[6] Full Stop| truwita

req.fullstop

Full Stop by truwita

[EXO] Park Chanyeol, Oh Sehun, and [OC] Kim Jira
Genres Romance, Drama, Family, Hurt/Comfort
Length Chapter | Rating PG-15
Preview[0][1][2][3][4][5]

Bagaimana bisa ia mewujudkan imipian jika alasannya bermimpi sudah tak lagi ada?

Jira menyandarkan kepalanya ke dinding. Titik-titik keringat semakin terlihat, bercucuran dari dahi dan pelipisnya. Bibirnya agak membiru senada dengan wajahnya yang memucat. “Jira, kau baik-baik saja? Kau juga seorang pasien!” Chanyeol menyentuh kedua tangan si gadis yang terkulai lemah.

“Aku baik-baik saja. Hanya sedikit tak nyaman dengan aroma rumah sakit.”

Chanyeol menggeleng, “kau perlu penanganan juga.” ia berdiri dan bersiap memanggil suster untuk menyeret kekasihnya ke tempat pemeriksaan.

“Chanyeol!” bentak Jira dengan sisa energi yang dia punya. Chanyeol menolak goyah, rahangnya mengeras, memerlihatkan betapa peduli dirinya terhadap gadis bodoh yang mengaku baik-baik saja. Padahal semua jelas terlihat kalau Jira bisa mati sekarang juga. Mereka bertatapan selama beberapa saat. Jira memutus kontak, lalu berdalih menolak bantahan apapun lagi setelahnya, “aku akan pergi sendiri setelah memastikan Jina baik-baik saja, Oke?”

“Ibuku sedang tugas di luar kota dan kemungkinan tiba dini hari nanti, dan tante Heera sedang melakukan meeting penting yang mungkin selesai satu sampai dua jam lagi. Aku tak bisa membiarkan adikku sendirian. Setidaknya, sampai dia melewati masa kritis dan dipindahkan ke ruang inap, aku akan tetap di sini, tidak kemanapun.” dengan wajah kuyu dan napas terengah Jira berkata cepat sebelum Chanyeol mampu merangkai kata sebagai penolakan.

Chanyeol memutuskan untuk mengalah. Tak ada gunanya berdebat dengan kepala batu. Apapun yang dia katakan, gadis itu mampu mematahkannya untuk membenarkan apa yang dia lakukan. Chanyeol bangkit dan melepaskan jaketnya. Menyelimuti kaki Jira yang hanya mengenakan celana selutut. “Bukannya aku tidak mengerti posisimu sebagai satu-satunya wali, aku hanya khawatir melihat wajahmu yang berkeringat dan pucat.”

Jira kehilangan kata-katanya. Sulit sekali mengatur emosi akhir-akhir ini. Ia tidak tahu harus berbuat apa selain menatap Chanyeol dengan perasaan bersalah.

“Ya Tuhan, Jira!” Suara tante Heera bergema di lorong rumah sakit. Wanita itu berlari tergopoh-gopoh dengan heels setinggi 19cm membalut kakinya. “Apa yang terjadi?”

***

Jina siuman ketika jarum jam menujukkan pukul 1:39 dini hari. Jira tertidur di shofa dengan selimut menutupi tubuhnya, sedangkan tante Heera tidur dengan posisi duduk dan tangan terlipat di depan dada. Selama beberapa menit, Jina hanya terdiam menatap plafon kamar inapnya. Sunyi, yang terdengar hanya suara helaan napas dan bunyi beep dari monitor yang memantau detak jantungnya.

Detak jantungnya. Jina menyentuh dada bagian kiri, ia ingat sekarang, alasan kenapa ia harus terbaring dengan lemah di sini. Suara Chanyeol yang riang kembali bergema di telinganya. Membuat rasa sakit itu kembali terasa di dadanya. Jina mengusap bagian sakit di dada, berusaha menenangkan diri atau akan berakibat fatal.

Jina mendengus. Selalu begitu tentang hidupnya. Oh tidak, apakah itu pantas disebut hidup? Jina meragukannya. “Kenapa harus aku yang terlahir seperti ini?” bisiknya pelan diiringi air mata yang luruh tanpa disadari.

Suara kenop pintu diputar tertangkap telinga, cepat-cepat ia menghapus jejak air mata dan memejamkan matanya pura-pura tertidur. Itu adalah Jin Sang Mi, ibunya yang baru kembali setelah buru-buru menyelesaikan urusan kantornya.

Sang Mi meletakan koper dan tas jinjingnya di lantai. Hati-hati melangkah agar tidak membangunkan siapapun. Ia menatap wajah Jina yang terpejam, cukup lama sebelum akhirnya mendesah. Sebagai seorang ibu yang mendampingi putri pemilik riwayat gagal jantung bukanlah hal mudah. Ia seperti menggenggam bom waktu yang bisa kapan saja meledak. Sang Mi tak bisa menyembunyikan kesedihannya, ia menangis dalam diam sambil mengusap tangan Jina yang terkulai di samping tubuhnya.

“Terimakasih Tuhan, terimakasih Jina-ya kau sudah berjuang dengan baik hari ini dan kembali pada ibu.” bisiknya di tengah isakan.

Tanpa ada yang tahu, baik Jina ataupun ibu, sebenarnya Jira tidak sedang tertidur. Ia mendengar keluhan Jina yang terlahir dengan organ cacat, serta kesedihan yang tak terkatakan dari mulut ibunya. Malam itu, ketiganya menangis diam-diam.

***

Pagi-pagi sekali Jira memutuskan bergegas pulang. Dia harus pergi ke sekolah dan menyelesaikan beberapa urusan. Akan tetapi rasa sakit di kepalanya kembali disertai rasa mual. Cepat-cepat Jira berlari ke luar ruangan, mencari toilet terdekat. Ia tak mau memicu keributan di toilet kamar inap Jina dan membangunkan semua orang.

Jira mengeluarkan semua isi perutnya yang tak seberapa. Tak hanya itu, ia harus menahan rasa sakit di kepala dan bobot tubuhnya dengan mencengkram pinggiran wastafel. Setiap kali rasa sakit itu kembali, Jira merasa tersiksa berlipat ganda dari rasa sakit sebelumnya. Keringat sebesar biji jangung muncul di sekitar dahi dan pelipis. Serangan dari rasa sakit itu tak bertahan lama, hanya beberapa menit tapi menguras seluruh energinya.

Jira terduduk lemas di lantai kamar mandi wanita. Tubuhnya ia sandarkan ke dinding. Pandangannya berkunang-kunang, lambat laun ia mencoba mengatur penapasan sambil menepuk-nepuk ringan dadanya.

“Kau baik-baik saja?” Seorang petugas kebersihan wanita baru saja keluar dari salah satu bilik toilet. “Kau berkeringat dan sangat pucat.”

Jira memaksakan diri untuk tersenyum. “Aku baik-baik saja.”

“Aku tidak yakin begitu,” wanita itu meletakan alat kebersihannya, melepaskan sarung tangan dan memeriksa suhu tubuh Jira. “Ya Tuhan, kenapa tubuhmu dingin sekali?!”

Samar-samar Jira mendengar wanita itu memekik sambil mengguncang tubuhnya yang terasa lebih ringan sebelum pandangannya menjadi gelap dan ia tak lagi bisa merasakan apapun.

***

Ketika sadar dan membuka matanya, Jira sudah berada di ruangan serba putih dengan ranjang pesakitan yang berbaris berdampingan. Beberapa diantaranya terisi oleh pasien yang sibuk menolak makan siang dan beberapa lagi kosong.

“Kau sudah sadar?” Seorang dokter tiba-tiba menghampirinya. Memeriksa nadi dan kedua bola matanya bergantian.

“Siapa namanu?” dokter itu bertanya setelah pemeriksaan standar yang dilakukannya, “kau tak membawa kartu identitas, atau ponsel.”

“Kim Jira,” gadis itu menjawab cepat, menyibak selimut dan bangkit dari posisinya. “Jam berapa sekarang?”

“Pukul 2 lewat 13 menit.” jawab dokter setelah mengeceknya lewat ponsel.

“Apa?!”

“Aku perlu melakukan beberapa pemeriksaan lebih lanjut sebelum memberikan diagnosis dengan apa yang terjadi pada tubuhmu. Apa kau sering kali merasa sakit kepala dan muntah-muntah atau ini memang kali pertama?”

“Ya, kupikir akhir-akhir ini sering terjadi, terutama di pagi hari.”

“Aku butuh persetujuan wali.” dokter itu mencatat sesuatu sebelum kembali menatap Jira, “sementara aku akan meresepkan obat penahan sakit, kau bisa meminta bantuan suster untuk menghubungi orangtuamu.” Tutup dokter lalu melenggang pergi.

“Kau bisa ikut denganku.” suster yang sejak tadi berdiri tak jauh di dekat ranjangnya membantu Jira bangun dan memberikan ponselnya. “Sekarang, hubungi orangtuamu dulu, mereka pasti khawatir.”

“Suster, sebenarnya saudaraku sedang di rawat di ruang ICU departemen bedah torak, ibuku berada di sana untuk mengurusnya, dan aku tidak punya ayah.” Jira meletakan ponsel di tangan suster lalu bangkit dari posisinya, “aku tak mau menambah kekhawatiran ibuku, semalam dia baru saja tiba dari perjalanan bisnis dan langsung menuju kemari, jadi aku akan mengurus urusanku sendiri.”

“Bisakah kau percaya padaku? Aku akan kembali setelah mendapatkan ponsel dan dompetku.” Jira menatap penuh pengharapan, “Ah ya,” dia mengambil ponsel perawat itu dan menuliskan nomornya di sana. “Kau bisa menghubungiku jika aku sedikit terlambat. Ada beberapa hal lain yang harus kukerjakan di sekolah.”

***

Chanyeol terkejut ketika Jira menghubunginya dan memberitahu bahwa dia berada di dekat tembok pembatas sekolah.

“Apa yang kaulakukan di sini?” Chanyeol bertanya setelah berhasil memanjat melewati tembok dan keluar dari area sekolah. “Kupikir kau berada di rumah sakit, bukankah kau juga butuh dirawat?” lelaki itu menyentuh dahi, pipi dan kedua tangan Jira, “kau pucat!”

“Aku baik-baik saja,” Jira melepaskan genggaman tangan Chanyeol. “Bisakah kau membantuku masuk? Aku tahu kau ahli dalam bidang ini.”

Chanyeol mendelik, tapi tak ada yang salah dengan perkataan Jira. Dia memang ahli memanjat tembok sekolah, mengingat intensitas terlambat lebih sering terjadi dalam hidupnya. Jika memanjat tembok memiliki gelar atau kategori, Chanyeol pasti sudah menjadi masternya.

Setelah menjelaskan teknik-teknik dasar memanjat dan melakukan beberapa kali percobaan yang gagal, akhirnya Chanyeol berhasil membantu si pemula melewati tembok dengan mengorbankan pundaknya diinjak.

“Kau seharusnya beristirahat sampai benar-benar sembuh, kenapa harus memaksakan diri?” Chanyeol tak bisa menahan mulutnya untuk berhenti mengomel, sekarang dia tak ubahnya seperti ibu-ibu paruh baya yang gagal menawar belanjaan di pasar namun dibeli juga pada akhirnya.

Jira terkekeh, dia punya firasat buruk sebenarnya, tapi setelah melihat dan berbicara kembali dengan Chanyeol semua tersamarkan. Chanyeol memang mempunyai bakat alami untuk menenangkan yang seringkali Jira butuhkan. Mungkin itulah salah satu sebab Jira membiarkan lelaki itu tinggal meski perasaannya belum kembali utuh.

Jira tahu, dia egois. dia lebih mementingkan perasaannya jauh di atas perasaan Chanyeol, itulah sebabnya ia mendorong Chanyeol pergi tempo hari. Lagi-lagi untuk dirinya sendiri. Karena ia meragukan perasaannya untuk Chanyeol. Setidaknya, jika Chanyeol pergi waktu itu, dia tidak perlu merasa bersalah setiap kali rasa rindu pada Sehun hadir tanpa diduga. Namun, siapa yang tahu bahwa Chanyeol itu kepala batu. Lelaki itu tak lebih egois dari Jira. Selama perasaannya tersampai dan terpuaskan, Chanyeol tak peduli pada siapa hati Jira berlabuh.

“Terimakasih, Chanyeol.” Tiba-tiba Jira menghentikan langkahnya dan bicara menyela omelan Chanyeol.

“Apa?!” Chanyeol ikut berhenti, tak yakin dengan apa yang didengar telinganya, “apa kau baru saja bicara? Apa yang kau katakan?”

Jira tersenyum kecil, kembali berjalan mendahului Chanyeol. “Bukan apa-apa.”

***

Jina memutuskan untuk berkeliling menyapa para suster, dokter maupun staff rumah sakit yang sudah seperti keluarga kedua baginya. Sebagian banyak waktu dari hidupnya memang ia habiskan di rumah sakit. Jadi, bukan hal menakjubkan jika semua orang yang bekerja di departemen bedah torak mengenalnya cukup baik. Rumah sakit ini seperti taman bermain untuknya.

“Kenapa ibu lama sekali?”

Jina bergegas menyusul ibu yang sebelumnya pamit pergi ke ruang dokter Oh untuk mengambil resep dan mungkin sedikit berbincang tentang kondisi Jina atau berdiskusi tentang masalah pribadi mereka. Ya, Jina mengakui bahwa masalah keluarga mereka cukup rumit. Bagaimana bisa Jira menutup mulutnya rapat-rapat perihal hubungannya dengan Sehun di masa lalu? Padahal Jina pikir mereka selalu berbagi banyak hal bersama sejak masih dalam kandungan. Tapi nyatanya, itu hanya pikiran naif Jina saja. Jira punya segudang rahasia.

Kemudian Jina teringat percakapan Jira dan Chanyeol tempo hari. Kenapa Jira tak pernah mengatakan padanya bahwa ia memiliki hubungan romantis dengan Chanyeol selama ini?

Oh, tidak!

Tiba-tiba ingatan tentang bagaimana pertama kali ia bertemu dengan Chanyeol di lapangan basket sore itu melintas di benak. Wajah Jina memerah karenanya. Sambil mengibas-ngibaskan telapak tangan, Jina meruntuk dalam hati. Bagaimana bisa dia begitu bodoh hingga akhirnya jatuh hati seorang diri? Jelas-jelas saat itu Chanyeol mengira dirinya adalah Jira yang notabene kekasihnya.

“Apa maksudmu kita tidak punya banyak waktu lagi?!” suara gebrakan meja dan pekikan ibunya terdengar, memecah pikiran Jina yang kebetulan saat itu berdiri tak jauh dari pintu ruang kerja dokter Oh.

Apa yang terjadi?

Jina mendekatkan telinga pada celah pintu, berusaha mencuri dengar percakapan.

“Apa kau baru saja memintaku menyerah dengan hidup anakku?!”

“Bukan begitu, Sang Mi—”

“Kalau begitu lakukan apapun yang terbaik untuknya! Aku tidak peduli bagaimana caranya! Kau sudah berjanji akan menyelamatkan hidupnya, dokter!”

Jina menjauhkan telinga dari celah pintu sambil menyentuh dadanya—terkejut dengan suara bentakan.

“Tentu saja aku sudah melakukan semua yang terbaik yang aku bisa!” suara dokter Oh terdengar sangat frustasi, “aku sudah menghubungi semua kenalanku, mereka juga sedang berusaha membantu, kita semua sudah dan sedang berusaha!”

“Aku hanya memintamu bersiap untuk kemungkinan terburuk, Sang Mi-ya. Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi kondisinya memburuk akhir-akhir ini. Entah apa yang membuatnya tertekan sehingga memengaruhi kestabilan kondisi jantungnya yang memang sejak awal sudah cukup sulit distabilkan.”

“Kau tahu lebih dari siapapun, kita sudah berusaha, tak banyak yang bisa kita lakukan selain menunggu dan berdoa,” suara dokter Oh mulai kembali rendah dan tenang seperti bawaan biasanya, “Berdoa saja semoga kita mendapatkan dorornya segera.”

***

“Kau datang.”

Cukup lama bagi Sehun meyakinkan diri bahwa seseorang yang baru saja masuk ke ruang OSIS adalah gadis yang sangat ingin ia temui. Setelah pembicaraan mereka lebih dari seminggu lalu, Sehun tak lagi melihat sosoknya.

“Kudengar kau sakit, Jira?” Eunjung bertanya setelah Jira menghampiri dan memeluknya sebagai pengganti ucapan salam.

“Ya, bukan sesuatu yang parah, hanya demam.”

“Tapi kau masih terlihat pucat dan tanganmu dingin!”

Jira mengibaskan tangan lalu duduk bergabung dengan anggota lain yang mengelilingi meja berbentuk oval. Dia mengeluarkan setumpuk kertas yang dijepit oleh beberapa paper clip, “Aku mengerjakan sebagian laporanku di rumah, jadi kalian tidak perlu khawatir dengan tenggat yang kita miliki sebelum pergantian pengurus.” Jira tersenyum puas.

“Kau sudah menyelesaikannya? Mengerjakan laporan sebanyak itu dengan kondisi demam? Waaah!” Henry berdecak kagum dengan kemampuan dan tanggung jawab Jira, “Aku yang sehat saja baru menyelesaikan seperempat bagianku! Aaarrght!”

“Jangan khawatir, aku akan membantu. Tenang saja!” pernyataan Jira disambut oleh sorak-sorai semua orang di ruangan itu kecuali Sehun tentu saja.

Di mejanya, di balik layar komputer, Sehun masih mengawasi seluruh pergerakan Jira. Memang benar gadis itu masih terlihat pucat dan kurang sehat. Terakhir kali mereka bertemu, Sehun sudah menduga kondisi gadis itu memang kurang baik. Pipinya juga terlihat lebih tirus. Berapa banyak Jira kehilangan berat badannya?

Tiba-tiba Sehun bangkit dari tempatnya, disertai gebrakan tangan di atas meja dan decitan kaki kursi dengan lantai. Dalam sekejap suasana yang sebelumnya riuh kembali hening, mereka saling melirik dan menggigit bibir bawah karena baru saja membangunkan si raja hutan rimba, “kerjakan tugas kalian masing-masing!”

Tanpa aba-aba, setiap orang mendesah serentak, tapi tak ada yang berani membantah.

“Aku akan tetap membantu, tenang saja.” Jira berbisik sambil mengerling nakal pada teman-temannya.

***

“Kau yakin tak ingin kuantar?” Chanyeol bertanya untuk kesekian kalinya. Berharap Jira akan mengatakan hal yang berlawanan dari jawaban sebelumnya.

“Sangat yakin, dan berhenti bertanya hal yang sama!” Jira sudah selesai mengikat rambutnya, bersiap untuk kembali melompati dinding. Karena ia datang dengan cara ilegal, dia juga harus  pergi secara ilegal. Bukan hal wajib sih, Jira bisa saja meninggalkan sekolah dengan tenang, aman dan nyaman lewat gerbang utama, hanya saja melompati dinding adalah hal baru yang cukup menyenangkan. Sekarang Jira sedikit mengerti kenapa Chanyeol gemar sekali terlambat datang ke sekolah.

Chanyeol terlihat berpikir sangat keras. “Tidak!” ia benar-benar tak bisa menerima keputusan Jira untuk kembali seorang diri. “Di luar sana banyak sekali orang jahat yang tidak bertanggung jawab!” dia berdalih, “jadi untuk kelangsungan umur panjangku dan keselamatanmu yang jauh diatas semuanya aku—”

“Tidak perlu mengantarku apa lagi harus membolos kelas malam!” Jira memotong ucapan Chanyeol, “Jangan beralasan macam-macam, Yeol. Aku akan memesan taksi dan kembali ke rumah sakit. Aku akan baik-baik saja, oke? Lagi pula aku bukan bocah.”

Chanyeol merenggut.

“Demi Tuhan, kau harus mulai belajar. Ujian akan segera tiba! Kau harus memikirkannya lebih dari apapun, demi masa depanmu, oke? Aku pergi. Terimakasih sudah membantuku.”

***

Sehun mengumpat saat tidak menemukan Jira di manapun. Dia sudah mencari ke setiap sudut sekolah, tapi tak ada hasil. Semua karena ia harus terjebak di kantor guru sepanjang sore untuk membantu menyusun data siswa tahun akhir sesuai nomor peserta ujian nasional. Sehun tak tahu jika itu memakan waktu lebih banyak dari perkiraannya, sampai-sampai ia menghilangkan kesempatan untuk bicara dengan Jira.

Banyak hal yang harus ia sampaikan pada gadis itu, termasuk rencananya untuk pergi belajar ke luar negeri. Tidak, sebenarnya bukan hanya rencananya saja, dulu sebelum semua kekacauan terjadi dan mereka masih bersama sebagai sepasang kekasih, ia dan Jira pernah membuat mimpi bersama untuk pergi belajar ke luar negeri. Mereka akan belajar di universitas seni untuk mengejar impian masing-masing. Jira dengan impiannya sebagai animator, sedangkan Sehun dengan impiannya sebagai seorang produser film.

Di masa lalu, ketika memiliki waktu berdua, mereka pasti betah berlama-lama duduk di depan video player, beragumen sejenak untuk menentukan apa yang seharusnya mereka saksikan bersama sebelum akhirnya membahas ini-itu dan mengkritik itu-ini yang mereka pikir menganggu dan kurang pas dari film yang mereka saksikan, menimbulkan nilai minus dan tak jarang mereka melupakan alur kisahnya karena terfokus membahas hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Ah, mengingat kenangan itu selalu membuat hati Sehun hangat.

“Shin Eunjung!” Sehun memutuskan mencegatnya sebelum gadis itu berhasil melangkahkan kaki ke dalam kelas, “kau lihat Kim Jira?”

Eunjung sedikit berpikir sebelum menjawab acuh tak acuh, “mungkin sudah kembali ke rumah sakit.”

“Rumah sakit? Jira dirawat?”

“Tidak, dia bilang saudaranya masuk ICU kemarin, dan ibunya membutuhkan bantuan di sana. Jadi dia bergegas kembali tak lama setelah kita berbicang sebentar di ruang OSIS tadi. Bukannya kau juga—ah ya! Kau kan pergi ke kantor setelah menggebrak meja dan mengatakan bahwa kita harus menyelesaikan tugas sendiri-sendiri padahal Jira…” buru-buru Eunjung menutup mulut, merasa sudah bicara terlalu banyak bahkan saking banyaknya, ia sampai membicarakan hal yang tak perlu.

“Oh! kau tak segera pergi ke kelasmu, Sehun? Sebentar lagi kelas malam akan di mulai. Fighting!” tanpa memberi kesempatan sedetikpun untuk Sehun bereaksi, Eunjung bergegas masuk kelas dan menutup pintu. Meninggalkan Sehun yang sebenarnya tidak begitu peduli dengan apa yang baru saja dikatakannya.

Sehun terlalu sibuk berpikir untuk menemui Jira di rumah sakit atau tidak. Tanpa ada yang memberitahu rinciannya, Sehun yakin saudara yang dimaksud Eunjung adalah Kim Jina, sedangkan rumah sakit yang dituju adalah tempat terakhir yang ingin ia kunjungi di dunia ini. Ia khawatir akan bertemu ayahnya sebelum berhasil menemukan Jira di sana. Terakhir kali bertemu, semuanya tidak berjalan dengan baik diantara mereka. Hubungan keduanya semakin memburuk setiap kali bertatap muka. Oleh karena itu Sehun enggan untuk pergi. Mengantisipasi kemungkinan bertemu dengan sang ayah di lorong rumah sakit.

Akan tetapi, jika ia tidak pergi, Sehun tak tahu apa dia masih punya kesempatan untuk membicarakan rencananya? Tidak, tidak. Bukan seperti itu sebenarnya. Sehun hanya tak yakin punya cukup banyak rasa percaya diri jika ia menunggu sedikit lebih lama lagi. Sehun benci ditolak, ia muak dengan penolakan orang lain atas eksistensinya. Dia tidak bisa mentolerir akibatnya jika harus menerima penolakan Jira untuk kesekian.

Sebelumnya Sehun sangat yakin, Jira masih memiliki banyak perasaan untuknya yang berusaha gadis itu singkirkan. Sehun takut jika ia tidak bertindak cepat, maka perasaan gadis itu akan lenyap secepat ia mengedipkan mata.

Sehun bertekad, jika tidak bisa menemui Jira hari ini, maka ia akan mengubur mimpinya dalam-dalam. Karena ia tak punya alasan lagi untuk tetap berjuang. Dulu, Sehun berani bermimpi karena percaya, bahwa Jira akan ada disampingnya, mendukungnya, menghapus kesedihannya setiap saat, kapanpun ia membutuhkannya.

Setelah kehilangan sosok ibu di usia yang masih belia, Sehun tak lagi peduli bagaimana hidupnya akan berlangsung esok hari. Dia hanya melakukan hal-hal semaunya tanpa alasan dan tujuan yang jelas. Yang ada di kepalanya hanya bagaimana sebisa mungkin dia melepaskan atau sedikitnya meringankan semua rasa sakit dan luka di dalam hati yang tak bisa ia katakan pada siapapun atas perceraian kedua orang tuanya.

Saat SMP, Sehun terkenal sebagai anak bengal dan gemar membuat masalah. Nyaris setiap hari ayahnya harus meminta seseorang datang ke kantor polisi untuk menjemputnya. Tapi lihat bagaimana dia sekarang? Hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat.

Bertemu Kim Jira membuat Sehun memiliki sebuah motivasi untuk hidup lebih baik dari sebelumnya. Siapa sangka si biang kerok Sehun akan menjadi presiden siswa? Keajaiban itu sungguh datang dalam hidup seorang Oh Sehun. Dan keajaiban itu bernama Kim Jira.

Jadi, bagaimana bisa Sehun mewujudkan imipian jika alasannya bermimpi sudah tak lagi ada?

***

“Kau datang terlambat!” Jina membentuk tanda X dengan kedua tangannya ketika Jira memasuki ruangan. “Kemana saja—” Jina menggeleng, melihat Jira mengenakan seragam “kau pergi sekolah?”

“Ya, kau tahu ini tahun terakhirku di SMA. Banyak hal yang harus kulakukan. Tidak bisa terus-terusan absen.”

Jina ber-oh-ria sambil memainkan jari kukunya yang tak seberapa panjang. “Apa Chanyeol ada?” ragu-ragu ia bertanya.

Jira sedikit terkejut namun tak begitu nampak. “Tentu,” jawabnya tanpa menatap wajah Jina. Kini mereka saling menghindari kontak mata. Entah kenapa suasana di ruangan itu berubah tak nyaman.

“Siang tadi, aku tak sengaja mendengar percakapan ibu dan dokter Oh,” Jina memulai permbicaraan dengan suara pelan, masih enggan menatap wajah lawan bicaranya, “dokter bilang kita harus bersiap untuk kemungkinan terburuk.”

Jira tersentak, reflek mengankat kepala menatap ekspresi Jina yang kelewat tenang saat mengatakannya. Jira tahu, bahwa jauh di dalam sana Jina sedang ketakutan sekarang, bahkan setiap detik dalam hidupnya, gadis itu tahu lebih dari siapapun tentang kemungkinan terburuk yang akan tiba tanpa peringatan dan bisa terjadi kapapun.

Jira menggeleng, dan menyentuh kedua tangan Jina, mencoba mengembalikan semangat dan rasa optimis, “ini akan sama seperti yang sudah-sudah.”

Jina menatap wajah Jira lamat-lamat sebelum akhirnya tersenyum sedih, “aku punya firasat berbeda kali ini.”

“Jangan mengatakan hal seperti itu!”

“Jira, aku tahu mungkin ini sulit, tapi aku tak tahu harus memohon pada siapa selain padamu. Aku tak tahu seperti apa perasaan yang kamu miliki untuk Sehun saat ini, tapi bisakah kau membiarkan aku melihat ibu bahagia sekali lagi? Bisakah kau mendukung hubungan orang tua kita? Setidaknya satu senyum ibu sebelum aku pergi.”

Jira tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Apa yang Jina katakan di luar dari perkiraan. Apa yang Jina tahu tentang hubungannya dan Sehun? Kenapa dia bisa bicara seperti itu?

“Kau tidak akan pergi kemanapun, Kim Jina.” Jira memutuskan untuk mengenyahkan berbagai pertanyaan yang muncul di kepala, mengesampingkan rasa ingin tahu dan menanggapinya dengan tenang. “Aku tak mengerti maksudmu, tentu saja aku mendukung sepenuhnya hubungan mereka. Aku juga sangat menantikan hal itu.” dustanya, “tidak hanya satu, kau akan melihat senyum ibu yang tak bisa kau hitung jumlahnya.”

“Terimakasih, aku merasa lebih baik sekarang.” Jina tersenyum sekilas, dan kembali menghindari kontak mata, “tapi aku punya satu permintaan lain.”

“Kau bisa meminta lebih dari satu, aku akan berusaha melakukannya untukmu.”

“Bisakah kau membantuku dengan Chanyeol?”

***

Chanyeol segera memacu sepeda motornya begitu kelas malam dibubarkan. Meninggalkan Baekhyun yang mengumpat di belakang. Ia berinisiatif untuk datang ke rumah sakit menjenguk Jina sekaligus memastikan kondisi Jira yang ia khawatirkan sepanjang pelajaran berlangsung. Di tengah perjalanan, Chanyeol tak lupa membeli sekeranjang buah-buahan.

“Jira, aku di lobi rumah sakit.” Chanyeol memberitahu keberadaannya lewat panggilan langsung ketika kakinya memasuki pelataran rumah sakit. “Apa? Kau di rumah?” ekspresi wajah Chanyeol berubah kecewa. Ia menghentikan langkahnya sesaat, “Ah begitu, ya sudah beristirahatlah.”

“Iya, aku memang berniat menjenguknya. Aku sudah membawa buah-buahan. Aku akan mampir sebentar.”

“Ya? Oh oke, baiklah kalau begitu. Kau tidak perlu khawatir, beristirahatlah yang cukup. Aku akan menemaninya sampai ibumu tiba.”

Chanyeol menutup panggilan dan memasukkan ponselnya ke saku celana. Dia melanjutkan langkahnya menuju elevator. Apa boleh buat, dia sudah membeli buah-buahan dan sudah sampai di rumah sakit. Lagi pula dia memang berniat menjenguk Jina, teman sekaligus calon saudara ipar di masa depan. Chanyeol terkekeh dengan pemikirannya sendiri barusan.

***

Jira mendesah, air mata sudah menggenang di pelupuk mata. Tapi ia menolak untuk menangis saat itu juga. Ia berjalan gontai dari ruang pemeriksaan sambil memeluk sebuah amplop di dadanya. Ia butuh ketenangan dan tempat bersandar sekarang. Sebenarnya Chanyeol adalah orang pertama yang muncul di kepalanya. Tapi mengingat percakapannya dengan Jina, ia mengurungkan pikiran ‘alangah baiknya jika ia bisa berbagi dengan Chanyeol’. Lelaki itu mempunyai kemampuan menenangkan yang luar biasa. Jika boleh jujur, Jira ingin menahan Chanyeol untuk dirinya sendiri. Ia tidak mau Chanyeol pergi menemui Jina saat ini. Ia ingin sekali berteriak bahwa dia baru saja berbohong. Ia masih berada di rumah sakit yang sama. Bisakah Chanyeol menemuinya saja?

Jira terduduk di lantai lorong rumah sakit. Kakinya sangat lemas, menolak tuannya yang memaksa untuk terus berjalan. Ia tidak lagi memiliki daya yang tersisa. Di dalam, ia berusaha menahan keterkejutan dan berakting hal ini bukanlah apa-apa ketika dokter menjelaskan hasil pemeriksaan MRI.

“Apa yang terjadi?”

Jira mendongak, mendapati Sehun berdiri di hadapannya. Ia berlutut menyenyajarkan tinggi mereka. Jira tak tahu apa yang harus ia katakan atau lakukan. Ia sangat terkejut dan kebingungan sekarang. Setetes air mata luruh begitu saja. Kiamat baru saja terjadi. Rasa takut menyambangi hatinya, ia merasa tak lagi sanggup melalui semuanya kali ini. Pada dasarnya, Jira baru saja kalah.

Sehun menyentuh kedua bahunya lembut, sebelum membawa tubuh Jira dalam sebuah pelukan tanpa kata-kata. Jira pasrah, ia tak peduli tangisannya mengganggu orang di sekitar. Ia hanya ingin sekali saja menangis, hanya menangis tanpa memikirkan apapun. Begini saja cukup, menangis sesegukan dalam pelukan seseorang.

Diam-diam Sehun membuka amplop yang tadi Jira genggam. Amplop itu berisi foto hasil scan, surat pernyataan dan kartu pendonor. Sehun membacanya hati-hati, memastikan tidak ada satupun kata yang terlewat. Dalam hati ia mengumpat sambil mengeratkan pelukan dan menyurukkan hidungnya di helaian rambut Jira.

***

“Kau tidak harus melakukannya!” Sehun tak tahu harus bagaimana menyembunyikan kemarahannya. Ia tak habis pikir dengan jalan pikiran gadis itu. Menyetujui tentang donor jantung untuk Jina sama saja dengan bunuh diri!

Mereka berada di taman belakang rumah sakit. Karena waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, suasana di sana sangat sepi. Mereka bebas mengatakan apapun tanpa takut terdengar oleh siapapun.

Jira menatap sendu ke arah Sehun yang kini menarik-narik rambutnya frustasi. “Sehun,” Jira berbisik, tenggorokannya terasa kering setelah menangis cukup lama sebelumnya.

“Ayahku! Aku tidak akan membiarkannya menyentuhmu sehelai rambutpun! Apalagi harus merobek lapisan kulitmu dengan pisau sialannya!”

Jira tersenyum tipis di tempat duduknya.

“Tidak!” potong Sehun sebelum gadis itu berhasil mengatakan sesuatu. “Kita pergi saja dari sini!” dengan matanya yang basah, Sehun berlutut di hadapan gadis itu berusaha menyampaikan perasaannya. Mengganggam tangan, mencium dan memeluknya. “Minggu depan, aku akan mengambil ujian universitas Stanford ah, tidak. Kau ingin sekolah seni di Paris kan? Ayo mendaftar ke sana! Kita lakukan semuanya seperti rencana kita dulu, Kim Jira.”

Jira menengadah, menahan air matanya agar tidak terjatuh. Ia sudah lelah menangis, jadi cukup untuk hari ini. “Terimakasih, Sehun.”

***

“Kenapa sih kalian berdua harus sama-sama kepala batu?!” Chanyeol bersungut-sungut saat Jina memaksanya pergi berjalan-jalan sekitar taman rumah sakit.

Jina tertawa meski merasa aneh dengan hatinya. Sepanjang obrolannya dengan Chanyeol sejak lelaki itu tiba, 9 dari 10 nama Jira pasti ada di dalamnya. Apa sebesar itu Chanyeol menyukai Jira? Jina bertanya-tanya, apa dia punya kesempatan?

Chanyeol berhenti mendorong kursi roda. Terdiam melihat apa yang yang terjadi beberapa meter di depannya—seperti de’javu.

Jina ikut menatap ke arah pandang Chanyeol. Di depan sana, Sehun sedang memeluk seorang gadis berseragam sambil menangis sesegukan. Dari potongan rambut dan bentuk tubuh, baik Jina maupun Chanyeol tahu siapa gadis yang tengah Sehun peluk tanpa harus melihat wajahnya.

Jina bangkit dari kursi roda. Menyingkirkannya ke samping dan menyentuh kedua pipi Chanyeol, memaksa lelaki itu untuk menatap wajahnya. “Bisakah kau melihatku saja? Saat bersamaku, bisakah kau mengacuhkan apa yang terjadi disekitar? Hanya aku.”

***

Chanyeol sedang menyetel ulang gitarnya ketika Sehun masuk menerobos studio tempatnya berlatih tanpa permisi. Lelaki itu menyingkirkan setiap orang yang menghalangi jalannya dengan sekali hentakan. Tak peduli apa yang terjadi pada orang-orang itu, Sehun hanya berjalan lurus dan cepat ke arah Chanyeol yang duduk seperti orang dungu menunggu Sehun tiba.

“Di mana Kim Jira!” Sehun menarik kerah seragam Chanyeol, memaksanya berdiri. Chanyeol terbatuk dan kesulitan bernapas karena tercekik, bukannya melonggarkan tarikannya, Sehun malah semakin menekan tenggorokan Chanyeol.

“Apa yang kaulakukan?!” Chanyeol berusaha melepaskan diri.

“Dimana Kim Jira?!” teriak Sehun merasa frustasi. Ia tidak bisa menemukan Jira di manapun seharian ini dan ia tidak bisa menghubungi gadis itu.

“Sehun!” Soohye yang baru saja masuk ruangan terkejut dengan apa yang terjadi. Ia melihat para member hanya diam melihat kekacauan yang dibuat Sehun. “Kenapa kalian diam saja?!” gadis itu berjinjit menarik kerah seragam Sehun dari belakang, “Hentikan! Sehun! Kau bisa membunuhnya!” dalam sekali hentakan Soohye menarik kerah tersebut sekuat tenaga. Membuat Sehun kehilangan keseimbangan untuk tetap berdiri, tanpa sadar menarik serta tubuh Chanyeol. Keduanya terjatuh dengan posisi Chanyeol berada di atas tubuh Sehun.

“Idiot gila!” Soohye menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga. “Apa yang terjadi sebenarnya?”

“Aku tidak tahu!” gerutu Chanyeol yang buru-buru bangkit. Tidak seperti Sehun yang terdiam sambil menutup mata dengan lengan kanannya. Lelaki itu tampak putus asa. Sampai sebuah getaran terasa dari saku celananya.

Buru-buru Sehun bangkit dan mengeluarkan ponsel, ekspresinya berubah. Ada kelegaan yang terpancar dari sorot matanya. Namun, tak berlangsung lama. “APA?!”

Soohye dan Chanyeol bertukar pandang. “Apa yang—” belum rampung kalimat tanya Soohye, Sehun sudah bergegas pergi meninggalkan mereka secepat kilat. Sebelum benar-benar meninggalkan studio, Sehun menatap bengis Chanyeol yang masih tidak mengerti dengan situasi. “Sudah kukatakan padamu, aku akan merebutnya jika kau tidak bisa menjaganya dengan baik!” teriak Sehun sesaat sebelum membanting pintu.

“Apa yang terjadi sebenarnya?!” Soohye menuntut penjelasan.

“Aku tidak tahu!” Chanyeol menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Dia tiba-tiba datang dan mencekikku!”

“Apa yang dia katakan sebelumnya?”

“Jira. Dia bertanya di mana Jira.”

“Aish!” Soohye menarik sebuah kursi dan duduk di atasnya. Dia berpikir sejenak, apa yang sebenarnya terjadi antara Sehun dan Jira? Dia teringat terakhir kali Sehun membawa Jira dalam keadaan tertidur ke rumahnya malam-malam. Soohye melirik Chanyeol, menimbang haruskah ia bertanya dan menceritakan kejadian tempo hari?

“Kenapa Sehun harus semarah itu? Aku bahkan belum bertemu atau mendengar kabarnya hari ini.”

“Apa sebenarnya hubungan Sehun dan Jira, Chanyeol?”

Chanyeol mendesah, menatap satu persatu wajah penasaran teman-temannya sebelum menjawab singkat, “mantan kekasih.”

***

“Yah!” sepeninggalan Sehun, Chanyeol dan teman-teman bandnya melanjutkan kegiatan berlatih. Tapi Jongdae tampak kecewa dan terus menengur Chanyeol berkali-kali. Lelaki itu tampak gelisah, berakibat pada kunci dan senar yang sering kali keliru dipetiknya. Mengacaukan alunan musik yang sebelumnya selalu sempurna. “Kau yakin baik-baik saja, Yeol?”

“Ya, maafkan aku.”

“Itu untuk ke sekian,” Jongdae menghela napas pendek, “seharian ini kau tidak fokus!”

“Lebih baik kau pergi, cukup untuk hari ini. Selesaikan urusanmu yang kau rasa lebih penting dari festival band kita.”

“Jongdae—”

“Aku tahu,” potong Jongdae, “tapi percuma saja kalau dilanjutkan. Kau perlu waktu sendiri sepertinya.”

Chanyeol menatap satu-persatu wajah member lain yang mengangguk setuju dan tersenyum memberinya semangat. Memang benar, pikiran Chanyeol sedang tidak berada di sini sekarang. Banyak hal yang ada di kepalanya. “Maafkan aku,” lirih Chanyeol sambil mengemas barang-barangnya ke dalam tas.

Setelah meninggalkan studio, Chanyeol duduk di sebuah halte bus. Lama sekali ia terdiam sediri. Ekspesi wajah Sehun saat mendatanginya di studio tadi muncul di benak. Kejadian semalam saat Sehun memeluk erat Jira sambil menangis sesegukan di halaman rumah sakit juga, bahkan ekspresi dan kata-kata Jira saat menceritakan masa lalunya kini berdengung di telinga. Membuat kepalanya seakan mau pecah. Apa yang salah dengannya? Bukankah Chanyeol sendiri yang mengatakan bahwa ia akan tetap di sisi Jira? Datang ke tempatnya tak peduli bagaimana perasaan gadis itu selama ia mampu membuat Jira nyaman? Kenapa sekarang ia harus merasa terganggu?

Ayolah, Chanyeol. Ada apa denganmu?!

Lelaki itu mengusak wajahnya dan berteriak frustasi, tak peduli setiap orang di sekitarnya menatap aneh dan terganggu.

Chanyeol mengeluarkan ponsel, mencari kontak Jira dan menatapnya beberapa saat. Ada keraguan yang tak berdasar membuatnya enggan. Tapi kemudian, wajah Sehun yang datang dengan amarah dan rasa frustasi mencari gadis itu beberapa waktu lalu kembali muncul dan sangat mengganggu. “Ada apa sebenarnya?” Chanyeol berkata dengan nada rendah sarat asa, “kenapa semalam kau berbohong padaku? Berapa banyak kebohongan yang sudah kau katakan selama ini?”

***

Jira segera duduk sesaat setelah mendapat kesadaran. Ia meringgis, merasakan ngilu di pergelangan tangan kirinya yang kini dibebat lapisan kain kasa. Ah… Jira tertawa kecil, mengejek dirinya sendiri saat mengingat apa yang terjadi sebelum ia terbangun di atas ranjang pesakitan.

“Kau sudah sadar?” tanya seorang suster yang menyikap tirai pembatas, “bagaimana perasaanmu?”

Jira enggan menjawab. Gadis itu memilih diam apapun yang dikatakan suster itu.

“Ah iya, ponselmu terus berdering sebelumnya. Telpon dari orang yang sama, sepertinya pacarmu khawatir dan kelimpungan mencarimu. Jadi aku menelepon memberinya informasi.”

Jira meraih ponsel di atas nakas. Menggerang ketika nama Sehun muncul di log panggilan teratas dengan puluhan panggilan tak terjawab.

“Mungkin sebentar lagi tiba.”

Ya Tuhan!

Jira menyisir rambutnya ke belakang. Sehun pasti akan sangat marah, Jira tidak dalam kondisi yang baik untuk mendengar ocehannya. Kenapa juga dia harus berakhir di atas ranjang pesakitan?

Dering ponsel membuat Jira sedikit terkejut. Nama Chanyeol muncul sebagai id pemanggil. Oh tidak, jangan-jangan beritanya sudah menyebar secepat ini? Jira berpikir keras, haruskah ia mengabaikannya?

Tidak, Jira. Sudah cukup untuk hari ini. Tidakkah kau lelah terus berlari dari kenyataan?

Ragu-ragu ia mengangkat teleponnya, “y-ya, Yeol.”

Tepat setelah Jira mengatupkan bibir, seseorang menyibak tirai dan memeluknya erat. Ponselnya terlepas, “S-sehun.”

“Sial, jangan seperti ini, Jira. Kau benar-benar membuatku takut.” Lelaki itu melepas pelukannya, merangkum wajah Jira, memastikan bahwa gadis di hadapannya adalah orang yang benar. “Aku takut sekali tak punya kesempatan lagi untuk mengatakan bahwa aku mencintaimu.” Sehun duduk di pinggir ranjang, meraih pergelangan tangan Jira yang dibebat kasa. Mengusap dan menciumnya di bagian luka dengan lembut. “Aku mencintaimu, sangat.”

“Tunggu sebentar lagi, aku sedang mengurus semuanya seperti yang pernah kita rencanakan.”

“Bersabarlah, hum?” Sehun mengecup kedua punggung tangan Jira, “Setelah semuanya terselesaikan, aku berjanji hanya akan ada aku dan kamu, kita bisa hidup tanpa banyak kekhawatiran.”

Jira membeku dan melupakan ponselnya yang masih terhubung dengan sebuah panggilan.

***

Bersambung!

Q: apa yang terjadi pada Jira? Silahkan berasumsi, hehe bukan hal yang sulit ditebak sih. Alur ceritaku masih dibawah standar :v

Well, chapter depan bisa jadi bagian terakhir /jogetsambalado/
untuk bagian terakhir bakal aku kasih password!
tenang, bukan karena ada adegan ga senonoh atau apa, tapi karena… pengen aja! /HAHA/
jadi buat kalian yang pengen tau gimana akhir cerita kita, /eaaaak/
caranya gampang kok. Aku gakan pelit bagiin password.
kalian cuma perlu nulis komentar di bawah seputar perasaan kalian waktu baca cerita ini dari bagian 0-6, gimana alur dan penokohan cerita ini, berikut asumsi dan harapan kalian buat ending ceritanya. kalian bisa minta pass via line (id: truwita), ig (@senjatruwita) atau email (senjatruwita@gmail.com). Jangan lupa cantumin id komentar kalian.
gampang kan? Yuk ah, cusss!

Ohya! Aku mulai aktif di wattpad sekarang, yang punya yuk ah merapat!
wattpad: @truwitatata

 

4 tanggapan untuk “[6] Full Stop| truwita”

  1. Aku sebelumnya pernah baca cerita kaya gini castnya sih beda cuma inti permasalahan sama inti ceritanya sama.. tapi aku gak pernah bosen sama cerita yg kaya gini justru aku lebih suka cerita yg kaya gini genrenya hahaha

  2. apa ini ohhh…
    jira knapa cobaaa???? coba bunuh diri?? nyayat nadi sendiri????????????
    sebenernya gk rela kalo Chanyeol sma jina tpi..suka juga si jira Ama sehun/loh/
    bingung..
    jangan bilang entar si jira bener2 donorin jantungnya!!???
    oh noo!!!!jangan !! dont!!!!!
    agrhh udah mau ending ni???padahal ak baru2 aja bacanya pas up chap 5..
    entar ak email deh ka yooo bagi pw😘😘😘

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s