[LAY BIRTHDAY PROJECT] The Eye-Veronika Adien

[LAY BIRTHDAY PROJECT] The Eye-Veronika Adien
LAY & OC ||Mystery/Suspense||G

[Terjadi pembunuhan di jalan Shenzhen, Beijing, tadi malam sekitar pukul setengah dua belas malam. Luka tusukan ditemukan di perut korban yang diduga mengonsumsi alkohol. Kemungkinan, pelaku adalah tersangka yang sama dari kasus pembunuhan berantai yang terjadi baru-baru ini, dilihat dari ciri khas sang pelaku yang selalu mengambil bola mata korbannya.]

Yi Xing membenarkan letak kacamatanya sambil menatap lurus ke arah monitor di meja kerja, sementara rekannya yang lain sibuk berbincang sambil meminum kopi.

“Dunia ini sudah gila. Aku jadi tidak bisa hidup dengan tenang,” kata salah seorang karyawan wanita.

“Siapa pembunuh gila itu? Bisa-bisanya dia membunuh orang, bahkan di tempat umum sekali pun?” sahut wanita lain yang kemudian dibalas oleh Xiu Min.

“Yang penting adalah bagaimana dia bisa bertahan tanpa tertangkap. Bagaimana menurutmu, Yi Xing?”

Merasa terpanggil, Yi Xing mengangkat kepalanya kebingungan. “Apa? Bagaimana?”

Jun Myeon mendaratkan pukulan tangannya ke atas bahu Yi Xing. “Bisakah sekali saja jangan bertingkah seperti orang bodoh?”

Sementara Yi Xing menggaruk tengkuknya linglung dan teman-temannya yang lain tertawa, suara seorang penyaji berita dari televisi menarik perhatian mereka.

[Psikopat bisa jadi ada di sekitar anda. Ciri-ciri umum seorang psikopat, mereka menganggap dirinya hebat. Mereka cenderung anti sosial, dingin, dan tidak memiliki rasa bersalah. Namun, hal-hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa seorang psikopat memiliki pribadi yang cerdas dan perkiraan dengan keakuratan yang tinggi.]

Dengan kompak, para karyawan perusahan game itu saling menatap satu sama lain. Seakan terhipnotis, pikiran mereka langsung tertuju ke satu orang, yaitu bos mereka, Lin Zhu Xian. Melihat hal itu, Yi Xing menggelengkan kepalanya heran.

“Serius, teman-teman?” ujarnya. Belum sempat berbicara lebih jauh lagi, bos mereka, Zhu Xian datang dengan melangkah di atas sepasang higheels hitamnya. Masing-masing karyawan langsung kembali ke meja kerja dengan gelagapan, bahkan ada yang sampai tersandung.

Aura yang keluar di setiap langkah kaki wanita itu begitu mencengkam. Bahkan, Yi Xing sampai harus menahan napasnya ketika Zhu Xian berjalan melewati meja kerjanya. Saat bos killer itu masuk ke ruang kerjanya, para karyawan baru bisa bernapas lega. Xiu Min mendekat ke arah Yi Xing di atas kursi berodanya dengan tatapan penuh selidik. “Lihat? Ketika kami masing-masing memikirkan bos Zhu Xian sebagai seseorang yang cocok dengan ciri-ciri psikopat itu, ia datang dengan raut wajah datar dan mematikannya.”

Yi Xing menatap lurus ke arah pintu ruang kerja bosnya yang tertutup. Ia menggelengkan kepala sambil tertawa. “Dia hanya seorang atasan menyebalkan, itu saja. Sama seperti seorang ibu yang selalu marah-marah kepada kita.”

“Setidaknya ibu adalah ibuku! Tapi Zhu Xian—maksudku bos Zhu Xian adalah seorang atasan yang bahkan lebih kejam dari ayahku.”

Jun Myeon datang dan berdiri di antara mereka. “Aku setuju denganmu. Bagaimana kalau bos Zhu Xian memang psikopat? Kalian lihat kotak kecil yang dibawa bos tadi? Bagaimana kalau di dalam sana terdapat dua bola mata korban yang baru saja dibunuhnya semalam?”

Sementara Xiu Min bergidik ngeri, Yi Xing justru menahan tawanya.

“Mau kubuktikan?” tanya Jun Myeon untuk meyakinkan Yi Xing.

Yi Xing menatap Jun Myeon menantang. “Cobalah.”

Jun Myeon menuntun mereka memandang ke ruang kerja Zhu Xian. Wanita itu membuka pintunya dan melangkah pergi, membiarkan ruang kerjanya kosong tak terkunci.

“Kita bisa masuk dan melihat ke dalam sana. Tunggu apa lagi?”

Sementara Xiu Min hanya mengangguk setuju, Yi Xing terlihat tidak yakin. “Kau gila?”

“Tenang saja.”

Saat Xiumin beranjak dari duduknya dan bersiap pergi bersama Jun Myeon, Yi Xing mengeluarkan ponselnya dari saku dan menghentikan mereka. “Tunggu! Aku mendapat telepon.” katanya sebelum melangkah pergi.

Setelah sekian lama, Yi Xing kembali dengan menerima raut wajah kekesalan dari teman-temannya.

“Lama! Bagaimana kalau bos kembali?” oceh Xiu Min kepada Yi Xing yang tersenyum meminta maaf.

“Ibuku menelepon.”

“Ayo pergi, jangan menunda lagi.”

Ketika melangkah masuk, ruangan itu terlihat begitu bersih dan tenang. Tumpukan dokumen memenuhi meja kerja wanita itu. Beberapa lukisan dipajang pada dinding, namun karya seni itu terlihat biasa dan tidak memiliki arti khusus.

“Apa aku berekspetasi terlalu tinggi?” ujar Xiu Min sambil melihat ke sekeliling tanpa antusias. Yi Xing sibuk mengamati setiap sudut ruangan itu hingga berakhir pada meja kerja Zhu Xian.

“Pasti ada sesuatu yang salah di sini,” tukas Jun Myeon, sampai tatapannya tertuju ke arah laci-laci meja. Ia melangkah mendekat dan bersiap membuka salah satu lacinya.

“Apa kau tidak terlalu berlebihan?” cegah Min Seok, namun Jun Myeon tidak memedulikannya.

Yi Xing mengamati gerak-gerik Jun Myeon yang terus mencari dengan teliti. Ketika tidak menemukan apapun, Ia hendak berjalan menuju meja kerja Zhu Xian. Xiu Min menatap rekan kerjanya gelisah sementara Yi Xing melebarkan kedua bola mata sebelum menghentikannya.

“Sudah, cukup. Kau melewati batas.”

Jun Myeon menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan berkata yakin kepada kedua temannya, “Sudah kubilang, pasti ada sesuatu yang salah dengannya!”

Xiu Min menatap marah rekan kerjanya. “Apa kau melakukan ini karena bos sering membuatmu malu di depan rekan kerja yang lain, sehingga kau ingin membalas dendam? Kalau begitu, berhentilah. Caramu ini bahkan lebih kotor daripada sifat bos Zhu Xian,” kata Xiu Min tegas sebelum ia meninggalkan ruangan.

Jun Myeon mengertakkan gigi, lalu ikut menyusul keluar. Yi Xing hanya mampu berdiri pada tempatnya sambil mengembuskan napas panjang.

“Sudah aman. Keluarlah.” ujarnya kepada seseorang yang bersembunyi di bawah meja kerja.

Wanita itu, Zhu Xian, merangkak keluar dengan kotak kecil di tangannya. Ia menatap ke arah pintu dengan marah. “Hampir saja. Terima kasih sudah memperingatkan lewat telepon. Beruntung, aku sempat kembali untuk menyelamatkan ini ketika mereka tidak melihat.”

Zhu Xian membuka kotak kecil yang sedari tadi dibawanya. Setelah yakin bahwa sepasang bola mata yang didapatnya semalam masih di dalam sana, ia kembali menutup kotak itu. “Ini, aku baru saja membungkusnya dengan pita.”

Yi Xing menerima kotak pemberian Zhu Xian. Ia berjalan mendekat dan mengusap lembut pipi wanita—bukan, pacarnya itu.

“Aku ingin membunuh mereka,” ujar Zhu Xian.

Yi Xing memeluk tubuh wanita itu sambil mengelus kepalanya. “Kalau seseorang meremehkanmu lagi seperti laki-laki pemabuk semalam, panggil aku. Aku akan membunuhnya, dan kau tinggal memberikan kado ini sebagai gantinya.”

“Tentu saja. Aku mencintaimu.”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s