[Vignette] The Heart Wants What It Wants – honeybutter26

The Heart Wants What It Wants

Presented by Honeybutter26

Kim Jongin (Infinite L) x Helena

Sad Romance

PG-15

Vignette

 

“Jongin pikir dia sanggup, akan tetapi kakinya tetap berdarah tiap kali ia berusaha berjalan di atas pecahan hatinya.”

 

***

 

Jongin kira putus adalah hal yang paling mudah. Ia hanya cukup mengucapkannya dengan bibir dan mereka berakhir. Ia tak perlu kembali mengingat apa yang telah terlalui, entah itu tentang memoar atau kebiasaan yang pernah mereka lakukan bersama.  Tapi itu hanya sebuah sugesti, realita memukul kepala Jongin dengan keras hingga sugesti itu terlempar ke neraka dan hangus di dalamnya.

 

Jika ia tahu akan begini jadinya, ia akan merekatkan kembali pecahan rasa cinta itu dengan segala sifat keras hati dan keras kepala yang dianugrahkan kepadanya. Persetan dengan jemarinya yang mungkin tergores bahkan berdarah. Asal hatinya tetap baik-baik saja. Asal dia bisa hidup dengan sebaik-baiknya kehidupan.

Pikirnya putus tak memiliki efek domino yang begitu dahsyat. Pikirnya putus hanya akan membuat dia sedikit merasa hampa karena beberapa hal yang biasanya mereka lakukan bersama kini hanya ia lakukan sendiri. Pikirnya ia akan baik-baik saja dengan itu, sebelum mereka bersama dia juga melakukan hal-hal itu sendiri, jadi bukan hal yang buruk untuk kembali melakukan hal-hal itu sendiri.

 

Tapi siapa sangka kehampaan itu membuat Jongin merasa seperti di ambang kematian. Dia masih bernapas, namun rasanya sesak. Dia merasa lapar, tapi tak sedikit pun memiiki gairah untuk menyentuh makanan. Dia merasa lelah, tapi ketika matanya memejam hal yang terjadi berikutnya adalah terbangun dengan peluh sebesar biji jagung membasahi pelipis serta napas yang terengah.

 

Mimpi buruk.

 

Benar-benar mimpi yang sangat buruk ketika bayangan kabur tentang bagaimana mereka berakhir terus menghantui bunga tidurnya. Setiap memoar itu terputar begitu lambat dan berulang-ulang. Kalimat putus itu menembus gendang telinganya hingga nyaris membuatnya berdarah. Sebuah hal yang terlambat Jongin sadari bahwa ternyata itu membawa beribu penyesalan.

 

Ia tak pernah menyangka bahwa Helena membawa sebuah candu yang luar biasa. Sebuah tendensi yang membuat Jongin tak bisa lepas, candu yang membuatnya sakau jika tak ada. Kepergian Helena membawa pukulan besar yang tinggalkan perasaan sakit teramat sangat dan terus menerus.

 

Setiap kepingan kenangan yang terputar membuat Jongin merasa pening bukan kepalang. Di kala benak mengingat bagaimana air mata itu jatuh, Jongin merasakan batu meteor jatuh di atas kepalanya. Menghantam begitu keras, rasa panasnya membakar Jongin hingga jadi abu.

 

***

 

Jongin lelah, sungguh. Dia hanya ingin hidup tenang, menikmati masa mudanya tanpa beban dan hanya berisi segala macam kesenangan seakan esok kiamat tiba. Jongin bukan spesies manusia yang suka berada dalam situasi yang rumit dan acapkali membuat kepalanya pening. Dia masih punya toleransi tentang memiliki komitmen. Tapi bukan berarti Jongin menyerahkan seluruh hidupnya untuk diatur orang lain.

 

Bahkan jika itu Helena, kekasihnya yang tercinta.

 

Dulu.

 

Sebelum perasaan itu tergerus oleh hujan, erosi dan mengendap dalam hatinya. Bukan karena Jongin bosan, ia hanya lelah. Lelah akan sifat mereka berdua yang sama-sama keras dan tak mau mengalah. Jongin dengan jiwa mudanya dan Helena dengan segala rantai yang coba untuk mengikat Jongin agar tetap di sisi.

 

“Berhenti, Helen! Kau bukan istriku,kenapa kau terus menerus mengatur segalanya tentang hidupku?” Akhir-akhir ini Jongin lebih sering berteriak ketimbang menyenandungkan kata cinta di telinga Helena. Pria itu jadi seperti kertas, lebur jika terkena air dan hangus jika terkena api.

 

Helena merasakan darahnya membeku, perasaan cinta yang dulu hangat itu kini berubah jadi sebongkah es yang enggan meleleh. Biasanya dia bisa menjadi kuah kari oleh kalimat yang terucap dari belah bibir Jongin. Namun sekarang dia merasakan kulitnya terkoyak dan darahnya menetes berserakan di lantai akibat dari kalimat Jongin yang lebih tajam dari belati.

 

“Kita akhiri saja semua ini, Helen. Ini sungguh tidak akan ada artinya lagi jika kita hanya berakhir untuk selalu menyakiti satu sama lain.”

 

“Aku yang lebih terluka, kenapa kau merasa jika aku menyakitimu jauh lebih dalam?”

 

Tentu saja Helena ingin membalas ucapan Jongin dengan kalimat itu. Namun lidahnya terlalu kelu. Pahit yang Jongin teteskan ke telinganya berangsur ke ujung lidahnya hingga ia mati rasa. Semua aksara itu tertinggal di tenggorokkan, bertumpuk hingga penuh dan Helena nyaris sesak karena kerongkongannya yang terhimpit.

 

Siapa bilang Helena tidak merasakan lelah yang sama? Dia juga lelah akan sikap Jongin yang seperti tak lagi menganggap keberadaannya sedikit pun. Beberapa kali Helena harus menyeka sendiri air mata yang luruh di pipi atau menata kepingan hatinya yang pecah karena Jongin lempar dengan keras. Pria itu berkata ia terlalu egois dan pemaksa kehendak, namun Helena hanya ingin membuat kehidupan Jongin yang tak teratur itu menjadi lebih baik.

 

Salahkah ia? Terlalu egoiskah dirinya? Atau ia terlalu kolot? Burung memang terbang bebas membelah cakrawala, tapi ia tak pernah lupa ke mana dia harus berpulang. Helena pikir dia sudah memberikan segala kebebasan itu pada Jongin. Dia tetap diam dan berusaha tersenyum saat Jongin berdekatan dengan gadis-gadis lainnya kendati hatinya telah jadi abu sebab terbakar oleh api cemburu. Dia tak pernah melarang Jongin untuk bertemu dengan teman-temannya, ia tetap bertopeng senyum kendati Jongin melakukan yang sebaliknya.

 

Jika boleh jujur, ada seribu alasan bagi Helena untuk meninggalkan Jongin. Kata berakhir tentu saja pernah melintas dalam benaknya bahkan mungkin sebelum Jongin menjadi sedingin dan setipis ini. Tapi dia hanya punya satu alasan mutlak mengapa ia lebih memilih menggores hatinya dengan belati dan menabur garam di atas lukanya.

 

Because Jongin is life.

 

Ya, Jongin adalah hidupnya. Seribu kali ia berpikir untuk pergi, seribu kali pula hatinya meraung memilih untuk mati daripada pergi. Terobsesikah ia? Ia sadar bahwa Jongin bukan hanya sekedar tendensi, Jongin adalah candu. Alasan yang membuat Helena tetap bertahan, dia takut sakau jika harus hidup tanpa Jongin.

 

Nama pria itu telah memenuhi setiap inti sel dalam tubuhnya. Jongin ada dalam pekat aroma kopi paginya. Jongin hadir dalam lelehan peluhnya di siang hari. Jongin tak pernah sekali pun absen dari doa-doanya yang tersemat di sudut malam. Lantas apa yang akan terjadi pada dirinya jika ia dipaksa melepas eksistensi Jongin dari hidupnya?

 

Mungkin Helena akan mati. Mati yang berarti konotasi dan denotasi. Dia mungkin nekat menyayat nadinya atau mungkin tetap hidup dengan jiwa yang sekarat. Namun kali ini dewa batinnya kompak berteriak menyuruh Helena untuk mati. Mungkin sisi putihnya telah lelah dan memilih memihak pada si hitam, sejak tadi otaknya terus saja memberikan perintah agar lidah Helena mengucap kata berakhir.

 

“Jadi kau lelah? Kau lelah denganku? Kau lelah dengan hubungan kita?” Kalimat tanya yang terlontar itu tentu saja hanya menjadi sebuah tanya retoris. Semua gelagat dan emosi yang Jongin tunjukan tiap kali mereka bersama sudah menjadi jawaban yang cukup jelas.

 

“Lalu, bagaimana denganku? Apa kau pikir aku tidak lelah dengan semua egomu itu? Dengan semua emosi yang selalu kau tumpahkan padaku tak peduli apa aku melakukan kesalahan atau tidak. Aku juga lelah, Jongin. Jauh lebih lelah dan sakit dari yang kau bayangkan.”

 

Mata mereka saling bersirobok. Di balik cairan bening yang menggenang di pelupuk matanya, Helena dapat menangkap setitik cahaya berbeda dari netra Jongin yang sebelumnya penuh oleh bara emosi.

 

Rasa penyesalan kah?

 

Atau bahkan Jongin merasa tak perlu merepotkan dirinya ntuk peduli atas rasa sakit yang mendera Helena.

 

Persetan!

 

Helena tak membutuhkan perasaan itu. Dia tak menginginkan lagi belas kasih dari Myngsoo. Ia tak mau ambil peduli atas apa yang kini tengah dirasakan Jongin. Karena jika ia harus pergi, setidaknya dia sudah mengeluarkan sebongkah beban yang menghimpit aliran darahnya selama ini.

 

“Apa kau tahu seberapa banyak rasa kecewa yang aku sembunyikan selama bersamamu? Apa hanya kau yang berpikir bahwa ini semakin melelahkan? Tahun-tahun yang kita lewati bersama, asal kau tahu saja itu tetap menjadi hal terindah dala hidupku meski aku harus menelan semua rasa kecewaku karenamu.

 

Baiklah, kita akhir saja. Seperti maumu. Terimakasih sudah pernah hadir dalam hidupku. Kau tetap menjadi yang terindah bahkan sampai saat ini. Maaf jika aku membuatmu merasa terluka dan terbebani.”

 

Helena benar-benar mencabut jiwanya sendiri. Air mata tak berhenti mengalir meski ia terus menerus menyugesti otak dan hatinya bahwa ia akan baik-baik saja. Lantas Helena pergi dengan langkah tertatih karena ia berjalan di atas pecahan hatinya yang berserakan di lantai. Telapak kakinya terasa sakit untuk setiap langkah yang ia ambil, tapi sayangnya itu adalah sebuah luka yang tak berdarah jadi Helena tak tahu bagaimana harus mengobatinya.

 

Sementara Jongin hanya terpaku di tempat. Sejak kalimat pertama yang diucap oleh Helena pendengarannya hanya berisi denging yang menyakitkan. Melihat bagaimana Helena meluapkan segala amarah hingga air mata membasahi hampir seluruh paras ayunya membuat ia seperti disiram dengan lelehan besi panas.

 

Perasaan sesak yang aneh sekonyong-konyong datang dan memeluknya dengan erat. Debum suara pintu selayak bom atom yang meledakkan hatinya hingga tinggalkan hampa. Jongin tak mengerti, berkali-kali hatinya bertanya pada otaknya, ‘Ada apa ini?’ tapi dia tak dapat menemukan satu pun jawaban. Ada perasaan sakit yang menghantam di ulu hati, nyerinya menjalar ke seluruh tubuh. Matanya memanas, dan air mata luruh tanpa malu.

 

Dia yang menginginkan semua ini, ia telah memutuskan semuanya dengan matang berdasar pada seribu alasan yang ia punya kenapa mereka harus putus. Namun alasan-alasan itu seakan menendang jiwa Jongin dari raganya.

 

***

 

Tiga tahun kini telah berlalu sejak hari itu. Setiap detik terasa seperti selamanya bagi Jongin. Pikiran dan hatinya masih selaras tertuju pada satu nama, Helena. Kebodohan Jongin membawa petaka yang jauh lebih besar. Helena pergi. Wanita itu pergi ke tempat di mana Jongin tak bisa lagi menemukannya. Bukan, Helena masih hidup. Wanita itu masih bernapas dan hidup dengan baik.

 

Tempat itu mungkin jauh lebih tak tergapai daripada sebuah kematian. Jika Helena mati, Jongin mungkin akan ikut, terjun dari ketinggian kemudian jatuh dengan kepala yang pecah bukanlah hal buruk jika itu untuk Helena.

 

Rumah.

 

Ya, Helena telah menemukan rumahnya yang sejati. Sebuah rumah yang bisa wanita itu datangi saat lelah selimuti malamnya, yang menjadi pelindungnya kala badai menghantam bumi. Setahun lalu, temannya mengabari bahwa Helena telah dipinang oleh seorang pria. Sebuah kenyataan yang menghantam kepala Jongin dengan keras hingga pening itu tak pernah hilang sampai saat ini.

 

Tak ada yang bisa dipersalahkan. Kebodohan dan gelap matanya sendirilah yang telah menjerumuskan Jongin pada kubangan lumpur penyesalan. Dunia seakan menertawainya dan neraka berpesta pora akan dirinya yang kini dipeluk erat nestapa. Bisikan setan telah berhasil menyentuh hatinya dan kini mereka tengah menikmati hasil dari itu. Seorang anak adam yang kehilangan jiwa karena sebuah keegoisan yang diteteskan lewat telinganya berhasil menutup mata hati serta akal sehat.

 

Adalah sebuah kebohongan saat Jongin berkata bahwa ia ikut bahagia saat melihat bagaimana bibir Helena membentuk sudut senyuman yang begitu candu. Apalah arti sebuah kebahagiaan jika itu bukan bersebab dari dirinya. Ada orang lain yang membuat Helena tersenyum dengan begitu cantik, sementara yang ia ingat hanyalah memoar tentang air mata Helena yang tak pernah sempat ia seka.

 

“Berapa banyak kata maaf yang harus aku ucapkan agar sesak ini lenyap dari dadaku, sayang? Ini menyiksa, sungguh. Rasanya aku ingin mati saja. Tapi bahkan mati pun rasanya tak pernah cukup untuk menebus semua kesalahan yang kulakukan padamu.”

 

Ada kebiasaan baru yang dimiliki Jongin sejak mereka berakhir. Memandangi potret Helena yang begitu cantik tanpa sekali pun merasakan bosan sembari lengkung bibirnya bergumam sejuta maaf. Dinding mungkin telah bosan terus mendengar sajak rindu yang keluar dari bibir Jongin. Lantai pun mungkin telah muak diberi hiburan berupa deraian air mata dari anak adam yang tak pernah berhenti mengekspreksikan sesal.

 

“Kenapa cinta begitu sialan? Kenapa cinta begitu dekat dengan iblis? Helen, maafkan atas semua khilaf yang aku lakukan padamu. Aku mencobanya, aku telah berkali mencobanya hingga lelah. Tapi melupakanmu ternyata bukanlah hal yang mudah. Bagaimana ini? Kakiku bahkan telah mati rasa untuk merasakan sakit dan perih karena menginjak pecahan hatiku sendiri. Maafkan aku. Maaf.”

 

Ya, Jongin telah berkali-kali mencoba. Tapi melupakan ternyata bukan perkara yang mudah. Tidak seperti apa yang ia pikirkan saat kata putus memenuhi kepalanya dulu. Hatinya tahu apa yang ia inginkan, tapi iblis menutup akal sehatnya dengan bisikan sesat akan kebebasan yang fana. Kini, seribu alasan yang pernah ia utarakan agar mereka dapat mengakhiri kisah kasih berbalik menjadi bomerang yang meleburnya hingga jadi abu. Penyesalan jadi satu-satunya hal yang memenuhi setiap tarikan napas.

 

FIN

 

cuma mau bilang, kalau aneh mohon dimaafkan :3

kuy yang mau difollow wattpadnya langsung aja follow dulu @honeybutter26 pasti difollback dan yang mau baca ff lebih banyak lagi bisa mampir di wordpress aku yahh https://honeybutter26.wordpress.com/

3 tanggapan untuk “[Vignette] The Heart Wants What It Wants – honeybutter26”

  1. KAKFAAR! AKU MAU NGERUSUH LAGI DI LAPAKNYA KAKFAR 😂😂😂😂😂
    KAKFAR TAU NGGAK IH! AKU JUGA ADA FF YANG FOTONYA FOTO KAI YANG INI, YANG MUKANYA SYEDIH MINTA DICIVOK INI 😂😂😂😂 TAU (LAGI) NGGAK KAK? ISI CERITANYA JUGA SAMA, TENTANG MAS JONGIN YANG PUTUS SAMA PACARNYA. TAPI YANG INI LEBIH NENDAAAANG! LEBIH NGENAAAA! LEBIH NYESS T.T

    Itu kak, yang Helena tak membutuhkan perasaan itu. Dia tak menginginkan lagi belas kasih dari Myngsoo. mungkin maksudnya jongin ya? 😁

    AH SYUDAHLAH KAK, KAKFAR EMANG DABES KALO BIKIN CERITA MELLOW KEK BEGINI, BIKIN IRI T.T

    KUTUNGGU KARYAMU YANG LAIN, KAKFAR! ME LOVE YOU! 😘🙆❤❤❤❤💋

    1. bwahaha ya allah ini anak ada dimana mana :v :v :v

      gak mah kalo yang ini bukan minta dicipok tapi minta digaplok.. nendang apanya san?? san jangan ambigu san ntar masa depan ongen jadi suram san

      ya namanya juga epep hasil remake modal find and replace jadi ya beginilah adanya :v :v :v

      AH SYUDAHLAH KAK, KAKFAR EMANG DABES KALO BIKIN CERITA MELLOW KEK BEGINI, BIKIN IRI T.T >>> kok hanwanya seperti membuktikan idup ane melow dan penuh drama ya :v :v :v

      maacih ya isan maacih

    2. Seriusan kakfaaar, aku tuh pengin banget bikin cerita yang kayak begini, yang bikin pembacanya gereget terus pengin cipok jongin ampe dia jadi putih(?) x(

      hidup kakfar mah emang nggak melow dan penuh drama, tapi penuh dengan hawa-hawa 21++++

      /kaboooor/ XDXDXDXD

      maaf kak, jangan dibawa bercanda, bawa serius aja ;))) /digaplok kakfar/

Tinggalkan Balasan ke shanshoo Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s