One and Only – Spin Off #5 [final] — IRISH’s Tale

|   ONE AND ONLY   |

|   Spin Off Story   |

|  Sehun x Mina  |  Adventure x Fantasy x Life x Science Fiction  |

|  Chapterred  |  Teen  |

|  by IRISH  |

—  not about the war, it’s about surviving  —

Reading list:

〉〉  Prologue — Chapter 1 —  Chapter 10 | Chapter 11 —  Chapter 20  〈〈

⌈  SPIN OFF 1 — SPIN OFF 2 — SPIN OFF 3 — SPIN OFF 4 — [NOW] SPIN OFF 5 ⌋

♫ ♪ ♫ ♪

In Author’s Eyes…

Dua hari Sehun dan Mina habiskan untuk mengikuti pergerakan sekelompok Humanoid yang bergerak dengan menggukana homecar. Menurut Mina, kelompok kecil Humanoid yang juga menahan beberapa orang manusia bersama mereka itu pastilah tengah merencanakan sesuatu yang Mina khawatirkan bisa berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia yang dibawa Humanoid lain yang Mina awasi.

Ingat, Mina sekarang jadi seorang Humanoid yang menaruh perhatian penuh pada eksistensi seorang Humanoid lain bernama Grey yang entah bagaimana ada di dalam commandnya meskipun Mina sendiri tidak mengenal Humanoid itu.

“Menurutmu mereka akan pergi kemana?” tanya Sehun ketika keduanya beristirahat di mulut hutan, kantuk sebenarnya sudah menyerang Sehun sejak tadi. Namun Mina yang terus terjaga dan mengawasi penginapan beberapa ratus meter dari mereka itu akhirnya membuat Sehun merasa tidak nyaman jika harus tidur.

“Tidurlah Sehun, aku tahu kau lelah.” kata Mina, maniknya masih lekat mengawasi tempat yang sama. Mengingat Mina sama sekali tidak membutuhkan tidur atau istirahat, tidaklah sulit bagi gadis itu untuk tetap terjaga dan waspada terhadap keadaan di sekitarnya meski Sehun terus-terusan mengajaknya bicara.

“Bagaimana aku bisa tidur sementara kau terus melotot seperti itu?” kata Sehun, mengingatkan Mina kalau sejak tadi si gadis sudah memasang ekspresi kaku yang lama kelamaan terkesan menyeramkan juga, meski tetap saja Mina terlihat cantik.

“Jangan bercanda, cepatlah tidur karena esok hari kau tidak akan punya waktu untuk tidur.” Mina mengingatkan Sehun, kalau esok hari mereka akan melewati jalanan yang lebih tidak nyaman lagi.

Sehun tidak mungkin bisa tidur di mobil jika Mina sudah menyetir gila-gilaan.

“Itulah mengapa aku katakan kita tidak perlu tergesa-gesa. Mereka juga tidak menaruh curiga sama sekali pada kita meski kita kadang mengendarai mobil ini dalam jarak yang dekat pada mereka, bukan?” Sehun berkelakar, dia ingat beberapa kali mobil yang dinaikinya dengan Mina pernah berpapasan bahkan berada dalam satu jalur sejajar dengan homecar yang mereka ikuti.

Tapi tidak ada hal buruk yang terjadi. Dan Sehun yakin benar orang-orang di dalam homecar itu tidak menduga kalau ada oknum yang mengekori mereka juga.

“Kita harus tetap waspada, Sehun. Aku tidak tahu orang macam apa yang ada di dalam homecar itu, siapa manusia-manusia itu, dan apa tujuan mereka melakukan perjalanan ini. Dari sensorku jelas kuketahui kalau manusia-manusia itu berada di bawah tekanan.

“Mental mereka tidak lagi sehat, tapi mereka terlihat baik-baik saja begitu kupandang wajah mereka. Ini aneh, seharusnya mereka terlihat ketakutan atau khawatir, dengan tanda vital yang tidak karuan itu. Tapi mereka justru terlihat kelewat tenang.”

Sehun hanya memicingkan mata kala mendengar perkataan Mina yang meluncur begitu saja dengan cepatnya, tanpa bisa dihentikan. Kantuk yang mendominasi agaknya sudah membuat kinerja otak Sehun tidak lagi optimal sehingga pemuda bermarga Oh itu butuh sepersekian sekon untuk mencerna semua kalimat Mina beserta makna di baliknya.

Namun, satu menit telah berlalu dan Sehun masih bergeming. Rupanya pemuda itu masih tidak menemukan kalimat yang tepat untuk dia berikan sebagai respon atas kalimat panjang-lebar yang Mina ucapkan padanya.

“Sudahlah, percuma bicara denganmu saat kau sedang mengantuk.” Mina menyerah, dia tentu sudah hafal benar bagaimana kebiasaan Sehun—yang kalau mengantuk tak akan bisa diajak bicara karena fokusnya sudah berlari ke alam mimpi.

“Aku sungguh mengantuk, tapi melihatmu terus terjaga seperti ini malah membuatku merasa bersalah karena harus—”

“—Apa aku harus menyuntikkan beberapa obat medis padamu? Supaya kau tertidur pulas seperti saat-saat dimana kau sering terkena insomnia?” Mina memotong perkataan Sehun, sontak mengingatkan Sehun pada waktu berat yang pernah dilaluinya dengan penuh injeksi obat-obatan penenang dari Mina karena Sehun memang kesulitan tidur setiap malamnya.

“Tidak perlu repot-repot, sebentar lagi aku juga akan tertidur dengan sendirinya.” ucap Sehun.

Keduanya lagi-lagi melalui waktu dalam keheningan, yang akhirnya membuat Sehun menyerah pada kantuknya dan memilih untuk menenggelamkan diri di balik balutan selimut tebal yang Mina bawa—untuk Sehun, tentu saja.

Kurang lebih selama setengah jam Mina biarkan Sehun terlelap, sampai gadis itu akhirnya mendengar dengkur halus Sehun yang sudah jadi nada menenangkan bagi Mina selama bertahun-tahun.

Bagaimana tidak, selama bertahun-tahun Sehun diserang insomnia dan dengkur semacam ini baru bisa Mina dengar begitu dia menginjeksikan beberapa obat penenang pada Sehun. Tapi sekarang Sehun bahkan bisa terlelap tanpa adanya obat-obat itu.

TOK! TOK!

Mina menoleh kala didengarnya dua ketukan di kaca pintu mobil yang berada di sisinya. Sekarang, tampak seorang gadis berambut pirang berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku mantel yang dia kenakan.

Lekas Mina melepaskan seatbelt yang sejak tadi terpasang di tubuh, dengan hati-hati dia kemudian melangkah keluar dari mobil, menemui gadis berambut pirang tersebut.

“Apa kabar?” tanya si gadis berambut pirang.

“Baik-baik saja, bagaimana denganmu Momo? Sulit sekali bagiku untuk menemuimu.” kata Mina berkelakar.

Gadis Humanoid bernama Momo itu tersenyum simpul. “Aku tidak sedang berada dalam situasi aman. Apa kau butuh bantuanku? Kuperhatikan beberapa hari ini kau mengikuti kami.” kata Momo, rupanya gadis itu tahu jelas apa yang sudah Mina kerjakan selama beberapa hari terakhir.

“Hmm, ya, kau tahu tentang Humanoid yang entah mengapa ada dalam sistemku. Aku mengikutinya, tapi kemudian aku bertemu denganmu dan kelompok aneh yang bersama denganmu. Siapa mereka sebenarnya?” tanya Mina lantas membuat Momo menghela nafas panjang.

Humanoid yang kau maksud pergi bersama dengan seorang Outsiders. Beruntunglah mereka pergi, keadaan di sini sudah menggila. Ada dua orang servicer di dalam homecar itu, dan dua orang manusia sudah diberi null-system sehingga mereka tidak lagi mengingat apapun.

“Kedua manusia yang ada di sana sekarang jadi seperti orang linglung. Aku sendiri harus berpura-pura tidak tahu apa-apa dan memihak pada mereka. Mereka punya kenalan yang sekarang juga tengah bersama dengan Humanoid yang kau cari.

“Daripada mengikutiku bukankah lebih baik kalau kau mencari tujuanmu saja Mina? Aku takut servicer di dalam sana menyadari keberadaanmu. Kau tahu aku pasti tak akan tinggal diam kalau sesuatu terjadi padamu. Tapi aku bertahan di sini untuk memastikan nyawa dua orang manusia itu aman.”

Kali ini giliran Mina yang memamerkan senyuman. Dia tahu inilah Momo—rekannya—yang selalu dia kenal. Memedulikan keadaan orang lain dan menomor duakan keselamatannya sendiri.

Momo bahkan menyadari keberadaan Mina tapi tetap memilih bungkam.

“Apalagi kau bersama dengan Ownermu, akan berbahaya bagi kalian berdua.” lagi-lagi Momo buka suara, rupanya dia juga mengkhawatirkan keselamatan Sehun dan Mina.

“Aku tahu. Aku juga tidak berniat untuk terlibat terlalu jauh. Kupastikan saja apa tujuan command ini ada di dalam diriku, kemudian aku akan membawa Ownerku menjauh dari kekacauan ini.”

Akhirnya, seulas senyum samar muncul di wajah Momo.

“Keputusan yang bagus, kalau begitu lekaslah beristirahat. Kami akan pergi esok hari sebelum matahari terbit.” kata Momo, lantas dia melempar pandang sejenak ke arah sosok pria yang tampak tertidur pulas di kursi samping kursi kemudi. “…, Jaga dia baik-baik, Mina. Aku tahu dia adalah manusia paling berharga bagimu.”

Mendengar ucapan Momo, Mina hanya bisa tersenyum muram.

“Sayang sekali aku mungkin tidak berarti banyak baginya. Sudahlah, kau sebaiknya kembali ke dalam sana sebelum seseorang menyadari tidak adanya dirimu.” kata Mina kemudian.

Momo kemudian merengkuh tubuh Mina sejenak sebelum dia melangkah pergi meninggalkan mobil tersebut. Mina sendiri memilih mengawasi kepergian rekannya tersebut dalam diam.

Mina mungkin tidak tahu, jika sosok yang sejak tadi dikira tertidur, sebenarnya masih terjaga dan mampu mengendalikan tanda vital pada tubuhnya sendiri. Ya, Sehun sebenarnya terjaga.

Dia bahkan mendengar semua yang Mina bicarakan bersama dengan Momo.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Tidak banyak kalimat terucap dari bibir Sehun begitu esok harinya dia melanjutkan perjalanan dengan Mina. Diam-diam pria itu sudah banyak berpikir, terjaganya Mina semalam bukan sekedar karena dia merasa waspada, tapi juga karena dia punya tujuan lain yang baru bisa dia realisasikan begitu Sehun tidak ada.

Dan setelah mendengar semua yang Mina bicarakan bersama Momo, timbul rasa curiga sekaligus khawatir dalam batin Sehun. Dia mungkin tidak memahami konversasi dua Humanoid itu secara keseluruhan, tapi dia bisa menangkap garis besarnya.

Mina tahu lebih banyak dari yang dia beritahukan pada Sehun. Mina tidak benar-benar berniat untuk terlibat dalam masalah ini, berlawanan dengan yang dia ucapkan saat menggoyahkan keinginan Sehun untuk kembali ke Edinburgh.

Apa yang sebenarnya Mina rencanakan?

Tanya itu berulang kali menggema dalam pikiran Sehun, tapi tidak juga bisa dia utarakan. Sebab sekarang dia tahu benar kalau Mina telah pandai berkata dusta. Sehun tidak lagi bisa memercayai semua yang Mina ucapkan, sebab sebagai Humanoid gadis itu nyatanya bisa mengucapkan kebohongan selayaknya manusia.

Dan Sehun tak ingin terjebak dalam kebohongan yang mungkin akan Mina ucapkan lagi untuk membuatnya percaya. Sehun tidak bodoh, dan di saat genting begini, dia pun bisa memikirkan apa yang sebaiknya dia lakukan.

“Mereka berbelok keluar dari jalur,” Mina tiba-tiba saja berkata begitu mereka melewati hutan dengan temaram bulan yang jadi satu-satunya pencahayaan.

Mengingat Mina sudah mematikan lampu mobil mereka untuk meminimalisir kecurigaan kelompok yang tengah diikutinya, Sehun hanya bisa mengiyakan saja saat Mina memutuskan.

“Cahaya di depan sana, sepertinya ada perkelahian.” Sehun berkata begitu dilihatnya beberapa kali kilatan cahaya juga samar-samar suara jeritan dari kejauhan.

Homecar yang kita ikuti sudah semakin menjauh, Sehun.” kata Mina, tapi berkeras pada egonya, kali ini Sehun rasa mereka seharusnya berbelok ke arah yang berlawanan dari homecar yang mereka ikuti.

“Tidak, Mina. Ayo dekati perkelahian itu.” putus Sehun.

Sontak Mina menatap Sehun tak mengerti. Setahunya, Sehun tak pernah benar-benar peduli pada urusan orang lain. Dan sekarang, tiba-tiba saja Sehun ingin melihat sebuah perkelahian yang dari pindaian sekilas Mina saja sudah jelas gadis itu ketahui kalau perkelahian di depan sana melibatkan Humanoid dan manusia.

“Bisa saja di sana justru penuh dengan bahaya, Sehun. Pertimbangkan dulu baik-baik. Tidakkah kita sebaiknya tetap konsisten di jalur yang—”

“—Tidak, Mina. Dekati tempat itu, sekarang.” titah Sehun sekarang sungguh tidak terbantahkan.

Mina pun akhirnya hanya bisa mengikuti kemauan Sehun dengan pasrah. Percuma juga berdebat dengan Sehun karena pada akhirnya Mina juga pasti akan mengalah. Gadis itu pun akhirnya membawa laju mobil mereka ke arah sumber suara yang nyatanya semakin mereka dekati, semakin terdengar begitu berisik.

“Kita tidak bisa lebih dekat lagi, aku tidak mau kita menjadi sasaran empuk mereka hanya karena kita dilihatnya terlibat.” kata Mina, dihentikannya mobil di dekat pepohonan yang ada di hutan, sementara Sehun sekarang memicingkan pandangan, berusaha menangkap adegan perkelahian tidak imbang yang berlangsung cukup mengerikan itu.

Jelas Sehun bisa melihat bayangan seorang gadis yang sekarang mengambang di udara, hal yang akhirnya membuat Sehun memutuskan untuk melangkah keluar dari mobil dan membawa tungkainya untuk melangkah mendekati tempat tersebut.

“Sehun!” himbauan yang Mina berikan bahkan dia abaikan. Mina pun kemudian mengekori langkah Sehun. Bukan karena dia tertarik pada perkelahian itu, tapi karena dia harus pastikan Sehun baik-baik saja karena tindakannya sekarang.

“Apa yang kira-kira mereka ributkan?” tanya Sehun, diam-diam dia taruh dirinya di antara pepohonan kelam yang kalau dilihat dengan pandangan manusia tentu saja tidak akan terlihat.

Tapi keberadaan Mina di dekatnya sekarang sama sekali tidak membuat Sehun merasa takut ataupun ragu-ragu. Beberapa konversasi terjadi selagi Sehun mengawasi, dan tubuh gadis manusia yang tadi mengambang di udara itu sekarang terhempas ke tanah, sontak membuat seorang Humanoid di sana bergerak.

“Aku tidak mengerti. Apa yang sebenarnya terjadi di sini…” Sehun menggumam, dia butuh mengikis jarak jika ingin mendengar konversasi di depan sana.

Sedangkan Mina mencegahnya. Mina tak ingin seseorang menyerang Sehun hanya karena menyadari keberadaan Sehun di sana. Tapi sikap keras kepala Sehun juga tidak ada tandingannya.

Yang ada, Mina justru ikut terseret oleh Sehun yang sudah mengikis jarak dengan arena perkelahian yang beberapa menit lalu terjadi. Keadaan di sana ternyata sudah berubah jadi begitu mengerikan.

Humaoid wanita berparas sempurna yang tadi Sehun lihat rupanya tengah sibuk bicara, tapi Sehun masih juga tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Jadi, Sehun lagi-lagi mengikis jarak—hal yang membuat Mina terkejut bukan main karena tiap langkah yang Sehun ambil untuk mendekati ruang mengerikan itu adalah sebuah ancaman.

“Sekarang, manusia sudah semakin mengancam kita. Setiap bayi yang baru lahir, akan diberikan Nuclear Cells dengan injeksi, tanpa orang tua mereka tahu. Dan setiap anak kecil di dunia ini adalah ancaman. Sedangkan… kita semua tahu command apa yang ada dalam tubuh kita, bukan?

“Wanita dan anak-anak adalah prioritas keselamatan. Bagaimana mungkin aku dan yang lainnya bisa membunuh anak-anak sementara mereka adalah prioritas? Meski kalian menilaiku sebagai pembunuh… tapi aku tidaklah jauh berbeda dengan pasukan militer milik manusia.

“Aku, dan Humanoid lain yang bergerak untuk membunuh manusia dengan Nuclear Cells, adalah pasukan militer para Humanoid. Kami bukannya berniat membunuh, tapi berusaha melindungi bangsa kami.

“Dan bukannya tindakan kami ini keji, tapi… bukankah manusia juga melakukan hal yang sama? Membunuh manusia lainnya demi melindungi kelompok mereka?”

Sehun tercengang. Kalimat yang baru saja didengarnya dari wanita berparas sempurna yang jelas-jelas seorang Humanoid itu sungguh menjadi kalimat paling mengejutkan yang pernah Sehun dengar.

Kalimat itu bahkan terdengar lebih menyeramkan daripada pemecatan yang pernah Sehun terima dua tahun lalu.

“Dia… ada di sana.” Sehun tersadar saat kemudian didengarnya Mina menggumam, manik gadis itu sekarang tertuju pada seorang Humanoid pria dengan lapisan plasma yang menyelubungi tubuhnya.

Jelas sudah Sehun tahu dia telah mengambil keputusan dengan tepat. Apa yang mungkin akan terjadi kalau mereka membuang waktu dan dengan bodohnya hanya mengekori homecar berisi orang-orang mencurigakan yang tidak bisa dipercaya dan tidak juga diketahui tindak-tanduknya?

“Dia Humanoid yang kau maksud?” tanya Sehun kemudian.

“Ya, dia, Humanoid yang bersama dengan gadis manusia itu.”

Sehun terdiam sejenak. Dia lantas kembali menyarangkan fokus pendengarannya pada perang mulut yang terjadi di depan sana.

“Kalau saja ada pilihan yang lebih baik, kami sudah pasti melakukannya. Seperti yang selama ini selalu terjadi, kami membunuh manusia-manusia dengan Nuclear Cells dalam tubuh mereka, dan memasang radar bertimer yang dua hari kemudian akan membuat Humanoid manapun di sekitar tubuh mati mereka datang untuk menghidupkan mereka kembali.

“Tapi selama ini yang terjadi hanyalah kegagalan. Selama dua hari itu, tubuh mati manusia tak pernah bisa bertahan. Kalaupun bertahan, mereka akan membawa cacat permanen yang kemudian membuat mereka membenci kita. Bukannya berterima kasih karena kami sudah menjadikan kehidupan mereka lebih baik tanpa adanya ancaman diburu oleh Humanoid, mereka justru berbalik menyerang.

“Mereka melaporkan tindakan kami pada Sentry. Itu juga… yang membuat Humophage diburu. Karena manusia pikir semua ini adalah ulah Humophage. Mereka, tidak tahu kalau sebenarnya semua Humanoid… adalah Humophage yang masih memiliki perintah.”

Pandangan Sehun sekarang bersarang pada Mina, ingin melihat reaksi gadis itu tentang pembicaraan yang sekarang juga didengarnya dengan jelas.

“Sehun, kita sebaiknya pergi dari tem—”

“—Tidak, Mina. Kau juga harus mendengarnya. Kau pikir aku tidak tahu apa yang ada dalam benakmu?” tanya Sehun begitu didapatinya ekspresi terlampau terkejut kini terpasang di wajah Mina.

Gadis itu terlihat seolah baru saja membiarkan Sehun mendengar rahasia besar yang tidak seharusnya didengar oleh pemuda itu.

“Apa maksudmu Sehun?” tanya Mina tidak mengerti.

“Aku mendengar semuanya, pembicaraanmu dengan Humanoid bernama Momo yang ada di dalam homecar itu. Aku tidak tahu apa yang kau rencanakan, Mina. Tapi jika kau tengah berusaha untuk menghancurkan populasi manusia dengan memanfaatkanku atau melibatkanku di dalamnya, jangan harap aku akan biarkan kau melakukannya.” ketegasan dalam tiap kata yang Sehun utarakan sekarang membuat Mina terdiam.

Dia bukannya ingin membohongi Sehun, tapi dia juga ingin bangsanya hidup bebas tanpa ancaman juga kekangan dari manusia. Mina bukannya tidak tahu apa-apa, dia malah sudah tahu begitu banyak sampai kalau mau dikatakan, Mina tak butuh informasi dari siapapun karena Mina yakin dia punya informasi yang jauh lebih banyak daripada orang lain.

Tapi selama ini Sehun memang jadi sebuah benteng pembatas bagi sikap Mina. Bagaimana pun gadis itu ingin merealisasikan kebebasan bangsanya, mengingat Sehun dan membayangkan ekspresi pemuda itu ketika tahu tentang apa yang telah Mina lakukan adalah sebuah mimpi buruk bagi Mina.

“Aku bisa menjelaskan semuanya padamu, Sehun.” Mina akhirnya menyerah. Dia seolah baru saja tertangkap basah membunuh seseorang padahal yang Mina lakukan hanyalah menyembunyikan rencana bangsanya dari Sehun yang notabene dianggap sebagai bagian dari manusia yang ingin memperbudak Humanoid.

Tapi sekali lagi, Mina tidak bisa. Dia tak sanggup terus-terusan membohongi Sehun.

“Tidak perlu menjelaskan apapun, Mina. Aku sudah memahaminya.” Sehun berkata, dia kemudian tersenyum muram pada Mina, sebelum bibir Sehun kembali membuka.

“Haruskah aku yang maju ke sana dan menghentikan perkelahiannya? Atau… kau masih mau berbaik hati menjadi penengah di antara perkelahian yang mungkin akan mengancam nyawa manusia di sana?”

fin

a/n:

yang fin ini spin-off ya, bukan cerita utama, lolol . ini post ke-365-ku btw :”)

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

11 tanggapan untuk “One and Only – Spin Off #5 [final] — IRISH’s Tale”

  1. Whoah.. Akhr’ny.. Puzzle2 dr tiap spin off ke main crita’ny mulai terpasang rapi 😀 yg sblm2ny jg dah ckp ngerti sih, cm yg final ini ada rasa lebih’ny gitu 😙Ayolah 세훈 cpt gabung sm rombongan 백 😊 ini ot12 kan ya? Or not? Menantikan umin & 크리스 muncul trus gabung jg ☺ tp ini latar’ny dr kota2 di album exodus kan ya, so ga ada 크리스 😢
    Itu slh 1 dr 2 servicer di mbl mo2, wendy ya? Brarti ada si yuta 😓 & 2 manusia yg linglung krn null mode tu sp ja? Slh 1 humanoid rkan yg di mksd ada dlm rombongan 백 tu ten2 ya? Ten aja atau ten2 sih nm’ny 😅 /lg into sm crita naruto dkk & sk bgt sm pair sasusaku

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s