[LAY BIRTHDAY PROJECT] KO,MA

KO,MA

Lay EXO, Lalisa Blackpink, Rose Blackpink, Kai EXO, Xiumin EXO | Romance, Hurt| G

Lay POV

Aku Lay Sutedjo anak dari CEO perusahaan Sutet Corp. Bisa kalian bayangkan wajah tampanku melebihi Hamish Daud. Umur mudaku, banyak uang ahh rasanya sangat bebas. Sampai akhirnya bapak Sutedjo, ayahku ingin menjodohkanku dengan Rose, anak bapak Supardi. Aku masih berkuliah dan orang tuaku ingin aku menikah.

Halo Lay Sutedjo hidup di zaman modern plis deh, hingga ide gilaku muncul.

“Yaa Lalisa Biantoro!” yang kupanggil spontan menoleh kearahku. Cantik.

“Memanggilku? ada apa? memang aku temanmu?”

“Aku Lay Sutedjo, Ayahku Sutedjo orang yang membiayai beasiswamu. Ayo kita bicara, sesuatu penting yang menyangkut beasiswamu,dan ya aku tidak berminat untuk pertanyaan terakhirmu” ucapku dengan sombong.

“Kenapa beasiswaku, ap..” aku menarik tangannya sebelum dia melanjutkan kalimatnya.

“Apa yang ingin kau bicarakan, kenapa disini? Kau orang kaya kan? kita bisa bicara di kafe”

“Sangat buas, apa kau tak sesabar itu sampai ingin makan bersamaku?” godaku sambil mengedipkan mata kananku.

“Lay Sutedjo, apa yang kau mau?”

“Oke, aku mau kau jadi pacarku, bagaimana? Kau mau kan?. Aku tidak mengancammu, hanya saja jika kau menolak beasiswamu itu aka…” ucapku terpotong karena ocehannya.

“Kau gila, kau mengancamku bodoh! Kenapa kau tak dengan yang lain saja, aku tidak mau denganmu!”

“Aah, kau tidak mau? Terserah, sebentar lagi kau akan jadi milikku. Datanglah ke pertandingan basket nanti, jika tidak bukan hanya beasiswamu, tapi temanmu Umin akan jadi taruhan” ancamku sambil bersiul meninggalkan Lisa.

Lisa POV

Apa yang harus aku lakukan, yaampun! Beasiswaku yang kucinta, Beasiswa Umin, Bisa-bisanya donatur kampus mengancam Lalilsa yang lemah ini.

“Lisa, kenapa? Kamu tidak ingin melihat pertandingan basket kampus kita?” ucap Xiumin membuyarkan lamunanku.

“emm, kamu duluan aja deh Min!” ucapku setenang mungkin.

“Oke, aku duluan yaa”

“Yaampun, puji Dewi air jika beasiswa itu dicabut aku akan jadi apa!. Ini gila, gila! aishh..” aku berlari menuju tempat pertandingan.

Aku menduduki tribun paling bawah, karena bangku atas sudah penuh dengan fans yang mendukung lelaki gila itu dengan lengkingan suaranya yang bisa membuat telingaku rusak.

“Pertandingan akan berakhir, dan bisa kita lihat skor Universitas Setia unggul daripada Universitas Gading. Yaya Bola direbut Lay Sutedjo, menari dan men…” ucapan host yang sama gilanya dengan Lay.

Hal yang membuatku gila, dia berhenti berlari dan mencari sesuatu hingga matanya menemukanku.

“Lisa Biantoro, ini buat kamu” teriaknya seketika membuatku menjadi miss Universe 2017.

“Lisa sama Lay?.”
“Bukannya Lay dijodohin sama Rose ya?.”
“Dia orang ketiga nih jangan-jangan.”

Aku ingin menyumpal mulut mereka dengan sepatuku.
Dan sekarang yang kulihat, Lay berjalan ke arahku, dan menarikku ke tengah pertandingan, sontak membuat semua berteriak.

“Jika kau menerima ini, lempar bola ini ke arahku dan jika kau menolak lempar ini ke arah ring basket” apa dia gila, pilihan yang tak masuk akal.

Aku bingung dan tiba-tiba dia melempar bola ke arahku namun, meleset ke kepalaku. Hanya gelap yang kurasa setelahnya.

Lay POV

Bisakah kita bersama lagi Ice. Ah aku benar-benar bisa gila.

Dia terbangun, dan sedikit meregangkan tubuhnya dengan keenakan.

“Enghhhh, yaampun pusing”

“Sayang kamu sudah bangun, yaampun aku khawatir sama kamu”

“Kenapa kamu gak bilang sama mama kalau kamu sudah dewasa sekarang” ucap mamanya yang sontak membuatku tersenyum.

“Jadi ini bukan mimpi ma, kapan aku terima dia, aku tadi cuma pingsan kok ma, aku inget itu. loh Umin kamu?”

“Selamat ya atas hubungan kalian, kenapa kamu nutupin selama ini dari aku sih. Jadi tadi kamu kepikiran gara-gara ini nih?” Umin mencoba menggoda Lisa.

“Apahh, selama ini! Ah…” Ucapnya sebelum pingsan lagi.

Lisa POV

Pagi ini dia menjemputku, sambil menjelaskan jika hubungan ini hanya pura-pura, sampai ayahnya pergi ke luar negeri. Setelah itu kita bebas dari perjanjian ini.
“Jadi kau tutup mulutmu rapat-rapat jangan sam..”

“Iya aku tahu. Tapi ada satu hal yang belum kuceritakan padamu. Aku memiliki kekasih” ucapku sontak membuatnya kaget.

“Apa? Putuskan dia sekarang!” perintahnya bak Raja.

“Tidak aku mencintainya!. Ya ya!! handphone ku, kau mau apa!”

“Halo, aku Lay lelaki tampan yang kini sudah menjadi pacar gadismu. jauhi dia jangan kau sentuh dia, jangan temui dia lagi!” ucapnya saat orang diseberang menjawab dan seketika mematikan panggilannya tanpa merasa bersalah.

“Ahhh! Kau gila apa!” bentakku

“Iya memang aku gila karenamu!”

Sesampainya di kampus aku meninggalkan Lay. Bagaimana bisa dia melakukan itu?

“Apa itu Kai?” gumamku

“Bisa aku bertemu lelakimu?” Ucap Kai dengan dingin.

“Kai dia buk..” ucapku terpotong karena ocehan Lay yang kini menjawab pertanyaan Kai.

“Aku lelakinya, kau mau apa?”

“Ah, kau Zhang Yixing? Aku benar? Pembalap tak terkalahkan di sirkuit itu kan?”

“Apa maumu katakan!” bentak Lay membuatku kaget.

“Mari kita selesaikan secara lelaki. Jika kau menang, bawalah gadisku dan aku akan pergi. Jika aku menang, aku bawa gadisku dan terimalah perjodohan mu dengan adikku. Deal?”

“Tidak mau,aku mencintainya” ucapan Lay membuatku mendelik.

“Hahah, aku tunggu kau Zhang Yixing. Sirkuit balap malam ini” ucap kai.

” Tidak tidak,ini bukan perjanjian awal kita Lay” gumamku pelan.

“Tidak lupakan perjanjian itu, kau melupakanku Ice ku? Biarlah ini terjadi. Aku terima tantanganmu” ucap Lay sambil memegang pipiku.

Dan mereka berdua meninggalkanku sendiri, dengan penuh tanya. Ice?

Pukul 00.00, Sirkuit balap.

“Kau yakin melakukan ini, aku tidak yakin. Jalannya licin” aku bingung harus bagaimana.

“Diamlah kau akan jadi milikku Ice ku.” entah kenapa hatiku seketika menghangat. ice ku?

“Tunggu aku Ice ku” dia tersenyum.

Aku melihat Kai dan Lay memasuki mobil sport mereka dan melesat bagai angin. sampi bunyi ledakan membuatku…

Terbangun dari koma.

“LAY, KAI!!.”

“Sayang, kamu bangun? Mama senang kamu sadar”

“Maa, mana Lay, mana Kai?”

“Siapa mereka? Apa mereka yang menabrakmu? Ah sudahlah yang terpenting anak mama sudah sadar”

“Apa mereka beneran ngga ada ma? Lay, Kai, Umin dan Mawar ” ucapku dan ditanggapi gelengan oleh mama.

2 Bulan kemudian

Aku hidup layaknya gadis biasa namun terbayang dengan kenangan komaku.
Sepertinya sudah sejak lama aku tidak minum kopi saat turun hujan.

“Permisi, boleh aku duduk disini?”

“Lay?”

“Lay? Apa kau orang?” sahutnya membuatku sedikit tersenyum.

Dan hari itu aku merasa Lay itu nyata.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s