EXCEPTION – 6th — IRISH’s Tale

EXCEPTION

|   starring by EXO`s Chanyeol; Sehun; Baekhyun with OC`s Sarang   |

supported by Hello Venus & Lovelyz Members  |

|  AU x Fantasy x Melodrama x Romance  |  Chapterred  |  PG-17  |

—  exception:time passes—love changes

[ 2nd Story of Evening Sky © 2016 ]

2017 © Little Tale and Art Created by IRISH

dedicated for un-real-like fantasy

Previous Story: PrologueChapter 1 — Chapter 2 — Chapter 3Chapter 4Chapter 5

♫ ♪ ♫ ♪

In Sarang’s Eyes…

Aku berlari keluar penjara, mengabaikan tatapan aneh beberapa orang disana. Dan… Jongin ada disana. Ia menatapku… kecewa. Tapi aku tidak peduli. Aku melangkah terus ke kamarku—tidak, ini bukan kamarku.

Aku sadar. Aku tidak seharusnya ada di sini. Harusnya sejak awal aku sadar, aku salah berpihak pada bangsaku.

Tunggu saja Sarang, hanya beberapa hari lagi sampai semua penderitaan ini berakhir. Aku terhenti karena rasa sakit di lenganku. Aku butuh obat.

“Tidak akan ada obat untuk pengkhianat.” dokter Soojung berdesis di dekatku.

BRAK!

Aku membanting pintu kamar, kemudian aku melihat luka di lenganku. Ada luka berlubang di sana. Aku berjalan ke kamar mandi dan melipat lengan pakaianku, luka itu benar-benar mengerikan.

Aku menekan luka itu dan rasa nyeri segera menusuk lenganku. Aku membasahi handuk kecil yang ada di dekatku, kugunakan untuk membersihkan luka itu. Aku keluar dari kamar mandi, mengambil kain polos berwarna hitam yang ada di dalam lemari—mengingat kamar ini memang bukan kamarku, di dalam lemari memang ada beberapa helai kain yang tidak terpakai.

Kemudian kulipat kecil kain tersebut, kulilitkan di luka yang ada di lenganku. Meski rasanya luar biasa menyakitkan, setidaknya luka ini tak akan menganga mengerikan lagi.

Aku memandang keluar kamar. Ini malam hari. Apa Baekhyun ada di luar? Tapi ia bilang aku tidak seharusnya ada di luar saat malam hari.

Tapi aku ingin menemuinya.

Aku akhirnya mengambil kunci pintu bawah tanah, kemudian aku menyelinap keluar. Orang-orang sudah tidak tampak di koridor, kurasa mereka sudah kembali ke kamar.

Aku melangkah melewati jalur menuju pintu bawah tanah, sempat aku berkeinginan untuk pergi ke penjara, tapi kurasa mereka menjaga penjara sekarang. Setelah melihatku bertindak seperti tadi.

Mengabaikan keinginanku dan juga bayangan tentang keadaan Jin yang begitu mengerikan, aku akhirnya keluar dari gedung. Pemandangan indah langit malam langsung menyambut begitu aku sampai di luar.

Diam-diam, membuatku merasa begitu tenang.

Aku memandang bulan yang kini tampak begitu besar. Membuatku teringat pada malam di saat Chanyeol dan yang lainnya menyerang Gedung Penyembuhan.

Kenapa aku di sini? Kenapa selama ini aku bertahan untuk hidup dengan bangsaku? Padahal… vampirevampire itu menerimaku. Akankah mereka masih menerimaku setelah kejadian itu?

Rasanya seharusnya aku tidak ada di sini. Hah. Lucu. Di saat terakhir aku bersama Chanyeol, aku mengatakan hal yang sama. Sekarang, saat aku bersama bangsaku, yang kupilih, aku merasa bahwa aku tidak seharusnya bersama mereka.

Aku menghela nafas panjang. Aku yang memutuskan. Dan sekarang aku yang umm, menyesali keputusan itu. Salahkah aku? Aku tidak ingin mengkhianati bangsaku. Keberadaan manusia dipertahuhkan sekarang, tapi faktanya, manusia yang tersisa memilih untuk jadi bangsa peralihan.

Aku tidak tahu apa tanda Chanyeol masih ada padaku, tapi nyatanya leherku tidak pernah terasa sakit saat aku bersama pria lain. Kurasa dia benar-benar menghilangkan tandanya.

Apa Chanyeol sudah menandai orang lain?

“Kurasa sudah kukatakan jangan keluar malam, Sarang.”

Aku tertegun melihat Baekhyun berdiri tak jauh dariku. Aku tersenyum tipis padanya. Aku sungguh tidak merasa baik-baik saja hari ini.

“Bau darahmu tercium tajam tidak seperti biasanya. Apa kau terluka Sarang?” Baekhyun dalam hitungan detik sudah ada di dekatku, dipandanginya aku dengan tatapan sarat akan kekhawatiran.

Aku mengangguk.

“Hmm, ya. Mereka berusaha memusnahkan seorang vampire dengan alat mereka, aku tidak mau hal itu terjadi. Jadi aku mencegah mereka, dan akhirnya lenganku terluka.” kataku, menahan tangis.

Baekhyun memandangku. Diam. “Kau tidak seharusnya menanggung beban seperti ini Sarang-ah,” ucap Baekhyun akhirnya.

“Aku… Selama ini aku tidak berpikir rasional, aku berpihak pada orang-orang yang tidak memihakku sama sekali.” kataku membuat Baekhyun tertawa pelan.

“Jadi… apa itu artinya kau berpihak pada kami sekarang?”

Kini aku yang memandangnya. “Aku tidak bisa membantu apapun meski aku memutuskan hal itu. Kau tahu sendiri, aku tak punya kuasa apapun di sini, dan tidak juga bisa membantu vampire lain di penjara itu untuk terbebas.”

Baekhyun menyernyit. “Siapa bilang kau tidak bisa membantu? Setidaknya, kau bisa membantuku membuat obat itu.” katanya membuatku menatap Baekhyun tak mengerti.

“Obat yang kau gunakan menyerang mereka?” tanyaku dijawabnya dengan anggukan.

“Ya, kau bisa membantuku, Sarang. Tergantung padamu, mau membantuku atau tidak.”

“Apa obat itu hanya kau gunakan untuk menyerang mereka?” tanyaku lagi.

“Tidak. Dalam jumlah yang cukup, obat itu bisa jadi pemusnah bangsa peralihan, seperti yang kugunakan menyerang salah satu dari mereka waktu itu. Ayolah, kau tahu aku akan kesulitan membuat semuanya sendirian.” kata Baekhyun sambil mengulurkan tangannya padaku, menawarkanku untuk mengikuti ajakannya.

Aku akhirnya menyerah, kuraih tangannya sementara Baekhyun akhirnya tersenyum sebelum dia membimbing langkahku untuk mengikutinya. Kami pergi tak jauh dari pintu keluar, dan aku bahkan bisa melihat pintu yang jadi satu-satunya jalur masuk-keluarku selama ini.

“Aku tinggal di sini, mengawasimu dan juga membuat obat itu.” kata Baekhyun menjelaskan. Ya, aku tahu benar dia memang mengawasiku, perintah Chanyeol bukan? Tapi tidak kusangka kalau dia selama ini berada begitu dekat dari pintu menuju gedung mengerikan yang kutempati.

“Mereka tidak pernah menemukanmu di sini?” tanyaku, kupandangi rumah kayu kecil yang ada di balik deretan pepohonan tua yang Baekhyun sebut sebagai tempat tinggal itu.

“Tidak. Kau tahu ada perumpamaan yang mengatakan bahwa terkadang berada di dekat musuh akan jadi tempat persembunyian teraman. Dan di sinilah tempat aman itu. Mereka tak pernah menduga jika aku selama ini berada begitu dekat dengan mereka.”

“Aku juga tidak pernah menduganya.” kataku.

Baekhyun tersenyum simpul. “Itulah mengapa aku bisa muncul dengan begitu cepat jika kau keluar, Sarang.” katanya.

“Ah, benar. Aku bahkan tak pernah menyadarinya.” gumamku menyadari bahwa selama ini memang Baekhyun muncul begitu cepat tiap kali aku berada di luar gedung. Rupanya, dia selama ini ada di tempat yang begitu dekat.

“Nah, kita sudahi perkenalan tentang tempat tinggalku. Jadi, tugasmu untuk membantuku sangatlah mudah. Aku sudah membuat beberapa ramuan dasar untuk senjata yang kugunakan untuk melawan mereka.

“Kita hanya tinggal memasukkannya ke dalam selongsong peluru buatan yang kuciptakan. Dengan begini kau akan merasa bahwa kau membantuku, bukan?” Baekhyun berkata, dipersilahkannya aku duduk di atas sebuah pengalas kayu di dekat tungku berisi cairan berwarna hijau—atau hitam?—pekat, aku tak bisa melihat dengan jelas warna likuid tersebut mengingat pencahayaan di tempat ini amatlah minim.

Aku kemudian duduk di tempat itu, menatap Baekhyun yang juga duduk di hadapanku, selagi dia berkutat dengan beberapa potong bilah bambu yang kuyakini berisi selongsong peluru yang dia bicarakan.

“Ah, Sarang. Sebenarnya, masih ada yang kurang dari racun ini.” kata Baekhyun kemudian.

“Apa itu? Apa aku bisa membantu?” tanyaku.

“Sebelum itu… bisa aku minta darahmu?” ucapan Baekhyun sekarang berhasil membuatku terkesiap.

“Untuk apa?” tanyaku segera memunculkan sebuah senyum kecil di wajah Baekhyun. Tampaknya dia merasa geli karena ekspresi terkejutku.

“Jangan ketakutan begitu. Darahmu bisa menjadi tambahan di obat ini. Aku pikir kau sudah kuberitahu tentang obat ini dan bagaimana cara membuatnya bukan?” tanya Baekhyun.

“Kau tidak akan menyerangku secara tiba-tiba, bukan?” tanyaku memastikan.

“Mana mungkin aku tega melukaimu, Sarang?” Baekhyun balik bertanya padaku.

Aku akhirnya mengangguk pasrah. “Baiklah, kau boleh ambil darahku.”

Baekhyun membuka perban kain di lenganku, kurasa darah kembali mengalir dari luka itu, karena Baekhyun langsung sedikit menjaga jarak denganku.

Ia mengarahkan lenganku ke tungku tempat likuid kental tadi berada—aku heran, darimana dia mendapatkan benda itu. Darahku menetes dengan deras ke dalam wadah itu. Membuat warnanya menjadi semakin gelap.

“Nah, ini cukup. Obat ini sudah sempurna sekarang,” kata Baekhyun, lekas dia menutup luka di lenganku dengan kain yang sama, mengirimkan rasa sakit lainnya ke luka itu, tentu.

“Aku heran mengapa mereka tidak mengobati lukamu Sarang.” kata Baekhyun kemudian.

“Kau tidak akan mau tahu apa yang tadi terjadi di dalam sana.” gumamku muram.

“Kurasa aku akan tahu nanti.” Baekhyun berkata, atensinya sekarang bersarang pada likuid tersebut—yang tiba-tiba saja mengeluarkan beberapa gelembung kecil karena darahku

“Cairannya seperti bekerja sendiri,” kataku takjub.

“Memang begitu. Saat darah masuk, benda ini akan bersikap seolah ia punya kehidupan sendiri, itulah mengapa kukatakan darahmu akan sangat berguna.”

Aku terdiam. Darahku jadi campuran di obat itu?

“Mengapa aku jadi merasa seolah aku menjadi pembunuh mereka semua secara tidak langsung?” diam-diam rasa bersalah melingkupi batinku begitu membayangkan apa yang akan terjadi pada bangsa peralihan jika senjata yang Baekhyun ciptakan menyerang mereka.

“Bukankah kau sudah memilih siapa yang akan kau pihak?” tanya Baekhyun sembari menatapku, menyadarkanku bahwa aku harus benar-benar memilih. “…, Yang kau lakukan sekarang hanya sebagian kecil dari kebaikan yang selama ini kau lakukan, Sarang.” sambungnya.

Cukup. Tidak ada lagi nona baik hati disini.

“Aku tahu. Aku memang ingin menolong kalian.” kataku sambil tersenyum.

“Karena kau sudah cukup banyak membantu, kupikir aku tidak perlu merepotkanmu lagi. Aku bisa menyelesaikannya sendiri.” kata Baekhyun.

“Mengapa dari awal tidak kau beritahu saja aku kalau yang kau butuhkan hanyalah darahku?” aku bertanya pada Baekhyun, dia kemudian tergelak, sadar bahwa aku menyadari tujuannya membawaku hanyalah untuk mendapatkan darah saja, bukannya membantu seperti yang dia katakan di awal tadi.

“Karena kupikir kau akan menolak.” sahut Baekhyun ringan, dia lantas menggerakkan jemarinya, dan serta-merta longsongan peluru yang ada di dalam bilah bambu di sana bergerak melayang di udara.

“Whoah…” ucapku tanpa sadar, berulang kali melihat kemampuan para vampire tidak juga membuatku berhenti merasa takjub terhadap mereka.

Baekhyun kemudian menggerakkan jemarinya lagi, dan likuid kental yang ada di dalam tungku pun ikut bergerak mengikuti irama jemarinya. Dengan sendirinya likuid-likuid itu akhirnya masuk ke dalam longsongan peluru yang ada di sana.

“Setidaknya aku bisa membanggakan kekuatanku di sini.” kata Baekhyun bangga.

Beberapa lama aku menemani Baekhyun di sana. Dan saat kurasa hari sudah sangat larut, aku kembali ke gedung itu. Aku ingin menengok Jin dan yang lainnya. Jadi Baekhyun mengantarku sampai ke pintu masuk, sebelum akhirnya aku memberi senyum perpisahan padanya dan mengunci rapat pintu rapuh tersebut.

Begitu aku menaiki tangga menuju penjara, langkahku terhenti saat kulihat bayangan Sehun masuk ke lorong menuju penjara tersebut. Sial, dia pasti memilih untuk berjaga dan siaga malam ini. Aku tak akan punya kesempatan untuk menemui Jin.

Besok. Hanya besok kesempatanku untuk bertemu mereka.

Sebelum semua kejadian yang tidak kuharapkan benar-benar terjadi.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Esok malamnya aku menyelinap keluar dengan membawa kardus darah yang sudah kucuri. Tidak banyak orang yang ada di luar, kurasa mereka sudah tidur. Aku hampir saja berpapasan dengan Sehun di jalan menuju penjara.

Tapi kusadari dia tidak berfokus pada apa yang ada di sekitarnya. Justru, ekspresi Sehun terlihat begitu muram. Dengan gusar dia melangkah masuk ke dalam kamarnya—padahal jarang sekali melihatnya masuk ke dalam ruangan tersebut—dan aku akhirnya punya kesempatan untuk melanjutkan aktivitasku.

“Kei?” panggilku begitu aku sampai di penjara.

“Ya, Sarang?” lirih suara Kei masuk ke dalam runguku.

“Di mana Jin?” tanyaku khawatir.

“Di tempat yang sama seperti kemari, Sarang…” kali ini vokal Jin terdengar. Di tempat kemarin? Artinya dia ada di sudut terdalam penjara ini.

Aku akhirnya melangkah menyusuri kegelapan, mencari keberadaan Jin dan samar-samar kulihat bayangan tubuh Jin masih terikat rantai ke tembok penjara.

“Oh, Jin… Maaf aku tidak bisa membantumu. Kau pasti sangat kesakitan.” kataku, ragu-ragu aku melangkah mendekati Jin, berharap bisa merengkuh tubuhnya tapi yang kudapatkan malah desisan khas yang kukenali sebagai tanda bahwa mereka—para vampire—mulai kesulitan mengendalikan nafsu mereka terhadap darah.

“Tidak, jangan mendekatiku Sarang. Aku bisa membahayakanmu.” kata Jin, suaranya tidak terdengar separau kemarin, bagaimanapun mereka memang bisa menyembuhkan diri sendiri dengan lebih cepat dan lebih baik daripada manusia.

Kupikir, keadaan Jin mungkin sedikit lebih membaik.

“Tunggu sebentar, Jin. Aku membawa darah yang cukup untuk kalian semua.” ucapku, berhati-hati kuberikan darah-darah yang sudah Baekhyun dapatkan untukku pada mereka yang terkurung di jeruji.

Tidak lupa kusisakan beberapa kantong darah untuk Jin juga, aku tahu dia kelelahan dan kehausan setelah melalui hari yang berat karena harus tertangkap secara paksa, lagi.

Gomawo Sarang…” ucap Jin tulus saat aku memberinya darah.

“Aku sudah melakukan ini padamu saat kau di sana… Bagaimana kau bisa tertangkap?” tanyaku.

“Kami sudah dalam perjalanan kesini Sarang. Maaf, aku tidak bermaksud melukai siapapun, semuanya terjadi begitu saja…”

“Kalian… ke sini?” ucapku tak percaya.

“Ya… Dan, aku tidak bisa menjelaskan situasinya. Semuanya menjadi terlalu berbeda. Chanyeol juga begitu. Sejak menandai seorang vampire wanita kuat yang ditemuinya di hutan, dia jadi berubah begitu banyak.”

Aku terkesiap mendengar ucapan Jin.

“C-Chanyeol… dia apa?” ulangku.

“Dia menandai seorang vampire, Sarang. Sejak saat itu dia berubah, menjadi begitu dingin dan tidak berperasaan. Memang sebelumnya dia juga begitu, tapi dia sekarang menjadi begitu keji.” tutur Jin.

“Sejak kau pergi, ia tidak kembali pada kami selama beberapa pekan, dan saat kembali, dia membawa seorang vampire wanita yang sudah ditandainya. Disanalah aku sadar bahwa dia sudah berubah. Ia tak lagi pernah bertutur lembut pada kami…” sambung Jin lagi.

Aku terpaku. Menyesali tindakanku sekarang. Tapi untuk apa aku menyesalinya? Pada akhirnya aku tahu Chanyeol telah dimiliki oleh seseorang yang lebih pantas untuk bersanding dengannya. Sementara aku di sini terluntang-lantung berusaha bertahan hidup dan melepaskan diri dari kekangan bangsaku yang bahkan tidak lagi menerimaku.

“Kau… pernah di tandai Sarang?” kudengar Kei bertanya.

“Ya… seorang vampire bernama Chanyeol dulu menandaiku.” jawabku pada Kei.

Hening sejenak, sebelum akhirnya Jin kembali bicara. “Jangan berada di dekat mereka Sarang, kejadian tahun lalu akan terulang kembali.”

“Maksudmu… penyerangan seperti dulu?” tanyaku pada Jin.

“Ya. Kami semua mungkin akan datang, bangsa kami. Semua ini harus berakhir Sarang, mau tak mau manusia harus melepaskan kami.”

“Tidak semudah itu, Jin. Kau tahu benar kami tak akan bisa melawan mereka jika kami belum lengkap.” terdengar suara Jongdae menyahuti.

“Para pangeran itu, maksudmu? Kita tak bisa berbuat apa-apa lagi, Jongdae. Baekhyun tidak bisa ditemukan oleh siapapun, dia menghilang bagai debu setelah tahu Chanyeol kembali.”

“B-Baekhyun?” ulangku terkejut.

“Ya, salah seorang pemimpin seperti Chanyeol juga, Sarang. Saat Chanyeol kembali bersama vampire yang ditandainya, keduanya terlibat perdebatan cukup sengit sebelum akhirnya Baekhyun memutuskan untuk pergi.”

“Namanya adalah Baekhyun?” ulangku, memastikan jika saja Baekhyun yang kukenal dan Baekhyun yang sedang mereka bicarakan adalah satu orang yang sama.

“Ya, namanya Baekhyun. Mengapa? Apa nama itu terdengar familiar bagimu?” tanya Jongdae, tampaknya dia sadar kalau aku sudah menanyakan hal yang sama sebanyak dua kali.

“Ah, itu… Aku bertemu dengan seorang vampire bernama Baekhyun di luar. Dia bisa menggerakkan benda sesuai keinginannya…”

“Dia Baekhyun kami…” kata Xiumin tak percaya.

“Jadi dia… salah satu di antara kalian?” selama ini Baekhyun tidak pernah mengatakan apapun padaku. Selain fakta bahwa dia ditugaskan oleh Chanyeol untuk mengawasiku, dia tidak pernah bicara apa-apa lagi.

“Kau benar-benar mengenalnya, Sarang? Tanpa dia, kami akan sulit memenangkan perang ini.” kata Jongdae.

“Ya, tentu saja. Dia ada di luar gedung ini, tidak begitu jauh. Kalau mau, aku bisa keluar dan menemuinya.” aku sudah bergerak untuk berdiri, untuk apa membiarkan mereka kehilangan Baekhyun sedangkan aku sudah tahu dimana dia berada?

“Tidak perlu Sarang, kau bisa membawanya besok malam, perang akan terjadi besok…” kata Kei membuatku teringat satu hal.

Aku segera melangkah menjauh dari Jin, lantas aku membelesakkan diriku ke dalam jeruji Kei dan memeluk vampire cantik itu.

Aigoo, ada apa ini, Sarang?” tanya Kei

“Saat aku bayi, pernah ada vampire yang menyelamatkan hidupku saat manusia-manusia itu meninggalkanku, Baekhyun bilang orang itu adalah kau… gomawoyo Kei-ah…” kataku.

“Jadi kau—astaga Sarang… aku tidak pernah tahu bayi yang dulu kutolong adalah kau. Takdir mempertemukan kita di sini.” Kei membalas pelukanku, rasa nyeri sedikit menusuk lenganku, membuat Kei melepaskan pelukannya.

“Dunia ini begitu sempit, bukan?” kudengar Jongdae berkomentar.

“Benar, dunia ini terlalu sempit… itulah mengapa manusia tidak mengizinkan dunia sempitnya untuk dibagi bersama dengan kami.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Malam itu benar-benar datang.

Semua vampire itu di lepaskan. Tapi tidak satu pun dari Kei atau yang lainnya bergerak menyerang manusia di sana. Berbekal sebuah kunci yang selalu kubawa untuk menemui Baekhyun, aku akhirnya berlari menuju lorong bawah tanah.

“Baekhyun!” teriakku begitu aku sampai di luar gedung.

Tak sampai dua sekon, Baekhyun muncul, ditatapnya aku terkejut. Memang aku tidak pernah berteriak begitu lantang mencarinya.

“Ada apa, Sarang?” tanyanya khawatir.

“Kau harus masuk, Baekhyun.” kataku.

Dipandanginya aku sejenak sebelum akhirnya sebuah senyum terukir di wajah. “Jadi kau sudah mendengar tentangku dari mereka yang ada di dalam?” tanya Baekhyun.

“Apa kau berbohong lagi padaku?” tanyaku, menyadari bahwa Baekhyun rupanya menyembunyikan rahasia lainnya.

Baekhyun mengangguk pelan. “Ya, sedikit banyak. Akan kuceritakan semuanya padamu setelah malam ini berlalu, Sarang.”

Aku baru saja hendak buka suara ketika kulihat siluet-siluet bersayap terbang di langit malam. Mereka pasti para vampire yang Jin bicarakan.

“Cepat masuk, Sarang! Di sini berbahaya.” kata Baekhyun.

“Bagaimana denganmu? Kau tidak masuk? Mereka semua membutuhkan pertolonganmu.” ucapku sambil menatap Baekhyun tak percaya.

“Bagaimana mungkin aku tidak menolong? Tunggu aku di dalam, Sarang. Akan kutemui kau dari pintu depan mereka. Aku tak suka menyelinap masuk dari pintu rahasiamu itu.” kata Baekhyun sebelum dia melebarkan sayap berkilau di punggungnya.

Aku akhirnya tersenyum yakin.

“Baiklah, sampai bertemu, Baekhyun.”

Setelah mengacak suraiku, Baekhyun akhirnya melesat pergi, sementara kubawa diriku kembali berlari masuk, kali ini tentu aku tidak perlu repot-repot menutup pintu tersebut. Karena pada akhirnya, pintu itu juga akan dihancurkan.

Perang benar-benar terjadi dalam beberapa menit yang kutinggalkan. Melihat darah berceceran dimana-mana sontak membuatku merasa mual, tapi aku—tidak… dia ada di sana.

Chanyeol.

Bersama dengan seorang vampire berparas sempurna yang bersanding begitu serasi di sebelahnya. Chanyeol benar-benar berubah. Tatapannya sekarang terlihat sangat dingin, dan menakutkan.

“Habisi mereka semua.” kudengar vokal bass Chanyeol sebelum akhirnya kuputuskan untuk bersembunyi.

Aku toh tak akan bisa berbuat banyak, daripada menghadapi kematian konyol akan lebih baik bagiku jika aku menyelamatkan diri. Bisa kulihat Baekhyun masuk dari pintu depan, dia baru saja melipat sayap berkilaunya, dan Baekhyun juga terlihat sangat berbeda.

Tak ada ekspresi ramah yang selalu kutemui tiap kali melihatnya. Apa mereka semua memang terlihat semenakutkan ini saat marah?

Aku baru saja sampai di pertengahan tangga menuju lantai dua saat aku sadar kalau aku seharusnya tidak bersembunyi selayaknya orang bodoh padahal di bawah sana semua orang sekuat tenaga berusaha bertahan hidup.

Aku baru saja hendak berbalik saat kudapati Baekhyun berdiri di hadapanku.

“Baekhyun!” pekikku membuat ekspresi kaku yang Baekhyun pasang berubah menjadi sebuah senyuman hangat yang entah mengapa, menenangkanku.

“Bersembunyilah, keputusanmu untuk bersembunyi tidak salah, Sarang.” rupanya Baekhyun tahu benar kalau aku tengah berusaha bersembunyi.

“Tapi aku—”

“—Kami bisa mengatasinya.” potong Baekhyun, lembut ditariknya lenganku untuk tidak lagi ragu-ragu. Tapi pandangku kemudian bersirobok dengan Sehun yang berdiri di tepi pagar pembatas lantai dua, dengan sebuah senapan besar di tangan. Senjata yang sangat kukenali.

“Tidak! Baekhyun! Senjata itu bisa memusnahkan kalian!” teriakku, memberontak dari Baekhyun sementara Baekhyun sendiri bergerak lebih cepat dariku.

WHUSH!!

Dengan kekuatannya, Baekhyun melemparkan peluru berisi racun itu pada bangsa peralihan. Vampirevampire itu benar-benar menyerang manusia, dan banyak vampire musnah, terbakar menjadi abu.

Baekhyun lantas melesat ke arah Sehun, sementara aku sendiri berlari turun, mengadu nyawa di lantai bawah padahal aku tak bersenjatakan apapun.

“Chanyeol awas!” aku terpaku saat kulihat sebuah peluru dilepaskan Sehun ke arah Chanyeol, seolah dia tahu benar kalau Chanyeol adalah sasaran yang—

“Akh!” aku memekik begitu kurasakan peluru panas itu lagi-lagi bersarang di bagian tubuhku. Aku mendorong tubuh Chanyeol saat dia tadi tidak menyadari datangnya peluru itu.

“Sarang!” Chanyeol berteriak, dipandanginya aku dengan tatapan khawatir yang membuatku merasa bahwa Chanyeol yang lama telah kembali.

Tapi hanya sepersekian sekon saja. Karena sekon kemudian tatapan itu kembali berubah, dingin, dan keji.

“Mianhae Chanyeol-ah… Aku salah memihak selama ini…” lirihku, sengaja kutekan kuat-kuat peluru yang sekarang bersarang di paha kananku itu, sementara kulepaskan kain yang membebat lenganku, kugunakan kain itu untuk melilit luka baru yang ada di kakiku.

“Mengapa begitu terlambat?” pertanyaan Chanyeol menyadarkanku.

“Apa?”

“Mengapa baru sekarang kau bisa memutuskannya? Mengapa begitu terlambat?” Chanyeol memperjelas pertanyaannya. Tapi aku sama sekali tak bisa menjawab. Lidahku kelu, aku ingin menangis.

Melihat wajah Chanyeol lagi setelah sekian lama terasa bagai melihat bulan di tengah pemandangan malam yang dibenci bangsaku.

“Maaf…” hanya kata itu yang berhasil lolos dari bibirku.

Tanpa bicara apapun lagi, Chanyeol kemudian menatap tajam Sehun yang tadi menembaknya. Chanyeol ikut dalam perang itu sekarang.

Sehun sudah ada di lantai bawah sekarang, tubuhnya terluka, dan kusadari dia pasti diserang oleh seseorang di atas sana. Sementara sekarang tubuhnya tersungkur di lantai, di depannya, Mijoo berdiri dengan luka di sekujur tubuh, menatap Sehun dengan tatapan nanar.

Perlahan, kubawa diriku mendekati mereka, meski langkahku tertatih karena luka di kakiku. Tapi aku harus mencegah Sehun untuk tidak melukai Mi—

“Sehun…”

“Situasi macam apa ini? Kau ingin membunuhku lagi? Seperti yang kau lakukan saat itu?” vokal Sehun terdengar begitu dingin.

Seketika itu juga aku teringat. Cerita Sehun tentang seorang vampire yang berusaha membunuhnya… dan apa yang Chanyeol lakukan ketika dia menandaiku dengan membuat luka di leherku.

Kalau dugaanku tidak salah… kalau Mijoo adalah vampire yang Sehun bicarakan… itu artinya Mijoo bukannya berusaha membunuh Sehun. Tapi dia berusaha menandai Sehun.

Moncong senjata di tangan Sehun sekarang terarah pada Mijoo, sementara Mijoo sendiri hanya menyunggingkan sebuah senyum muram. Dia tampaknya menerima saja semua kemarahan yang Sehun ingin lontarkan padanya sekarang. Dengan sisa tenaganya, Sehun bangkit, rupanya dia ingin membidik Mijoo dari jarak yang lebih dekat lagi.

“Sehun! Jangan!” teriakku sambil mendorong Sehun yang sudah akan menembak Mijoo dengan senapannya.

“Mijoo! Lari!”

“Sarang!” sentak Sehun, seketika maniknya berubah merah kelam.

SRASH!

Satu peluru Baekhyun bersarang di lengan Sehun, tapi benda itu tidak bekerja. Sehun malah menatap luka di lengannya dengan sebuah tawa sarkatis.

“Kau berusaha melindungi mereka lagi, Sarang? Tidak tahukah kau kalau aku akan menghancurkan mereka semua?” Sehun berkata dengan nada dingin. Sehun baru saja bergerak hendak menyarangkan tembakan-tembakan lainnya pada vampire—terutama, Mijoo—saat aku akhirnya menarik lengan Sehun dengan cukup kuat.

Aku tidak ingin vampirevampire ini musnah. Terlalu banyak orang terluka disini. Aku mual melihat darah mereka.

“Jangan lukai mereka Sehun!” teriakku. Ia menyentakkan tubuhku, tapi aku tetap berkeras mencekal lengannya. Emosiku sudah tidak bisa kubendung lagi sekarang.

“Jangan. Lukai. Keluargaku.”

Aku menatap tajam Sehun.

BLAAARRR!!!

Sehun meledakkan beberapa benda di dekat kami. Membuat cekalanku padanya secara otomatis terlepas begitu saja, dan Sehun jadi punya ruang untuk melukai Mijoo.

“Kita lihat siapa yang akan menang di antara kita.” Sehun mengarahkan moncong senapannya ke arah Mijoo yang tertatih saat kemudian—

—ah, apa ini?

Aku terperanjat melihat cahaya keluar dari tubuhku. Cahaya itu bergerak mengejar Sehun, dan saat Sehun tersentuh cahaya itu, ia ambruk.

“Sarang!” Sehun menatap kutajam, tapi ekspresi Sehun sekarang sama terkejutnya denganku.

“Aku… Aku…”

Aku tidak sempat berpikir. Saat senjata lain berusaha menyentuh vampire itu, cahaya dari tubuhku bergerak menghalangi mereka. Beberapa bangsa peralihan, termasuk Jongin, jatuh karena ulahku.

“Bagaimana bisa?” aku memandang tubuhku yang sekarang bercahaya.

Belum selesai aku dengan keterperangahan karena situasi yang tiba-tiba saja terjadi, aku sudah melihat Baekhyun membidikkan senjatanya ke arah Jongin. Dengan segera, aku melangkah tertatih ke arahnya—melindungi Jongin. Bagaimana pun, dia adalah keluargaku juga, dan aku—

SRASH!

Ugh…” sekuat tenaga aku berusaha menahan rasa sakit yang sekarang—

“—Sarang. Kau… seorang peralihan?”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

IRISH’s Fingernotes:

AKHIRNYA. Chapter depan adalah chapter terakhir usahaku mengakhiri cerita ini. Alhamdulillah, satu persatu cerita astralku akhirnya berakhir juga. Ini udah bulan sepuluh dan artinya tinggal dua bulan lagi menuju akhir tahun, huhu.

Dea(th)line ini semakin mengejar, sementara mood dan waktu buat ngetik datengnya enggak pasti, kayak kode dari si do’i gitu.

Aku belum bisa jelasin kenapa dan bagaimana bisa Sarang tiba-tiba aja jadi peralihan, padahal enggak ada angin enggak ada ujan enggak juga ada badai, apalagi banjir. Biarlah nanti di chapter terakhir semuanya baru dijelasin.

Aku juga masih mikir-mikir, di ending si Sarang enaknya sama siapa, LOLOLOL. Cinta lama berkilau kembali sama Chanyeol, atau dia sama Sehun aja berhubung Sehun gamon? Ah, bayangan Sarang sama Sehun ini indah sekali dalam imajinasiku…

Ah sudahlah, seperti kataku tadi. Deathline lagi mencekik, sebelum namaku ditulis sama pembaca di Death Note ada baiknya aku kurangin bercuap-cuap dan percepat publish cerita-cerita lainnya. Eh tapi kalopun nama aku ditulis di Death Note emangnya bisa kena ya? Katanya L-desu kalau bukan nama aseli kan engga bisa ya, LOLOLOLOLOL. Sudahlah, aku tahu kalian enggak akan sampai hati mau nulis nama aku di list kematian begitu. Dosa aku masih banyak jangan diisengin begitu dulu /apasih/.

Sampai jumpa di chapter tujuh! Salam kecup, Irish.

Ps: ayodong masa udah sampe chapter 6 masih aja pada malu-malu kucing sama aku sampe enggak mau muncul sama sekali di kolom komentar, huhu. Chapter terakhir kupassword baru tahu rasa loh. Aku kadang ‘kan suka jadi jiwa thriller yang tega-tega aja wkwk.

Pps: ada yang tau atau demen Stars and Rabbit ngga? Boleh minta rekomendasi lagu mereka yang earcatching gitu? Diriku lagi pengen mengenal mereka akhir-akhir ini.

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

43 tanggapan untuk “EXCEPTION – 6th — IRISH’s Tale”

  1. Kesana kesini si Baekhyun tukang boong yak???
    Tpi demi kebaikan gitu yaaa ha.ha
    Sebenernya yg jahat itu siapa toh ??
    Sehun? Chanyeol? Apa Baekhyun???
    Semua baik tpi semua ada jahatnya jga wah wah..
    Emang bisa aja ka Irish
    Sampe castnya bingung sendiri mihak ini trus gantian yg itu trus ono….jngn bilang entar sarang mati??? Berhubung dia jdi peralihan entah gimna trus kna senjata Baekhyun trus …
    Ahh lanjut wae lah….

    1. XD kok kasian si Baekhyun dikata tukang bohong masa wkwkwkwkwk XD sudah tebak aja coba yang jahat siapa enaknyaaa yang jahat mah biar mba authornya aja wkwkwwk

  2. WHAAAAT?!!!
    SI SARANG JUGA BANGSA PERALIHAN?!
    TIDAK OH TIDAK
    trus gimana kelanjutannyaaa?kalo dia ikut dihancurin gimana dooong
    duh kepooo
    semangat ya mbak nulisnya! Author tercuintaaaah

  3. Badan ku ikut tegang pas bagian perang-perang itu,,, aaa ngilu bayangin sarang dpt banyak luka.. Mudah2.an sarang sma baekhyuuuunnn,,haha

  4. dag-dig-dug ane, si Sarang bangsa peralihan?
    ini kok bisa jd kayak gini, gak sabar nunggu chapter slnjutnya.
    Udah Sarang sma si Cabe aja, miris ane di OAO sma Game Over si Baek kandas semua kisah cintanya. Rish, dirimu lg demen nyiksa si Cabe y atw dirimu udah pindah hati gitu ama akang Jongdae yg tampan, sopan, dn rupawan tinggal disuruh pakai sarung ama peci tuh anak cocok nongkrong di masjid. Semangat rish, ane tunggu chapter slnjtnya dn ff yg lain up y. Aku padamu lah, rish.

    1. XD sudah yang sabar, sebentar lagi berakhir kan cerita ini jugaaa wkwkwkwkwkw kasian si cabe ya kandas semua dimana-mana, dia tuh jodohnya aku sih /slapped

  5. haduhhhh tegang akunya..
    kok bisa sarang peralihan.. emang pernah digigit??? cuma ketembak kan??
    atau gegara chanyeol dulu itu…
    emang cerita yang menarik harus ada yang terlambat yeol, kalo gk gitu gak seru.. cepet kelar dong ceritanya…

  6. Yaampun kak irish bener-bener nih yaa.. Dapet ide darimana sih ka? Kenapa sarang jadi bangsa peralihan? Kenapaaa gituuu u.u jadi sebenernya dia berpihak ke siapaa u.u ingin deh kutulis nama ka irish ke death note-ku /seketika digampar sama ka irish/ maafkan diriku yang khilaf setelah baca ini heuuu u.u

  7. Sarang peralihan?
    Kok bisa? Apa karena ditandai sama chan dulu? Kayak kasus sehun yang dikira digigit mijoo ternyata mau ditandiai itu? 😦
    Eh berarti racunnya baekhyun gak berfungsi dong, kan si sarang peralihan. Atau karena baekhyun tau kalo sarang itu peralihan jadi dia butuh darahnya sarang? 😱😲😲😲
    Aaaaaah….. kak irish…. kenapa jadi bingung sendiri akunya… 😤😣
    berharap cepat keluar lanjutannya.
    Semangat ya kak, 😙😘😚

  8. Baekhyun terlalu menyimpan banyak rahasia dari sarang. Kenapa tiba-tiba sarang bisa jadi bangsa peralihan ? Buknnya dia manusia biasa aja ya ? Chanyeol benar-benar berubah.

  9. Ya ampuun sesulit itu kah saraang ingin keadilan?? Authoor di tunggu chap terakhirnya sangaaat di tunggu 🙂 udah ga sabaar akhirnya sarang hidup bahagia ato gimana nya 😦

  10. Udah lama aku ga baca ff, pas buka lgsg muncul exception yg terakhir kali baca katanya mau end 😦
    Bener kata komen april di bawah antara seneng karna update sm sedih karna mau udahan 😥

    Its okey Sarang, ketika Chanyeol menjadi dingin, ada Baekhyun yang menghangatkan ❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s