[EXOFFI FREELANCE] KOKOBOP (TRACK 5)

K O K O B O P (Track 5)

Author: El Byun

Chaptered

Rate: PG-17

Genre:

Alternate Universe, Action, Romance, Mystery, Angst, adult

Cast:

Lee Hanbi (OC)

Zhang Yixing aka Lay | Huang Zitao aka Tao | Wu Yifan aka Kris |Xi Luhan aka Luhan

Lee Donghae

Summary:

Ketika tarian musim panas mengajakmu untuk memiliki seorang pasangan. Kemudian seseorang yang tidak kau ketahui melemparmu ke dalam kencan buta dengan 8 pria beda profesi.

Desclimer:

This story is my real imagination from ‘Kokobop’ song. Don’t be plagiarsm, please! Be a good reader!

Fanfic ini juga dipost di akun Wattpad saya @elisabethbyun bersama dengan karya saya yang lain.

Previous list:

Cast + Introduction | Intro |  Verse| Chorus

Track 1 | Track 2 | Track 3 | Track 4 

~~~

[TRACK 5: MYSTERIOUS LETTER 1]

~~~

Hanbi berlari terbirit-birit turun dari tangga dan bergegas untuk membuka pintu apartemen. Ayahnya akan marah jika ia mengabaikan kedatangannya.

Ceklek!

Dan benar, ayahnya tampak memasang wajah tidak sukanya sekarang. Hanbi bisa melihatnya dari raut tegang ayahnya. Pria itu melihat Hanbi dengan tatapan mengintimidasi karena Hanbi kini tengah mengenakan kimono tidur dengan rambut super berantakannya.

Tanpa Hanbi persilahkan masuk, pria itu langsung menerobos melewati Hanbi. Lagi pula sebagian besar materiil kekayaannya juga ada di sini.

Sorot mata tajamnya menyapu seisi ruangan. Pria itu mendekati ruang tamu dimana semua kekacauan akan datang dari sini. Ia melihat beberapa potong pakaian berserakan di sofa dan meja. Entah apa yang Lay lakukan semalam hingga ia melucuti semua pakaian pemberian Hanbi dalam keadaan mengenaskan seperti ini.

Kemeja di lantai, celana di atas meja. Dan beberapa gelas kosong bekas minuman juga ada di sana. Sungguh terlihat jorok sekali rumah Hanbi.

“Kau punya hubungan khusus dengan orang China?”

Aniyo.” sahut Hanbi cepat.

“Tidak?”

“Jadi, kau membayar 2 pria untuk menjadi pemuas hasratmu?”

Hanbi terdiam. Pria bermarga Lee itu menatap ke arah Hanbi. Ia memandangi tubuh gadisnya dari ujung kaki hingga puncak kepalanya.

Aniyo.” jawab Hanbi menggeleng.

“Tapi di sana ada dua sepatu blucher. Kau menyembunyikannya di kamarmu?” tanyanya lagi dan sukses membuat Hanbi kelabakan. Ia menyusul ayahnya yang akan naik ke kamarnya sambil membentangkan kedua tangannya.

“Tidak ada.” sahut Hanbi gugup.

“Jangan bohong Hanbi!” ucap pria itu lalu mencengkeram rahang Hanbi hingga gadis itu berjinjit. Ia menatap pria ayahnya itu dengan amarah.

“Aku tidak mau menikah dengan Yifan.” ujar Hanbi tegas.

Pria bernama Lee Donghae itu menghempaskan tubuh Hanbi begitu saja. Tangan besarnya meraih kerah baju Hanbi dan menyibak sebentar dada polosnya.

“Dasar jalang! Kau sama seperti ibumu.”

“Jangan mengejek ibuku!” teriak Hanbi yang langsung melepaskan tautan tangan besar itu pada bajunya. Mata Hanbi kini sudah berkaca-kaca. Mendengar nama ibunya saja hatinya begitu bergejolak.

“Setidaknya Yifan lebih pantas menikahimu daripada memelihara kucing jalanan.”

Apa Hanbi bukan anaknya lagi sekarang?

Sungguh pernyataan yang dilontarkan ayahnya lebih busuk dari seorang koruptor yang mencaci penegak hukum. Hanbi tidak bisa melihat sosok ayahnya lagi. Sama halnya saat pria itu ia melenyapkan ibunya.

“Tapi aku tidak ingin menikah! Wu Yifan adalah orang biadab. Sama seperti KAU!”

“DASAR GADIS KURANG AJAR!”

PLAK!

“APAPUN YANG TERJADI KAU HARUS MENIKAH DENGAN YIFAN!” bentak ayahnya.

Kini sukses air mengalir dari kedua matanya dalam diam. Ia tidak habis pikir tentang ambisi ayahnya untuk menikahkannya dengan Yifan. Jelas-jelas ia tahu bagaimana bejatnya Yifan bermain dengan wanita. Apa Hanbi harus meroket ke bulan agar ia terbebas dari pria-pria di bumi ini?

Sudah cukup Hanbi bersabar dengan kelakuan ayahnya. Jangan sampai Yifan menambah masalah yang akan menggoreskan mimpi buruk lagi bagi dirinya.

BLAM

Suara dentuman pintu mengiringi kepergian Lee Donghae, ayahnya. Kini Hanbi hanya berdiri terpaku dalam posisinya. Ia ingin berteriak namun pita suaranya seakan ingin putus. Serapuh itukah Hanbi? Biasanya gadis itu akan mengamuk jika ia tidak mendapatkan apa yang diinginkannya. Tapi kali ini tidak. Ia diam saja bahkan saat dilontarkannya keputusan sepihak oleh ayahnya.

Dalam gendang telinga Hanbi terdengar langkah beruntun dari tangga rumah apartemennya. Ia tahu Zitao dan Lay turun setelah mendengar kesenyapan pasca perdebatan mereka. Melihat Hanbi terdiam, Zitao mendekat.

“Bi, kau tidak apa-apa?”

Tiba-tiba suara berat Zitao memecah lamunan Hanbi. Pria itu memegangi pundak Hanbi namun ditepis olehnya. Gadis itu tidak ingin bicara apapun sekarang.

“Pergi!” usir Hanbi tanpa melihat ke arah mereka.

“Hanbi, maaf jika…”

“Jangan sentuh aku!” tepis Hanbi saat Lay mencoba melakukan hal yang sama seperti Zitao. Gadis itu mendorong pundak Lay kasar hingga terhempas beberapa centi dari posisi berdirinya.

“Pergi kalian semua! Dan jangan pernah kembali ke hadapanku! Kalian semua brengsek!”

Begitu pernyataan itu dilontarkan Hanbi langsung bergegas pergi menaiki tangga menuju kamarnya. Bahkan Zitao sedari tadi tidak dapat melihat ekspresi sedih Hanbi karena gadis itu menundukkan kepalanya.

Sepeninggalan Hanbi, Zitao mulai menyadari pakaian yang dipakai atasannya kemarin bergeletak serampangan di meja dan sofa di hadapan mereka.

“Ah, Boss sepertinya kau membuat masalah.” sindir Zitao.

“Apa?” sahut Lay polos.

Zitao tidak menjawab apapun, pria itu hanya memberi kode dengan matanya agar atasannya kini melihat apa yang ia lihat. Lay yang menyadarinya langsung menoleh. Pria itu melongoh melihat hasil karyanya. Karya yang melebihi filosofi lukisan picasso. Abstrak.

“Aku semakin yakin ada sesuatu yang terjadi semalam.” tuduh Zitao memicingkan mata pandanya pada atasannya.

“Aku kepanasan. Lagi pula aku tidak tahu caranya menyalakan AC di ruangan ini. Bahkan hanya AC kamarnya saja yang menyala.” sahut Lay beralasan. Selepas perdebatan mereka, Lay memungut kembali celana dan kemejanya untuk ia kenakan.

“Ayo pergi!” ajak Lay setelah menaikkan resleting celananya.

“Bagaimana dengan Hanbi?” tanya Zitao menunda. Ia mengkhawatirkan gadis itu.

“Dia butuh sendiri. Kita akan kembali jika gadis itu berulah lagi.” jawab Lay tenang.

Setelah itu mereka memutuskan untuk pergi sesuai perintah Hanbi. Mereka sadar Hanbi memang butuh waktu sendiri sekarang. Bahkan setelah mereka mendengar pertengkarannya dengan Lee Donghae dari balik pintu kamar tempat mereka bersembunyi, atmosfer di dalam rumah ini sedikit berbeda.

***

Dalam gelap dan heningnya malam, Hanbi merengkuh tubuhnya di sudut kamar dekat jendelanya. Sudah sekian jam ia menangisi keputusan ayahnya.

Eomma.. Hiks!” cicit Hanbi sembari menyeka air mata yang mengalir di pelupuk matanya.

Kini gadis itu juga merindukan ibunya. Jika saja beliau ada di sini, mungkin saja ia dapat memeluknya erat dan menceritakan seluruh keluh kesahnya. Ia butuh sandaran hidup. Sudah lama ia mengurung dirinya menjauh dari dunia sosial. Ia hanya akan keluar jika ada pekerjaan yang harus ia kerjakan. Atau sekedar mengajak keluar Luhan jika pria itu berkunjung ke negaranya.

“Aku ingin bertemu Eomma. Aku harus menemukannya. Tapi bagaimana?” ujar Hanbi bermonolog hingga menjambak rambutnya frustasi. Gadis itu telah berhenti menangis sejak 5 menit yang lalu. Ia pikir, ia harus menemukan ibunya.

“Surat itu!” ujar Hanbi cekatan. Ia meloncat dari duduknya untuk mencari benda yang ada di pikirannya.

Ia mengais semua laci di meja nakasnya. Ia sedikit lupa karena telah mengabaikan petunjuk itu lebih dari seminggu yang lalu. Ia membuka lemari pakaian besarnya dan melempar baju-bajunya di atas ranjang.

I found it!” teriak Hanbi kegirangan. Ia menarik sebuah gulungan kertas di dalam kaleng beer yang pernah ia beli bersama Zitao.

***

“Hey, aku bosan. Bisa kita pergi ke Myeongdong besok?” ajak Lay yang kini menghempaskan tubuhnya di sofa apartemen Zitao.

“Untuk apa?” sahut Zitao sembari meminum cola yang sudah ia ambil dari kulkas.

“Bermain shoot gun! PAW!” jawab Lay sembari melempar kripik pada Zitao yang jaraknya terlampau jauh sehingga jatuh di lantai.

“Berhenti mengotori rumahku Boss! Harga sewanya mahal. Lagi pula kita harus menyelesaikan misi dan kau ingin bersenang-senang?” celetuk Zitao kesal.

“Ah, kau ingin kabur lagi?” tuduh Zitao kemudian.

“Tidak. Ceh, untuk apa aku kabur? Seperti anak kecil saja.” sanggah Lay berdecih selepas menegakkan duduknya lalu meraih ponsel dari saku celananya.

“Ya, siapa tau kau masih berniat untuk pulang seperti waktu itu.” sahut Zitao tidak percaya.

“Aku sudah terlanjur terlibat sejak bertemu dengan gadis itu.” ujar Lay sembari menjelajah layar ponselnya.

“Aku hanya heran Lian sama sekali tidak menghubungiku semenjak kepergianku. Apa dia marah?” gerutu Lay. Ia melihat kotak notifikasinya yang kosong. Hanya panggilan komisarisnya yang mengisi recent call-nya waktu pertama kali menginjakkan kaki di bandara Incheon.

“Mungkin dia sibuk. Dia kan aktifis sosial yang punya segudang kegiatan.”

“Bagaimana kau tahu itu?” kini Lay menatap tajam ke arah Zitao. Ia heran rekannya ini yang ia tahu tidak begitu mengenal tunangannya bisa tahu sejauh ini.

“Aku pernah bekerja dengannya.” ujar Zitao kemudian menegak beberapa teguk cola-nya. Kini ia duduk di sofa berseberangan dengan Lay.

“Apa? Jadi kau…” tuduh Lay menggantung.

“Aku tidak bohong soal aku terkejut dengan pertunanganmu dengannya. Aku hanya lupa karena itu sangat lama sekali. Mungkin saat aku dalam masa pelatihan.” Zitao berhenti sejenak untuk meletakkan botol cola-nya di atas meja.

“Mungkin kau akan marah jika aku katakan waktu itu Lian sedang menjalin hubungan dengan Luhan.” lanjut Zitao.

Pria itu sebenarnya sedang bergosip atau mengibar bendera perang dengan atasannya? Ia mengatakan ‘mungkin’ bersamaan dengan fakta sebenarnya. Kini Lay menatap tajam ke arah Zitao sambil mengepalkan kedua tangannya di pangkuannya. Namun apa dia harus berkelahi dengan rekannya sendiri sedangkan mereka tengah menangani misi yang sama?

“Haruskah kau mengatakan hal itu dengan ‘mungkin’? Keparat kau!” ujar Lay kesal lalu melempar bantal sofa di punggungnya pada Zitao. Namun pria itu justru tertawa melihat atasannya marah.

Lay bangkit lalu pergi untuk membuka sedikit jendela apartemen. Ia memandang jauh tatanan lampu kota yang menakjubkan dari atas gedung. Sang awan absen dari meriahnya taburan bintang di langit menambah nikmatnya karya sang pencipta. Sejauh ini menurutnya musim panas adalah terbaik.

Anak-anak rambutnya tersapu angin yang menerobos celah kecil yang dibuatnya. Pikirannya sedikit tenang setelah menghirup angin malam yang dingin. Untuk itu ia mencoba berpikir positif sekarang. Mungkin Seoul bukan tempat terbaik untuk berlibur. Yah anggap saja Lay sedang libur dari rutinitas kegiatan kepolisiannya di Beijing yang begitu padat. Walaupun ia tengah menganggap misi sebagai liburan, perintah adalah tanggung jawabnya.

“Sebenarnya kami sedang bertengkar.” ungkap Lay lemah. Ia seperti kehilangan semangat hidup.

“Kenapa?” sahut Zitao yang langsung menyambung topik pembicaraan.

“Aku tidak tahu. Dia hanya marah tidak jelas dan menyuruhku untuk menghindarinya. Dia aneh.” jelas Lay putus asa. Zitao yang mendengarnya hanya mengangguk saja. Ia tidak perlu menanggapi lebih jauh urusan pribadi atasannya.

“Heh.. Wanita memang selalu aneh.” ujar Zitao membenarkan.

“Omong-omong soal wanita, bagaimana besok kita lihat keadaan Hanbi? Sudah 2 hari dia tidak merecokiku dengan keinginan anehnya.” lanjut Zitao. Lay yang masih terpaku pada sisi luar jendelanya kini menoleh dan mengembalikan tubuhnya di atas sofa. Lalu ia meraih cola Zitao dan meminumnya.

“Soal surat kaleng Hanbi di dalam kaleng beernya. Aku pikir kita harus segera menyelesaikan siapa dan tujuan apa orang itu mengirimkannya pada Hanbi. Apa dia tahu sesuatu tentang keberadaan ibu Hanbi yang lenyap?” ujar Zitao berasumsi.

Lay menautkan kedua jemari tangannya persis seperti kedua alisnya yang kini hampir bersentuhan. Kepala besarnya tengah mencoba berpikir. Selama ini ia begitu tidak peka pada masalah yang sebenarnya dihadapi Targetnya. Ia terlalu sibuk dengan urusan pribadi bahkan dengan Luhan sekalipun.

“Baiklah. Aku pikir kau ada benarnya.”

***

Bunyian tombol pintu apartemen Hanbi terus mereka serukan hampir 10 menit lamanya, namun sang pemilik tak kunjung keluar.

“Apa dia pergi?” tanya Lay menebak.

“Tidak, ini terlalu pagi untuk dia bangun.” sahut Zitao yang sukses membuat Lay terburu untuk mengecek jam di pergelangan tangannya.

Kini waktu menunjukkan pukul 8.27 dan mereka masih berkutat pada pintu apartemen Hanbi. Sesekali Zitao mencoba memecahkan kode pintu yang membuatnya gagal sampai 3 kali. Baru 3 kali dan dia sudah menyerah.

“Ah, sialan!” umpat Zitao sembari menendang pintu besi tak bernyawa itu.

Lay yang dari tadi menunggu aksi menakjubkan Zitao dengan menyandarkan punggungnya pada dinding sebelah pintu itu perlahan bangkit. Ia mendorong pelan tubuh Zitao dengan ekspresi datarnya. Jujur dalam hatinya ia merasa bangga dengan keahliannya.

Lay menggulung setengah lengan kemeja panjangnya. Ia mengerucutkan bibirnya dan memulai gerakan pemanasan dengan sedikit meloncat-loncat tidak jelas kemudian merenggangkan kedua jari-jari tangannya.

Pip.. Pip.. Pip.. Pip..

Ceklek

Seketika putaran kenop yang di lakukan Lay membukakan pintu gerbang penyiksaan mereka. Zitao membulatkan kedua matanya beberapa saat sebelum akhirnya menyadari sebuah tepukkan di pipinya.

“Masuk!” titah atasannya.

“Kau keterlaluan Boss. Bagaimana kau bisa secanggih sekarang?” ungkap Zitao kagum.

Lay merasa pembodohan sederhana yang ia lakukan terlalu mainstream bagi Zitao yang notabene hanya seorang agen. Bagaimana tidak? Lay sudah tahu kode itu ketika pertama kali menginjakkan kaki di apartemen ini. Karena itu terjadi karena kecerobohan gadis itu. Hebat bukan?

“Hanbi…”

“Kau dimana?”

Panggil Zitao saat memasuki ruang tamu apartemen Hanbi. Tampaknya memang rumah ini seperti tidak berpenghuni. Mereka bisa melihat bekas kekacauan Lay pada meja dan sofa Hanbi yang masih menetap pada tempatnya. Dan lantai yang berdebu membuat indra penciuman seorang Lay terusik hingga hampir bersin.

“Hey, dia kabur dari rumah ya? Jorok sekali. Bahkan dia tidak membereskan rumah sebelum pergi.” ungkap Lay berasumsi.

“Tidak mungkin. Clarissa saja masih di sini.” sahut Zitao. Lay mengernyit heran.

“Clarissa? Ada orang lain di sini? Dimana?” ungkap Lay celingukkan.

Manequin Hanbi. Dia duduk di kursi konter dapur.” sahut Zitao lagi menuding sudut dapur di samping tangga.

Lay mendekat untuk memastikan. Ia hanya melihat sebuah boneka anak kecil berjenis kelamin perempuan duduk pada kursi tinggi yang biasa di untuk tempat duduk balita. Lay terlihat biasa saja melihat sosok itu. Ia pikir Hanbi mungkin seorang penggemar boneka Annabell, tapi sosok yang dimilikinya tidak terlalu menyeramkan baginya.

“Boss, ayo ke atas!” panggil Zitao yang sudah lebih dulu menaiki tangga.

Tanpa menghiraukan ketertarikkannya pada sosok manequin itu, Lay bergegas menyusul Zitao naik sambil sesekali melirik ke arahnya. Seingatnya boneka itu tidak duduk di sana saat Lay mencoba mengobrak-abrik dapur Hanbi karena kehausan malam itu.

***

Zitao yang pertama kali memasuki kamar Hanbi melihat gadis itu tengah tengkurap di ranjangnya tanpa selimut dalam posisi dan kondisi ranjang yang berantakan. Bahkan piyama kimono Hanbi masih sama seperti terakhir mereka bertemu. Zitao yang terlihat khawatir itu langsung mendekat mencoba menyadarkan gadis itu.

“Hanbi bangunlah! Hey!” panggilnya.

“Apa habis terjadi perampokan di sini?” Lay bergumam sendirian sembari menyapu ruangan dengan indera penglihatannya.

“Boss, Hanbi tidak sadarkan diri. Haruskah kita membawanya ke rumah sakit? Denyut nadinya juga tidak stabil. Juga tidak ada luka di tubuhnya. Dan dia demam.” ungkap Zitao khawatir. Ia membaringkan tubuh Hanbi dalam posisi yang benar dan menyelimutinya hingga sebatas dadanya.

“Biar aku lihat!” sahut Lay lantas mendekati ranjang dan mulai memeriksa suhu tubuh Hanbi dengan telapak tangannya. Memeriksa denyut nadinya sambil memeriksa pergerakan jarum jam tangannya sama seperti Zitao. Mereka telah dibekali dengan kemampuan dasar ilmu kedokteran. Sehingga mudah bagi mereka untuk memprediksi kondisi seseorang.

“Sedikit komplikasi di dalam tubuhnya. Jangan dibawa ke rumah sakit. Jika terdengar oleh seseorang hanya akan menambah masalah.” jelas Lay bijak. Ia masih mengamati wajah pucat Hanbi.

“Karena dia tidak bangun, bisa dipastikan dia minum pil penenang atau obat tidur sebelumnya. Jika kondisinya semakin buruk dan dia tidak segera sadar, nyawanya yang akan terancam.”

“Kompres saja dengan air dingin untuk menurunkan demamnya.” lanjutnya. Setelah mengatakan hal itu Lay beralih menuju tumpukan baju-baju yang berserakan di lantai dekat lemari besar Hanbi. Zitao yang menerima titah itu langsung bergegas turun ke dapur untuk mengambil air dingin dari kulkas.

“Merepotkan!” umpat Lay yang jongkok tengah mengais tumpukan kain itu tanpa menemukan benda penting apapun.

Ia berdiri kembali untuk kembali melihat keadaan tubuh Hanbi. Namun netranya tergantung pada secarik kertas yang terselip antara bantal-bantal tempat Hanbi berbaring. Karena penasaran, Lay mencoba untuk mengambilnya. Jaraknya yang jauh dari jangkauan tangannya membuat Lay harus merangkak sedikit dan bertumpu pada satu kakinya untuk memperpendek jarak. Terlebih Hanbi kini berada di bawah tubuhnya membuat Lay harus menghindari kontak tubuh agar tidak menindih gadis itu.

“Ah, dapat!” ujar Lay setelah berhasil menarik kertas itu. Namun saat ia akan menarik kembali tubuhnya sebuah tangan menahannya.

“Kau selalu menyelamatkanku kan?”

Lay yang mendengar suara serak itu mengalihkan pandangannya pada sosok gadis yang berada di bawahnya saat itu. Hanbi, Lee Hanbi yang tadi ia prediksi tidak sadarkan diri kini membuka matanya dan mengumamkan sesuatu yang tidak ia ketahui maksudnya. Lay mengernyitkan dahinya menunggu kalimat selanjutnya.

“Kau mau menikah denganku?”

Suara yang terdengar ragu-ragu itu mengambil seluruh atensi Lay pada kertas yang dipeganginya.

“Apa?” ujar Lay memastikan bahwa apa yang ia dengar adalah nyata dari mulut gadis itu.

“Aku tidak ingin menikah dengan Yifan. Bisakah kau menyelamatkanku dengan menikahiku?”

“Hanbi!”

Mendengar seruan panggilan untuk Hanbi. Lay memalingkan wajahnya pada sosok Tao yang tengah berdiri di ambang pintu dengan menenteng sebuah baskom.

“Huang, aku..?”

TBC…

NOTE:

yang terakhir posisi Lay itu tahu kan maksudnya? Wkwk.. Aku agak sedikit bingung untuk mendeskripsikannya. Tau lah ranjang queen size Hanbi sebesar apa? Hhaha…

Konfliknya semakin ke sini semakin rumit. Duh..!

Oke, jgn ketawa kalo bonekanya mirip boneka susan anggep aja beda. Wkwk.. 🙂

Makasih untuk pembaca setia KOKOBOP yang meluangkan waktu berharga kalian untuk membaca karya setengah matang saya. Ini pertama kali saya buat cerita action mystery dengan konflik lumayan ribet. Setelah ini saya akan semakin pusing untuk memikirkan ide selanjutnya haha..

Annyeong! Sampai ketemu di track selanjutnya

Nb:

Bagi yg belum dapat mengakses Track 4. Mohon hubungi author. Yg gk bisa / gk tau caranya komen disini boleh chat author di kontak yg sudah tercantum di track 3. Jgn takut kalo umur kalian di bawah 17. Part itu di password demi keamanan dan kenyamanan negara. Eak.. Khususnya saya sendiri.

5 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] KOKOBOP (TRACK 5)”

    1. Hallo, karena kokobop akan di tarik aku akan dengan senang hati kasih password.. Oke
      Passwordnya: 04kokobop

      Buruan diakses ya, sebelum aku tarik. Hehe…
      Kalau punya wattpad boleh di cek di @elisabethbyun

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s