk langsung keluar menemui anggota yang lain. Mereka terengah karena berlari, namun itu bukanlah masalah untuk mereka , karena berlari merupakan asupan untuk diri mereka sejujurnya.

Hyung! Kami sempat saling menembak.  Namun jangan khawatir, kita masih bisa mengejar mereka. Ayo hyung, cepat!” ucap Mingyu yang sudah siap di dalam mobil untuk mengejar Leo cs.

Mereka segera naik ke dalam mobil, dan Jinwoo langsung menancap pedal gas mobil itu, dan akhirnya mereka melaju dengan sangat cepat.

“Kau menemukan mobil mereka?” tanya Minhyuk pada Mingyu yang sibuk dengan layar laptob di pangkuannya, pria bernama Mingyu itu tidak menjawab dan masih sibuk melacak keberadaan Leo cs itu, “Aku menemukannya, mereka tidak jauh!” Seru Mingyu, dan Jinwoo yang mendengar itu langsung melajukan kembali mobil itu dengan cepat.

Suho menatap lurus ke depan, sedang Jinwoo menyetir mobil dengan sedikit liar, melambung beberapa mobil dengan laju dan gesit, membuat beberapa penumpang sedikit was-was di bangku tengah.

Mereka saat ini sedang bermain kejar-kejaran dengan 2 mobil Leo yang terus melajukan kecepatan mobil mereka, membuat Jinwoo akhirnya ikut melajukan speed mobil itu. Setelah Mingyu yang berhasil menemukan objek yang menjadi incaran mereka, polisi-polisi itu semakin fokus mengejar 2 mobil hyundai hitam itu tersebut.

Suho meremas kuat sabuk pengaman yang ia pakai, ia benar-benar gemas rasanya melihat Leo yang berusaha kabur dari kejaran mereka.

“Hyung, sandera berhasil kami selamatkan!” Seru Taemin lewat ear space membuat semua anggota bisa mendengarnya dan bernafas lega seketika itu juga. Satu masalah sudah terselesaikan, dan berikutnya menangkap bos brengsek itu.

“Baiklah, bawa sandera menuju rumah sakit terlebih dahulu, dan tetap awasi gadis-gadis itu. Ah, bawa anak buah Leo yang berada di sana menuju kantor! Ketua Choi akan memeriksa!” Kata suho memberitahu.

“Arraseo!”

Jinwoo mengklakson mobil Leo dengan keras, untuk menyuruh mereka berhenti namun tidak ada yang mau mendengarkan bel dari Jinwoo. Dengan cepat, Minhyuk dan Lay keluar dari sebuah lobang sedikit besar yang berada di atap mobil. Dan tanpa aba-aba, kedua pria itu menembakkan peluru pada 2 mobil Leo.

Anak buah Leo pun ikut menembakkan peluru pada mereka. Terjadilah aksi tembak-tembakkan di jalanan, membuat para pejalan kaki maupun pengendara mobil dan motor, ketakutan dengan hal itu. Dengan cekatan Minhyuk mengarahkan pistolnya pada lengan anak buah Leo, dan Lay menembak bagian ban mobil Leo.

Suho dan Minseok pun ikut membantu menembak melewati jendela mobil. Mereka terus saling menembak dengan gencar.

DOR!

DOR!

DOR!

Peluru itu melayang ke udara, dan langsung mengenai sasaran masing-masing, 2 orang anak buah Leo tertembak di lengan kanannya, dan 2 mobil itu mulai oleng oleh karena ban mobilnya kempes saat Lay menembakknya terus menerus.

CKIIT

2 mobil Leo pun akhirnya berhenti, dan dengan cepat Jinwoo menepikan mobilnya di tepi jalan. Suho cs segera menghampiri mobil itu, namun saat hendak membawa mereka, ternyata mereka melakukan perlawanan. Mereka menghajar Suho cs, namun tentu saja itu bukan hal besar.

Dengan waktu satu menit mereka bisa melumpuhkan pria-pria itu. Suho cs terengah, kemudian Suho pun melihat seseorang yang duduk di sudut mobil itu dengan topi hitam yang melekat di kepalanya. Pria Kim itu membuka pintu mobil tersebut dan menarik pria itu keluar dengan cepat dengan memegang kerah baju pria itu.

Suho kini bisa nenatap Leo yang terlihat ketakutan di sana.Suho pikir, pria itu berani melawan mereka, namun nyatanya ia hanya berlindung di balik anak buahnya. Cih, memalukan sekali.

Dengan segera Mingyu dan Minseok mengeluarkan borgol, dan memborgol lengan pria itu, beserta seluruh anak buahnya.

“Harusnya kau tidak boleh main-main dengan kami brengsek!” Kata Mingyu memukul kepala Leo karena gemasnya.

~TO BE CONTINUED~

Whew, capek banget nulis chapter ini. Otak aku mumet karena action ikut nyempil di sini. Maaf jika adegan Suho cs nangkap Leo gak bagus, karena itu bukan keahlian aku. Tapi entah kenapa mau bikin adegan polisi-polisi gitu, hehehe. Gimana sukak tidak chapter ini?

Masalah sudah lumayan berkurang deh yah, nextnya tinggal Junghoo, Hyo Eun dan juga Ji Sung. Oh ya, penasaran dengan wajah penjahat kita gak? Hehe, rada-rada psycopat gitu yah. Tapi emang gitu konsep awalnya.

Nih dia orangnya….

Aku pake visual Jongup BAP, karena pas liat mv mereka skydive itu, Jongup kok kayak bangsadh gitu, jadi akhirnya comot pria itu. Hehe, yang ga suka, bayangin penjahat sesuai keinginan kalian deh.

Ah dan satu lagi, aku rada kecewa sedikit pas chapter kemarin :”( soalnya yang minta pw buanyak banget. Tapi yang komen di luar ekpetasi. Okay, aku gak tahu alasan kalian apa gak ninggalin jejak setelah membaca, tapi emang aku ada rasa sedikit kecewa. But, ya syudahlah 🙂

Aku benar-benar terimakasih atas waktu kalian untuk membaca ff ku ini XD hehe.

Baiklah kalau begitu, sampai jumpa pada chapter berikutnya yahh. Sayonara -,-

20 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Stay With Me (Chapter 23)”

  1. Maaf ya kak kalo komen nya mungkin kurang pas dan gak sesuai ekspetasi.
    Tapi aku usahain buat komen kok!!
    Cerita kakak ini seru, panjang, dan konfliknya campur gt ada thriller, roamnce, family, dll.
    Apalagi posternya yang makin kesini makin menarik dan bagus.. Good job bgt kak, lets improve your skill, kak walaupun ini udh bagus!!😂

  2. Senyum2 dendiri baca yg sehun dan irene..

    Poko nya ff ini jangan end dulu, sebelum sehun dan irene punya anak..

    Semangat ka.. buat nulis nya..

  3. pengantin baru ya lagi hangat-hangat nya sweet banget ^^ irene manjanyaa..
    berharap hunrene real yah hehehe
    keren yaa aksi suho cs..
    masaalah yg lain cepat kelar juga yaa..
    biar hunrene hidup bahagia wkwk

  4. Satu masalah terselesaikan yeyy!!
    But jngn bilang abis jisung ketangkap bakal end?!!
    Gk kan? Gk ya!? Jangan!!!??
    Irene sama sehun harus sampe punya anak pokoknya!!sampe jongin smaa krystal nikah jugaaaaaaa/gktaudiri/
    Amteun fighting authornim!!!!!

  5. aaaaa sehun iren so sweeet bnget..jadi ngebayangin punya suami kek sehun’ pasti rasanya sebahagia iren 😅😅
    makasiih udah update ka’ ku tunggu next selanjutnya’ semangat kk 💪💪

  6. Selama ini ngebayangin penjahatnya malah Leo Vixx 😄
    Berharap adegan actionnya ada Sehunnya juga hihi
    Terima kasih utk kerja kerasnya, thor 😊

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s