[EXOFFI FREELANCE] Stay With Me (Chapter 21)

STAY WITH ME

Author :

Angeline

Main Cast :

Oh Sehun (EXO)

x

Bae Joo Hyun a.k.a Irene (RV)

Additional Cast :

EXO Members |Kim Ji Yeon (LOVELYZ)|Kim Seolhyun (AOA)| Im Jung Hoo  (B.I.G)| Lee Hyo Eun (STELLAR) |Krystal Jung (FX) |Wu Yifan a.k.a Kris Bae | etc~

Rating PG-17|Length Series Fic

Genre : romance | Angst | AU |slice of life | Drama |etc~

Disclaimer :

Ff ini murni dari pemikiran author sendiri , ceritanya tiba-tiba muncul dalam otak author #ea ,dan dari pada lupa langsung dituangkan dalam bentuk FF seperti ini. Bila ada kesamaan tokoh maupun jalan cerita didalam ff ini , itu bukan merupakan bentuk plagiat #noplagiat! melainkan unsur ketidaksengajaan. Don’t judge, don’t copas.  Terimakasih sudah mau meluangkan waktu untuk membacanya  (nunduk)

Summary :

Bagaimana jika seorang Oh sehun yang berwatak dingin dan tidak pernah peduli pada orang lain terjebak bersama seorang gadis amnesia bernama Irene?. Melalui sebuah pertemuan tidak terduga hingga masalah-masalah yang datang saat keduanya tengah menjalin sebuah hubungan.

Poster bye ByunHyunji @ Poster Channel

–Chapter 21–

.

.

.

Sehun memijat keningnya sebentar sambil menatap beberapa deretan pria berbadan tegap, berada di kantornya. Setelah berpikir cukup lama, Sehun akhirnya memakai pengawal untuk Irene. Dan gadis yang dari tadi hanya duduk di pangkuan Sehun itu, karena memang Sehun yang menyuruhnya, hanya bisa menatap sebal calon suaminya itu.

Irene tidak mau memakai pengawal, dan menurutnya Sehun terlalu berlebihan. Namun bagi Sehun, tidak ada yang terlalu berlebihan untuk Irene, gadis yang ia cintai.

“Jadi bagaimana?” tanya Jongdae yang sudah hampir bosan menunggu jawaban Sehun, mengenai pengawal mana yang akan ia pekerjakan.

“Hm, akan memilih dia, dan dia.” Kata Sehun, menunjuk seseorang dengan rambut blonde, dan yang satunya berambut hitam.

“Taeyong dan Jaehyun? Baiklah.” Ucap Jongdae, kemudian menyuruhnya yang lain kembali, sedang Jaehyun dan Taeyong berada di ruangan Sehun.

“Sehun, tidak usah pakai pengawal.” Irene menggeleng, namun Sehun tidak menghiraukan rengekan  Irene. Sehun mengusap rambut Irene, dan mencium jemari Irene dengan gemas.

“Sayang, aku tidak bisa menjagamu 24 jam penuh, karena itu aku memakai pengawal. Dan ini semua untuk kebaikanmu, aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padamu. Kau tahu sendiri, jika seseorang sedang mengincarmu?”

“Iya, tapi–“

“Sudah, aku tidak mau berdebat.” Potong Sehun cepat, membuat Irene mendengus kesal.

“Hari ini kita harus mencari gaun pengantinmu. Ayo!” kata Sehun, kemudian berdiri dan menggenggam jemari Irene.

“Kalian berdua, naik mobil ini.” Sehun melempar salah satu kunci mobilnya itu pada Jaehyun, dan mereka hanya menundukkan badannya pada Sehun.

.

.

.

Sehun memangku kakinya sambil menunggu Irene mencoba gaun pengantinnya. Sehun melirik beberapa pegawai yang tengah menatapnya sambil berbisik. Ya, bukan hal baru jika seseorang membicarakan ketampanannya.

Sret

Tirai itu terbuka, dan Sehun langsung menatap Irene dengan tatapan memuja. Gadis yang terbalut dengan gaun putih khas seorang pengantin itu sangat cantik mempesona. Gaun pengantin yang memiliki bagian bawah yang lebar hingga terseret pada lantai, dan juga beberapa bordiran di bagian dadanya.

“Kau cantik sayang.” Ucap Sehun sambil berdiri, dan Irene hanya tersenyum, kemudian menghampiri Sehun yang juga memakai setelan tuxedo putih.

Irene menaruh tangannya di dada Sehun, dan pria itu memeluk pinggang Irene.

“Ini tuxedomu?” Sehun mengangguk, dan Iren hanya ber ‘oh’ ria, “Jadi aku ambil yang ini saja?” tanya Irene, dan Sehun mengangguk mantap.

“Apa benar-benar bagus?”

“Iya sayang, sangat bagus di tubuhmu. Kau kira aku bohong?” Sehun mencubit gemas hidung Irene, dan gadis itu mendengus kesal.

“Baiklah.” Irene menyetujuinya.

“Kita akan mengambil undangan hari ini.” Kata Sehun lagi sambil menyisipkan rambut panjang Irene ke belakang telinga, dan gadis itu mengangguk.

“Aku ganti baju dulu.”

.

.

.

Irene menatap undangan pernikahannya dengan perasaan bahagia, tinggal 1 minggu lagi pernikahannya akan berlangsung. Sehun ikut tersenyum melihat bahagianya calon istrinya itu.

“Apa menurutmu undangan kita tidak terlalu banyak?”

“Tidak.” Sehun menggeleng sambil membuka kancing bajunya.

Mereka saat ini berada di dalam kamar, setelah mengurus keperluan pernikahan mereka yang lain. Dan sepertinya Sehun bisa bernafas lega karena semua sudah selesai.

Irene yang kini sudah beralih menatap Sehun, langsung menutup matanya ketika Sehun melepaskan kemejanya. Sehun yang melihat Irene malu, hanya tertawa kecil, kemudian mendekat pada Irene.

“Kenapa harus malu, jika seminggu lagi kau akan melihat–“

“Sehun!” bentak Irene, dan itu membuat tawa Sehun memecah. Pria itu langsung masuk ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan dirinya, sedang Irene hanya mendengus sambil kembali menatap undangan itu.

.

.

.

Gadis berambut hitam itu nampak menangis menatap sebuah undangan pernikahan yang ia terima. Gadis itu memukul dadanya yang sesak, sedang tangannya meremas undangan bersampul putih itu. Kim Seolhyun, gadis itu terduduk di lantai sambil memeluk lututnya.

“Kenapa…” lirihnya sambil terus menangis.

Ia mencintai Sehun sampai saat ini, dan rasanya ia tidak rela jika Sehun menikah dengan gadis lain, tidak! Ia tidak akan pernah merelakan hal itu. Dan matanya bagai tidak lelah mengeluarkan cairan bening itu, rasanya hatinya hancur dan sangat sakit. Hatinya terasa tercabik-cabik melihat nama yang tertera di undangan itu.

Harusnya itu menjadi namanya bersama Sehun, bukan gadis lain.

“Kau benar-benar brengsek Sehun! aku –aku hiks…aku membencimu!” ucapnya lirih sambil terus menangis dan menangis, bahkan ia tidak peduli jika tangisannya terdengar hingga ke luar.

.

.

.

Myungsoo berjalan memarkirkan mobilnya pada di halaman sebuah rumah besar, dan kemudian langsung turun setelah menyelesaikan parkiran mobilnya. Myungsoo menyusuri halaman rumah yang cukup luas itu, hingga langkahnya berhenti di sebuah pintu berwarna putih.

Tangan Myungsoo pun terangkat menekan bel rumah itu, hingga semenit kemudian seorang pembantu membuka pintu rumah tersebut, dan segera Myungsoo masuk ke dalam, tanpa bertanya apa tuan rumah ada di dalam atau tidak. Seperti ia sudah terbiasa masuk dan keluar dengan bebas di sini.

Myungsoo langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan, mencari sang pemilik rumah, atau lebih tepatnya, mencari tuan besarnya itu. Myungsoo juga sangat menghafal setiap ruangan di rumah ini, karena mungkin ia sudah lama menjadi anak buah dari pria bernama Ji Sung itu.

Myungsoo melangkahkan kakinya, menaiki anakan tangga hingga langkahnya terhenti pada sebuah pintu, di mana pintu itu adalah ruangan kerja Ji Sung. Dengan gugup, Myungsoo mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu tersebut.

Tok tok

Myungsoo mengetuk secara pelan, menunggu sang tuan besar membalas dari dalam.

“Masuk.” seru seseorang di dalam sana. Myungsoo pun segera membuka pintu itu, dan melangkah masuk ke dalam.

Myungsoo kini menatap seorang pria sedang membaca buku di sebuah sofa santai. Myungsoo kemudian berjalan mendekat pada pria bernama Ji Sung itu,  dan menundukkan kepalanya singkat pada pria tersebut. Ji Sung menatap Myungsoo sekilas dan kembali terfokus pada buku bacaannya.

“Ada ada hal menarik, sampai kau mendatangiku seperti ini?” Tanya Ji Sung, sambil membalik lembaran halaman buku di tangannya.

Kini mata Myungsoo mencuri pandang pada botol obat di atas meja dekat sofat itu, Myungsoo menghela nafasnya sebentar, “Sajangnim.” Seru Myungsoo , sontak membuat kedua pandangan itu beradu kembali, dan kini ji Sung memfokuskan dirinya untuk menatap Myungsoo, merasa jika pemuda itu mempunyai sesuatu yang penting untuk disampaikan padanya.

“Mereka akan menikah seminggu lagi.” Ucap Myungsoo menunduk pada Ji Sung, membuat pria Do itu terdiam.

Dan bisa dilihat oleh Myungsoo, jika tangan Ji Sung terkepal kuat meremas buku itu, hingga lembaran buku itu kusut tidak beraturan, namun yang membuat Myungsoo terkadang takut pada Ji Sung, adalah senyum yang Ji Sung perlihatkan, meski ia dalam suasana hati yang buruk seperti saat ini.

Dan kini, Myungsoo melihat senyuma itu terukir di wajahnya, Ji Sung tersenyum hangat pada Myungsoo, namun yang dirasakan Myungsoo benar-benar berbeda, sebuah kemarahan yang besar terpancar dari sorot matanya. Myungsoo menunduk takut, rasanya ia tidak berani menatap pria itu saat ini.

Ji Sung menutup buku itu, dan melepaskan kaca mata bermodel bulat di atas mejanya. Ji Sung kemudian berdiri dan melangkah mendekat pada Myungso. Pria itu menepuk pundak Myungsoo, dan meremasnya penuh arti, dan kepala Myungsoo terus tertunduk tanpa melihat Ji Sung.

“Myungsoo-ya, sudah berapa lama kita bersama?” tanya Ji Sung, sambil menautkan tangan kirinya pada pipi Myungsoo, dan Myungsoo kini melihat manik mata Ji Sung dari dekat, sebuah pandangan yang penuh dengan kemarahan dan kebencian  di dalamnya,

“2 tahun sajangnim.” kata Myungsoo masih tertunduk.

Pria di depan Myungsoo itu mengangguk sambil tersenyum, dan menepuk-nepuk pipi Myungsoo secara pelan.

Hyung.” Kaki Myungsoo terasa lemas sudah, ketika pria di depannya memanggilnya dengan sebutan ‘hyung’, hatinya terasa goyah mendengar itu kembali. Perlahan, Myungsoo mengangkat wajahnya, dan akhirnya ia bisa menatap wajah Ji Sung yang sedang tersenyum padanya.

“Aku membutuhkan bantuanmu hyung. Bukankah, hyung menyayangiku?” Myungsoo mengepalkan tangannya, ketika Ji Sung bersikap seperti ini.

Myungsoo kembali menegang, ketika Ji Sung memeluk Myungsoo dengan erat, menepuk punggung Myungsoo sambil terkekeh seperti seorang psikopat yang menakutkan. Mata Myungsoo bahkan tidak sanggup berkedip, karena ia takut air matanya terjatuh, dan pertahanannya roboh.

“Ji Sung-ah…” lirih Myungsoo pelan, dengan suara bergetar menahan tangisnya, dan Ji Sung semakin mengeratkan pelukannya pada Myungsoo, serta menutup matanya.

“Ya Seperti itu, panggil aku seperti itu  dulu hyung. Aku adikmu.” Ucap Ji Sung pelan dengan senyuman yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

“Adikmu seperti 2 tahun lalu, yang kau lindungi dari kematian.”  Tambah Ji Sung kembali, dan kini pria Do itu melepaskan pelukannya pada Myungsoo, dan menatap wajah Myungsoo yang sudah berkaca-kaca. Hingga saat air mata itu terjatuh mengalir di pipi Myungsoo, Ji Sung dengan sigap menghapusnya dengan lembut,”Hyung menyayangiku bukan?” Ji Sung tersenyum penuh makna, dan Myungsoo mengangguk lemah.

“Aku akan melakukan apa pun untukmu, Ji Sung-ah.” Jawab Myungsoo, dan Ji Sung tersenyum puas mendengarnya.

“Aku tahu hyung akan membantuku. Jadi sekarang, aku mau hyung untuk menculik Joo Hyun, dan–” Ji Sung menjauhkan sedikit tubuhnya dari Myungsoo, menjeda kalimatnya hingga ia tersenyum pada Myungsoo lagi, “Aku mau hyung membunuh Sehun.”

Myungsoo seketika menegang , ia bersumpah akan melakukan apa pun untuk Ji Sung, bahkan mati sekali pun menggantikan pria itu, Myungsoo rela. Bahkan apa pun yang dikatakan pria itu, akan Myungsoo lakukan, namun mengapa untuk membunuh seseorang, rasanya menjadi beban yang berat?

Rasanya ia sulit berjanji untuk melakukan hal itu, ia tidak bisa membunuh orang lain, mungkin untuk melukai Sehun dengan pisau atau menembaknya di kaki atau tangan, Myungsoo akan melakukannya, namun tidak untuk menjadi seorang pembunuh. Dan rasanya, ini adalah pertama kalinya Ji Sung menyuruh Myungsoo untuk membunuh seseorang.

“Ji Sung-ah…” lirih Myungsoo sambil menggeleng takut, ia benar-benar takut dengan tatapan Ji Sung saat ini.

“Sssh.” Seru Ji Sung sambil menempelkan telunjuknya pada bibir Myungsoo, dan kembali tersenyum.

“Lakukan sebagai bukti jika hyung benar-benar menyayangiku. Hyung mau melakukannya kan?” kata Ji Sung menaikkan sebelah alisnya menatap Myungsoo dengan bertanya .

“Kau belum meminum obatmu kan Ji Sung?” Myungsoo berani berucap lantang kali ini, dan Ji Sung nampak tertawa, kemudian mengambil botol obat itu, dan menumpahkan semua isinya di depan Myungsoo.

“Ji Sung-ah, kau tidak pernah meminumnya kan?” Myungsoo menatap wajah pria itu dengan tatapan terkejut.

“Tidak, dan bagiku itu tidak perlu sama sekali.” Ji Sung menggeleng dan melempar botol obat itu ke bawah.

“Hyung aku mohon, lakukan apa yang aku inginkan.” Pinta Ji Sung lagi, membuat Myungsoo mengepalkan tangannya sekali lagi, dan kali itu dengan perasaan hancur rasanya.

“Aku…”

BUGH

Sebuah pukulan keras mengenai pipi Myungsoo, membuat pria itu terjatuh ke lantai, pria itu meringis dan lagi-lagi bibir bawah Myungsoo mengeluarkan darah segar, Myungsoo memegang bibirnya yang berdarah, kemudian kembali berdiri dan menunduk pada Myungsoo dengan rasa takut.

“BUNUH PRIA ITU!” Teriak Ji Sung sambil membanting vas bunga yang berada di meja, hingga vas itu pecah menjadi pecahan kecil-kecil yang terserak di mana-mana.

Myungsoo yang terkejut melihat Ji Sung sudah kembali pada sifat aslinya, lantas menundukkan kepalanya berkali-kali, “Ye Sajangnim.” Seru Myungsoo cepat, dan menunduk pada Ji Sung, namun air matanya terjatuh, dan Myungsoo menyembunyikan itu dari Ji Sung.

“Keluar sekarang!” Bentak Ji Sung pada Myungso, dan detik selanjutnya Myungsoo melangkahkan kakinya yang terasa berat itu, untuk membuka pintu, dan Myungsoo pun segera keluar sambil mengusap wajahnya secara kasar dan melangkah menjauh dari kamar Ji Sung.

.

.

.

Irene menutup matanya, merasakan pijatan demi pijatan yang di berikan oleh pegawai salon itu. Di sebelah kasurnya, terdapat Krystal yang juga sedang merasakan pijatan nikmat itu. Ah, rasanya menyenangkan pergi ke salon bersama saudara perempuanmu, karena mereka bisa mengobrol ria di sana.

“Jadi, sudah kau tentukan di mana akan honeymoon?” ujar Krystal dengan menutup matanya, dan Irene membuka matanya untuk menatap Krystal.

“Hm, Sehun bilang kita akan ke Swiss.” Jawab gadis itu, dan Krystal hanya mengangguk.

“Ah, jika kau pergi, aku tidak memiliki teman untuk ke salon lagi.” Krystal mengerucutkan bibirnya membuat Irene tertawa mendengarnya.

“Kau juga akan menikah dengan Kai, dan pasti aku juga akan kesepian ketika kau pergi honeymoon.” Ujar Irene dan Krystal hanya tersenyum kecut, “Dia belum melamarku juga. Menyebalkan!” gadis itu berucap kesal.

Sedang di ruang tunggu, namun Sehun dan Kai yang nampaknya mengalami kebosanan yang benar-benar fatal. Menemani gadisnya ke salon, dan menunggu di sini tanpa berbuat apa pun, astaga! Mereka kesal rasanya.

“Huh, kapan mereka selesai?” Kai mengusap wajahnya, sedang Sehun hanya menatap datar ke depan sambil memangku kakinya.

“Kau belum melamar Krystal?” Sehun memilih mencari topic pembicaraan, agar keduanya tidak di landa kebosanan lagi.

“Hm? Belum, aku belum siap untuk menikahinya.” Ujar Kai membuat Sehun menaikkan alisnya.

“Awas saja jika kau menyakiti Krystal!” Ujar Sehun tegas, dan Kai terkekeh mendengarnya. Pria Kim itu menghela nafasnya sambil menatap Sehun, “Aku merasa, aku belum bisa membahagiakannya, jadi aku memilih menundanya.” Ucap Kai lagi dan menutup matanya.

“Kalian sudah hampir 4 tahun pacaran, dan kau merasa belum mampu membahagiakannya? Pikiran macam apa itu?” Sehun menggeleng, ia tidak mengerti jalan pikiran Kai sahabatnya itu. Lantas, Kai tertawa mendengar ucapan Sehun.

“Entahlah, aku belum yakin untuk membangun sebuah rumah tangga bersamanya. Aku takut, jika suatu saat nanti, aku lari dari tanggung jawab.” Jawab Kai dan Sehun rasanya jengah mendengar jawaban Kai barusan, dan kini ia memilih kembali diam.

“Ku dengar, Ji Yeon tinggal di rumahmu?” Sehun tidak bersuara, melainkan ia hanya mengangguk malas.

“Apa Irene baik-baik saja dengan itu?”

“Tidak, ia marah mengetahui Ji Yeon berada di rumahku, namun sekarang ia baik-baik saja.” Jawab Sehun, dan Kai hanya mengangguk.

Keduanya pun bernafas lega, setelah melihat Krystal dan Irene keluar bersamaan dengan wajah fresh mereka, sedang Sehun dan Kai dengan wajah kusut dan letih. Krystal dan Irene tertawa bersama melihat pria mereka itu hanya menatap sebal pada gadis-gadisnya.

“Maaf sayang, kau sudah menunggu lama pasti.” Ucap Krystal mengusap wajah Kai, dan pria itu hanya memutar jengah matanya, kemudian berdiri dan menarik Krystal.

“Irene, aku akan menghubungimu lagi besok! Kita harus pergi ke salon sebelum kau menikah, mengerti?!” teriak Krystal sebelum akhirnya ia menghilang dari salon itu, dan Irene hanya tertawa.

“Sudah puas?” Sehun mengangkat wajah Irene dengan menarik dagunya, dan Irene langsung kesal mendengar pertanyaan Sehun.

“Kau tidak suka menemaniku?” Irene menyipitkan matanya dan Sehun memutar jengah matanya.

“Bukan begitu sayang, tapi bayangkan saja, aku menunggumu selama 2 jam, kau kira itu hal yang menyenangkan?” Sehun mencubit pipi Irene, dan gadis itu langsung melepaskan tangan pria tersebut.

“Ya sudah! Lain kali aku pergi bersama pria lain saja!” ucap Irene ketus, membuat Sehun melongo mendengarnya. Pria lain siapa maksudnya?

“Irene! Hey, dengarkan aku!” teriak Sehun mengejar gadis itu, namun Irene tidak mau menatap Sehun.

“Hah, pria selalu salah kan?” gumam Sehun menghela nafasnya, dan berjalan kembali mengejar Irene.

.

.

.

Sehun memeluk pinggang Irene dengan erat pagi ini, cahaya matahari yang masuk ke dalam kamar mereka, tidak membuat keduanya terganggu, malah Sehun semakin mengeratkan pelukannya, dan Sehun juga menggesekkan telapak kakinya pada telapak kaki Irene, membuat pergerakan kecil dari gadis itu.

Sehun menghirup dalam-dalam aroma gadisnya, membenamkan wajahnya pada lekukan leher Irene, yang menurutnya memiliki aroma khas yang begitu kuat, hingga selalu menbuat Sehun kehilangan akal sehatnya. Sehun mencium pipi dan pelipis gadis itu, kemudian turun dari ranjang mereka.

Sehun mengambil kaos putih polosnya dari dalam lemari, kemudian memakainya dan keluar dari kamar. Pria Oh itu menuruni anakan tangga, dan melihat jus jambu yang sudah disiapkan di atas meja. Segera Sehun menyambar minuman itu, dan nampak ajhuma yang masuk dari pintu belakang itu, menunduk pada Sehun dan melanjutkan aktifitasnya bekerja di dapur.

Mata Sehun kini menatap Ji Yeon yang keluar dari kamarnya di lantai bawah. Gadis dengan baju tidur bermotif beruang itu tersenyum pada Sehun, dan Sehun hanya tersenyum tipis secara cepat, lalu memalingkan wajahnya ke samping. Ji yeon mendekat pada Sehun dan menatap kegiatan Sehun meneguk jusnya.

“Apa tidurmu nyenyak Hun-ah?” Sehun menaruh gelas itu di atas meja, setelah mendengar suara lembut Ji Yeon.

“Ya, sangat nyenyak. Bagaimana denganmu?” Sehun melontarkan pertanyaan yang sama pada Ji Yeon, dan gadis itu tersenyum, “Aku juga.” Ji Yeon berucap pelan.

“Kau mau sarapan apa hari ini?” Ji Yeon nampak semangat menanyakan menu sarapan untuk Sehun, dan pria itu menggeleng kecil, “Tidak usah. Aku tidak ingin sarapan pagi ini.” Jawab Sehun, kemudian hendak pergi dari sana namun Ji Yeon menahan pergelangan tangan Sehun, membuat pria itu menatapnya.

“Ada apa ?” Tanya sehun bersuara datar, dan Ji Yeon sedikit sakit mendengar suara pria itu, yang kini tidak selembut dulu. Ya, semua sudah berubah nampaknya.

“Apa salah jika aku cemburu seperti ini?” Ji Yeon tertunduk sambil menahan tangisannya, dan Sehun yang mendengar itu nampak menghela nafasnya.

“Ji Yeon-ah..”

“Aku tahu Sehun, aku tahu jika aku tak pantas cemburu saat ini. Tapi bisakah, kau mempertimbangkan untuk menikah dengannya?” Sehun mendengar itu, langsung melepaskan paksa tangan Ji Yeon dari tangannya.

“Kau bicara apa huh?!” bentak Sehun dan Ji Yeon semakin menangis, ia rasanya frustasi dan tidak mau Sehun menikah dengan gadis lain. Sebut saja jika Ji Yeon egois.

“Sehun –“

“Aku menerima jika kau cemburu, tapi aku tidak terima jika kau menyuruhku melakukan itu! mempertimbangkan untuk menikah dengan Iren? Kau kira siapa dirimu?!” bentak Sehun,  membuat Ji Yeon tersenyum masam, ia harus sadar jika sekarang Sehun sudah berubah total padanya, tidak seperti dulu pria itu lembut dan menyayangi Ji Yeon dan memperlakukan Ji Yeon layaknya, ia seorang puteri yang sangat berharga di mata Sehun.

Menjadikan Ji Yeon satu-satunya wanita di dalam hatinya, namun sekarang Sehun sangat dingin padanya, dan bahkan pria itu tidak pernah ragu untuk membentaknya seperti tadi.

“Ajhuma lihat Se–“ mata Ji Yeon dan Sehun kini beralih pada sosok gadis yang sedang memakai kemeja Sehun yang terlihat kebesaran di tubuhnya, Ji Yeon meremas piyamanya menatap Irene pagi ini. Sedang gadis itu nampak salah tingkah, seperti ia sedang mengganggu pembicaraan mereka.

“Mencariku?” Sehun menaikkan alisnya pada Irene, dan gadis itu menggeleng cepat seperti anak kecil yang benar-benar menggemaskan. Sehun tertawa, kemudian mendekati gadis itu dan langsung menarik tengkuk Irene dan mencium bibir manis Irene di depan Ji Yeon. Dan sungguh, ia sengaja melakukan hal itu, agar Ji Yeon tahu jika Sehun sangat mencintai Irene melebih rasa cintanya pada Ji Yeon dulu.

Irene yang merasa tidak nyaman Sehun bersikap seperti ini di depan Ji Yeon, langsung memukul pelan dada bidang pria itu dan melotot sedikit kesal. Sehun memutar jengah matanya, dan kemudian tanpa meminta ijin, pria itu membopong tubuh Irene, menaruhnya di atas pundak Sehun, dan mengajaknya kembali ke kamar.

Pria itu tidak mempedulikan teriakan Irene yang meminta di turunkan, karena Sehun tidak berniat melakukannya memang.

“OH SEHUN! LEPASKAN AKU!” teriak Irene, namun Sehun pura-pura tuli.

.

.

.

Sehun mengusap kepala Irene di tengah melihat kegiatan Irene yang sedang memasak makan siang untuknya. Mengingat jika  besok mereka akan melangsungkan pernikahan, Sehun ijin tidak bekerja selama 3 hari dan sukses membuat Jongdae menggerutu kesal. Bagaimana tidak? Semua pekerjaan yang harusnya Sehun selesaikan dalam 3 hari itu, menjadi pekerjaan tetap untuk Jongdae, hingga membuat Jongdae kewalahan, bahkan sampai lembur tengah malam dan kurang istirahat.N

Namun hal itu dimaklumi oleh Jongdae, karena sahabatnya akan menikah, namun memikirkan honeymoon mereka membuat kepala Jongdae kembali berdenyut sakit, ia pasti akan sangat sibuk mengingat cuti Sehun memakan waktu 1 bulan. Bukankah terlihat jelas, jika Sehun mau membunh Jongdae secara perlahan?

Sehun mengulurkan tangannya dan memeluk pinggang Irene dari belakang, dan membenamkan dagunya pada lekukan leher calon istrinya itu, gadis itu merasa tidak nyaman tentu saja, berkali-kali Irene mendorong tubuh Sehun ke belakang, namun Sehun tetap saja menolak berpindah posisi, dan Irene hanya pasrah mengenai gangguan pria itu.

Irene kesulitan bergerak akibat pelukan Sehun. Ia sulit memotong sayur, dan menggoreng ayam.

“Hun, aku mohon.” Kata Irene kini menghela nafasnya kasar, namun Sehun menggeleng pelan sebagai bentuk penolakannya.

“masakanku bisa gosong sayang! Ayolah, berikan aku sedikit ruang bergerak! Ini sesak!” Kata Irene sedikit keras dan Sehun mengalah akhirnya. Sehun melonggarkan pelukannya dan beringsut melepaskan pelukan itu, dan memilih duduk di kursi meja makan, sambil menunggu Irene untuk memasak.

Irene mengangkat piring berisi sayuran yang baru saja matang dari atas kompor, dan menaruhnya di atas meja makan. Kemudian menaruh beberapa lauk di atas meja. Kegiatan Irene seketika terhenti saat melihat Ji Yeon berdiri di depan mereka dengan sebuah koper yang berada di sampingnya.

Sehun mengikuti arah pandang Irene dan kini ia juga melihat Ji Yeon di sana, Ji Yeon tersenyum tipis pada mereka, sedang Irene berpandangan dengan Sehun, mempertanyakan apakah gadis ini hendak pergi dari rumah Sehun?

“Kau mau kemana?” tanya Sehun tanpa berniat menghampiri gadis itu, dan masih setia duduk di tempatnya.

“Aku mau pergi sekarang. Terimakasih sudah membantu membayarkan hutang appaku Sehun-ah.” Kata Ji Yeon berusaha tersenyum.

Ya, sejujurnya minggu lalu Irene meminta Sehun untuk membantu membayar hutang ayah Ji Yeon, bukan semata-mata Irene ingin Ji Yeon cepat pergi atau berniat mengusir gadis itu, namun rasanya ia sangat kasihan Ji Yeon memiliki masalah seperti itu, sama saja ayah Ji Yeon menjualnya pada orang lain.

Sehun tidak menolak hal itu meski ia mengeluarkan kocek yang tidak besar, saat membayar hutang ayah Ji Yeon, yang menumpuk seperti sebuah menara, tapi Sehun tidak mempermasalahkan apa pun tentang uang, lagi pula uang yang ia keluarkan untuk membayar hutang itu bukanlah batas maksimal pengeluaran uangnya.

“Kau tidak mau sarapan dulu?” Tanya irene menawarkan dengan tulus, dan Ji Yeon menggeleng sambil tersenyum tipis, “Tidak, terimakasih Irene.” Jawabnya singkat.

“Baiklah, terimakasih sekali lagi. Aku harus pergi sekarang.” Ji Yeon menairk kopernya, dan menjauh dari sana.

Irene memukul tangan Sehun, membuat pria itu terkejut, “Apa?”

“Harusnya kau mengantarnya ke depan!” kata Irene kesal.

“Tidak mau!” tolak Sehun jengah, dan akhirnya memilih acara makan siangnya.

.

.

.

Alunan music romantis terdengar di sebuah gedung aula, yang kini sudah dihias khas acara pernikahan.

Para tamu undangan sudah memenuhi gedung itu, tidak lupa menyalami Sehun dan serta keluarga besarnya, atas pernikahan anak tuan Oh itu.

Sehun memilih warna ungu dan putih sebagai tema warna mereka, sesuai keinginan Irene, yang memang sangat menggilai warna ungu. Jadi tidak heran, jika ruangan itu didominasi warna ungu dan putih yang terpadu dengan apik dan indah. Sehun dengan tuxedo putihnya nampak gagah dan memancarkan karisma yang luar biasa dari wajah tampannya.

Sehun hanya menyambut tamu yang datang dengan terkadang tersenyum hangat. Hingga mata Sehun kini tertuju pada seorang gadis yang berstatus sebagai mantan tunangannya itu datang bersama seorang sunbaenya dimasa sekolah. Lee Hongki nampak tersenyum pada Sehun dan dibalas sebuah senyuman kecil dari Sehun.

Seolhyun nampak canggung berada di sekitar sana, namun genggaman tangan Hongki di tangannya membuat kegugupannya meruntuh seketika. Sehun tidak tahu jika mereka sudah menjalin sebuah hubungan, yang entah sejak kapan itu terjadi.

“Selamat.” Kata Hongki tersenyum sambil memukul pelan lengan Sehun sambil bercanda, dan Sehun ikut tertawa.

“Terimakasih sunbae. Dan selamat untuk kalian.” Ujar Sehun membalas ucapan selamat dari Hongki. Dan kekasih Seolhyun itu mengangguk. Keduanya pun pergi dari sana, dan duduk di bangku yang tersedia.

Kini mata sehun kembali menangkap sosok Jaehyun dan Taeyong yang sedang berlari menuju Sehun dengan terburu-buru, Sehun mengerutkan keningnya, ketika mereka sampai di depannya, tidak lupa membungkukkan badan mereka terlebih dahulu.

“Ada apa?” Tanya Sehun penasaran.

Taeyong mendekat dan berbisik pelan di telinga Sehun. Seketika mata sehun melebar sempurna menatap Taeyong dan Jaehyun bergantian.

“Kalian menangkapnya?”  Jaehyun dan Taeyong mengangguk lagi.

“Di mana dia sekarang?”

“Kami menyekapnya di gudang depyeonim.”

“Tahan pria brengsek itu sampai acara pernikahanku selesai, karena aku sendiri yang akan memberikan pelajaran untuknya.”

Ne depyeonim.” Mereka bersuara sambil menundukkan kepalanya.

.

.

.

Hingga kini tiba waktunya untuk acara pernikahan dimulai. Irene menarik dalam-dalam nafasnya, Irene yang nengeratkan remasan rengkuhannnya pada lengan sang kakak, membuat Kris hanya tersenyum sambil menepuk-nepuk tangan adiknya itu dengan lembut.

“Aku akan baik-baik saja kan oppa?”

“Ya sayang, kau akan baik-baik saja.” jawab Kris menenangkan dan Irene mengangguk setuju, sambil menarik nafasnya dalam-dalam.

Pintu aula itu pun perlahan terbuka, dan Irene menatap Sehun yang sudah siap menunggunya di depan sana, dengan senyuman paling indah yang pernah ia lihat. Seperti senyuman kepuasan di wajah pria itu, dan saat ini para tamu berdiri untuk menyambut pengantin wanita.

-Two People by Sung Sikyung-

Irene menelan salivanya sendiri, dan remasan di lengan sang kakak semakin kuatnya. Sang kakak yang mengetahui itu hanya tersenyum, sambil berdoa jika semuanya aka berjalan dengan lancar. Hingga saat Irene dan Kris sampai di depan Sehun, Kris memberikan tangan Irene pada pria itu, dan Sehun menerima itu dengan senang hati. Sebelum pergi Kris mengecup kening Irene dengan lembut, dan Irene tersenyum.

“Oh sehun, apa kau bersedia menerima Bae Joo Hyun sebagai istrimu yang sah, dan menerimanya dalam keadaan sehat, sakit, kaya, miskin, susah maupun senang?” Ujar pastor itu.

“Ya, aku bersedia” ucap Sehun tersenyum pada Irene, membuat pipi Irene merona sempurna.

“Dan Kau Bae Joo Hyun, apa kau bersedia menerima Oh Sehun sebagai suamimu yang sah, dan menerimanya dalam keadaan sehat, sakit, kaya, miskin, susah maupun senang?” Ujar pastor sekali lagi sambil menatap Irene.

Irene nampak diam, seperti bibirnya keluh dan tidak sanggup berucap, para tamu nampak bingung dengan diamnya Irene. Juga Sehun ikut menatap bertanya pada gadis itu.

“Sayang?” panggil Sehun dengan sedikit berbisik.

“A –ku be –bersedia!” Ucap Irene terbata, membuat tawa para tamu undangan memecah seketika. Sehun pun ikut tertawa kecil melihat tingkah menggemaskan gadisnya seperti itu.

“Baiklah, saya nyatakan kalian resmi menjadi sepasang suami istri. Dan silahkan mencium pengantinmu.” kata pastor itu tersenyum.

Sehun pun mendekatkan tubuhnya dan meraih tengkuk Irene mendekat, kemudian memiringkan wajah masing-masing dan hitungan selanjutnya bibir Sehun berhasil mencium bibir tipis Irene yang terasa manis, sedikit melumat bibir itu dengan lembut dan Irene ikut membalasnya. Sehun yang masih enggan melepaskannya membuat para tamu khususnya para sahabatnya itu gencar menggoda keduanya.

“Yak! Lakukan di kamar!” Seru Baekhyun dengan keras, dan itu membuat tamu undangan kembali tertawa.

Sehun pun melepaskannya meskipun ia tidak berniat, namun ia merasa jika ia akan mempunyai banyak waktu lagi dengan istrinya ini. Oh, betapa bahagianya ia sekarang, karena Irene sudah menjadi istrinya kini.

“Jadi, kau siap untuk malam pertama kita sayang?” bisik Sehun pada telinga Irene, membuat nafas Irene terasa tercekat rasanya.

So are you ready for the NC part?, wkwkwk. Asek asekk, mereka mau honeymoon loh habis ini, siapa yang menantikan part honeymoon mereka hayo? /PLAK/

Dan kusarankan semoga kalian yang belum 18 tahun, jangan baca episode special honeymoon mereka besok. Karena akan mengganggu pikiran kalian, wkwkwk.

Dan rencana bakalan aku private hehe. Jadi bagi kalian yang mau mendapatkan passwordnya, bisa hubungin alamat email aku yahhh vicamartin61@gmail.com

So, nantikan Chapter berikutnya … bye bye yorobun -,-

Iklan

30 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Stay With Me (Chapter 21)

  1. Heiho kk vangepark ak reader lama disini cuma baru bisa komen😂 jujur aku penggemar kebangetan sama ff ini btw nanti chapter selanjutnya diprotect ya? Aku boleh minta pw nya ga ak udh add line kk nanti akan chat bisa? 😁

  2. ohhh ak kira bakal berhasil si myungsoo nyulik..
    lega dah legaaa…
    akhirnya dah akhirnya resmi..
    “siapa yg nunggu nc part” /guaa/ #ketahuanyad*ng

    pokoknya biar udah nikah jangan end pokoknya titik/digampar/
    sampe punya anak pokoknya!!!/dibunuhauthor/
    ntar ak email deh ka yaaaaaaa
    bagi pw.y yaaaaaaa
    the best lop yuuu😘😘😘😘/penjilat/
    sekian

  3. Ciahhhh anak ayam nikah,adeuh gimana kalo iti dikehidupan nyata,bisa2 pingsan para exol…
    Oh ya,gimana kalo email aku eror,bisa minta facebook atau line,ma’af banget ya ngerepotin..
    Fighting….

  4. Yeaay akhirnya nikah jugaaaaa 🙂
    Bahagia liat mereka nikah tapi masih penasaran siapa yg di tangkap sama pengawal irene.. Next thor :* 🙂

  5. Akhirnya mereka nikah juga.. yeyeeeeeee..
    Sempet deg2 an kalo irenen di culik.. ternyata gak di culik.. syukurlah.. senyum2 sendiri baca chapter ini.. sehun lucu..
    Udah gak sabar buat next chapter..
    Love love deh.. hahahaha

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s