SUNDAY IN SEPTEMBER – 3rd Week – by AYUSHAFIRAA

wp-1505236245401.jpg

`SUNDAY IN SEPTEMBER`

 

A fanfiction by AYUSHAFIRAA

`Starring Lee Jieun, Byun Baekhyun, Ji Hyeran`

|| Drama, Friendship, Romance ||

// PG-15 // Mini-Chaptered //

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.


September List :

 [ Prologue1st Week2nd Week ― 3rd Week ― [Coming Soon] ]


© AYUSHAFIRAA, 2017. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

.

.

.

[ Pilihan Menyakitkan ]

 

“Berikan saja bunga itu pada Hyeran, seperti yang pernah kau lakukan dulu. Hyeran akan lebih menyukainya.” Ucapku seraya mengukir sebuah senyuman palsu sebelum akhirnya berlalu meninggalkan Baekhyun dan Sowon.

Aku masih ingat sekali. Setelah Hyeran menerima bunga itu dari Baekhyun, ia langsung meletakkannya dalam sebuah vas kaca di kamar kami. Mungkin dia sengaja melakukan itu, agar aku bisa menyadari kalau kami menyukai lelaki yang sama. Baekhyun adalah sumber kekuatanku, dan Hyeran tahu lelaki itu suatu saat bisa menjadi titik terlemah untuk menghancurkanku.

Hyeran mungkin punya seribu muka. Di depanku dia bisa menjadi sangat baik, dan di belakangku dia bisa bersikap jahat melebihi siapapun. Tapi dia bukanlah tipikal seseorang yang mau mengotori tangannya sendiri untuk menyakiti orang lain. Dengan mulut jahatnya, dia bahkan bisa menyiksaku tanpa perlu merasa berdosa.

“Ah! Jadi ini gadis yang mencoba menggoda Baekhyun-ku?” Aku tidak tahu bahwasannya Taeyeon juga menyimpan perasaan spesial untuk Baekhyun seperti aku. Hingga di suatu malam, dengan membawa bukti sebuah foto aku dan Baekhyun yang sedang berduaan di taman belakang putri, Taeyeon berani menjambak kasar rambutku dan menyeretku ke kamar mandi di mana ibu kepala panti tidak mungkin mendengar jeritan tangisanku.

Tidak ada yang tahu janji pertemuanku dengan Baekhyun selain Hyeran. Lantas bolehkah aku menyimpulkan kalau Hyeran telah sengaja memperlihatkan foto yang diambilnya secara diam-diam pada Taeyeon?

Setelah mendapat beberapa tamparan keras di pipi, Taeyeon juga menyiramkan air dingin ke sekujur tubuhku hingga basah kuyup. Katanya, agar aku bisa tahu diri kalau gadis kotor sepertiku sama sekali tak pantas menyukai Baekhyun. Keesokan harinya, aku tidak masuk sekolah karena mengalami demam tinggi.

“Jieun, kau masih sakit?” tanya Hyeran yang baru pulang dari sekolahnya. Dia melihat ke arahku yang masih terbaring di atas kasur dengan kompresan di dahiku, sekilas.

Aku memang mendengarnya, tapi rasanya mulutku susah untuk sekedar menjawab ‘ya’.

“Kau tahu tidak? Tadi aku pulang bersama Kak Baekhyun, lho! Dia memboncengku dengan sepedanya!” bahkan di saat aku terbaring sakit karena ulahnya, dia bisa-bisanya menceritakan hal itu padaku.

Aku tersenyum kecut. Mengingat kembali kejadian yang pernah terjadi di tempat ini membuatku sadar akan satu hal; aku lebih sering menitikkan airmata ketimbang tersenyum bahagia.

Apa kalian percaya takdir? Aku bertanya bukan karena aku tidak percaya, hanya saja aku tidak yakin takdir orang lain akan sepahit takdirku. Aku percaya Tuhan tidak pernah tidur, hanya saja, Tuhan mungkin lupa untuk mendengar doa-doaku. Aku ingin hidup bahagia, itu saja kok.

Tuhan memang pemilik skenario terkuat dalam hidup seseorang. Tapi apa boleh aku meminta pada-Nya skenario yang indah tanpa kesedihan? Aku tidak ingin berperan sebagai sosok protagonis yang selalu tersakiti. Aku bukan puteri kerajaan dalam negeri dongeng yang setiap kisahnya akan berakhir bahagia meski harus tersakiti lebih dulu. Aku hanya… seorang Lee Jieun, yang berharap sebuah kebahagiaan.

Katakanlah, Tuhan mengabulkan doaku. Tapi apa boleh aku bertanya pada-Nya? Kenapa Dia merenggut kebahagiaan itu kembali? Apa belum cukup airmataku selama ini untuk membeli takdir bahagia?

[Minggu, 19 September 2010]

Panti asuhan kami mengadakan liburan ke kebun binatang, meskipun terdengarnya kekanak-kanakan bagi anak SMA ke atas, tapi tampaknya itu tidak berlaku bagi kami. Anak-anak panti kami kan tidak hanya aku, Baekhyun, dan Kak Taeyeon, masih banyak juga anak-anak asuhan yang kecil-kecil, berumur jauh di bawah kami.

Karena ini kegiatan tahunan panti, tidak ada lagi larangan bagi anak putra dan putri untuk menghabiskan waktu bersama. Entahlah ini kesempatan bagus untukku bisa menghabiskan waktu bersama Baekhyun atau justru ini akan menjadi senjata yang bagus bagi Hyeran untuk semakin membuatku menderita.

“SELAMAT HARI MINGGU, JI!” Baekhyun tiba-tiba saja mengejutkanku dengan menepuk pundakku dari belakang. Aku balas memukul bahunya sekeras mungkin hingga dia menjerit kesakitan sambil tertawa.

“Kau ini sepertinya mulai hobi mengejutkanku ya?!” tanyaku, pura-pura kesal.

Lelaki itu terlihat berpikir sebentar, “Benarkah?”

“Kalau begitu, saat guru menyuruhku menulis hobi, aku akan menulisnya dengan huruf kapital! HOBI! TITIK DUA! MENGEJUTKAN JI SETIAP MINGGU!”

Aku tertawa melihat tingkahnya. Suara kerasnya bahkan langsung menarik perhatian beberapa pengunjung kebun binatang untuk menatap ke arah kami berdua, lebih tepatnya sih, ke arah Baekhyun saja. Haha.

Setelah berhasil membuatku sedikit malu karena tingkahnya tadi, Baekhyun dengan tiba-tiba lagi menempelkan tangannya di keningku.

“Kenapa?” tanyaku, bingung.

“Kemarin-kemarin, aku dengar kau sakit. Jadi, aku memastikan dulu apa gadis cantik di hadapanku ini sudah sembuh atau belum.” Ujarnya, tersenyum lebar.

Musim gugur tahun ini terasa begitu indah dari biasanya. Dedaunan yang kering berguguran, terbang terbawa angin yang juga menerpa tubuhku yang berbalut gaun one piece putih selutut. Tatapan mataku tak lepas darinya yang masih tersenyum tanpa dosa. Dia membuatku menyukainya tanpa aku tahu bagaimana perasaannya padaku.

Ya, aku dan Baekhyun belum menjalin suatu hubungan yang lebih dari sekedar persahabatan. Walaupun dialah perebut ciuman pertamaku, aku tidak pernah tahu siapa ciuman pertamanya.

“Karena kita sudah di sini, kita tidak boleh menyia-nyikan kesempatan ini, Ji!”

Baekhyun cepat-cepat mengambil posisi jongkok di hadapanku, membiarkanku melihat punggungnya yang lebar di balik kaos hitam yang dikenakannya.

“Kenapa kau diam? Ayo naik ke punggungku! Aku akan mengantarmu melihat baaaanyak binatang!”

Sepertinya Baekhyun masih merasakan hangatnya dahiku saat menempelkan telapak tangannya tadi. Aku yang terlanjur senang mendapat banyak perhatian darinya akhirnya  bergerak naik ke punggungnya. Daguku bertumpu pada pundak lelaki itu, sementara tanganku sudah melingkar dengan nyaman di lehernya.

Baekhyun perlahan bangkit dan berpaling ke arahku, “Kau mau kecepatan sedang atau maksimal, Ji?”

“Pelan-pelan saja, aku kan berat.” Jawabku ceria seraya memberi senyuman terbaik yang kubisa untuknya.

“Bilang saja kau ingin berlama-lama denganku, iyakan?!”

“Iya. Eh! Maksudku tidak juga!”

Aduh! Apa-apaan sih aku ini?! kenapa harus keceplosan? Baekhyun kan jadi senyam-senyum tak jelas sekarang! Dia pasti berpikir aku ini gadis agresif! Kalau Baekhyun jadi tak menyukaiku karena hal itu bagaimana?

“Aku juga ingin bisa terus bersamamu kok, Ji.”

Netraku melebar melihat wajahnya yang tersenyum dari samping setelah mengatakan itu. Dapat kurasakan pipiku yang berubah panas, tersipu oleh kata-katanya.

6 jam yang kuhabiskan bersama Baekhyun di kebun binatang terasa begitu singkat. Lelaki itu mengajakku melihat-lihat panda dan memberi makan kera. Sebenarnya banyak hal yang kulakukan bersama Baekhyun dalam 6 jam itu, namun 2 kegiatan itulah yang paling berkesan untukku. Ah, iya! Aku lupa! Ada satu hal lagi yang membuat hari ini begitu berkesan; saat seorang Byun Baekhyun mengobati luka gadis bernama Lee Jieun.

“Lihat! Lihat! Mereka menggemaskan sekali bukan?!” tanyaku yang sangat antusias pada Baekhyun saat kami berdua berdiri di depan area binatang asli dari negeri tirai bambu tersebut. Panda-panda yang kami lihat itu tampak berguling-guling sesuka hati mereka, ada juga yang terlihat asik sendiri menggigiti bambu.

“Iya, menggemaskan seperti dirimu, Ji.” Dia mencubit pipiku saking gemasnya, sementara aku yang merasa teraniaya oleh cubitannya hanya memperlihatkan bibirku yang mengerucut, manyun.

“Bukankah mereka semua kembaranmu, Baekhyun?” aku menunjuk ke arah kandang kera sambil menahan tawa. Baekhyun terlihat sebal, tangannya hampir saja menjitak hangat kepalaku, tapi karena dia tahu aku masih sedikit tidak enak badan, dia langsung mengganti niat buruknya itu dengan mengusap-usap kepalaku lembut.

“Untungnya kau sedang sakit. Kalau tidak, tidak akan ada ampun bagimu, Ji!” ancamnya tanpa raut menyeramkan sedikitpun. Yang kulihat hanya… Baekhyun yang tampan dan menggemaskan.

Tangan Baekhyun bergerak-gerak di depan wajahku, menyadarkanku dari lamunan tentangnya. Sedetik kemudian aku tertawa, membuatnya semakin menatapku dengan tatapan penuh tanda tanya.

“Apa yang kau lamunkan?”

“RAHASIA!” jawabku membalas candaannya minggu lalu, ditambah dengan ekspresi wajah jelekku yang meledeknya.

Aku berlari menghindar dari kejarannya, namun sialnya, aku tersandung dan jatuh dengan luka lecet di lututku. Baekhyun yang melihatku terluka lantas membantuku berjalan pelan-pelan dan menyuruhku untuk duduk di sebuah bangku selagi menunggunya meminta peralatan P3K pada pengurus panti.

“Ah! Perih! Pelan-pelan!” rintihku kesakitan saat tangan besarnya mulai bergerak meneteskan obat merah pada luka lecetku. Rasanya perih berdenyut-denyut.

“Tahan ya?” lelaki itu akhirnya menutup lukaku dengan sebuah plester. Yang membuatku heran, kenapa plesternya harus berwarna merah muda dan bergambar hati?

“Kenapa kau memilih plester ini?”

“Ini untuk menandai.” Jawabnya. Oh ayolah, kenapa Baekhyun harus membuatku terus bertanya-tanya?

“Menandai apa?”

Baekhyun menggenggam kedua tanganku, menyatukannya dengan kedua tangannya. “Untuk menandai kalau gadis di hadapanku ini adalah milikku, satu-satunya orang yang kucintai.”

Everything becomes happier

I smile even right before I fall asleep…

Aku membolak-balikkan tubuhku di atas kasur, entah untuk yang keberapa kalinya. Kurasa itu juga yang membuat Hyeran bergumam kesal karena gerakanku yang mengganggu tidurnya. Di saat orang lain mungkin akan tertidur pulas saking kelelahannya dengan kegiatan liburan panti ke kebun binatang hari ini, aku malahan tidak bisa memejamkan kedua mataku untuk mencoba beristirahat sama sekali.

Pikiran dan khayalku masih melayang ke setiap kejadian yang kuhabiskan bersama Baekhyun hari ini. Jika Hyeran bangun dan melihatku tersenyum-senyum sendiri seperti sekarang, mungkin dia akan mengira aku sudah berubah menjadi Jieun yang gila. Aku mendapati bibirku mengembang mengukir senyum beberapa kali setiap aku mengingat lelaki itu.

Baekhyun juga mencintaiku!

Cintaku tidak bertepuk sebelah tangan!

Aku bangkit dari tidurku, menekuk kedua lututku di depan dada untuk menyentuh plester yang menutupi lukaku di lutut kanan. Dengan plester ini, Baekhyun telah menandaiku sebagai miliknya.

Tunggu! Apa itu berarti kini aku dan Baekhyun resmi berkencan?

[Minggu, 17 September 2017]

Seperti kata Kyungsoo, rumahku berdebu karena tak pernah kutinggali. Setelah mengeluarkan seluruh isi tabunganku, aku membeli rumah kecil nan sederhana ini dan pindah dari panti. Tapi karena aku menjalani hidup sebagai Lee Jieun ‘si robot yang gila kerja’, aku tak pernah menyempatkan diri untuk pulang ke rumah. Aku akan membeli baju baru jika aku perlu, tertidur dan menumpang mandi di tempat kerja jika kebagian jadwal malam di tempat itu. Mungkin hanya sehari dalam 365 hari aku menyempatkan untuk mengunjungi rumahku, seperti hari ini. Itupun, hanya untuk sekedar bersih-bersih, bukan beristirahat.

“Bagaimana? Berdebu sekali bukan?” tanya Kyungsoo. Kepalanya muncul di pintu yang sengaja tak kurapatkan.

Jika aku tinggal di rumah ini, aku akan bertetangga dengannya. Rumah orang tua Kyungsoo berhadapan langsung dengan rumahku.

“Seandainya kau mau menitipkan kunci rumahmu padaku, aku pasti tidak akan membiarkan rumah ini berdebu.” Lanjut lelaki itu yang kemudian ikut melangkah masuk.

Aku berdecih dan menyipitkan mataku, “Kau pasti berniat mencuri pakaian dalamku saat aku tak ada, bukan?!”

Kyungsoo tertawa atas responku yang menurutnya terlalu blak-blakan. Memang, hanya dengan Kyungsoo-lah aku bisa berbicara dan melakukan hal gila nan konyol semauku.

“Kau mau membantuku bersih-bersih atau hanya berdiam diri saja disitu, huh?!” Aku melemparnya dengan koleksi pakaian dalam baruku yang tak pernah kupakai yang kukeluarkan dari lemari.

“Hei, dasar gadis gila!” Kyungsoo menghardik keras perilakuku, tapi sedetik kemudian dia kembali menjadi lelaki penyuka film dewasa seperti yang kukenal pertama kali. “Pakaian dalammu masih bau pabrik!”

“Sialan!” umpatku. “Memangnya kau pikir aku akan berani melemparkan pakaian dalam yang sudah kupakai padamu?!”

Drrrtt… ddrrttt…

Kyungsoo tampak meraba-raba sakunya sebentar. “Kurasa ponsel jadulmu yang bergetar, Jieun.”

Aku mengambil ponsel di dalam tas selempang berwarna hitamku. Ternyata benar, sebuah nomor tak kukenal meneleponku.

“Halo?”

Ji.” Aku mendengar suara Baekhyun di seberang sana. Entah darimana dia mendapat nomorku.

Bisakah aku bertemu denganmu hari ini?

Aku berpaling menatap Kyungsoo. Kyungsoo yang tak tahu dengan siapa aku bicara hanya mengangkat bahunya dan bertanya tanpa suara, ‘siapa?’.

“Memangnya ada apa?” tanyaku. Terakhir kali aku bertemu dengannya, aku pulang membawa luka. Tidak, sejak pertemuan pertama kami setelah 7 tahun berlalu, aku selalu menangis karenanya.

Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu. Aku harap kau mau menyisihkan waktu untukku.” Dari suaranya, Baekhyun seperti benar-benar membutuhkanku sekarang.

Aku menarik nafas panjang, “Baiklah. Katakan saja di mana kau ingin bertemu, aku yang akan mendatangimu.”

Kyungsoo terus menanyaiku tentang siapa yang baru saja menelepon dan mengajak bertemu. Tentunya, aku tak memberitahunya. Tak mudah bagiku untuk berbagi cerita dengan orang lain, tak peduli selama apapun aku mengenal orang lain itu. Apalagi ini menyangkut Baekhyun, cinta pertamaku yang sudah setahun ini menjadi suami sah dari musuhku sendiri.

Kegiatan bersih-bersih hari ini kulimpahkan sepenuhnya pada Kyungsoo, untungnya lelaki itu dapat kuandalkan.

Sekitar sepuluh menit menaiki bus, aku turun di sebuah pemberhentian yang dekat dengan alamat yang disebutkan Baekhyun di telepon tadi. Giant Hotel. Mengingat Baekhyun adalah General Manager dari Giant Group, hotel bintang lima tersebut pasti merupakan salah satu dari bagian kecil perusahaan yang dipimpinnya.

“Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang resepsionis saat aku melangkah mendekat.

“Saya memiliki janji makan siang dengan Tuan Hwang Baekhyun di hotel ini. Saya Lee Jieun.” Aku menggenggam erat tali tas selempangku, mencoba menghilangkan rasa gugup. Baekhyun bukanlah orang baru dalam kehidupanku, untuk apa aku merasakan kegugupan tak jelas seperti ini?

“Baik. Tunggu sebentar ya, Nona Lee.”

Aku mundur beberapa langkah, namun gerakanku itu malah membuat seseorang tak sengaja menabrakku.

“Ah! Maaf! Maafkan saya!” ucapku spontan membungkukkan badanku berkali-kali.

“Jieun? Sedang apa kau di sini?”

Kulihat Hyeran berdiri di depanku. Dialah orang yang tak sengaja menabrakku saat aku melangkah mundur. Dia tampak begitu cantik dan elegan dengan rambut cokelat yang terurai panjang, mengenakan gaun polkadot ketat sepaha yang dipadu blazer berwarna putih dan sepatu hak tinggi berwarna senada. Berbeda sekali dengan penampilanku yang sederhana mengenakan gaun merah muda selutut tanpa lengan, sepatu flat putih, dan tatanan rambut pendekku yang kubiarkan terurai natural.

“Aku-“

“Hai, Sayang!” Hyeran melambaikan tangannya pada seseorang di belakangku yang tentu saja dapat kutebak dengan mudah kalau itu adalah Baekhyun.

Aku berbalik, mendapati Baekhyun yang juga membalas lambaian tangan istrinya dengan senyuman lebar tanpa paksaan.

Bodohnya aku yang sedaritadi berpikir akan menikmati makan siang berdua saja dengan suami orang lain. Saat kulihat Hyeran juga berdiri di tempat ini untuk menemui suaminya, dia seolah berkata ‘tentu saja itu tidak mungkin terjadi, Lee Jieun’.

“Selamat hari minggu, Ji.” Ucap Baekhyun, menyapaku dengan kalimat sapaannya yang tak pernah berubah. Setiap kali dia menyapaku seperti itu, aku baru menyadari kalau hari yang sedang kujalani ini adalah hari minggu yang selama ini kulupakan.

Baekhyun tidak sedang mencoba memanas-manasiku dengan mempertemukan aku dan Hyeran dalam satu meja makan di restoran hotel, bukan?

Kami bertiga duduk di sebuah meja yang sudah dipesan Baekhyun sebelumnya. Aku duduk sendirian berhadapan dengan Baekhyun dan Hyeran yang duduk berdampingan dan saling menggenggam tangan satu sama lain. Aku hanya bisa tersenyum kecut melihat pemandangan itu.

“Apa yang ingin kau bicarakan denganku?” tanyaku, langsung ke inti. Aku tidak mau menyiksa batinku sendiri dengan berlama-lama menyaksikan kemesraan mereka.

“Lebih baik kita makan dulu, Ji. Sudah kupesankan-”

Aku cepat-cepat menggeleng, “Tidak perlu. Langsung saja.”

“Ah, iya. Apa yang ingin kau bicarakan, Sayang? Sepertinya penting sekali sampai-sampai kau harus mengajaknya makan siang bersama kita.” Hyeran bersandar di bahu Baekhyun, memberi tatapan sinis yang jelas tertuju ke arahku.

“Baiklah kalau begitu, aku akan memulai pembicaraan serius ini.”

Sesaat setelah dirinya menghirup nafas panjang, Baekhyun menatap Hyeran. “Kau memintaku untuk mencari ibu pengganti, bukan?”

“Lalu?” tanya Hyeran. Sama sepertinya, aku juga mengerutkan keningku, mencoba menangkap arah pembicaraan Baekhyun.

“Ji, maukah kau membantu kami?”

Aku tidak mengerti, sungguh. “Apa yang harus kubantu?”

Hyeran yang sepertinya mulai mengerti lalu menegakkan kembali posisi duduknya dan melepas genggaman Baekhyun. Kulihat dia kemudian meneguk anggur di gelas kristalnya dalam sekali teguk, seperti orang frustasi.

“Keluarga angkatku yang merupakan pemilik Giant Group ini, menginginkan Hyeran untuk segera memberiku keturunan. Sedangkan Hyeran beberapa bulan lalu baru saja mengalami kecelakaan yang mengharuskannya merelakan janin buah cinta kami yang baru 4 bulan dikandungnya dan juga merelakan rahimnya untuk diangkat. Hyeran, istriku, tidak akan pernah bisa mengandung lagi.” terang Baekhyun, menatapku penuh harap.

“Kami merahasiakan fakta rahimnya yang telah diangkat. Aku tidak mau membuatnya merasa tersudutkan.”

Setelah mendengar penjelasannya, aku sekarang tahu apa maksudnya.

“Maukah kau membantu melahirkan darah dagingku ke dunia, Ji?” lanjutnya yang langsung membuat dadaku terasa semakin sesak.

Sudah jelas bukan? Baekhyun memintaku untuk melakukan apa yang tak bisa lagi dilakukan Hyeran untuknya. Baekhyun memintaku untuk memberinya keturunan, yang akan mewarisi darah calon pemilik Giant Group yang baru.

PRANG!

Tiba-tiba saja, Hyeran membanting gelas kristalnya hingga serpihan belingnya berserakan di lantai dan sedikit melukai betisnya. Tanpa ba-bi-bu lagi, Baekhyun segera memanggil pelayan untuk membersihkan serpihan beling tersebut. Wajah lelaki itu tampak sangat mengkhawatirkan luka kecil istrinya.

Mataku seketika saja membulat saat melihat Baekhyun mengeluarkan sebuah plester dari dompetnya. Plester merah muda bermotif hati yang benar-benar sama dengan plester yang pernah ia pakai untuk menutupi luka di lututku 7 tahun yang lalu. Plester yang ia gunakan untuk menandaiku sebagai satu-satunya orang yang ia cintai. Kini, plester itu melekat menutupi luka Hyeran, yang secara jelas juga menekankan bahwa hanya wanita itulah yang kini Baekhyun cintai.

Tanpa kusadari, airmataku terus mendesak keluar. Terlebih lagi, saat bagian dalam dompet hitam lelaki itu memperlihatkan sebuah foto yang tak asing di mataku. Foto kebersamaanku dengannya, 7 tahun lalu, di kebun binatang.

“Baekhyun…” panggilku, putus asa. Airmata sudah berlinang membanjiri pipiku sejak beberapa menit lalu.

“Ji? Kenapa kau-“

“Kenapa harus seperti ini? Kenapa…” Maaf, aku tak bisa lagi menahan semuanya sendirian. “KENAPA KAU HARUS MEMPERLAKUKANKU SEPERTI INI, BYUN BAEKHYUN?!”

Setiap pasang mata yang ada di restoran itu menatap ke arahku, termasuk Hyeran.

“KAU MENIKAH DENGANNYA! TAPI KAU TERUS MEMAKSAKU MENGINGAT SEMUA KENANGAN BODOH KITA YANG PERNAH TERJADI DI MASA LALU! APA MAUMU, HUH?! KAU INGIN MELIHATKU HANCUR? AKU SUDAH HANCUR SEJAK HARI DI MANA KAU MENINGGALKANKU! KAU INGIN MELIHATKU MATI? KALAU BEGITU AKU AKAN MATI DI HADAPANMU SEKARANG JUGA!”

Aku merebut sebuah pisau makan dari meja pengunjung lain. Namun, tepat sebelum aku mengarahkan pisau itu ke dadaku, tangan Baekhyun sekuat tenaga menahanku untuk tidak melakukan hal gila itu.

TRAK! Pisau itu lepas dari genggamanku yang melemah. Kurasakan kakiku yang melemas tak bisa lagi menopang berat badanku hingga aku jatuh dalam pelukan bajingan itu.

Mataku yang telah basah sempurna oleh airmata berusaha menatap manik sendunya untuk terakhir kali. “Aku membencimu, Byun Baekhyun.”

Perlahan, seluruh duniaku berubah gelap dalam sekejap.

Tuhan… sekarang aku tak akan meminta apapun lagi dari-Mu. Cukup cabut saja nyawaku. Sungguh, Tuhan, aku lelah menjalani hidup penuh airmata ini. Aku hanya ingin segera terbangun dan melihat kedua orang tuaku lagi.

Tuhan… aku sudah menyerah mengharapkan kebahagiaan. Tak bisakah Kau memberi kedamaian di akhir kehidupanku ini?

Ayah… Ibu… Jieun merindukan kalian.

Tolong jemput Jieun, Ayah… Tolong peluk Jieun, Ibu…

Jieun ingin bersama kalian lagi…

Di sebuah taman yang berkabut, aku melihat ayah dan ibu sedang bermain bersama seorang anak laki-laki berusia 4 tahunan. Mereka kompak memakai pakaian berwarna putih. Aku tidak tahu siapa anak laki-laki itu.

Genggaman hangat tangan seorang pria yang begitu familiar mencoba menarikku mendekat ke tengah-tengah tiga orang yang sudah lebih dulu menghabiskan waktu di taman itu. Aku mengenal hangat tangannya, namun tidak dengan wajahnya.

Anak laki-laki yang semula terlihat asik bermain bersama ayah dan ibuku itu tiba-tiba saja menghambur ke pelukanku, memelukku begitu erat.

“Ibu… aku janji akan menjadi sumber kebahagiaan ibu. Jadi, kumohon, bersabarlah sebentar lagi.”

Anak laki-laki itu memanggilku ibu?

Aku berpaling menatap pria yang tadi menggenggam tanganku, “Kau… siapa?”

 

[ To Be Continued ]

Wattpad | WordPress

10 tanggapan untuk “SUNDAY IN SEPTEMBER – 3rd Week – by AYUSHAFIRAA”

  1. Nyesekkk.. rasanya pengen mati aja….
    Huhuhu…. aku benci Hyeran… kenapa orang jaat selalu bahagia dan orang baik selalu tertindas???
    Feelnya dapat bangettt …. 😂 aku sampai nangis lagi d chapter ini setelah d chapter kemarin aku jg menangis… 😂😂😂😂😂

    1. Waduh waduh waduh wkwkwk bahaya jangan ditiru yaa keputusasaannya Jieun 😂😂😂 Biasalah, realitanya emang begitu kan orang jahat selalu bahagia diatas penderitaan orang baik wkwk 😧😧 alhamdulillah, makasih kalo kamu juga bisa ngedapetin feelnya hehe 😍😍 siapin tisu aja yaaa yg banyak kalo baca ff ini soalnya aku gak tanggung jawab 😂👌 /plak😂

  2. Aku baca fict ini 2x dan nyesek nya jg brrtubi tubi jdny waks . Sumpah ini kerren bgt thor. Aku jd pnsrn ksah dblik kprgian baekhyun dlu sprti ap. Adkah jnji baekhyun sma jieun sblm prgi dlu? Dn knp tb2 baekhyun jd sma hyeran nkah? Aku pnsran dn ga nmuin clue msuk akal bwt fict ini krna author mnyembunyikanny dg sngasat apik! Daebaak wkwk. Dtggu next chapter yss thor… eeh btw aku mw mnta pw saddistic night chapter 7 tp lpa e-mail kmu thor. bs mnta e-mail nya lg thor? Aku comment trs koq dtggu ya thooor. Saranghae authoor.
    #ketcup manjah :* :-* ♥♥

    1. Waduh setrong sekali kamu ya udah tau nyesek dibaca lagi wkwk XD amiin, alhamdulillah makasih kalo dibilang keren hehe^^ tenanggg, akan dijelaskan di chapter selanjutnya kok :’) wkwk sampe dicari2 segala cluenya saking penasaran banget itu teh? 😂 Iya aku sembunyiin dulu /plak/ biar pada mau terus baca muehehe :’3 makasih makasih makasih unchhh 😍😍😍 siip siip, ditunggu aja yaa coming soon kok 😂👌
      Email aku ayushafira407@gmail.com yaa^^ siip siip^^ nado saranghaeee muach 💋💋💋 /diceraisuho/ehnggadeng😂🔪

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s