[EXOFFI FREELANCE] Secret #1 My Marriage (Chapter 4)

SECRET

#1 MY MARRIAGE

[ BABY ]

Title : SECRET #1 My Marriage

Author : Azalea

Main Cast :

Byun Baekhyun (EXO) as Byun Baekhyun, Kim Jisoo (BLACKPINK) as Park Seolhyun

Genre : Romance, Family

Rating : PG + 16

Length : Chapter

Disclaimer : Cerita ini murni dari otakku sendiri yang terinspirasi dari beberapa novel atau bahkan fanfic yang pernah aku baca. Tidak ada unsur kesengajaan apabila ada ff yang memiliki cerita serupa. Kalaupun ada yang serupa, aku akan berusaha membawakan cerita milikku sendiri ini dengan gaya penulisanku sendiri. Kalian juga bisa membacanya di wattpad. Nama id ku @mongmongngi_b, dengan judul cerita SECRET #1 My Marriage.

Credit poster by @hyekimxxi

Cerita Sebelumnya : Prolog – > Chapter 1 ( Unfair ) – > Chapter 2 ( They Never Know ) – > Chapter 3 ( Going Crazy )

“Aku berangkat sekolah dulu,” pamit Baekhyun pada Seolhyun yang tengah berdiri di ambang pintu rumah orang tua Baekhyun. Kecupan lembut ia berikan di bibir tipis Seolhyun sebagai salam perpisahannya sebelum berangkat sekolah. Setelah itu Baekhyun berjalan menuju mobilnya setelah  ia menukarnya dengan motor milik Chanyeol.

Bukan tanpa alasan kenapa Baekhyun mengantarkan Seolhyun ke rumah orang tuanya. Nasehat Chanyeol beberapa hari lalu memiliki andil besar dalam keputusannya kali ini. Usia kandungan Seolhyun yang sudah menginjak sembilan bulan membuatnya tidak tega meninggalkannya sendirian di apartemen mereka. Bagaimana jika sesuatu terjadi pada Seolhyun pada saat tidak seorang pun di sampingnya? Mungkin Baekhyun akan menyalahkan dirinya seumur hidupnya jika sampai hal itu terjadi.

Setidaknya saat ini perasaan Baekhyun sedikit tenang. Seolhyun tidak akan sendirian di rumah jika ia sedang pergi ke sekolah atau pun bekerja. Tidak terasa dua puluh menit berlalu. Baekhyun telah sampai di tempat parkir yang tersedia di dekat lingkungan sekolahnya. Ia berjalan keluar dari parkiran, bergabung dengan beberapa siswa yang juga tengah berjalan di trotoar untuk ke sekolah mereka.

Beberapa orang menyapanya yang dibalas senyuman tipis oleh Baekhyun. Ia tidak terbiasa beramah tamah dengan seseorang yang tidak dikenalnya. Bahkan dengan orang yang dikenalnya pun Baekhyun akan bersikap dingin seperti biasanya. Hanya orang-orang terdekatnya saja yang mengetahui betapa cerewetnya seorang Byun Baekhyun.

Baekhyun memasuki kelasnya. Keningnya mengerut kala ia melihat Chanyeol sudah duduk di kursinya dengan sebuah buku di atas mejanya. Wajahnya begitu serius. Tanda seseorang yang sedang berpikir keras. Baekhyun lalu menghampiri Chanyeol, menaruh tasnya dan bersamaan dengan itu juga Chanyeol membenturkan keningnya ke atas meja dengan bunyi yang cukup keras.

“Kau kenapa?” tanya Baekhyun heran dengan kelakuan Chanyeol di pagi ini.

“Aku stres,” jawab Chanyeol sedikit teredam karena wajahnya masih terbenam di antara meja dan bukunya. “Kenapa hari pertama ujian harus sudah bertemu dengan yang namanya matematika? Lalu aku juga belum belajar sejarah Korea karena terlalu fokus belajar matematika.” Adu Chanyeol sambil menolehkan wajahnya untuk menatap Baekhyun yang duduk di meja sebelahnya.

Belum sempat Baekhyun menanggapi ucapan Chanyeol, seorang guru laki-laki masuk ke dalam kelas mereka. Sontak hal itu membuat semua siswa terburu-buru duduk di tempat duduknya masing-masing. Guru tersebut menjelaskan beberapa peraturan selama ujian akhir semester berlangsung, dan para siswa diam memperhatikan apa yang dikatakan oleh guru. Kertas ujian dan jawaban dibagikan oleh guru. Suara bisik-bisik siswa terdengar memenuhi kelas kala mereka membaca sekilas soal ujian. Guru pun menyuruh siswa untuk tidak berisik, dan ujian pun dimulai.

Sedangkan di tempat lain, Seolhyun tengah membereskan baju-baju yang dibawanya ke dalam lemari pakaian milik Baekhyun. Setelah selesai, Seolhyun menggeret koper berisi perlengkapan melahirkannya ke sudut kamar agar memudahkannya jika sesuatu yang darurat terjadi. Karena di kamar Baekhyun tidak terdapat meja rias, Seolhyun menaruh berbagai macam kosmetiknya di meja belajar Baekhyun.

Tokk… tokk…. tokk….

Ketukan di pintu menghentikan segala aktivitas Seolhyun yang tengah merapikan barang bawaannya. Tidak lama pintu kamar pun terbuka menampilkan sosok wanita paruh baya tengah memegang baki yang berisi sepiring macaron dan jus alpukat. Wanita paruh baya yang tidak lain adalah ibunya Baekhyun itu tersenyum ke arah menantunya itu.

“Sudah selesai?” tanyanya sambil melangkah masuk ke dalam kamar.

“Sedikit lagi, eommonim,” jawab Seolhyun.

Lalu Seolhyun berjalan menghampiri ibu mertuanya itu yang tengah duduk di pinggir tempat tidur karena tidak adanya sofa di kamar Baekhyun. Kamar Baekhyun tidak terlalu besar tapi tidak terlalu kecil juga. Begitu simpel dan benar-benar memperlihatkan kamar seorang laki-laki. Hanya terdapat kasur queensize, meja belajar dengan rak buku yang tidak terlalu besar, sebuah lemari pakaian yang dilengkapi cermin besar di pintunya, dan sebuah kamar mandi minimalis. Semua barang-barangnya didominasi warna abu-abu dan putih.

“Akhirnya rumah ini tidak sepi lagi,” gumam ibu Baekhyun dengan mata berkaca-kaca. “Semenjak Baekhyun menikah, rumah semakin sepi karena ayah dan kakaknya Baekhyun sibuk bekerja. Dari dulu eomma emang tidak setuju dengan kalian yang tinggal di apartemen, apalagi kau tengah hamil muda. Tapi apalah semua protesan eomma jika ayahmu dan ayah Baekhyun tetap pada pendiriannya.”

Seolhyun tersenyum simpul ke arah mertuanya itu. Menggenggam tangannya seolah memberitahu jika ia dan Baekhyun baik-baik saja selama ini. “Kami baik-baik saja,”

Helaan napas dalam terdengar dihembuskan oleh ibu Baekhyun. “Mereka terlalu kejam pada kalian.”

“Mereka hanya ingin membuat kami jera,”

“Tapi tetap saja, tindakan mereka tidak bisa dibenarkan begitu saja. Bagaimana kalau sesuatu terjadi pada calon cucuku?” keluhnya lagi sambil mengelus perut Seolhyun yang sudah sangat besar. Tapi baru beberapa elusan, gerakan tangan ibunya Baekhyun langsung berhenti. Ia merasakan ada sesuatu yang aneh dengan perut menantunya itu.

“Kenapa begitu tegang?” tanyanya sedikit ragu dengan apa yang dirasakannya. Lalu kesadaran seakan menghantamnya kala ia menyadari sesuatu. Ia pernah mengalaminya dulu. Saat hamil anak pertama dan keduanya.

“Sejak kapan?” lanjutnya masih dengan mengelus perut Seolhyun yang sudah kembali merileks. Seolhyun meringis dengan tatapan menyelidik dari ibunya Baekhyun.

“Baru beberapa saat yang lalu.”

“Ya Tuhan… kita harus ke rumah sakit sekarang juga.”

Seolhyun memandang bingung ke arah ibu mertuanya yang terlihat sangat panik.

“Ibu akan bersiap-siap dan menyuruh pak Kim untuk menyiapkan mobil dan mengangkut kopermu.”

Seolhyun menganggukan kepalanya menurut saja tanpa banyak tanya. Sejujurnya ia bingung apa yang ia lakukan saat ini. Ini adalah kehamilan pertamanya, dan ia tidak tahu apapun. Walaupun sejak jauh-jauh hari ia telah banyak menimba ilmu untuk mempersiapkan kelahiran putranya, tapi tetap saja pada hari H nya, semua ilmu yang ia miliki terasa hilang entah ke mana. Belum sempat Seolhyun beranjak dari tepi kasur Baekhyun, ibu mertuanya itu datang kembali ke kamarnya.

“Sambil menunggu eomma, sebaiknya kau berjalan-jalan kecil di kamar untuk memperlancar pembukaannya.”

Belum sempat Seolhyun menjawab, ibu Baekhyun sudah menghilang lagi. Ia pun memutuskan mengikuti saran dari ibu Baekhyun untuk berjalan-jalan kecil mengelilingi kamar. Sesekali ia akan mengelus perutnya jika ia merasakan sebuah tendangan kuat dari calon bayinya.

Sepuluh menit kemudian, ibu mertua Seolhyun telah kembali ke kamar Baekhyun dengan diikuti oleh seorang pria paruh baya yang Seolhyun tebak adalah pak Kim. Supir pribadi di keluarga Baekhyun. Pak Kim menyeret koper Seolhyun, sedangkan ibu Baekhyun memapah Seolhyun untuk keluar kamar. Walaupun Seolhyun sudah menolak untuk dipapah karena ia merasa masih kuat untuk berjalan, tapi ibu Baekhyun tetap keras kepala untuk memapahnya.

Selama perjalanan menuju rumah sakit, hampir lima menit sekali ibu Baekhyun akan bertanya apa yang dirasakan Seolhyun, dan semua pertanyaan itu dijawab dengan jawaban yang sama oleh Seolhyun bahwa ia baik-baik saja. Lima belas menit berlalu karena mobil yang dikendarai mereka melaju dengan kecepatan tinggi. Sesampainya di rumah sakit, seorang perawat menghampiri mereka, dan ibu Baekhyun pun menceritakan maksud tujuan mereka datang ke rumah sakit.

Seolhyun masuk ke dalam salah satu ruangan yang dibatasi oleh tirai. Dua orang perawat datang untuk memeriksanya. Mengecek sudah sejauh mana pembukaan yang sedang dialami Seolhyun. Lima menit berlalu, tirai pun dibuka dan refleks ibu Baekhyun berjalan mendekat ke arah bangkar di mana Seolhyun tengah berbaring.

“Putri ibu baru memasuki pembukaan satu. Setelah semua administrasi selesai, kami akan memindahkannya ke kamar inap agar kami bisa memantaunya,” jelas seorang perawat pada ibu Baekhyun.

“Terima kasih, suster,” ucap ibu Baekhyun penuh kelegaan karena proses melahirkan menantunya masih terbilang lama. Apalagi ini kehamilan pertamanya. Perawat itu pun pergi setelah memasang selang infus pada tangan Seolhyun.

“Seollie tidak apa-apa kan jika eomma tinggal sebentar?” tanya ibu Baekhyun sambil mengelus lembut kepala Seolhyun.

Seolhyun tersenyum menenangkan karena ia tidak sanggup jika harus mengeluarkan suara disaat ia tengah merasakan kontraksi di perutnya. Ibu Baekhyun pun pergi sebentar untuk mengurus administrasinya. Tapi itu tidak lama karena setelahnya, ia kembali lagi ke sisi Seolhyun yang sedang menutup matanya karena tertidur. Karena terlalu bosan tidak ada yang diajaknya bicara, Seolhyun pun jatuh tertidur.

Tanpa Seolhyun sadari ia sudah dipindahkan ke kamar inapnya. Sambil menunggu Seolhyun yang tengah tertidur, ibu Baekhyun mencoba untuk menghubungi orang tua Seolhyun di Jerman. Tapi sudah lebih dari sepuluh kalipun ia mencoba untuk menghubungi, tidak ada seorang pun yang mengangkat panggilannya. Karena kesal, ia pun mencoba untuk menghubungi suaminya dan Baekhyun. Namun jawaban yang ia terima sama dengan saat ia menghubungi orang tua Seolhyun. Gerutuan dan makian ibu Baekhyun sukses membuat Seolhyun membuka matanya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya sambil memindai di mana ia sekarang.

Eommonim, ini di mana?” tanya Seolhyun membuat ibu Baekhyun mengalihkan tatapannya untuk menatap Seolhyun.

“Ah…apa eomma mengganggu tidurmu?” Seolhyun menggelengkan kepalanya karena bukan itu satu-satu alasannya ia terbangun. Kontraksi yang dirasakannya membuatnya terbangun dari mimpi indahnya.

Eomma sedang kesal pada orang tuamu, Baekhyun, juga ayah mertuamu,” adu ibu Baekhyun membuat Seolhyun menaikan sebelah alisnya tidak mengerti. “Mereka tidak ada satu pun yang menjawab panggilan eomma.”

Di Jerman masih dini hari. Sedangkan Baekhyun mungkin sedang ujian dan ponselnya disita oleh guru penjaga. Dan soal abonim, mungkin sedang meeting,” ucap Seolhyun mencoba menelaah keadaan orang terdekatnya.

Ibu Baekhyun hanya bisa menghela napas dalam menyetujui perkataan menantunya itu. Untuk sementara mereka tidak bisa melakukan apapun. Waktu berlalu dengan lambat bagi Seolhyun. Kontraksi dari perutnya semakin sering walaupun tidak terlalu sakit. Empat jam kemudian seorang perawat masuk ke dalam kamar rawat Seolhyun untuk mengecek kembali kemajuan pembukaan Seolhyun. Pembukaan Seolhyun masih berada di angka satu, dan itu berarti perjuangan Seolhyun masih panjang karena ia harus melewati sembilan pembukaan lainnya untuk dapat melahirkan bayinya.

Lewat tengah hari, barulah orang tua Seolhyun bisa dihubungi. Sepengetahuan Seolhyun, orang tuanya langsung memesan tiket penerbangan tercepat yang mereka dapatkan untuk bisa segera sampai ke Korea. Setelah selesai, ibu Baekhyun mencoba untuk menghubungi suaminya dan jawaban dari sang suami membuatnya naik darah karena memutuskan untuk ke rumah sakit nanti sepulang bekerja. Dan pada saat ibu Baekhyun akan menghubungi Baekhyun, Seolhyun segera mencegahnya. Ia tidak ingin membuat Baekhyun khawatir dan menyusulnya saat ini juga dengan meninggalkan ujiannya. Padahal proses kelahirannya masih lama.

Setengah hari di rumah sakit, tidak ada yang bisa dilakukan Seolhyun selain berbaring, makan, tidur, nonton televisi, dan ke kamar mandi. Para perawat mewanti-wantinya jika ia merasakan sesuatu yang mengalir dari vaginanya tanpa bisa dicegah, ia harus segera menghubungi paramedis yang berjaga di ujung lorong kamar rawat Seolhyun.

Baekhyun yang belum menyadari keadaan Seolhyun memasuki rumahnya dengan perasaan bahagia karena ia membawa makanan kesukaan Seolhyun di perjalanan tadi. “Aku pulang,” teriak Baekhyun begitu ia membuka pintu rumah. Suasana rumah yang sepi membuat Baekhyun mengerutkan keningnya dalam. “Kemana perginya semua orang?” tanya Baekhyun sambil menaruh plastik makanannya di meja makan. Belum sempat Baekhyun beranjak dari ruang makan, Han ahjumma yang merupakan asisten rumah Baekhyun berjalan dengan terpogoh-pogoh ke arah Baekhyun.

Ahjumma, ke mana perginya semua orang?” tanya Baekhyun lagi.

“Nyonya besar dan nona muda pergi ke rumah sakit dari tadi pagi.”

Baekhyun semakin mengerutkan keningnya dalam. “Hari ini bukan jadwal Seolhyun untuk memeriksakan kandungannya.”

“Memang bukan, tuan. Nona Seolhyun akan melahirkan.”

“Apa?”

“Ini memang mendadak, tuan. Apa nyonya besar atau pun nona tidak menghubungi anda?”

“Ti – ” Baekhyun langsung terdiam karena selama seharian ini ia tidak menyentuh ponselnya sama sekali. Dengan tergesa-gesa Baekhyun segera mengeluarkan ponselnya, dan detik setelahnya ia hanya bisa merutuk dalam hati karena terdapat dua puluh panggilan tidak terjawab dan sepuluh pesan yang berasal dari ibunya. Baekhyun membuka satu per satu pesan singkat dari ibunya, dan semua isinya hampir sama. Memberitahunya tempat dimana Seolhyun dirawat sekarang.

Secepat mungkin Baekhyun berlari keluar rumah. Dengan tangan gemetar ia berusaha mengemudikan mobilnya. Berbagai kata umpatan tanpa sadar ia ucapkan karena begitu padatnya jalanan siang menjelang sore ini. Butuh waktu empat puluh menit bagi Baekhyun untuk sampai di rumah sakit yang dituju. Kembali ia berlari seperti orang gila saat mencari kamar inap Seolhyun. Sungguh perasaannya tidak menentu mengetahui istrinya tengah berjuang untuk kelahiran anak mereka yang pertama.

Begitu melihat nomor kamar Seolhyun, Baekhyun langsung membukanya dengan suara yang begitu keras hingga membuat orang-orang di dalam ruangan itu berjenggit kaget karenanya. Napasnya terengah-engah tapi langsung lega seketika saat melihat Seolhyun sedang makan dengan disuapi oleh ibunya. Tanpa mengucapkan sepatah dua patah katapun, Baekhyun langsung menerjang Seolhyun. Memeluknya seerat mungkin dan menciumi kepala Seolhyun bertubi-tubi.

“B-baek – hyun-na, ka-u men-cek-kik-ku,” guman Seolhyun terbata-bata dan langsung dilepaskan pelukannya oleh Baekhyun. Setelahnya Seolhyun terbatuk-batuk karena akhirnya tenggerokkannya tidak tercekik lagi.

“Kau hampir membunuhku,” ucap Baekhyun dengan napas yang masih terengah-engah.

“Dan kau hampir membunuh istri dan anakmu,” jawab sang ibu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang baru dilihatnya beberapa saat lalu.

“Kenapa eomma tidak menghubungiku?”

Sebuah pukulan melayang ke kepala Baekhyun begitu ia menanyakan hal tersebut kepada ibunya. “Kau pikir eomma tidak berusaha menghubungimu selama ini, hah?”

Baekhyun mengerucutkan bibirnya tidak ingin mengakui kebenaran dari pertanyaan ibunya. Ia memilih untuk tidak menjawabnya, dan mengalihkan tatapannya pada Seolhyun yang sedang memperhatikannya.

“Di mana yang sakit?” tanya Baekhyun mengalihkan pembicaraannya.

Seolhyun mengelus perutnya sambil menunjukkan wajah kesakitannya yang sedikit berlebihan. “Di sini.”

Baekhyun mendekatkan wajahnya ke arah perut Seolhyun. Mengelusnya dan mengecupnya sayang, lalu mengajaknya berbicara, “Aegi-ya, cepatlah lahir. Appa tidak tega jika harus melihat eomma-mu kesakitan lebih lama lagi.”

Seolhyun mengulum bibirnya agar tidak tersenyum lebar saat mendapatkan perlakuan manis dari Baekhyun. Kesakitan yang dirasakannya beberapa saat lalu hilang sudah. Kehadiran Baekhyun di sisinya membawa ketenangan dan kenyamanan tersendiri bagi Seolhyun yang tengah berjuang menahan rasa sakitnya.

“Kau sudah makan?” tanya ibu Baekhyun menyela interaksi Baekhyun dengan calon bayinya itu. Dilihat dari pakaian yang Baekhyun kenakan saat ini, bisa dipastikan jika putranya itu belum makan sama sekali.

“Aku tidak lapar,” jawab Baekhyun masih belum beranjak dari samping Seolhyun.

“Kau harus makan. Seolhyun membutuhkanmu tetap sehat untuk mendampinginya selama proses kelahiran nanti,” bujuk ibu Baekhyun.

“Makanlah,” tambah Seolhyun sambil mengelus kepala Baekhyun agar mau menuruti kemauan ibunya untuk makan.

“Baiklah.”

Baekhyun pun turun dari tempat tidur Seolhyun dan berjalan menghampiri ibunya yang sedang duduk di sofa ruang tunggu. Berbagai macam makanan terhidang di atas meja di depannya. Walau enggan, Baekhyun pun tetap memakannya.

“Setelah selesai makan, kau bisa ganti bajumu dengan ini,” ucap ibu Baekhyun sambil menyerahkan satu potong kaos putih dan celana jean pada Baekhyun.

“Bagaimana bisa ibu membawa baju untukku?”

“Ibu sudah tahu jika kejadian seperti ini akan terjadi.”

Baekhyun tersenyum bodoh ke arah ibunya. “Terima kasih, eomma.”

Melanjutkan makannya. Tidak terasa memakan hampir semua makanan yang ada di meja itu. Tenaganya benar-benar terkuras habis hari ini. Setelah ia bertarung dengan soal ujiannya, di rumah ia dihadapkan dengan proses menglahirkan Seolhyun.

Beberapa jam kemudian, seorang perawat masuk ke dalam kamar inap Seolhyun. Memeriksa kembali sudah sejauh mana pembukaan Seolhyun. Tidak hanya itu, ia juga menanyakan sudah pecahnya atau belum air ketuban Seolhyun. Seolhyun menjawab jika ia tidak merasakan sesuatu yang keluar dari vaginanya, maka perawat pun menyimpulkan jika keadaan Seolhyun masih dalam batas normal. Karena jika air ketuban Seolhyun sudah pecah, waktu melahirkannya menjadi terbatas sebelum bayinya lemas yang akan membahayakan hidup bayi dan juga ibunya.

Hari menjelang malam. Baekhyun yang tidak tahan dengan melihat Seolhyun yang terus kesakitan, mencoba membujuk istrinya itu untuk melakukan operasi sesar saja agar menghentikan rasa sakitnya. Namun, usulan Baekhyun ditolak mentah-mentah oleh Seolhyun. Ia ingin merasakan bagaimana rasanya proses menjadi seorang wanita yang sempurna.

Waktu semakin bertambah, dan rasa sakit yang dialami Seolhyun pun semakin bertambah intensitas dan waktunya. Hampir tengah malam, seorang perawat pun kembali memeriksa Seolhyun. Di dalam kamar inap Seolhyun hanya ada Baekhyun seorang karena orang tuanya ia suruh untuk beristirahat di kamar inap lain yang telah mereka sewa. Sedangkan orang tua Seolhyun masih dalam perjalanan dari Jerman. Waktu perjalanan yang memakan waktu belasan jam, membuat mereka tidak bisa datang secepatnya.

Selama hampir semalam itu Seolhyun dan Baekhyun tidak tidur dengan lelap. Seringnya Seolhyun yang terbangun di tengah malam membuat Baekhyun ikut bangun. Penampilan Baekhyun saat ini bagaikan seorang zombie. Rambut kusut, memiliki kantung mata, dan jangan lupakan wajah suramnya. Bagaimana ia tidak suram, hampir dua puluh empat jam ini ia dilanda rasa khawatir karena pembukaan Seolhyun begitu lambat menurutnya.

Tapi semuanya berakhir sesaat setelah orang tua Seolhyun sampai di Seoul. Satu jam setelah ia melepas rindu dengan orang tuanya, Seolhyun pun dipindahkan ke ruang tindakan walau pembukaannya belum mendekati sepuluh. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi suatu hal yang tidak diinginkan, karena jika pembukaan sudah lebih dari lima, biasanya menuju angka sepuluh akan lebih cepat dari pada sebelum-sebelumnya.

Para medis hanya mengizinkan satu orang saja untuk menemani Seolhyun di ruang tindakan, dan orang tidak lain adalah Baekhyun. Ayah dari bayi yang dikandung oleh Seolhyun. Sesungguhnya Baekhyun begitu lemas saat ini. Ia merasa akan pingsan saat ini juga jika ia tidak ingat harus menjadi orang yang kuat di samping Seolhyun.

“K-kau masih bisa bertahan?” tanya Baekhyun begitu gugup dan khawatir secara bersamaan.

Seolhyun tersenyum lemah kala ia merasakan tangan Baekhyun lebih dingin dari pada tangan dirinya yang sedang menahan sakit. “A-ku baik-baik s-saja,” bohong Seolhyun agar Baekhyun lebih tenang.

“Sebaiknya anda pindah ke ranjang ini, nyonya,” ucap seorang perawat mengintruksikan agar Seolhyun pindah ke ranjang khusus untuk melahirkan.

Tanpa banyak bicara Baekhyun menggendong Seolhyun dan membaringkannya di ranjang yang dimaksud. Jantung keduanya berdetak dengan sangat cepat. Tidak bisa dipungkirinya keduanya merasa cemas tapi juga tidak sabar dengan apa yang akan terjadi beberapa saat lagi.

“Jika anda merasakan keinginan untuk mendorong sesuatu dengan sangat kuat, tolong beritahu kami. Kami akan membantu membimbing anda selama proses kelahiran ini agar anda tidak kehilangan banyak tenaga.”

Penjelasan perawat itu hanya ditanggapi anggukkan lemah oleh Seolhyun. Baekhyun duduk di samping kiri Seolhyun sambil menggenggam pergelangan tangannya erat. Walaupun Baekhyun tidak merasakannya secara langsung, tapi ia bisa memperkirakan betapa Seolhyun tengah kesakitan saat ini. Hal itu terlihat dari seberapa kuatnya Seolhyun menggenggam tangannya. Bulir-bulir keringat dingin terlihat di kening Seolhyun.

“B-baek….” panggilan lemah Seolhyun dengan napas pendek-pendeknya membuat Baekhyun segera memanggil perawat yang berjaga.

“Nyonya akan segera melahirkan,” jelas perawat membuat Baekhyun semakin bertambah cemas. “Ikuti instruksi saya. Tarik napas dalam-dalam, lalu dorong.”

Di tengah rasa sakitnya, Seolhyun mencoba untuk memfokuskan pikirannya mengikuti arahan perawat tersebut. baekhyun yang berada di sampingnya tanpa sadar ikut menahan napas dan mendorong sesuatu yang tidak dimengertinya.

“Bagus. Kepalanya sudah mulai terlihat. Lakukan sekali lagi nyonya, dan dorong sekuat tenaga anda.”

Tubuh bagian bawah Seolhyun terasa terbakar, dan tulang-tulangnya terasa patah semua. Tapi ia tahu, ia tidak boleh menyerah sekarang. Perjuangannya tinggal sedikit lagi. Seolhyun  pun kembali menarik napas dalam-dalam, lalu mendorong bayinya sekuat tenaga. Suara tangisan bayi yang memekakan telingapun refleks membuat ia dan Baekhyun menghembuskan napas leganya.

Tanpa sadar kedua orang tua baru itu menitikan air mata bahagianya. Perjuangan mereka selesai setelah mendengar suara tangis malaikat kecil mereka. Baekhyun mengecupi wajah Seolhyun penuh kasih sayang. Tak henti-hentinya ia mengucapkan terima kasih pada Seolhyun.

“Terima kasih. Terima kasih. Sungguh aku sangat berterima kasih padamu karena mau berjuang untuk bayi kita.”

“Selamat. Bayi kalian perempuan dan dalam keadaan sempurna,” ucap seorang perawat sambil membawa bayi Seolhyun dan Baekhyun untuk diserahkan pada sang ibu agar melakukan proses inisiasi  menyusui  dini  karena  proses  menyusui  dini  ini  sangat  berguna  bagi  ibu  dan  bayinya  juga.

Salah  satu  manfaatnya  adalah  ikatan  batin  antara  ibu  dan  bayinya  akan  terjalin  dengan  sangat  kuat.  Selain  itu,  bayi  juga  akan  mendapatkan  ASI  kolostrum,  yaitu  ASI  yang  pertama  kali  keluar.  Cairan  emas  ini  kadang  juga  dinamakan  the  gift  of  life.  Bayi  yang  diberi  kesempatan  inisiasi  menyusui  dini,  lebih  dulu  mendapatkan  kolostrum  daripada  yang  tidak  diberi  kesempatan.

ASI  kolostrum  sangat  istimewa,  karena  kaya  akan  daya  tahan  tubuh.  Kolostrum  ASI ini  sangat  penting  untuk  ketahanan  bayi  terhadap  infeksi,  pertumbuhan  usus,  bahkan  untuk  kelangsungan  hidup  bayi  itu  sendiri.  Kolostrum  akan  membuat  lapisan  yang  akan  melindungi  dinding  usus  bayi  yang  masih  belum  matang  sekaligus  mematangkan  dinding  usus  ini.

“Sepertinya aku pesaing saat ini,” ucap Baekhyun yang tidak bisa mengalihkan tatapannya dari bayi mereka yang sedang berada di dekapan Seolhyun.

“Huh?”

“Tempat favoritku sudah direbut oleh malaikat kecil kita,” tambah Baekhyun tanpa rasa malu sedikit pun. Seolhyun yang mnegerti pun segera mencubit perut Baekhyun gemas.

Byuntae!!” rutuknya pada Baekhyun karena telah berhasil membuat wajahnya merona dihadapan para perawat yang masih sibuk membereskan sisa-sisa proses melahirkannya.

“Nahyun.”

Seolhyun menatap bingung ke arah Baekhyun yang masih tidak bisa berhenti tersenyum melihat bayi mereka. Seakan mengerti kebingungan Seolhyun, Baekhyun pun mengulang ucapannya.

“Nahyun. Byun Nahyun. Itu nama bayi kita.”

Seketika Seolhyun pun tersenyum lebar ke arah Baekhyun, lalu mengalihkan tatapannya pada bayinya yang sedang mengerjap-ngerjapkan matanya lucu seolah meneliti di dunia mana ia berada sekarang. “Nahyun,” ucap Seolhyun memanggil bayinya. “Nama yang cantik.”

“Secantik ibu dan bayinya.” Seolhyun semakin tersipu malu mendengar pujian Baekhyun. Baekhyun mengecup kepala Nahyun lembut lalu berganti untuk mengecup kening Seolhyun lama. “Terima kasih sudah memberikan kebahagian ini dalam hidupku. Aku sangat mencintaimu, Nahyun eomma.”

Aku juga mencintaimu, Nahyun appa.”

The End

2 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Secret #1 My Marriage (Chapter 4)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s