[EXOFFI FREELANCE] Back In Time (Chapter 2)

Back In Time

A Fanfiction by Angeline

Starring by :

Park Chanyeol, Son Wendy ft. Oh Sehun

Supported by :

Bae Irene, Kim Yerim and Others

Genre :

Romance | fantasy | AU | Angst | Married life |etc~

Rating  PG-17 | Length Series Fic

Disclaimer :

Ff ini murine dari pemikiran aku sendiri, bila ada kesamaan tokoh atau jalan cerita yang terdapat dalam ff ini hal itu bukan merupakan bentuk plagiat melainkan unsur ketidaksengajaan. Happy reading ^^

Poster bye ByunHyunji @ Poster Channel

.

.

.

–Chapter 2–

‘The Right Answer’

Previous Chapter

“Chanyeol, apa kau bahagia jika aku bahagia?” tanya Wendy menatap pria itu. Chanyeol terdiam, dan rasanya lidahnya keluh untuk menjawab pertanyaan Wendy. Bolehkah Chanyeol jujur? Chanyeol sangat tidak bahagia melihat Wendy bahagia bersama orang lain, anggaplah ia egois, namun itulah kenyataannya.

“Ya, aku bahagia.” Ucap Chanyeol tersenyum dengan penuh kebohongan. Jika dibilang, Chanyeol adalah seorang actor yang hebat, karena bisa menyembunyikan semua itu dengan baik.

Lantas mendengar hal itu, Wendy tersenyum sambil meneguk air mineral dari botol minum yang ia bawa.

“Tapi kenapa aku tidak merasakan jika kau ikut bahagia bersamaku?”

DEG

Apa terlihat jelas jika Chanyeol sedang menahan api cemburunya saat ini? Demi Tuhan Wendy, jangan membuat Chanyeol kehilangan akal sehatnya, dan mengkhianati persahabatannya dengan Sehun.

.

.

Wendy tersenyum kecil, kemudian menaruh botol yang ia pegang. Wendy menggeser posisi duduknya, dan mendekat pada Chanyeol. Gadis itu meraih tangan pria Park itu, kemudian tersenyum pada Chanyeol.

“Chanyeol, apa kau memiliki masalah?” suara lembut Wendy mampu menggetarkan hati pria itu. Rasanya hatinya tercabik-cabik, bukan karena apa, melainkan ia tahu tidak bisa memiliki Wendy lebih dari seorang sahabat.

Bahkan tanpa sadar, air mata pria itu turun dari sudut matanya. Wendy yang melihat itu, langsung menghapus air mata Chanyeol dengan lembut.

“Kau bisa cerita padaku. Bukankah kita sahabat?”

Ya, hanya sahabat kan? Apa yang Chanyeol harapkan? Apa Chanyeol berharap gadis itu mengatakan jika mereka saling mencintai? Hal gila apa itu? Tidak, Chanyeol tidak bisa terpuruk terlalu lama seperti ini. Hatinya tidak mampu lagi.

“Mm, Wen? Lebih baik kau pulang, karena aku memiliki rapat penting sehabis ini.” Kata Chanyeol tersenyum, kemudian menyimpan kotak makan siang Wendy dengan sedikit terburu-buru. Wendy masih bingung dengan sifat pria itu. Kenapa mendadak Chanyeol seperti bersikap dingin dan hendak menjauhinya.

“Kau mengusirku?”

“Tidak Wen, hanya saja aku–“

“Baiklah!” ucap Wendy kemudian berdiri dan keluar dari ruangan Chanyeol, setelah ia menutup ruangan itu dengan keras. Bahkan Seohyun, sekretaris Chanyeol nampak terkejut karena itu.

“Aku tidak ingin menatapmu lebih lama. Hatiku sangat sakit Wendy. Kau harus tahu itu.” lirih Chanyeol menghela nafasnya, yang terasa berat. Pikirannya kacau dan hatinya tidak tahan untuk berada di samping gadis itu lebih lama.

.

.

Wendy mengumpat setelah pulang dari kantor Sehun. Mobil yang ia kendarai melaju dengan kecepatan normal, meski hatinya sedang kesal. Setidaknya Wendy masih mementingkan keselamatannya. Kenapa rasanya Chanyeol sangat berubah setelah ia menikah dengan Sehun? Bukan Chanyeol yang dulu semasa sekolah. Melainkan Chanyeol yang dingin dan menyebalkan.

Wendy menepikan mobilnya di parkiran kantor Sehun. Ya, gadis itu memilih kembali ke kantor suaminya untuk menemani pria itu. Beberapa pegawai Sehun nampak menunduk hormat padanya. Namun Wendy sedang tidak mood untuk tersenyum pada mereka. Ya, harinya sedang buruk karena Chanyeol.

Wendy menaiki lift, dan wajahnya nampak cemberut. Ia ingin mengadu pada Sehun mengenai Chanyeol. Rasanya Wendy ingin bilang pada Sehun jika Chanyeol sangat menyebalkan.

Ting

Wendy melangkah keluar setelah pintu lift itu terbuka. Namun matanya sedikit membulat ketika mendapati suaminya Sehun, sedang memeluk gadis bernama Irene dengan mesra. Ah, perasaannya sangat sakit sekarang. Hancur menjadi kepingan tidak berbentuk.

Wendy memegang dadanya yang sesak, likuid bening itu keluar dari matanya. Apa yang Sehun lakukan ini?

Sehun yang sudah menyadari kehadiran Wendy di sana langsung terkejut dan melepaskan pelukannya pada Irene. Ah, Wendy harus tahu jika bukan Sehun yang memeluk Irene, namun Irenelah yang memeluknya. Dan Sehun sama sekali tidak membalas pelukan gadis Bae itu.

“Wendy!” panggil Sehun, dan gadis yang sudah menangis itu memilih masuk ke dalam lift lagi.

Sehun terlambat, namun pria itu tidak kehilangan akalnya. Sontak, Sehun berlari menuju tangga darurat, dan turun melewati tangga itu. Menjelaskan semua pada istrinya, Wendy salah paham. Sehun pergi meninggalkan Irene yang nampak kesal di dalam tangisannya itu. Bahkan Sehun tidak peduli dengan teriakan Irene yang memanggil namanya terus menerus.

Baiklah, Sehun cukup terengah sekarang. Pria itu berhasil sampai lebih dulu di depan pintu lift. Menunggu Wendy keluar dari sana.

Ting

Sehun tersenyum di tengah nafasnya yang hampir habis karena menuruni anak tangga dari lantai 18 sampai lantai 1, apa Sehun berniat berolah raga di kantornya sendiri?

Saat pintu itu terbuka, dan Sehun menemukan Wendy di dalam sana. Gadis itu menangis dengan hebat. Sehun menghela nafasnya, kemudian meraih tangan gadis itu, namun Wendy menepisnya kasar.

“Sayang, dengarkan aku.” Ucap Sehun mencoba menjelaskan apa yang Wendy lihat tadi. Ya, semua tidak seperti yang Wendy bayangkan. Sehun tidak mungkin selingkuh.

“Kau salah paham.” Kata Sehun menarik gadis itu untuk memasuki lift kembali, dan kini hanya mereka berdua di dalam ruangan lift itu. Wendy masih menangis, dan Sehun mencoba memeluknya. Namun nyatanya Wendy masih belum mau menerimanya.

“Kalian berpelukan! Apa aku salah lihat?”

“Tentu saja kau salah lihat, karena yang memelukku Irene. Aku sama sekali tidak membalas pelukannya.” Jawab Sehun jujur sambil mengusap pipi Wendy sayang. Gadis itu menatap Sehun dengan wajah sembabnya,

“Dia menyukaimu?” Wendy memperdengarkan suara gemetarnya akibat menahan tangisnya. Sehun hanya mengangguk, karena ia tidak mau bohong pada Wendy. Sebisa mungkin, Sehun akan mengatakan yang sejujurnya pada Wendy.

“Aku juga kaget dia memelukku. Tapi percayalah, aku tidak mungkin mengkhianati istriku. Aku sangat mencintaimu.” Kata Sehun sambil mendekap tubuh gadis itu dalam pelukannya. Wendy membalas pelukan Sehun, dan ikut mengeratkan pelukannya. Gadis itu takut Sehun pergi darinya, atau bahkan meninggalkannya.

Wendy tidak membalas ucapan Sehun, melainkan wajahnya masih cemberut, meski kini Sehun merasa sesak nafas karena gadis itu memeluknya erat sekali.

“Sayang, bisa lepaskan pelukanmu? Aku tidak bisa bernafas.” Ucap Sehun sedikit pelan. Wendy yang mendengar itu agaknya sedikit melonggarkan pelukannya, dan kini mereka saling bertatapan. Wendy mengusap pipinya yang masih tersisa dengan air matanya.

“Aku mau pulang, sekarang!”

“Pekerjaan kantorku masih banyak. Bagaimana kalau kau tunggu sebentar hm?” Sehun mengusap surai panjang Wendy, dan gadis itu mengangguk singkat, lalu kembali merebahkan kepalanya pada dada bidang Sehun.

Pria itu tersenyum kecil dan mengecup puncak kepala Wendy dengan sayang.

“Lain kali dengarkan dulu penjelasanku sayang, mengerti?”

“Kau tahu sendiri aku mudah sekali cemburu!” kata Wendy ketus dan Sehun menghela nafasnya.

“Baiklah, gadis selalu menang, benarkan?”

Wendy menatap Sehun dengan wajah kesalnya. Pasalnya, ia memang gadis yang mudah untuk cemburu, dan Sehun tidak melupakan sifat gadis itu tentu saja. Sehun tersenyum kecil, kemudian menarik tengkuk gadis itu dan menciumnya dengan intens. Melumat bibir ranum Wendy bak orang yang tidak pernah berciuman sangat lama. Bahkan mereka hanya mencuri nafas sangat sedikit, namun keduanya masih menikmati ciuman manis itu.

Wendy mengalungkan tangannya pada leher Sehun, meremas sedikit rambut hitam pria itu. Dan Sehun memeluk pinggang Wendy, mengikis jarak yang tersisa. Hingga Wendy akhirnya mengalah, dan melepaskan dirinya lebih dulu. Terengah, itulah yang terjadi pada pasangan suami istri itu.

“Sehun?”

“Hm?”

“Hari ini aku kesal pada Chanyeol.” Gadis itu mulai bersuara lagi setelah membenamkan kepalanya pada dada bidang Sehun.

“Kenapa?”

“Kau tahu? Dia mengusirku dari kantornya. Aku sangat kesal padanya.” Ucap Wendy dan Sehun tersenyum, sambil mengelus punggung Wendy.

“Ya, mungkin dia sibuk sayangl. Sudah jangan dipikirkan. Ah, bagaimana jika nanti malam kita makan malam bersama yang lain?” tanya Sehun.

“Ya, aku setuju saja.” jawab Wendy sedikit acuh.

.

.

Beberapa pasang mata nampak berbincang ria bersama lawan bicara mereka masing-masing. Sebut saja kumpulan itu, Baekhyun, Suho, Sehun, Wendy, Seulgi, Yeri. Dan tentu saja ada yang kurang. Irene dan Chanyeol tidak nampak di sana, mungkin untuk Irene, Wendy yakin ia tidak akan datang.

Jujur, Wendy tidak bisa marah pada orang terlalu lama, dan Wendy juga berharap gadis itu datang. Karena Irene merupakan sahabatnya juga. Dan Chanyeol? Entah ke mana pria jangkung itu sekarang, ia tidak bisa dihubungi sejak tadi. Apa ia menghindari Wendy lagi? Entahlah.

Tap Tap

Mereka mendongak setelah melihat seseorang yang sudah berdiri di depan meja mereka, kemudian mengambil posisi duduk di dekat Baekhyun dan Suho. Padahal bangku di dekat Wendy kosong, dan ia memilih duduk di tengah Suho dan Baekhyun? Wendy menatap pria itu, dan Chanyeol juga menatap Wendy sejenak, namun ia mengalihkan tatapannya setelah itu. Wendy kesal luar biasa pada pria itu. Apa Chanyeol tidak merasa bersalah? Sialan.

“Kau dari mana Chanyeol?” tanya Suho.

“Maaf hyung, aku sangat sibuk di kantor.” Jawab Chanyeol tersenyum.

Wendy yang mendengar itu nampak mencibirnya dalam hati.

“Maaf aku terlambat.” Ucap seorang gadis, membuat mereka menatap sosok gadis yang memakai hot pants hitam dan sweater biru itu. Mereka tidak mengenal gadis ini, lantas siapa perempuan asing yang menghampiri mereka ini? Berbeda dengan Wendy yang tidak asing melihat gadis dengan potongan rambut sebahu itu. Ia pernah melihatnya, tapi di mana? Ah, sialan untuk kepikunan seorang Wendy.

Terlihat Chanyeol berdiri, dan itu membuat tatapan mereka menuju pada pria jangkung itu.

“Perkenalkan, dia kekasihku.” Chanyeol tersenyum singkat sambil merangkul gadis itu.

Lantas mereka membulatkan mata mereka semua setelah Chanyeol memberikan pengumuman itu. Wendy tidak percaya dengan yang pria itu katakan. Sehun yang juga sedang meneguk minumannya langsung tersedak. Tidak ada yang tahu jika Chanyeol memiliki seorang teman perempuan yang special.

“Serius? Kenapa aku tidak pernah melihatnya?” tanya Baekhyun yang nampak berpikir menatap gadis Chanyeol itu.

“Dia sekretarisku. Kim Seohyun.” Ucap Chanyeol masih tersenyum.

Wendy melebarkan matanya mendengar itu. Tentu saja gadis itu adalah sekretaris yang ingin Chanyeol ajak makan siang tadi. Namun sangat aneh rasanya, siang tadi mereka seperti atasan dan bawahan. Dan nyatanya mereka sudah pacaran? Wendy tidak menyangka itu.

“Baekhyun? Kau bisa geser sedikit?” tanya Chanyeol dan langsung mendorong Bakhyun untuk duduk di sebelah Wendy.

Seohyun duduk di dekat Chanyeol, namun expresi gadis itu sedikit canggung. Dan Wendy menyadari itu semua. Apa pria itu sedang pura-pura memiliki kekasih? Chanyeol yang tidak sengaja bertemu dengan tatapan Wendy, nampak gelisah. Karena gadis itu sangat tahu jika Chanyeol sedang berbohong. Apa mungkin Chanyeol akan ketahuan?

“Baiklah, lebih baik kita mulai makan.” Ucap Suho lalu menyumpitkan daging ke dalam mulutnya.

Kegiatan makan mereka pun berlangsung. Namun sepanjang itu semua, Chanyeol harus menelan pil pahit saat melihat kemesraan Wendy dan Chanyeol, yang seperti ingin membunuhnya secara perlahan. Dari Wendy yang menyuapkan makanan pada Sehun, sampai membersihkan noda sisa makanan pada sudut bibir pria itu. Tidak Wen, harusnya bukan Sehun yang kau perlakukan seperti itu.

Chanyeol pun tidak bisa fokus, dan hanya menatap kegiatan pasangan itu dengan hati panas dan kecemburuan yang suah mencapai batas akhir. Rasa sakit yang tidak bisa ditutupi lagi, membuatnya menggeser kursi itu sedikit ke belakang, dan menuju toilet, tanpa berpamitan. Dan itu membuat beberapa orang di sana menatap bingung pada Chanyeol.

.

.

Chanyeol membasuh wajahnya dengan air dari keran itu. menatap pantulan dirinya di kaca, nafasnya memburu dan hatinya kacau. Wendy seakan membuat hatinya hancur berkeping-keping. Dan itu sangat sakit, membuatnya ingin mati. Ya, Tuhan. Chanyeol tidak kuat menahannya. Ingin sekali ia memukul Sehun, dan membawa Wendy pergi. Sialan.

Cekrek

Chanyeol menoleh saat pintu kamar mandi terbuka. Sedikit terkejut saat Sehun yang memasuki toilet itu. Rasa canggung ketika menyelimuti Chanyeol. Serasa asing ingin menyapa Sehun. Seperti mereka bukan teman dekat, melainkan orang yang tidak saling mengenal.

“Yeol, kau baik-baik saja?” tanya Sehun yang terlihat sedang mencuci tangannya.

“Ya.” Jawab pria Park itu singkat.

“Ah, tentang kekasihmu. Sejak kapan kalian berkencan?”

“Mungkin satu minggu yang lalu.” Kata Chanyeol tersenyum palsu.

“Aku senang mendengarnya. Karena–“ Sehun menghentikan ucapannya dan menatap Chanyeol di sampingnya. Lantas, Chanyeol juga ikut menatap Sehun, “Aku tidak perlu khawatir kau akan merebut Wendy dariku.” ucap Sehun tersenyum pada Chanyeol.

Deg

Chanyeol seakan menegang mendengar itu.Apa Sehun tahu perasaannya pada Wendy? Oh tidak, tidak boleh. Chnayeol menunduk, tidak membantah ucapan Sehun, membuat pria Oh itu tersenyum.

“Kau tahu? Wendy selalu membicarakanmu saat bersamaku. Dan terkadang itu membuatku muak. Apa aku tidak cukup untuknya? Atau apa aku tidak lebih dari pada seorang Chanyeol? Demi Tuhan Chanyeol, aku ingin membencimu jika bisa, namun aku masih menghargai pertemanan kita.” Sehun menghela nafasnya sebentar, “Dia menikah denganku, namun dia sangat sering membicarakanmu. Hanya Chanyeol, Chanyeol dan Chanyeol.” Sehun tersenyum pahit, pria itu benar-benar mengeluarkan segala kekesalan hatinya pada Chanyeol.

“Sehun–“

“Aku tahu, mungkin dia hanya menganggapmu sahabatnya. Berbeda denganmu yang memandangnya sebagai wanita. Jadi aku mohon, sebelum ia ikut memandangmu bukan sebagai sahabatnya, jauhi Wendy. Aku tidak ingin kalian terlalu dekat.” Ucap Sehun kemudian keluar dari toilet itu meninggalkan Chanyeol yang masih diam di tempatnya.

Chanyeol merasa bersalah karena itu. Ia tidak menyangka jika Wendy akan lebih sering membicarakannya, ketimbang ia membicarakan Sehun. Haruskan Chanyeol bahagia karena itu? Tidak, Chanyeol masih ingin menyandang status sahabat yang baik untuk temannya sendiri.

Namun mendengar perkataan Sehun, agaknya membuat Chanyeol sedikit lega. Ia tahu jika perasaan senangnya ini salah, namun ia tidak bisa berbohong. Mengetahui Wendy masih memikirkannya sampai saat ini, membuat hatinya senang.

Chanyeol pun keluar dari toilet itu, dan ia benar-benar terkejut mendapati sosok gadi berambut cokelat itu berada di depannya. Kim Yeri, apa yang gadis itu lakukan di depan toilet pria?

“Yeri? Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Chanyeol menaikkan alisnya.

Sunbae–“

“Apa?” potong Chanyeol sebelum gadis itu mengatakan sesuatu.

“Ya, sunbae! Sudah kau baca bukunya?” Chanyeol menggeleng, dan Yeri nampak frustasi karena itu. Astaga, mengapa sangat susah sekali memberitahu pria ini?

“Hah! Baca saja! Kenapa sunbae susah sekali dikasih tahu sih?”

“Kau ini kenapa? Jika aku bilang belum ya belum! Tidak usah memaksa!” kata Chanyeol sedikit ketus, dan Yeri sedikitnya kesal karena itu.

“Bagaimana cara menjelaskannya ya? Hm, sunbae dengarkan aku. Jika kau mau mengambil kesempatan terakhir itu, aku yakin Wendy eonnie akan menjadi milikmu.”

“Kau itu bicara apa huh? Tidak jelas sekali dari kemarin! Kesempatan apa yang kau maksud?”

“Makanya baca saja bukunya! Argh, kenapa laki-laki susah mengerti seperti ini sih?” ucap Yeri mengacak rambutnya frustasi.

“Baiklah, aku akan membacanya nanti malam. Puas?!” kata Chanyeol lalu berjalan mendahului Yeri, dan nampak senyuman kebahagiaan terukir di bibir gadis itu.

“Aku bingung mengapa ayah Chanyeol sunbae memintaku melakukan ini? Bukankah ia bisa melakukannya sendiri, dia kan ayahnya? Tapi tidak apa, yang penting aku dapat uang.” Ujarnya terkekeh kemudian berjalan menjauh dari sana.

.

.

Chanyeol duduk di ruang kerjanya, menatapi sebuah buku diary bersampul pink yang nampak cantik, seperti pemiliknya. Chanyeol menggenggam buku itu, rasa penasaran benar-benar menggeluti pikirannya. Hatinya juga tidak sabar membuka buku diary pink itu.

Namun saat ingin membukanya…

Kriet

Appa?” Chanyeol membulatkan matanya saat melihat sang ayah berdiri di pintu ruang kerjanya. Ah, satu lagi, sejak kapan ayahnya datang ke apartementnya, dan mengapa Chanyeol tidak sadar itu?

“Yeol, Kau sibuk?”

“Ah, tidak. Ada apa appa kemari?”

“Biasa, aku dan eommamu sedang bertengkar.”

“Lagi? Astaga, kalian seperti anak kecil. Umur berapa kalian huh?”

“Sudahlah, appa tidak ingin membicarakannya.” Ucap tuan Park kemudian duduk di sebuah sofa yang ada di ruangan itu, Chanyeol pun ikut duduk di sana menemani sang ayah yang nampak sedang stress.

Appa mau minum sesuatu?”

“Tidak, appa hanya ingin mengobrol denganmu. Bagaimana perusahaan? Baik?”

“Ya, semua masih terkendali.”

“Lalu bagaimana dengan hatimu, apa juga baik?”

“Ya, itu – tunggu! Apa maksud ucapan appa barusan?”

Tuan Park tersenyum kemudian menatap Chanyeol dengan serius.

“Apa Yeri sudah memberikan buku diary milik Wendy?”

“Dari mana appa tahu itu? Oh, jangan bilang ini semua ulah appa?”

Tuan Park tertawa kecil menanggapi expresi Chanyeol yang terlihat sangat kaget. Oh, tuan Park memiliki alasan melakukan semua ini. Bukan semata-mata, hanya menyuruh mengambil buku itu untuk Chanyeol lihat, dan membuat pria itu akhirnya semakin terluka. Namun, semua ini ada maksud dan tujuannya.

“Jelaskan padaku.” Ucap Chanyeol mencoba mencari tahu apa maksud ayahnya menyuruh Yeri mengambil buku harian milik Wendy.

Appa tahu kau menyukai Wendy sejak lama, dan appa tahu jika kau tidak baik-baik saja saat ini. Jadi, appa memutuskan membuka sebuah rahasia kecil laki-laki, di keluarga Park.” Chanyeol menaikkan alisnya, seperti kurang paham dengan perkataan sang ayah.

“Okay, aku tidak paham dengan pembicaraan ini. Bisa langsung ke intinya saja?”

“Hah, baiklah. Anak muda selalu tidak sabar.” Tuan Park menghela nafasnya dan kembali menatap Chanyeol. “Setiap laki-laki di keluarga Park, bisa menjelajahi waktu.”

“APA?! Hal gila macam apa yang appa katakan itu?”

“Lihat, kau tidak percaya dengan mudah, seperti dugaanku.” Kata tuan Park terkekeh, Chanyeol masih melongo mendengar ucapan yang tidak masuk akal dari ayahnya itu. Kembali ke masa lalu, apa ada hal itu di dunia ini? Tidak, apa masih ada hal seperti itu di dunia yang sudah canggih seperti ini? Ayolah, mereka bukan hidup di dalam cerita Alice in Wonderland.

“Kau kira appa mendapatkan eommamu bagaimana? Tentu saja karena hal itu. Dulu eommamu hampir menikah dengan orang lain, dan akhirnya appa memutuskan untuk mengubah takdir dan sejarah. Bukankah itu keren?”

“Baiklah, cukup pembicaraan gila ini. Aku mau tidur!” kata Chanyeol berdiri, namun sang ayah menahan tangan pria jangkung itu.

“Jika tidak percaya, coba saja! Pergi ke tempat yang gelap, dan pikirkan tempat yang ingin kau kunjungi di masa lalu.” Ujar tuan Park kemudian berdiri meninggalkan Chanyeol.

.

.

Chanyeol mengusap wajahnya kasar. Ia menatap dirinya di depan cermin kamar mandi. Memabasuh wajahnya yang nampak frustasi, dan banyak pikiran. Lantas, perkataan ayahnya berputar di dalam kepalanya. Apa benar? Ah, mengapa juga Chanyeol mempercayai hal seperti itu? Tidak, itu hanya ungkapan gila ayahnya untuk menghibur Chanyeol.

Chanyeol pun naik ke ranjang kamarnya, bersiap untuk tidur. Namun matanya tertarik pada buku harian Wendy yang belum sempat ia baca itu. Tangannya kembali terulur mengambil buku itu dari atas nakasnya. Perlahan namun pasti, pria itu membuka buku itu, nampaklah halaman pertama yang berisi tulisan tangan khas seorang Wendy. Tulisannya sangat indah, membuat Chanyeol tersenyum.

February 13th 2013

“Hari ini hari yang melelahkan untukku. Banyak tugas sekolah yang harus aku kerjakan. Namun aku senang,karena satu kelompok bersama Chanyeol dalam tugas biologi.

Ah, pria itu menyebalkan hari ini. Kau tahu? Dia mengacuhkankanku saat di kantin, dan lebih memilih mengobrol dengan senior kita yang cantik itu. Menyebalkan, hatiku sangat sakit melihat itu! Tidak bisakah ia menatapku sebagai wanita? Aku menyukaimu Park Chanyeol! Dasar pria tidak berperasaan.”

Hati Chanyeol seakan semakin hancur membacanya. Jadi Wendy sudah menyukainya semenjak mereka sekolah? Demi Tuhan, jika ia tahu lebih dulu, Chanyeol tidak akan melewatkan kesempatan berharga itu. Pria itu menutup bukunya, matanya terpejam dengan diikuti oleh cairan bening yang keluar dari sudut matanya.

Chanyeol memijat keningnya.

“Setiap laki-laki di keluarga Park bisa menjelajah waktu.”

“Sialan!” umpat Chanyeol, kemudian mematikan lampu kamar tidurnya.

Matanya terpejam kuat, dan tangannya terkepal. Nafasnya terasa memburu dan rasanya pikirannya kosong. Kini ia merasa aneh, karena mendengar suara tawa dari beberapa orang. Terasa ramai di sini, tunggu dulu, Chanyeol menghafal aroma ini. Perlahan, matanya mulai terbuka, dan.

DEG

Chanyeol melebarkan matanya jika dia tidak ada di kamarnya. Melainkan, berada di dalam ruangan kelasnya saat sekolah dulu. Chanyeol bisa melihat setiap teman lamanya yang lengkap tidak berkurang satu orang pun. Baekhyun, Sehun, Wendy, dan Seulgi. Mereka nampak di sana. Dan Chanyeol ingat jika saat ini kelas sedang bahagia, karena guru olah raga tidak masuk.

Apakah ia bermimpi?

PLAK

Chanyeol menampar pipinya sendiri dan terasa sangat perih. Ia mencoba mencubit perut, pinggang dan pipinya lagi. Dan terasa nyata. Ini bukan mimpi! Ya, Chanyeol kembali ke masa sekolahnya dulu.

“Tidak mungkin!” ucapnya sambil menutup mulutnya sendiri.

“Hey Chanyeol!” seru seseornag memanggil namanya. Chanyeol nampak berbalik dan bertemu dengan mata Baekhyun.

“Ada apa dengan seragammu? Dan, ke mana sepatumu huh?” Chanyeol meatap dirinya sendiri. Demi Tuhan, ini baju piyama yang ia gunakan untuk tidur tadi. Dan sialnya, ia lupa memakai sandal. Tidak, ini memalukan.

“Yeol, kau baik-baik saja? Kau seperti mau pesta tidur! Haha.” tawa Baekhyun dan Sehun memecah, dan seluruh kelas ikut menertawakan Chanyeol.

Pria itu berdiri dan segera berlari dari kelasnya menuju kamar mandi. Nafasnya terengah, dan jantungnya memompa sangat cepat. Bagaimana bisa hal ini terjadi? Tidak, Chanyeol tidak bermimpi. Semua ini nyata adanya. Lantas, Chanyeol masuk ke dalam kamar mandi, dan mematikan lampunya.

Matanya kembali terpejam. Dan perasaan yang sama datang untuk kedua kalinya, seperti saat ia melintasi waktu tadi. Kini ia tidak mendengar suara ricuh lagi, Chanyeol membuka matanya dan ia lebih terkejut lagi saat melihat ayahnya berada di atas kasurnya dan sedang duduk membaca buku.

Chanyeol kembali lagi ke kamarnya. Ya, masa sekarang. Ia kembali ke masa sekarang. Dan itu bukan sekedar delusinya, atau mimpi gila di malam hari. Ia memang melintasi waktu, hal yang ayahnya katakan benar adanya.

“Apa tadi –“

“Sudah membuktikannya?”

“Ini gila.” Chanyeol memegang dadanya sendiri. Dan masih berpacu dengan cepat. Astaga, apa yang baru saja ia alami tadi? Chanyeol masih tidak percaya dengan yang terjadi barusan.

“Tapi kau suka kan?”

Appa–“

“Harusnya seorang ayah tidak boleh mengajarkan ini pada anaknya tapi, kejar dia Chanyeol! Dapatkan Wendy kembali, dan kali ini, jangan sia-siakan kesempatan terakhirmu.” Kata tuan Park tersenyum.

“Ya, akan kupastikan mendapatkannya dengan benar kali ini. Tunggu aku sayang.”

.

.

.

~TO BE CONTINUED~

Jangan lupa meninggalkan jejak yah 🙂 Aku tetap menanti hehe

Sayonara semuahhh -,-

3 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Back In Time (Chapter 2)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s