[ONESHOT] ARCH – Utopia Version — IRISH’s Story

|   ARCH   |

|   Utopia Verse   |

|  Sehun x Velvin  |  Utopia x Sci-Fi x Life  |  Oneshot  |  Teen  |

|  by IRISH  |

—  tentang sebuah batas semu yang terlampau membutakan

dedicated for science  |

| previous : dystopia verse |

♫ ♪ ♫ ♪

In Sehun’s Eyes…

Earth. Adalah sebuah planet yang punya sumber daya kehidupan paling tinggi sebelum pada abad ke-22 Perang Dunia IV pecah dan menghancurkan hampir seluruh permukaan Earth.

Itulah mengapa, sebuah operasi Ophelia dilakukan. Ophelia merupakan sebuah planet kecil di galaksi yang hampir serupa dengan Earth, sama-sama mempunyai sumber daya kehidupan yang sama baiknya juga.

Malah, lebih baik daripada Earth.

Sayangnya, kehancuran yang diciptakan Perang Dunia ke-IV telah membuat populasi manusia yang tersisa mengalami mutasi. Mutasi genetik ini kemudian terpecah menjadi dua, satu yang bermutasi dari segi kemampuan, menjadi lebih cerdas, lebih cekatan, punya daya hidup lebih tinggi, sepertiku dan yang lainnya di Ophelia.

Satu sisi lagi berubah secara fisik dan mental, mutasi genetik membuat mereka tidak bisa beradaptasi di Ophelia, dan terpaksa, mereka yang bermutasi genetik seperti ini harus tinggal di Earth, dalam waktu yang lebih panjang lagi daripada kami.

Dan disinilah aku hidup. Aku hidup di tahun ke-33, tepat nya ditahun 2330 di Earth, dimana kehidupan ditempat ini adalah kehidupan modern yang baru. Karena hancurnya Earth, di Ophelia batas negara tak lagi ada.

Dimasa inilah aku hidup. Menikmati kehidupanku di Region X Dunia. Rata-rata Human ditempat ini dapat bertahan hidup sekitar 400-470 tahun. Kenapa? Karena efek biochemical besar yang Human dapatkan akibat Perang Dunia IV. Membuat secara genetik, Human berubah.

Masa kehidupan Human di Region X memang beberapa puluh tahun lebih pendek daripada Region VII yang punya masa kehidupan paling panjang, sekitar 900-950 tahun.

Tapi masa hidupku, jauh lebih panjang daripada Region VII. Mereka bilang aku bisa hidup sampai lebih dari 400 tahun.

Karena aku berbeda.

Mereka menyebut orang-orang berbeda sepertiku sebagai Flyer. Bagian kecil dari Human yang berbeda. Human yang berevolusi lebih dari normal.

Aku mengetahui keberadaan Flyer saat beberapa puluh tahun lalu aku sadar, aku memiliki kekuatan yang berbeda. Aku mampu menciptakan banyak jenis elemen dan mengubahnya menjadi energi plasma. Aku mampu mengerahkan dan melepas energi itu melalui seluruh anggota tubuhku.

Bentuknya kadang berupa pijaran, bola cahaya, dan tak jarang medan energi. Saat aku sadar, kekuatanku semakin lama semakin membesar dan terkadang, aku sendiri tak mampu mengendalikannya.

Flyer pada dasarnya sama seperti Human. Hanya saja, otak Human hanya bisa berkembang 5-6% sedangkan kami, Flyer adalah Human yang sudah berevolusi dan memiliki perkembangan otak jauh diatas Human, dan angka perkembangannya bisa mencapai lebih dari 15% dan itulah yang membuat kami berbeda, membuat kami memiliki kekuatan seperti ini.

Ada banyak Flyer sepertiku di luar sana. Dan karena kami hidup untuk mengabdi dan menjaga perdamaian, Military mengumpulkan semua Flyer di Ophelia dan membentuk sebuah Arch—pasukan pelindung—di tiap regionnya.

Selama bertahun-tahun kami berlatih, melatih kekuatan kami dan mengendalikan, dan mengembangkannya. Flyer adalah pelindung Ophelia, itu yang aku tahu.

Tapi belakangan, kami mendapatkan berita bahwa Military mendidik kami selama bertahun-tahun bukan untuk menjadi Arch di tiap region, melainkan untuk menjadi bagian dari proyek ESS—Earth Saving System.

ESS bertujuan untuk membersihkan Earth dari sisa Perang Dunia IV. Memberikan kehidupan yang lebih baik bagi mereka yang masih tersisa di Earth sehingga mereka yang berada di Earth bisa menjalani kehidupan yang sama normalnya dengan kami yang ada di Ophelia.

Sejarahnya, pada Perang Dunia IV, salah satu negara meluncurkan bom besar yang nyatanya menyebarkan HmV—Half-Mutant Viral—dan membuat Human yang tersisa di Earth berubah menjadi HmP—Half-Mutant Population.

Tugas Arch, adalah memastikan Earth cukup pantas untuk ditempati oleh HmP, untuk kehidupan yang lebih baik.

Walaupun itu artinya, kami harus mengorbankan apapun.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Selamat pagi!”

Aku mendongak, menghentikan kesibukanku dan sejenak menghilangkan plasma yang sejak enam jam lalu membalut tubuhku. Di ujung pintu, sahabatku, Chanyeol, berdiri menjulang dengan senyuman lebar diwajahnya. Tentu saja tak lupa dengan Fire miliknya. Ia selalu bernaung di bawah api.

“Kau tidak sedang berencana membakar kabinku dengan apimu bukan?” ucapku pada Chanyeol. “Oops—aku tak sengaja soal ini.” ucapnya sambil menggerakkan lengannya pelan, perlahan api yang menyelubungi tubuhnya menghilang.

“Aku tahu kau sengaja.” ucapku seraya melangkah ke EB—Electrical Bed—dan meraih remote control di sana.

“Apa yang kau inginkan?” aku menatap Chanyeol setelah menekan tombol hide-voice pada remote control, dan setelah aku berucap, Chanyeol dengan cuek melangkah masuk ke dalam kabinku dan duduk diatas EB.

“Kau terlihat sibuk untuk malam ini.” ucapnya santai.

Aku tahu ia tak hanya akan bicara santai seperti ini.

“Cepat katakan saja apa yang mau kau bicarakan sebenarnya, masih banyak persiapan yang belum kuselesaikan jadi jangan membuang waktuku untuk basa-basi seperti ini.” ucapku membuat Chanyeol tergelak

“Oh, astaga, kau masih to the point seperti biasanya.” ia menyenggol lenganku pelan, tapi kubalas dengan dengusan, aku benar-benar sedang tidak ingin bercanda dengannya.

“Kerusakan di Earth tidak seperti dugaan awal kita.”

“Apa?” kali ini aku tersiap mendengar ucapannya.

“Kehidupan di sana telah berubah begitu kacau. Mereka punya masa kehidupan yang hampir sama seperti Region II, tapi untuk bertahan dalam kurun waktu itu, mereka harus bertahan melawan lingkungan yang telah berubah jadi begitu kejam.”

Aku tersentak.

“Maksudmu, selama 300-340 tahun itu mereka hidup menderita?”

“Ya. Dan kau tahu apa inti pembicaraanku bukan?” ucap Chanyeol, mengangkat sebelah alisnya ke arahku, sungguh, tindakan tenangnya entah mengapa membuatku merasa kesal.

“Sudah lebih dua abad perang itu terjadi, dan jika mereka punya daya reproduktif yang sama seperti Human, mereka pasti sudah bertambah banyak… Jika perhitunganku benar, saat ini, sekitar… umm, 13%?” ucapku sambil menatap Chanyeol serius.

“Hmm,” Chanyeol menggeleng pelan, “24%.” lanjutnya membuatku tersentak

“24%?!” ucapku tak percaya. Sementara Chanyeol hanya memberi sebuah anggukan kecil sebagai jawaban. “Ya. Kita benar-benar punya tugas besar. Jumlah Arch bahkan tak sampai 10% dari jumlah mereka. Dan di sana, angka kriminalitasnya begitu tinggi karena kewajiban untuk bertahan hidup.”

“Tapi mereka tidak lagi Human. Mereka HmP, ingat? Mereka pasti tertinggal dibanyak hal.” Chanyeol mengangguk-angguk pelan. “Benar juga, mereka tidak terlatih untuk berperang, tidak terlatih untuk mengendalikan diri mereka, dan sosok mereka… Ugh, Mutant. Aku bisa bayangkan seperti apa monster di tempat itu.”

“Jangan bicara begitu, Chanyeol.”

“Apa maksudmu?” tanya Chanyeol tak mengerti.

“Jangan bicara seolah mereka adalah monster. Mereka juga bagian dari kita yang sekarang membutuhkan pertolongan. Kita berasal dari tempat yang sama, bukankah sudah sewajarnya kita merasa iba pada mereka yang tak bisa hidup dengan baik seperti kita?

“Mereka bahkan tidak bisa bertahan hidup di Ophelia, dan harus bertahan hidup di Earth yang semakin lama semakin hancur. Bagaimana pun keadaan fisik mereka, tetap saja mereka adalah bagian dari kita.”

Chanyeol menghela nafas panjang.

“Aku tahu, aku tahu benar kau memang selalu berpihak pada mereka. Tapi Sehun, situasi di sana mungkin saja tidak mendukung kita.” kata Chanyeol, menyadarkanku kalau dia sekarang tengah berada dalam pikiran negatif tentang kemungkinan kami diserang oleh Human yang berevolusi menjadi mutant di Earth sana.

Tapi aku tak bisa berpikir dengan cara yang sama seperti Chanyeol.

“Aku tak pernah menyukai gagasanmu mengenai mereka yang sudah berubah menjadi mutant lalu kau samakan dengan monster. Memangnya, kita juga tidak berubah menjadi monster? Kita juga begitu.

“Kau lihat? Kemampuan yang kita miliki ini akan mengubah kita menjadi monster jika kita tidak bisa mengendalikannya dan menggunakannya dalam hal yang baik. Kita juga pantas untuk disebut sebagai monster. Yang ada, kita yang meninggalkan mereka dalam kehidupan menyedihkan di Earth ini lah yang pantas dipanggil monster.”

Mendengar perkataanku, Chanyeol akhirnya menghela nafas panjang.

“Sebaiknya kau siapkan lebih banyak perlengkapan lagi untuk nanti malam, Sehun.” kata Chanyeol membuatku menyernyit bingung.

“Apa yang kau bicarakan?”

“Kau sebaiknya juga mengucapkan salam perpisahan pada semua orang di kabin.”

“Kau bicara apa?” ucapku makin bingung.

“Sehun, kau tak mengerti inti dari ucapanku. Bagaimana jika mereka nyatanya memang tidak terbelakang seperti yang kau bicarakan? Bagaimana jika perasaan mereka masih ada? Mendengar caramu bicara tentang mereka, aku yakin benar kau mungkin akan memutuskan untuk tinggal di Earth daripada kembali ke Ophelia.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Pikiranku sedari tadi dihantui oleh ucapan Chanyeol. Diam-diam aku merenungkan ucapannya sepanjang hari ini, semua persiapan yang sudah kurencanakan sejak jauh hari entah kubuang kemana.

Pikiranku tertuju pada satu hal, HmP.

Tak ada satupun dari kami yang bisa mendapatkan keadaan pasti Earth dari satelit-satelit yang ada di Ophelia, dan kami—para Arch, benar-benar tak tahu apa yang sedang kami hadapi sekarang.

Kami hanya dibekali ilmu pengetahuan dan informasi yang mengatakan bahwa Human di Earth telah berubah menjadi HmP dalam bentuk fisik Mutant dan terbelakang dalam sisi pikiran.

Tapi bagaimana jika nyatanya semua kemampuan kami masih belum cukup baik untuk membantu mereka yang ada di Earth? Bagaimana kalau yang terjadi justru sebaliknya, aku terlampau merindu Earth dan akhirnya memilih tinggal di Earth seperti yang Chanyeol katakan?

“Sehun?” aku tersadar saat seseorang menyenggol bahuku, dengan segera aku mendapati Irene berdiri disebelahku, menatapku khawatir.

“Ada apa?”

“Apa yang sedari tadi kau lamunkan?” tanyanya.

“Aku tidak melamun,” Irene tertawa pelan, dan menunjuk ke satu arah dengan dagunya. Saat kulemparkan pandanganku, aku sadar aku sudah jauh tertinggal dari barisanku, tentu saja karena aku melamun.

“Kau melamun Oh Sehun,” ucapnya sambil mendorongku pelan ke arah barisanku.

Dengan cepat aku melangkah menyusul tim ku yang lainnya. Kami masuk ke dalam dua buah MSTMechanical Skiescrap Tech—raksasa, sudah dibagi menjadi dua puluh tim untuk masing-masing Region di Earth yang sudah kami tandai.

Aku sadar, aku mendapatkan Region 14, Asia, dan lebih tepatnya, mereka akan menurunkan tim ku untuk membersihkan Asia. Asia. Salah satu sektor kecilnya adalah tempat asalku—maksudku, garis keturunanku. Korea.

“Eratkan sabuk kalian Flyer! MST akan segera berangkat!”

Untuk kedua kalinya aku tersadar. Kenapa aku jadi lebih sering melamun hari ini? Ugh. Semua ini karena ucapan Chanyeol. Beruntunglah ia tidak ada di tim yang sama denganku. Jadi ia tak lagi bisa menghantuiku dengan ucapan-ucapan dan pendapatnya mengenai Earth.

Aku melemparkan pandanganku ke Chanyeol, dan seolah sadar aku memandangnya, Chanyeol melemparkan pandangan ke arahku, dan melambaikan tangannya tenang.

Sial. Apa ia sedang mengucapkan selamat tinggal karena berhasil menghantui pikiranku?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

MST sampai di Earth dalam waktu kurang lebih empat jam. Dan selama empat jam aku terus teringat pada ucapan Chanyeol. Jadi aku memutuskan untuk melakukan MR—Mind Refresh—sesaat sebelum kami sampai. Aku harus membersihkan pikiranku dari ucapan aneh Chanyeol bukan?

“Region 14! Siapkan diri kalian!”

Aku segera menyiapkan diriku. MST tidak menurunkan kami dengan tenang di Region 14 karena HmP adalah ancaman besar untuk kami. Jadi kami akan diturunkan dalam jarak 1-2 root dari permukaan Earth.

Mengikuti beberapa kelompokku yang lain, aku berdiri di tepi MST saat pintunya terbuka. Angin dingin malam langsung menyambutku, menyapu kulitku, menciptakan sensasi aneh yang tak pernah kurasakan selama aku berada di Ophelia.

“Waspada dengan perubahan tekanan udara! Gunakan senjata dan perlengkapan kalian sebaik mungkin!” timku segera bergerak, kami melompat ke permukaan Earth, dan menggunakan IrGInfra-red Glasses—dan mengawasi keadaan disekitar kami.

Tentu saja aku tahu bahwa kami akan berpisah dan menyelesaikan tugas kami di masing-masing sektor kecil yang ada di Region 14. Aku tak berharap akan turun di Korea, sungguh aku tak—

“Mohon perhatian, dua menit lagi chemical rain akan turun, untuk semua orang harap segera mencari tempat perlindungan. Mohon perhatian, dua menit lagi chemical rain akan turun, untuk semua orang harap segera mencari tempat perlindungan.”

—Sial.

Aku mendarat sempurna di permukaan Earth. Sementara telingaku berusaha menemukan sumber suara aneh yang baru saja kudengar jelas.

“Mohon perhatian, satu menit lagi chemical rain akan turun, untuk semua orang harap segera mencari tempat perlindungan. Mohon perhatian, satu menit lagi chemical rain akan turun, untuk semua orang harap segera mencari tempat perlindungan.”

Chemical rain?

Tunggu, chemical rain di Earth yang sudah hancur beberapa abad lalu masih bisa aktif di Earth? Aku segera berdiri, dan memperhatikan sekitarku. Aku tak pernah tahu keadaan di Earth, aku tak mengingatnya karena sudah ratusan tahun berlalu sejak aku pindah ke Ophelia.

Aku tak mengingatnya sama sekali.

TES!

Aku menengadahkan kepalaku dan menyadari bahwa hujan benar-benar turun. Hujan. Hujan adalah hal tak mungkin terjadi di Earth karena atmosfir Earth yang sudah—

TES! TES!

Chemical rain akan berlangsung selama sepuluh menit, bersamaan dengan pergeseran waktu. Segeralah mencari perlindungan karena chemical rain akan menyebabkan luka dikulit anda. Chemical rain akan berlangsung selama sepuluh menit, bersamaan dengan pergeseran waktu. Segeralah mencari perlindungan karena chemical rain akan menyebabkan luka dikulit anda.”

Aku tersentak saat kembali mendengar suara di dekatku. Suara itu sangat terdengar jelas seperti speaker yang—benar. Ini persis sama seperti speaker yang sering kudengar di Ophelia.

Hujan segera membasahi tubuhku. Lebih tepatnya membasahi wajah dan tanganku karena aku mengenakan pakaian tertutup saat ini. Aku menyernyit saat mendengar suara gemeresak aneh di dekatku.

Aku segera memandang sekelilingku, berusaha menemukan hal aneh yang mungkin mencurigakan. Tapi aku tak menemukan apapun. Tubuhku sudah terbiasa untuk siaga selama pelatihanku di Ophelia. Dan gerakan sekecil apapun akan membuatku merasa siaga karena aku tahu aku tak berada di tempat yang aman.

Logam-logam berkarat teronggok tak berguna di dekatku. Sementara pagar-pagar kawat berduri yang sama berkaratnya dan bahkan sudah berlubang di beberapa sisinya tampak begitu menyedihkan, sisa Perang Dunia IV.

Aku melebarkan jangkauan pandangku, dan kutemukan gedung-gedung yang dulunya pasti tinggi, kini—tunggu… bagaimana ini bisa terjadi? Gedung-gedung yang seharusnya hancur karena peperangan itu masih berdiri tegap di tengah kota, dengan puluhan lampu menyala di dalamnya.

Saat kulebarkan pandangan, kusadari bahwa kota ini hidup. Aku bahkan bisa berpikir kalau aku dijatuhkan di tempat yang menjadi tempat pembuangan bagi kehidupan di sini. Keadaan di luar area ini justru terlihat sangat normal.

Sangat hidup.

Aku menyernyit saat mendengar suara gemeresak lain di belakangku. Dengan cepat aku berbalik, tapi tak kutemukan apapun. Hanya kumpulan logam-logam yang terdeteksi oleh IrG-ku.

Aku dengan hati-hati menyentuh logam-logam tua itu, memastikan mereka cukup kuat untuk menahan bobot tubuhku, dan setelah itu aku melompat kecil menaikinya.

Pemandangan terlihat lebih banyak dari sini. Aku menengadahkan kepalaku, dan kulihat siluet silver berbentuk seperti bulan sabit berkilauan dilangit gelap ini. Ophelia. Rumahku.

Untuk kesekian kalinya aku menyernyit saat mendengar suara gemeresak yang hampir sama, mencurigakan. Aku mengepalkan tanganku, membiarkan plasma berkumpul di tangan kananku sebelum aku dengan tiba-tiba berbalik dan melontarkan gumpalan plasma ke belakangku.

SRAK! BRUGK!

Benar dugaanku. Satu-satunya yang tak bisa terdeteksi dengan IrG saat aku berada ditempat penuh logam adalah HmP dengan mutasi logam.

Aku melompat turun dan kembali melontarkan energi plasmaku ke black hole yang tercipta karena lemparan pertamaku. Bertubi-tubi. Dan kudengar jelas suara gedebum keras setiap kali aku melemparkan plasmaku.

Akh! Hentikan!”

Aku terhenti saat mendengar suara teriakan dari arah black hole itu. Apa ia salah satu anggota timku? Tidak mungkin. Ia pasti mengenaliku dan tidak—

SRAK!

—Aku tersentak bukan main saat sesuatu, tidak—lebih tepatnya seseorang menyerangku, mendorong tubuhku hingga aku—

BRUGK!

—Aku memejamkan mataku saat tubuhku menabrak tumpukan logam yang tadi kunaiki. Aku membiarkan energi plasma menyelimuti tubuhku dan kubiarkan plasmanya meledak menjadi keping-keping tajam kecil yang akan melukai HmP ini.

Akh! Kumohon! Hentikan! Akh! Sakit!”

Chemical rain akan berhenti dalam lima belas detik, matahari akan terlihat terbit dari arah tenggara jika cuaca di tempat anda cerah. Chemical rain akan berhenti dalam lima belas detik, matahari akan terlihat terbit dari arah tenggara jika cuaca di tempat anda cerah.”

Aku kembali menyerang sosok itu, membelesakkan tubuhnya di lempengan-lempengan logam yang ada di sana, tak memberinya kesempatan bahkan untuk bernafas karena lenganku menekan lehernya.

Aku sudah akan melontarkan energi plasmaku lagi padanya jika saja aku tak melihat pancaran sinar jingga perlahan menyapu tempat ini. Membuatku bisa melihat sosoknya dengan jelas.

Surai legamnya adalah hal pertama yang kulihat. Berturut-turut aku melihat wajahnya, kulit pucatnya yang mengelupas setiap kali sisa tetesan hujan mengenai permukaan kulitnya, dan juga jemari tangannya yang mencengkram lenganku.

Kudengar hembusan nafas pendek yang keluar dari bibir mungilnya. Dan saat cahaya matahari dengan jelas menerangi tempat ini, ia mendongak, membuatku bisa melihat jelas kilau silver di sepasang bola mata gelapnya, juga sepasang taring menonjol saat ia meringis kesakitan.

Ia seorang wanita.

“Kau… juga ingin membunuhku?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

IRISH’s notes:

Setelah entah berapa bulan—SATU TAHUN, RISH—mengabaikan draft utopia-version dari Arch ini, aku akhirnya berhasil menyelesaikannya, huhu. Jadi, biar aku jelaskan dulu di tengah-tengah sebelum kalian semakin menuai protes karena merasa isi dari versi dystopia dan utopia itu sama.

Cerita ini, adalah satu storyline yang sama, kuolah menjadi dua versi, distopia dan utopia. Hampir 75 persen isinya alurnya sama, tapi ada akhir juga pemikiran berbeda dari dua karakter utama cerita ini dan yeah, kalian akan paham kalo baca kedua-duanya, wkwk.

Dulu sempet kupertimbangin buat bikin dua cerita yang berbeda, tapi nanti kalian malah menuntut kelanjutannya. Jadi lebih baik aku buat percobaan cerita dua sisi kayak gini. Karena toh intinya apapun yang ada di dunia ini pasti terdiri dari dua pilihan utama, baik atau buruk.

Terserah kalian mau baca Arch yang mana, dystopia atau utopia, karena keduanya punya konsep yang sama. Yang membedakan cuma apa yang ada di dalam benak masing-masing karakter yang terlibat dalam cerita ini.

Enggak kayak di versi dystopia di mana aku marah-marah dengan frustasinya karena hinaan dan cemooh yang aku terima karena dukunganku terhadap science fiction dan kehidupan bernuansa near-future, detik ini aku sudah jadi lebih calm.

Terserah orang-orang mau berpendapat bagaimana tentang kehidupan near-future atau after-future. Aku tetap memercayai apa yang aku percaya, aku mendukung pemikiran yang aku anggap benar. Karena hak untuk berpendapat itu ada, dan sebagai warga negara Indonesia aku juga punya hak untuk berpendapat.

Mereka yang menghujat dan mencemoohku karena mencintai cerita near-future maupun after-future, mereka yang membenciku karena aku memercayai fantasy, sesungguhnya adalah bagian dari orang-orang yang enggak bisa mengekspresikan pemikiran mereka tentang masa depan dan enggak juga bisa berimajinasi dengan baik.

Jadi, bisa kusebut mereka adalah kaum masa depan suram karena enggak bisa mikir apapun yang baik-baik atau yang buruk-buruk tentang masa depan.

Dan mereka bisa kusebut masa kecil kurang bahagia karena kemampuan mereka buat berimajinasi itu sangat minim dan menyedihkan.

Sekian dariku, selamat menyambut point of view Velvin di bawah ini. Salam kecup, Irish.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Velvin’s Eyes…

Aku seorang manusia.

Sungguh. Aku adalah seorang manusia.

Tapi aku nyatanya tak bisa tinggal di Ophelia bersama manusia lainnya hanya karena mutasi genetik yang ada dalam tubuhku berbeda dengan manusia lain.

Tapi itu bukan masalah buatku, karena kehidupan di Earth juga ternyata bisa berubah menjadi lebih baik. Beratus tahun kami memperbaiki kehidupan, lingkungan, dan pola pikir kami. Sehingga tak ada lagi orang yang akan berpikir jika mutant seperti kami adalah monster tak punya akal yang bisanya hanya menghancurkan apapun yang ada di hadapannya saja.

Aku… hidup di dunia yang sulit untuk dimengerti.

Tubuh ini tubuh manusia, tapi semua yang ada di dalamnya bukanlah manusia.

Tapi mengapa semua orang berpikir bahwa Ophelia menolak eksistensi kami hanya karena kami berbeda? Padahal, sudah jelas anatomi tubuh kami tidak memungkinkan untuk tinggal dan bertahan hidup di Ophelia.

Pada akhirnya, semua manusia saling berebut untuk hidup di sisa menyedihkan bumi ini. Kami tak pernah mengharapkan lebih, kami hanya ingin bertahan hidup.

Mutogene. Mereka memanggil kami Mutogene. Karena kami adalah manusia berbeda yang masih memiliki banyak sisi manusia bersama kehidupan kami.

Mutogene… adalah manusia.

Kami sama.

Terkadang saat melihat Half-moon aku sering berpikir, bagaimana bisa manusia menciptakan tempat yang begitu terlihat indah dari tempat tinggalku? Tempat yang menyala seperti api di siang hari, dan menyejukkan seperti salju saat malam hari dalam bentuk setengah bulan yang sangat sempurna?

Apa manusia lain juga tinggal disana? Apa ada sekelompok kecil juga yang menduduki posisi yang sama dengan para Mutogene di tempat ini?

Aku tak yakin.

Apa yang begitu membuat kami berbeda? Selain keadaan fisik Mutant yang permanen pada tubuh kami… kami masih seorang manusia. Bukankah begitu?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Jadi kau sekarang berani melawan kami huh?”

Aku terhuyung mundur saat beberapa orang mendesakku, memojokkanku ke tembok. Tembok. Salah satu hal yang kubenci karena tembok merupakan batas dari kebebasan, dan saat aku terkurung seperti ini, mereka akan dengan mudah menyaki—

BUGK!

—Aku tanpa sadar menggeram pelan saat kurasakan pukulan keras di perutku. Dan geramanku tentu saja seolah menjadi alarm khusus bagi mereka untuk lebih menyakitiku.

BUGK! BUGK!

Aku memejamkan mataku saat merasakan sakit luar biasa di sekujur tubuhku. Tapi aku bergeming. Aku tak mungkin membalas perbuatan mereka. Tidak boleh. Tidak boleh.

Aku mungkin bisa menyakiti mereka jika aku melawan. Dan aku tak mau menyakiti mereka. Aku tak mau menyakiti bangsaku.

KRETAK!

Aku tersentak saat mendengar gemeretak pelan saat salah seorang dari mereka yang sedari tadi memukuliku tanpa ampun menyarangkan tendangan kerasnya di rusukku.

Perlahan bisa kurasakan darah mengalir dengan tidak normal didalam tubuhku. Dan rasa sakit segera menusuk dadaku. Apa tulangku patah?

“Mohon perhatian, dua menit lagi chemical rain akan turun, untuk semua orang harap segera mencari tempat perlindungan. Mohon perhatian, dua menit lagi chemical rain akan turun, untuk semua orang harap segera mencari tempat perlindungan.”

“Kita tinggalkan saja dia. Biarkan saja chemical rain membuat kulitnya melepuh.”

SRAK!

Aku bisa merasakan seseorang menendangku dengan keras sebelum mereka meninggalkanku, berteduh mencari perlindungan tentu saja. Aku masih merasakan sakit di sekujur tubuhku. Aku bahkan tak sanggup untuk menggerakkan tubuhku. Mereka selalu melakukannya. Memukuliku. Berusaha untuk membunuhku. Walaupun usaha mereka sia-sia. Mereka selalu melakukannya.

Kenapa mereka tak pernah membiarkanku hidup dengan tenang?

Terlahir dari sepasang suami-istri yang bekerja sebagai scientist bukanlah keinginanku. Mereka yang sama-sama meninggalkanku untuk pergi ke Ophelia dan menyisakan hutang jutaan pun tidak seharusnya menjadi tanggung jawabku.

Tapi kami yang ada di Earth, sama-sama tak bisa berbuat apapun selain saling mengejar, saling merampas, dan saling menyakiti. Semua itu dilakukan untuk bertahan hidup.

Aku merangkak pelan, tanganku bergerak menarik logam di dekatku untuk menjadi pegangan, tapi kurasa… aku tak sanggup menggunakan kemampuanku lagi. Terbukti dengan bagaimana logam itu hanya bergerak pelan dari persinggahannya.

“Mohon perhatian, satu menit lagi chemical rain akan turun, untuk semua orang harap segera mencari tempat perlindungan. Mohon perhatian, satu menit lagi chemical rain akan turun, untuk semua orang harap segera mencari tempat perlindungan.”

Aku menyernyit saat mendengar peringatan dari speaker otomatis yang bekerja sebagai Weather Warn di sini. Chemical rain memang tak akan membunuhku, tapi cukup menyakitkan untuk melukaiku.

Sejak Perang Dunia berakhir. Zat-zat kimia yang terdapat dalam senjata-senjata perang itu menyebabkan perubahan besar pada bumi. Mulai dari hujan yang sekarang mengandung kadar asam tinggi yang bisa membakar kulit, air yang mengandung sulfur tinggi dan bisa meracuni, tanah yang bermineral aneh sehingga semua tumbuhan tumbuh dengan tidak normal.

Udara yang beracun sehingga membuatnya dalam tekanan tertentu akan membakar paru-paru siapapun yang menghirupnya.

TES!

Perih…

Tetesan-tetesan chemical rain mulai menyakitiku. Seperti manusia-manusia yang menyakitiku, tempat ini seolah benar-benar menolakku. Tempat ini membenciku.

Chemical rain akan berlangsung selama sepuluh menit, bersamaan dengan pergeseran waktu. Segeralah mencari perlindungan karena chemical rain akan menyebabkan luka dikulit anda. Chemical rain akan berlangsung selama sepuluh menit, bersamaan dengan pergeseran waktu. Segeralah mencari perlindungan karena chemical rain akan menyebabkan luka dikulit anda.”

Aku merangkak menjauh dari tanah tempatku terbaring tak berdaya, dan untuk kedua kalinya menggunakan kemampuanku untuk menarik logam di dekat sana. Sungguh… aku tak sanggup menggerakkan apapun.

Aku beringsut pelan mendekati logam pendek yang berada paling dekat dari tempatku terbaring, dan berusaha melindungi tubuhku di sana. Aku menyernyit saat mendengar suara langkah tak jauh dari tempatku berlindung. Dengan penasaran aku beringsut mencari celah untuk bisa melihat sekelilingku.

Sekujur tubuhku terasa sakit, nyeri, dan kulitku seolah terbakar.

Aku kembali mendengar suara gerakan di dekatku. Gerakan yang sangat pasti. Seolah… seseorang ada di sana. Tapi siapa? Dan… bagaimana?

Tak ada manusia yang berani berkeliaran saat chemical rain mengguyur, karena hujan bisa melukai mereka. Mutogene? Kurasa tak ada satupun Mutogene yang berkeliaran di saat seperti ini.

Aku kembali menggerakkan lenganku, berharap logam yang teronggok tak jauh dariku bisa menarikku untuk lebih mendekati area luas, sehingga aku bisa melihat keadaan di sekitarku.

Berhasil.

Kurasa tubuhku perlahan-lahan menyembuhkan diri, dan satu-satunya rasa sakit yang sekarang kurasakan hanyalah rasa perih di kulitku.

Aku bergerak pelan untuk mengintip ke ruang kosong yang ada di tempat pembuangan ini. Tatapanku segera tertuju pada seseorang yang berdiri di atas tumpukan mobil berkarat yang ada di dekat pagar kawat pembatas tempat pembuangan.

Ia tampak mengenakan pakaian serba gelap, dan berdiri menengadah menatap langit kosong. Bagaimana ia melakukannya? Berdiri dibawah guyuran chemical rain dan tidak merasakan sakit sama sekali?

Aku tersentak saat melihat kilauan cahaya terang muncul di tangannya, dan ia berbalik, melemparkan cahaya itu—entah bagaimana caranya—ke arahku. Sungguh. Ke arahku.

Aku memejamkan mataku saat rasa sakit kembali menyerang saat cahaya itu mengenai tubuhju. Rasanya seperti saat puluhan manusia memukuliku disatu tempat yang sama—di waktu yang sama.

Begitu menyakitkan. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa sebuah cahaya berefek seperti itu pada—

BRUGK!

—Aku mengerang pelan saat tubuhku menabrak logam. Sakit. Detik selanjutnya aku sungguh tak bisa menghindar saat cahaya-cahaya lain datang dan menyerangku bertubi-tubi, begitu menyakitkan.

Akh! Hentikan!” teriakku, berharap sosok itu menghentikan seragannya padaku, rasanya sungguh tidak mungkin saat seorang manusia menyerangku sendirian.

Tapi ia tidak menghentikannya, justru semakin melemparkan cahaya-cahaya yang sama dan menyakitiku, lagi, dan lagi. Aku memejamkan mataku, membiarkan kemarahan sejenak menguasaiku, aku melesat cepat, liar seperti serigala, dan mendorongnya, membelesakkannya ke tumpukan logam tak jauh disana sehingga ia bisa menghentikan serangannya.

Aku kesulitan untuk mengenalinya di tengah kegelapan seperti ini. Tapi aku kembali tersentak saat cahaya bergerak menyelubungi tubuhnya. Bagaimana ia bisa melakukannya?

Cahaya itu perlahan mengerambatiku, menciptakan rasa sakit menusuk luar biasa di bagian tubuhku yang terkena cahayanya. Sontak aku melepaskan cekalanku padanya, tapi cahaya itu bergerak menyerangku.

Akh! Kumohon! Hentikan! Akh! Sakit!”

Aku merangsek mundur, tapi cahayanya seolah bumerang yang memburuku, tak mau melepaskanku. Terus menyiksaku dalam kesakitan.

“Chemical rain akan berhenti dalam lima belas detik, matahari akan terlihat terbit dari arah tenggara jika cuaca di tempat anda cerah. Chemical rain akan berhenti dalam lima belas detik, matahari akan terlihat terbit dari arah tenggara jika cuaca di tempat anda cerah.”

Tidak. Matahari. Tidak.

Aku baru saja akan melompat menjauhi tempat ini saat ia menyerangku lagi dengan cahaya yang sama, dan kali ini, ia membalas perbuatanku. Tangannya mendorongku kasar, menekan leherku, membuatku kesulitan bernafas, ia membelesakkanku ke tumpukan logam, mengunciku sementara aku berusaha keras melepaskan diri, menjauhkannya dariku.

Matahari tampak terbit dari tenggara, membuatku gemetar ketakutan, diantara semua serangan dan kesakitan, ultra violet adalah sumber kesakitan paling nyata. Tapi sosok di depanku masih mengunciku kuat. Aku menatapnya, apa ia juga orang suruhan lain yang ingin membunuhku karena hutang-hutang yang dimiliki oleh orang tuaku?

Tapi mengapa ia punya senjata berupa cahaya aneh yang begitu menyakitkan itu? Dan bagaimana ia bertahan dibawah guyuran hujan tanpa merasa sakit sedikitpun?

Aku sudah benar-benar pasrah saat matahari akan membakarku, tapi aku kembali merasakan hal aneh. Rasa hangat menjalari tubuhku, perlahan, seiring dengan gerakan terbit matahari.

Mengapa tubuh ini tidak terbakar?

Aku mendongak, dan tatapanku bertemu dengan sepasang mata kelam milik sosok di depanku. Seorang pria, yang menatapku dengan tatapan aneh—seolah meneliti. Wajah dan rambutnya masih basah karena hujan, tapi ia sama sekali tak terluka, maksudku, tak ada tanda satupun yang membuatku tahu hujan melukainya.

Tapi kenapa… Kenapa ia menyerangku?

“Kau… juga ingin membunuhku?” tanyaku lirih padanya.

Tatapannya melebar, tapi ia masih mengunciku dalam cengkramannya. Apa ia terkejut karena ucapanku benar?

“Tidak…” lekas dia melepaskan cekalannya dariku, tapi dia masih mencengkramku.

“Apa yang terjadi padamu?” tanyanya, menyadari kalau luka-luka di tubuhku bukan hanya karena ulah cahaya menyakitkan yang dijadikannya senjata untuk menyerangku tadi.

“Bertahan hidup di tengah serangan para lintah darat yang masih hidup di muka bumi.” kataku, kurasakan aura sedikit bersahabat darinya, dari cara bicaranya.

Dia tidak mungkin berusaha membahayakanku. Insting memberitahuku begitu.

“Ah… aku pikir tadi kau adalah ancaman, maaf karena menyerangmu secara tiba-tiba.” katanya, lantas ia berdiri dan diulurkannya tangan ke arahku.

“Aku tidak bisa terkena sinar matahari.” tuturku, jujur saja aku masih terselamatkan dari sengatan mentari pagi karena ada dia yang berdiri di hadapanku.

“Begitukah? Oh, tunggu sebentar, aku rasa aku punya sesuatu yang bisa membantu.” katanya, lantas tangannya bergerak mengeluarkan sebuah pil dari dalam kantung kecil yang ada di pakaian gelapnya.

Pil itu kemudian berubah menjadi sebuah mantel tebal.

“Ini, kau bisa mengenakan ini untuk menutupi tubuhmu. Kita harus pergi ke tempat penyembuhan. Lukamu terlihat cukup parah.” katanya.

Kuterima mantel yang dia berikan, dan dengan segera aku menutupi tubuhku yang masih basah kuyup. Sementara sekarang dia menungguku berdiri.

“Darimana kau datang?” tanyaku penasaran, mau tak mau, keberadaannya di sini terlihat begitu aneh dalam pandanganku.

Ophelia.” jawabnya mengejutkanku.

“Apa yang dilakukan orang-orang dari Ophelia di sini?” tanyaku membuat pria di sebelahku tertawa pelan.

“Memperbaiki Earth. Kami yakin kalian layak untuk mendapatkan kehidupan yang layak. Itu sebabnya kami ditugaskan untuk kembali ke Earth dan memperbaikinya.”

Aku terdiam sejenak, tapi kemudian pandangku mengelana.

“Tapi tempat ini sudah jadi lebih baik daripada saat semua orang meninggalkannya. Hanya saja, tidak adanya aturan di Earth membuat semua orang hidup seenaknya.” jelasku.

Pria di sebelahku mengangguk-angguk pelan.

“Siapa namamu omong-omong?” tanyaku. “Oh Sehun. Bagaimana denganmu?”

“Velvin.” jawabku.

“Mengapa kau bisa terluka di tempat itu tadi?” pertanyaan Sehun sempat membuat langkahku terhenti.

“Ah, perkara hutang. Orang tuaku pergi ke Ophelia dengan meninggalkan cukup banyak hutang. Dan tempat tadi adalah lahan pekerjaanku. Kau tahu, apa masih ada orang-orang yang bekerja sebagai seorang ahli bangunan di Ophelia sana?” tanyaku, menatap Sehun dan menunggu jawabannya.

“Beberapa dari kami saja, dan kebanyakan adalah laki-laki. Kau jadi seorang artistik bangunan?” tanya Sehun.

“Ya. Aku bekerja memperbaiki gedung-gedung yang sudah hancur di sini. Mengingat kami—para Mutogene—punya kekuatan di atas rata-rata, jadi mereka mempergunakan kekuatan kami untuk memperbaiki kehidupan.

“Tapi yah, kau tahu sendiri bagaimana hukum alam. Yang lemah tetap saja akan terinjak-injak. Karena belitan hutang orang tuaku, aku hampir tidak pernah bisa berhenti bekerja untuk mencari uang.

“Lalu, bagaimana denganmu sendiri? Kehidupan di Ophelia sana sangat menyenangkan, bukan?” tanyaku.

“Tidak juga,” Sehun berkata, “…, kami di sana juga hidup dengan cara yang membosankan. Semuanya kelewat sempurna dan akhirnya jadi membosankan. Kupikir dengan dikirim ke Earth aku akan menemukan kesenangan baru.

“Tapi kupikir dugaanku dan yang lainnya sudah salah. Orang-orang di Earth ternyata masih bisa memperbaiki kehidupan mereka sendiri. Jadi, kurasa bantuanku sudah tidak dibutuhkan.”

“Memangnya, kau ditugaskan untuk apa?” tanyaku penasaran.

“Aku seharusnya menjadi seseorang yang ikut membantu memperbaiki lingkungan di area ini, Velvin. Tapi kalau aku melakukannya, bukankah itu artinya aku akan merebut lapangan pekerjaanmu?”

Aku tertawa mendengar perkataan Sehun. Dia mengatakannya seolah-olah tindakan yang hendak dia lakukan adalah sebuah upaya kriminalitas.

“Tidak masalah. Bukankah kita bisa memperbaiki Earth bersama-sama meski kita berbeda?”

“Begitukah?” Sehun menatapku.

“Ya, kita bisa saling membantu. Bagaimanapun… kita awalnya sama-sama manusia, bukan? Meskipun keadaan fisik dan mental kita sekarang berbeda. Tapi, perbedaan itu tidak akan menghapus apa yang sudah jadi bagian dari takdir kita.

“Sebagai sesama manusia, tidak salah jika kita saling membantu demi menciptakan kehidupan yang lebih baik. Daripada bersusah hati berupaya menjatuhkan dan membuat manusia lain menderita. Bukankah dunia akan lebih menyenangkan jika kita bisa menerima perbedaan?”

.

.

.

.fin

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

One thought on “[ONESHOT] ARCH – Utopia Version — IRISH’s Story”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s