[EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 48)

MY LADY

[ Chapter 48]

Title : MY LADY

Author : Azalea

Main Cast :

Byun Baekhyun (EXO), Lee Sena/Kim Jisoo (BLACKPINK), Oh Sehun (EXO)

Support Cast :

Shannon Williams, Lee Miju (Lovelyz), Kim Kai (EXO), Park Chanyeol (EXO), Do Kyungsoo (EXO), etc.

Genre : Romance, Sadnes, Adult

Rating : PG + 17

Length : Chapter

Disclaimer : Cerita ini murni dari otakku sendiri. Tidak ada unsur kesengajaan apabila ada ff yang memiliki cerita serupa. Kalaupun ada yang serupa, aku akan berusaha membawakan cerita milikku sendiri ini dengan gaya penulisanku sendiri. Kalian juga bisa membacanya di wattpad. Nama id ku @mongmongngi_b, dengan judul cerita MY LADY.

Credit poster by RAVENCLAW

Cerita sebelumnya :  Cast Introduce -> CHAPTER 1 -> CHAPTER 2 -> CHAPTER 3 -> CHAPTER 4 -> CHAPTER 5 -> CHAPTER 6 -> CHAPTER 7 -> CHAPTER 8 -> CHAPTER 9 -> CHAPTER 10 -> CHAPTER 11 -> CHAPTER 12 -> CHAPTER 13   -> CHAPTER 14 -> CHAPTER 15 -> CHAPTER 16 -> CHAPTER 17 -> CHAPTER 18 -> CHAPTER 19 -> CHAPTER 20 -> CHAPTER 21 -> CHAPTER 22 -> CHAPTER 23 -> CHAPTER 24 -> CHAPTER 25CHAPTER 26 -> CHAPTER 27 –> CHAPTER 28 -> CHAPTER 29 – > CHAPTER 30 -> CHAPTER 31 -> CHAPTER 32 -> CHAPTER 33 -> CHAPTER 34 -> CHAPTER 35 -> CHAPTER 36 -> CHAPTER 37 -> CHAPTER 38 -> CHAPTER 39CHAPTER 40 –> CHAPTER 41 -> CHAPTER 42 -> CHAPTER 43 -> CHAPTER 44 –>CHAPTER 45 -> CHAPTER 46 – > CHAPTER 47

Soojung menggerutu pelan kala tidur lelapnya harus terganggu oleh suara bel pintu apartemennya yang tidak berhenti berbunyi. Setengah kesal ia berteriak agar orang yang ada di balik pintu sabar menunggunya untuk membuka pintu. Soojung bersumpah jika orang yang berani mengganggunya itu hanya orang iseng, maka ia akan membotaki orang tersebut saat ini juga.

“Siap–“ ucapan Soojung terhenti saat ia melihat Sena tengah berdiri di depan apartemennya.

Soojung meneliti penampilan Sena dari atas ke bawah dan detik selanjutnya ia segera membekap mulutnya sendiri. Penampilan Sena sungguh mengerikan. Wajahnya sembab tapi ia tetap berusaha untuk terus tersenyum. Gaun tidur putihnya kotor dan jangan lupakan jika saat ini ia tidak memakai alas kaki apapun membuat telapak kakinya penuh dengan tanah dan sedikit noda merah. Jika saja ia tidak mengenal orang yang ada di depannya saat ini, maka sudah bisa dipastikan Soojung akan menganggapkanya sebagai orang gila yang baru saja kabur dari perawatan rumah sakit jiwa.

Tatapan mata Soojung kembali ke atas. Mata mereka saling bertemu. Soojung menatap Sena dengan tatapan terkejutnya saat Sena hanya bisa tersenyum lemah. Setelah Soojung berhasil menemukan suaranya yang sempat hilang, ia pun mencoba untuk memanggil Sena.

“Se– Oh my…“  Belum sempat Soojung menyelesaikan ucapannya, Sena sudah jatuh menimpa tubuhnya. Tak kuasa menahan berat badan Sena, Soojung pun ikut terduduk dengan Sena di pangkuannya. Soojung menepuk-nepuk pipi Sena berharap sahabatnya itu segera sadar. “Ya! Lee Sena! Sena-ya!”

Soojung semakin panik saat merasakan badan Sena yang sangat panas. Dalam hati ia merutuki kebodohannya karena tidak sempat memperhatikan penampilan Sena yang seperti orang sakit. Dirinya terlalu terkejut dengan kedatangan Sena dalam keadaan mengerikan hingga ia melupakan insting seorang dokternya.

“Apakah nona ini baik-baik saja?” tanya seorang pria paruh baya yang baru Soojung sadari kehadirannya. Soojung menatap bingung ke arah pria tersebut, dan seakan mengerti tatapan Soojung, pria tersebut menjawab, “Saya sopir taksi yang mengantarkan nona ini ke sini. Karena ia tidak membawa uang sepeser pun, ia meminta saya untuk mengikutinya naik ke lantai gedung ini untuk meminta membayar ongkos taksinya pada temannya.”

“Ah…” ucap Soojung yang akhirnya mengerti akan keadaan yang tengah terjadi saat ini. “Bisakah saya meminta tolong pada ahjussi lagi?”

“Asalkan itu bukan uang, saya bisa membantu.”

“Bukan-bukan.” Soojung menggelengkan kepalanya begitu mendengar ucapan dari ahjussi di depannya itu. “Tolong bantu saya mengangkat teman saya ini dan memindahkannya ke kamar saya.”

“Oh… tentu. Mari saya bantu.”

Mereka berdua pun mengangkat tubuh lemas Sena dan memindahkannya ke kamar Soojung. Soojung dan ahjussi sopir taksi itu membagi tugas saat mengangkat Sena. Soojung mengangkat tubuh bagian atasnya, sedangkan ahjussi itu mengangkat tubuh bagian bawah Sena. Tidak mudah mengangkat tubuh seseorang yang tengah dalam keadan pingsan seperti sekarang ini.

Tanpa sadar Soojung dan ahjussi yang tidak diketahui namanya itu langsung menghembuskan napasnya dalam sesaat setelah mereka berhasil merebahkan Sena di atas ranjang Soojung. Peluh bercucuran dari badan mereka. Soojung menyelimuti tubuh Sena dengan selimutnya, lalu menghadapkan tubuhnya pada ahjussi yang telah menolongnya itu. Mereka berdua berjalan keluar kamar.

“Anda ingin minum sesuatu?” tawar Soojung karena merasa begitu merepotkan pria paruh baya di depannya itu.

Ahjussi itu menggelengkan kepalanya mendengar tawaran dari Soojung walau sebenarnya ia sungguh butuh minum saat ini. “Tidak perlu. Saya hanya ingin mengambil uang ongkos taksinya saja.”

“Ah, baiklah. Berapa ongkos taksi yang harus dibayar teman saya?”

“Empat puluh lima ribu won.”

“Tunggu sebentar.”

Soojung memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Ia mencari keberadaan dompetnya, kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar ongkos taksi Sena. Setelahnya ia pun keluar kembali untuk menemui sopir taksi yang tengah menunggunya itu. Soojung menghampiri sopir taksi yang sedang duduk di salah satu sofa ruang tamunya. Begitu Soojung mendekat, sopir itu pun langsung berdiri.

“Ini.” Soojung menyerahkan uang yang ada tangannya.

“Terima kasih. Kalau begitu saya pamit dulu.”

“Tunggu sebentar.” Cegah Soojung saat sopir taksi itu akan meninggalkan apartemennya. “Ada yang ingin saya tanyakan.” Soojung melihat sopir taksi itu terdiam, dan ia menganggap hal itu sebagai jawaban ‘iya’. “Bagaimana anda bisa menemukan teman saya?”

Sopir taksi itu terlihat mengingat kembali kejadian beberapa saat lalu sebelum ia menjawab. “Saat itu saya sedang berkeliling ke daerah pinggiran sungai Han.”

“Sungai Han? Apa yang dilakukan Sena di pinggiran sungai Han di pagi buta seperti ini?” potong Soojung tidak mempercayai apa yang didengarnya.

“Saya tidak tahu. Saya hanya menemukannya tengah terduduk sambil memeluk lututnya dengan keadaan yang cukup mengenaskan seperti yang pertama kali anda lihat.”

“Apakah tidak ada orang di sampingnya saat anda menemukannya?”

“Tidak ada. Ia hanya sendirian. Saat itu ia tengah menangis di bawah lampu jalan raya.”

Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Tanya Soojung dalam hati karena ia tahu percuma saja bertanya seperti itu pada sopir taksi yang tidak tahu apa-apa mengenai kejadian yang telah menimpa Sena. Soojung berusaha tersenyum ramah sebelum mengucapkan rasa terima kasihnya.

“Sekali lagi terima kasih karena telah menyelamatkannya.”

“Sudah menjadi kewajiban saya untuk menolong sesama yang membutuhkan.”

Setelah mengatakan hal itu, sopir taksi pun pamit pergi karena harus pulang ke rumahnya. Soojung mengantarnya sampai pintu depan apartemennya. Lalu ia berbalik kembali ke kamarnya. Soojung menyibak selimutnya. Memeriksa dengan teliti keadaan Sena saat ini. Ia menggelengkan kepalanya melihat gaun tidur Sena yang sudah tidak layak untuk dipakai lagi. Selain kotor, gaun itu penuh dengan keringat dingin Sena.

Soojung berjalan ke arah laci meja riasnya dan mengambil sebuah gunting. Ia menggunting gaun tidur Sena untuk memudahkannya mengganti pakaian Sena. setelah gaun tidur Sena terlepas, Soojung mengambil sebuah baskom kecil berisi air hangat yang di dalamnya ada sebuah handuk kecil. Dengan telaten ia membersihkan tubuh Sena. Mulai dari keringat sampai tanah yang bercampur darah kering yang ada pada kaki Sena pun ia bersihkan.

Soojung menggelengkan kepalanya melihat pergelangan kaki Sena yang membengkak. “Apa yang telah terjadi padamu, Na-ya?” tanya Soojung pada Sena yang masih tergolek tidak berdaya. Soojung pun segera memakaikan salah satu pakaiannya pada Sena karena tidak ingin demam Sena semakin parah. Lalu ia berjalan ke dapur untuk mengambil es batu dan membalutkannya pada handuk kecil lainnya. Ia perlu mengompres pergelangan kaki Sena sebelum terlambat. Tidak lupa ia juga membawa baskom kecil dengan sebuah handuk kecil untuk mengompres demam Sena.

Soojung berdecak kesal melihat tubuh Sena. Ia memutuskan untuk duduk di samping Sena. Rasa kantuknya hilang seketika karena terlalu memikirkan kemungkinan-kemungkinan apa saja yang telah terjadi pada sahabatnya itu. Di mana Baekhyun? Sebuah pertanyaan melintas di benaknya dan Soojung yakin semua ini pasti ada hubungannya dengan pria itu karena selama ini yang selalu membuat sahabatnya terluka seperti ini hanya pria itu.

Soojung melirik jam dinding. Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari. Ia memutuskan untuk membuatkan Sena bubur dan sarapan untuknya sendiri walau masih terlalu pagi untuk memakan sarapannya. Sebelum pergi, Soojung mencelupkan kembali handuk yang ia pakai untuk mengompres kening Sena. Lalu ia melepaskan kompresan lainnya yang ada di pergelangan kaki Sena. Soojung mendesah pasrah saat melihat bengkak di kaki Sena tidak berubah sama sekali tapi setidaknya ia sudah melakukan pertolongan pertama. Soojung berencana akan membawa Sena ke rumah sakit jika hari sudah terang untuk memeriksakan kondisinya.

Soojung keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur. Ia mengeluarkan beberapa bahan makanan yang bisa diolahnya. Tidak terasa waktu telah berjalan selama satu setengah jam dan semua masakannya sudah hampir selesai. Langit di luar sana masih terlihat gelap tapi tidak menyurutkan tekad Soojung untuk memulai aktivitas paginya.

Soojung kembali ke kamarnya untuk mengecek keadaan Sena. Dilihatnya Sena masih terbaring tidak berubah sedikit pun. Soojung mengganti air kompresan Sena sebelum ia keluar dari kamarnya. Perut Soojung berbunyi begitu ia melihat hasil masakannya. Tanpa menunggu Sena bangun, ia pun segera memakan sarapannya.

Selesai sarapan, Soojung membersihkan apartemennya. Mulai dari membersihkan debu, mengepel lantai, sampai mencuci pakaianya pun ia kerjakan. Karena masih pagi, ia memutuskan untuk berolah raga sedikit. Soojung menyelesaikan aktivitas paginya lebih pagi dari biasanya. Selesai berolah raga, ia kembali ke kamarnya untuk melihat keadaan Sena. Betapa terkejutnya ia saat melihat Sena sedang terduduk di atas ranjangnya dengan memeluk kedua kakinya. Wajahnya tenggelam di antara lututnya, dan bahunya terlihat bergetar karena tangisannya.

“Na-ya…” panggil Soojung sambil menyentuh pundak Sena.

Sena mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang menyentuhnya. Detik selanjutnya ia langsung menghambur memeluk tubuh Soojung sambil menangis. Ia meluapkan segala yang dirasakannya lewat tangisannya dan Soojung menerimanya dalam diam. Soojung tidak bertanya apapun pada Sena karena itu akan semakin memperkeruh suasana. Soojung menepuk-nepuk pelan punggung Sena agar sahabatnya itu sedikit tenang.

Entah berapa lama Sena menangis hingga akhirnya ia berhenti menangis walau masih sesenggukkan. Soojung menjauhkan tubuh mereka dan mengamati wajah Sena yang telihat semakin berantakan. Ia menyentuh kening Sena, memeriksanya apakah deman Sena sudah turun atau belum. Badan Sena masih terasa panas walau tidak sepanas semalam.

“Kau masih demam. Aku sudah menyiapkan bubur untukmu, apakah kau mau memakannya sekarang?”

Sena menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Rasa lapar Sena hilang saat mengingat kejadian semalam. Dan Soojung membalasnya dengan berdecak kesal. Soojung sangat tahu seperti apa kebiasaan Sena jika ia sedang sakit seperti ini.

“Tapi kau harus memakan obatmu,” bujuk Soojung lagi dan kembali dijawab gelengkan kepala oleh Sena. “Na-ya…”

“D-dia… m-meninggalkanku…” lirih Sena dengan suara tercekatnya di sela isak tangisnya. Tanpa bertanya pun Soojung tahu siapa yang dimaksud Sena dengan sebutan ‘dia’. Dalam hati Soojung pernah bertekad, jika dia yang dimaksud Sena menyakiti sahabatnya lagi, maka ia tidak akan tinggal diam.

Berani-beraninya lelaki itu!! Dasar berengsek!!

***

Baekhyun melajukan mobilnya ke arah lain sungai Han. Setelah merasa jauh dari tempat ia meninggalkan Sena, ia pun keluar dari mobilnya. Pintu mobil sportnya menjadi korbannya pelampiasan kemarahannya.

“ARGHH….” Baekhyun berteriak seperti orang kesetanan begitu ia keluar dari mobilnya. Ia sungguh ingin membunuh orang saat ini, namun sayangnya di tempatnya ia berdiri, tidak ada seorang pun yang lewat untuk menjadi sasaran pelampiasannya.

Air mata tidak berhenti mengalir dari mata tajamnya setelah ia meninggalkan Sena. Hatinya sakit saat bayangan Sena yang pasrah kala ia menodongkan pistol ke arahnya. Ia tidak pernah ada niatan untuk membunuh orang yang dicintainya. Tapi keadaan memaksanya untuk melakukan hal itu jika ia tidak ingin orang lain menyakiti kekasihnya itu.

Pengkhianatan Sena memang tidak terlalu fatal bagi hubungan mereka, tapi yang Baekhyun persoalkan adalah betapa wanita yang dicintainya itu tidak memikirkan bahwa hal itu bisa merenggut nyawanya jika hal itu diketahui oleh anggota klan yang lain. Ditambah ayahnya sudah tahu lebih dulu siapa sebenarnya Sena. Kehidupan Sena akan selalu teracam sebelum ia keluar dari kehidupannya atau Sena memilih mengkhianati negaranya sendiri.  

Baekhyun mengacak rambutnya frustasi. Ia benar-benar membutuhkan pelampiasan saat ini. Untuk itu ia memutuskan kembali ke mobilnya. Ia mengusap kasar air matanya karena tidak ingin dilihat oleh orang lain sebagai seorang lelaki yang lemah. Baekhyun memarkirkan mobilnya asal saat ia sampai di tempat yang ditujunya.

Salah satu klub malam miliknya menjadi tujuannya saat ini. Ditambah hari ini adalah hari jum’at malam. Pengunjung klub semakin bertambah ramai saat pagi buta seperti ini. Baekhyun berjalan melewati para penjaga begitu saja. Ia melangkahkan kakinya menuju ke sebuah lorong yang ada di belakang ruang utama klub.

Sorak sorai pengunjung langsung terdengar olehnya begitu ia mendekati sebuah meja pendaftaran. Seorang orang laki-laki terlihat duduk di depan sebuah meja dan dua orang berbadan kekar lainnya terlihat berdiri di belakang laki-laki tersebut. Ia terlihat sedang menghitung uang saat Baekhyun berdiri di depannya.

“Aku ingin mendaftar,” ucap Baekhyun dingin yang berhasil mengalihkan perhatian laki-laki tersebut. Ia mengamati penampilan Baekhyun dengan seksama dari atas ke bawah lalu ke atas lagi. Ia tersenyum meremehkan ke arah Baekhyun setelahnya.

“Sepertinya kau salah ruangan, Tuan. Tempat bersenang-senang orang sepertimu ada di bagian depan, bukan disini,” jawabnya tak acuh lalu melanjutkan kembali kegiatannya yang sempat tertunda.

“Sebaiknya kau segera tulis namaku atau dirimu yang akan menjadi sasaranku saat ini!” geram Baekhyun sambil mengepalkan kepalan tangannya.

Calm down, dude!”

Baekhyun mencengkeram keras baju orang di depannya. Gerakan tiba-tiba itu membuat dua orang pengawal orang yang dicengkeramnya bergerak ke depan untuk melepaskan cengkeraman Baekhyun.

“Tulis sekarang, atau kau akan menyesal!” desis Baekhyun tepat di depan wajah laki-laki yang menurutnya begitu mengesalkan.

“Oke-oke, aku akan menulisnya, tapi lepaskan dulu cengkeramanmu.”

Baekhyun langsung melepaskannya dengan sedikit menyentakkannya hingga membuat laki-laki tersebut membentur punggung kursi yang sedang ia duduki.

“Siapa namamu?”

“Tatsuya,” jawab Baekhyun menyamarkan nama aslinya.

Laki-laki yang tadi dicengkeramnya pun memandang Baekhyun bingung. “Kau tidak seperti orang Jepang.”

“Itu bukan urusanmu.”

“Baiklah-baiklah. Terserah padamu,” ucap laki-laki tersebut karena tidak ingin berdebat lagi dengan Baekhyun. Lalu ia menuliskan nama Baekhyun sebagai salah satu orang yang akan bertarung hari ini. “Kau akan bertanding di pertandingan ke sepuluh dan lawanmu…” penjelasannya terhenti saat melihat Baekhyun melenggang begitu saja setelah ia  menuliskan nama Baekhyun. “Berengsek! Dia tidak menghormatiku sebagai ketua di sini! Lihat saja nanti, dia akan menerima balasannya.”

Di sisi lain Baekhyun tidak mempedulikan gerutuan orang yang ia temui di depan tadi. Ia bahkan bisa melakukan hal yang lebih kejam pada orang tersebut. Jika ia mau maka detik ini juga orang tadi sudah meregang nyawa di tangannya. Baekhyun terus melangkah lebih dalam. Suara sorak sorai pengunjung semakin terdengar jelas oleh telinganya.

Ia berbelok ke arah ruang ganti yang memang sudah disediakan oleh pihak penyelenggara. Setiap jum’at malam di salah satu klub malamnya ini memang sering diadakan sebuah pertandingan gulat seperti MMA. Hanya saja ini diadakan secara ilegal. Pertandingan ini merupakan salah satu cara untuk masuk ke klan mafianya. Biasanya Baekhyun tidak akan datang ke tempat ini secara langsung, tapi karena ia butuh menghajar seseorang saat ini maka ia memutuskan untuk datang ke pertandingan ini.

Tidak semua orang tahu siapa ia sebenarnya. Termasuk anggota klannya sekali pun. Mereka hanya tahu jika mereka di pimpin oleh seseorang bernama ‘B’ tapi mereka tidak pernah bertemu secara langsung. Apalagi jika hanya menjadi anggota biasa saja. Orang dengan pangkat ketua geng kecil saja belum tentu bisa bertemu dengan Baekhyun secara langsung. Tapi jika mereka melihat tatto kalajengking yang Baekhyun memiliki, mereka akan langsung tahu siapa sebenarnya Baekhyun.

Baekhyun mengamati keadaan ruang ganti. Di dalam ruangan itu ia tidak sendirian. Ada lebih kurang lima belas orang sedang bersiap untuk melakukan pertandingannya dan ada beberapa orang lainnya hanya berdiam diri membantu temannya untuk bersiap-siap. Hampir semua orang memperhatikan Baekhyun yang baru masuk. Pakaian yang dikenakan Baekhyun saat ini mengundang perhatian banyak orang. Bagaimana tidak, saat ini ia masih memakai stelan kantornya lengkap. Hanya saja penampilannya yang sudah berantakan.

Tanpa mempedulikan tatapan orang-orang pada penampilannya. Baekhyun membuka sepatunya. Lalu ia membuka satu per satu kancing kemejanya dan menaruh kemeja itu asal di dalam loker yang ada di depannya. Tidak lupa ia membuka celana kainnya hingga menyisakan sebuah boxer di tubuhnya.

Orang-orang kembali memandang Baekhyun. Tapi kali lebih mengarah pada tatapan meremehkan jika melihat postur tubuh Baekhyun yang lebih kecil dan tidak terlalu berotot seperti mereka. Bisik-bisik terdengar sampai ke telinga Baekhyun saat orang-orang dalam ruangan itu berlomba-lomba ingin memilih Baekhyun sebagai lawan mereka nanti.

Baekhyun yang mendengarnya hanya bisa menyeringai kejam karena mereka telah salah dalam memilih lawan. Jika saja mereka tahu siapa sebenarnya Baekhyun, ia yakin semua orang akan berpikir dua kali saat ingin melawannya. Baekhyun menutup pintu lokernya, lalu menguncinya. Setelah itu ia melakukan beberapa pemanasan pada tubuhnya. Baekhyun tidak begitu mempedulikan kehadiran orang-orang di sekitarnya.

Satu per satu petarung yang ada di ruang ganti itu keluar untuk bertanding, hingga tiba saatnya bagi Baekhyun untuk bertarung. Waktu yang menjelang pagi semakin menambah panas arena pertarungan kali ini. Ditambah dengan adanya lahan perjudian yang bertaruh siapa yang akan memenangkan pertandingan kali ini.

Baekhyun naik ke atas ring. Ia bisa mendengar suara orang-orang berteriak menyuruhnya untuk menyerah saja jika melihat postur tubuhnya saat ini. Begitu juga dengan lawannya yang tengah tersenyum puas begitu melihat siapa yang akan ia lawan. Tubuh tinggi dan berototnya tidak membuat Baekhyun takut sedikit pun. Ia malah menatap santai pada lawannya kali ini.

Seorang wasit memberikan aba-aba agar Baekhyun dan pria yang menjadi lawannya itu untuk bersiap-siap. Keduanya tidak tinggal diam saja di tempatnya. Baekhyun berjalan-jalan santai di tempatnya dengan wajah dinginnya sambil mengamati setiap gerakan lawannya. Suara lonceng terdengar menandakan waktu pertandingan sudah di mulai.

Baekhyun menyiapkan kuda-kudanya siap menyerang lawannya. Dari pengamatannya, kuda-kuda yang ditunjukkan lawan tidak begitu kuat, dan hal ini memberikan keuntungan tersendiri untuk Baekhyun. Ia bisa saja mengeluarkan teknik tendangan kakinya dan itu akan langsung melumpuhkan lawannya dalam sekali serangan. Namun Baekhyun tidak ingin melakukan hal itu karena baginya pertandingan ini tidak akan menarik lagi. Ia akan menang dengan mudah dengan sekali serangan saja. Untuk itu Baekhyun memilih untuk sedikit bermain-main dengan lawannya ini.

Lawan Baekhyun maju seperti orang kesetanan, dengan gerakan ringannya Baekhyun menghindar dari serangan tersebut. Ia menunduk, lalu secepat kilat ia meninju perut lawannya yang tidak terlindungi sama sekali. Pria yang menjadi lawannya itu terhuyung ke belakang sambil terbatuk-batuk karena tinjuan Baekhyun tepat mengenai perut atasnya dekat dengan hatinya.

Shit!!”

Baekhyun hanya menyeringai melihat betapa marahnya orang yang menjadi lawannya. Lawannya itu kembali bangkit dan berusaha untuk kembali menyerang Baekhyun dengan telapak tangan yang terkepal, tapi sebelum ia bisa melayangkan kepalan tangannya pada Baekhyun, Baekhyun sudah terlebih dahulu meninju rahang wajah pria itu. Suara derak dari tulang yang retak terdengar begitu jelas di tengah kebisingan suara penonton.

Suara gemuruh penonton semakin membuat arena ring menjadi panas. Semua orang di sini tidak ada yang mengira jika Baekhyun akan melakukan perlawanan yang begitu sengit. Hampir semua orang bertaruh akan kekalahan Baekhyun, tapi setelah melihat kejadian ini, tidak sedikit dari mereka menyesali keputusan yang telah mereka ambil.

Kembali ke atas ring, lawan Baekhyun meludahkan darah dari mulutnya. Berbagai umpatan ia tunjukkan pada Baekhyun karena sudah berani-beraninya memukulnya hingga seperti ini. Padahal ia hanya baru melayangkan satu pukulannya saja. Sambil menahan rasa sakit di rahangnya, ia menatap tajam ke arah Baekhyun yang menatapnya santai.

“Akan ku bunuh kau!!” teriak menggema di seluruh ruangan. Ia kembali berlari menuju ke arah Baekhyun. Namun sekali lagi, sebelum ia bisa menyentuh wajah Baekhyun, Baekhyun segera menghindar dan kembali melayangkan pukulannya pada pipi lawannya. Sudut bibirnya langsung robek dan satu buah giginya tanggal akibat pukul Baekhyun.

Kali ini Baekhyun tidak menahannya. Ia terus melayangkan tinjuannya di pipi, perut, di rahang hingga lawannya pun tumbang. Tubuh lawannya itu pun tidak lepas dari tendangan Baekhyun. Tubuh pria besar yang menjadi lawan Baekhyun sudah babak belur, tapi Baekhyun tetap melayangkan pukulannya seperti orang gila. Inilah yang ia butuhkan dari tadi. Sebuah pelampiasan akan amarahnya.

Bunyi lonceng yang menandakan pertandingan telah selesai tidak digubris oleh Baekhyun. Ia terlalu menikmati korbannya seakan ia sedang memukul samsak tinju. Dua orang pria berbadan besar terlihat menaiki ring dan mencoba menghentikan Baekhyun. Mereka berusaha menjauhkan Baekhyun dengan sekuat tenaga sebelum Baekhyun benar-benar menghabisi lawannya.

Baekhyun menyentakkan tangannya sekuat tenaga hingga cekalan pada tangannya terlepas. Napasnya naik turun dengan sangat cepat sambil memandang mencemooh ke arah lawannya yang tengah di tangani oleh para medis. Baekhyun berjalan keluar ring dengan diiringi oleh sorak sorai penonton yang beralih mendukungnya.

Baekhyun terus berjalan ke arah ruang ganti. Beberapa orang yang ada di ruang ganti memandangnya takjub karena tidak ada sedikit pun luka di wajah Baekhyun. Mereka hanya terdiam sambil memperhatikan Baekhyun yang tengah memakai kembali pakaiannya. Lalu segera keluar dari ruangan itu karena ia merasa risih telah jadi pusat perhatian orang-orang di dalam sana.

Saat Baekhyun akan keluar dari ruangan itu, seseorang mencegatnya. Baekhyun menatap malas orang yang ada di depannya itu kala ia menyadari bahwa orang tersebut adalah orang yang sama yang menjaga meja pendaftaran.

“Kau mau bergabung dengan kami?” tanyanya sambil menyeringai dengan mengiming-iming segepok uang ke arah Baekhyun. “Bosku akan menyukaimu sebagai salah satu petarung hebatnya jika kau mau bergabung dengan kami. Bagaimana?” bujuknya lagi karena Baekhyun masih saja diam.

Baekhyun memperhatikan orang di depannya, mencoba mencari letak tatto kalanjengking di tubuh orang tersebut. Karena tidak menemukannya, Baekhyun hanya bisa menebak jika orang tersebut paling atas ada di golongan pedang kalau tidak tombak. “Berikan saja bayaranku,” jawab Baekhyun dingin.

“Aku akan memberikannya nanti setelah kau menjawab tawaranku. Ini merupakan kesempatan langka. Aku jarang memberikan tawaran menggiurkan ini ke sembarang orang.”

“Sayang sekali. Aku tidak tertarik.”

“Pikirkan lagi. Kau akan jadi anjing pemburu yang hebat jika kau menerimanya.”

Habis sudah kesabaran Baekhyun karena orang di depannya ini. Baekhyun kembali mencengkeram kerah bajunya dan menyudutkannya ke dinding tempat ia bersandar saat ini. “Berhentilah memprovokasiku atau kau akan menyesal!”

“Tenanglah. Aku hanya ingin mencoba menawarkan sebuah keuntungan besar untukmu,” ucapnya sambil berusaha melepaskan cengkeraman Baekhyun.

Baekhyun menyentakkan tangannya dan berjalan keluar dari tempat tersebut tanpa mengatakan sepatah kata pun. Ia sudah tidak tertarik lagi pada bayarannya. Lagi pula nominal segitu tidak berarti apa-apa bagi Baekhyun yang punya segalanya. Suara panggilan dari orang di belakangnya tidak dihiraukan oleh Baekhyun. Ia tetap melangkah menuju ke area utama klub yang biasa dijadikan tempat menari dan tempat mabuk.

Waktu sudah menunjukan pukul empat pagi, tapi suasana klub masih saja ramai. Malah orang-orang semakin menggila seakan tidak terpengaruh oleh waktu. Baekhyun berjalan ke arah lantai dua dimana ruang VIP berada. Ia lalu memasuki salah satu ruang VIP yang memang diperuntukkan khusus untuknya. Membuka salah satu botol vodka dan menegaknya secara langsung dari botolnya.

Dengan vodka di tangannya Baekhyun berjalan ke arah dinding kaca yang menampilkan pemandangan lantai dansa. Ia kembali meneguk minumannya. Sebuah getaran dari saku celananya membuat Baekhyun menghentikan sejenak kegiatan minuimnya. Ia mengernyit kala melihat siapa yang menghubunginya. Baekhyun menggeser tombol hijau, menempelkan ponsel tersebut ke telinganya, lalu berkata, “Aku sudah menyingkirkannya. Jadi jangan ganggu dia lagi atau aku sendiri yang akan membunuhmu!”

Tanpa menunggu jawaban dari seberang sana, Baekhyun sudah mematikan sambungan telepon itu terlebih dulu. Karena kesal akan keadaan yang memaksanya, Baekhyun pun melemparkan kembali ponselnya yang lain ke arah dinding hingga benda tersebut jatuh berceceran.

“Berengsek!!”

Air mata kembali menetes dari matanya. Baekhyun menyandarkan keningnya pada dinding kaca dengan mata terpejam. Mencoba mengatur napasnya agar ia lebih tenang lagi. Andai saat ini ia tengah tertidur, Baekhyun sangat berharap jika semua kejadian hari ini hanyalah bagian dari mimpi buruknya saja. Dan saat ia terbangun nanti, semuanya akan kembali seperti dulu. Ia hanya ingin hidup bahagia dengan kekasihnya setelah bertahun-tahun berpisah, tapi kenapa Tuhan kembali memisahkan mereka dengan segunung masalah yang begitu rumit di antara mereka. Seakan Tuhan tidak rela laki-laki sepertinya mendapatkan wanita sebaik Sena sebagai pendamping hidupnya.

“Na-ya….”

~ tbc ~

18 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] My Lady (Chapter 48)”

  1. kasian untuk dua”nya..baekhyun hanya ingin melindungi..tp kelewat kejam..kapan mereka bakal hidup bahagia.??next thor..semoga chapter selanjutnya keadaan lebih membaik..

  2. Ohh baekhyun kasian banget dia bner² frustasi d hianati sena,,lasih sena kok bsa gitu,,aq penasaran siapa yg nyuruh dia, sehun kah ??

  3. Kenapa harus pisah lagi..
    Kn jg sedih..😢😢
    Sena kasihan.. kebahagiaan datang.. selalu muncul kesedihan.. perpisahan..
    Siap yg tlp baek td..??
    Selalu akk tunggu lanjut.an nya kak..
    Jngn lama” kak.. sangat penasara ini..

  4. aduhhhhhh semakin rumit dan mendebarkann…. kok sekarang update nya gak tiap minggu sih??? lg sibuk yaa?? semangat yaa thor, ditunggu next chapter nya 😘😘😘😘😘😘

Tinggalkan Balasan ke muliarti Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s