[LAY BIRTHDAY PROJECT] Eunoia Senja – tanianovena

[LAY BIRTHDAY PROJECT] Eunoia Senja – tanianovena

Lay as Main cast, Luhan, Suho || Friendship, Mystery (maybe._.) || Teen

Note: Fanfic penuh quotes :v terinspirasi dari lagunya JKT48 + Katawaredoki Kimi no nawa

Happy reading~

…..

Bunyi nyaring nyanyian tonggeret di pohon itu menjadi pengiring aktivitas di sore hari. Mengusik, namun mengalun merdu. Sangat cocok dipadukan dengan angin musim gugur yang berhembus ditemani oleh suara aliran sungai gemericik yang tak jauh dari sana.

Pohon besar itu berdiri gagah dengan akarnya yang menopang kuat dan batang yang besar. Ditambah dedaunan yang rindang memberi kesan nyaman di musim gugur ini.

Dedaunan kering terlihat berserakan mengelilingi sekitarnya. Sementara itu, seorang pria paruh baya tampak sibuk dengan sapunya menggiring dedaunan kering dan menumpuknya menjadi tumpukan yang cukup besar.

Di sisi lain, seorang remaja laki-laki duduk di kursi tua tak jauh dari pohon sambil berusaha menahan isak tangisnya.

“Lay, aku ingin bercerita kepadamu,” ujarnya sambil sesekali mengusap matanya.

“Ceritalah, Lu, aku akan mendengarkan.”

Perlahan, remaja yang dipanggil ‘Lu’ tadi mengangkat kepalanya, “Kau tahu kan? Baru sekitar setahun yang lalu aku pindah ke Seoul, bertemu denganmu, dan kau mengajariku banyak hal, termasuk bahasa Korea.”
Kalimat panjang meluncur sebagai pembuka dari ceritanya.

“Tetap saja, bahasa ini masih terasa susah bagiku.”

“Mereka menganggapku aneh —ya, seperti yang kau ketahui, aksenku berbeda. Mereka tidak paham apa yang kukatakan. Dan kau tahu? Mereka menyuruhku diam dan tak usah berbicara. Bukankah itu namanya melanggar hakku?”

Butiran air meluncur bebas membelai pipinya. Berat bagi Luhan mengingat kesulitannya dalam komunikasi.

Lay hanya mampu menatap punggung Luhan yang bergetar. Ingin rasanya ia memeluk sahabatnya itu, tetapi ia tidak bisa.

Suara gesekan sapu menyela keheningan yang tercipta. Lay berbalik sebentar, ia mendapati pria paruh baya tadi memandangi Luhan yang sedang memandang ke langit-langit senja yang penuh pesona.

‘Mungkinkah pria itu menyadarinya?’ batin Lay dalam hati.

“Hey,” Lay memecah lamunan Luhan seakan tahu apa yang sedang ia pikirkan, “jangan pernah berpikir untuk mengakhiri hidupmu.”

Luhan menunduk, “Memangnya kenapa?”

“Aku tahu itu susah dan merepotkan bagimu. Tapi, cobalah untuk menghargai dirimu sendiri. Lihatlah, masih banyak yang menginginkan posisimu sebagai siswa SMA Kyungha.”

Luhan termenung sejenak, memikirkan kalimat yang meluncur bebas dari belah bibir Lay.

“Hey, Lu! Cobalah lihat langit senja itu.”

Luhan mendongak mengikuti arah jari telunjuk Lay. Luhan menatap kagum setiap sudut ciptaan Tuhan Maha Agung. Begitu juga dengan Lay, “Bagaimana bisa kau tega pemandangan seindah ini kau isi dengan kesedihanmu? Cobalah cari kebahagiaan di dalamnya.”

Lay menghadapkan badannya ke arah Luhan, “Menurutmu, apa itu senja?”

“Senja…. Sebagai tanda hari akan malam?” Jawab Luhan masih menatap keindahan senja di atasnya.

Lay tersenyum tipis, “Cobalah belajar dari senja, Lu. Dia tetap memancarkan keindahannya walau ia tahu itu sangat sulit dilakukan dalam waktu singkat. Kau tahu mengapa? Karena senja selalu mensyukuri keberadaannya walau hanya sebentar. Bukankah itu namanya menghargai diri sendiri?”

“Kau benar,” Luhan berdiri dengan tangan yang diangkat ke atas seakan-akan ia menggapai langit senja yang indah itu, “supaya aku dapat hidup menjadi diri sendiri, aku harus menghargai diriku terlebih dahulu.”

“Syukurlah, aku senang mendengarnya. Jadi, ingatlah, jangan pernah pedulikan omongan di sekitarmu.”

“Terima kasih, Lay.”

“Ingatlah ini, selalu melihat ke belakang bukan berarti kau bisa maju. Yang bisa membuatmu maju adalah dirimu sendiri yang selalu menatap ke depan sambil sesekali melihat ke belakang.”

“Ah, benar. Tunggu, sejak kapan kau sangat bijak seperti ini?”

“Entah, sejak kau selalu bercerita kepadaku mungkin. Hehe.”

“Hmm, Lay. Sepertinya senja itu ingin mengatakan sesuatu padaku.”

“Pfft… Mencoba bijak sepertiku, huh? Apa memangnya?”

“Hmm, seperti ‘jangan akhiri harimu dengan kesedihan. Lihatlah aku dan mulailah untuk membuat kisah yang baru,’ begitu.”

“Haha, ada-ada saja.”

“Hehe. Sepertinya aku akan pulang sekarang. Terima kasih sudah menemaniku hari ini, Lay. Hanya kau yang mengerti diriku.”

“Sama-sama.”

Baru beberapa langkah, Luhan berbalik lagi, “Lay, besok apa kau bisa datang?”

“Tentu, di tempat ini, saat senja datang.”

“Terima kasih,” Luhan membalikkan badannya lagi, seakan menghindari untuk menatap Lay, “untuk selanjutnya, kau yang harus bercerita jujur tentangmu.”

Lay hanya tersenyum, walau ia tahu Luhan tak akan melihat senyumnya. Dari tempatnya, ia bisa melihat bahu Luhan yang bergetar sambil berjalan menjauh darinya.

“Kau menyadarinya, Lu. Maafkan aku.”
Lay terdiam, menatapi senja yang hampir selesai memancarkan keindahannya.

Keheningan yang sejenak terpotong suara patahan ranting yang terinjak oleh seseorang. Lay refleks menoleh, dia terkejut melihat siapa yang muncul di belakangnya, “Suho hyung?”

“Seharusnya kalimat itu juga berlaku untukmu, Lay,” ujar seseorang yang dipanggil ‘hyung’ tadi. Pandangannya lurus, menatap hamparan rumput luas yang ada di depannya, kemudian mendekat dan mendudukkan dirinya di atas kursi tua yang Luhan duduki tadi.

“Seharusnya kau tidak perlu mengakhiri hidupmu sendiri, Lay,” Suho hyung memejamkan matanya untuk menikmati dinginnya angin musim gugur, “kau sendiri yang mengatakan pada Luhan untuk menghargai dirimu sendiri, tapi kau sendiri tidak.”

Lay hanya bisa terdiam di tempatnya. Sekali lagi, ia ingin memeluk seseorang di sampingnya, tapi ia tak bisa.
“Maafkan aku, hyung. Semuanya sudah terjadi.”

“Aku tahu kau juga di sini dan mendengarkanku. Maaf aku tidak bisa melihat ataupun mendengarmu,”

“senja akan berakhir, aku akan pulang sekarang. Baik-baiklah di sana, Lay.”

Lay tersenyum, mengangguk sebagai jawaban atas permintaan hyung-nya. Walau ia tahu, Suho tidak akan mengetahuinya ia melakukan hal itu.

“Terima kasih, hyung.”

fin.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s