[5] Full Stop| truwita

req.fullstop

Full Stop by truwita

[EXO] Park Chanyeol, Oh Sehun, and [OC] Kim Jira
Genres Romance, Drama, Family, Hurt/Comfort
Length Chapter | Rating PG-15
Preview[0][1][2][3][4]

Katakan pada masa lalu: kita adalah cerita yang telah usai. –Boy Chandra (Senja, Hujan & Cerita yang telah usai)

“Dia adalah mantan pacarku.” Jira memulai kisahnya, sambil menatap jauh pada jalan setapak yang mulai ramai oleh pejalan kaki karena hari menjelang malam. Chanyeol masih setia mendengarkan, kali ini mereka duduk berhadapan dengan tangan yang bertaut. Jira menghela napas, lalu menatap Chanyeol. Ia tampak bimbang, haruskah ia menceritakan semuanya sekarang? Jira pikir Chanyeol harus tahu hubungan seperti apa yang ia dan Sehun miliki. Meski rasa cemas tak bisa ia enyahkan. Jira hanya tak ingin menyimpan banyak hal lagi dari kekasihnya.

“Tidak perlu menceritakannya, Jira. Jangan memaksakan diri. Aku baik-baik saja.” Chanyeol tersenyum meyakinkan, kedua tangannya merangsek menggenggam hangat tangan Jira.

“Aku harus,” balas Jira cepat. Maniknya mulai berkaca-kaca, melihat senyum tulus Chanyeol membuat hatinya tercubit. Ada sedikit rasa sesal yang menyambangi hati. Seharusnya, dia tidak menyeret Chanyeol dalam kemelut kehidupannya. Chanyeol terlalu berharga untuk dibiarkan terluka. Jira benar-benar jalang egois yang takut berdiri dengan sepasang kaki sendiri.

“Dua tahun lalu, saat test penerimaan siswa baru kita bertemu untuk pertama kali,” suaranya bergetar, ada senyum tipis yang tersemat di bibir. Pikirannya melayang, mengingat masa lalu yang kini tak lebih hanya menjadi sebuah kenangan. “Kami duduk berdampingan, rambutnya berantakan. Aku berasumsi bahwa dia bangun terlambat. Belum lagi dia lupa membawa alat tulis. Ia mengumpat dan mengacak rambut yang sudah berantakan.”

Chanyeol terperangah selama beberapa saat. Telinganya mendadak tak berfungsi, menatap manik Jira yang berbinar dan lengkungan tipis di bibir membuat seluruh panca indranya lumpuh. Dari sudut pandangnya saat ini, itu ekspresi Jira paling cantik yang pernah dia lihat. Dan untuk membayar pemandangan tersebut, Chanyeol harus menelan pil pahit bernama kenyataan bahwa kekasihnya tengah menceritakan sebuah kenangan tentang lelaki lain yang lebih dulu mengisi hatinya. Jauh hari sebelum Chanyeol punya kesempatan mengenalnya.

“—satu dari banyak hal, akhirnya kami memutuskan untuk menjalin sebuah hubungan.”

Sial. Chanyeol terlalu terpesona dengan kecantikan Jira sehingga melewatkan beberapa kalimat dari kisah yang gadis itu ceritakan. Menutupi kelalaiannya, Chanyeol mengangguk pura-pura mengerti. “Lantas, mengapa kalian putus?”

Jira menoleh, menatap Chanyeol dengan senyum yang lebih lebar dari sebelumnya, tapi tak sedikitpun mampu menyembunyikan luka yang nampak jelas di matanya. “Karena orang tua kami akan menikah.”

***

Sehun tak lagi punya kesabaran yang tersisa. Hatinya sudah terlajur pedih. Ia tak lagi punya kekuatan untuk bisa berdiri di atas kedua kakinya sendiri. Mengapa Tuhan memberikannya hidup seperti ini? saat akhirnya Sehun menemukan kebahagiaan lagi, mengapa harus kembali direnggut oleh orang yang sama? Sehun marah, dia sangat marah. Dengan kemarahan yang tak lagi bisa dibendung, Sehun datang ke rumah sakit tempat ayahnya bekerja.

Ia menerobos masuk ke ruangan ayahnya, tak peduli dengan apa yang suster katakan bahwa dokter Oh sedang bicara penting dengan wali salah satu pasiennya.

“Ada apa ini? Sehun?”

“Ayo kita bicara!”

“Tunggu 5 menit, aku memiliki pembicaraan yang sangat penting sekarang.”

“Apa semua hal jauh lebih penting dari anakmu sendiri? Darah dagingmu? Hah?! Kenapa tidak kita putuskan saja ikatan sialan itu?!”

“OH SEHUN! Apa yang kau bicarakan?!” dokter Oh berdiri spontan, air mukanya berubah tak nyaman, kemudian ia membungkuk dan bicara pada wali pasiennya dengan penuh penyesalan, “saya minta maaf, saya akan menemui anda lagi setelah urusan dengan putraku selesai.”

Mengerti dengan situasi, wali pasien itu segera meninggalkan ruangan diikuti suster yang sebelumnya menahan Sehun. Tepat setelah pintu ruangan ditutup, sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Sehun.

“Anak tak tahu sopan santun!”

Sehun mendengus, menyentuh pipinya yang terasa panas. Itu tidak sakit. Sehun sama sekali tidak merasakan perih dari tamparan yang baru saja diterimanya. Sakit hati yang selama ini ia rasakan sudah mengabil alih seluruh rasa sakit yang ada.

“Bunuh saja aku, hidup juga terasa menyedihkan!”

***

“Aku megetahui rencana kedua orang tua kami secara tidak sengaja. Saat itu aku merasa langit di atas kepalaku baru saja runtuh.” Jira tak lagi mampu menahan air mata yang mendesak keluar saat gelombang kesedihan menerpa. Bukan hal mudah menghadapi masa lalu yang isinya hanya tumpukan luka.

Chanyeol menarik tubuh Jira dalam sebuah dekapan, membiarkan tangisan Jira pecah di dadanya. “Menangislah, tak apa.” Chanyeol mengeratkan pelukan seraya berbisik lembut, “jika terasa berat, maka tinggalkan saja. Kau punya aku sekarang, kau tidak akan sendirian lagi. Aku tak akan membiarkan hal apapun yang membuatmu sakit dan terluka. Aku, Park Chanyeol berjanji, akan melindungi dan membahagiakan Kim Jira. Kau dengar itu?”

Jira melepaskan diri dari pelukan, menghapus jejak air mata di pipi, lalu menatap wajah terseyum Chanyeol sambil terisak. “Tidak bisa,” Jira menggeleng, “jangan membuat janji konyol untukku, Chanyeol.”

“Aku sungguh-sungguh.”

“Aku tahu!”

“Kau meragukanku?”

“Tidak. bukan begitu.”

“Lantas?”

“Kau tidak seharusnya terlibat, Chanyeol. Jika kau memaksa, tak ada hal lain yang akan kau dapatkan selain luka.”

Alis Chanyeol bertaut, tak mengerti maksud ucapan kekasihnya barusan. “Apa maksud—”

“Aku rasa ini tidak benar, Chanyeol. Kita tidak seharusnya memiliki hubungan sebagai sepasang kekasih. Aku benar-benar menyesal telah menyeretmu dalam kekacauan ini. Jadi sebelum semuanya bertambah buruk, lebih baik kita akhiri saja sampai di sini.”

***

“Dia pacarku! sebelum semua kekacauan yang kau buat untuk menikahi janda 2 anak itu!”

Pernyataan yang baru saja dikatakan Sehun membuat hatinya mencelos. Ia berusaha mencari kebohongan di mata putranya, tapi nihil. Tak ada tanda-tanda bahwa semua yang dikatankannya hanya akal-akalan semata. Sehun sungguh-sungguh, dan ia tahu betul putanya tidak sedang bicara omong kosong.

“Kenapa?” Sehun mendesak karena ayahnya hanya diam tak mengatakan sepatah katapun setelah kebenaran yang selama ini selalu ayahnya pertanyakan. “Bukankah kau sangat ingin tahu tentang hubunganku dengan Jira selama ini? bagaimana aku mengenalnya dan bagaimana kami bisa dekat?”

“Omong kosong apa ini?” orang tua itu memilih untuk tidak memercayai fakta yang sudah terlihat sangat jelas. “Memangnya seburuk apa nyonya Jin di matamu, Oh Sehun? Oh oke, baiklah. Lupakan pertanyaanku barusan. Hentikan semua omong kosongmu, lebih baik kau pulang. Ini sudah malam.”

Sehun tak habis pikir dengan perkataan ayahnya yang tampak seperti seorang pengecut. “Apa aku terlihat seperti seorang bocah yang merajuk karena ayahnya akan menikah dan memiliki ibu tiri?”

“Aku bilang hentikan, Sehun. Aku sedang sibuk. Kita bisa bicarakan ini lain waktu.”

“Tidak ada lain waktu!” Sehun menolak tegas. Dia sudah sampai di ambang batas kemarahan yang bisa ia kendalikan. “Aku tidak meminta ayah untuk membatalkan rencana pernikahan dengan nyonya Jin. Sebaliknya, aku mengucapkan selamat. Aku datang kemari untuk memutuskan ikatan ayah dan anak denganmu.”

“OH SEHUN!”

“Kenapa? Kau pikir aku tidak bisa melakukannya?”

“Kau pikir ikatan ayah dan anak bisa diputus begitu saja?!” nada bicara dokter Oh meninggi, dia tak habis pikir dengan sikap kekanakan Sehun. “Tidak ada yang bisa memutus ikatan ayah dan anak selama darahku masih mengalir ditubuhmu!”

“Kenapa kau sangat egois, ayah?” sekarang, Sehun merasa putus asa. Kemarahan yang memuncak sebelumnya bergumul di dada, membuatnya sesak dan sulit menghirup udara. “Sepuluh tahun lalu, saat kau menceraikan ibu, apa kau penah memikirkan perasaanku?”

“Aku kehingan banyak saat itu, tidak lagi merasakan sebuah kehangatan keluarga seperti anak pada umumnya. Bahkan, aku harus menanggung kebencian ibu padamu! Aku tidak pernah bisa menemuinya saat aku ingin. Dia selalu mengusirku setiap aku kali aku datang. Dia memakiku sebagai anak sialan. Aku hanya bisa memerhatikannya dari jauh saat aku merasa sesak karena rindu!”

“Sekarang, setelah aku bisa menerima kenyataan tentang ibu yang membenciku, kau ingin aku menerima wanita yang kucintai sebagai saudara tiriku? Apa kau manusia?”

***

“Kau tidak bisa mendorongku pergi begitu saja, Kim Jira.”

“Aku harus bisa, Chanyeol. Biarkan aku sedikit meringankan beban di hatiku.”

“Kau menganggapku beban?” ekspresi kecewa kentara sekali terlihat di wajah Chanyeol. Dianggap beban adalah hal terburuk yang penah ada.

“Tidak, bukan seperti itu. Bagaimana aku mengatakannya agar kau tidak berburuk sangka?”

“Kalau begitu, katakan dengan jelas. Kau membuatku merasa buruk.”

“Aku sangat bersyukur memilikimu, Chanyeol. Kau benar-benar seorang lelaki yang mengagumkan. Kau membuatku iri dengan banyak hal yang ada pada dirimu. Sungguh, aku sangat menyukaimu. Ketika bersamamu, aku selalu berharap agar waktu berhenti saja.”

“Tapi hari ini, setelah aku mengatakan semuanya, aku benar-benar merasa buruk dan jauh tertinggal di belakangmu. Aku tak bisa lagi memaksakan diri untuk datang ke tempatmu berada.”

“Aku yang akan datang ke tempatmu.” Chanyeol bersikukuh.

“Chanyeol, aku masih mencintai Sehun. Aku tak bisa melupakannya. Aku memang menyukaimu, hanya menyukaimu.” Kalimat yang selama ini tersimpan di lubuk hati terdalam Jira akhirnya lepas, terucap dengan lugas. “aku mengatakan padanya, bahwa melihat ibu bahagia adalah mimpiku. Aku memaksanya menerima kenyataan yang membuat kita sama-sama terluka. Dia marah. Dia tak bisa menerima semua keputusan sepihakku. Dia menciumku paksa. Meruntuhkan semua dinding yang berusaha kubangun sekuat tenaga. Memecahkan perasaan yang hati-hati kusimpan. Saat itu, aku tahu seperti apa perasaan yang kupunya untuknya. Bahkan saat ciuman kita berubah menjadi semakin dalam, namamu tak pernah terbesit sedikitpun. Jika saat bersamamu aku ingin Tuhan menghentikan waktu, maka saat bersama Sehun yang aku pikirkan tidak hanya menghentikan waktu, tapi bagaimana caranya meminta Tuhan agar bersedia menciptakan sebuah dunia yang di dalamnya ada aku dan Sehun yang hidup bahagia bersama, tak peduli secepat apa waktu akan berputar nantinya.”

“Apa kau masih akan datang ke tempatku sekarang?”

***

Sang Mi berjalan lunglai. Memaksakan diri untuk menyeret tubuhnya pergi sebelum seseorang menyadari keberadaannya. Sebagian dari dirinya menolak untuk percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Apa yang sedang Tuhan rencanakan untuknya?

“Ibu, kau baik-baik saja? Kau terlihat pucat. Apa dokter Oh bisa bergabung dengan kita untuk bertemu dengan pemilik gedung?”

“Apa yang sudah kulakukan?” mengabaikan pertanyaan yang diajukan putrinya, Sang Mi bergumam dengan air mata yang perlahan luruh. “Jina, bukankah aku seorang ibu yang buruk?”

Jina tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Ia memutuskan untuk diam dan hanya mendengarkan semua yang ibunya katakan tanpa menyela. Ia memeluk sang ibu, berusaha menenangkan emosi ibunya yang meluap lewat tangisan.

***

“Bagaimana jika setelah banyak waktu berlalu, aku masih belum bisa melepaskannya? Bagaimana jika aku masih saja memeluk erat perasaanku untuknya? Mengabaikan ketukanmu setiap saat? Bagaimana jika akhirnya aku tetap berdiri di tempat yang sama untuk mencintai Sehun?”

“Itu bukan masalahku, Jira. Itu masalahmu, perasaanmu. Dan masalahku adalah perasaanku. Kenapa kau selalu berpikir terlalu keras? Tidak bisakah kita hanya jalani semuanya sesuai garis takdir yang sudah ditentukan? Tidak bisakah kau membiarkan waktu untuk bergulir saja tanpa banyak kata yang terpaksa kau utarakan?”

“Chanyeol,”

“Bisakah kita tetap seperti ini?”

“Chanyeol, aku—”

“Jawab pertanyaanku, Jira. Bisakah kita tetap seperti ini sampai takdir memutuskan kita untuk berpisah? Bisakah sampai saat itu tiba aku berada di sampingmu?”

“Tapi Chanyeol, bagaimana jika setelah semuanya yang kau lakukan untukku, setelah banyak hal yang kau korbankan, kau hanya mendapat luka?”

Pada awalnya Chanyeol hanya ingin mengecup bibir Jira agar gadis itu berhenti bertanya hal-hal yang tidak perlu. Tapi ketika permukaan bibir mereka bertemu, akal sehatnya seakan menguap dan seluruh syaraf di otaknya menggila memerintahkan pagutan lebih dalam dari rencana sebelumnya.

“Kenapa?” tatapan Jira kosong, sekosong isi kepalanya usai pagutan mereka terlepas.

“Karena semua yang kulakukan adalah pilihanku. Mencintaimu dan berada di sisimu, keduanya adalah pilihanku. Aku tidak pernah menyesali apapun yang pernah kulakukan.”

“Jadi, Kim Jira. Bisakah kau menatap mataku dan mencoba katakan pada dirimu sendiri bahwa kau dan Sehun adalah masa lalu, cerita yang sudah lama usai?”

***

Jina menarik selimut untuk menutupi tubuh ibunya yang kini sudah terlelap dibawah pengaruh alkohol. Kesedihan dan sisa-sisa keterkejutan masih tampak samar di wajah ibunya. Jina menghela napas. Dia juga sama terkejutnya sekarang, rancauan ibunya beberapa saat yang lalu menganggu pikirannya. Ia melirik jam dinding yang menggantung di atas pintu, jarum jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, ketika suara hentakan kaki terdengar menaiki anak tangga. Cepat-cepat Jina keluar kamar, berasumsi bahwa saudaranya baru saja pulang.

“Kau sudah pulang Ji… ra?” kalimatnya tersedat di akhir melihat kondisi Jira yang jauh dari kata baik. Wajahnya pucat, matanya sembab, pun ikatan rambutnya longgar dengan beberapa helai rambut yang terlepas. Padahal ia sudah tidak sabar ingin mengonfirmasi apa yang tadi dia dengar dari ibunya.

“Kau baik-baik saja? Ada yang ingin… kutanyakan.”

Jira berhenti meniti anak tangga, lalu menoleh sekilas, “Besok saja ya? Aku benar-benar lelah sekarang.” tanpa menunggu respon, Jira kembali melanjutkan langkah.

Jina dibuat bingung karenanya. Ada apa dengan orang-orang hari ini? semua terlihat kacau dari sudut pandangnya. Apa ibu dan Jira bertengkar? Tapi itu sesuatu yang mustahil. Ah, entahlah. Sekarang dia harus menahan rasa penasaran sampai besok pagi. Jika benar Jira dan Sehun dalam sebuah hubungan romantis, bagaimana dengan rencana pernikahan orang tua mereka?

***

Ini sudah ke sekian kali Jira keluar masuk kamar mandi untuk memuntahkan isi perut yang sebenarnya hanya berisi beberapa keeping biskuit dan air mineral yang di konsumsinya saat istirahat makan siang kemarin di sekolah. Akhir-akhir ini selera makannya menguap entah kemana. Dia juga sering kali merasa pusing dan sakit kepala hebat setiap kali ia bangun tidur di pagi hari. Setiap kali terjadi, Jira merasa rasa sakitnya semakin buruk saja. Ditambah perutnya yang bergejolak dan rasa mual yang menyiksa kerongkongan.

Jira turun ke dapur, membuat minuman hangat yang mungkin bisa sedikit meredakan rasa mual. Mengabaikan rasa sakit di kepala yang berdenyut-denyut.

“Jira?” sebuah suara mengintrupsi kegiatannya membuat teh madu. Itu Jina yang yang berjalan mendekat sambil mengusak matanya yang dipaksa terbuka. “Apa yang kaulakukan pagi-pagi buta?”

“Membuat teh madu.” Sebenarnya Jira tak punya energi lebih untuk menjawab, ia hanya memaksakan diri membuka mulut untuk mengeluarkan suara. Sebelumnya ia belum pernah merasa selemas ini, lantai tempatnya berpijak seperti bergerak-gerak, sulit untuk tetap berdiri tegak. Pengelihatannya perlahan meremang sebelum menjadi gelap dan ia jatuh tak sadarkan diri.

“KIM JIRA!”

***

“Badannya sangat panas!” samar-samar suara Jina berseru terdengar.

Jira meyipitkan mata saat cahaya masuk ke retina sekaligus. Sesuatu yang lembab ia rasakan menempel di keningnya. Itu sebuah kompresan—handuk basah—saat ia menyentuh dan melepaskannya perlahan. Ia berusaha bangkit, tapi seperti ada beban yang sangat berat menindih kepalanya.

“Dia sadar! Diam saja Jira. Kau baru saja pingsan!” Jina berkacak pinggang berperan sebagai saudara galak yang cerewet.

“Apa yang terjadi?”

“Kau pingsan pagi-pagi buta. Nyaris menumpahkan teh madu panas ke tubuhmu! Dan aku berteriak membangunkan seisi rumah!”

Entah sejak kapan ibu duduk di sampingnya, membelai rambut Jira dan menatapnya khawatir. “Sebentar lagi kita kita pergi ke rumah sakit, atau ibu panggilkan saja dokter ke mari?”

Jira menggeleng lemah. Ia benci berurusan dengan dokter dan obat-obatan. “Aku baik-baik saja bu, mungkin hanya kelelahan biasa.”

“Kau yakin? Jangan terlalu memaksakan diri dengan kegiatanu di sekolah. Perhatikan kesehatanmu juga.”

Jira mengangguk. Sesuatu yang hangat menjalar ke seluruh tubuhnya. Apa dia harus sakit seperti ini dulu untuk mendapat perhatian ibu? Pikiran bodoh macam apa itu Kim Jira.

“Ibu ada tugas kantor ke luar kota selama beberapa hari, akan ibu meminta tante Heera untuk tinggal dan menjaga kalian sementara ibu pergi. Jina, jangan lakukan hal bodoh. Jika terjadi sesuatu atau keadaan Jira bertambah buruk, seret saja dia ke rumah sakit, oke?”

“Dan kamu, Jira, tetap diam di tempatmu sampai kesehatanmu kembali pulih. Ibu akan mampir ke sekolah untuk memberitahu wali kelasmu.”

***

Tak terasa hari Minggu kembali tiba. Tak seperti biasanya, Chanyeol sama sekali tidak bersemangat menyambut hari libur. Sudah tiga hari Jira tak masuk sekolah, wali kelasnya mengatakan bahwa gadis itu sakit. Chanyeol tidak bisa memastikan karena ponsel gadis itu tak bisa ia hubungi. Bodohnya ia tak punya nomer rumah Jira. Ia benar-benar khawatir dan penasaran lebih dari setengah mati.

Pasalnya, terakhir kali mereka bertemu adalah hari dimana ia dan Jira beradu argumen yang cukup panjang, bahkan gadis itu ingin mengakhiri hubungan mereka yang membuat Chanyeol hampir gila. Sebenarnya sudah ratusan kali ia berniat untuk pergi mengunjungi rumah gadis itu, tapi ia ragu, meski pembicaraan mereka tempo hari berakhir dengan baik, tetap saja hubungan mereka sedang berada dalam tahap sensitif. Chanyeol takut jika ia salah sedikit saja, Jira akan lepas dari genggamannya.

Kegelisahan tak lagi bisa Chanyeol bendung. Ia sudah seperti beruang gagal hibernasi. Uriang-uringan sana-sini, membuat Baekhyun gemas ingin memukulnya dengan tongkat bisbol. Sejak pagi hari, Chanyeol hanya mengganggu konsentrasi Baekhyun yang sedang berlatih bisbol. Pria tinggi kurus itu bolak-balik di pinggir lapangan sambil sesekali memeriksa layar ponselnya yang selalu gelap—tak ada notifikasi apapun.

“Yak! Park Chanyeol!”

“Hem.” Tanpa menoleh, lelaki itu menyahut sekenanya.

“Menyingkir! Kau mengangguku!”

“Hem.”

Baekhyun hampir meledak. Ia tak habis pikir dengan sikap Chanyeol yang sangat meneybalkan akhir-ahir ini. Jika ada orang yang bilang cinta bisa membuat seseorang berubah 360 derajat, Baekhyun akan percaya sekarang. Karena ia menjadi saksi hidup perubahan Chanyeol yang asalnya menyebalkan menjadi sangat-amat-begitu-super menyebalkan. Apa susahnya menemui Kim Jira saat ia bertingkat seperti udang yang otaknya di pantat, apa pantanya di otak? Ah entahlah lagi pula apa udang punya pantat?  Baekhyun tak mau ambil pusing.

“Kau mau main jadi bola bisbol denganku?”

“Hem.”

Kan, apa Baekhyun bilang. Populasi idiot baru saja bertambah.

“Pergi dari hadapanku! Temui Kim Jira di rumahnya tak peduli apapun. Persetan dengan kemungkinan-kemungkinan sinting, atau kau ingin jadi orang sinting sungguhan?”

Chanyeol berhenti mondar-mandir, selama beberapa saat ia mematung di tempat, “haruskah?”

“Tentu saja! Kau pacarnya! Apa yang salah dari seorang pacar menjenguk kekasihnya yang sakit?”

“Kau benar!” Chanyeol tersenyum tipis. Senyum pertama setelah berhari-hari ia memasang wajah masam. Ia berlari ke arah Baekhyun hanya untuk memeluk dan mencium sahabatnya itu sekilas, sebelum berlari menuju motornya dan menancap gas kencang-kecang.

***

Terjadi lagi. Chanyeol ragu dan memutuskan untuk membatalkan niatnya berkunjung ke rumah Jira. Padahal ia sudah berada beberapa meter sebelum gerbang rumahnya. Ia merasa itu tidak benar jika berkunjung tanpa pemberitahuan lebih dulu. Chanyeol mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya, mencoba menghubungi Jira sekali lagi.

Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan—

Sial.

Dengan berat hati Chanyeol memutar balik motornya, menghidupkan mesin tanpa tujuan jelas akan pergi kemana. Kalau bisa, ia ingin pergi ke tempat yang bisa mengalihkan perhatiannya sejenak dari perasaan bodohnya.

Sebelum benar-benar meninggalkan komplek perumahan pacarnya, Chanyeol menemukan sekelomppok bocah laki-laki yang sedang bermain basket. Sepertinya sedang bertaruh siapa yang bisa memasukkan bola basket pada ring yang tingginya dua bahkan mungkin 3 kali lipat dari tinggi mereka. Chanyeol menghentikan laju motor. Melepaskan helm dan tersenyum penuh arti. Mungkin bergabung dengan bocah bisa menaikan sedikit moodnya yang buruk akhir-akhir ini.

“Oi! Mau kuajari trik bermain basket?”

***

Jina bosan, ia berniat membeli eskrim di mini market depan komplek. Akan tetapi dia menemukan sebuah pemandangan yang jauh lebih menarik dan melupakan tentang eskrim. Tak jauh dari sana, Jina melihat sosok lelaki yang akhir-akhir ini membuatnya kesulitan memejamkan mata saat malam hari, yang tanpa permisi mengisi seluruh ruangan di kepalanya, Park Chanyeol. Jina bahkan butuh sedikit waktu untuk memercayai indera pengelihatannya. Berkali-kali ia mengusak mata dan meyakinkan bahwa apa yang tengah dilihatnya bukan permainan ilusi.

Chanyeol tampak sangat bahagia, terlihat dari gelak tawa lelaki itu melihat tingkah para bocah yang frustasi karena tak bisa bermain basket sebaik Chanyeol ketika melakukannya. Beberapa anak gadis mulai berkerumun di pinggir lapangan berteriak “Kyaaaaaa!” atau “Oppaaaaa!” setiap kali Chanyeol mencetak angka.

“Chanyeol-ssi!” Jina melambai antusias ketika Chanyeol menoleh ke arahnya. Lelaki itu tersenyum dan balas melambai. Ia terlihat mengatakan sesuatu sebelum berhigh-five dengan para bocah yang tadi bermain bersamanya. Para gadis kecil segera berkerumun ketika Chanyeol berjalan ke pinggir lapangan. Menghambat langkahnya ke tempat Jina berdiri menunggu.

“Kupikir salah lihat.” Jina tersenyum malu-malu, tak memerhatikan air muka Chanyeol yang perlahan menyendu. Melihat wajah Jina memunculkan kembali kerinduan dan kecemasannya pada Jira.

“Apa yang kaulakukan? Sendiri?” Chanyeol mengatur perasaannya sedemikian rupa, tersenyum menutupi kegelisahan yang baru saja kembali.

“Ya, tadinya ingin membeli eskrim di mini market depan komplek, sekaligus jalan-jalan. Seharian di rumah sangat membosankan. Kalau kau?”

“Oh aku…” Chanyeol mengusap tengkuknya, “ada urusan sekitar sini, ya seperti itu.” lanjutnya gugup, “dalam perjalanan pulang aku melihat sekelompok bocah sedang bermain. Jadi aku memutuskan bergabung untuk bersenang-senang.”

Jina ber-oh-ria. Otaknya berputar mencari topik pembahasan, sementara Chanyeol berdebat dengan batinnya, bingung mau bertanya atau tidak perihal kebar kekasihnya.

“Eum, itu—” mereka serentak bicara dan serentak terdiam untuk tertawa canggung setelahnya. Sampai akhirnya Jina memutuskan bicara lebih dulu. “Mau mampir ke rumah? Kau berteman baik dengan Jira bukan? Mungkin kau bisa sekalian menjenguknya. Mumpung sudah berada di sini.”

Asa!

Bantin Chanyeol bersorak, kebetulan yang sangat menyenangkan. “Ah ya, ide bagus!” bibirnya dilipat menahan senyum.

***

Jira melotot melihat sosok jangkung Chanyeol yang berdiri di ambang pintu kamarnya. Lelaki itu tersenyum bodoh memamerkan deretan gigi putihnya. “Bagaimana—”

Chanyeol membentuk tanda silang di depan wajah menggunakan kedua tangan, “Jina yang mengajakku kemari. Aku bertemu dia di lapangan basket komplek.”

Jira tak punya banyak energi untuk mendebat Chanyeol. Ia memutuskan untuk diam dan kembali melanjutkan kegiatannya di depan laptop.

Chanyeol mendekat, duduk di pinggir ranjang, tampak bersemangat. “Bagaimana kondisimu?”

Jira menghela napas, “sebenarnya aku sudah jauh lebih baik, tapi Jina melarangku pergi sekolah. Lihat? Padahal aku harus segera menyelesaikan LPJ, seminggu lagi sudah serah terima jabatan.”

Secara tiba-tiba Chanyeol mendekatkan wajahnya membuat Jira terkejut. Matanya mengerjap melihat wajah Chanyeol yang hanya terpisah jarak beberapa senti. Garis wajah Chanyeol terlihat samar, fokus Jira teralih pada sepasang bibir penuh yang tempo hari menyentuhnya! Pipinya sedikit memerah mengingat kejadian itu—saat mereka berciuman untuk pertama kali semejak menjalin hubungan.

Salah satu sudut bibir Chanyeol tertarik, merasa puas dengan reaksi Jira. Kemudian keningnya ia tempelkan beberapa detik.

“Apa yang kaulakukan!” Jira segera mendorong bahu Chanyeol sekuat tenaga.

“Aku?” Chanyeol memasang wajah bingung yang kentara dibuat-buat. “Aku mengecek suhu tubuhmu. Memastikan kau sedang berbohong atau tidak.”

Jira tampak malu dan salah tingkah, sedangkan Chanyeol tak lagi bisa menahan tawa yang kini mengudara memenuhi kamar Jira.

Dari lantai satu, Jina tersenyum mendengar tawa lepas Chanyeol. Ia tak sabar ingin ikut bergabung. “Bi, cepaaaaaaat!”

“Iya, iya. Ini sudah selesai.” Bibi Yoon terkekeh dengan tingkah laku Jina yang kelewat bersemangat menurutnya. Dalam hati ia selalu berdoa semoga kebahagiaan selalu menyertai kedua gadis yang sudah dianggapnya putri sendiri.

Jina membawa nampan berisi jus jeruk dan beberapa snack untuk Chanyeol dengan senyum merekah sepanjang langkahnya yang cepat.

“Memangnya salah kalau aku menjenguk pacarku yang sedang sakit? lagi pula kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi? Kau membuatku cemas dan rindu setegah mati!”

Jina berhenti saat hendak memutar kenop pintu. Apa ia tidak saha dengar? Apa yang Chanyeol katakan barusan? Pacar? Chanyeol sudah punya pacar? Siapa?

“Berhenti mengatakan hal-hal menjijikan seperti itu, atau kita putus saja.”

“Eh, jangan! Jangan! Lalu aku harus bagaimana? Aku memang sangat merindukanmu.”

Jina terpaku. Oksigen di sekitarnya seperti menipis, membuatnya kesulitan bernapas. Ia meremas dan memukul-mukul dadanya yang terasa sakit. Cepat-cepat ia berlari ke kamarnya, mengacak laci meja rias mencari botol obat. Namun, sebelum sempat ia menegak obat penahan sakit itu, kesadarannya lebih dulu hilang. Ia terjatuh menyenggol nampan minuman dan snack untuk Chanyeol yang sebelumnya diletakan di atas meja rias, menimbulkan suara pecahan kaca yang cukup nyaring untuk menarik perhatian Jira dan Chanyeol yang sedang asyik bersenda-gurau.

***

GOD!
sekilas info, butuh banyak energi dan emosi jiwa buat nulis part ini. ditengah kegaloan skripsiku :”””
well, aku tahu ini udah ketunda lamaaa banget, wkwk /ditabox
kemarin, mendadak aku hilang feel buat nulis ff ini, karena sebenarnya buat nulis ff ini harus munculin lebih banyak sisi melankolisku. Jadi kalo suasana lagi gak mellow, gak bisa lanjutin ini. wkakaka~
akhirnya, setelah sekian lama jiwa melowku muncul setelah mendapat penolakan keras dari dosen buat penelitianku, huhu
tapi Alhamdulillah, aku selesai nulis part ini dan aku udah punya objek penelitian baru dan sudah disetujui /jadi curcol/plak
oke. kebanyakan curhat jadinya. Makasih buat yang udah nungguin lanjutan cerita ini. semoga kalian gak pernah lelah menanti. /eaaaaak
hope you enjoy this part!
-bigloove, tata ❤

P.S: kalo kalian nemu cowok kaya Chanyeol di dunia nyata, aku saranin jangan pernah lepasing dia! Jangan!

6 tanggapan untuk “[5] Full Stop| truwita”

  1. komen dulu deh baca entar.. okeh ini perasaan saya aja apa emang ini br update setelah satu tahun? oh my god! amaze banget pas liat ini di publish hahahah ka senja dikirain lupa sama ceritanya 😀

  2. ini rumit. sangat!!!
    sikap chanyeol benar2 aneh. dengan sekian banyak kebohongan jira dia ttp begitu mengilainya. kyknya emang gila dia /plak/
    and sehun. come on hun jangan brengs*k2 amat lah..kan jdi tambah sexy /loh/
    pokoknya ini seru dan harus lanjut ya kka author terhormat..kalo ada waktu senggang. walaupun pasti susah karna mau skripsi..oh
    akan sabar saya tunggu lah!!!!
    semangat skripsinya!!!
    semangat jga nulisnya ehehe….

    1. halo Kim, salam kenal yaa, makasih sudah baca dan komen dari bagian awal 😉
      yosh! makasih semangatnya. chap 6 udah aku publish, jangan lupa mampir baca dan komen ya dear! ^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s