WINGS – EPISODE VI — IRISH’s Tale

 

—  WINGS —

— Kai x Irene —

storyline by ALTAIR and IRISH; our winter collaboration project

action; adventure; fantasy; romance; school life

PG-17; chapterred

standart disclaimer applied

2017 © EXO Fanfiction Indonesia

[ Previous: Episode V ]  —  [ Clicked: Episode VI ]

“Cemburu adalah tindakan paling tidak logis yang pernah manusia lakukan.”

EPISODE VI

“Aku dengar… kau salah satu murid berbakat dari angkatan baru, bahkan kau bisa mengalahkan seorang Cyclops sendirian dimana aku dulu harus membutuhkan lima orang untuk menaklukkannya.”

Baekhyun menghentikan kalimatnya sejenak, seolah memberi waktu selama sepersekian sekon bagi Kai untuk mencerna maksud dari ucapannya.

“Lantas, ada apa, sunbae?” tanya Kai yang mulai menaruh atensi pada konversasinya dengan Baekhyun.

Melihat bagaimana Kai bereaksi terhadap ucapannya, Baekhyun akhirnya memberikan sebuah seringai pada pemuda Kim itu.

“Aku… ingin menanyakan sesuatu padamu, Kai.”

“Jadi apa yang ingin kau tanyakan, sunbae?” Kai membuka konversasi di antara mereka—dia dan Baekhyun.

“Panggil saja aku Baekhyun.” Kai mengangguk dan membuat Baekhyun tersenyum.

“Baiklah, aku mulai. Pertama, aku ingin bertanya kepadamu tentang bagaimana kau bisa mengalahkan cyclops itu? Aku tidak bisa hadir saat ujianmu kemarin dan aku juga penasaran apa yang membuatmu berada di tingkat Master di kelas kita?” Baekhyun menatap Kai dengan serius, Kai terlihat berpikir untuk sejenak dengan memutar kedua maniknya.

“Aku hanya melakukan yang terbaik. Itu saja, sunb—maksudku, Baekhyun.”

“Kau yakin?” Baekhyun memajukan tubuhnya mendekati meja Kai.

“Itu saja. Dan aku rasa aku tidak ambil pusing soal tingkatan dalam kelas jika aku harus masuk ke dalam tingkat Newbie, Senior, ataupun Master, aku akan tetap melakukannya.” jawab Kai dengan tenang.

“Benarkah?” Baekhyun menaikkan salah satu alis matanya.

“Itu saja, hany—”

“—Apa kekuatanmu? Jika kau hanya melakukan apa yang kau bisa itu mungkin karena kau mempunyai kekuatan yang bisa mendukung apapun yang kau lakukan. Jadi, apa kekuatanmu?” Kai mengerjapkan kedua matanya untuk sesaat.

Ia tidak menyangka Baekhyun akan mempertanyakan pertanyaan ini tapi bukan Kai namanya jika tidak bisa mengendalikan ekspresi wajahnya.

“Ah… Aku bisa mengontrol api.” Baekhyun yang terdiam sekarang setelah mendengar jawaban dari Kai. Satu hal yang Baekhyun tahu adalah orang yang mempunyai kekuatan untuk mengontrol elemen alami perbandingannya adalah satu banding tiga juta orang.

“Baekhyun? Kenapa diam?” Pertanyaan Kai membuat Baekhyun tersadar dan menggeleng untuk menjawabnya.

“Tidak—aku hanya sedang berpikir. Itu berarti kau orang yang sangat beruntung, Kai.” Sebuah senyuman diberikan oleh Baekhyun. “Ah tidak juga. Aku rasa ini hanya sebuah kebetulan. Lalu, apa ada yang kau ingin tanyakan lagi?” Kai mengalihkan pembicaraan.

Seolah tersadar, Baekhyun kemudian mengerjap cepat, sebelum dia lantas kembali menatap Kai dengan ketertarikan yang sama di kedua maniknya. “Oh ya, ini pertanyaan terakhir. Aku lihat-lihat kau dekat dengan murid bernama Irene.”

“Ah, kau mengenalnya?” Kai mengembangkan senyum, tanpa sadar mendengar nama Irene lolos dari bibir orang lain juga bisa membuatnya tersenyum seperti ini. Meski diam-diam, ada juga rasa penasaran yang menyelip dalam benak Kai karena Baekhyun-lah yang menanyakan soal gadis Bae itu.

Well, tidak juga sebenarnya. Aku hanya tahu siapa dia, lagi pula semua pria di Claris baik murid ataupun pengurus sekolah mengenalnya dengan baik berkat kecantikkannya, bukan?” Kai terkekeh geli dan mengangguk. Well, Kai tidak bisa berbohong juga, bukankah Irene sudah berhasil memikatnya juga?

“Ah, aku mengerti. Lalu?”

“Kau mengenal murid bernama Wendy?” mendengar bagaimana Baekhyun tiba-tiba saja bicara tentang Wendy setelah dia menanyakan Irene segera membuat Kai berpikir. Apa gerangan yang tengah berusaha Baekhyun bicarakan dengannya?

Lantas, Kai mengangguk menjawab pertanyaan Baekhyun. Tapi belum sempat dia membuka mulut untuk menyahuti perkataan Baekhyun, pria Byun itu sudah bicara mendahuluinya.

“Jangan salah sangka, aku hanya ingin tahu beberapa hal tentangnya. Mungkin saja, Irene pernah bercerita padamu? Karena kau dan Irene terlihat cukup dekat. Aku hanya ingin tahu saja.” kata Baekhyun.

“Baiklah, aku bisa menjawab itu.” sebuah senyum akhirnya muncul di wajah Kai. Rupanya dia sudah menangkap apa maksud dari perkataan Baekhyun barusan. Seperti keadaan dirinya yang ingin tahu tentang Irene saat gadis itu tidak berada dalam jangkauan pandang dan pengawasannya, Baekhyun juga sepertinya tengah mengalami hal yang sama.

Well, lagipula apa lagi hal yang menyenangkan selain membicarakan gadis yang membuatmu tertarik?

***

Kai membawa kedua tungkai kakinya keluar dari kelas. Pembicaraan dengan Baekhyun nyatanya memakan waktu cukup lama, apalagi saat membahas tentang Wendy. Keduanya juga seolah sama-sama tidak sadar waktu, bicara tanpa henti mengenai Wendy kemudian Irene, lalu bicara tentang Wendy lagi dan kemudian Irene.

Tidak lagi bisa menyesali waktu yang sudah terbuang—tidak terbuang dengan sia-sia tentu saja—Kai sepertinya harus mencari alasan yang cukup rasional untuk Chanyeol, Kai yakin jika Chanyeol akan sedikit naik pitam karena sudah menunggunya.

“Hei.”

Kai menghentikan langkahnya saat mendengar suara masuk kedalam rungunya. Ia meluaskan padangannya dan menemukan seorang gadis dengan rambut pirang berdiri di belakangnya. Dengan segera Kai lemparkan sebuah senyum pada si gadis yang dibalas dengan senyum lain, sama tulusnya.

Whoah, rambutmu sekarang berwarna hitam? Pantas saja, sedikit sulit untuk menemukanmu meskipun kita sudah berada di tempat ini selama satu bulan lebih.” si gadis berambut pirang berjalan mendekati Kai dan dihadiahi sebuah tawa kecil dari pemuda tersebut.

“Memang sulit untuk mencariku atau kau yang sibuk dengan kelasmu?” mendengar pertanyaan Kai, si gadis menghentikan langkahnya sejenak. Ekspresinya tampak serius sejenak sebelum dia melanjutkan langkah.

“Entahlah, mungkin keduanya?”

“Ah… kau menjawabku dengan begitu jujur. Aku pikir kau punya jawaban lain.” Kai memasang ekspresi berpikir, lengkap dengan tangan dilipat di depan dada.

“Mungkinkah kau sedang memperhatikan seseorang? Atau bahkan menyukainya?” tebak Kai dan mendapat sebuah pukulan kecil di lengan oleh si gadis.

Hey, Kim Kai!” gerutuan si gadis membuat Kai tertawa, tawa yang bahkan belum ia pamerkan kepada Irene. “Maaf maaf. Aku bercanda. Bagaimana kabarmu? Menjengkelkan sekali kau baru bisa menemuiku sekarang.” kata Kai kemudian.

Si gadis menarik dan menghembuskan nafas sebentar, seolah berusaha menghapus kekesalan yang tadi sempat mendominasi.

“Sebenarnya aku sudah menemukanmu beberapa minggu yang lalu dan berniat untuk berbicara denganmu dan membahas tentang liburan musim dingin. Tapi aku mendapat tugas yang banyak jadi aku harus mengerjakannya terlebih dahulu.

“Kemarin aku baru saja hendak mencarimu saat penampilan baru ini membuatku sedikit kesulitan untuk menemukanmu. Jadi, yah… hari ini aku baru bisa bertemu denganmu.” penuturan panjang si gadis yang hanya dibalas anggukan oleh Kai.

Hey! Aku berbicara panjang lebar dan kau hanya membalasnya dengan anggukan?” Kai membulatkan matanya saat mendengar si gadis lagi-lagi bicara dengan nada kelewat tinggi.

“Memangnya kenapa? Haruskah aku membuang tenagaku untuk membalas ucapanmu?” Kai mendelik dan dibalas sebuah cubitan kecil pada lengan pemuda Kim tersebut. Sebuah perdebatan kecil yang akhirnya berujung pada tawa ringan, seolah keduanya saling menertawai sikap kekanakkan mereka satu sama lain.

Umm, Momo. Kau mau ikut aku ke kantin sebentar? Sepertinya Chanyeol tidak akan jadi mengamuk saat melihatmu.” ungkap Kai saat membayangkan ekspresi Chanyeol yang lucu saat bertemu dengan Momo.

“Baiklah, tapi belikan aku sesuatu sebagai imbalannya.” Momo setuju dan tanpa menunggu ucapan ‘iya’ dari Kai, gadis itu mengikuti langkah Kai menuju kantin.

Keduanya tampak begitu sibuk bertukar cerita sepanjang perjalanan menuju kantin, sampai-sampai keduanya tak punya sekon yang bisa dibuangnya untuk sekedar memerhatikan sekelilingnya. Ya, sekelilingnya.

“Irene, apa yang kau lihat?” sebuah tanya dari Wendy menyadarkan Irene tadi dua objek yang sejak tadi menjadi sasaran fokusnya. Lekas, gadis itu mengalihkan pandang, menatap Wendy yang sekarang memandangnya dengan tatapan menunggu.

“Bukan apa-apa. Oh, Wendy apa kau mau ke perpustakaan?” tanya Irene sekon kemudian.

“Ya, aku sudah memberitahumu dua menit yang lalu kalau aku akan ke perpustakaan dan kau memilih untuk ke kantin karena kau lapar.” tutur Wendy, menjelaskan pada Irene kalau sejak dua menit yang lalu Irene tidak memerhatikannya.

“Ah, begitukah? Kupikir aku akan ikut denganmu saja.” tandas Irene, mengabaikan sindiran halus yang Wendy berikan.

“Ikut denganku? Kenapa tiba-tiba?” tanya Wendy curiga.

“Aku sudah tidak lapar lagi.”—ya, tentu Irene sudah kenyang karena suguhan pemandangan menjengkelkan yang herannya Irene sendiri tidak tahu kenapa pemandangan itu jadi menjengkelkan.

“Oh, luar biasa, kau bisa kenyang hanya karena melamun selama dua menit.” kata Wendy, menyerah juga pada sikap tertutup yang Irene pamerkan. Tentu saja Wendy tahu kalau Irene tidak akan berbaik hati memberitahunya tentang apa yang merenggut atensi gadis itu selama dua menit yang dia habiskan untuk mengabaikan Wendy tadi.

“Sudah, ayo kita lekas ke perpustakaan. Kau mau tempat duduk favoritmu direbut orang lain?” Irene mengingatkan Wendy, sekedar memberitahu Wendy bahwasanya di perpustakaan ada tempat duduk yang amat Wendy sukai dan sepertinya semua penggila perpustakaan juga menyukainya.

“Benar! Aku harus selamatkan kursiku!”

***

Bagi Kai, perpustakaan adalah salah satu tempat yang mengasyikkan untuk melakukan banyak hal, melepas penat, menambah informasi, bahkan berbagi rahasia. Kai rasa ia harus berterima kasih kepada Momo karena olehnya Chanyeol benar-benar tidak jadi mengamuk dan mengalihkan perhatiannya kepada gadis itu.

Tak lama setelah, menghabiskan semangkuk jjangmyeonnya ia diam-diam pergi ke perpustakaan, mengingat dia masih punya beberapa jam sebelum jam malam.

“Oh, hey, Kai.” spontan Kai mengalihkan pandangnya ke arah sumber suara yang baru saja menyapa. Segera, netranya disambut oleh seorang gadis yang sekarang berdiri di belakangnya dengan senyum terpasang di wajah dan beberapa buah buku dalam rengkuhan.

Lantas, Wendy memindahkan tumpukan buku di tangannya ke meja, dia kemudian duduk di sebelah Kai, meregangkan otot lengannya sejenak selagi menunggu Kai membuka konversasi.

“Oh, Wendy. Melihatmu ada di sini, apa kau sudah makan siang?” tanya Kai setelah selama beberapa sekon memutar otak untuk mencari pertanyaan.

Pasalnya, dilihat dari keadaannya sekarang Wendy pastilah setidaknya sudah menghabiskan waktu yang lebih lama daripada Kai berada di perpustakaan ini.

“Ah, ya, aku sudah makan, tentu saja. Secara diam-diam aku makan beberapa keping biskuit di kelas tadi. Karena waktu istirahat itu sangat berharga untuk mencari buku-buku daripada makan.” tutur Wendy panjang-lebar. Bisa Kai pahami, agaknya Wendy memang seorang kutu buku yang tidak berpenampilan memalukan.

Ya, setidaknya dalam pandangan Kai Wendy tidaklah terlihat seperti kutu buku yang keadaannya sudah seperti tenggelam di balik buku berusia puluhan tahun.

“Begitu, ya. Buku apa yang kau cari omong-omong?” tanya Kai kemudian.

“Aku sedang mencari-mencari beberapa buku tentang hewan-hewan yang bisa menghasilkan beberapa obat-obatan dari apa yang mereka hasilkan, dan aku berakhir di sini, dengan tumpukan buku yang beratnya separuh berat badanku.” diiringi sebuah candaan, Wendy menjelaskan.

Kai sendiri terkekeh mendengarnya, Wendy ini memang sangat pandai bicara rupanya. Dengan beberapa kalimat saja dia bisa membuat Kai merasa geli. Meskipun Kai yakin benar Wendy tidak sedang berusaha untuk melucu.

“Apa ada hubungannya dengan kelas Magus-mu? Aku lihat di kamar, Kyungsoo juga membawa beberapa buku tentang hak yang sama.” kata Kai segera disahuti Wendy dengan dua anggukan cepat.

“Iya, kami mendapat tugas untuk mencari tahu tentang itu. Kelas Magus harus bisa menguasai ketiga aspek dasar dari ketiga kelas.” jelasnya dengan ekspresi tegas dan jelas. Tentu saja semua orang bisa tahu dengan sekali pandang, kalau Wendy adalah seorang gadis berwawasan luas.

“Aku rasa sekarang aku paham kenapa kau selalu membawa buku.” menangkap maksud di balik candaan Kai, Wendy akhirnya menahan kekehannya. Lantas diperhatikannya pemuda di hadapannya tersebut—yang tampak sibuk membaca buku tadinya sebelum Wendy menginterupsi atensinya.

“Benar, aku tidak bisa hidup tanpa buku. Lalu bagaimana denganmu? Apa yang menyibukkanmu di sini?” tanya Wendy kemudian.

“Oh, ini. Aku harus mencari tahu tentang monster-monster yang ada di sekitar hutan terlarang. Kelas Azwraith terkadang sering keluar sekolah untuk berlatih strategi dan juga pengetahuan tentang musuh-musuh.” kali ini giliran Kai yang berkelakar, muncul sebersit ingatannya mengenai detail saat ia mendapat tugas untuk melawan beberapa Centaur liar dan berakhir hampir dibunuh.

“Ah, kedengarannya menarik. Sayang sekali aku sama sekali tidak punya nyali untuk berurusan dengan monster-monster itu face-to-face.” Wendy menuturkan, tentu Kai bisa memahaminya. Memang, kebanyakan perempuan akan lebih senang bekerja di balik layar daripada berhadapan dengan bahaya itu sendiri, bukan?

“Oh ya, Kai. Bolehkah aku bertanya-tanya sedikit padamu?” lanjut Wendy.

“Apa kau tahu ujian nanti kita seperti apa? Aku dengar desas-desus dari Nayeon sunbae jika kita tidak akan melawan senior ataupun teman dari angkatan di Claris saja. Tapi juga melibatkan 6 sekolah lainnya.” alis Kai terangkat saat mendengar penuturan Wendy sekarang.

“Hmm, aku rasa mungkin itu ada benarnya. Tapi aku juga belum tahu pasti. Tidak ada informasi apapun yang datang padaku tentang ujian nanti. Kurasa, tidak akan jauh berbeda dari ujian kita kemarin.” jawab Kai.

“Maksudmu saat kita melawan monster-monster itu?” tanpa sadar nada bicara Wendy merendah, rupanya gadis itu memang masih merasa bahwa melawan monster dengan mengurungnya menggukana spelling atau ramuan jauh lebih baik daripada berhadapan langsung dengan mereka.

“Iya, aku rasa tidak akan jauh berbeda dari ujian itu. Kalau saja benar-benar melibatkan sekolah lain, aku yakin akan ada beberapa sistem yang akan diubah.” Wendy terkagum-kagum mendengar penuturan Kai, Wendy rasa Kai ada benarnya. Mungkin lain kali dia harus sering mengobrol dengan pemuda ini.

Whoah, aku hampir tidak percaya saat Nayeon sunbae membicarakan kepintaranmu dan mengapa kau ada di tingkat Master di kelas Azwraith, yang aku tahu orang-orang yang berada di tingkat kelas Azwraith tidak lebih dari 30 orang. Dan setelah mendengar penuturan dan pendapatmu sekarang, aku tahu mengapa Nayeon sunbae berbicara seperti itu.” Penjelasan Wendy sukses membuat Kai tertawa, tapi pemuda itu memilih untuk tidak berkomentar, tentu saja.

“Oh ya Kai, kalau tidak salah kau bisa memanipulasi api ‘kan?” Pertanyaan lain keluar dari mulut Wendy. Gadis satu ini seperti tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan, rupanya.

“Ya, kenapa?”

“Tidak, aku hanya berpikir betapa beruntungnya kau bisa mempunyai kekuatan untuk mengontrol api.”

Kai menyunggingkan senyum simpul, well, hari ini dia sudah dua kali mendengar perkataan serupa. Kai yang memang benar-benar beruntung, atau dua orang yang mengatakan hal itu padanya memang punya pemikiran dan batin yang sehati?

“Ah, benarkah? Aku tidak tahu jika kemampuanku sehebat yang dibicarakan orang-orang.” jawaban Kai sekarang berhasil membuat Wendy membulatkan kedua matanya.

“Kau tidak tahu? Kai, orang yang bisa mengendalikan elemen alami saja perbandingannya sudah satu banding tiga juta orang. Dan elemen api adalah elemen yang benar-benar langka. Bahkan masuk kedalam kategori Legendary Rare, ayahku bilang hanya segelintir orang yang mempunyai kekuatan ini.” Kai mendengarkan penjelasan Wendy dengan serius, sungguh, Kai sendiri tidak menyangka jka kemampuannya bisa dibilang sangat ‘bernilai’.

Bagi Kai, apa yang jadi kemampuannya sudah jadi bagian dari dirinya, tidak perlu terlalu membanggakan atau menyombongkan kemampuan tersebut. Akan lebih baik jika dia melatih diri agar kemampuan itu bisa dipergunakannya dengan cara yang lebih baik lagi.

Tapi mendengar penuturan Wendy sekarang mau tak mau menarik perhatiannya juga. Ternyata, Wendy tak hanya berwawasan luas saat menjelaskan tentang hal-hal yang berbau magis tapi juga hal lainnya.

“Kau tahu banyak juga tentang kekuatan yang aku miliki. Tapi Wendy, sekali lagi kukatakan, kalau aku rasa ini kekuatan ini hanya keberuntungan yang dibagikan padaku. Jadi aku harus mempergunakannya dengan baik.” diplomatis, jawaban Kai.

“Beruntung? Aku ra—”

“—Sudah, jangan dilanjutkan. Aku sudah tahu kau akan mengatakan apa. Kau ini sama saja seperti Baekhyun, ia juga mengatakan hal yang sama tadi sore.” Wendy terkejut mendengar jawaban Kai.

“B-Baekhyun sunbae?” ucap Wendy terbata-bata, salah tingkah.

“Iya, kau pasti akan mengucapkan persis apa yang diucapkannya tadi sore. Jadi aku hentikan sebelum ucapanmu itu selesai. Oh ya, omong-omong soal Baekhyun, dia menanyakanmu tadi. Mungkin kau perlu bertemu dengannya.” Wendy terdiam mendengar ucapan Kai, sedangkan pemuda itu hanya menatapnya.

Tak lama, Wendy segera merapikan buku-bukunya dan beranjak dari duduknya.

“Hei, kau mau kemana?” tanya Kai yang melihat Wendy terburu-buru.

“Aku pergi dulu. Sampai bertemu nanti. Selamat malam, Kai.” ucap Wendy sebelum meninggalkan Kai dan memberikannya sebuah tepukan di pundak pemuda Kim itu.

Kekehan pelan pun akhirnya lolos dari bibir Kai.

“Dasar, bilang saja kalau kau mau mencari Baekhyun.” gumamnya, dia baru saja hendak memerhatikan kepergian Wendy saat suara gaduh di dekatnya kembali mengusik.

Rupanya, di sana telah ada Irene dan Taehyung, satu korban yang ditinggalkan oleh Wendy, dan satu lagi yang iseng-iseng mendatangi korban tersebut karena dilihatnya sendirian. Tetapi, tindakan Taehyung yang menghampiri Irene itu justru membuat Irene secara tak sengaja menjatuhkan buku yang ada di tangannya dan menyebabkan bunyi gaduh barusan.

“Taehyung!” cicit Irene begitu disadarinya seseorang yang menepuk bahunya tanpa suara adalah sosok Kim Taehyung.

“Wah, kau terlihat sangat terkejut. Memangnya kau sedang tertidur atau apa?” canda Taehyung, dengan santai dia mengambil buku yang baru saja Irene jatuhkan, kemudian duduk di sebelah gadis itu sembari meletakkan buku tersebut di hadapan Irene.

“Iya, aku tadi sudah hampir tertidur.” aku Irene polos, hal yang lantas membuat Taehyung menahan tawa. Bagaimana tidak, baru kali ini dia melihat seseorang mengakui tuduhannya dengan begitu santai dan jujur.

“Astaga, kenapa tidak kembali ke asrama saja kalau kau memang mengantuk, hmm?” tanya Taehyung sekon kemudian, melihat wajah lusuh Irene akibat menahan kantuk sekarang sungguh membuat Taehyung merasa geli.

Sayang sekali mereka berada di perpustakaan sehingga Taehyung tentu harus menjaga sopan santun dan tidak bisa tertawa seenaknya.

“Tertidur di asrama saat jam masih belum menunjukkan jam tidur bukan jadi kegiatan yang menyenangkan.” Irene berkata, dia bisa dengan jelas bayangkan bagaimana tidak nyamannya jika harus tidur sendirian di kamar, dengan bonus tidak ada seorang pun di kamar-kamar lain yang ada di dekat kamarnya.

“Tapi setidaknya kau tidak harus menjadikan perpustakaan sebagai tempat tidur alternatif.” kata Taehyung santai, lantas dia memerhatikan buku yang tadi Irene baca.

“Buku ini kau ambil secara random, atau memang kau tiba-tiba tertarik untuk belajar tentang ramuan?” tunjuk Taehyung pada sampul buku yang Irene baca.

“Oh, bukan. Ini bukan bukuku. Tadi Wendy yang—tunggu dulu. Kemana perginya Wendy?” tersadar kalau dia sedari tadi seharusnya tidak sendirian, Irene kemudian teringat pada Wendy.

Alasan mengapa dia tadi tertidur adalah karena dia menunggu Wendy yang katanya hendak mencari beberapa buku yang dia butuhkan. Tapi Irene justru disambut oleh Taehyung begitu dia terbangun—ralat, Irene belum benar-benar tidur, sungguh.

“O-Oh, Wendy sudah pergi, ya?” tanpa sadar bibir Irene menggumam begitu pandangnya tidak menangkap sosok Wendy dimana pun.

Tentu saja, berkat siapa Wendy pergi? Kai. Dan sekarang, keadaan Kai yang perlu dijelaskan, karena dia sudah melihat sebuah pemandangan kelewat tidak menyenangkan. Ceritanya, setelah melihat pemandangan kurang menyenangkan—melihat Irene bersama dengan Taehyung—Kai akhirnya memutuskan untuk mengalihkan perhatiannya, daripada merasa dongkol tanpa alasan hanya karena melihat Irene bersama dengan seseorang yang sangat tidak diharapkannya untuk berada di dekat si gadis, dihabiskannya beberapa menit oleh Kai dengan mencari buku lainnya.

Tapi, nyatanya keseriusan Kai itu kembali harus diusik oleh kedatangan Momo yang secara tiba-tiba dan langsung dengan lancang menyandarkan tubuh di bahunya.

“Astaga, coba lihat siapa yang sedang kau perhatikan sambil berpura-pura membaca.” Momo berkata, maniknya kemudian bergerak meneliti seisi perpustakaan, meski decakan kesal dari Kai sekarang seolah jadi peringatan baginya.

“Ah! Ternyata kau memerhatikan dia lagi.” kekehan kecil lolos dari bibir Momo saat dia sadar kalau satu-satunya orang yang mungkin diperhatikan Kai dalam area ini adalah Irene—yang sekarang tengah sibuk berbincang dengan seorang pemuda yang tak lain adalah Taehyung.

“Wah wah, lihat bagaimana akrabnya mereka. Kau tidak cemburu?” tanya Momo menggoda Kai. Tidak terpancing dengan ucapan Momo, Kai hanya mengembuskan nafas panjang.

“Cemburu adalah tindakan paling tidak logis yang pernah manusia lakukan.” sahutnya ringan. Momo lantas melirik dengan tatapan tak percaya. “Lihat caramu bicara sekarang, seakan-akan kau bukan bagian dari populasi manusia saja.” komentar Momo hanya disahuti Kai dengan kedikan bahu tak peduli.

“Ah, sayang sekali, mereka berdua terlihat seperti pasangan serasi. Kau pasti tidak punya harapan untuk menjadi orang ke-tiga di antara mereka berdua.” lagi-lagi Momo berkelakar dengan santai.

Kali ini, godaan Momo agaknya sudah melibatkan perasaan Kai dengan nyata.

Hah, orang ke-tiga? Coba tanya padanya siapa yang jadi orang ke-tiga di sini.” komentar Kai ketus, tapi lantas Kai segera menutup mulutnya lagi.

“Sial.” umpat Kai begitu sadar kalau dia baru saja secara blak-blakan mengucapkan kalimat yang seharusnya tidak pernah dia ucapkan.

“Oh! Kau benar-benar cemburu!” cicit Momo akhirnya membuat Kai mendengus pelan. “Cemburu, cemburu, terserah kau mau berkata apa Momo. Sudah, aku mau kembali ke kamarku saja.” sahut Kai, diletakkannya buku yang tadinya dia baca dengan begitu serius itu di atas meja.

Keinginannya untuk membaca dengan serius sekarang sudah terbang entah kemana. Bergantikan dengan perasaan kesal yang mendominasi. Kai baru saja bangkit dari tempat duduknya ketika dari sudut mata dia dapati bagaimana Irene dan Taehyung masih juga bercengkrama dengan begitu akrab.

“Pasangan serasi kata Momo, memang dengan tampang begitu dia pikir dia cocok untuk dipasangkan dengan Irene? Tidak tahu diri sekali kau, Kim Taehyung.”

***

Sepertinya, alasan kedongkolan Kai pada Irene dan terutama Taehyung, belum berakhir sampai di perpustakaan sore kemarin saja. Siang ini, saat Kai hendak menghampiri Irene ketika gadis itu baru saja selesai dari kelasnya, lagi-lagi pemandangan tidak menyenangkan sudah menyambut netra Kai.

Cukup mengesalkan bagi Kai karena akibat pemandangan itu dia bisa menelan senyum sumrigah yang tadi sempat muncul di wajahnya saat melihat eksistensi Irene. Sehingga, Chanyeol yang ada di sebelah Kai pun merasa aneh juga karena dia ikut menjadi pelampiasan kekesalan Kai sekarang.

“Kai! Ayo kita ke kantin!” seru Chanyeol, dirangkulnya bahu Kai hendak menarik paksa pemuda Kim itu ke kantin saat dengan satu sentakan cukup keras dan tegas Kai mengalihkan tangan Chanyeol dari bahunya.

“Pergi saja sendiri.” kata Kai ketus, maniknya masih juga menatap ke arah yang sama.

Hey, tadi kau bilang kau lapar. Sekarang kenapa tiba-tiba kesal begini?” tanya Chanyeol tidak mengerti. Seingatnya, satu menit lalu Kai lah yang punya semangat ekstra untuk pergi ke kantin karena dia sudah lapar.

Tapi sekarang sikap Kai justru jadi pertanyaan besar bagi Chanyeol.

“Aku tidak lapar.” sahut Kai ringan.

Sadar kalau sahabatnya satu ini sejak tadi berdiri mematung dengan tatapan tajam yang ditujukannya ke satu arah, Chanyeol akhirnya dengan hati-hati mengarahkan pandangannya ke arah yang Kai pandang juga.

Dengan mulut membulat hendak ber-‘oh’ ria akhirnya Chanyeol mengerti juga. Pemuda Park itu sudah akan buka mulut untuk berkomentar kalau saja Kai tidak dengan tiba-tiba menyikutnya cukup keras.

Auw! Hey! Apa yang kau lakukan?” kata Chanyeol tidak terima.

“Jangan berkomentar apapun.” peringat Kai.

Dan ya, pemandangan tidak menyenangkan apa yang mungkin akan membuat Kai kelewat kesal kalau bukan karena Kim Taehyung dan Bae Irene yang dilihatnya begitu akrab? Saat Irene berdiri di depan kelas—yang Kai tidak tahu, Irene sebenarnya menunggu Kai di sana—tiba-tiba saja Taehyung datang menghampiri gadis itu dengan ekspresi kelewat ceria yang tidak akan membuat siapapun berpikir negatif tentangnya.

Hanya Kai yang berpikiran buruk tentang keberadaan Taehyung di dekat Irene. Catat, hanya Kai.

“Aku akan berlatih basket setelah ini, tertarik untuk menonton?” kelakar Taehyung setelah dia tadi bertukar cerita tentang bagaimana semalam Irene akhirnya tertidur, lelap atau tidak, dan lain sebagainya, sebelum akhirnya Taehyung menceritakan pada Irene tentang latihan basket yang diikutinya.

“Oh, basket? Terdengar menyenangkan juga. Kalau ada waktu setelah ini aku akan ke sana.” kata Irene, berpura-pura juga dia merasa tertarik, karena sebenarnya Irene tidak punya ketertarikan pada olahraga, sama sekali.

Irene lebih suka menghabiskan waktu dengan membaca buku di perpustakaan saja, atau kegiatan lainnya yang bisa meningkatkan kemampuan Irene yang dirasa gadis itu masih kurang.

“Baiklah, kalau begitu aku akan menunggumu.” kata Taehyung, tangan pemuda Kim itu kemudian bergerak mengacak surai Irene—hal yang sontak membuat Irene terpana.

Apa yang baru saja Taehyung lakukan padanya?

Belum sempat Irene berpikir jernih, Taehyung sudah melenggang pergi, meninggalkan Irene yang masih membeku lantaran tindakan Taehyung barusan mengingatkan Irene pada hal sama yang pernah dilakukan orang lain padanya.

Ya, Kai. Irene ingat benar Kai pernah mengacak surainya dengan cara yang sama. Tapi, mengapa rasanya begitu tidak nyaman saat Taehyung yang melakukannya?

Lantas, Irene segera menyadarkan diri. Diedarkannya pandang hendak mencari keberadaan Taehyung tapi maniknya justru menangkap pemandangan lain yang berhasil membuatnya mematung untuk kedua kalinya.

Kai berdiri di depan kelas yang ada di ujung koridor, menatapnya tajam seolah Irene baru saja berbuat kesalahan begitu besar sampai Kai sanggup menghadiahinya dengan tatapan setajam itu.

Baru saja Irene hendak buka mulut untuk memanggil, Kai sudah membalik tubuh, menarik paksa Chanyeol yang ada di sebelahnya untuk beranjak pergi. Melihat hal itu, Irene kemudian tersadar.

“Oh!” pekik tertahan si gadis, kedua telapak tangan Irene sekarang bergerak menutup mulut, dia terlampau terkejut saat sadar tentang apa maksud dari sikap cuek Kai barusan. “Jangan bilang, dia melihat apa yang terjadi barusan.”

***

*

*

*

a/n:

authornya lagi enggak bisa berkata-kata (?) jangan protes karena publishnya kelamaan, jangan mengeluh sudah lupa sama isi ceritanya, jangan kesel karena chapternya kependekan, dan jangan suudzon kalo publish chapter berikutnya bakalan lama lagi, enggak capek ya sering protes, sering ngeluh, sering kesel sama sering suudzon?

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

 

18 tanggapan untuk “WINGS – EPISODE VI — IRISH’s Tale”

  1. wlw dah lama sjak trakhr x bc chptr sblm’ny tp msh ckp inget ko
    chptr x ni tema’ny jealous 1 sm lain, drama teenager love life
    baek-kai seru bgt ngbahas cem2an msng2 ^^ lanjutkan..

  2. ga kok…irish yang baik hati,,,semoga moodnya bagus lagi biar bisa lanjut wings lagi..dan semua ceritanyaaaa yang bagus baguuss smuaaaaaa 🙂
    irish t.o.p b.g.t!!!!!!!

  3. Akhirnya update juga :)))))
    Aku serasa mau lompat pas baca judul “WINGS” ada lagi, omg omgㅜㅜ

    Aku suka banget ceritanya. Banget banget.
    Ditunggu chapter VII nya. ILY author nims!

  4. Cieee Baekhyun ciee… Tanya2 tentang Wendy ke kak ciee.. kalo tertarik bilang aja Baek..
    Btw, khamsahabnida eonni udah mau​lanjutin cerita ini.

  5. hueee kak irish ma altair kmna aja nih? gmna kbar? akhirnya wings update lagi… jgn molor2 ya… soalnya wings ceritanya bgus bangeeettt

  6. Udah agak lupa sama ceritanya, tapi tetep jantung ini tetiba berhenti berdetak kala ‘WINGS’ tercetak dengan jelas di mataku. Oh, sueneng pol :’v

    Wes, cekap sakmenten, semangat terus nggeh :’v Tak tunggu intinya^^

  7. senengnya minta ampuun ff ini update lagi:’) terharu wkwkwk. gemes yaa kairin masih gengsi gengsian ayo doong kapan jadian woi

  8. Ternyata ada Irene – kai juga *-* bosen sama ff yg cast nya hunrene mulu

    Izin baca dari awal ya,, sebenernya sih komen duluan di disini padahal belum baca XD yaa supaya kebiasaan baca dulu terus lanjut ke cerita yg lain kaya waktu jadi siders itu ga semakin berkembang XD

  9. Setelah sekian lama menunggu akhirnya up juga, aku hampir frustasi, tau ga ka al, pokoknya tetep semangat ya kaka. God always with you.

  10. apa ini? apa ini? Wings ikutn pula upnya.
    driku sdah menanti Baek-Wendy, sperti yg kubilang sblumnya gak nyangka yg bakal jd couple-nya itu neng Wendy. wkwkwkwk…

  11. Sekian abad akhirnya apdet juga hahaha *ketawa tapi pingin ngejitak dalem hati* *bercanda deng kkk*

    Aha jujur udah lupa ama ceritanya :v tapi entah aku senenggg pas liat ada apdetan, langsung ngebuka deh (masi inget jalan ceritanya walo samar-samar, kayak ngeliatin doi *uhuk)

    Kak Irish tetep semangat selalu yaaw :3 Moga Irene-Kai-nya gak diistirahatin lama-lama, sampe mingkem mereka berdua wkwkwkw

  12. Liat ff ini update lagi aku udah seneng banget kok ^-^. Udah, gitu aja. Aku ya masih nggk bisa ungkapin rasa senengku liat line irene-kai yg masih suka gengsi2an yg beda sm line baekhyun-wendy yg tergolong buka2aan*apanyaygdibukaya/LOL

    1. alhamdulillah XD wkwkwkwkwk ini butuh perjuangan keras buat aku ngetiknya huhu, karena aku harus baca ulang dulu dari awal biar dapet feel sesuai sama cerita yang lama :” sedih aku tuh

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s