[EXOFFI FREELANCE] ENTRE (Chapter 2)

Tittle        :     ENTRE (Part 2 – A memory)

Casts        :     Kwan Eunhye (OC)

             Oh Sehun (EXO)

 Park Chanyeol (EXO)

 Hwang Min Hyun (Wanna One)

     Park Sohee (OC)

       Moon Reina (OC)

Author     :    Shin Eun So / Nugichan (WP)

Genre      :    AU, Romance, Hurt/Comfort

Length     :    Chapter

Ratting    :    PG-17

Disclaimer : I originally only own the story. Enjoy Reading and leave comments!

Angin sore menerbangkan helaian rambut gadis yang saat ini menjadi tumpuan obsidian Oh Sehun. Ini sudah menit ke dua puluh sejak pria itu menyandarkan belakang tubuhnya pada mobil dan melipat kedua tangannya di depan dada, mengamati dari kejauhan sosok yang tengah berbicara pada sebuah palang yang berdiri di atas gundukan tanah yang mulai ditumbuhi rerumputan liar. Gadis itu tak henti menggerakkan bibirnya dengan ekspresi yang berubah-rubah, persis seperti orang yang tengah berkonsultasi dengan seorang psikater.

    Sehun segera menarik kedua sudut bibir tipisnya ketika menyadari gadis itu melihat kemudian berlari ke arahnya. Hanya dalam hitungan detik, gadis itu telah berdiri di depannya dengan menunjukkan mata sabitnya, hal yang paling dirindukan seorang Oh Sehun.

    “Sudah lama di sini, oppa?”

    Sehun menggeleng, jari-jarinya terangkat merapikan helaian rambut yang jatuh di dekat mata gadis itu.

    “Aku langsung ke sini setelah mendengar kabar kalau kau kabur dari bandara.”

    “Pasti si hitam itu” Gadis itu bergumam seraya memanyunkan bibirnya, “Sebenarnya aku tidak berniat kabur. Aku sudah bilang pada manajer Kim jika tiba di Korea aku ingin bekunjung ke Hangang lebih dulu, tapi ia menolak.”

    Sehun kembali tersenyum, ini memang sudah menjadi sifat gadis itu sejak dulu. “Manajer Kim bukan menolak, dia pasti punya alasan, mungkin di lain waktu. Lagi pula kau datang ke Korea bukan untuk tinggal hanya dalam hitungan jam kan?”

    Perkataan Oh Sehun berhasil membuat gadis itu diam dan berfikir. Detik selanjutnya ia menganggukan kepala sebagai bentuk pengakuan atas kesalahannya.

    Dan Sehun kembali tenggelam dalam wajah gadis itu. Hari-hari selanjutnya mungkin ia akan disibukkan dengan panggilan telepon dari Tuan Park yang memintanya mengawasi gadis bernama Park Sohee itu.

~

    Chanyeol memandang jengah ke arah seseorang yang tengah sibuk dengan laptopnya. Ia berkali-kali memperhatikan wajah gadis itu- Moon Reina, bukan merasa terpesona, justru ia merasa terganggu dengan polesan make up yang menurutnya terlalu berlebihan. Chanyeol bahkan penasaran, lipstick jenis apa yang digunakannya hingga dengan warna setebal itu tak sedikitpun meninggalkan bekas di gelas yang ia minum.

    Hingga gadis itu mengangkat wajahnya, membuat Chanyeol mengalihkan pandangannya cepat.

    “Aku sudah memilih dekorasi ruangan, jenis makanan, dan menyusun konsep acara nanti. Aku juga memesan tanaman yang mengeluarkan aroma wangi alami untuk diletakkan di sudut-sudut ruangan. Di akhir acara nanti akan ada permainan seru, mau dengar? ”

    Chanyeol hanya menggeleng malas menanggapi perkataan Reina. Sebenarnya tujuan mereka bertemu di restoran ini bukan hanya untuk makan siang, melainkan membicarakan acara pertunangan mereka yang akan diadakan dalam beberapa hari lagi.

    “Oh ya, apa kita juga perlu membuat undangan melalui web?”

    “Tidak perlu, bukankah kita mengadakan acara secara privasi dan hanya mengundang orang-orang terdekat.”

    Reina hanya mengangguk samar kemudian kembali menatap layar laptop di depannya.

    “Kau sudah mengundang Sehun kan, bagaimana dengan Eunhye?”

    Pertanyaan Reina menghentikan gerakkan jari Chanyeol yang memutari bibir gelas. Setelah keluar dari toko bunga tempat Eunhye bekerja beberapa hari yang lalu, Reina sangat penasaran kenapa ia bisa mengenal gadis itu. Tak ingin terlihat mencurigakan, Chanyeol mengakuinya sebagai sahabat dekat sejak sekolah menengah atas.

    “Belum.” Hanya sebuah jawaban singkat, Chanyeol menghela nafas ditengah kebimbangannya, apakah ia harus mengundang Eunhye ke acara pertunangannya, atau tidak.

    ~

    Area outdoor di lantai 10 sebuah gedung perusahaan yang beberapa bulan lalu baru saja di resmikan tak terlihat lengang siang itu. Beberapa orang yang mengenakan rompi berwarna cokelat dengan logo BG di bagian belakangnya terlihat berseliweran membawa beberapa bibit tanaman, beberapa lagi di antara mereka sibuk menata kanopi yang berukuran hampir seperempat area outdoor yang terhitung luas. Sedangkan di antara mereka, seorang wanita nampak sibuk dengan sekop kecilnya, memindahkan perlahan bibit tanaman pada sebuah pot yang disediakan di tiap tiang kanopi. Hingga sebuah suara terdengar menyapanya.

    “Kwan Eunhye.”

    Entah mengapa Eunhye merasa pernah mendengar suara itu sebelumnya, ia kemudian mendongak dan menemukan sosok yang beberapa hari lalu ia temui. Eunhye lantas berdiri dan membungkukkan badannya.

    “Oh, anyonghasseyo, kita bertemu lagi Hwang Minhyun-si.”

    Pria berpostur tinggi itu balas membungkuk dan tersenyum.

    “Sepertinya pertemuan ini bukan kebetulan tapi keberuntungan.”

    Perkataan Minhyun membuat Eunhye mengangkat kedua sudut bibirnya, ia memerhatikan sejenak penampilan pria di depannya yang mengenakan kemeja hitam dengan dasi berwana biru, khas pekerja kantoran.

    “Apa kau bekerja di sini?”

    Pria itu membalasnya dengan anggukan kemudian menyodorkan selembar kertas kepada Eunhye.

    “Ini adalah konsep taman outdoor yang dirancang langsung oleh direktur Ahn.”

    Eunhye menyambut kertas itu dari tangan Minhyun kemudian membacanya.

    “Menurutku konsep yang dibuat Pak Direktur tak rumit, tapi dia tau posisi yang tepat sesuai jenis tanamannya.” Ucap Eunhye dengan tatapan matanya masih tertuju pada kertas yang berisi tulisan tangan dan sketsa sederhana.

    Tiba-tiba, seorang pegawai perusahaan berlari ke arah mereka dan berhenti tepat di depan Minhyun kemudian membungkuk hormat.

    “Manajer Hwang, maaf, tadi aku baru saja menerima telepon dari istriku. Sekretaris Yoo bilang jika konsepnya….”

    “Sudah, serahkan saja padaku.” Minhyun memotong cepat pembicaraannya.

    “Tapi manajer Hwang, direktur meminta saya…..” Si pegawai menunjukkan raut kebingungannya, tak mengerti gerakkan mata Minhyun yang lebih menyerupai kode untuk memintanya pergi.

    Hingga detik kemudian, si pegawai itu memahami maksud Minhyun dan kembali membungkuk, “Baiklah kalau begitu saya permisi.”

    Eunhye menautkan alisnya, merasa aneh dengan tingkah laku si pegawai yang berlalu pergi meninggalkan mereka.

    “Ternyata kamu seorang manajer di sini?”

    Minhyun membalasnya dengan anggukan canggung.

    “Bagaimana jika kita membahas detail konsep ini di restoran seberang.” Minhyun melirik sekilas jam di pergelangan tangannya, “Sebentar lagi waktu istirahat.”

    Tanpa pikir panjang Eunhye pun mengangguk setuju.

    ~

    Eunhye menggosok-gosok lehernya perlahan, bukan karena cuaca malam yang dingin, melainkan rasa pegal karena seharian ini bekerja penuh menata area outdoor sebuah perusahaan multinasional, ia sendiri tak menyangka bisa bertemu Hwang Minhyun di sana. Pria itu benar-benar ramah, ia bahkan berbaik hati mentraktirnya makan siang. Sebenanya posisi utama Eunhye pada tempatnya bekerja adalah sebagai seorang botanist, namun kadang ia merangkap sebagai pimpinan lapangan jika ada proyek dari luar. Pekerjaan multitasking seperti ini kadang bisa membuatnya melupakan segala permasalahannya dibanding menghabiskan waktu saat berlibur.

    Eunhye mempercepat langkahnya saat melewati sebuah bar, sungguh hingga usianya menginjak 23 tahun, sekalipun ia tak pernah melangkahkan kakinya ke dalam tempat semacam itu dengan alasan mencari hiburan ataupun untuk menghilangkan stres. Walaupun dirinya pernah masuk, itupun dengan alasan yang benar-benar mendesak.

    Langkah Eunhye yang mulanya sangat cepat berubah menjadi lambat, ia memicingkan mata, mencoba memastikan seseorang yang ia kenali walau terhalang kegelapan. Eunhye terus melangkahkan kakinya perlahan, tanpa melepas pandangan ke arah seorang wanita berpakaian minim tengah berdebat dengan pria berbadan tambun. Hingga wanita itu berteriak dan terjatuh setelah mendapat tamparan keras dari si pria, membuat Eunhye berlari cepat ke arahnya.

    “Unni, gwenchana?” Eunhye segera memegang bahu wanita yang ternyata adalah kakaknya, sedang memegang pipinya yang baru saja terkena tamparan.

    “Kembalikan uangku sekarang!”

    Eunhye tersentak mendengar gertakan pria berwajah sangar yang terlihat jelas dari jarak dekat, sepertinya ia adalah salah satu dari komplotan preman. Sedangkan kakaknya segera berdiri dan kembali memberikan umpatan.

    “Yak, seikya. Uang itu sudah dibawa lari oleh si kunyuk itu. Seharusnya kau mencarinya bukan aku.”

    Perkataan kakak Eunhye justru menjadikan emosi pria itu semakin naik. Ia nampak mengambil sesuatu dari dalam jaketnya, Eunhye membulatkan mata ketika menyadari benda yang di keluarkan pria itu adalah sebuah pisau, membuat peluh dingin keluar cepat dari pori-porinya.

    “Sora unni, apa yang sebenarnya terjadi?” Eunhye berbisik pelan sambil memegang pergelangan kakaknya.

    “Apa yang kau lakukan di sini, huh? Pulanglah, tak usah ikut campur urusanku.”

    Perkataan kakaknya tak lagi diperhatikan Eunhye ketika menyadari gerakkan pria di depan mereka yang hendak mengarahkan pisau ke arah Sora. Namun Eunhye dengan cepat memegang dan memutar tubuh kakaknya kemudian berbalik memunggungi pria itu.

    Selang sekian detik, Eunhye menahan nafas dan menutup erat kedua matanya. Detak jantungnya meningkat drastis disertai firasat buruk yang terus berputar di kepalanya, namun otaknya tak juga mengirim sinyal rasa sakit hingga indra pendengaran Eunhye menangkap suara pukulan keras dari belakang.

    Pria bertubuh tambun itu jatuh ke tanah setelah mendapat pukulan keras di perutnya, bahkan pisau ditangannya terlepas kemudian di ambil oleh seseorang yang baru saja memberikan pukulan untuknya.

    “Pergi sekarang, dan jangan dekati mereka lagi.”

    Awalnya pria berwajah sangar itu berdiri untuk melawan, namun saat ia melihat wajah lelaki yang memukulnya, ia mengurungkan niat dan memilih berlari meninggalkan mereka.

    Eunhye menghela nafasnya lega, setelah melihat kepergian pria itu. Ia pun segera menghampiri lelaki yang telah menyelamatkannya.

    “Chanyeol, kau tak apa?”

    Ya, lelaki yang berhasil mengusir preman itu adalah Park Chanyeol. Mata Eunhye menelusuri sosok lelaki itu untuk memastikan kondisinya.

    “Kemana kakakmu?”

    Pertanyaan Chanyeol mengingatkan Eunhye pada kakaknya, Ia lantas memutar bola matanya ke belakang namun tak lagi menemukan Sora- kakaknya. Yang dilihatnya hanyalah tas bahunya yang terjatuh dengan sebagian isinya terkeluar, salah satunya adalah dompetnya yang terbuka.

    ~

    Tidak ada pembicaraan sejak Eunhye masuk ke dalam mobil Chanyeol, ia hanya menatap kosong cahaya lampu yang memantul dari sungai Han.

    “Lain kali, kau bisa meneleponku jika bertemu dengan preman itu lagi.” Ucapan Chanyeol memecah keheningan, namun tak ada tanggapan dari Eunhye.

    “Kau tak apa?” tanya Chanyeol kembali seraya memperhatikan Eunhye sekilas kemudian kembali fokus menyetir.

    “Aku baik-baik saja.” Jawab Eunhye seraya menggeser pandangannya ke depan.

    “Kakakmu….” Suara Chanyeol terdengar ragu, ia sudah tahu bagaimana hubungan Eunhye dan kakak perempuannya itu sejak awal. Dan Chanyoel benar-benar yakin jika Eunhye adalah sosok adik yang sangat menyayangi kakaknya, walau kakaknya sendiri telah banyak menyakiti perasaannya.

    Sedangkan Eunhye kembali dalam diamnya, mengingat kejadian beberapa menit lalu, dimana ia bertemu dengan sosok yang selama 3 bulan ini tak dijumpainya. Padahal Eunhye berharap dalam pertemuan singkatnya itu ia dapat berbicara normal layaknya adik dengan kakak, walau hanya sekedar untuk menanyakan kabarnya.

~

    Chanyeol keluar dari dapur dengan salep ditangannya untuk mengobati kaki Eunhye yang terkilir. Gadis itu berbohong ketika mengatakan ia baik-baik saja, padahal dengan jelas Chanyeol melihatnya berjalan tertatih dan meringis saat turun dari mobilnya.

    Eunhye menatap diam wajah Chanyoel yang terlihat serius mengoleskan salep pada kakinya yang terkilir, sesekali pria itu memijatnya perlahan membuat Eunhye kembali meringis ketika mengenai bagian yang sakit.

    “Jangan terlalu banyak bergerak setelah ini.” Ucap Chanyoel seraya bangkit dan duduk di sebelah Eunhye.

    “Terimakasih.” Balas Eunhye sambil tersenyum.

    “Kau lapar?”

    Eunhye menggeleng, “Aku sudah makan malam.” Entah kenapa ada perasaan senang di hati Eunhye saat ada seseorang yang memberinya perhatian lebih.

    “Eunhye-a, soal kakakmu… jangan terlalu difikirkan. Aku yakin kakakmu adalah orang yang baik, dan suatu saat nanti kau pasti bisa tertawa bersamanya.”

    Sejujurnya Eunhye tak lagi memikirkan kakaknya, justru sekarang fikirannya tertuju pada pria yang saat ini masih tak mengalihkan pandangan darinya.

    Hingga beberapa saat keheningan kembali tercipta di antara mereka. Chanyoel masih menatap Eunhye dalam, ia merasa telah terkunci oleh kedua netra indah gadis itu, mendorong tangannya untuk menyentuh sisi wajahnya. Perlahan Chanyoel mendekatkan wajahnya sambil terus memandang manik Eunhye, hingga jarak wajah mereka semakin terpangkas. Chanyeol menurunkan pandangannya pada bibir Eunhye dengan polesan lipstick berwarna peach, satu hal yang membuat Chanyeol merasa bahagia memandangnya walau hanya riasan sederhana.

Detik jam dinding masih terdengar diantara dua insan yang mulai merasakan hembusan nafas mereka masing-masing. Chanyeol semakin memiringkan wajahnya dan perlahan menurunkan jari-jarinya menuju tengkuk gadis itu, hingga selang detik tindakannya terhenti karena dorongan tiba-tiba dari Eunhye.

    “Chanyeol, aku benar-benar lelah.”

    Perkataan Eunhye barusan membuat Chanyeol segera menarik tubuhnya menjauh.

    “Baiklah, kau harus segera tidur setelah ini.”

    Eunhye hanya mengangguk seraya memperhatikan Chanyeol yang bangkit dari sofa kemudian mengambil jaketnya yang tergantung dekat pintu.

    “Kalau begitu aku pulang dulu.” Ucap Chanyeol setelah memasang jaketnya.

    Baru dua langkah menuju pintu apartemen, Chanyeol berhenti dan berbalik menatap Eunhye, membuat gadis itu mengerutkan keningnya.

    “wae?” tanya Eunhye, heran.

    Chanyeol hanya menggeleng dan tersenyum kemudian kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan apartemen Eunhye.

    Tiba di parkiran, pria itu langsung masuk ke dalam mobilnya. Bukannya menghidupkan mesin, pria itu justru menyandarkan dahinya pada kemudi. Ekspresi wajahnya mengerut disusul teriakkan frustasi yang keluar dari mulutnya. Chanyeol membuka matanya dan memperhatikan beberapa lembar kertas  berwarna hijau kecokelatan yang dihiasi pita tergeletak di dashboard mobilnya. Keningnya semakin mengerut saat membaca salah satu nama di atas kertas itu, kertas undangan pertunangannya dengan Reina. Dan salah satu nama di undangan itu ditujukan pada gadis yang beberapa menit lalu membuat detak jantungnya tak karuan, Kwan Eunhye.

    ~

    “Sudah hampir seminggu dan kau baru saja bercerita padaku?”

    Eunhye dengan cepat mengalihkan pandangannya menuju salad buah dan lanjut memakannya, mencoba menghindari tatapan melotot sahabatnya Nara.

    “Seminggu ini aku sangat sibuk, bukankah kau juga begitu?” sahut Eunhye.

    “Baiklah. Setidaknya kau sudah  bercerita secara detail kepadaku.”

    Eunhye terkekeh pelan. Setelah rapat besar bersama Presdir, pegawai di Botani Garden di beri waktu istirahat makan siang lebih panjang dari biasanya. Waktu itu digunakan Eunhye untuk berbagi cerita dengan Nara, dan ia memilih topik pembicaraan tentang pertemuannya dengan calon tunangan Chanyeol beberap hari lalu.

    “Jadi, bagaimana menurutmu tentang gadis calon tunangan Chahnyeol itu?” ini adalah pertanyaan kelima yang dijawab Eunhye setelah ia bercerita panjang lebar.

    “Menurutku dia gadis yang cantik dan berkelas, juga aktif.”

    Nara menyeruput jus jeruknya kemudian kembali melanjutkan pertanyaannya, “Lalu, apa rencanamu setelah ini?”

    “Rencana?” Eunhye mengerutkan kening tak mengerti.

    “Maksudku, apa yang akan kau lakukan dengan hubungan absurd mu bersama Chanyeol?”

    Kali ini Eunhye tak dapat menjawab pertanyaan dari Nara.

    “Eunhye-a, pertunangan itu adalah wujud adanya ikatan antara pasangan sebelum benar-benar diikat resmi dengan pernikahan. Sebaiknya kau segera mengambil tindakan tegas sebelum semuanya terlambat. Orang-orang bisa memaklumi jika kalian mengatakan bahwa kalian adalah sahabat dekat sejak sekolah menengah atas, namun ketika mereka melihat perlakuan berbeda dari kedua pria itu kepadamu, maka kaulah yang akan mendapat tatapan sinis dari mereka.”

    Eunhye menghela nafasnya panjang. Perkataan Nara barusan justru membawa ingatannya pada kejadian 6 tahun lalu. Saat dimana ia berhadapan dengan dua orang lelaki berpakaian seragam sekolah dan memandang serius ke arahnya. Awalnya Eunhye pikir itu hanyalah bercanda, namun siapa sangka, kalimat yang diucapkannya hanya dalam satu tarikan nafas justru berubah menjadi karma baginya, dan ia benar-benar menyesal akan hal itu.

Well this part is short enough, but I’ll reveal the real story next part. So keep your eyes on this FF yach..   

 

Iklan

Satu pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] ENTRE (Chapter 2)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s