GAME OVER – Lv. 20 [Black Radiant] — IRISH

G    A   M   E       O   V   E   R

‘ Baekhyun x Jiho (known as HongJoo) ’

‘ AU x Adventure x Fantasy x Romance x Science Fiction ’

‘ Chapterred x Teenagers ’

‘ prompt from EXO`s — Can`t Bring Me Down & EXO CBX`s — Crush U

Game Level(s):

ForewordPrologue A SidePrologue B Side — Level 1Level 10 — Tacenda CornerEden’s Nirvana — Level 11Level 15 — Level 16Level 17 — Level 18Level 19 — [PLAYING] Level 20

Listen carefully now, I’ll reveal it all

The evil that’s hiding under a mask of good

2017 © GAME OVER created by IRISH

♫ ♪ ♫ ♪

Level 20 — Black Radiant

In Jiho’s Eyes…

“Aku sudah mematahkan sayapku, dengan membiarkan mereka mengalahkanku dan mengetahui identitasmu. Jadi, aku mungkin tidak lagi jadi ancaman bagi mereka. Dan yang ada, mereka justru akan menggunakanmu sebagai ancaman terhadapku.

“Tapi, karena kau masih berdiri di sisiku seperti ini, tanpa sayap membanggakan itu pun aku tidak lagi akan merasa ragu-ragu, Jiho. Jadi, siapa yang kali ini harus kuhabisi?”

Baekhyun kembali, kurasa. Kudengar kepercayaan diri membuncah khas miliknya. Sementara sekarang dia menatapku dengan kilatan dalam sepasang manik kelamnya.

“Kau sudah kembali, Baekhyun.” tuturku tanpa sadar.

“Apa maksudmu dengan ‘aku kembali’?” tanyanya kujawab dengan gelengan pelan. “Kupikir kau sempat kehilangan kepercayaan dirimu, tapi mendengar kau bisa bicara dengan begitu percaya diri seperti saat ini, kurasa dugaanku sepenuhnya salah.”

Senyuman kecil muncul di wajah Baekhyun tanpa sadar. Dia lantas mengalihkan pandang sejenak, membuatku tanpa sadar lagi-lagi memperhatikan paras kelewat sempurna miliknya yang pasti telah dipahat Tuhan dengan amat hati-hati.

Bagaimana bisa seorang manusia diciptakan begitu rupawan sepertinya?

“Aku tidak ingin kau terlibat dalam penyeranganku kali ini.” Baekhyun kemudian berkata saat dia menatapku.

“Apa maksudmu?”

Baekhyun menghela nafas panjang. “Aku tidak ingin kau membantuku. Akan kuselesaikan semuanya dengan cepat, jadi kau tidak harus terlibat denganku, atau menolongku. Orang-orang tidak perlu tahu kalau kau yang memintaku mengacaukan para player berpikiran picik itu.

“Jadi kau tidak akan berada dalam bahaya. Aku sudah terbiasa hidup dalam bahaya permusuhan yang playerplayer tunjukkan padaku, tapi kau tidak boleh begitu, Jiho. Kalau kau ingin meminta bantuanku untuk menghancurkan mereka, kau tak boleh terlibat.”

Aku terperangah mendengar ucapan Baekhyun. Padahal, tadinya aku sudah hendak menawarkan bantuan padanya untuk memudahkan penyerangan kami kali ini. Tapi bagaimana bisa dia justru menolak pemikiranku bahkan saat aku belum mengutarakannya?

“Aku ingin membantumu, Baekhyun.” pintaku akhirnya.

“Tidak Jiho. Situasi di sini sudah cukup rumit karena adanya kau. Dan aku tidak ingin—”

“—Apa maksudmu dengan situasinya menjadi rumit karena keberadaanku?” aku memotong ucapan Baekhyun begitu kusadari perkataannya begitu terdengar janggal.

Sejenak, Baekhyun terdiam. Dia tampak seolah baru saja mengucapkan hal yang tidak seharusnya dia ucapkan. Tetapi bukan Baekhyun namanya jika dia tidak menguasai situasi dengan sempurna.

“Sudah kukatakan, kau tidak seharusnya ada di sini.” Baekhyun menekankan kalimatnya, mengingatkanku bahwa dia sudah pernah menjelaskan tentang bagaimana berbahayanya mode ini dan betapa Baekhyun tak ingin melihatku berada dalam masalah.

Tapi aku tidak mengerti, mengapa dia harus begitu mengkhawatirkanku? Apa dia tidak khawatir pada dirinya sendiri? Dia juga pernah dikalahkan, bukan?

“Aku bisa menjaga diriku, Baekhyun. Kau tidak perlu khawatir.” kataku kemudian. Baekhyun lantas mengembuskan nafas panjang.

“Kau tidak mengerti, Jiho. Kau tidak tahu apa yang mungkin dia pikirkan tentang semua player yang masuk ke dalam mode ini. Kalian semua mungkin akan jadi santapan lezat yang dihancurkannya dalam satu kedipan mata.” Baekhyun berkata dengan cukup tegas, ekspresinya sekarang sungguh serius.

Dan aku tak bisa menganggapnya tengah berusaha menakut-nakutiku semata. Baekhyun memang tengah memperingatiku tentang apa yang mungkin akan terjadi di sini.

“Siapa ‘dia’ yang kau bicarakan ini?” tanyaku pada Baekhyun.

“Orang-orang yang ingin memenangkan mode survival ini.” jawab Baekhyun. Dia lantas menghela nafas panjang, lagi, sebelum kembali berkata. “Kau tidak memahami situasinya, Jiho. Survival mode ini tidaklah sama dengan survival mode yang kau kenal. Tempat ini berbahaya, aku sendiri tidak yakin apa salah satu dari kita bisa bertahan di sini.

“Tapi aku juga tidak mungkin membiarkanmu terluka. Kau adalah bagian dari diriku sekarang, Jiho, dan aku tak bisa membayangkan bagaimana playerplayer serakah itu akan berusaha membunuhmu untuk menggapai kemenangan.

“Aku juga tidak bisa banyak membantu. Karena, jika kita berdua bertahan sampai akhir, hanya salah seorang dari kita yang bisa bertahan, untuk menentukan game over atau win pada permainan ini.

“Lagipula… bukan aku satu-satunya player mematikan yang harus diwaspadai semua orang sekarang. Mereka tidak tahu, seorang pembunuh yang sebenarnya sekarang tengah berada di antara mereka.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Selesai dengan perdebatan yang berujung pada sebuah kekalahan—tentu saja sudah jelas, aku lah yang kalah dalam perdebatan melawan Baekhyun tadi—Baekhyun dan aku akhirnya mencapai sebuah kesepakatan: aku tidak boleh terlibat dalam penyerangannya, tapi aku boleh menjadi penonton.

Dan ya, tentu saja kusetujui itu dengan mudahnya. Lagipula, tidak ada ruginya jika aku hanya menjadi penonton, bukan? Baekhyun masih bisa mengakses equipmentku selagi dia menyerang White House.

Di sinilah aku sekarang, berdiam di sebelah seorang NPC di Hall selagi menonton bagaimana Baekhyun bertarung dengan White House dan orang-orang yang terlibat di dalamnya.

YourZeus ada di sana, ah, aku rasa aku ingat dia dan White Lion memperkenalkan diri padaku ketika sekarang aku bahkan sudah melupakan namanya. Chanyeol? Dan siapa satunya… ah. Untuk apa mengingat-ingat nama mereka? Toh, sebentar lagi mereka akan hancur.

“Dia terlihat sangat menyeramkan.” aku terkesiap saat mendengar sebuah komentar di sebelahku. Ya, baru saja NPC cantik yang sejak awal—kukenali dia hanya berdiri mematung di sebelah roulette yang ada di Hall—berdiam, kini buka suara.

“Siapa yang terlihat menyeramkan?” tanyaku, ada banyak player yang tampak begitu menyeramkan sekarang, termasuk Baekhyun, dan siapa yang dia maksud sebagai player

“—Invisible Black. Dia selalu mengerikan seperti itu…” gumam NPC itu membuatku menatapnya. Selalu?

“Bukankah kau hanya ada di dalam mode survival ini?” tanyaku kemudian membuat NPC wanita rupawan itu mengalihkan pandang, menatapku dengan sepasang maniknya yang—ah. Tunggu dulu.

Wajahnya terlihat familiar.

“Oh! Kau ‘kan—”

“—Beberapa dari kami ada di sini dengan peranan yang berbeda.” dia memotongku.

Astaga, bagaimana bisa aku melupakan Deep Sea? Seorang villain yang memporak-porandakan para pemberontak dalam weddingku bersama Baekhyun?

“Kau mengingatku?” tanyaku hampir tak percaya.

Bukan satu atau dua kali aku merasa begitu aneh dan canggung karena sikap yang ditunjukkan NPC di dalam game ini. Tapi bagaimana mungkin seorang karakter bawaan yang ada di dalam versi lama, bisa mengingat kami semua dengan baik?

“Ya, beberapa hari yang lalu kita bertemu.”

“Kau benar-benar Deep Sea?” tanyaku membuatnya berdeham pelan, lantas tersenyum—memamerkan kilatan cahaya samar yang menandakan dengan jelas bahwa dia hanya seorang karakter buatan—dan buka suara.

“Seana. Aku adalah villain di Hall saat ini.”

“A-Apa?” aku menatapnya tak mengerti. Jadi game ini sekarang menyediakan seorang villain di Hall juga? Untuk apa?

“Mengapa seorang villain diletakkan di Hall?” tanpa sadar bibirku berucap.

“Tentu saja supaya kalian tidak mengacau di sini. Invisible Black juga sepertinya tahu benar tentangku, sehingga dia memasang plasma itu sebagai batas battle areanya. Aku bisa saja menggila jika melihat mereka mengadakan turbulence dengan menghancurkan tempat ini.”

Aku kini menatap Deep—Seana, dia katakan di sini namanya adalah Seana—selagi dia menuturkan penjelasan yang menurutku sangat tak masuk akal untuk bisa dijelaskannya secara rinci seperti ini.

Konversasi ini kelewat aneh, kami bicara seolah kami berdua adalah dua player yang sama. Apa dia tidak sadar kalau dia NPC? Tidak, tidak mungkin. Wendy juga begini, dia juga sadar benar kalau dia adalah seorang NPC. Lantas, bagaimana bisa mereka—

BLAR!

—Belum sempat aku menyelesaikan pemikiranku, sebuah suara ledakan sudah membuatku terkejut bukan kepalang. Satu turbulence lagi pecah di Hall utama, hal yang membuat Seana menggeretakkan geliginya dengan marah.

“Pengacau-pengacau itu!” katanya dengan nada marah yang sangat kentara.

Seana kemudian membawa langkahnya meninggalkan roulette yang selama ini pasti menjadi tempat penyamarannya sebagai seorang villain yang tidak kentara. Mengabaikan keinginanku untuk terus melihat bagaimana Baekhyun membantai habis White House dan membakarnya, mau tak mau kepergian Seana juga membuatku merasa kepalang penasaran.

Jadi kubawa langkahku mengikuti langkah Seana, ke sisi lain Hall yang nyatanya memang benar tengah terbakar. Seorang—ah! Sial, aku hampir saja berpikir sosok berpakaian serba hitam yang sekarang tengah terkepung itu adalah Baekhyun.

Jika saja seringai mengerikan di wajah rupawannya tidak menyadarkanku dan mengingatkanku bahwa dia adalah Black Radiant yang Taehyung ceritakan padaku.

“Hentikan dia! Dia berusaha membunuh pairku!” teriakan seorang player membuatku tanpa sadar memerhatikan turbulence yang sekarang terjadi.

Player itu, Black Radiant, tengah dikepung oleh setidaknya delapan orang player yang dari profilnya, bisa kuketahui bahwa mereka semua memiliki pair. Entah apa pair mereka masuk dalam mode ini juga atau tidak. Situasi ini cukup aneh, tidak mungkin keberadaan semua player yang memiliki pair ini bisa terjadi, bukan?

“Kalian yang telah memiliki pair, adalah player paling lemah dalam server. Membunuh kalian akan sangat menguntungkanku, satu kali membunuh, pairmu juga akan hancur.” Black Radiant berkata cukup tajam.

Apa maksudnya? Apa mungkin, dia memang sengaja menargetkan penyerangan juga turubulencenya pada semua player yang sudah memiliki—ah! Aku juga punya pair.

“SelynMa! Serang dia! Aku akan menyibukkannya di sisi ini!” sebuah teriakan terdengar, kukenali keberadaan beberapa orang player familiar di sana, termasuk SelynMa di dalamnya.

Manikku kemudian mengawasi dalam diam, melihat bagaimana mereka berusaha melumpuhkan Black Radiant dengan menggunakan equipmentequipment mengerikan sementara Black Radiant menerima semua serangan itu dan membiarkan playerplayer lain merenggut health barnya perlahan-lahan.

Sangat perlahan.

Luar biasa. Bagaimana mungkin serangan-serangan sebesar itu hanya menyebabkan sedikit damage padanya?

“Hentikan!” Seana berteriak dengan lantang begitu dilihatnya bagaimana playerplayer itu menghancurkan benda-benda yang ada di Hall utama. Tentu sebagai seorang villain yang ada di Hall utama, Seana tak akan tinggal diam.

Selayaknya Wendy yang mempertahankan wilayahnya, Seana pasti akan melakukan hal yang sama.

“Ah, Seana. Lama tidak melihatmu. Maaf aku harus berbuat kekacauan kecil seperti ini. Mereka terlalu sering bermain-main denganku.” dengan tenang Black Radiant berkata, dia lantas melemparkan sebuah equipment berbentuk bola berwarna hitam kelam yang kemudian meledak dan menghasilkan lapisan asap berwarna hitam yang membatasi wilayah turbulencenya.

Wah, jadi dia juga punya equipment yang setara dengan Baekhyun?

Meski ranknya tidak bisa menyaingi Baekhyun, tapi dia tak bisa dipandang remeh. Kemana saja selama ini WorldWare menyembunyikan rank-rank tertinggi dalam permainan? Apa saja yang sudah mereka lakukan sampai aku bahkan tidak pernah sadar kalau mereka benar-benar ada?

“Aku tidak akan berbuat kekacauan lagi, jadi kembalilah ke tempat seharusnya kau berada.” Black Radiant lagi-lagi buka suara, dipandanginya Seana dengan tenang selagi tubuhnya menerima serangan dari player lain.

Mengingat Seana berdiri tak jauh dari tempatku sedari tadi berpijak dalam diam, akhirnya pandang kami bertemu juga. Ya, manikku akhirnya bertemu dengan manik kelam milik Black Radiant yang sangat mengerikan.

Tidak seperti saat menatap Baekhyun yang berhasil membuat jantungku berdegup tidak karuan karena kelembutan mematikan yang manik kelam Baekhyun suguhkan, kelamnya tatapan Black Radiant justru membuatku terhuyung mundur, tanpa sadar aku ketakutan.

Caranya menatap tidaklah sama dengan player lain. Sudah jelas, melihat bagaimana dia berdiri diam di tempat yang sama selagi health barnya berkurang karena serangan dari player lainnya.

“Mereka benar-benar menguji kesabaranku…” Seana berkata di tengah kemarahannya, lantas dia tinggalkan tempat itu setelah melihat bagaimana Black Radiant membatasi area battlenya, sementara aku sendiri masih mematung.

“Terus, terus serang aku dan buat aku marah.” Black Radiant berkata, dengan santai dia berdiri sembari merentangkan tangan. Ekspresi santainya sekarang sungguh terlihat seolah dia tengah menikmati serangan dari playerplayer yang terkurung bersamanya.

“Dia kritis!” kudengar SelynMa berteriak.

Dan benar saja, satu serangan telak yang SelynMa lemparkan pada Black Radiant berhasil membuat health bar player super tenang itu mencapai titik terendahnya. Segera, cahaya redup merah berkelip pelan di health bar milik Black Radiant, sementara dia sendiri hanya mengukir sebuah senyum tenang.

Karena dia sekarang berdiri dengan tubuh menghadap ke arahku, ekspresinya bisa dengan sangat jelas kulihat. Dan kuakui, dia memang menakutkan. Dia punya aura mengerikan yang membuatku berulang kali terhuyung mundur bersiap untuk berlari saat pandang kami bertemu.

“Akhirnya, kalian berhasil membangunkanku juga.” dia berkata dengan tenang.

Apa maksudnya? Keadaannya sudah kritis seperti itu dan dia—

SRASH! SRASH!

Akh!!”

Kyaa!”

Aku terperanjat begitu kulihat sebuah kilatan cahaya sangat cepat keluar dari punggung Black Radiant, serta merta membelah dua tubuh seorang player yang berada dalam jangkauan terdekatnya.

Apa yang baru saja terjadi!?

“Wah, lihat, aku berhasil melukai kalian.” katanya sarat akan nada sombong dalam suaranya sekarang.

Tidak, dia tidak melukai, tapi membunuh! Dia baru saja membunuh seorang player!

“Serang dia!”

“Cepat bunuh dia!”

“Rasakan ini!”

Teriakan penuh amarah terdengar saling bersahutan, sementara Black Radiant berdiri di tempat yang sama, menatap playerplayer tersebut dengan pandang remeh sebelum satu-persatu dari mereka dia lumpuhkan dengan menggunakan equipment langka yang dia miliki itu.

Beberapa orang player di luar arena juga tampak sama penasarannya denganku. Ketertarikan mereka pasti berada dalam dilema karena harus memilih, menonton pertarungan Invisible Black dengan White House atau pertarungan Black Radiant dengan sekelompok player ber-pair di sini.

Aku sendiri sebenarnya lebih memilih Baekhyun, tentu saja. Baekhyun, serangan juga semua kata-kata tajam yang dia lontarkan selagi bertarung entah kenapa selalu saja berhasil membuatku merasa bahwa dia adalah player paling angkuh tapi juga memesona.

Tapi Black Radiant terlihat seperti seorang pembunuh yang sesungguh—ah. Apa dia pembunuh yang Baekhyun maksud? Perdebatan kami yang tidak juga berujung pada jawaban tentang identitas pembunuh mengerikan yang sudah ada di antara para player tidak Baekhyun jawab tadi.

Dan sekarang, melihat bagaimana tiap kalimat yang meluncur keluar dari bibir Black Radiant terdengar seperti kalimat dari psikopat yang hendak menghabisi tawanannya, aku cukup yakin dia lah pembunuh yang Baekhyun bicarakan.

“Kalian ingin mati dengan cara yang menyakitkan, rupanya.”

Satu kalimat Black Radiant ucapkan sebelum dia kemudian memejamkan matanya, dikepalkannya kedua telapak tangan, dan timbullah hal paling mengerikan yang pernah kulihat dalam permainan ini.

Sebuah ledakan cahaya serupa kilat itu terjadi di dalam arena. Tidak bersuara berisik, entah mengapa bisa begitu, tapi begitu cahaya itu hilang, pemandangan yang menyambutku amatlah mengerikan.

Semua player yang berhadapan dengannya sudah tergeletak dengan tubuh tercabik-cabik, penuh luka, penuh darah. Belasan kalimat ‘game over’ bersahutan kemudian, sementara darah segar terlihat mengalir keluar dari tubuh playerplayer tersebut, membanjiri tanah Hall utama dan lagi-lagi, menambah pemandangan mengerikan lainnya.

Dia membunuhnya, Black Radiant membunuh mereka semua hanya dengan satu serangan. Parahnya, dia benar-benar terlihat seolah sudah ‘membunuh’ playerplayer itu dengan cara yang sangat sadis.

“Sial! Harusnya aku merekam bagaimana turbulencenya berakhir dengan seperti ini!” sebuah seruan masuk ke dalam telingaku, berasal dari beberapa player berkelompok kecil yang juga ternyata menonton jalannya turbulence milik Black Radiant.

Benar. Mereka tak punya kesempatan untuk merekam apapun, dan tidak juga punya bukti jika mereka ingin menceritakan kejadian mengerikan ini pada player lain.

SRASH!

Akh!” aku terperanjat ketika kemudian player tersebut tiba-tiba saja tumbang dengan sebuah luka sabetan besar di punggungnya. Tidak membuatnya game over, memang. Tapi luka itu menghancurkan human wealthnya.

Begitu kucari-cari sumber yang menyebabkan luka di tubuh player tersebut, tatapanku segera bertemu dengan manik kelam Black Radiant yang berdiri dengan membawa sebuah samurai berlumur darah di tangan kirinya.

“Sekarang kau punya bukti untuk menceritakan tentangku pada player lainnya.” kata Black Radiant pada player tersebut. Lantas, player mengerikan itu merajut langkah mendekati kelompok kecil player yang memasang sikap waspada terhadapnya, tersenyum sinis sebelum dia lagi-lagi buka suara.

“Memangnya dengan mengadukanku pada kelompokmu, kau pikir kau akan bisa mengalahkanku?”

Segera setelah berucap seperti itu, dia melanjutkan langkahnya. Sementara kami semua yang sejak tadi menjadi penonton turbulencenya masih berdiri mematung di tempat yang sama. Kami semua terlalu terkejut.

Meski Black Radiant sekarang tidak terlihat sebagai ancaman karena toh, kami tidak melakukan apa-apa, tetap saja ada rasa takut yang diam-diam terselip dalam batinku ketika kutemukan dia telah berdiri di hadapanku.

Jemarinya bergerak menyentuh daguku, hal yang membuatku sepersekian sekon mematung lantaran bisa kurasakan dingin jemarinya kala bersentuhan dengan kulitku. Ini pasti efek lain yang WorldWare pamerkan. Apa skinship sekarang akan terasa begitu nyata seperti ini?

Lantas, bagaimana dengan rasa sakit akibat luka yang Black Radiant tinggalkan? Apa rasanya juga akan sangat menyakitkan selayaknya luka sungguhan?

“Kau satu-satunya player dengan pair yang menontonku hari ini. Tidak tertarik untuk mencoba mati melawanku, Song Jiho-ssi?”

“A-Apa?”

Aku tak sempat menunggu jawabannya, sebab begitu mendengarku bersuara, Black Radiant segera menjauhkan tubuhnya dariku, dalam dua sekon dia kemudian menghilang. Sementara aku masih berdiri mematung.

Bukan hanya ‘rasa’ yang ditimbulkan skinship itu yang menjadi pertanyaan besarku sekarang. Tapi juga kalimatnya.

Bagaimana dia bisa tahu namaku?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Aku senang kau tidak terlibat hari ini. Meski White House hancur, untuk saat ini mereka benar-benar tak bisa berbuat apapun selain membiarkan player lain merebut pasokan makanan dan minuman yang mereka curi.

“Mereka mungkin akan melakukan hal lain untuk menyiksa kalian secara fisik tanpa harus melukai. Jadi kedepannya kau harus berjaga-jaga Jiho, sebab aku mungkin tidak bisa selalu ada untuk—apa yang kau lakukan sekarang?”

Aku menatap Baekhyun saat kalimatnya terhenti karena aku baru saja meletakkan telapak tanganku di pipinya. Kami tadinya tengah duduk bersebelahan, membicarakan soal turbulence yang Baekhyun lakukan dengan White House.

Tentu saja Baekhyun menang telak. Memangnya dia pernah benar-benar dikalahkan? Baekhyun terlalu kuat untuk bisa mereka hancurkan tanpa menyerangnya secara internal juga.

“Jiho, apa yang sedang kau lakukan?” Baekhyun menyadarkanku dari lamunan begitu dia utarakan pertanyaan yang sama atas sikapku padanya.

“Ah, aku sedang terkesima, Baekhyun. Tidak kusangka aku akhirnya bisa benar-benar menyentuhmu.” ucapanku sekarang berhasil membuat Baekhyun menyernyit bingung.

“Apa maksudmu?” tanyanya.

“Kau tidak merasakannya? Skinship kita, aku bisa menyentuhmu, Baekhyun. Aku begitu menginginkannya sejak dulu. Dan akhirnya aku bisa menyentuhmu.” ucapanku sekarang membuat Baekhyun menatapku dengan tatapan yang—argh! Mengapa dia harus menatapku seperti itu?

Dia memang tidak berkata apapun, tapi tatapannya saja sudah membuatku merasa salah tingkah. Dia tidak memamerkan ekspresi kosong dari maniknya, sungguh, mengapa tatapan Baekhyun selalu bisa kuartikan sebagai sebuah kalimat. Matanya kadang bisa jadi begitu ekspresif.

“Mengapa… menatapku begitu?” tanyaku segera memunculkan sebuah senyum kecil di wajah Baekhyun. “Kalimatmu terdengar begitu ambigu, Jiho. Kata ‘menyentuh’ yang kau ucapkan, bisa berarti banyak hal.” ucap Baekhyun mengejutkanku.

“H-Hey, kau tahu benar apa maksudku. Aku hanya merasa terkejut, sekaligus senang, setidaknya jika aku tidak bisa benar-benar bertemu denganmu… aku bisa bersentuhan denganmu di sini dan menganggap bahwa kita benar-benar bisa setidaknya melakukan hal lain yang serupa dengan pertemuan di dunia nyata.”

Baekhyun mengangguk-angguk mendengar penuturanku. Lantas, kurasakan bagaimana lengannya melingkar di pinggangku—hal yang hampir saja membuatku melompat terkejut karena tindakannya—menarikku untuk merapatkan tubuh padanya sementara aku masih mematung.

“Bagaimana dengan ini? Kau suka ketika kita bisa melakukan kontak fisik seperti ini juga?” tanya Baekhyun membuatku mengalihkan pandangan. Meski sekarang kalimatnya terdengar seolah menuduhku sebagai seorang wanita yang kecanduan kontak fisik, tapi aku tahu dia tidak sedang berusaha meledekku dengan cara seperti itu.

Dia tengah berusaha membuat kinerja jantungku berubah abnormal lagi. Dan ya, memang benar bahwa jantungku sekarang sudah bekerja tidak karuan karena tindakan Baekhyun.

“Y-Ya…” jawabku pelan.

Baekhyun kemudian melepaskan lengannya yang tadi melingkar di pinggangku, lengan itu lantas bergerak merengkuh bahuku, menjatuhkanku dalam pelukan Baekhyun yang… ah, sekarang aku bisa merasakan bagaimana pelukan Baekhyun.

Apa yang mungkin Ashley katakan saat mendengar ini? Dia pasti akan benar-benar berpikir bahwa aku sudah jatuh cinta pada Baekhyun.

“Hmm… Bagaimana dengan yang ini?” Baekhyun tiba-tiba saja menyarangkan sebuah ciuman kecil di pipiku. Hal yang lantas membuatku mau tak mau sontak menatapnya terkejut.

“Kau pasti bisa merasakan itu juga sekarang…” gumamnya saat memerhatikan ekspresi terkejutku.

Tentu saja! Apa dia sudah gila? Tidakkah dia pikirkan efek kecupan itu pada jantungku? Meskipun dia melakukannya dalam permainan, tapi aku juga tetap merasa terkejut.

“Kau tahu aku menyukaimu ‘kan, Jiho?” tanya Baekhyun membuyarkan keterkejutan sesaatku karena kecupannya barusan.

Sebuah anggukan pelan kuberikan sebagai jawaban, sebelum aku buka suara. “Aku juga sangat menyukaimu, Baekhyun. Tiap sekon, rasanya kau selalu saja menempel dalam benakku.”

“Aku juga begitu. Aku selalu memikirkanmu.” kata Baekhyun, “…, Kupikir aku mungkin benar-benar jatuh cinta padamu, Jiho. Tapi kau sendiri percaya kalau hal itu tidak mungkin. Jadi aku juga berpikir begitu, jatuh cinta yang sesungguhnya tak mungkin terjadi pada kita.”

Entah mengapa, batinku justru mencelos dan terasa sakit begitu mendengar kalimat Baekhyun. Dia pasti mengingat kalimat yang pernah kuucapkan padanya, kalimat yang kuucapkan saat aku tak pernah menduga hubungan kami akan berubah menjadi seperti ini.

“Kau benar…” kataku akhirnya, sementara Baekhyun bergerak memandangku, menunggu kalimatku yang lain, “…, Mana mungkin kita bisa benar-benar saling mencintai sementara keadaan yang disuguhkan oleh permainan ini dan keadaan di dunia nyata kita begitu berbeda?

“Jika kita benar-benar saling mencintai di sini, kita mungkin saja bisa saling melukai karena fakta yang ada di balik permainan ini—maksudku, tentang kehidupan kita. Kau tahu, mengenal seseorang secara virtual seperti ini terkadang jauh lebih baik daripada berusaha mengenalnya di dunia nyata.

“Sebab apa yang dunia virtual dan dunia nyata suguhkan tak pernah sama. Baik karakter seseorang itu sendiri, atau kehidupannya. Daripada saling menyakiti karena berusaha terlalu keras untuk saling mencinta, kupikir lebih baik membiarkannya begini. Karena momen indah seperti ini, setidaknya bisa menjadi kenangan yang indah juga.”

Baekhyun tersenyum mengiyakan. Nampaknya, kali ini kami sepemikiran juga. Tentang dunia yang lebih baik dalam keadaan virtual saja, dan hubungan yang lebih baik tidak dibawa terlalu jauh agar tidak saling melukai.

Aku suka menerima keadaan Baekhyun seperti ini, aku senang karena bisa menyukainya di sini. Tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku benar-benar mengenal Baekhyun. Bagaimana kalau aku nyatanya tak bisa menerima keadaannya di dunia nyata?

Atau sebaliknya, Baekhyun yang tak bisa menerima keadaan menyedihkanku? Kehidupan dan percintaan tidak hanya bicara tentang rasa suka, atau jantung berdebar itu sendiri. Ada banyak hal yang harus dipikirkan matang-matang ketika dua insan memutuskan untuk saling mencinta.

Dan hal kompleks itu tidak ingin kupikirkan. Menata kehidupanku untuk jadi sedikit lebih baik saja sudah begitu sulit. Selagi bisa berbahagia bersama Baekhyun dalam keadaan seperti ini, aku tak perlu memaksakan diri untuk berusaha mencintainya secara nyata juga.

Tidak boleh, lebih tepatnya. Aku harus tahu diri, tentang siapa aku dan bagaimana kehidupanku. Aku mungkin tak pantas untuk jadi wanita yang benar-benar mencintai Baekhyun.

“Darimana kau tahu kalau sekarang kontak fisik seperti ini bisa terasa, Jiho? Kupikir aku belum memberitahumu.” kata Baekhyun kemudian, mengganti konversasi kami karena pasti dia tahu jelas kalau membicarakan perkara mencintai seseorang di dunia virtual tak akan menjadi bahasan yang menyenangkan.

“Ah, aku menonton sebuah turbulence tadi, selagi kau menghancurkan White House.” ucapku. “Turbulence lain?” tanya Baekhyun penasaran.

“Hmm, ya. Kau tahu, ada seorang player kuat lainnya yang hampir membuatku salah mata karena sempat membuatku mengira dia adalah kau. Dan tadi dia juga terlibat dalam turbulence, dengan playerplayer yang memiliki pair.

“Dia sangat mengerikan, sungguh. Dia membunuh semua player yang berhadapan dengannya, Baekhyun. Maksudku… luka fisik mereka benar-benar terlihat nyata. Jika saja aku tidak ingat kita sedang berada dalam game, aku mungkin berpikir dia benar-benar mencabik tubuh semua orang.”

Baekhyun terdiam sejenak, pandangnya sekarang terlihat khawatir.

“Tapi kau tidak terlibat dalam turbulence itu, bukan?” tanyanya.

“Tentu saja tidak. Kalau aku terlibat, aku mungkin jadi salah seorang player yang sudah game over. Player itu sangat menakutkan, Baekhyun, sepertimu—tapi tidak sepertimu. Maksudku, dia terlihat tidak terkalahkan. Tapi dia terlihat seperti seorang monster.”

Player itu… siapa dia?” tanya Baekhyun setelah mendengar penuturanku.

Aku menatap Baekhyun, menangkap rasa ingin tahu yang begitu kental dalam tatapannya sekarang membuatku mau tak mau buka suara juga.

“Black Radiant. Namanya Black Radiant.”

“Jangan terlibat dengannya!” tiba-tiba saja Baekhyun berucap begitu lantang, mengejutkanku sekaligus membuatku bertanya-tanya.

“M-Mengapa?” tanyaku hati-hati.

“Dia berbahaya, Jiho. Kau bisa terbunuh karenanya bahkan jika kau tidak berbuat apapun. Dia adalah pembunuh yang kubicarakan padamu kemarin. Jadi, jangan berurusan dengannya, atau terlibat dengannya.

“Kalau kau melihatnya, segeralah pergi menjauh secepat mungkin. Jangan biarkan dia menemukanmu karena dia mungkin saja membuatmu terlibat dalam bahaya.” ucapan Baekhyun yang terkesan ketakutan sekarang justru membuatku semakin bertanya-tanya.

Mengapa aku justru merasa seolah Baekhyun tengah ketakutan?

“Kenapa? Baekhyun… apa kau mengenalnya?” tanyaku lebih hati-hati, takut jika perkataanku bisa mengundang kemarahan Baekhyun yang tidak kuinginkan. Maksudku, bertengkar dengan Baekhyun dalam situasi seperti ini tidak akan menguntungkan.

“Ya… dia seseorang yang sama persis sepertiku. Hanya saja, tidak sepertiku yang masih punya perasaan dan rasa kasihan, Black Radiant adalah seorang yang tidak berperasaan.” kata Baekhyun, terdengar muram.

Benar dugaanku, kemiripan Baekhyun dan Black Radiant tidak hanya dari kemampuan mereka saja, tapi nyatanya mereka juga saling mengenal. Pantas saja keduanya berada di rank teratas permainan ini.

Apa Baekhyun juga mengenal pemilik rank ke-dua dan ke-tiga? Mereka bisa saja terlibat dalam satu kelompok yang sama namun hidup secara terpisah dalam permainan ini, bukan?

Ah, mengapa aku tak pernah menaruh ketertarikan pada playerplayer dengan pakaian serba gelap seperti Baekhyun dan Black Radiant? Atau, playerplayer dengan ID bernuansa ‘black’ yang mungkin jadi kesamaan mereka?

“Kau berteman dengannya?” tanyaku kemudian.

“Tidak. Kami adalah saingan.” sahut Baekhyun, “Yang jelas, kau tidak boleh terlibat dengannya. Dia bisa saja mencelakaimu karena tahu kau mengenalku, dan aku tidak mau kau terluka karena ulahnya.” sambung Baekhyun kemudian.

“Kau terdengar seperti seseorang yang sedang cemburu, Baekhyun.” kataku berusaha bercanda dengannya, melihat Baekhyun dengan ekspresi kelewat serius seperti saat ini sungguh membuatku merasa geli.

“Aku tidak sedang bercanda, Jiho. Tidakkah kau melihatnya sebagai sebuah ancaman? Black Radiant sangat berbahaya.” kata Baekhyun kesal.

“Mengapa aku harus takut? Dia hanya seorang rank nomor empat, sedangkan aku mengenal baik player dengan rank nomor satu. Memangnya dia akan menang melawanmu? Tidak mungkin, kuyakini kau adalah player terkuat di server.” ucapanku mau tak mau melahirkan sebuah senyum juga di wajah Baekhyun.

“Kau tidak menghiburku dengan kalimat itu.” kata Baekhyun.

“Tapi kau tersenyum.” sahutku.

Baekhyun lantas memejamkan mata sejenak, sebelum dia mengembuskan nafas panjang dan menatapku, serius.

“Sungguh, jangan libatkan dirimu dengannya, Jiho. Aku tidak ingin kau terluka karenanya, dan kalau kau pikir aku cemburu, ya… anggap saja aku merasa begitu marah jika kau sampai dekat dengannya. Kalau kemarahanku bisa dikategorikan sebagai kecemburuan, aku baik-baik saja menerima tuduhan cemburumu itu.”

Ah, Baekhyun, bagaimana aku bisa menatap pria lain sementara kau saja sudah membuatku merasa tidak karuan seperti ini?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Kuakui, selama beberapa hari aku melalui hariku dengan begitu nyaman sampai-sampai aku sempat lupa pada pesan yang begitu Baekhyun tekankan padaku. Jangan terlibat dengan Black Radiant, kata Baekhyun.

Dan selama hampir dua puluh empat jam ini Baekhyun tidak bisa kuhubungi. Dia mungkin sibuk menjadi buruan player lain, dan Black Radiant tampaknya juga sudah menjadi buruan terbaik playerplayer yang sejak berada dalam server lama sudah menjadi player serakah.

Ya, kali ini aku terjebak secara tidak sengaja di dalam kurungan plasma cahaya serupa kilat milik Black Radiant karena beradu argumen dengan Chanyeol—White Lion itu, ingat?—sedangkan aku tidak sadar kalau dia memang sengaja menahanku selagi kawan-kawannya di belakang sana mencari masalah dengan Black Radiant.

Aku tak bisa keluar dari kungkungan plasmanya, sementara player yang berpihak pada White House—kusadari White House seolah menjadi Town baru di dalam server ini, meski sebenarnya server ini tidak mendukung pembuatan Town—tapi ada begitu banyak player yang mengklaim dirinya sebagai bagian dari White House dan sekarang terlibat dalam turbulence ini.

Sementara aku mengunci diri sejauh mungkin dari pertarungan mereka, menyudutkan diriku di sudut terjauh lapisan plasma yang melindungi tempat ini—Hall utama, yang lagi-lagi jadi tempat mereka melakukan turbulence—selagi aku menonton.

Aku tidak bisa melakukan koneksi apapun pada player di luar arena, karena kulihat ada Ashley dan Taehyung di luar sana, tapi aku tak bisa mengirimkan pesan apapun pada mereka. Apa ini efek dari barier yang sudah Black Radiant pasang?

SRASH!

“Kau pasti bercanda! Zeus! Serang dia! Sudutkan dia!” White Lion berteriak lantang, memerintahkan Zeus untuk menyudutkan Black Radiant menggunakan archerynya selagi White Lion menyerang Black Radiant dari jarak dekat.

Diserbu oleh puluhan player rupanya tidak jadi situasi yang Black Radiant antisipasi sebelumnya. Entah karena apa, tadi seingatku memang health bar dan human wealthnya tidak begitu baik.

Dan setelah terjebak di dalam turbulence ini selama hampir setengah jam, Black Radiant akhirnya terlempar cukup jauh dari arena utama. Lebih tepatnya, dia terjatuh ke hadapanku—aku, yang sedari tadi hanya berdiri diam di sudut bariernya.

“Kau baik-baik saja?” sontak aku melangkah mendekatinya begitu kutemukan tubuh Black Radiant penuh dengan luka-luka menganga dan berdarah.

Ugh! Serang aku, bukankah kau juga menginginkan kematianku seperti mereka semua?” tanya Black Radiant, ditepisnya lenganku yang berusaha membantunya, menyadarkanku bahwa aku tidak seharusnya melibatkan diri padanya sementara dia adalah seorang player berbahaya yang Baekhyun peringatkan padaku.

“Kau terluka begitu parah. Human wealth dan health barmu juga hancur. Sedangkan mereka semua masih baik-baik saja karena berbagi potion. Serangan ini pasti sudah mereka rencanakan, kau yakin bisa menghancurkan mereka semua seperti hari itu?” tanyaku, kulemparkan sebuah perisai untuk membatasi ruang gerakku dan Black Radiant.

Selama beberapa waktu mereka yang berada di luar perisai ini tak akan bisa memberikan serangan apapun. Tapi tidak akan lama, karena perisaiku bagaimanapun bukanlah equipment tangguh.

“Kita sudah pernah bertemu, bukan?” tanyaku ketika kudapati Black Radiant hanya menatapku dengan pandangan yang tidak kumengerti.

Kuulurkan sebuah potion penyembuh padanya. Sementara dia tertatih berusaha bangkit dan duduk di tanah, masih memandangku dengan pandangan mengerikan yang jika saja kudapatkan di kehidupan nyata, mungkin akan membuatku bergidik ngeri.

“Apa yang sudah Invisible Black ceritakan padamu tentangku? Tidakkah dia memperingatkanmu untuk menjauh dariku?” aku terkesiap saat kudengar Black Radiant mengutarakan pertanyaan itu padaku.

Apa Baekhyun bicara tentangku padanya? Bagaimana dia bisa tahu kalau Baekhyun berusaha membuatku menjauhinya?

“Baekhyun memperingatkanku, tapi kau terluka parah, dan butuh bantuan…” kataku membuatnya tergelak.

“Kau bahkan tahu namanya, Nona Song. Sejauh apa hubungan kalian sebenarnya?” tanya Black Radiant, dia lantas berdiri, mengabaikan bantuan potion yang kuberikan, dipandanginya perisai yang kupasang dengan tatapan meremehkan.

“Perisai ini tidak akan bertahan lama, sedangkan kuyakini mereka akan menyerangmu juga begitu perisai ini menghilang. Di mata mereka, kau seorang pengkhianat yang berusaha melindungi musuh.” kata Black Radiant.

“Aku sudah pernah mendengar itu, dan mereka sudah terlanjur menganggapku begitu. Jadi, apa aku tidak boleh membantumu?” tanyaku, sekali lagi kuulurkan potion di tanganku ke arahnya, sementara dia memerhatikanku dari atas sampai bawah.

Tatapannya sekarang tidak terlihat semengerikan tadi. Ada tanya dalam pandangnya, tapi aku juga tak mengerti mengapa dia—tunggu, apa yang dia lakukan?

Kulihat Black Radiant menekan sebuah benda kecil di telinganya, sembari menatapku, rupanya dia melakukan call pada—

Hey, Invisible Black. Wanitamu ada di dalam battle areaku, dan menawarkan bantuan, apa aku boleh menerima bantuannya? Atau… kau yang akan datang ke sini untuk menggantikannya?”

—dia memanggil Baekhyun!

“Apa yang kau lakukan!?” pekikku begitu sadar dia sudah memanggil Baekhyun sekaligus mengadukanku.

Benar, Baekhyun pasti bicara tentang aku yang sudah diperingatinya untuk tidak berada di dekat Black Radiant. Mendengar kalimat Black Radiant sekarang sudah jelas membuatku tahu bagaimana baiknya hubungan mereka berdua.

“Jiho!” kudengar teriakan familiar masuk ke dalam pendengaranku dalam hitungan detik.

Entah bagaimana, Baekhyun sudah berdiri tegap di tengah arena, dengan kabut hitam—kabut yang serupa dengan after effect—melingkupi tubuhnya, ekspresinya begitu kaku, dan… dia terlihat sangat marah.

“Oh, dia begitu lambat kali ini. Biasanya tak sampai satu detik dia sudah datang.” kata Black Radiant santai, tidak terdengar seolah dia terkejut karena kedatangan Baekhyun yang tiba-tiba itu.

“Apa maumu, Radiant!?” teriak Baekhyun lantang, dia sudah siap dengan equipment di tangan, dan sungguh, aku tak pernah melihat Baekhyun memasang ekspresi sekaku ini sebelumnya.

“Bunuh semua player yang ada di dalam battle areaku, Invisible Black. Membunuh mereka sudah jadi keahlianmu, bukan?” ucap Black Radiant.

Baekhyun sejenak memandangku dengan tatapan yang mengatakan sudah-kukatakan-jangan-berurusan-dengannya-mengapa-kau-tidak-mendengarku sebelum akhirnya dia mengangguk menyetujui perkataan Black Radiant.

“Jangan buat masalah selagi aku mengurus mereka semua.” peringat Baekhyun, dia lantas melemparkan sebuah potion ke arah kami berdua, membuatku dan Black Radiant berada di tengah plasma hijau khas yang kukenali sebagai milik Baekhyun.

Dalam hitungan detik, Baekhyun menyerang mereka semua. Semuanya, sungguh. Seperti sebuah déjà vu, Baekhyun membiusku, lagi-lagi. Dia menyerang semua player tanpa ampun, tidak dengan mencabik mereka seperti yang Black Radiant lakukan, tapi dia melakukannya dengan begitu cantik, seperti Baekhyun yang kukenal.

Dia menyerang playerplayer itu dengan memberikan serangan telak yang membuat mereka secara paksa dikeluarkan dari battle area karena health bar yang kritis. Rupanya, di dalam survival mode ini, keadaan kritis saja sudah cukup membuat seseorang dianggap game over dalam turbulence.

Satu persatu player dikeluarkannya dari arena, sementara aku menonton dalam diam. Baekhyun terlihat sama memesonanya seperti yang selalu kulihat, meski kali ini dia tidak bertarung demi harga diri, tapi beribu tanya justru terbendung di dalam benakku.

Hendak kuutarakan namun aku tak ingin lebih jauh lagi melibatkan diri dengan konversasi dengan Black Radiant. Aku tahu Baekhyun sudah cukup marah karena tahu aku menawarkan bantuan pada Black Radiant.

Dalam dua menit, Baekhyun sudah membersihkan arena battle ini, menyisakan beberapa player yang masih kritis dan belum keluar secara otomatis dari dalam arena. Baekhyun kemudian melangkah ke arah kami, melepaskan kekangan plasmanya sementara dia menatapku dengan pandangan yang sungguh geram.

“Kemari, Jiho.” titahnya membuatku mau tak mau menurutinya, tidak memilih berdebat dengannya karena aku tahu berdebat dengan Baekhyun tak akan pernah berujung pada kemenanganku.

“Kuselesaikan bagianku. Pergilah, Radiant. Jangan mengacau lagi.” kata Baekhyun dengan nada sama seriusnya.

“Masih ada seorang player yang tersisa di sini, Black. Jangan bertingkah seolah kau berbaik hati membiarkan seorang player bertahan sementara kau dengar dengan jelas perkataanku, bunuh semua player yang ada dalam battle ini.” Black Radiant berkata, pandangannya sekarang bersarang padaku.

Apa dia bicara tentangku? Apa dia ingin Baekhyun membunuhku juga?

“Aku tidak bisa, kau tahu itu.” sahut Baekhyun.

“Lalu haruskah aku yang membunuhnya?” sebuah senyum miring Black Radiant pamerkan sebagai ancaman padaku.

“Hentikan! Tinggalkan Jiho sendiri! Kau tidak mengerti situasinya!” teriak Baekhyun memperingatkan, dicekalnya lenganku kuat-kuat begitu aku sampai di sisinya, sementara aku sendiri masih memilih bungkam.

“Situasi?” Black Radiant mengulang perkataan Baekhyun, dipandanginya aku sejenak sebelum dia kemudian melanjutkan. “Apa Nona Song tidak tahu tentang situasi yang sekarang menjebaknya?” sambungnya.

“Baekhyun, apa yang dia bicarakan?” tanyaku tak mengerti.

Yang kudengar dari Black Radiant, mereka seolah saling mengenal baik dan selama ini saling bekerja sama. Tapi mengapa cara Baekhyun menatapnya sekarang terlihat seolah mereka adalah musuh?

“Berhenti bicara sebelum aku menghancurkanmu.” peringat Baekhyun.

“Oh, oh. Kau tahu kau tidak bisa menghancurkanku di sini. Tempat ini adalah milikku. Kau mungkin berkuasa di server lama, tapi tempat ini milikku. Kau lah yang seharusnya waspada jika aku menghancurkanmu.

“Lagipula, situasi konyol apa yang sudah kau ciptakan, huh? Memiliki pair? Kau pikir seorang iblis sepertimu pantas untuk punya seorang pair, Invisible Black?”

Aku terkesiap saat mendengar ucapan Black Radiant. Luka-luka di tubuhnya perlahan menghilang, terlihat sebagai pemandangan menakutkan, sebenarnya, tapi entah mengapa ucapannya membuatku bertanya-tanya juga.

“Apa yang sedang dia bicarakan, Baekhyun? Mengapa dia memanggilmu iblis?” tanyaku tidak mengerti, mengapa dia menyebut Baekhyun sebagai iblis padahal dia lah yang terlihat lebih seperti iblis?

“Wah, wah. Dia benar-benar tidak tahu apa-apa.” Black Radiant menyeringai.

“Hentikan, Radiant. Aku akan selesaikan masalahku sendiri.” ucap Baekhyun, dengan tegas memperingati Black Radiant.

“Bagaimana aku bisa tetap diam sementara dia kebingungan, Black? Rupanya, dia tidak tahu kalau kau adalah partnerku, ya?” kata Black Radiant membuatku menatap Baekhyun tidak mengerti.

“Baekhyun, ada apa ini sebenarnya?” tanyaku, Baekhyun justru menatapku, tidak dengan kemarahan yang tadi sempat kutemukan, dia memandangku seolah ingin membawaku pergi dari tempat ini.

“Aku bisa menjelaskannya, Jiho. Aku—”

“—Kau tidak tahu kalau kau sudah menawarkan bantuan pada seorang villain yang seharusnya kau kalahkan untuk bisa keluar dari mode ini, HongJoo-ssi?” aku terkesiap saat mendengar ucapan Black Radiant.

Dia… seorang villain?

“Black Radiant, cukup! Jiho, cepat pergi dari sini!”

“K-Kau… kau apa?” mengabaikan ucapan lantang Baekhyun, kutemukan diriku justru melempar sebuah tanya pada Black Radiant, kupertanyakan lagi kenormalan pendengaranku karena sekarang ucapan santai Black Radiant terdengar sangat tidak sinkron dengan senyum tenang yang dia pasang.

Tidak malah menyahuti perkataanku, dia justru menatap Baekhyun seolah situasi seperti ini sudah sangat dia harap-harapkan, kemudian dia menatapku.

“Kau pasti tidak tahu, Nona Song. Kau sudah berada dalam situasi menggelikan…” Black Radiant menyunggingkan senyum sarkatis sebelum dia melanjutkan perkataannya. “…, Invisible Black adalah partnerku. Dia seorang villain juga. Kau tidak tahu itu dan bahkan menjadi pairnya? Menyedihkan sekali. Apa kau tidak bisa mencari pair lain yang sama sepertimu?”

Aku mematung. Perkataan Black Radiant sekarang mengejutkanku lebih dari apapun yang pernah kudengar di dalam permainan ini. Sementara Baekhyun hanya menatapku dalam diam dengan pandangan sarat akan rasa bersalah. Cekalannya padaku perlahan terlepas, sementara aku menatapnya dengan penuh tanya.

Mengapa Baekhyun diam?

Mengapa dia tidak mencoba untuk menjelaskan apapun padaku? Apa yang sekarang dikatakan oleh Black Radiant masuk akal?

“Baekhyun… Kenapa kau tidak mengatakan apapun?” tanyaku akhirnya membuat Baekhyun mengembuskan nafas panjang.

“Maafkan aku, Jiho.”

“Maaf? Mengapa kau minta maaf? Jelaskan situasinya padaku, Baekhyun. Mengapa dia berkata seperti itu dan kau menerimanya begitu saja?” tanyaku tak percaya.

“Untuk apa dia menolak argumenku. Dengar, aku sudah berbaik hati membeberkannya padamu, pairmu adalah seorang iblis yang berpenampilan sebagai player. Dia berpura-pura baik padamu padahal dia adalah seorang villain yang seharusnya kau hancurkan.”

Aku terperangah mendengar ucapan Black Radiant. Tapi sikap Baekhyun juga jadi hal yang kupertanyakan. Mengapa dia tetap memilih bungkam? Apa perkataan Black Radiant benar adanya?

“Maaf, Jiho. Aku tidak bermaksud membohongimu tapi, aku juga tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya padamu. Kau terlalu menarik, aku tidak bisa menolak keberadaanmu. Jiho, kau sudah jadi begitu istimewa untukku, dan aku tak ingin melukaimu dengan memberitahukan fakta bahwa aku adalah seorang villain. Maaf…” sontak aku terhuyung mundur saat mendengar ucapan Baekhyun.

Apa sekarang dia sudah membenarkan ucapan Black Radiant? Dia sedang memberitahuku fakta bahwa dia… seorang villain?

Baekhyun adalah seorang NPC?

Jadi… selama ini aku jatuh cinta pada sebuah karakter tidak nyata yang diciptakan dalam WorldWare?

— 계속 —

IRISH’s Fingernotes:

Halo halo ~

Maaf enggak menyapa kalian dengan fanfiksi selama dua minggu—atau lebih?—karena adanya ulang tahun ChenChen juga Yixing yang membuat aku terjebak dilema, mau ngepost takut postnya tenggelem sama fanfiksi birthday, enggak ngepost kok aku kangen, LOLOL.

Dan maaf, aku putuskan untuk enggak ngepost Bonus Stage hari ini karena aku pikir level dua puluh ini sudah penuh kejutan. Jadi Bonus Stage-nya kusimpan untuk dipublish bareng sama level dua puluh satu.

Btw, aku mau keep calm, soalnya aku tahu dalem hati pembaca di level ini mereka pada mau mengumpat ke aku karena sudah menyembunyikan sebuah kebohongan selama dua puluh chapter.

Ya ampun, mana pas ngetik chapter ini aku ditemenin sama Sweet Lies, DAN ISI CERITANYA JUGA BERBAU SWEET LIES, YA. WKWK, tolong, kepslok tiba-tiba aja gabisa buat nggak kuinjak karena aku sendiri merasa bersalah atas terbitnya level ini.

Maaf ya, buat kalian-kalian yang sudah mengharap-harapkan kebersamaan Baekhyun-Jiho. MEREKA TUH NGGAK BISA BERSAMA, TOLONG YA TOLONG, JANGAN LAGI BERHARAP MEREKA BISA BERSAMA BIKOS BAEKHYUN CUMA SEKEDAR NPC. WKWKWKW.

Baekhyun ‘tuh semacem jadi ‘wifeu’ sama ‘husbando’-nya otaku, buakakakakakakakak /kemudian disambit sandal/ dan maaf, serius, sejak awal Baekhyun memang tercipta sebagai seorang NPC, ya masa sih enggak ada yang curiga? :”D padahal Baekhyun itu player paling mencurigakan sejak awal…

Tapi sudahlah, semua sudah berlalu di atas sana. Jadi biar aja pembaca pada mengumpat karena sudah dibuat baper selama dua puluh chapter sama seorang karakter game yang sama sekali enggak punya harapan untuk berubah jadi manusia, LOLOLOL. Bahagia sekali aku.

IYA, AKU TUH BAHAGIA TIAP NGETIK CHAPTER KELIPATAN SEPULUH INI. WKWK. NANTI CHAPTER TIGA PULUH JUGA CHAPTER MEMBAHAGIAKAN. EMPAT PULUH APALAGI.

Ya sudahlah, sebelum aku semakin diumpat karena ngebuat fingernotes begitu panjang, lebih baik aku sudahi saja. Jangan lupa tinggalkan komentar, karena kalau kalian pelit komentar aku juga akan berubah jadi semakin sadis di levellevel berikutnya.

Bisa aja aku bunuh Jiho dengan dicincang-cincang, atau aku enggak munculin Taehyung lagi. Atau Baekhyunnya yang aku bunuh. Bisa juga member EXO lain enggak aku munculin. Biar, biar kalian sakit hati karena aku juga sakit hati kalau kalian ngebaca cerita ini tapi pura-pura nggak baca dan akhirnya pura-pura gakenal sama aku terus enggak ninggalin komentar.

Sampai ketemu minggu depan! Selamat bergalau ria memikirkan nasib hubungan Jiho-Baekhyun. Happy Saturday, jombs!

Ps: kemana rencana malem mingguan kalian?

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

93 tanggapan untuk “GAME OVER – Lv. 20 [Black Radiant] — IRISH”

  1. KA IRISH YAAALLAH😭 aku udah jatuh hati pada pair legend itu ihh kenapa menghancurkan dengan satu kalimat terakhir???😭 kaka menyakiti hatiku ka😭
    Udah berharap chapter selanjutnya ada lovey dovey byunbaek sama jiho di dunia nyata, pupuslah udah. Pupus. Bay.

    Tapi ini sih yang bikin aku selalu kangen ka Irish dan cerita2nya yang ga pernah bikin menyesal setelah dibaca💕

    Pasrah lah akumah sama kelanjutannya. Udah, kumaha ka Irish weh lah inimah.
    Btw maapkeun aku yang baru baca, sudah sibuk di dunia kerja, tiba2 kangen tulisan ka irish, sambil nunggu apdetan one and only, dan akhirnya baca game over deh. Ternyata ketagihan💟💟💟

    Dan ini malah dapet bagian shocking levelnya deh, so lit dah!

  2. selama ngikutin cerita gk pernah tersirat klo baek itu npc:”(( .. disuguho adegan manis lalu di tohok seperti, tolong kenapa authornya jahat sekali:”((

  3. Ya ampyuuunnnn kak irish. Ini kok jadi aku yg sakit hati yah. Padahal udah berharap banget cabe itu nyata. Benar-benar nyata dan bakalan ketemu sma Hong nantinya.. Apalah dayaku yg hanya pembaca Heuheu. ..

  4. Apaan ini? Ternyata baekhyun cuma NPC. Duuh poteeek… Udh ngarep ngarep baekhyun sama jiho (walaupun udh diingetin sama ka irish jangan ngarep begitu) ternyata baekhyunnya cuma NPC dan g akan ada di dunia nyata
    kaaa kasian jiho nya.. Tegaa beneer 😦

  5. What??!!!!! Jadi ini lah kenapa baekhyun nggak masuk daftar player yang ikut dalam versi demo.
    Ini aku kenapa merasa benar benar tertohokk.
    Aku nggak bisa diginiin(alay).
    Tapi kak Irish,kenapa kamu selalu berbahagia ria dalam membuat dua karakter utama merasa ter ter ter?? //apa ya/ tersiksa satu sama lain coba.
    Kenapa kak irish serasa menyajikan spoiler ditengah2 chapter bahwa mereka akan berakhir dengan SAD ENDING????
    Ingatkan aku bahwa one only juga /katanya?/ akan berakhir dengan sad

    Huhuhuhuhuhuuuuuuuuuuuuhh

Tinggalkan Balasan ke Yoon016 Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s