GAME OVER – Lv. 22 [The Real Leader] — IRISH

G    A   M   E       O   V   E   R

‘ Baekhyun x Jiho (known as HongJoo) ’

‘ AU x Adventure x Fantasy x Romance x Science Fiction ’

‘ Chapterred x Teenagers ’

‘ prompt from EXO`s — Can`t Bring Me Down & EXO CBX`s — Crush U

Game Level(s):

ForewordPrologue A SidePrologue B Side — Level 1Level 10 — Tacenda CornerEden’s Nirvana — Level 11Level 15 — Level 16 — Level 20 — Level 21 — [PLAYING] Level 22

Even if we get pulled around

We’re in the open, we are standing

2017 © GAME OVER created by IRISH

♫ ♪ ♫ ♪

Level 22 — The Real Leader

In Jiho’s Eyes…

Bagaimana denganku? Anganku sekarang adalah mengembalikan semua hal ke tempatnya masing-masing. Baekhyun seharusnya berada di barisannya, menjadi villain dengan sewajarnya dan aku akan jadi player yang berusaha mengalahkannya.

Kami tidak seharusnya ada dalam hubungan saling terikat karena tidak satupun dari kami akan diuntungkan oleh hubungan ini. Yang ada hanyalah rasa sakit, dan rasa sakit lain di atas rasa sakit.

Lantas, salahkah aku jika kupilih untuk mengucap selamat tinggal padanya?

“Aku… Aku ingin menjauh darimu, Invisible Black.”

“Apa?” Baekhyun menatapku tidak mengerti begitu kuucapkan kalimat itu padanya dengan nada cukup tegas.

Mungkin, dia mengira aku sedang bermain-main. Tapi tidak, aku tidak sedang bercanda dengannya sekarang. Situasi kelewat tenang yang sekarang kami hadapi adalah hal yang terlampau aneh. Aku tahu aku tidak seharusnya berada di dekat Baekhyun untuk saat ini.

Tapi mau bagaimana lagi, aku tidak bisa berpikir dengan jernih di tempat ini. Masih ada beberapa hari lagi, dan aku harus bertahan dengan cara apapun. Baekhyun tidak lagi bisa kuandalkan karena dia adalah seorang villain dan bagaimana pun, akan mencoba untuk membunuhku pada akhirnya.

Meski dia berkata bahwa dia tidak akan membunuhku, tapi dia adalah seorang NPC, dia villain, mana bisa aku memercayai ucapannya?

“Aku ingin menenangkan pikiranku, aku ingin bertahan sampai akhir, tapi aku mungkin tidak akan bisa bertahan sampai akhir jika aku terus bersama denganmu. Setidaknya aku masih harus bertahan di sini selama lima hari—atau mungkin empat hari lagi?—dan keluar dari permainan ini.”

“Mengapa sekarang kau begitu ingin keluar dari permainan?” tanya Baekhyun, menyadari kalau aku selama ini tidak pernah merasa bosan terhadap permainan ini.

Tapi bagaimana dengan sekarang? Saat aku sudah tahu kalau seseorang yang selalu kutunggu dalam permainan ini bukanlah seseorang yang benar-benar ada dan nyata, bagaimana aku bisa menghadapinya dan bisa bicara sesantai ini sementara hatiku sendiri terluka?

“Kau sendiri yang mengatakan padaku, kalau tempat ini berbahaya. Kau adalah seorang villain Baekhyun, cepat atau lambat kau juga akan berusaha membunuhku. Padahal aku ingin bertahan—”

“—Bukankah sudah pernah kukatakan padamu, kalau hanya ada salah satu dari kita yang bisa bertahan, maka kau lah orangnya?” Baekhyun bicara memotong perkataanku.

Ya, aku ingat benar dia memang pernah mengatakan hal itu padaku. Tapi itu saat situasinya belum berubah menjadi sekacau ini. Kalau saja semua orang tahu tentang Baekhyun, dia tidak akan bisa duduk santai begini.

Dan aku akan menjadi orang paling konyol di dalam server. Mereka pasti akan menertawaiku karena telah menjadi pair dengan seorang NPC.

“Kita tidak bisa terus begini, biarkan aku menenangkan pikiranku dulu Baekhyun. Setelah itu mari kita bertemu lagi.” ucapku akhirnya, tak ingin menjelaskan lebih jauh lagi pada Baekhyun karena jika kupikir-pikir, dia juga tidak punya perasaan yang bisa digunakannya untuk memahami perasaanku.

“Jiho, aku menyukaimu, apa perkataanku terdengar seperti sebuah kebohongan bagimu?” pertanyaan Baekhyun berhasil membuatku menghela nafas panjang.

Bagaimana bisa aku percaya sedangkan sosok yang mengatakan hal itu padaku adalah seorang yang tidak nyata?

“Aku percaya, dan aku juga menyukaimu, Baekhyun. Tapi saat ini aku sungguh butuh waktu sendiri.” terpaksa aku berbohong pada Baekhyun, meski sepertinya Baekhyun tahu tentang kebohongan yang sedang aku lakukan.

Karena pada akhirnya Baekhyun hanya menatapku kecewa, tanpa berkata-kata.

“Kau tahu dimana kau bisa menemuiku jika kau ingin, Jiho.” akhirnya Baekhyun buka suara. “Apa maksudmu? Jika aku ingin?” tanyaku tak mengerti.

“Aku tahu, kau sudah tidak menginginkanku lagi. Aku tidak lebih dari sekedar karakter fiktif yang setelah kau keluar dari permainan ini, bisa kau tinggalkan dan kau lupakan. Tapi aku tidak begitu, memori tentangmu akan tetap ada dalam benakku, Jiho. Sementara aku akan tetap terkurung di dalam sini, di dalam Eden’s Nirvana.”

Tidak bisa, Baekhyun. Perasaan bukanlah hal yang sekedar bisa diingat dalam memori saja. Perasaan itu tentang saling memahami dan memiliki. Tapi aku bahkan tidak bisa untuk sekedar memasukkan Baekhyun dalam memori karena dia bukan manusia.

Sungguh, jika saja keadaan Baekhyun bisa lebih tidak masuk akal lagi, akan ada kemungkinan kebersamaan kami setidaknya jika Baekhyun adalah seorang vampire, atau werewolves, atau makhluk sejenis itu yang sama tidak masuk akalnya.

Tapi seorang NPC? Seorang karakter game? Oh, Tuhan, logika manusia mana yang bisa menerima hubungan tidak masuk akal ini? Bahkan dalam cerita fiksi pun tidak akan ada.

“Baiklah, akan kutemui kau saat aku sudah benar-benar siap.” kataku, beranjak berdiri, hendak meninggalkan Baekhyun meski diam-diam hatiku justru bertambah sakit.

Kami tidak berdebat, aku juga tidak membuatnya marah, tapi mengapa kali ini meninggalkan Baekhyun seolah memberiku firasat kalau kami tidak akan bertemu lagi dalam keadaan yang baik?

“Baekhyun,” aku berbalik dan kutemukan Baekhyun masih duduk di tempat yang sama, menatapku dengan luka yang sarat dalam pandangannya yang selalu terlihat dingin juga tegas.

“Ya, Jiho?” ujarnya, selama beberapa sekon kubiarkan diriku tenggelam dalam view sempurna yang paras Baekhyun miliki.

Paras sesempurna ini tidak akan benar-benar ada di dunia, bukan? Karena seseorang pasti telah menciptakannya untuk punya paras sempurna seperti ini.

“Ada apa, Jiho?” ulang Baekhyun begitu tidak didengarnya aku bicara.

“Jika nanti aku kembali, apa kau masih akan jadi Baekhyun yang aku kenal?” alis Baekhyun terangkat begitu mendengar pertanyaanku.

Lantas Baekhyun berdiri, mengikis jarak denganku dan dia tarik diriku ke dalam pelukannya. Pelukan, satu hal tidak masuk akal lainnya yang bisa Baekhyun lakukan. Dan kenapa juga jantung bodoh ini bergedup makin tidak karuan karena tindakannya?

“Lekaslah kembali, Jiho. Aku akan menunggumu. Untukmu, Eden’s Nirvana akan jadi sebuah eden dan nirvana yang sesungguhnya. Kau… belum pernah melihatku tanpa suits gelap ini, bukan?” bisik Baekhyun, jemarinya sekarang bergerak mengusap suraiku, sentuhannya yang terasa begitu nyata dalam survival mode ini justru terasa semakin menyakitkan.

Mengapa tidak sejak dulu saja kami bisa merasakan kontak fisik ini? Mengapa kami baru bisa merasakannya saat aku tahu kalau Baekhyun tidak nyata? Aku akan jadi seorang pengidap gangguan jiwa jika terus merasakan hal seperti ini pada Baekhyun, bukan?

“Jiho, bisakah… kau berjanji akan kembali padaku?”

Aku tertegun mendengar ucapan Baekhyun. Kenapa dia harus menanyakannya saat aku bahkan tidak yakin apa aku akan sanggup menatapnya setelah ini? Pertanyaannya mungkin akan terdengar masuk akal saat aku belum tahu tentangnya.

Tapi sekarang?

“Aku… tidak bisa menjanjikannya, Baekhyun. Maafkan aku.” segera kutarik diriku dari Baekhyun, tak kuasa jika berlama-lama meneruskan kontak fisikku dengannya karena aku tahu benar, aku seorang yang merasakan sakit hati.

“Jiho—”

“—Aku harus pergi, Baekhyun. Sampai bertemu lagi.”

Kupotong ucapan Baekhyun, dan tanpa mau mendengar apa yang dia hendak katakan, aku melangkah meninggalkan Baekhyun. Aku sungguh tidak sanggup membayangkan bagaimana harus menghadapi Baekhyun jika kami bertemu lagi, tapi aku lebih tidak sanggup jika harus terus merasakan sakit seperti ini.

Seperti namanya, Baekhyun benar-benar invisible.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Darimana saja kau?”

Pertanyaan serempak dari Ashley segera menyambut begitu aku kembali ke persembunyian kami. Hana, Doyeon, Jeno, Herin, dua orang baru—InArtemis dan Royal Thrope—lalu Taeil, ada di sana.

Keadaan Royal Thrope dan Taeil sudah membaik, syukurlah.

“InArtemis, senang melihatmu.” kataku disahutinya dengan sebuah senyuman, “Senang bertemu denganmu juga, HongJoo.” sahutnya.

“Ternyata namanya adalah Johnny, dia pemimpin Townmu dulu bukan?” kata Taehyung, rupanya dia sudah berbincang cukup banyak dengan Royal Thrope.

“Ya, dia Royal Thrope yang dibanggakan Enterprise.” kataku, sedikit menyindirnya, karena kalau dia benar-benar berasal dari NG Game Factory, maka dia benar-benar orang besar di sini.

“Tidak perlu menyinggungku, Nona Song. Senang bertemu denganmu di sini, omong-omong. Dan terima kasih atas bantuannya.” kata Royal Thrope—ralat, Johnny, maksudku.

“Bukan aku yang melakukannya, tapi pairku.” kataku membuat Johnny menyernyit sejenak. “Benar, Invisible Black yang sudah membantu.” ucap Johnny kemudian.

“Berapa hari lagi yang kita miliki?” tanya Taehyung kemudian.

“Empat hari, dan masih ada sisa enam belas jam hari ini.” InArtemis menyahuti.

“Untuk mencegah habisnya player, kita harus membantu playerplayer yang dibuat kritis oleh White House. Kuperhatikan, mereka biasanya meninggalkan musuhnya dalam keadaan kritis.” Taeil berkata.

“Benarkah?” Johnny menatap penasaran.

“Ya, lihat apa yang terjadi pada kita?” ucap Taeil mengingatkan Johnny pada keadaan menyedihkan mereka sebelum Taehyung datang menolong di saat kritis.

“Kita hanya perlu bertahan selama empat hari lagi. Kita sudah punya cukup banyak persediaan makanan, dan juga obat-obatan. Semakin banyak player yang bertahan akan semakin baik, karena White House tidak akan bisa sembarangan menyerang player yang masih ada.

“Selama kita berhasil menyelesaikan survival mode ini, semuanya akan baik-baik saja. Kita semua akan terbangun di dalam tube dan bisa melanjutkan permainan dalam mode yang lama.” Johnny menjelaskan, sebagai seseorang yang identitasnya sudah terungkap, tentu dia sudah bisa bicara dengan penuh percaya diri sekarang.

Ah, bicara tentang identitas sekarang aku kembali teringat pada Baekhyun. Identitasnya sebagai seorang NPC juga sudah terungkap olehku. Seorang villain bernama Black Radiant juga ada di dalam sistem yang sama dengan kami. Seana juga terlihat berbahaya.

Apa mungkin, ada NPC atau villain lainnya yang juga menyamar sebagai player seperti yang Baekhyun dan Black Radiant lakukan? Atau mungkin, salah seorang dari White House adalah villain?

Sekarang, semua orang yang tidak bisa kupastikan identitasnya justru terlihat begitu mencurigakan. Sejauh ini, orang-orang yang bersama kami sudah bisa kupastikan, karena aku sudah bertemu dengan semua orang, dan pernah melakukan call live dengan InArtemis saat kami secara tidak sengaja terlibat dalam sebuah turbulence.

Tapi, itu artinya aku harus waspada ketika ada player lain yang masuk dalam lingkaran perlindungan sempit kami.

“Apa itu artinya kita harus menolong semua orang yang terluka?” tanya Hana.

“Ya, kita satu tim yang sama untuk saat ini. Oh, tidak perlu ada ceremony atau penyamaan kostum, bukan? Pouchku saat ini sedang tidak banyak.” kata Johnny membuat kami semua tergelak.

Rupanya dia bukanlah seorang yang berperangai buruk. Meski saat kulihat di kantor NG Game Factory dia terlihat sangat sombong, Johnny ternyata cukup menyenangkan.

“Kau harus pastikan membelikan kami semua makan malam saat kita keluar dari permainan ini.” kata Taehyung kemudian.

“Baiklah, kujanjikan makan malam bersama dengan kalian. Kalau begitu, bisa kita mulai menyusun strategi sekarang?” kata Johnny.

“Oke, ayo semuanya duduk melingkar.” titah Taeil.

Kami kemudian duduk melingkar di tanah, dengan Johnny sebagai pusatnya. Karena dia mengenal baik permainan ini, tentu tidak sulit baginya untuk menyusun sebuah strategi.

“Ada beberapa penanda di dalam mode ini, sejenis dengan suar, tapi memiliki kendali. Jika kita bisa dapatkan semua suar itu, kita bisa memasangnya dalam radius tertentu, sehingga akan ada notifikasi pada tempat ini ketika ada player kritis di dekat jangkauan suar tersebut.

“Suar ini sebenarnya berfungsi sebagai pertahanan. Fungsinya, jika seorang anggota kelompok bertugas keluar dan mendapat masalah, dia bisa menyalakan suarnya untuk memberitahukan anggota lain. Tapi saat ini situasi itu akan sulit, jadi yang bisa kita lakukan adalah menggunakan suar ini sebagai penanda bahwa ada player yang kritis.

“Sekarang biar aku bagi kita menjadi beberapa tim. Karena bergerak sendiri akan berbahaya bagi tiap orang. Taeil dengan Ashley, Jeno dengan Herin, InArtemis dengan Taehyung, Hana dengan Doyeon, Jiho dan aku ada di yang sama. Mengerti?

“Kita mungkin berada dalam jumlah terbatas, tapi di sini, meski kita ditarik ulur oleh kekejaman player serakah di luar sana, kita harus tetap berdiri tegak menantang mereka, kita harus terbuka dan menerima semua orang yang memerlukan bantuan kita.

“Tapi ingat, jangan membawa sembarang orang ke dalam sini, karena tempat ini adalah kunci utama bagi kelangsungan hidup kita selama empat hari ke depan. Apa arahanku sudah cukup jelas?”

Aku terperangah mendengar penjelasan Johnny. Tidak kusangka, dia benar-benar seorang jenius yang bisa mengatur kami semua dengan begitu sempurna.

Wow, you’re the real leader, Johnny.” puji Ashley mewakili pemikiran kami semua, sebuah senyum tulus dia pamerkan sementara Johnny sendiri hanya tersenyum simpul. “Aku harus pastikan semua player kembali dengan selamat, karena rupanya stage ini sudah berubah di luar dugaanku.” katanya.

Kami semua memberikan tepukan tangan—bukan tepuk tangan kelewat meriah, hanya tepukan tangan kagum pada kecerdasan Johnny. Sampai akhirnya Johnny kembali buka suara.

“Sekarang, mari kita bagi tugas untuk tiap tim. Mage yang ada di sini adalah Hana, Herin, dan InArtemis. Jadi kalian bertugas sebagai penyembuh tiap player yang terluka. Selagi kalian menyembuhkan, rekan kalian akan mengawasi lingkungan sekitar.

“Kemudian Taeil dan Ashley, kalian bertugas menghitung jumlah persediaan makanan juga minuman dan obat-obatan. Minimal persediaan itu harus bisa kita gunakan selama dua puluh empat jam. Karena di sini, kita akan merasa kelaparan setiap dua jam sekali.

“Lalu Taehyung dan InArtemis akan melakukan perampasan persediaan makan-minum juga obat pada kalian. Jika kalian membutuhkan bantuan, kalian bisa hubungi Taeil atau Ashley, karena mereka berdua yang akan standby di tempat ini.”

“Bagaimana denganmu dan Jiho?” tanya Taehyung.

Johnny terdiam sejenak. “Ada satu hal yang tidak kalian tahu tentang permainan ini, kita bisa melakukan korupsi waktu.” katanya.

“Apa maksudmu?” tanyaku tak mengerti.

“Jumlah NPC di dalam stage ini sangatlah banyak. Saat mode ini dirilis, ada satu bonus yang bisa dilakukan seorang player untuk mengurangi jumlah jam global. Ingat? Jam digital di Hall utama yang menunjukkan sisa waktu kita dalam mode survival ini?” Johnny mulai menjelaskan.

“Baiklah, aku tahu jam yang kau maksud. Lalu apa hubungannya jam itu dengan NPC dan tugasmu juga Jiho?” Taehyung bertanya menuntut penjelasan.

Johnny terdiam sejenak, dia lantas menatap kami semua bergiliran, dan sempat pandangnya bertemu cukup lama denganku.

“Membunuh seorang NPC di dalam stage ini bisa mengurangi jam yang tersisa.”

Aku tersentak. Jika saja aku tidak sedang berada di dalam permainan aku mungkin bisa merasakan jantungku yang sempat terhenti selama sepersekian sekon sebelum akhirnya berdegup dengan begitu kencang.

Membunuh NPC? Tunggu dulu, Johnny adalah seorang programmer dalam game ini bukan? Apa itu artinya dia juga tahu tentang NPC seperti Baekhyun dan—tidak, dia tidak terlihat tahu tentang Baekhyun.

Mengingat bagaimana Johnny juga termasuk dalam orang-orang yang menyerang Baekhyun saat kami ada di stage lama. Tapi apa yang sekarang sedang berusaha dia sampaikan?

“Membunuh NPC tidak akan berarti apa-apa, karena mereka sebenarnya akan tetap ada di dalam WorldWare, tapi memang di dalam stage ini mereka akan lenyap. Jumlah jam yang akan berkurang karena membunuh NPC juga beragam, tergantung dari DPS mereka. Biasanya berkisar menit, bahkan jam.

“Aku dan Jiho ada di rank teratas di antara kita semua, karena kami sama-sama dari Enterprise aku sudah tahu benar bagaimana Jiho dan serangan-serangannya. Taehyung sendiri bukan penyerang jarak dekat, sedangkan kebanyakan NPC selalu menyerang dari jarak pendek. Jadi, tugasku dan Jiho adalah membunuh sebanyak mungkin NPC untuk mengurangi waktu.

“Dengan begitu, kita tidak perlu mengkhawatirkan White House lagi. Bukankah lebih efektif jika kita mengurangi waktu, daripada bertahan selama berhari-hari dengan ancaman?”

Membunuh NPC bisa mengurangi tenggat waktu kami di sini? Ya Tuhan, situasi apa lagi yang sekarang menghimpitku? Mengapa Johnny harus menjadikanku timnya? Oke, mungkin dia yang paling tahu benar tentangku dan kemampuanku.

Kami juga termasuk dalam orang-orang pertama yang mendirikan Enterprise. Tapi membunuh NPC? Saat NPC itu sendiri sehidup Baekhyun? Tunggu dulu, Baekhyun adalah NPC, dan dia punya DPS yang sangat tinggi, tertinggi jika dibandingkan dengan semua player.

Berapa banyak waktu yang akan terenggut jika aku—tidak!

Jiho, apa kau baru saja berpikir untuk membunuh Baekhyun!?

“Baiklah, sementara ini rencana kita begitu dulu. Rencana B-nya adalah bertahan sendiri di dalam persembunyian kita. Meski sebenarnya opsi ini tidak aman, karena setelah semua player di luar sana berhasil diburu oleh White House maupun villain lain yang ada di dalam mode ini, secara otomatis keberadaan kita akan terendus juga.

“Di jam yang tersisa ini, aku akan mencari keberadaan suar-suar itu karena kita sama sekali tidak punya petunjuk tentang keberadaannya.” Johnny mengakhiri perundingan strategi kami.

Memahami tugasnya masing-masing, semua orang akhirnya mulai memisahkan diri dari lingkaran kecil ini. Mungkin mereka juga hendak membuat rencana-rencana kecil lainnya.

“InArtemis, kita perlu bicara seben—”

“—Somi.” aku menoleh saat mendengar konversasi Johnny dengan InArtemis. “Apa?” ulang Johnny dengan nada bingung.

“Namaku Jeon Somi.” jawabnya sambil tersenyum, “Kau ingin bicara denganku saja? Atau dengan Jiho juga?” sambung Somi kali ini ikut membuatku menyernyit bingung.

Ada apa lagi ini?

“Baiklah, Somi dan Jiho, ikut denganku. Kita akan mencari suar itu sambil berbicara enam mata.” kata Johnny, tegas, tak ingin dibantah. Memang seperti inilah Royal Thrope yang kukenal, angkuh dan tak terbantahkan.

Mirip dengan karakter Baekhyun, sebenarnya, tapi dari Baekhyun aku kerapkali merasakan aura antagonisnya menguar—apa karena dia adalah villain?—sementara Johnny sendiri terlihat lebih tenang.

“Oke,” aku mengiyakan ajakannya, kami bertiga kemudian membawa perlengkapan masing-masing, tak bisa melakukan upgrade karena jumlah pouch yang minimal. Sebelum akhirnya kami berjalan beriringan keluar dari persembunyian.

“Tidak akan ada banyak NPC yang berkeliaran di jam ini, jadi kita tak perlu membunuh NPC manapun saat ini.” Johnny mulai berkelakar.

Dia tidak membawa langkah kami mengikuti maps, atau sejenisnya. Tapi Johnny tampaknya sudah hafal benar dimana letak suar-suar itu.

“Somi, tidak ada yang ingin kau katakan padaku?” tanya Johnny membuatku menatap penuh tanya. Mereka tidak berasal dari Town yang sama, ada apa gerangan?

“Mengapa Jiho tidak memulai dahulu?” Somi malah menatap ke arahku.

“Aku?” tanyaku tak mengerti.

“Ya, bukannya tanpa maksud Johnny membawa kita untuk bicara secara terpisah dari mereka yang ada di tempat persembunyian. Dan Jiho, kau juga sudah tahu jelas apa yang ingin Johnny dengar dari kita, bukan?” aku makin menatap bingung saat mendengar Somi bicara.

Well, apa yang dia harap akan aku katakan? Aku bahkan tidak tahu kenapa kami sekarang sama-sama dituntut untuk bicara. Atau aku yang sudah salah paham? Somi adalah seorang player yang masih sangat muda, DPS-nya tidak tinggi meski dia terlihat punya banyak equipment berharga mahal.

Dia tidak pernah terlibat dengan Royal Thrope, tidak juga terlibat dalam insiden Invisible Black. Aku bahkan hanya melakukan kontak satu kali dengannya, dan itu sudah sangat lama sekali.

Sekarang, bahasan apa yang kiranya berhubungan dengan kami bertiga?

“Jiho sepertinya tidak mengerti,” Somi kemudian menghela nafas panjang, “Johnny ingin kita bicara tentang NPC, Jiho.” sambungnya.

NPC? Ah, apa dia ingin kami bicara soal strate—tidak. Tunggu dulu. Kilatan cahaya apa yang baru saja kulihat di tubuh So—mungkinkah… NPC? Tunggu, apa Johnny sudah tahu?

“Maksudmu, tentang Invisible Black?” aku akhirnya berkata dengan hati-hati.

Gotcha! Rupanya dia sudah tahu sekarang.” Somi terkekeh pelan, begitu santai sampai aku tidak sadar jika Johnny di ujung sana sudah memasang ekspresi kaku.

“Tidak, Somi. Aku ingin kau yang bicara lebih dulu, bukan Jiho.” kata Johnny.

Akhirnya, Somi menyerah. Dia menarik dan mengembuskan nafas panjang sebelum menatap kami berdua bergiliran.

“Baiklah. Aku adalah seorang NPC, tapi aku bukan villain. Kau puas sekarang?” Somi menatap Johnny dengan pandangan kesal. Tapi, aku bukannya fokus pada pandangan kesalnya saja, melainkan perkataannya.

Dia adalah seorang NPC?

“K-Kau seorang NPC?” kataku, tak bisa kusembunyikan keterkejutanku karena ucapan Somi barusan memang kelewat mengejutkan.

“Ya, bukankah kau juga mengenal beberapa orang NPC dengan baik, Jiho?” tanya Somi, disunggingkannya sebuah senyum simpul, seolah meledekku.

Apa dia bicara tentang Baekhyun? Tidak, dia katakan beberapa. Seana, Wendy, dia juga bicara tentang mereka?

“Aku tahu Jiho mengenal Wendy dengan cukup baik.” Johnny sekarang bersuara, “Tapi aku tidak yakin dia tahu kalau—”

“—Aku tahu.” potongku ketika Johnny berucap.

“Kau tahu?” ulang Johnny memastikan.

“Kau ingin katakan kalau aku tidak tahu tentang pairku yang ternyata seorang NPC, begitu? Aku sudah tahu. Aku tahu Invisible Black juga seorang NPC.” ucapku, kelewat santai, nada bicaraku sekarang sudah menunjukkan bagaimana gilanya aku.

Seharusnya aku histeris, atau marah. Tapi kenapa aku justru begitu tenang? Somi bahkan bisa tersenyum saat mendengar kalimatku.

“Apa kau juga tahu kalau hal lain tentangnya?” tanya Somi.

“Tentu saja aku tahu.” kataku, terlampau bangga, rupanya aku sudah benar-benar gila. “…, Aku tahu dia seorang villain, aku tahu darimana dia berada dan bagaimana pandangannya tentangku. Aku tahu dia tidak pernah berusaha menyakitiku meski dia adalah seorang villain. Kami bertemu karena kami sama-sama kesepian, saat itu. Aku yang dikucilkan dari Enterprise karena kelewat tertutup, dan Invisible Black yang hidup menyendiri.

“Invisible Black percaya padaku, karena aku memercayainya. Meski terdengar konyol, tapi dia nyatanya memang seorang yang amat menarik, dan menurutnya aku juga begitu. Itulah kenapa kami akhirnya memutuskan untuk…” kalimatku terhenti begitu kusadari aku telah terlalu banyak mengutarakan isi pikiranku pada mereka berdua.

Tatapan keduanya sekarang menerorku. Somi dengan pandangan kekanakkan dan senyum sempurnanya, juga Johnny yang menatap tak percaya. Satu dari dua pilihan makna di balik pandangan mereka adalah: aku sudah gila.

Tapi kalimatku rupanya sudah membuatku sadar, tentang bagaimana caraku memandang Baekhyun dan menganggapnya ada. Tentang bagaimana Baekhyun menghargaiku dan menerima kemarahan sepihakku meski dia telah berusaha untuk menjelaskan segalanya padaku.

“Kenapa kau meninggalkannya? Dia akan sangat kesepian tanpamu.” Somi berucap, hampir saja kalimatnya membuatku menangis, sebab sekarang aku sadar, sebagai sesama NPC, mereka pasti saling memahami.

Selama ini Somi hidup di dalam sebuah Town dimana dia punya banyak orang yang memahaminya dan mengenalnya. Sedangkan Baekhyun hanya punya aku. Sekarang, aku malah membelakangi Baekhyun dan menjauhinya. Padahal aku tahu benar dia akan kesepian di tempatnya.

Baekhyun bahkan selalu sendirian. Sampai hatikah aku membiarkannya kembali menjadi seorang penyendiri hanya karena aku tidak bisa mengedepankan rasionalitas dan tidak bisa beradaptasi pada keadaan di dalam WorldWare.

Tempat ini bukan dunia nyata. Semua yang ada di dalamnya adalah fiksi. Bagi Baekhyun, eksistensiku di dalam sini juga sama fiktifnya dengan eksistensinya. Dia juga memandangku sebagai sebuah karakter. Dia bisa saja jatuh cinta padaku karena aku adalah sebuah karakter dalam permainan tempat dia hidup selama ini.

Mengapa aku tidak bisa berbuat sebaliknya?

“Baiklah, jadi kau sudah tahu kalau pairmu adalah seorang NPC, terlebih, villain. Dan aku sudah tahu benar kau tidak akan mau menyentuh apalagi melukainya barang seujung kuku pun. Aku juga tidak mau melukai NPC yang sudah kuciptakan, termasuk Somi.

“Jadi, kita harus buat list prioritas. Aku tidak mengenal NPC lain yang ada di sini. Somi, bisa kau buatkan list itu untukku dan Jiho?” Johnny kemudian berucap, dia tentu tidak menyadari kalau tadinya percakapanku dengan Somi sempat berubah jadi dua arah.

“Aku akan membuatnya, leader. Karena kalian sudah tahu aku adalah NPC, aku bisa bicara sesukaku, bukan? Aku tidak mau kalian membunuh NPC yang sejenis denganku. Tapi kalian boleh saja membunuh karakter antagonis NPC yang ada. Karakter antagonis ini bukan villain, jadi jangan khawatir, kalian tidak akan game over jika tidak berhasil mengalahkannya.

“Aku akan membuatkan list itu malam ini. Dan tolong, jangan beritahu NPC manapun jika aku lah yang membuat list itu. Kalian mungkin bisa hidup dengan bebas dan tenang saat keluar dari permainan ini, tapi kami tidak. Kami terikat, dan pengkhianatan yang terungkap sama saja dengan penghapusan sebuah karakter.”

Penjelasan Somi sekarang sungguh membuatku terperangah. Tidak kusangka dia bisa bicara dengan begitu santai mengenai siapa dia dan apa yang harus dan tidak harus kami lakukan. Padahal, dia adalah seorang NPC. Apa memang semua karakter NPC dalam WorldWare telah dibuat sehidup ini?

Aku harus menanyakannya pada Johnny nanti saat kami ada waktu berdua. Karena aku tidak bisa terus-terusan berlari dari—sebentar, mengapa aku harus berlari? Baekhyun bukannya memburuku.

Dia menungguku.

Dia menunggu aku kembali padanya dan memercayainya lagi. Dia membutuhkanku di sisinya karena bagi Baekhyun, kami sekarang terikat. Akulah yang pertama kali melemparkan diri pada Baekhyun dan jatuh hati padanya. Mengapa aku yang sekarang justru mencampakkannya?

Hanya karena dia seorang NPC? Padahal, dia juga menganggapku sama dengannya. Benar, bukan? Pemikiran NPC juga pasti ada batasnya. Dan mereka pasti tidak bisa membedakan karakter-karakter yang ada di dalam permainan ini sehingga batas antara nyata dan tidak nyata bagi mereka sangatlah samar.

Jika Baekhyun tetap menungguku, itu artinya dia menganggapku sama dengannya dalam permainan ini. Dan jika suatu hari orang-orang tahu tentang hubungan kami dan kebenaran di baliknya, aku bisa mengatakan dengan lantang kalau bukan manusia yang ada dalam permainan ini, melainkan karakter.

Kami semua, player yang masuk ke dalam WorldWare, telah berubah menjadi karakter yang serupa dengan para NPC. Kami adalah PC—player character, sedangkan mereka adalah NPC—non-player character. Benar, kami sama-sama karakter dalam permainan ini.

Jadi tidak akan ada yang bisa mencemooh kebersamaanku dengan Baekhyun. Dan itu artinya, aku masih bisa tetap bersamanya, bersenang-senang dalam sisa waktu empat hari yang ada sebelum aku kembali ke dunia nyata dan memikirkan lagi apa yang akan menjadi kelanjutan dari hubungan kami dalam permainan ini.

“Oh, itu suarnya!” perhatianku kembali terusik begitu kudengar Johnny bicara.

Dengan antusias, Somi mengikuti langkah Johnny—yang hendak meraih suar berbentuk tabung pipih berwarna silver di selipan sempit dua buah pohon yang berhimpitan. Tapi aku justru mematung. Dari maps bisa kulihat kalau Eden’s Nirvana tidaklah jauh dari tempatku sekarang berdiri.

“Johnny, Somi, boleh kutinggalkan kalian berdua? Ada urusan yang harus kuselesaikan.” aku kemudian berkata.

Johnny mendongak dari perhatiannya pada suar, sementara Somi melempar sebuah senyum penuh makna padaku. Usai memberi tanda ‘ok’ dengan tangannya, Johnny mengisyaratkan pada Somi untuk kembali mengikutinya.

“Sampai bertemu!” Somi berkata sambil melambai padaku, sementara aku membalas lambaiannya dengan antusiasme yang dibuat-buat.

Pandanganku kemudian tertuju pada jalan setapak di sisi kananku. Kubawa langkahku menyusuri jalan setapak tersebut, yang kemudian membuatku sampai pada sebuah pertigaan, dimana jalan lurusnya akan membawaku pada Eden’s Nirvana, tempat Baekhyun berada.

Segera, kubawa langkahku menuju Eden’s Nirvana, dari awal aku memang tidak pernah bisa mengabaikan Baekhyun. Kami bahkan baru berpisah beberapa jam karena alasan menenangkan diri yang kugunakan sebagai kebohongan saat detik ini aku bahkan sudah merindukannya.

Masa bodoh dengan ucapan tak masuk akal yang orang-orang katakan tentang perasaanku dan hubungan kami. Memang, jatuh cinta kadang bisa membuat kita buta. Dan ya, anggap saja sekarang aku sedang buta. Aku tak mau melihat batas perbedaan nyata yang membatasiku dengan Baekhyun.

Di mataku sekarang, kami sama. Biarlah aku menganggapnya begitu.

“Baekhyun!” aku memekik begitu berhasil masuk ke dalam Eden’s Nirvana, tapi tidak kutemukan Baekhyun dimanapun.

Eden’s Nirvana masih sama cantiknya seperti terakhir kali aku melihatnya, tapi tidak ada tanda-tanda Baekhyun ada di sini. Apa dia sedang berkeliaran di suatu tempat? Atau dia sedang diserang lagi?

“Aku pikir kau katakan kau ingin menenangkan diri. Apa kau butuh bantuanku lagi?” aku berbalik saat kutangkap suara familiar Baekhyun di dekatku.

Rupanya, dia berdiri di dekat pintu masuk—lokasi yang kuabaikan saat aku masuk—dan sekarang menatapku dengan gaya khasnya: bersandar di pohon dengan tangan terlipat di depan dada, senyum kelewat menawan, dan tatapan menghanyutkan.

“Aku merindukanmu,” lirihku membuat senyum Baekhyun sontak menghilang. Sekarang, aku justru ragu untuk mengutarakan apa yang aku rasakan padanya.

Karena Baekhyun sudah mengira jika sesuatu terjadi lagi, dan aku mencarinya hanya karena aku membutuhkan bantuannya. Padahal tidak, aku memang mencarinya. Aku menyerah pada egoku yang ingin sekali aku meluapkan kemarahan karena mengetahui fakta tentang Baekhyun yang merupakan seorang NPC.

Tapi aku tidak bisa, Baekhyun kelewat menjadi candu bagiku.

“Kau apa?” tanyanya, kini Baekhyun melangkah mendekatiku, sementara dia menungguku buka suara lagi.

“Aku sangat merindukanmu, Baekhyun…” ulangku.

Langkah Baekhyun terhenti, sebuah senyuman lagi-lagi terukir di wajahnya saat dia menyadari kalau kedatanganku ke sini bukan untuk meminta bantuannya, melainkan mencarinya, benar-benar mencarinya.

“Apa kau akhirnya kembali padaku?” tanya Baekhyun kujawab dengan sebuah anggukan. “Ya, betapa kerasnya usahaku merasa marah padamu, atau menjauh darimu, pada akhirnya kau membuatku kembali padamu lagi, Baekhyun.”

Deretan sempurna geligi Baekhyun akhirnya muncul saat mendengar kalimatku. Dia kemudian melangkah ke arahku, menarikku ke dalam rengkuhannya, lagi. Dan kali ini, kubalas rengkuhannya dengan sama erat, dan ya… salahkah aku jika aku terlena karena kontak fisik kami yang terasa begitu nyata sementara eksistensi sosok yang kurengkuh ini tidaklah nyata?

“Oh, aku sungguh tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya aku jika kau tidak ada, Jiho. Aku sangat takut kau akan pergi dariku.” Baekhyun berucap selagi jemarinya mengusap puncak kepalaku, dia eratkan kedua lengannya di tubuhku begitu aku menenggelamkan diri di pelukannya.

“Aku tidak akan meninggalkanmu, kau tahu itu.”

“Aku tahu, aku tahu.” Baekhyun berkata, kini Baekhyun melepaskan pelukannya, kedua telapak tangannya kemudian bersarang di bahuku, sementara Baekhyun—

—ah… apa dia baru saja memberiku sebuah kecupan di kening? Ya, dia baru saja mengecup keningku. Baekhyun… apa dia tidak tahu kalau tindakannya sekarang sudah membuat jantungku melompat tidak karuan?

Biarlah aku menjadi gila sesaat, biarlah aku terus berdelusi. Tapi Baekhyun terlampau manusia untuk tetap kuanggap sebagai sebuah karakter. Bagaimana aku bisa menganggapnya sebuah karakter sementara semua tindakannya adalah tindakan seorang manusia?

“Terima kasih, karena kau memilih untuk tidak meninggalkanku.”

— 계속 —

IRISH’s Fingernotes:

Sek, tarik nafas-hembuskan, tarik nafas-hembuskan.

Aku udah kayak ibuk-ibuk lahiran bukaan lengkap saat ngetik chapter ini. Gonjang-ganjing sendiri kokoro aku rasanya. Mau kutambah gitu penderitaan mereka, tapi mereka udah enggak bisa lebih menderita lagi dari ini, kayaknya. Serius, itu penderitaan udah mentok loh ketika jatuh cinta sama seseorang yang bahkan gak bisa disebut sebagai seseorang.

Bener kata Jiho, mending sama vampire, daripada sama NPC, gimana mau bersama? Memangnya Jiho mau selamanya idup di dalem game? Enggak, kan? Itu nafkah lahir-batin juga apa kabar kalo sama NPC, mbajiho?

Kisahnya, empat puluh menit pertama saat ngetik ini chapter, jari aku udah kayak balapan sama lagu yang aku dengerin, kenceng banget sampe si adek—yang nonton drakor pake laptop satunya—kuatir keyboard laptopku bakal mencelat lepas saking kencengnya aku ngetik.

Kemudian, empat puluh menit kedua aku habiskan dengan bermual ria kayak ibu hamil muda akibat adek di sebelahku yang dengan santainya makan sate biawak—fyi, lately adek sudah terinfeksi kebiasaan aneh yaitu dia doyan sate biawak dan please banget, dia rutin beli sate biawak saking doyannya, aku tuh mau nangis, tau!—akhirnya aku bolak-balik ke kamar mandi buat muntah. Persis kayak orang hamil, cuma gara-gara ngeliat pemandangan orang makan sate biawak doang (sementara saat aku muntah itu adek ketawa dengan jahatnya!).

Empat puluh menit ketiga aku udah bisa bernafas lega, karena adek udah kelar sama biawaknya, dan aku mandi seger buat ngilangin aroma biawak yang mungkin menempel. Tapi berkat bayangan mengerikan wujud sate biawak aku jadi enggak se-AKAS awal tadi ngetiknya. Apalagi empat puluh menit ketiga itu bagian seru si yang Johnny-Somi-Jiho ke bawah.

Nah, sepuluh menit terakhir aku kena sawan lagi gara-gara pas isi ulang air—kan aku jarang bergerak dalem kamar, jadi di kamar sedia dua botol akua isi 1,5 liter yang aku isi ke dapur kalo abis, biar hidup sehat dengan air, yes!—di tempat sampah yang ada di dapur kelihatan itu mayatnya biawak! Syid.

Untung aja sepuluh menit ini tinggal editing aja, sama perbaikin typo-typo. Sama ngetik fingernotes. Tapi ini sumpah pas ngetik fingernotes aku mual lagi isi perut rasanya udah di ujung kerongkongan, padahal isinya perut mah air doang.

Ya udahlah, berhubung aku mau ngilangin mual dengan minum obat dan setelah minum obat dijamin bakalan tepar—efek ada ctmnya—jadi aku sudahi saja fingernotes ini sebelum jadi makin overload.

Selamat menyambut hari Senin, tetep semangat beraktifitas ya gengs (aku udah kayak mbak mimin ya, lol).

Ps: aku baik, kan? Aku udah publish dua chapter minggu ini, yeay!

Pps: aku lupa belum salam kecup, mwah!

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

59 tanggapan untuk “GAME OVER – Lv. 22 [The Real Leader] — IRISH”

  1. Untung aku bukan jiho,ngenes banget nasibnya. Sekali jatuh cinta eh malah sama karakter dalam game(eh.inget nasib aku sendiri,seorang jomblo.eh malah curhat).
    Tapi kalo difikir2>> kalau game ini selesai

    1. Untung aku bukan jiho,ngenes banget nasibnya. Sekali jatuh cinta eh malah sama karakter dalam game(eh.inget nasib aku sendiri,seorang jomblo.eh malah curhat).
      Tapi kalo difikir2>> kalau game ini selesai,jiho bisa muvon(mungkin)dengan adanya game2 lain. Tapi kalau bakhyun?dia bakal tetep hidup sampai kapanpun meskipun game ini udah berakhir kan?(iya nggak sih kak?). Dan kalau itu emang bener,berarti cabe gue lah yang paling ngenessss disini…huhuhu (sini baek aku mau jadi bawang mu,biar kita bisa jadi sambal baladohh/apaan sih ini/)
      Maapkun aku kak,ini kalau aku nulis komentar suka eror hp nya

  2. Kak irish aku mau curhat dikit pas baca cerita ini wkwkwkw
    Awalnya cuma iseng2 baca 1 level. Tapi krn dari awal Baekhyunnya udah agresif jadi greget sendiri.akhirnya next, ga terasa 2 jam udah lewat utk baca sampe level 20. Bener2 bikin berdebar2. Maaf ya kak kalau baru muncul di komen.. terlalu asyik tekan level berikut sampai lupa komen :”)
    Kak irish jjangggggg

  3. Annyeong eon, udah lama banget gak baca ff ini karna sibuk, jadi baru sempat nerusin baca sekarang deh😁
    waaah, ffnya moment-nya terus buat deg degan ya eon, aku juga sampe senyum senyum sendiri😆
    Yang terpenting ff eonni makin daebakkk!!👍👍👍
    keep writing eon, love you!

  4. Jiho ga apa kamu jatuh terus sama pesona nya Baekhyun, karena pesona nya Baekhyun emang ga bisa di tolak Jiho 😂
    Apa di sini cuma Johnny aja yg kerja di NG Game Factory yg main Worldware, atau ada yg lain juga ? Penasaran aku 🤔
    Semangat terus buat ka Irish 😊

  5. Jiho ga apa kamu jatuh terus sama pesona nya Baekhyun, karena pesona nya Baekhyun itu emang ga bisa ditolak Jiho 😂
    Apa di sini cuma Johnny aja yg kerja di NG Game Factory yg main Worldware, atau ada yg lain juga ? Penasaran aku 🤔
    Semangat kak Irish ^^

  6. ga tahan mau ngomen aaaaaaa, ga bisa apa si cabe dijadiin programmer ae, aku gemesh ya Allah aku baperrrrr, rencanany mo komen d lv 24 ae krn aku dh late bgt ni baca ny tp aku ga tahan mo ngomen, itu beneran adek kak irish suka sate biawak??
    oww emm jiii

  7. Dear Irishnim,

    Udaahhh..,. dijalanin aja.
    Toh Mas Cabeku udah gak beda jauh sama LIV. commandnya udah termutasi, jadinya punya kesadaran. Well who knows, nantinya Baek bakal kek Liv, ada tubuh inangnya gitu ato gimana…

    yang penting kan hepi.
    ekekekke…

    Hati aku lelah bacanya, di gonjangganjingkan melulu mereka . Tapi kok aneh nya masih sakaw nih…

    Thank you banget Irishnim, kesedihan dan kegilaanku gegara lvl 20 mulai diredakan dengan lvl 22 ini.
    Baek banget deh…

    Ta’ tnggu lanjut yah..

    Himnebuseyo~~

    Sincerely,
    Shannon

    1. XD kayaknya khusus si cabe baekhyun engga ada pengecualian kayak Liv deh kak shan wkwkwkwk aku masih belum mau berbaik hati berbagi kesadaran ke si cabe XD

    2. Dear Irishnim,

      Yee, kan kata Mas Cabe kesadarannya jadi muncul gegara commandnya di utak atik sama taehyung. Ahya, seterahlah.

      Tapi kejamnya niannnnn….
      belum kepikiran yah, semoga nanti kepikiran sesuatu yang manis lah seenggaknya. ekeke

      kan kalo di bikin ada tubuhnya kek liv jadinya udah ketebak kek liv juga kan. Just surprise me lah….

      Himnebuseyo~

      Sincerely,
      Shannon

  8. Nafkah lahir batin XD wkwk kok yunmi ngakak ya
    wew sate biawak, jadi kepo pengen nyoba kak XD boleh tanyain adeknya sate biawak yg recomended beli dimana?
    yunmi telat T~T padahal minggu nungguin tp kok belom ada, eh ternyata udah ada T~T

    1. itu kan emang bener ya nafkah lahir batinnya harus dipertanyakan XD wkwkwkwkwkw enak katanya adekku, dia beli di deketnya stasiun, tapi kataku itu sangat mengerikan karena bentuk biawaknya terbayang di dalam benakku XD

  9. Ngebut bacanya dan aku memutuskan untuk komen di level ini…. iyy aku adalah salah satu silent raider yg populasinya mesti di musnahkan itu… sebenernya udah mau komen soalnya banyak banget pertanyaan dan kebingungan dalam cerita ini apadaya aku cuma pernah mainin game onet sama game masak jadi gatau game jenis ginian 😁 tapi di urungkan lah niatan itu karna takut di ledekin ,di salahin, dan di caci karna udah jadi siders 😣maafkeun diri ini thor 😅aku memutuskan buat nerima semua kemungkinan itu dan ngeberaniin diri buat komen itu karna di game over ini aku di buat ngerasa di khianati secara nyata /halah/ bukan mau sombong tapi prediksi aku di sebuah cerita, komik,atau film itu kemungkinan benernya itu sekitar 40% lah /40% aja bangga/ tapi di game over semua itu salah 😭dari mulai baekhyun itu yg bikin worldware terus baekhyun yg bakal ketemu sama jiho di dunia nyata, termasuk sama laki laki yg pake setelan jas itu juga semua SALAH… kejam sekali thor yg bikin kepercayaan diri ini prediksinya bakal bener ternyata di hadapkan pada kenyataan yg berkebalikan 😢 walahh maafkeun karna komen siders ini kepanjangan. Mulai sekarang tomat ehh tobat deh jadi siders biar ga di musnahkan 😁

    Tolong kasihani jiho thor jangan sampe akhirnya ga bisa bahagia, buat lah dia bahagia biarpun ga sama baekhyun 😳

    1. XD buakakakaka alhamdulillah ada yang ga mabok habis baca ngebut yah XD sek sek tolong, ini kenapa onet harus dimention XD kan aku juga doyan onet tauukkk XD wkwkwkwkwkwkkwkk
      iya gapapa, aku terima permohonan maafnya dan salam kenal juga makasih karena udah memutuskan buat muncul XD XD
      BUAKAKAKKAKAKA, AKU BISA BANGGA DONG KARENA UDAH NGEHANCURIN 40% ITU YAH XD XD XD rasanya menyenangkan sekali karena udah bisa bikin twist begitu banyak di dalem cerita ini XD wkwkwkwkwkwk makasih yaaa ~~

  10. Udah deh baekhyun itu harus dikeluarin noh dari game, biar gak bikin anak orang baper terus. Kasian jiho kasian aqoo jugak :”” aku tuh gak kuad diginiin :”””

  11. Aku gamau kasih saran, ini pokoknya harus lanjutin lagi. Gaada yg perlu di saranin (ngomong apa se –) intinya aqoo menunggu selanjutnya wqwqwq
    Btw, aqoo ngakak dg biawak :”v aqoo receh. Maap :””

  12. Ini Ji Ho yang dipeluk, yang dicium, tapi kok ane juga ngeras deg2an sih?? Hayohh kak Rish tanggung jawab udah buat jantung anak orang meledak2 ga karuan.

  13. Diriq ginjal2 waktu asik2 baca part jiho n baekhyun peluk2an tiba2 udah 계속 aja..
    Ugghh.. emang kalo udah jatuh cinta g kenal sama logika..
    Lumayan lah, cukup mengobati sakit hati di lvl2 sebelumnya.. 👌👍

  14. Ya ampun ini dah post! Kalo ak gak liat most visited, pasti gak bakalan tau deh kalo part 22nya udah post. Di notif ak tenggelem karna ff freelance yg bermunculan.

    Ya elaa nasibnha si jiho. Udah jomblo di dunia nyata. Pas jatuh cintany di game sama NPC Villain pulaaa. Cup. Cup. Yang sabar yaaa. Cuma perlu menikmatinya saja walo bakal berasa sakit banget nantinya. Hiks. Hidup LOVE IS BLIND!!!!

    Note : makanya bek, kalo punya muka dibiasain ajah. Gak usah di lebay lebayin gantengnya. Kesian kan para virginity macem kita jadinya kesengsem

    Note (2) : rish lain kali kasih tendangan cinta sama adek lu kalo makan yg antimainstream lagiiih

    Note (3) : itu si johnny kece yaaa. Cucok deeeh.. .

    1. XD buakakakkakka iya aku baik update dua kali seminggu sekarang, biar cepet berakhir penderitaanku ini XD wkwkwkwkwkwkwkwk jiho itu udah sabar banget loh, demen sama NPC dilanjut aja sama dia XD
      ihh, aku juga pengennya nendang dia pas dia makan itu sate, tapi apa daya dia adekku juga, sama abnormalnya sama eyke

  15. Aku gatau harus berkata apa. Kalau aku jadi Jiho aku akan sepemikiran sama dia. Dan pepatah yang bilang kalau cinta itu buta memang ada dan banyak kasusnya wkwkwk.. Aku beneran ga ada saran buat selanjutnya.. Aku cuma mau mereka hidup bahagia walaupun tidak bersama. Fighting!!!! ^

  16. yeeeeyyy biar kata sma NPC gak pp mba jiho, ntar dipikir lagi wae…
    puas2 bermesra2 ria mumpung terasa nyata hahahaha
    entar abis survival mode aja galau lagi😂😂😂

    jahat kah ak, kalo ngetawain ka irish??

  17. aku pada dirimu lah rish, seneng ngeliat Game Over up smpai dua kali.
    Diriku gak bisa berkata apa2 lg. Jiho miris bener hidupmu, duh rish mw kmu buat semenderita apalg Jiho dsni. Yah, gimana y Baek kelewt bkin baper anak orang sih -_-

  18. Kak irish baik dehh.. Upload dua chapter sekaligus kkkkkk, bikin makin sayang sama baekhyun nihh.. :33 menunfgu chap selanjutnya nih kak wkwk, semangattt

  19. bwakakak udah kak udah cukup deritanya sampe disini aja.kasian jihonya/dankasianjugabuatparareadersmu/ 😀

    ini bukan hanya jiho aja yang ngerasa gitu,aku juga terpesona sama sifat bekhyun yang kelewat manusia.diriku tu mencak² gak jelas di kamar gegara tidakan cabe padahal di sampingku posisi ada adek ku yang lagi nonton drakor/ceritanya agak sama kak tapi adek ku gak lagi makan sate biawak wkwk / dan ya.. aku di bilang gila tiba² akibat masalah senyum,jejeritan sendiri gak jelas.well kuharus bagaimana mengambarkan bekhyun di Epep maupun di MV yang selalu aja keliatan vangsat di mata T_T

    1. sabar, sabar, penderitaannya masih bakal ada sampe chapter 30 XD itung2 aku bales dendam sama pembaca yang memilih bersembunyi dulu wkwkwkwkwkwkwk XD EH TOLONG, memang ya kadang ff itu bisa bikin mencak2 padahal ya nonsense banget isinya XD wkwkwkwkwk

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s