SPRINGFLAKES – Slice #8 — IRISH’s Tale

   SPRINGFLAKES  

  EXO`s Baekhyun & OC`s Chunhee 

   with EXO & iKON Members  

  adventure, action, fantasy, romance, life story rated by PG-17 served in chapterred length  

Disclaim: this is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. Any similarity incidents, location, identification, name, character, or history of any person, product, or entity potrayed herein are fictious, coincidental, and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art and/or story without permission are totally restricted.

2017 © IRISH Art & Story all rights reserved

— time slipped in spring, dream trapped in winter —

Reading list:

〉〉   Slice #1Slice #2Slice #3Slice #4Slice #5Slice #6Slice #7 〈〈

 Slice #8

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Chunhee’s Eyes…

Ada yang salah dengan diriku. Entah, karena Baekhyun, atau memang aku sendiri yang sudah mulai kehilangan ambang batas pemikiran normal sampai-sampai bisa merasakan hal-hal aneh dan lancang seperti ini.

Aku ingat, saat tahun lalu aku melihat Baekhyun di balik lindungan jubah hitamnya ketika mereka akan melakukan ‘pemilihan’ pada segelintir kecil dari remaja-remaja bangsa kami yang tersisa.

Tapi tahun ini, semuanya terlihat begitu berbeda.

Satu tahun telah berlalu sejak saat aku bertemu dengan Baekhyun dan terikat dengannya sebagai seorang ‘pesuruh’ dalam pandangan manusia. Jangan minta aku menjelaskan apa yang terjadi pada Hanbin, atau manusia lainnya.

Baiklah, biar aku jelaskan dengan singkat.

Aku melatih Baekhyun untuk menggunakan senjata—yang sudah kumodifikasi agar elemen peraknya tidak bisa melukainya—selama dua bulan sampai Chanwoo secara tidak sengaja mendapati aku ‘dihukum’ di tengah hutan. Dan jangan tanya bagaimana reaksi bocah itu.

Dia luar biasa senang karena akhirnya bisa mengenal seorang vampire—saat itu Chanwoo belum tahu kalau Baekhyun adalah pimpinan dari vampire yang menguasai wilayah kami—dan Baekhyun juga tampaknya bersikap lebih ramah dan terbuka pada Chanwoo.

Keduanya seringkali kudapati menghabiskan waktu bersama. Bahkan selama beberapa minggu keduanya rutin berlatih. Di bulan ke-enam sejak aku melatih Baekhyun pertama kali, dia sudah tidak lagi membutuhkanku sebagai tutornya. Yang ada, Baekhyun justru sudah bisa mengecohku dan menyudutkanku dengan senjata.

Dia sangat luar biasa. Maksudku, dia bisa mengingat tiap detil gerakan yang pernah aku maupun Chanwoo ajarkan padanya.

Kemudian bicara tentang Hanbin, dia tahu belakangan kalau Baekhyun adalah seorang vampire. Dia mengetahuinya di saat yang sama dengan waktu dia juga tahu bahwa aku sudah terikat dengan vampire.

Ah, Hanbin sempat mendiamkanku selama enam hari sebelum aku kemudian menceritakan semuanya pada Hanbin. Ya, semuanya. Terkecuali beberapa konversasi pribadi antara aku dan Baekhyun, tentu saja.

Jadi, sekarang semua orang sudah tahu siapa Baekhyun. Karena dia sering menghabiskan waktu di tempat tinggal kami, orang-orang sepertinya tidak memberikan cemoohan berarti pada Baekhyun.

Dan saat pemilihan terjadi tahun ini, aku yakin semua orang menyerahkan diri dengan sukarela. Sebab, Baekhyun tak lagi memaksakan diri untuk tampak ‘tidak terlihat’ di mata kami. Dan dia bahkan sempat bicara padaku soal rencananya untuk menawarkan siapapun yang ingin mengabdi.

“Apa kau benar-benar akan menawarkannya pada mereka?” aku berbisik pada Baekhyun saat kami berdiri di hadapan empat puluh enam remaja yang tersisa di bangsa kami.

“Ya, tentu saja. Tapi tahun ini aku pikir aku tidak butuh terlalu banyak orang pengabdi.” ucap Baekhyun membuatku menatapnya tidak mengerti.

“Apa maksudmu? Kenapa begitu?” tanyaku.

Baekhyun terdiam sejenak. “Kau sendiri yang menginginkan hal itu. Karena kau sudah banyak membantu, kupikir sudah seharusnya aku mulai membuktikan apa yang sudah kubicarakan denganmu, bukan?”

“Maksudmu… tentang kau yang akan menghentikan pengabdian tahunan ini?” tanyaku lebih hati-hati.

Baekhyun menatapku, penuh dengan keyakinan di balik manik berwarna merah kelam miliknya yang kerapkali membuatku menampar diri sendiri dan mengingatkan diriku bahwa dia adalah salah satu bagian dari bangsa yang berusaha untuk melenyapkan bangsaku.

Tapi, masuk akal kah keadaan seperti ini?

“Berapa jumlah semuanya?”

Aku belum sempat mengatakan apapun lagi saat kudengar Baekhyun bersuara. Kulihat, ada beberapa orang yang mengajukan diri untuk menjadi pengabdi, dan Chanwoo ada di sana. Maksudku, dia ada di barisan depan dan sekarang pandangannya bahkan bersarang padaku.

Ugh. Apa mungkin dia—

“—Delapan belas orang.” dengan lantang Chanwoo menjawab, sedangkan Hanbin yang berdiri di sebelah barisan itu hanya menatapku dengan pandangan dingin yang tak bisa kuartikan.

Tentu saja sekarang semuanya sudah sangat jelas. Aku bukannya sekedar ‘dekat’ dengan vampire yang ada di istana ini tapi juga menjadi bagian dari mereka. Dan secara otomatis mereka juga tahu benar siapa Baekhyun sebenarnya. Keberadaanku di sisi sosok pemimpin kelompok vampire ini jelas menunjukkan tentang siapa pemimpin kelompok ini.

“Aku tidak akan memilih siapapun tahun ini. Bagi kalian yang ingin dengan sukarela menjadi bagian dari kami, majulah dari barisan kalian.”

Tanpa menunggu waktu, Chanwoo melangkah maju. Tahun ini adalah tahun terakhir bagi Chanwoo untuk bisa mengajukan diri, dan dia justru memilih untuk jadi salah seorang pengabdi baru bagi para vampire yang ada di tempat ini.

Dua orang lainnya juga berangsur-angsur maju mengikuti keberanian Chanwoo. Tidak bisa kupahami apa yang ada dalam benak mereka sehingga punya keinginan untuk mengabdi, tapi aku juga tak bisa mencegah mereka begitu saja.

Semuanya sudah jadi keputusan mereka sepenuhnya.

“Baiklah, kalau sudah tidak ada lagi yang ingin mengajukan diri, esok hari aku—”

“—Aku ingin mengajukan diri juga.” tiba-tiba saja vokal Hanbin terdengar.

“Tidak, Hanbin.” sontak aku berucap, membayangkan bagaimana Hanbin akan meninggalkan kelompok kecil manusia kami tanpa pengawasan adalah hal paling mengerikan.

Meski dia terlihat begitu memendam kemarahan pada Baekhyun yang diyakininya tengah berusaha mendapatkan keuntungan dari kami, tapi aku tak bisa membiarkan Hanbin terlibat juga. Keberadaan Chanwoo saja sudah cukup membuat kacau.

“Bukankah siapapun diperbolehkan untuk mengajukan diri secara sukarela?” Hanbin menentangku.

Tidak, kumohon. Aku tidak bisa membayangkan Hanbin menjadi salah seorang dari kami juga. Siapa yang akan menjaga kelompok kecil kami jika Hanbin tidak ada? Aku tidak bisa memercayai siapapun di kelompok kami yang akan cukup kuat untuk melindungi.

“Sebaiknya kau tetap bersama dengan manusia yang lain, Kim Hanbin. Saat ini, kau adalah manusia yang paling mampu melindungi mereka.” aku tersentak saat mendengar Baekhyun berucap.

Apa dia bisa membaca pikiranku atau semacamnya? Bagaimana dia bisa mengutarakan apa yang kupikirkan dengan begitu jelas dan lantang?

Hanbin juga tidak terlihat hendak menunjukkan kalimat lain untuk menentang keputusan Baekhyun. Bisa kulihat bagaimana ekspresi Hanbin berubah begitu serius karena kalimat Baekhyun. Rupanya, dia pasti baru menyadari absennya aku dan Chanwoo dari kelompok kami pastinya akan menyebabkan masalah.

Jika Hanbin tidak memilih untuk menetap di antara manusia, tidak bisa kubayangkan bagaimana kacaunya keadaan yang akan terjadi.

“Baiklah, aku mengerti.” Hanbin akhirnya berucap.

“Kalau begitu, kalian bertiga yang sudah mengajukan diri ikut denganku. Yang lainnya bisa kembali.” Baekhyun berucap, dia kemudian berbalik dan melangkah meninggalkan kelompok kecil yang sejak tadi bungkam karena eksistensinya.

Aku sendiri mengekori Baekhyun dengan berjalan berdampingan bersama Chanwoo dan dua orang lain yang juga mengajukan diri.

“Kenapa kau mengajukan diri?” tanyaku pada Chanwoo, sengaja bicara dengan nada sepelan mungkin agar Baekhyun di depan sana tidak mendengar apa yang aku bicarakan dengan Chanwoo.

“Aku ingin berada di dekatnya.” sahut Chanwoo, tatapannya sekarang bersarang pada Baekhyun. “Apa maksudmu?” sontak aku bertanya lagi.

Chanwoo tersenyum simpul. “Masih banyak yang tidak kau tahu tentangnya, Chunhee. Aku menghabiskan waktu cukup lama dengannya jadi kupikir aku sudah mengenalnya dengan cukup baik.

“Itulah mengapa aku memilih untuk mengabdi. Karena aku ingin lebih mengenalnya lagi, aku ingin tahu… seberapa jauh dia sudah merencanakan akhir dari perbedaan ini.”

Aku menyernyit mendengar ucapan Chanwoo. Tapi aku tidak lagi bisa bertanya karena begitu kami sampai di istana, Baekhyun sudah berbalik dan melempar pandang ke arahku—hal yang membuatku tahu kalau aku harus segera meninggalkan Chanwoo.

“Jung Chanwoo terdengar seolah dia ingin mengajukan diri menjadi pengabdiku.” aku tersentak saat mendengar Baekhyun bicara.

“Kau mendengarnya? Sejauh mana?” tanyaku was-was.

“Semuanya, tentu saja. Memangnya kau pikir dengan berbisik-bisik seperti itu semua kalimatmu akan luput dari pendengaranku?” Baekhyun balik bertanya, sementara aku memilih untuk mengawasi ekspresinya.

“Bagaimana… menurutmu?” aku akhirnya bertanya.

Baekhyun bergerak melepas jubah gelap yang membalut tubuhnya. Lantas dia menggumam sejenak sebelum akhirnya sebuah senyum simpul muncul di wajahnya.

“Tidak seperti kau yang penuh pemberontakan, Chanwoo adalah pribadi yang lebih tenang dan berpikir rasional. Meski orang-orang memandangnya sebagai seorang yang kekanak-kanakkan, tapi sebenarnya dia adalah manusia yang sangat cerdas.

“Kau tahu, begitu tahu kau berada di pihakku, dia bisa menduga kemana rencana tentang bangsa kalian akan kubawa. Chanwoo adalah seorang anak-anak yang penuh rasa ingin tahu. Dan sudah sewajarnya jika selama setahun terakhir aku memberitahukan semua yang ingin dia ketahui, bukan?”

Pandanganku memicing begitu kutangkap makna di balik perkataan Chanwoo tentang aku yang tidak mengenal Baekhyun sebaik Chanwoo mengenalnya.

“Kau tidak pernah bicara sebanyak itu padaku.” diam-diam batinku serasa dicubit. Bagaimana pun, aku adalah manusia pertama yang berada di dekat Baekhyun, tapi sekarang kusadari aku justru berada dalam situasi paling tidak menguntungkan.

“Kau tidak pernah bertanya sebanyak pertanyaan yang Chanwoo utarakan padaku.” Baekhyun menyahut.

Aku masih memilih bungkam. Sahutan Baekhyun barusan bukanlah sebuah jawaban. Kuakui, aku sedikit cemburu pada Chanwoo yang nyatanya bisa mengenal Baekhyun lebih jauh daripada aku mengenalnya.

“Terserah padamu, kalau begitu. Jika Chanwoo benar-benar menjadi pengabdimu, apa itu artinya aku bisa pergi dari sisimu?” langkah Baekhyun terhenti begitu didengarnya aku bertanya seperti itu.

“Apa maksudmu?” tanyanya tanpa berbalik.

“Kau pernah berkata, kau hanya butuh satu orang yang bisa kau percaya. Adanya aku dan Chanwoo di sisimu tak akan jadi keuntungan. Lagipula, Chanwoo lebih tahu tentangmu. Menyenangkan juga, akhirnya aku bisa melepaskan diri darimu jika seseorang menggantikanku.”

“Chunhee, cukup.” aku tersentak saat kudengar Baekhyun menyebut namaku.

Dia tidak biasanya menyebut namaku, dan jika diingat-ingat lagi dia baru akan menyebut namaku ketika aku membuat kesalahan fatal yang membuatnya kesal.

“Mengapa? Bukankah perkataanku sekarang benar adanya?” tanyaku, sementara Baekhyun kini berbalik, dipandangnya aku seolah kalimat-kalimatku barusan sudah cukup untuk membuatnya—

“—Kau sudah terlalu banyak menentang ucapanku hari ini, Chunhee.” kata Baekhyun.

“Lalu? Kau mau menghukumku? Silakan saja, aku tidak keberatan. Tertidur selama beberapa hari mungkin bisa menjernihkan pikiranku. Ah, saat aku terbangun nanti aku sudah tidak lagi berstatus sebagai pengabdimu, bukan?”

“Lee Chunhee!” untuk kedua kalinya aku tersentak karena kalimat yang meluncur dari bibir Baekhyun.

Tidak lagi kurasakan aura menenangkan yang biasanya ada di sekitar Baekhyun. Yang ada, aku justru merasa begitu ketakutan. Manik kelamnya sekarang juga telah ditenggelamkan oleh warna merah kelam yang mendominasi.

“Kau sudah selesai dengan semua kalimatmu?” tanya Baekhyun, ekspresinya sekarang begitu dingin, dan… entah mengapa berhasil menyiutkan nyaliku.

Ugh, apa ini karena aku terikat dengannya? Kenapa sekarang hal ini jadi sangat melelahkan?

“Aku lelah, Pangeran…” lirihku, hal yang kemudian mengembalikan ekspresi tenang Baekhyun biasanya.

Tapi aku sungguh lelah, terkurung di tempat ini selama dua musim, membayangkan sebuah masa depan yang tidak pasti tentang kelangsungan hidup bangsaku, semuanya begitu melelahkan untukku.

Dan Baekhyun tidak mengerti itu. Yang dia tahu hanya bagaimana cara mempertahankan wilayah kekuasaannya, itu saja. Selebihnya, dia tidak akan pernah merasakan lelah yang aku rasakan.

Sebab dia berkuasa, dan semua orang takut padanya.

“Chunhee-ah…” Baekhyun baru saja buka suara ketika kuputuskan untuk tidak mendengar satupun kalimatnya lagi hari ini.

Lekas aku berbalik, melangkah meninggalkan Baekhyun bahkan tanpa mendengar persetujuan darinya. Tidak peduli dia akan semarah apa, atau apa dia akan menghukumku karena sudah berulah begitu banyak hari ini.

Aku tidak peduli, sekali saja aku ingin tidak peduli.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Kutemukan diriku bersembunyi di tengah hutan begitu aku berhasil berlari dari Baekhyun. Gubuk kecil yang dulu kugunakan bersama dengan Hanbin untuk berlatih saat kami masih sama-sama belia sekarang jadi tempat persembunyianku.

Setelah selama hampir dua jam bersembunyi, aku akhirnya kembali pada kesadaranku. Emosi yang tidak bisa kukontrol hanya karena perkara sepele tadi sekarang kurasa-rasa justru membuatku merasa begitu malu.

Pantas saja Baekhyun tidak memberikan ancaman hukuman apapun padaku. Dia pasti menganggap kemarahanku sebagai ledakan emosi konyol baginya. Sekarang, jika aku kembali padanya, apa dia akan menertawaiku?

Benar, dia pasti sedang tertawa terbahak-bahak karena membayangkan kekonyolanku.

Sebaiknya aku kembali saja, sebelum Baekhyun benar-benar berpikir untuk menggantikan posisiku dengan Chanwoo. Sejak awal, aku yang sudah berkomitmen untuk mendampinginya hingga dia meraih tujuannya.

Mana bisa aku biarkan Chanwoo merebut posisiku begitu saja?

Aku akhirnya bangkit dari tempatku sedari tadi menyandarkan diri dengan memeluk lutut. Debu yang begitu banyak di dalam ruang pengap itu juga sudah terlampau menyiksa. Aku tidak tahan lagi.

Akhirnya, aku keluar dari gubuk kecil tersebut, hendak—

“—Lama tidak bertemu, Lee Chunhee.”

Aku tersentak saat kudengar vokal familiar yang sudah begitu lama tidak kudengar tiba-tiba saja masuk ke dalam runguku dalam jarak terlampau dekat.

Begitu aku berbalik, seorang pria berpakaian serba hitam sudah berdiri tidak jauh dariku, dengan membawa dua buah samurai dan sebuah panah melintang di tubuhnya.

“Song Yunhyeong…” kudengar diriku sendiri berdesis, menahan kemarahan yang ingin kuluapkan ketika belasan memori mengerikan tentang Yunhyeong berputar begitu saja dalam benakku.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku saat dia tak kunjung bicara.

“Mengawasi wilayah yang akan segera kutaklukkan, tentu saja. Kulihat, kau masih saja menyedihkan seperti dulu.” Yunhyeong berkata, dia lantas mengikis jarak denganku. Rupanya, keterikatanku dengan seorang vampire tak bisa diketahuinya.

“Bukankah kau yang sekarang lebih menyedihkan? Menjadi budak vampire rupanya sudah membuatmu kehilangan akal sehat.” komentarku membuat Yunhyeong tergelak.

Meski sebenarnya, kurasa aku juga mengatakan umpatan itu pada diriku sendiri. Tapi masa bodoh, Yunhyeong juga tidak tahu jika aku berada di posisi yang sama dengannya.

“Budak, katamu? Aku juga menjadi seorang penguasa di sana, Chunhee. Dulu, kukatakan kau juga punya kesempatan untuk menjadi setara denganku. Tapi ah… tentunya kesempatan seperti itu tidak ada untukmu.

“Para vampire itu menyukai kesempurnaan, kecantikkan. Kau sendiri terlihat bak monster. Wajah mengerikanmu itu tidak dijadikan lelucon oleh anak-anak kecil yang ada di sini, bukan?

“Oh, apa masih ada manusia yang tersisa di sini? Aku sungguh tak sabar menantikan tangisan dan rintihan mereka yang memohon padaku untuk diselamatkan. Membayangkan wajah-wajah bodoh mereka memohon pada seorang yang akan mengakhiri hidup mereka rasanya sungguh menyenangkan.”

Tanganku terkepal begitu mendengar ucapan Yunhyeong, tapi aku tidak sedang dalam kondisi yang siap untuk bertarung dengannya. Semua senjataku ada di ruangan Baekhyun, dia tadi menahannya begitu pemilihan pengabdi hendak dilakukan.

Satu-satunya senjata yang kumiliki saat ini adalah tubuhku. Naluri untuk bertahan hidup yang sudah pasti ada dalam diri tiap manusia. Berduel dengan Yunhyeong juga tidak akan menguntungkan.

Satu, dia bersenjata. Dua, aku tidak tahu sejauh apa kemampuan Yunhyeong sudah berkembang. Tiga, tidak ada seorang pun di tempat ini yang bisa membantuku. Empat, Yunhyeong tidak mungkin datang sendirian.

Lima, kemungkinan besar aku akan mati mengenaskan jika memutuskan untuk berduel dengannya.

Dan aku tidak ingin mati.

“Kau masih saja sering memancing emosi orang-orang dengan kalimat pedasmu. Sayang, aku sudah cukup dewasa dan sangat memahami tujuan dari perkataan kasarmu, Yunhyeong. Aku tidak lagi jadi anak-anak yang mudah tersulut emosinya hanya karena ucapan.”

Omong kosong, padahal aku baru saja melupakan emosi sesaatku yang muncul hanya karena membayangkan kemungkinan yang belum tentu terjadi.

“Wah, senang sekali melihat kau sudah berubah jadi wanita dewasa begini. Sayang, tidak ada pria yang menganggapmu cukup layak meski kau sudah dewasa. Menyedihkan sekali keadaanmu sekarang, mengapa tidak mati saja, Chunhee?”

Aku menarik dan menghembuskan nafas panjang begitu kudengar kalimat Yunhyeong. Meski aku tahu benar dia mengatakan semua itu untuk menyulut emosi sesaatku, emosi yang pada akhirnya akan membutakanku dan memberinya celah untuk menang, tapi memangnya siapa yang bisa kuat bersabar karena cemoohan seseorang?

“Apa yang sebenarnya jadi masalahmu? Dulu saat kau belum menghancurkan wajahku, kupikir kau jadi orang yang paling menggilai kecantikanku. Ah, aku ingat, kau sampai mengemis perhatianku saat itu.

“Memaksakan diri untuk jadi kuat padahal kau hanyalah seorang pecundang. Kemudian, kau membelot dari kami karena kau pikir aku akan tertarik padamu jika aku tahu kau sudah jadi kuat karena pengkhianatan.

“Oh, apa kau tidak ingat insiden itu? Kau memang berniat menghancurkanku, bukan? Sayang sekali, meski wajahku kau hancurkan, kau tidak berhasil menghancurkan kehidupanku.”

Yunhyeong tertawa kasar, rupanya dia juga kesal juga karena mendengar perlawanan kata dariku. Tapi tetap saja, melawannya dengan kalimat tak akan menyelesaikan apapun.

“Kita sudahi saja omong kosong ini. Tidakkah kau penasaran tentang tujuanku menemuimu?” tanya Yunhyeong kemudian.

“Kau ingin membunuhku, bukankah begitu?”

Yunhyeong lantas menyunggingkan sebuah senyum sarkatis. Dia tarik kedua pedangnya sementara tatapan tajam itu dia tujukan padaku.

“Kau benar, kau adalah orang pertama yang ingin kuhabisi, Lee Chunhee.” aku tahu, dan aku tahu benar aku tidak akan menang kali ini.

Baekhyun, tidak bisakah kau datang untuk menolongku?

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

IRISH’s Fingernotes:

Byuh. Nyelesein satu chapter kenapa rasanya berat sekali.

Aku sempet kelimpungan nyari file Springflakes chapter delapan ini, karena aku inget di akhir Agustus itu aku sudah ngetik sampe chapter sepuluh dan begitu aku buka foldernya malah nggak ada dari chapter tujuh.

Setelah seminggu ngubek-ubek laptop-hardisk-flashdisk-memory card akhirnya alhamdulillah ketemu tapi tercecer-cecer. Chapter tujuh di mana, chapter sembilan di mana. Belum lagi masih dalam bentuk draft semua jadi masih harus edit sana-sini, huhu. Dan parahnya aku tuh udah lupa Springflakes ini bakalan end kayak gimana. Sedih rasanya akutuh kalo lupa sama storyline ceritaku sendiri.

Tapi gapapa, aku gwenchana. Masalah ending masih bisa buat ending baru (padahal aku inget storyline lama itu endingnya greget sekali… tapi apa daya kalo udah lupa mah bisa apa ya) dan artinya imajinasiku masih bisa berguna.

Sekian dulu dariku, chapter sembilan akan segera menyambut, jadi jangan lupa baca tiap chapternya ya, karena kalau kalian pilih kasih itu cast dalem ff aku ikut terluka loh. Lol. Salam kecup, Irish.

Ps: ini kenapa Oktober cepet banget sih berlalunya, kayak baru kemarin aja awal bulan tau-tau udah akhir bulan padahal kerjaan sama deadline belum pada selesai T.T

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

17 tanggapan untuk “SPRINGFLAKES – Slice #8 — IRISH’s Tale”

  1. Chunhee ini disini kenapa ya ka rish/? :”v cemburu gitukah sama si chanwoo? ato posisinya takut tergantikan? /eeaa ;v
    yunhyeong kembali?! Astagah :”v baekhyun help si chunhee dnk T.T
    next bca ch9 ka rish ❤

  2. Diriku jg lupa crita di chptr 7 ky gmn/jgn2 mlh blm bc kyny 😅
    Tiap bc ff kren irish jg mo’ny runut tp kdng kseleo smp loncat chptr tnp sdr. Kyny mo ngtrack yg chptr 7 dulu nih, mo make sure-in lg. Lupa jg sp tu yunhyeong 😕 dah prnh muncul di chptr sblm’ny kah?
    Brhrp moga hanbin/백 dtg nyelametin chunhee dr si yunhyeong tu

    1. XD aku aja tiap mau ngetik baca ulang chapter-chapter sebelumnya dulu kok XD wkwkwkwkwkwk yunhyeong sempet muncul waktu chunhee cerita tentang siapa yang ngerusak muka dia btw

  3. Cie Chunhee cmburu sma Chanwoo,, aahhh sking lamanya ni springflakes aku smpai lupa-lupa ingat sma akhir ceritanya yg chapt terakhir kmrin..😂 😂 kyaknya bakal perang kecil2.an nih entar next chapt.a klau baekhyun beneran dtang nolongin Chunhee..

    Hwaiting Rhis😘💪

  4. mimpi apa aku smlam? baru minggu kemarin mention springflakes.
    eh, di up deh. Thank u rish, udah lama aku nungguin ini. Tolonglah rish, baek ama Chunhee kira2 bkal jd gak? aku miris di Game Over ama OAO , Baekhyun menjomblo. wkwkwkwk… apapu endingnya terserah dirimulah. ditunggu chapter slnjutnya…

Tinggalkan Balasan ke LiMi Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s