GAME OVER – Lv. 24 [NPC`s Mossaic] — IRISH

G    A   M   E       O   V   E   R

‘ Baekhyun x Jiho (known as HongJoo) ’

‘ AU x Adventure x Fantasy x Romance x Science Fiction ’

‘ Chapterred x Teenagers ’

‘ prompt from EXO`s — Can`t Bring Me Down & EXO CBX`s — Crush U

Game Level(s):

ForewordPrologue A SidePrologue B Side — [ Level 1Level 10 ] — Tacenda CornerEden’s Nirvana — [ Level 11Level 20 ] — Royal ThropeLevel 21Level 22Level 23 — [PLAYING] Level 24

I’m being filled with your color
I’m disappearing

2017 © GAME OVER created by IRISH

♫ ♪ ♫ ♪

Level 24 — NPC`s Mossaic

In Jiho’s Eyes…

Hey, HongJoo. Lawanmu kali ini adalah aku, kau tahu?”

Rahangku sontak terkatup rapat saat sadar bahwa Baekhyun telah melarikan diri dalam dua sekon tersebut, membawa serta Black Radiant bersamanya, juga membawakanku sebuah kejutan mengerikan lainnya yang mau tak mau harus aku hadapi.

“Red Hair Witch…”

Ada dua hal yang paling kubenci di dunia ini. Pertama, kebohongan. Kedua, desakan untuk melukai orang-orang yang berharga untukku.

Dan Baekhyun sudah menghancurkan dua hal itu. Artinya, dia sudah membuatku begitu merasa marah dan kesal karena dia sudah menyuguhkan dua hal yang kubenci dalam satu waktu. Dia sudah membohongiku, dan memaksaku untuk melawan Wendy, seorang yang berarti untukku meski dia adalah seorang NPC.

“Wendy!” aku berseru, tapi Wendy bergeming. Dia justru menyunggingkan sebuah senyum mengerikan—senyum yang kukenali sebagai senyum Wendy saat dia pertama kali bertemu denganku—sebelum akhirnya dia mengayunkan swordnya ke arahku.

“Kita sudahi saja basa-basi ini, ayo maju dan lawan aku.” kata Wendy, begitu tegasnya sampai aku tiba-tiba saja meyakini kalau sosok yang berdiri di hadapanku bukanlah Wendy yang kukenal.

Ada apa ini? NPC yang lain masih punya ingatan mereka, tapi mengapa Wendy justru bersikap seperti ini?

SRASH!

Wendy menyerangku begitu aku lengah dan terlarut dalam lamunan. Tidak ada lagi keadaan bersahabat yang awalnya kusuguhkan pada Wendy—mengingat aku belum sempat melihat keadaan di Tacenda setelah tiba di tempat ini, hey, aku bahkan tidak tahu jika Tacenda ada di sini.

Yang ada, aku benar-benar bertarung melawannya. Bukan pertarungan dengan dasar mengalah seperti yang dulu kutunjukkan pada Wendy karena keingin tahuanku tentang Cosmic Rings. Kali ini, kami benar-benar berduel.

Dua buah mini camera datang dan mengelilingi kami. Kukenali, mini camera ini juga ada di tiap turbulence di dalam mode ini. Apa memang begitu fungsinya? Sebagai bukti otentik battle kami?

SRASH!

Akh!” Wendy menjerit begitu keras begitu aku menyarangkan archery padanya. Perut Wendy sekarang tertusuk dua buah anak panah perak, keadaannya sudah mengerikan, begitu pula denganku.

Menghabiskan dua menit dalam battle serasa mempertaruhkan nyawa. Seperti sebuah deja vu, aku lagi-lagi berhadapan dengan Wendy. Tapi kali ini, aku bukannya menghadapi Wendy untuk mendapatkan informasi darinya, melainkan untuk bertahan diri.

“Kau pintar berkelit juga dari seranganku.” Wendy menyeringai begitu didapatinya aku berhasil mengelak dari beberapa serangan yang dia lemparkan. Tentu saja aku bisa meloloskan diri darinya dengan mudah.

Pola serangan Wendy masih sama seperti dulu. Dia bahkan masih mengandalkan weapon yang sama. Sementara aku sekarang dalam keadaan yang begitu baik. Aku tak ingin melukai Wendy, tapi apa yang kuhadapi sekarang bukan sekedar game over dan lantas terlogout otomatis.

Aku tak boleh kalah. Setidaknya sebelum aku tahu apa yang sudah terjadi di tempat ini, aku harus bertahan. Dan itu artinya, aku harus mengalahkan Wendy.

“Terima ini!” aku berseru pada Wendy begitu kulihat dia lengah. Dengan sebuah firestorm yang kulemparkan, pakaian yang Wendy kenakan hancur, menyisakan beberapa lapisan pakaian khas witch yang sekarang menampakkan permukaan kulit Wendy, terluka, berdarah.

Luka menganga itu menggangguku. Aku tidak terbiasa melihat seseorang terluka karenaku. Dan keadaan luka yang ada di tubuh Wendy sekarang terlalu nyata.

“Kumohon, hentikan. Aku tidak ingin melukaimu lagi.” kataku, berharap Wendy akan setidaknya mengingat sedikit kenangannya saat bersama denganku, atau dengan health bar yang begitu kritis seperti ini, dia akan teringat.

Tapi hasilnya nihil.

Setelah aku menghancurkan robe yang dia kenakan, Wendy justru semakin berang. Dia menyerangku membabi buta, menusukku berulang kali menggunakan tanaman merambat yang jadi senjata andalannya.

Rasanya menyakitkan, sangat menyakitkan. Rasa sakit itu sekarang terasa begitu nyata padahal kami tengah berada di tengah sebuah game. Ada apa ini? Bagaimana bisa? Apa ini yang dimaksud dengan kelebihan baru di dalam permainan ini?

Aku akan benar-benar merasakan luka di tubuhku?

Akh! Hentikan! Wendy!” aku menjerit kesakitan, konsentrasiku sontak buyar lantaran rasa sakit tidak biasa yang sekarang menusuk sekujur tubuhku. Sementara Wendy masih menyerangku tanpa ampun, dihempaskannya tubuhku berulang kali ke tanah, menimbulkan suara berkemeretak keras diikuti dengan rasa sakit lain yang luar biasa menyiksa.

Tulang-tulangku patah dalam permainan ini, dan rasanya seolah aku akan benar-benar mati.

Aku tahu, tubuhku di dalam survival tube masih baik-baik saja. Tapi rasa sakit ini sudah menghancurkan konsentrasiku juga memusnahkan semua strategi perlawanan yang sudah kususun rapi dalam benak.

Rasanya begitu sakit. Serupa dengan rasa sakit yang kualami saat kecelakaan menimpaku beberapa tahun lalu.

Apa tempo hari Johnny dan Taeil juga merasakan rasa sakit yang sama?

“Kumohon… hentikan…” lirihku saat kurasakan tungkai Wendy di atas tubuhku, dengan arogan dia menginjak rusukku, menimbulkan suara kemeretak lainnya, dan jeritan menyedihkan dariku.

Akh! Tidak! Hentikan!” aku berteriak kesakitan, dengan sisa tenagaku aku berusaha mendorong tungkai Wendy, tapi tanaman hijau kesayangannya sekarang justru bergerak menembus telapak tanganku.

Akh!” lagi-lagi aku berteriak menyedihkan begitu kurasakan jemariku mati rasa. Sungguh, aku bersumpah rasa sakit di tubuhku benar-benar tiada tara. Aku seolah benar-benar tengah dibunuh.

Ini tidak baik. Permainan ini sudah berubah jadi mematikan. Bagaimana jika ada player dengan gangguan jantung, atau gangguan kesehatan lainnya? Apa mereka akan bisa bertahan melawan rasa sakit ini?

KRAK!

Argh!” aku menjerit begitu Wendy menginjak tungkaiku dengan keras, menghancurkannya. Ya, dia menghancurkan tungkai kananku, meski aku tahu kehancuran tungkaiku tidak nyata dan tidak mungkin dilakukan hanya dengan sebuah injakan, tapi rasa sakit itu…

Rasa sakitnya…

Tidak bisa, aku tidak akan bisa bertahan.

“Peringatan. Human wealth dan health bar Anda sedang kritis. Untuk melanjutkan pertarungan, silakan mengisi ulang health bar dengan menggunakan live charge.”

Sebuah peringatan masuk ke dalam pendengaranku begitu kurasakan kesadaranku perlahan menghilang. Apa aku akan benar-benar game over? Aku terbunuh di tangan seorang NPC yang selama ini sudah kuanggap sebagai teman virtualku sendiri?

“Wendy… kumohon, hentikan…” aku berkata dengan sisa-sisa suaraku, sekarang aku bahkan hampir tak bisa mengeluarkan suaraku.

Salah satu sulur tanaman kebanggaan Wendy sudah menancap di sisi leherku, menciptakan rasa sakit yang sudah membaur dengan rasa sakit lainnya yang ada di sekujur tubuhku.

“Sekarang, sudah waktunya bagimu untuk mati, HongJoo.” satu kalimat bernada mengerikan yang Wendy ucapkan akhirnya membuatku memejamkan mata, human wealthku hancur, tidak tersisa sedikit pun.

Health barku tersisa tiga persen. Dan sekarang berkedip-kedip hendak berubah menjadi dua persen. Begitu angkanya berubah nol, aku akan terlogout otomatis dan keluar dari mode ini.

Daripada mendapatkan angka nol itu dengan rasa sakit lainnya, bukankah lebih baik jika aku menunggu saja?

“Red Hair Witch telah memenangkan pertarungan. Sebuah rarely box item telah dikirimkan ke dalam martial box Anda. Red Hair Witch telah memenangkan pertarungan. Sebuah rarely box item telah dikirimkan ke dalam martial box Anda.”

Berakhir. Semuanya sudah berakhir…

“J—Jiho?”

Aku membuka mataku perlahan saat kudengar vokal lembut itu masuk ke dalam pendengaranku. Likuid bening yang terjatuh menimpa wajah dan tubuhku sekarang seolah menambah dramatis saja keadaan di sini.

Siapapun yang mengetahui keadaan ini pasti mengira jika aku tengah terbunuh dengan dramatis.

“Wendy?” panggilku lirih, pandangku sekarang bertemu dengan Wendy, dia menatapku dengan sebuah ekspresi yang sejak tadi tidak dipertontonkannya padaku.

Apa dia sudah kembali? Apa setelah aku game over Wendy mendapatkan ingatannya kembali?

“Apa yang terjad—tidak… apa yang sudah kulakukan padamu?”

SRAT! SRASH!

Argh!” aku memekik begitu Wendy menarik semua sulur tanamannya dari tubuhku, tubuh Wendy sekarang gemetar ketakutan, sementara health barku berubah menjadi dua persen karena tindakan Wendy barusan.

“Maafkan aku! Jiho, tidak!” Wendy terduduk di sebelahku, dengan gemetaran jemarinya menyentuh tubuhku yang sudah dihancurkannya.

“Tidak, ini bukan aku. Tidak!” jeritan Wendy terdengar begitu melengking, ekspresinya sekarang penuh dengan rasa bersalah. Hal yang lantas tanpa sadar membuatku menangis.

Sial.

Aku bisa menangis sungguhan di dalam mode ini.

Hatiku sungguh sakit saat mengetahui Baekhyun telah membohongiku. Dan rasa sakit itu ditambah lagi dengan fakta bahwa aku harus menghadapi Wendy dan merasakan puluhan rasa sakit di tubuhku secara fisik.

Sekarang, rasa sakit itu ditambah dengan keadaan Wendy, kesadarannya di akhir hidupku. Kusadari, Baekhyun memang sengaja mengirim Wendy sebagai lawanku. Karena dia tahu benar tentang dua hal. Pertama, aku tak akan menang melawan Wendy. Kedua, aku tak akan sampai hati membunuh Wendy.

Ini jebakan. Jebakan yang akhirnya membunuhku dengan cara paling menyakitkan.

“Maaf! Maafkan aku! Sungguh! Ini bukan aku! Bukan aku yang melakukannya. Tidak. Jangan mati Jiho, kumohon. Tidak!” Wendy lagi-lagi berseru panik. Hal yang sangat menyedihkan bagiku, padahal aku sangat berharap bisa menemuinya dan kembali bertukar cerita selama tujuh hari ini.

Tapi kami malah harus bertemu dengan keadaan menyedihkan seperti ini.

“Tidak apa, kau memang sangat hebat Wendy, aku sampai saat ini belum bisa menandingimu.” lirihku pelan, kugenggam jemari Wendy yang sekarang gemetar ketakutan, dia biarkan tangannya berlumur darah—visualisasi darah di dalam permainan ini sungguh nyata, sungguh!

“Tidak… aku tidak seharusnya melukaimu… tidak. Ini semua salahku. Aku tidak seharusnya kehilangan mosaikku. Maafkan aku… maaf… siapa sebenarnya yang sudah—ah.” ekspresi Wendy tiba-tiba saja berubah kaku, seolah menyadari sesuatu.

“Black Radiant.” Wendy berucap geram, rahangnya sekarang terkatup rapat, “…, mengapa dia mengacaukan mosaikku?! Dia membuatku membunuhmu, Jiho! Villain satu itu… aku akan membunuhnya.” perkataan Wendy sekarang terdengar begitu serius tapi dalam waktu bersamaan terdengar tidak masuk akal juga.

Ugh, sial. Kenapa lama sekali kematian seseorang di dalam permainan?

“Tidak usah, Baekhyun bersama dengan Black Radiant. Dia tadi yang mengirimmu untuk melawanku. Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi… ini bukan salahmu. Lihat? Jika bukan karena Baekhyun memanggilmu, kau mungkin tidak akan bisa keluar dari Tacenda.” kataku, berharap angka berkedip dua yang ada di health barku segera berubah menjadi satu, kemudian nol.

Ugh, aku sudah tidak tahan dengan rasa sakit ini. Aku juga tidak bisa melakukan apapun untuk menolong diriku, selain menggunakan live charge yang tidak kumiliki, dan memanggil seseorang untuk datang ke tempat ini.

Tapi ini berbahaya. Aku tak mungkin memanggil siapapun ke tempat ini, karena situasinya akan sangat berbahaya bagi Wendy. Aku tidak ingin Wendy melukai yang lainnya, atau dia yang terluka.

“Apa maksudmu?! Aku tidak akan berkeliaran di luar Tacenda tanpa adanya kau, Jiho.” kata Wendy, tidak terdengar bercanda, tapi tidak juga terdengar masuk akal.

“Wendy, tidak bisakah kau membunuhku? Rasa sakit ini sungguh menyiksa.” aku berkata, sekon berikutnya Wendy justru menjauh dariku, seolah dia enggan untuk menyentuhku lagi.

“Aku tidak bisa, Jiho. Aku tidak ingin melukaimu.” katanya membuatku ingin sekali tertawa, kalau saja bisa.

Sayang, keadaanku sekarang sangat tidak mengizinkanku untuk tertawa sesuka hati.

“Tidak apa-apa. Aku justru semakin merasa kesakitan jika dalam keadaan seperti ini.” ucapku, Wendy baru saja hendak buka suara saat kudengar suara kilatan listrik samar.

“Apa yang kau lakukan padanya!?” teriakan Baekhyun, aku amat mengenalinya.

“Tidak, bukan aku yang melakukannya!” Wendy balas berteriak, dengan sisa kekuatannya dia juga berdiri, beringsut menjauh dari Baekhyun tapi nyatanya Baekhyun seolah sudah tidak mau tahu.

Membabi buta, Baekhyun menyerang Wendy. Tidak jelas bagaimana mereka saling bertarung sekarang, pandanganku sudah begitu buram. Rasanya seperti aku menggunakan kacamata minus saat mataku nyatanya normal.

Ini pertanda tidak baik.

“Baekhyun, hentikan.” aku bersuara, vokalku sudah tidak sanggup mengeluarkan teriakan apapun dan satu-satunya yang bisa meluncur keluar dari bibirku hanya lirihan menyedihkan.

“Dia sudah melukaimu!” kudengar Baekhyun berteriak. Rupanya, suara lirihku juga terdengar olehnya. Syukurlah.

Angka dua pada health barku masih berkedip-kedip, kali ini lemah. Sebentar lagi pasti akan berganti menjadi angka satu, dan aku harus menunggu lagi di tengah kesakitan. Wendy dihabiskan oleh Baekhyun di sekelilingku. Teriakan kesakitannya sungguh membebani. Tapi teriakan kemarahan Baekhyun juga tak kalah mengerikan.

Apa para NPC memang diciptakan dengan tingkatan emosi seperti ini?

Perlahan, aku akhirnya meraih knife kecil yang selalu teselip di saku robe yang kukenakan. Tidak ada waktu lagi, aku harus bunuh diri untuk mengakhiri ini semua. Masa bodoh dengan keadaan yang kutinggalkan, aku bisa mengawasi semua orang saat terjaga nanti.

“Dia berusaha melukai dirinya sendiri!” pekikan Wendy jadi sebuah alarm peringatan bagiku, bahwa usahaku sekarang—yang baru saja hendak menghujamkan knife tersebut ke perutku—dihentikan oleh teriakan Baekhyun dan rasa sakit lainnya.

“Tidak! Jiho!”

SRASH!

Ya, rasa sakit itu disebabkan oleh serangan refleks Baekhyun. Yang baru saja membuat tangan kiriku terpotong, dan kudengar suara pip kecil beserta ucapan selamat tinggal berupa ‘game over’ yang akhirnya membawaku pada ketenangan.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Baekhyun!”

DUK!

Aku terbangun saat kepalaku terantuk survival tube. Aku benar-benar game over, rupanya. Terbukti dengan bagaimana aku terbangun di dalam survival tube yang beberapa hari lalu kumasuki.

Pandanganku segera mengelana, tidak ada seorang pun di dalam ruangan ini. Jam dinding berukuran besar yang ada di dinding menunjuk angka dua, apa ini jam dua malam sehingga tidak ada orang?

Kemana perginya semua orang yang sudah game over sebelum aku?

Kutolehkan pandang mengitari ruang transparan yang ada di dalam survival tube, dan pandanganku membola begitu kudapati sebuah pemandangan mengerikan menyambut dari survival tube yang ada di seberangku.

Survival tube itu penuh darah.

Apa yang terjadi?

Aku segera berusaha bangkit dan mendoro—tidak. Tanganku. Tangan kiriku benar-benar terpotong.

Akh!!” aku menjerit kuat-kuat, tapi aku tidak merasakan rasa sakit apapun. tanganku terpotong, dengan darah mengalir keluar darinya, sementara potongan tanganku yang lain teronggok di sebelah tubuhku yang terbaring.

Tapi tidak ada rasa sakit.

Apa ini? Bagaimana bisa tanganku benar-benar terpotong dan—

WHUSH!

—sial!

Aku terpaksa menutup mataku kuat-kuat saat angin kencang berembus di dalam survival tube milikku. Apa dia akan terbuka? Atau apa? Aku tidak bermimpi soal melihat tanganku yang baru saja terpotong dan teronggok mengerikan, bukan?

“Jiho?”

Tidak. Aku pasti bermimpi.

“Song Jiho?”

“B—Baekhyun?” aku membuka kelopak mataku perlahan, tatapanku segera bertemu dengan kedua manik kelam Baekhyun yang sekarang menatap khawatir.

“Tanganku! Baekhyun! Tanganku terpotong!” aku segera memekik, kulemparkan pandangan ke arah tangan kiriku tapi yang terjadi justru di luar dugaanku.

Tanganku masih tersambung, dengan sebuah perban melingkar di pergelangan tanganku. Aku bahkan bisa menggerakkan tanganku sekarang.

“Apa yang terjadi?” sontak aku menatap Baekhyun, menuntut sebuah penjelasan. Tapi Baekhyun justru memandangku dengan tatapan khawatir.

“Kau baik-baik saja?” tanyanya membuatku menyernyit bingung. “Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku tidak game over? Aku sudah terbangun di dalam survival tube-ku tadi, dan tanganku benar-benar terpotong seperti dalam permainan ini.

“Aku tidak bermimpi, bukan? Tidak. Memang, rasanya tidak sakit, tapi aku yakin aku tidak bermimpi. Dan aku melihat ada survival tube penuh darah. Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa aku ada di sini? Dan aku berada di—”

—segera kalimatku terhenti begitu aku sadar kalau aku berada di tempat yang tidak seharusnya. Di mana ini? Beberapa orang yang mengelilingiku sekarang adalah NPC, aku tahu itu. Aku mengenali Black Radiant, Wendy, Seana, juga beberapa orang villain yang pernah aku hadapi.

“Baekhyun, di mana ini?” tanyaku, beringsut menjauh dari mereka semua dan malah kubawa diriku merapat pada Baekhyun meski sebenarnya aku enggan.

Bagaimanapun, aku dan Baekhyun sedang berada di tengah pertengkaran. Tapi apa yang sekarang ada di depan mataku sungguh membuatku tidak mengerti.

“Bagaimana keadaannya?” kudengar Black Radiant bertanya pada salah seorang NPC berpakaian rapi di sana.

Health bar dan human wealthnya utuh kembali karena dia disummon dari survival tube.” kata NPC itu. Apa maksudnya? Summon? Itu istilah lama yang digunakan untuk memanggil sebuah equipment, bukan?

Apa maksudnya dengan dia melakukan summon padaku? Dari survival tu

“—Apa aku benar-benar terbangun di dalam survival tube-ku, tadi?” tanyaku segera membuat Black Radiant menyunggingkan sebuah senyum di wajahnya.

“Ya. Kau sudah game over.” sahutnya ringan.

“Lalu kenapa aku ada di sini… lagi?” tanyaku makin tidak mengerti.

“Menurutmu bagaimana NPC seperti kami bisa muncul?” pertanyaan berikutnya dari Black Radiant malah membuatku makin gemetar ketakutan.

Tidak, tidak mungkin. Tidak. Jangan dipikirkan, Jiho.

Berlawanan dengan keinginanku, Black Radiant justru membawa dirinya lebih dekat ke arahku. “Kau… sekarang adalah milik permainan ini, Song Jiho.”

“A—Apa?” aku terbata. Pikiranku sekarang berkemelut. Apa yang sudah terjadi padaku? Aku menjadi milik permainan ini? Apa itu artinya… aku adalah seorang NPC karena aku telah game over secara nyata dan dipaksa kembali?

“Kau adalah seorang NPC sekarang, sepertiku, dan yang lainnya. Tapi… ah, sungguh tidak jelas di mana posisimu sekarang. Kau bukan seorang hero, bukan juga villain. Mungkin juga kau tidak akan dapat tempat.” Black Radiant lagi-lagi berkelakar dengan santai.

Aku sendiri membeku. Tidak bisa kumasukkan dalam logika sama sekali, keadaan apa yang memaksaku untuk jadi NPC bahkan saat aku—tunggu. Dimana pilihan logout-ku? Mengapa tiba-tiba menghilang?

“B—Baekhyun aku—”

“—Jangan menakutinya Chen. Dia baru saja terbangun.” kudengar Baekhyun akhirnya berkata, lantas kurasakan jemari Baekhyun bergerak menyentuh tangan kiriku, membuatku menatapnya dengan penuh tanya.

“Abaikan saja ucapan Chen, dia memang selalu bicara seperti itu. Tanganmu baik-baik saja? Jangan khawatir, selama keadaan fisikmu baik-baik saja di sini, di dalam survival tube keadaanmu juga akan baik-baik saja.” tutur Baekhyun.

“Tapi aku melihat tanganku terpotong di sana, Baekhyun.” kataku mencicit, keadaan di sini sudah teramat membingungkan. Membayangkan apa yang mungkin terjadi pada diriku malah makin membuatku merasa takut. “…, aku tidak menjadi seperti yang dia katakan, bukan?”

Mendengar ucapanku, Baekhyun tergelak. “Tidak, tentu saja tidak.” jawabnya sambil menggeleng pelan. “…, bagaimana mungkin kau bisa jadi NPC? Aku hanya melakukan summon padamu karena aku tidak ingin kau mati begitu saja. Maaf, karenaku kau harus melihat apa yang terjadi di luar sana.” sambungnya.

“Jadi… yang aku lihat itu benar-benar nyata?” tanyaku memastikan.

“Ya, tanganmu memang terpotong saat kau terbangun. Tapi teknologi yang ada di dalam survival tube-mu tidak membuatmu merasa sakit, juga memungkinkan untuk dilakukan repair pada anggota tubuhmu yang rusak.

“Tapi tidak banyak yang bisa diperbaiki. Seperti padamu, contohnya, saat kau terbangun nanti kau mungkin akan sedikit kesulitan menggerakkan jari kelingkingmu. Dan… sebagai seorang player game yang membutuhkan jari untuk bermain, mungkin kau akan kesulitan.” penuturan Baekhyun lagi-lagi membuatku terpana.

Aku tidak ingin menanyakan ‘apa’ lagi karena kurasa aku seharusnya sudah bisa memahami dengan baik apa yang sekarang terjadi. Tanganku benar-benar terpotong—heran bagaimana aku bisa mengatakan dan memikirkannya dengan begitu tenang padahal yang sedang kubicarakan adalah tanganku—tapi keadaan itu bisa diperbaiki dari dalam game.

“Lalu bagaimana dengan survival tube yang penuh darah?” tanyaku.

“Mereka mati, Jiho. Bukankah kau juga sudah tahu? White House membunuh player sebanyak yang mereka bisa, tanpa tahu kalau hal itu membuat player tersebut benar-benar terbunuh.

“Seharusnya, kalian hanya boleh dibunuh oleh NPC, sehingga NPC tersebut bisa melakukan summon pada tubuh kalian yang sudah game over, mengembalikannya ke dalam game dan memperbaiki keadaan fisiknya.

“Seperti yang terjadi padamu. Kau disummon oleh Baekhyun, jadi tubuhmu kembali ke tempat ini, dan ta-da! Tanganmu bisa utuh kembali. Jika hal seperti ini terjadi pada player lain, kami tidak bisa berbuat apa-apa.

“Karena kami hanya tahu nama dari player yang berhadapan dengan kami, bukan yang berhadapan dengan player lainnya.”

Kutemukan diriku seolah menjadi orang tolol saat mendengar penuturan Wendy sekarang. Dia bicara dengan begitu jelas dan lantang, membuatku tahu kalau mereka lebih dari sekedar tahu tentang keadaan di sini.

Lagi-lagi, aku bertanya-tanya, apa yang sudah diciptakan oleh programmer WorldWare sebenarnya? Sebuah permainan untuk membunuh orang-orang? Atau sebuah permainan yang menciptakan makhluk-makhluk lain menjadi benar-benar hidup?

“Bagaimana… kalian bisa tahu semua itu?” tanyaku akhirnya.

“Mudah saja, kami tinggal di sini. Apa yang tidak bisa kami ketahui?” Seana menyahuti. Mengetahui kebingungan dan kepanikanku sekarang, Baekhyun akhirnya mengembuskan nafas panjang.

“Kau seharusnya tidak tahu sebanyak ini, Jiho. Programmer gila kerja yang ada bersamamu itu mungkin akan jadi benar-benar gila jika dia tahu apa yang sudah terjadi. Kau terpaksa harus datang ke tempat ini karena saat aku memanggilmu tadi, kau memang harus muncul ke tempat aku memanggilmu.” tutur Baekhyun, sama sekali tidak kudengar adanya kekhawatiran yang tadi sempat terselip dalam suaranya.

Dan dia katakan dengan mudahnya, kalau aku tidak seharusnya tahu? Di saat aku sudah tahu sebanyak ini? Bagaimana mungkin aku bisa berdiam menelan pil pahit mengerikan yang ada di balik permainan ini?

“Lalu aku harus bagaimana?” tanyaku akhirnya, tidak lagi aku bisa berpikir dengan benar tentang apa yang harus aku lakukan. Aku terjebak di tengah-tengah NPC yang tahu tentang apa yang terjadi di tempat ini.

Playerplayer di luar sana mungkin saja benar-benar terbunuh karena ulah player dari White House dan mereka semakin tidak tahu diri. Bagaimana mungkin aku bisa berdiam?

“Jadilah invisible.” Black Radiant berkata. “Apa?” ulangku tak mengerti.

“Seperti saat kau membantu Invisible Black, jadilah invisible, dan diamlah. Urusan ini tidak seharusnya jadi urusanmu, aku dan Black yang akan menyelesaikannya.” Black Radiant menjelaskan.

Jadi ini yang tadi hendak Baekhyun jelaskan padaku? Alasannya menolong Black Radiant yang ambruk karena serangan dari White House? Ini juga kah alasan yang membuat semua NPC di tempat ini terasa begitu hidup?

Karena mereka memiliki program perlindungan semacam ini? Di mana mereka bisa mendeteksi bahaya di dalam permainan ini dan bisa memanggil kembali player yang sudah game over untuk diperbaiki keadaan manusianya?

Ini juga kah tujuan adanya human wealth? Wah… pantas saja. Sejak dulu aku selalu bertanya-tanya mengenai apa maksud dari human wealth yang ada, dan kenapa kami terlogout otomatis saat human wealth kami kritis.

Ternyata alasannya adalah karena semua NPC di sini mengawasi human wealth setiap player. Memaksa mereka logout untuk memperbaiki keadaan fisik mereka? Karena dulu ada sistem login ulang, setiap orang bisa login ketika human wealth mereka membaik.

Tapi karena berada di dalam mode ini, di dalam mode yang tak bisa diulang… mereka harus memanggil sendiri semua player yang sudah mereka paksa untuk logout karena game over.

Game over. Benar. Game over adalah kuncinya.

NPC di sini aktif karena adanya game over. Mereka bisa bertindak selama ada player yang game over. Dan di dalam mode ini… mereka tidak bisa bertindak karena mereka tidak menyebabkan game over itu.

Benar. White House harus dihentikan, dan untuk bisa memperbaiki keadaan, kami harus punya nama semua player yang sudah game over.

“Aku tidak bisa berdiam, Baekhyun.”

“Apa maksudmu?” Baekhyun menatapku tidak mengerti begitu didengarnya aku bersuara. “Aku tidak bisa membiarkan kalian melakukannya sendiri. Sekarang aku mengerti mengapa kalian semua begitu cerdas. Tapi, White House tidak semudah itu dihancurkan jika mereka masih punya sekutu.

“Aku tidak ingin siapapun terbunuh atau terluka karena permainan ini, dan… kurasa aku bisa membantu.”

“Kau? Seorang player, membantu kami?” ulang Black Radiant, alisnya terangkat dengan sebuah senyum sarkatis terpasang di wajahnya. Kali ini, aku cukup percaya diri kalau aku bisa melakukannya.

“Ya. Kau ingat saat aku membantumu keluar dari after effect, Baekhyun? Kita bisa melakukannya lagi. Aku akan cari semua nama player yang ada di dalam mode ini, dan kalian bisa melakukan summon pada mereka yang terbunuh oleh White House.” kataku, menjelaskan ide brilian yang entah darimana tiba-tiba saja muncul di dalam benakku.

“Lalu bagaimana dengan White House sendiri?” tanya Wendy, “…, Mereka akan tetap berusaha membunuh playerplayer lainnya. Jika player yang sudah terbunuh muncul di dalam game ini lagi, mereka akan kembali mencoba membunuhnya.” sambung Wendy.

Aku terdiam sejenak, lekas memutar otak selagi aku bisa berpikir jernih.

“Ah, aku punya sebuah tempat tersembunyi. Kita bisa menyandera mereka semua di dalam sana. Seingatku, ada villain yang bisa menyegel kemampuan seorang player. Aku lupa di mana… tapi aku benar-benar ingat, karena dulu aku juga pernah terkena efek segelnya.” aku berkata kemudian.

Benar, menyandera semua player yang sudah disummon untuk kembali ke dalam game ini dengan kemampuan yang sudah tersegel adalah sebuah opsi terbaik saat ini. Tidak ada pilihan lain.

“Aku, aku yang punya kemampuan itu.” seorang NPC pria tersenyum, mengedikkan dagunya padaku sebagai isyarat bahwa dia juga mengingatku. “Ah, benar! Kau orangnya.” kataku, teringat pada wajah NPC tersebut yang terlihat mirip dengan salah seorang aktor dari Jepang.

“Oh, Yuta?” ah, jadi namanya Yuta? Seingatku dia memiliki nama bernuansa devil-devil begitu. Atau semua NPC di sini sebenarnya punya nama?

“Kau juga punya nama?” tanyaku pelan pada Wendy. Dia lantas mengangguk dan tersenyum mengiyakan. “Wendy, bukankah kau yang memberiku nama itu?”

Ucapan Wendy membuatku lekas menghapus kemungkinan bahwa tiap NPC di sini memiliki dua identitas. Buktinya saja, Wendy memakai nama yang kutemukan untuknya, Wendy.

“Kau tidak bisa melakukannya sendirian, aku akan membantu—”

“—Tidak, jangan.” aku segera memotong ucapan Baekhyun. “Apa maksudmu dengan jangan?” tanyanya tidak mengerti.

“White House juga mengincar kita berdua, ingat?”

“Aku tidak mau kau terlibat dalam bahaya.” kata Baekhyun mengingatkan aku bahwa sebenarnya aku lah yang sering terjebak dalam bahaya, ketimbang dirinya.

“Mudah saja, kalian berdua hanya tinggal masuk ke dalam mode invisible.” Black Radiant berkata.

“Tidak semudah itu, semua orang sudah tahu tentang Baekhyun. Dan melihat dua orang dengan mode invisible pasti akan—”

“—Ini.” aku menatap Baekhyun begitu dia mengulurkan sebuah kalung padaku. “Apa ini?” tanyaku.

Amulet inilah yang membuatku jadi seorang Invisible Black. Gunakan ini, dan jadilah invisible selama beberapa hari ke depan.” kata Baekhyun, memerintah.

“Lalu bagaimana denganmu?” aku menatapnya khawatir. Baekhyun, lantas tersenyum sebelum dia kemudian menepuk puncak kepalaku pelan.

“Aku akan hidup dengan identitasku, Jiho.”

— 계속 —

IRISH’s Fingernotes:

INHALE-EXHALE-INHALE-EXHALE.

Maaf yha, aku kasih kejutan super ekstra lagi di sini, TROLOLOLOLOL. Bagi kalian yang kesulitan memahami maksud di balik chapter ini, BACA ULANG KARENA SAYA TIDAK MAU MENJELASKAN DENGAN LEBIH LANJUT LAGIH, wkwk. Sesekali lah aku yang kena after effect.

Dan mengingatkan kembali, Game over akan semakin penuh kejutan di tiap gigitan /eh/ chapter maksudnya. Dan makin nambah levelnya bakal semakin panas. Jadi… jangan somse sama Game over dan jangan gengsi buat ninggal komentar karena di chapter 29 dan 30 aku bisa jadi lebih somse lagi. It’s a sweet revenge plan, guys

Jangan menuntut aku buat bikin press-conference apapun di sini, jangan tanya gimana bisa Jiho balik, jangan tanya apa yang terjadi di dalem WorldWare, jangan tanya itu player pada mati beneran atau apa, jangan tanya gimana bisa tangan Jiho menyatu kembali… tapi biar aku ingatkan kembali kalian pada genre yang kalian baca.

Selama ini, meman kental sama fantasynya. Dan kalian enggak sadar kalau sebenernya dari awal fanfiksi ini sci-fi. It’s a science, guys. It’s a near-future story. Apapun mungkin aja bisa terjadi di dalam cerita ini, karena ini sci-fi. Buat yang enggak tau definisi sci-fi tolong gugelnya digunakan.

Kemudian daripada itu (kayak undang-undang) semua proses tentang menjadi sci-fi, termasuk pembuatan survival tube, WorldWare sendiri, NPC, semuanya, nanti akan diceritakan di chapter 30 ke atas jadi mohon bersabar, karena enggak semua pertanyaan kalian bisa aku jawab di dalam satu chapter. Ada proses dan alurnya sendiri-sendiri.

Buat yang masih menuntut press-conference tentang eksistensi Sehun dan nyata-tidaknya Baekhyun, biar aku ingatkan (2) lagi. Aku enggak pernah mention Sehun sebagai cast penting di sini. Dia hanya jadi salah satu cast pembantu. Pem-ban-tu. Nanti munculnya kalo bagian bersih-bersih, ngebersihin mayat contohnya. Terus, Baekhyun itu NPC, titik gak pake koma. Jangan ditawar-tawar dong, aku bukan pasar, bayarnya harus pas. Udah harga pas dia itu NPC.

Terus kenapa Rish kok di prolog ada Baekhyun yang nyiptain game? Nah aku tanya balik deh sekarang: emangnya aku ada bilang kalo Baekhyun di prolog dan Baekhyun di WorldWare itu sama?

Kiranya sekian press-conference unfaedah dariku. Kurang lebihnya maafin karena memaafkan itu lebih mudah daripada bikin dendam yang bikin lapar. Sampai ketemu di chapter 25 dan 26. See you around, sincerely, Irish.

Ps: ingat, jangan somse dan gengsi buat ninggal komentar atau kalian tanggung sendiri akibatnya. Aku enggak mau jadi dermawan yang bagi-bagi password ke semua pembaca mistis yang punya disabilitas menghargai karya orang lain. Tenks.

Pps: biar deh dikata jahat kek, somse kek, kalian juga jahat loh ke aku.

Ppps: sekarang udah nyambung ‘kan ya judul cerita sama makna di balik judul itu? :’>

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

59 tanggapan untuk “GAME OVER – Lv. 24 [NPC`s Mossaic] — IRISH”

  1. Jengjengjeeengggg makin pelik pemirsahh. Semakin lanjut ternyata makin penasaran sama kelanjutan survive mereka di dalem game yg dibuat ini.
    Aku juga penasaran sama yang punya ide buat NPC di game cerita kaka ini, siapa yang ngebantu jhonny buat bikin game ini, pasti terinspirasi sama sesuatu kan? Let me know later~~~

  2. Aduuh itu tangan bisa copot beneran gitu…
    Awalnya pengen ada game kaya gini beneran, tapi udh baca yg ini lngsung berubah pikiran
    ngeri sendiri iih bacanya pas tangannya beneran copot

  3. Keknya game world were emang bener bener seru,tapi serius,aku bakalan nggak mau nyoba kalau game ini bener2 ada..karena aku masih sayang nyawa. Tapi ini bisa buat ajang bunuhdiri yang invisable buat siapapun yang bosan idup wkwkkw
    Eh tapi aku masih bingung kakak…
    Itu berarti tangannya jiho benar2kepotong di dunia nyata,terus bisa kesambung dengan tiba2 lagi karena baekhyun men-sommun jiho digame?? Ihhhh ngeri ngebayanginnya…

    Kak irish!

    Kak irish!!

    Hey kak!!

    Irish-nim:”iya kenapa?”

    Heheehe salam kecup kakak 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s