[EXOFFI FREELANCE] Play(Boy) (Chapter 1)

|  PLAY (BOY)  |

| Oh Sehun & Hwang Mora |

| Byun Baekhyun, Ahn Hee Yeon (Hani EXID) |

| Jung Soojung [Krystal F(X)], Kim Jongin (Kai EXO), Lee Jieun (IU) |

| Romance x Drama |

| PG-17 | Twoshot |

2017 – Storyline by JHIRU H.

Aku sudah memutuskan saat aku memanggilmu

dan memberikan sebuah ciuman,

kau tidak bisa berhenti dalam permainan ini.

Prev : Teaser|Prologue

*warning : mature content akan ada banyak kata-kata kasar dengan

unsur dewasa bertebaran dalam fanfiksi ini.

*Hargai karya penulis dengan meninggalkan jejak di kolom comment

◦ ◘ ♯ ♯ ♯ ◘ ◦

—×◦ play(boy) ◦×—

In Author’s Eyes . . .

“Mora memang baik, tapi dia hanya menganggapmu sebagai objek rasa ingin tahunya. Jadi, jangan anggap serius.”

    Sehun memutar kedua bola matanya malas dan menatap jengah pada Baekhyun, hampir dua minggu ini, sahabatnya itu selalu mengatakan hal yang sama. Pemuda Oh itu tahu, lagipula dia tidak berminat pergi kencan dengan gadis seperti Mora. Bagaimanapun Sehun tidak ingin berurusan dengan gadis tipe seperti Mora, mereka adalah wanita baik-baik yang hanya penasaran dengannya. Sehun tidak ingin merusak mereka kemudian disalahkan, padahal sejak awal mereka tahu, Sehun tidak pernah serius dengan wanita-wanita itu.

“Malam ini, aku akan ikut ke klub. Aku sudah memberi tahu Jieun,”

    Baekhyun melihat, Sehun tersenyum mengejek padanya. Memang apa salahnya? Baekhyun hanya mencoba bersikap jujur pada Jieun, bukankah itu bagus sebagai pondasi sebuah hubungan. Jieun bukanlah tipe gadis pencemburu, kekasihnya itu percaya pada Baekhyun. Jadi, Jieun tidak melarangnya untuk melakukan ini-itu.

“Baiklah, aku ada kelas sekarang.”

“Aku dan Mora menunggumu di perpustakaan. Jika kelasmu sudah berakhir, segeralah menyusul.”

    Pemuda Oh itu mengangguk mengerti, lalu melangkah masuk ke kelasnya. Hari ini, mereka ada diskusi tapi Sehun satu-satunya anggota yang memiliki jadwal saat siang hari, jadi terpaksa dia harus mengalah dan membiarkan dua anggotanya berdiskusi tanpa Sehun. Tidak! Sehun pikir hanya Mora yang bekerja, Baekhyun benar-benar tidak menggunakan otaknya kecuali saat bermain games.

    Sehun duduk termenung di kursi, dia mengingat ucapan Baekhyun tadi. Ini cukup aneh, bukankah yang harus Baekhyun peringatkan itu adalah sepupunya.

    Gadis itu, Hwang Mora. Sudah dua minggu ini terus mengikutinya, Tidak! Mora bukan mengejarnya seperti gadis-gadis lain. Dia hanya diam mengawasi Sehun, lalu jika pemuda itu merasa risih dan menatap tajam pada Mora. Gadis itu hanya tersenyum seakan tidak melakukan apapun, padahal dengan jelas dia mengusik kehidupan Sehun.

“Oh Sehun! Cepat ambil ini,”

    Pemuda Oh itu tersadar ketika Jongin memanggilnya, lalu dia mengambil kertas yang diberikan Jongin. Sehun harus fokus, dia sudah ketinggalan setengah pelajaran. Pemuda Oh itu menepuk pelan pipinya dan membuka buku, dia bisa memikirkan hal itu nanti. Saat ini, mata kuliahnya lebih penting dibandingkan memikirkan hal yang tidak jelas.

    Sehun berkonsentrasi mendengar penjelasan dosen, sesekali dia mencatat hal yang dirasa penting. Meski dia sering pergi bermain dan sibuk dengan wanita-wanita di sekelilingnya, tapi urusan pendidikan tetaplah hal yang penting dan Sehun tidak ingin menyesalinya.

    Jongin melakukan peregangan ketika dosen sudah pergi keluar, dia melirik Sehun yang sibuk memasukkan buku-buku ke dalam tas.

“Sepertinya, kau sedang terburu-buru.”

“Hari ini, aku ada diskusi. Aku duluan, sampai jumpa nanti malam.”

    Sehun melangkah dengan terburu-buru bahkan dia sesekali berlari kecil menuju perpustakaan. Sehun mengatur napas saat sudah sampai di depan pintu masuk perpustakaan, pemuda itu mengedarkan pandangan tetapi tidak menemukan salah satu anggotanya.

    Setelah berjalan masuk lebih ke dalam, pemuda itu menemukan sebuah tas dan laptop yang tidak asing lagi. Itu tas Baekhyun dan laptop Mora, tapi mereka berdua tidak ada di tempat. Akhirnya, Sehun duduk di salah satu kursi dan meletakkan tasnya.

“Sehun, kita perlu bicara.”

    Pemuda Oh itu menoleh saat seseorang memanggil namanya dan mendapati salah satu seniornya yang sedang berdiri.

    Sehun menghela napas, dia harus menyelesaikan masalah ini. Menghindari salah satu teman kencannya, bukanlah hal yang baik dalam mengakhiri sebuah hubungan mutualisme. Pemuda itu mengikuti seniornya menuju bagian belakang perpustakaan, dimana orang-orang jarang berada di sana.

“Kenapa kau menghindariku? Kau tahu hubungan kita belum selesai, bukan?”

    Dengusan terdengar dari pemuda itu, Sehun sungguh malas berurusan dengan wanita tipe seperti ini. Mereka terlalu egois, lalu pada akhirnya mereka akan menyalahkan Sehun.

“Kita hanya teman tidur, noona. Sekarang, kau sudah punya hubungan dengan pria lain. Aku tidak ingin disalahkan jika kau ketahuan,”

“Oh, ayolah Sehun-a. Apa kau tidak merindukanku?”

    Sehun menatap tidak senang, ketika senior itu mulai mendekat dan mendekapnya. Tubuh pemuda itu tertarik ke depan, ketika kedua tangan senior itu bergelantungan di kedua bahunya. Sehun dapat merasakan ketika napas mantan teman kencannya itu semakin mendekat, Pemuda Oh itu baru saja akan mendorong seniornya ketika tiba-tiba dia mendengar suara orang melangkah.

“Baek, apa kau sudah menemukannya? Sebentar lagi, aku ada janji dengan Soojung.”

    Mendengar ada orang di sekitarnya, wanita itu melepaskan Sehun dan segera mengambil jarak.

“Kau bahkan takut ketahuan, lebih baik tidak usah muncul lagi di hadapanku. Jika kau tidak ingin priamu tahu,”

    Wanita itu menatap kesal pada Sehun, lalu pergi begitu saja meninggalkan Pemuda Oh itu. Sehun menghela napas dan sedikit bersyukur tidak perlu berurusan lagi dengan seniornya itu.

    Baru lima langkah yang dia ambil, Sehun mendapati Mora yang berdiri tak jauh darinya. Gadis itu memandang Sehun dengan heran, lalu menggelengkan kepala tak habis pikir dengan adegan yang baru saja dilihatnya tadi.

    Sehun berjalan melewati Mora, gadis itu mengikutinya dari belakang.

“Kau tidak ingin berterima kasih padaku? Aku baru saja menyelamatkanmu,”

“Tapi aku tidak meminta bantuanmu,”

    Mora menatap tidak percaya dengan apa yang di dengarnya, Oh sungguh! Sehun terkadang bisa begitu tak tahu malu.

“Harusnya, aku biarkan saja kau diperkosa oleh wanita itu.”

“Aku—apa? Diperkosa?”

    Sehun tiba-tiba saja berbalik dan membuat Mora yang di belakangnya menabrak.

“Oh ya ampun! Kau kenapa, sih? Jangan tiba-tiba berbalik,”

    Gadis itu memegang dahinya yang terbentur dengan tubuh Sehun, Pemuda Oh itu yang tadinya terkejut dengan pernyataan Mora menjadi merasa bersalah karena sudah tidak sengaja menyakiti gadis itu.

“Maaf, aku terkejut dengan ucapanmu. Apa dahimu masih sakit?”

    Mora melepaskan tangannya, Sehun dapat melihat dahi gadis itu yang sedikit memerah.

“Sedikit, kenapa kau terkejut? Aku hanya mengatakan sebuah fakta. Kalau aku tidak datang, kau pasti sudah habis diperkosanya.”

    Sehun tertawa mendengarnya, baru kali ini dia mendengar bahwa wanita bisa memperkosa seorang pria dewasa sepertinya. Wah, Sehun tidak tahu bahwa kelakuan sepupu sahabatnya ini sungguh aneh.

“Aku pria dan tenagaku lebih besar dari senior itu,”

“Oh terserahlah, lain kali aku akan menutup mata dan telingaku jika kau minta bantuan.”

    Gadis Hwang itu berjalan mendahului Sehun, berdebat dengan Pemuda Oh itu hanya membuang waktu.

“Sehun, kau pergi kemana? Smartphonemu tidak dibawa? karena Mora ada janji jadi kita harus cepat.”

    Begitu tiba di kursi, Baekhyun sudah duduk manis di sana dan mengeluarkan berbagai pertanyaan mengenai hilangnya Sehun. Tapi Pemuda Oh itu hanya menjawab jika tadi dia ada sedikit urusan, lalu Mora menghentikan konversasi dua pemuda itu untuk melanjutkan diskusi mereka.

“Contoh barangnya bisa diambil hari senin, aku dan Baekhyun sependapat jika kita bertiga bisa menjadi model untuk promosi produk yang akan dijual.”

“Apa kau berencana membuat beberapa banner, brosur, dan katalog sebagai strategi promosi?”

    Mora menggelengkan kepalanya, Gadis Hwang itu menjelaskan bahwa mereka hanya membutuhkan sekitar dua banner dan tigapuluh brosur saja. Sehun juga setuju, promosi yang berlebihan hanya menghabiskan banyak dana. Bagaimanapun juga mereka membuat ini hanya untuk tugas, hal terpenting adalah keuntungan yang bisa mereka dapatkan dengan uang produksi yang seminimal mungkin.

“Kalian bisa melanjutkannya, aku harus menemui Soojung.”

    Mora memasukkan buku-buku ke dalam tas.

“Baiklah, laptopmu ditinggal saja. Kami masih memerlukannya,”

“Aku pergi dulu, besok aku ke apartemenmu untuk mengambilnya.”

    Baekhyun memberi tanda ‘OK’ pada Mora tapi gadis itu tak melihatnya, dia sudah pergi menghilang.

    Baekhyun memberi tahu Sehun hasil design mereka dan meminta pendapat, sebelum pakaian dan topi mereka diproduksi dalam skala yang lebih besar. Alangkah baiknya jika mereka memperbaiki bagian yang kurang pas, bagaimanapun juga mereka harus menarik konsumen agar berminat membeli.

    Sekitar tigapuluh menit Baekhyun dan Sehun sepakat untuk mengakhiri diskusi mereka, lagipula Baekhyun tadi sudah membahasnya bersama Mora. Meski yang dilakukannya hanya diam dan mendengarkan saja.

    Mereka berpisah di lapangan parkir, Baekhyun pergi terlebih dahulu karena harus menjemput Jieun. Lagipula, kurang dari tiga jam mereka akan bertemu di klub malam. Sepertinya, Sehun sudah terlalu sering menghabiskan waktu bersama Baekhyun. Lebih dari duabelas jam dalam sehari, mereka selalu bertemu.

    Sehun baru saja akan berjalan menuju mobil ketika dia melihat beberapa juniornya sedang berkumpul. Sejujurnya, Sehun tidak peduli apa yang mereka bicarakan jika saja itu bukan mengenai Pemuda Oh itu. Sayangnya, mereka memilih topik yang salah. Jadilah, Sehun menghentikan langkahnya dan bersembunyi tidak jauh dari mereka.

“Senior Sehun pasti mau berkencan denganmu, kau harus memperlihatkan pada mantan pacarmu bahwa kau punya yang lebih baik.”

“Itu benar, senior itu sangat tampan dan paling sexy di universitas ini. Lagipula, jika kau sudah dapat pria lain tidak akan sulit mengakhirinya. Senior Sehun hanya untuk teman kencan, setelah itu kau bisa membuangnya.”

    Gadis yang bernama Nayeon itu hanya menganggukkan kepalanya. Sejujurnya, dia sedikit kurang setuju dengan pendapat kedua temannya.

“Tapi kupik—“

“Hey! Apa kalian tidak bisa mencari tempat lain untuk bergosip,”

    Mendengar suara Soojung, ketiga mahasiswi itu terdiam membeku. Mereka menjadi gugup, keringat dingin meluncur dari pelipis ketiganya. Soojung menatap tajam ketiganya, mulut gadis Jung itu mulai menyerang balik dengan mengeluarkan kata-kata kasar yang sangat tidak enak didengar.

    Mora yang berada di sampingnya hanya menghela napas, mencoba menghentikan Soojung. Sejujurnya, ucapan Soojung hanya akan membuat mereka membenci Gadis Jung itu dan meyakinkan mereka bahwa Sehun adalah pria yang tidak baik.

“Sudahlah Soojung, kau tidak perlu menghabiskan tenaga untuk meladeni anak kecil seperti mereka. Itu wajar karena Sehun berperilaku seperti itu, tapi mereka lebih memalukan. Berkata seakan membuang Sehun, faktanya mereka tidak mampu membuat Sehun serius menjalani hubungan dengan mereka. Wah, sungguh memalukan, kalian seperti seorang pengemis.”

    Tiga junior itu tersentak dan Soojung terkejut menatap tak percaya pada Mora, baru kali ini Soojung mendengar teman baiknya itu berkata kasar. Biasanya, semarah apapun gadis itu, Mora akan menahan diri dan sebisa mungkin untuk tetap tenang menjaga sikap.

    Pada akhirnya, Mora dan Soojung membiarkan para junior itu pergi. Dua gadis itu tidak tega melihat wajah juniornya yang sudah pucat pasi karena ketakutan.

“Ini pertama kalinya, aku mendengar kau berkata seperti itu. Kau belajar darimana? Jangan-jangan Baekhyun yang mengajarimu,”

“Oh tentu saja, kau dan Baekhyun adalah contoh yang paling baik.”

    Sehun tetap bergeming melihat kepergian dua gadis itu. Pemuda Oh itu tahu Soojung adalah teman yang baik dan selalu membela siapapun, hanya saja Mora diluar dugaannya. Pikir Sehun, gadis Hwang itu tak perlu repot-repot membelanya.

    Tidak! Mora sedikitpun tidak mempunyai perasaan untuknya, itu terlihat dengan jelas dari perilaku dan tatapan Gadis Hwang itu. Sebagai teman pun, Sehun tidak yakin mereka berteman. Mora hanya membicarakan tentang pelajaran ketika bertemu dengan Sehun, meski gadis itu secara terang-terangan tertarik padanya tapi Mora tidak pernah bertanya tentang privasi Sehun. Gadis itu hanya diam dan mengawasi Sehun dari jauh.

    Jadi, apa sekarang Sehun mulai tertarik pada gadis itu? Jawabannya tentu saja iya tapi tidak lebih dari itu, Sehun tidak pernah memaksa seorang gadis untuk berkencan dengannya. Karena Sehun sendiri tahu, betapa tidak menyenangkannya jika seseorang memaksamu.

×◦◦×

“Uhh, aku benar-benar tidak tahan!”

    Secara refleks, Mora menutup hidungnya. Gadis itu sungguh tidak tahan dengan bau alkohol, begitu masuk ke apartemen Baekhyun dia mendapati bau yang amat tidak disukainya. Mora menatap heran dengan dua pasang sepatu pria dan satu pasang sepatu wanita yang berada di depan pintu, apa Baekhyun habis pergi minum? Lalu punya siapa sepatu wanita ini? Baekhyun tak mencoba selingkuh dari Jieun, bukan?

    Gadis Hwang itu segera membuka pintu balkon dan jendela apartemen, udara harus masuk agar bau alkohol segera hilang. Mora menatap pintu kamar Baekhyun dengan ragu, dia sungguh berharap bukan sepupu tercintanya yang bersama pemilik sepatu high heels itu.

‘Kreet’

    Dengan pelan, Mora membuka pintu kamar dan berjalan masuk. Lagi-lagi, dia mencium bau alkohol.

    Mata Mora membulat besar, begitu mendapati kemeja, celana, pakaian wanita, bahkan ada pakaian dalam tergeletak di lantai kamar. Gadis Hwang itu segera membuka tirai dan jendela kamar.

“Ukh… silau,”

    Suara berat itu masuk ke telinga Mora, gadis itu segera menuju tempat tidur dan menyingkap selimut hingga sampai setengah.

“Ukh, sepertinya aku sudah mengganggu.”

    Mora segera mengalihkan pandangannya ketika melihat Sehun yang bertelanjang dada dan sedang memeluk wanita cantik di sebelahnya, tentu saja! Wanita itu juga tidak memakai apapun.

    Sehun melepaskan wanita itu dan memfokuskan diri menatap Mora.

“Tidak, Tidak juga.”

    Lagi-lagi, suara berat yang di dengarnya tadi kembali terdengar.

“Kuharap, kau tidak merusak sepupuku.”

“Tanyakan saja hal itu pada Baekhyun,”

    Mora menghela napas dan segera membuka lemari pakaian Baekhyun, dia mencari pakaian yang cukup besar untuk Sehun, karena sepupunya itu terlalu pendek dan kecil dibanding Sehun. Ketika baju yang dicari ketemu, Mora melemparkannya pada Sehun.

“Kau dan nona cantik ini segeralah mandi, aku akan mencarikan pakaian untuk wanitamu itu.”

    Setelah menutup pintu kamar, Mora segera beralih ke kamar sebelahnya. Kamar itu adalah kamar tamu, Mora dan adiknya biasa menginap di sini dan memakai kamar tamu.

    Tentu saja! Bau alkohol lagi-lagi menyambutnya, Gadis Hwang itu segera membuka jendela agar udara masuk. Lalu Mora berjalan dan naik ke atas tempat tidur, dia menendang dengan kuat seseorang yang terlelap di balik selimut.

“BYUN BAEK! Beraninya kau membuat apartemen ini menjadi sebuah motel, rasakan ini!”

    Mora kembali menendangi Baekhyun dan pria mungil itu hanya dapat berteriak kesakitan, Gadis Hwang itu tidak habis pikir atas apa yang dilakukan sepupunya. Apa Baekhyun tidak mempunyai otak untuk berpikir? Bagaimana jika tadi Mora datang dengan ibu dan ayahnya? Habis sudah, Baekhyun pasti akan kembali ke rumahnya.

“Sakit! Sakit, kenapa kau menendangku?”

    Gadis Hwang itu mencoba mengatur napas dan menghentikan aksinya, Mora turun dari tempat tidur dan menatap Baekhyun yang sudah terduduk sambil memeriksa tubuhnya yang mulai memerah.

“Kenapa katamu? Kau membiarkan Sehun membawa seorang wanita ke sini dan mereka bercinta di atas tempat tidurmu, perlu kau ingat dan garis bawahi. DI ATAS TEMPAT TIDURMU!”

“APA?”

    Refleks, Mora menutup telinganya ketika Baekhyun berteriak. Pemuda Byun itu segera berdiri dari tempat tidur dan baru saja akan melangkah keluar kamar, tapi Mora dengan sigap menghentikannya.

    Gadis itu memberi tahu bahwa Baekhyun hanya menggunakan boxer, lalu memberi saran agar sepupunya itu mandi dulu.

    Setelah Baekhyun masuk ke kamar mandi, Mora segera mencari pakaian miliknya yang cukup besar. Dia meninggalkan beberapa pakaian di sini, jadi jika Mora ingin menginap dia tidak perlu repot mencari pakaian ganti.

    Mora segera membuat sup setelah memberikan pakaian pada wanita yang bersama Sehun tadi, sepertinya Pemuda Oh itu mandi lebih dulu. Pikir Mora, mereka akan mandi bersama. Hey! Tidak perlu aneh, mereka bahkan sudah tidur bersama.

    Baru saja, gadis itu akan menuangkan teh hangat. Suara pintu kamar terdengar, lalu Sehun keluar dari sana.

    Sehun duduk manis di meja makan dan menikmati teh buatan Mora, tidak satupun dari mereka yang ingin memecah keheningan.

“Oh Sehun! Kau sungguh keterlaluan,”

    Itu suara Baekhyun yang tiba-tiba datang dengan raut wajah tidak senang, Pemuda Byun itu berjalan mendekat dan duduk di meja makan.

“Maaf, aku tidak pernah membawa seorang wanita ke apartemenku. Tadinya, aku ingin pergi ke hotel. Tapi karena sudah terlanjur berada di apartemenmu, jadi aku malas mencari hotel.”

“Kau sudah mengotori apartemen dan kamarku,”

“Aku sungguh minta maaf akan hal itu, tidak akan terulang lagi.”

    Mora mendengus kesal, ketika Baekhyun memohon agar membantu membersihkan kamarnya. Gadis itu menatap tajam pada Sehun, tapi Pemuda Oh itu berlagak seakan tidak melakukan kesalahan apapun.

‘Cklek’

    Atensi mereka tertuju pada pintu kamar Baekhyun, lalu seorang wanita keluar dari sana. Wanita itu berjalan mendekat dan ikut bergabung di meja makan. Mora memberikan teh, lalu Gadis Hwang itu memilih kursi di sampingnya.

“Kau bisa merayu, mencium, atau bahkan bercinta dengannya. Tapi, jangan merusak ByunBaek-ku.”

    Mendengar ucapan dari Mora, wanita itu menoleh dan menatap heran padanya.

“Bukannya, kau tertarik padaku?”

    Kini atensi kedua wanita yang berada di sana bersarang pada Sehun, Pemuda Oh itu tiba-tiba saja menginterupsi konversasi yang baru saja Mora akan mulai.

“Kalau aku tertarik, memangnya kenapa?”

“Seharusnya, kau tidak senang jika aku bersama dengan wanita lain.”

Pria Oh itu sangat menarik, itu bukan berarti Mora menyukainya. Gadis Hwang itu sudah beberapa kali jatuh cinta pada seseorang, meski sama-sama ada rasa ketertarikkan tapi itu berbeda. Perasaan Mora yang menggebu-gebu saat ini, hanyalah bentuk dari rasa penasaran. Itu saja.

“Kau sudah tahu, Sehun. Ketertarikkanku bukanlah hal yang berbau romance,”

    Baekhyun mengangguk setuju, Sehun hanya mengangkat bahu acuh, dan wanita cantik itu menatap heran pada Mora.

“Jadi, kau tertarik pada Sehun. Tapi menyukai pria ini,”

    Wanita itu menunjuk Baekhyun yang berada di depannya, tentu saja Pemuda Byun itu kebingungan dan Mora hanya tertawa geli melihatnya.

“Tidak, Baek adalah sepupuku.”

“Oh, aku tidak tahu. Lagipula, aku tidak tertarik dengan pria sepertinya.”

    Mora mulai menaruh atensi pada wanita itu, kini Gadis Hwang menemukan objek barunya.

“Kenapa? Baek adalah pria yang baik.”

“Aku tahu itu, dia lumayan sering datang ke club hanya sekedar untuk minum dan menolak seluruh wanita yang mendekatinya.”

    Baekhyun tersenyum bangga, kini Mora tidak bisa menuduhnya melakukan hal yang buruk. Itu benar, Pemuda Byun itu hanya pergi minum dan dia tidak berminat dengan wanita manapun kecuali Jieun-nya.

“Lalu kenapa? Bukannya wanita mencari pria yang baik,”

    Gadis Hwang itu kembali bertanya, dia tidak bisa melepaskan jawaban ini.

“Karena aku bukanlah wanita yang baik,”

    Wanita cantik itu tersenyum miris, Sehun menatap heran padanya, dan Mora merasa simpati pada wanita cantik itu. Pikir Mora, Bagaimanapun kita tidak bisa menghakimi seseorang hanya dari luarnya. Yah, tapi tetap saja pekerjaan yang dilakukan wanita itu tidak baik.

“Wanita yang tidak baik, tidak akan mengakui kesalahannya. Jadi, aku pikir noona adalah seseorang yang baik.”

    Mora melihatnya, wanita cantik itu menatap tidak percaya pada Baekhyun. Tapi kali ini, Gadis Hwang itu sependapat dengan sepupunya.

“Oh! Jangan jatuh cinta pada sepupuku, dia sudah ada yang punya. Jadi siapa namamu, eonni?”

“Hee Yeon, Ahn Hee Yeon. Tapi Sehun memanggilku Hani, itu namaku saat di klub malam.”

    Baekhyun dan Mora sepakat untuk memanggil dengan nama Hee Yeon, karena mereka berkenalan bukan di klub malam. Dan Sehun hanya memutar kedua bola matanya bosan, sejak tadi dia hanya diam memperhatikan konversasi yang dilakukan mereka bertiga.

“Hee Yeon eonni, apa aku boleh bertanya?”

    Baekhyun merasakan firasat buruk, apa sepupunya ini akan berulah lagi? Rasa ingin tahunya itu terkadang membawa malapetaka.

“Mora, jangan mulai lagi.”

    Pemuda Byun itu memberi peringatan, tapi Hee Yeon mengangguk tanda bahwa dia memberi izin pada Mora.

“Apa pekerjaan eonni saat siang hari?”

“Menjual bunga, aku punya toko bunga.”

    Mereka bertiga terkejut mendengarnya, bukankah mempunyai toko bunga merupakan pekerjaan yang lumayan. Lalu kenapa Hee Yeon harus bekerja di klub juga? Sayangnya, satupun dari mereka tidak ingin bertanya. Mereka pikir, itu adalah hal yang pribadi.

“Kalau begitu, kamis nanti aku akan mengunjungi toko eonni. Apa eonni akan ikut? Kami berencana untuk pergi menonton film,”

“Tentu saja, jika aku tidak menganggu kalian.”

“Kami akan senang, jika eonni ikut. Benarkan Baek? Sehun?”

    Baekhyun mengangguk setuju, tapi tidak dengan Sehun. Pemuda Oh itu menatap bingung pada Mora, Sehun hanya diam tak mengeluarkan suara.

“Hey! Sehun, kau tak keberatan kan?”

“Aku juga ikut?”

“Tentu saja! Kau itu temanku, akan sangat membosankan jika aku pergi berdua dengan Baekhyun saja.”

    Sehun tersenyum, dia tidak mampu menyembunyikan senyumnya bahkan mata pemuda itu kini membentuk bulan sabit. Sehun tidak tahu bahwa Mora menganggapnya sebagai teman, dia pikir Gadis Hwang itu hanya menganggapnya sebagai objek yang menarik.

“Itu tidak masalah, siapapun boleh ikut.”

    Keributan di pagi hari itu berubah menjadi obrolan hangat di antara mereka berempat.

×◦◦×

    Mora menatap ragu pintu apartemen Sehun yang terbuka, dia menghela napas dan melangkah masuk ke dalam apartemen. Ini semua karena Byun Baekhyun! Sepupunya itu berkata bahwa ia memiliki hal yang harus dikerjakan. Lalu, Mora dan Sehun lah yang harus mengambil barang di pabrik dan kini Gadis Hwang itu terjebak di apartemen Sehun.

    Bukankah Sehun tak pernah mengajak wanita ke apartemennya? Lalu, kenapa Pemuda Oh itu mengajak Mora kemari? Itulah alasan Gadis Hwang itu gelisah, apalagi dia belum memberi tahu Baekhyun tentang keberadaannya.

    Sehun mempersilahkan Mora untuk duduk, tentu saja Gadis Hwang itu hanya menurut. Mereka berdua lalu membongkar barang yang tadi diambil, kemudian memeriksa jika ada kesalahan atau barang yang cacat.

“Kupikir, barang-barangnya tidak ada yang rusak.”

    Mora mengangguk setuju dan memasukkan kembali barang ke dalam plastik masing-masing, setelah itu Sehun berjalan menuju dapur untuk membuatkan Mora minuman. Gadis Hwang itu mengikutinya, karena memang tidak ada yang perlu dikerjakan lagi.

Mora mengeluarkan smartphone dan baru saja akan menghubungi Baekhyun ketika tiba-tiba saja Sehun memecah keheningan.

“Kau mau makan sesuatu? Aku ada cheese cake jika kau mau,”

“Kalau itu tidak merepotkan, boleh saja.”

    Gadis Hwang itu meletakkan smartphone di counter dapur, atensinya kini menatap sekeliling apartemen Sehun yang didominasi dengan warna hitam dan putih.

“Apa orang tuamu di luar negeri? Sama seperti Baekhyun?”

    Sehun menganggukkan kepalanya. Tentu saja, Mora tidak melihat hal itu tapi Gadis Hwang itu tahu bahwa Sehun berkata ‘ya’.

    Pemuda Oh itu memberikan sepotong cheese cake di hadapan Mora, lalu Sehun tersenyum tipis ketika mendapati gadis itu menatap takjub isi apartemennya.

“Sejujurnya, aku tidak begitu akur dengan ayahku.”

    Mora mengernyitkan dahi, lalu atensi gadis itu bersarang pada Sehun. Pemuda Oh itu tidak tahu, kenapa dia tiba-tiba saja menceritakan masalah pribadinya. Tapi Sehun pikir, tidak ada salahnya Mora tahu.

“Ayahku selalu membanggakan kakakku, jadi aku merasa disisihkan.”

    Mata gadis itu menatap Sehun, dia tidak tahu maksud dari pandangan Mora. Ada rasa heran, bingung, bercampur rasa ingin tahu yang tersirat dari matanya. Apa Sehun telah salah memilih topik? Sejujurnya, Pemuda Oh itu sendiri tidak mengerti karena sudah membahas hal pribadinya. Tapi Sehun merasa nyaman membicarakan hal itu pada Mora.

“Aku juga sepertimu. Adikku itu jenius, terkadang aku merasa orang tuaku lebih perhatian dengannya. Tapi adikku sering kali marah tidak jelas padaku, menurutnya aku terlalu di manjakan oleh ayah dan ibu. Bukankah itu lucu? Kami saling iri satu sama lain.”

“Jadi maksudmu, aku hanya salah paham?”

    Mora mengangkat kedua bahunya, bagaimanapun dia tidak tahu apa yang terjadi pada keluarga Sehun. Jadi, dia tidak ingin menjadi orang sok tahu yang seakan sangat memahami perasaan Sehun.

“Aku tidak tahu itu. Hanya saja, kupikir tak seharusnya kau merasa rendah diri. Bukankah semua orang punya kelebihan masing-masing? Apa kau tidak tahu bagaimana tanggapan Baekhyun jika mendengar ini? Dia akan mulai mengomelimu dan mengatakan bahwa tidak bersyukurnya kita.”

    Sehun tertawa geli mendengarnya, bukanlah hal buruk mencoba membuka diri. Ah, kenapa Sehun tidak melakukannya dari dulu?

    Pemuda Oh itu melirik Mora yang juga ikut tertawa bersamanya. Ini aneh? Sungguh sangat aneh, sebelumnya Sehun tidak pernah tahu melihat gadis itu tertawa merupakan pemandangan yang indah. Ah, apa Sehun mulai terjebak pesona gadis itu?

    Kaki pemuda itu berjalan mendekati Mora, tanpa sadar Sehun sudah berada di depan gadis itu dan menatapnya dengan lembut. Mora terdiam membeku, entah mengapa dia tidak suka dengan situasi yang tiba-tiba saja terjadi.

    Satu langkah lagi dan kini Sehun memerangkap Mora, gadis itu tak bisa mundur karena terhalang counter dapur. Sehun meraih pipi gadis itu dengan tangan kirinya.

“Oh Sehun, apa yang sedang kau lakukan?”

    Baru saja, Sehun akan menjawab pertanyaan gadis itu. Tiba-tiba smartphone Mora berdering, mereka sama-sama melirik dan mendapati Baekhyun yang menelpon. Gadis Hwang itu bernapas lega, ketika Mora akan meraih smartphonenya dengan sigap Sehun menghentikan tangan gadis itu.

“Jangan mengangkatnya. Cukup hanya kita berdua, tidak perlu memberi tahu siapapun.”

“Sudah kubilang, aku tidak berminat menjalin hubungan romantis denganmu.”

“Lalu, apa yang kau khawatirkan?”

    Mora menghela napas ketika mendengar dering ponselnya sudah berhenti, gadis itu memutar otak untuk keluar dari situasi ini. Sungguh! Situasi seperti ini sangat dibencinya.

“Jangan samakan aku dengan wanita yang sudah kau tiduri!”

“Tidak! Tentu saja tidak, aku tidak memintamu untuk berkencan denganku. Kali ini, aku serius!”

In Sehun’s Eyes . . .

Aku tak melakukan apapun, mereka sendiri yang datang padaku. Sejak awal, kau tahu segalanya tentangku. Jadi sekarang, jangan menyalahkanku atas semua yang telah terjadi.

Aku jauh dari hal-hal buruk yang kau bayangkan. Kebaikkan yang kuperbuat itu murni, tidak ada tujuan ataupun maksud tertentu yang ingin kuraih. Karena itu, jangan lari ataupun mencoba untuk meninggalkanku.

Mora terkejut ketika kusentakkan tanganku untuk menariknya lebih mendekat, dapat kurasakan hembusan napas darinya. Perlahan, kuraih kedua pipi gadis itu untuk lebih mendekat padaku. Mata Mora membulat besar, tubuhnya terasa kaku.

Saat permukaan bibirku mulai menyentuh bibirnya, kuhentikan aksiku dan beralih pada dahi gadis itu. Setelah mengecup dahi Mora beberapa saat, aku memeluknya lalu tertawa geli.

“Apa kau terkejut?”

“Hm, sedikit.”

    Aku kembali tertawa mendengar jawaban dari Mora, kenapa responnya begitu lucu.

    Kulepaskan Mora dan menatap matanya yang begitu jernih.

“Mora,”

“Hm?”

    Mata gadis itu kembali membulat besar ketika aku mencium pipinya. Kenapa dia begitu manis? Melihat reaksi Mora sungguh menyenangkan.

Aku sudah memutuskan saat aku memanggilmu dan memberikan sebuah ciuman, kau tidak bisa berhenti dalam permainan ini. Aku tidak tahu, apakah itu keberuntungan atau kemalangan untukmu? Karena sudah bertemu dengan seorang pria sepertiku.

“Apa kau mau mencobanya?”

“Perasaanku padamu bukanlah hal yang berbau romantis, Sehun-a.”

“Karena itu, ayo kita coba dulu! Kupikir kau adalah orang tepat untukku,”

In Mora’s Eyes . . .

    Tatapannya serius, tapi karena itu aku tidak bisa. Kenapa Oh Sehun mencoba untuk menjalin hubungan dengan seseorang? Aku sungguh penasaran. Uhh, rasanya aku ingin membenturkan kepalaku. Apa aku perlu melakukan hal sejauh ini? Hanya karena rasa ingin tahuku?

“Baiklah, tapi aku punya syarat.”

    Sehun menatapku dengan wajah tanya, apa dia akan setuju?

“Ada tiga hal yang membuat hubungan kita berakhir,”

“Apa itu?”

“Pertama, jika kau sudah bosan denganku. Kedua, jika aku tidak tertarik lagi padamu. Dan yang terakhir, jika salah satu dari kita mulai mengusik privasi masing-masing.”

“Baiklah, aku setuju.”

“Jika kau atau aku yang melanggar salah satu dari itu, permainan berakhir.”

Kuakui, saat ini aku melakukan hal yang gila. Apa yang sudah kuperbuat? Hah, entahlah. Pada akhirnya, semua ini akan berakhir. Sebuah kebodohan, jika aku melanjutkan hubungan ini hingga akhir. Lagipula, tidak mungkin aku akan menikahinya, bukan?

×◦◦×

In Author’s Eyes . . .

“Apa kau sungguhan berpacaran dengan Sehun?”

    Mora mendelik tajam saat tiba-tiba saja Soojung datang dengan volume suara yang cukup tinggi, apa gadis Jung itu tidak melihat? Mereka sedang berada di perpustakaan.

“Soojung, ini perpustakaan. Kenapa kau selalu menanyakan hal yang sama? Ini sudah tiga bulan hubunganku dengan Sehun berjalan,”

“Apa kau tidak tahu? Kemarin malam, Sehun baru saja menghabiskan malam bersama wanita lain.”

    Lalu kenapa? Mora tidak peduli itu, selama dia tidak melihat dengan matanya sendiri. Lagipula, tidak mungkin tiba-tiba saja Sehun berubah hanya karena Pemuda Oh itu menjalin hubungan dengan gadis lain.

“Tolong, kecilkan volume suaramu. Ini perpustakaan dan Sehun juga berada di sini, nanti dia bisa mendengarmu. Lagipula, jika Sehun serius denganku tanpa perlu kupaksa dia akan berhenti sendiri.”

    Sayangnya, dua wanita itu tidak tahu jika Sehun sudah mendengarnya. Pemuda Oh itu berdiri di balik rak buku, tidak jauh dari mereka berada. Tadinya, Sehun berniat menghampiri kedua gadis itu. Tapi, begitu mendengar namanya disebut, pria itu membatalkan niatnya,

“Kau tidak peduli agar kau bisa memutuskan Sehun kapan saja, bukan?”

    Mora menggelengkan kepalanya, tentu saja! Dia tidak setuju. Itu sama saja, Soojung memandang Mora sama dengan wanita yang sudah Sehun ajak tidur. Lagipula, Sehun memperlakukannya dengan cukup baik. Pemuda Oh itu tidak pernah menyentuhnya, Oh! Bahkan Mora ingat ketika Sehun meminta izin untuk mengenggam tangannya. Bukankah itu lucu? Seorang Oh Sehun meminta izin untuk menyentuhnya.

“Meski aku tidak punya perasaan romantis untuknya, bukan berarti aku tidak menganggap serius hubungan kami. Aku tidak peduli, bagaimana Sehun memandang hubungan ini. Tapi karena kami sudah berpacaran dan itu adalah komitmen untukku, jadi suka-tidak-suka aku harus menjaga diri dan tidak memandang pria lain.”

“Oh ya ampun, dear! Kau sungguh mengagumkan.”

    Mora tersenyum bangga, tidak! Sejujurnya, dia sama sekali tidak mengagumkan. Mora mempelajari hal itu dari Baekhyun dan Soojung sendiri, bagaimana Baekhyun yang mencoba menjaga diri untuk tidak menyakiti hati Jieun. Lalu, Soojung yang mencoba untuk bertahan di sisi Jongin, jadi Mora ingin mencobanya.

    Sehun diam memperhatikan dua wanita itu. Entah kenapa, rasa bersalah mulai menggerogotinya. Dia yang memaksa Mora untuk menerimanya, tapi Sehun tak pernah mencoba untuk berubah. Memang sih, dia sekarang tidak terlalu sering lagi pergi ke klub malam. Tapi yah, Sehun belum sepenuhnya berhenti ‘bermain’ dengan wanita lain.

    Apa sekarang Sehun sepenuhnya harus berhenti?

—×◦ to be continued ◦×—

◦ ◘ ♯ ♯ ♯ ◘ ◦

JHIRU’s Note :

Apakah ini terlalu panjang? Jebol 5000 word ane ngetik, makanya jangan pelit-pelit ninggalin jejak. Ane gak minta album EXO atau tiket konsernya, ninggalin sesuatu di kolom comment itu gak sulit.

Karena ini twoshot, chapter berikutnya itu ending dan kemungkinan ane juga bikin epilog. Tolong, jangan malu-malu tapi mau ya nulis comment. Ntar ane password tuh, dua chapter sisanya klw kalian masih malu-malu. Biar diriku tahu, siapa yg hobi baca tp gak ninggalin jejak.

Ya udah deng, ane gak mau bnyak cuap ntar gak sengaja spoiler. Bye-bye ^^

34 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Play(Boy) (Chapter 1)”

  1. Aku suka sosok Mora, dia keren banget. omongannya keren 😀
    Ceritanya seru, karena 5000 word. bukannya bosen justru feelnya lebih dapet. keren keren kereen tapi sayangnya bukan Chaptered tapi Twshoot. gak papalah, bakal saya tungguing Chapter selanjutnya 🙂 Semangat Author-nim 🙂

  2. Aahh seruuu bangeeet 🙂 salut sama mora deh bisa ya dia punya perasaan se tenang itu 🙂
    Apa nanti mora bakal jatuh cinta beneran sama sehun kah??? Next ya thor 🙂

  3. mora sungguh mempunyai banyak kejutan yaa, q rasa sehun pasti bakal berubah dengan sendirinya dehc abis denger percakapan mora ama soojung,,q suka bgt ama sifata mora disini keren bgt,,,

  4. Wkwkwk,,kox aq sma mora satu pemikiran y,,”jika sehun serius tak perlu ku paksa pun dia akan berhenti sendiri”,,i2 kta” yg sngat bjax mora..

  5. Karakter mora keren kak….. penasaran apa sih yg ada di otak mora… pemikirannya luar biasa…. wkwkwkkwk…. semangat kak ditunggu kelanjutannya.

  6. Sjka bangettt sama karakternya Mora… ngegemesin pas banget sama karakternya sehun…
    Ugh…. aku sempat baca teasernya tp bmm semlat baca prolognya karna HP aku kemaren2 rusak… dan alhamdulillah hari ini udah baik lagi…ugh… kok jadi curhat yaaaa… 😂…pokoknya d tunggu chapter selanjutnya thor..

  7. “Baju-baju Byun Baek terlalu pendek dan kecil dibanding Sehun”. keke.. aku bener-bener geli baca part ini…
    Jhiru-nim, kenapa ga dibikin chapter aja? FF nya nge-feel banget kok..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s