[LAY BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in GANGNAMGU (2) — IRISH’s Tale

HOL(M)ES

PARTNER in Gangnam-gu  ]

— in a ruined city, can you survive? —

Starring by:

OC`s Wang Jia-yi with Lay & Suho

Supported by EXO`s Baekhyun, Chanyeol, Chen; OC`s Arin, Minrin

An adventure, dystopia, family, melodrama and politic story rated by PG-17 served in three-shot length with series type

This story is not suitable for readers under 15 years old

2017  ©  storyline by IRISH

in association with

EXO Fanfiction Indonesia

Disclaimer:

Cerita ini murni berdasarkan fiksi dan tidak bermaksud untuk menyinggung/menjelek-jelekkan salah satu pihak. Seluruh bagian cerita yang berhubungan dengan suatu negara dan/atau organisasi, dipergunakan semata-mata hanya untuk hiburan dan bukannya merugikan salah satu pihak. Tidak ada bagian dari cerita ini yang menggambarkan kehidupan politik secara nyata. Hol(m)es sendiri berasal dari kata Holmesinspired from Sherlock Holmes—yang memiliki makna tersirat sebagai perpaduan dari kata Holes, dan Holmes yang maknanya akan didapatkan pembaca setelah menyelesaikan pembacaan cerita dengan seksama. Sekali lagi, tidak ada tujuan menjatuhkan nama baik/citra dari salah satu negara/organisasi/perorangan/kedudukan yang nantinya akan ada di cerita ini. Penyebaluasan karya, duplikasi isi cerita, dan mengadaptasi cerita ini tanpa seizin/sepengetahuan penulis,  adalah sebuah tindakan tidak menyenangkan yang tidak seharusnya dilakukan.

This story was created and dedicated for:

Lay and Suho of EXO

Previous story:

Hol(m)es in Gangnam-gu [Chen]

*be awarned, ada sedikit adegan tidak nyaman dalam bacaan di bawah ini, lyke i said, membacanya saat makan akan ngebuat mood makan menghilang, adegan ini juga tidak baik untuk pembaca yang sedang hamil/ngidam, pasti bikin mual. Danke ~

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

“Kami ingin bicara.”

“Denganku?”

“Ya. Denganmu. Tanpa didengar oleh wanita di dalam sana.”

Kecurigaan telah masuk ke dalam batin Jia-yi begitu didengarnya bagaimana sepasang suruhan Arshavin—yang dalam pandangan Jia-yi sekarang terlihat seperti pasangan teman tapi mesra—itu saat didengarnya bagaimana kedua orang itu ingin bicara dengan Baekhyun tanpa didengar olehnya.

“Memangnya kalian merencanakan sesuatu yang ada hubungannya dengan nona ini?” pertanyaan lantang itu malah Baekhyun utarakan, hal yang diam-diam membuat Jia-yi ingin berterima kasih juga karena sikap kelewat berani—atau malah lancang?—pria itu kerapkali mengejutkannya.

“Jangan membuang waktu. Kami tak suka bermain kata seperti yang kau lakukan.” Arin berkata. Kemudian Baekhyun berbalik, dipandangnya sejenak Jia-yi yang duduk menunggu, sebelum akhirnya pria itu buka suara.

“Tunggu aku di sini, Jia-yi.” katanya.

Oh, tentu baik Baekhyun, dua orang di hadapannya, maupun Jia-yi sendiri, sama-sama tahu kalau Jia-yi tak akan berdiam dan menunggu di sana. Tapi tak ayal kalimat konyol itu Baekhyun ucapkan juga untuk memperingati Jia-yi agar si gadis tidak berbuat ceroboh selagi dia tak ada.

Beberapa menit di kandang musuh bisa saja berbahaya bagi Jia-yi.

“Aku mengawasimu dari CCTV yang ada di tiap sudut rumah ini, jadi jangan bertindak konyol selagi kami tidak ada.” peringat Arin, begitu tegas, tidak terkesan mengancam sebenarnya, yang ada dia justru terdengar mengkhawatirkan tindakan-tindakan labil yang mungkin akan Jia-yi lakukan.

Tapi Jia-yi tahu benar perkataan itu adalah sebuah ancaman. Dia mungkin saja akan mati jika salah bertindak. Mungkin, saat ini berdiam dan menunggu Baekhyun adalah cara terbaik untuk bertahan.

“Aku tahu.” kata Jia-yi singkat.

Ketiga orang itu kemudian melangkah meninggalkan Jia-yi seorang diri di dalam ruangan. Sementara Jia-yi sendiri memutuskan untuk membaringkan tubuh di atas tempat tidur, selagi maniknya menatap berkeliling, sekedar ingin memastikan jika Arin benar-benar memasang kamera pengawas di tiap ruangan yang ada di rumah itu.

Jika saja ucapan Arin benar, berarti apa yang dia dan Baekhyun lakukan juga diawasi, bukan? Kecurigaan tentang pengawasan di kamar itu pun perlahan memudar ketika Jia-yi tidak berhasil menemukan kerlip merah apapun—kerlip yang biasanya jadi pertanda adanya kamera pengawas—dan bahkan dia tidak temukan benda-benda mencurigakan di sana.

Entah, Jia-yi yang tidak paham tentang letak-letak kamera itu, atau memang di ruangan yang dia tempati tidak ada kamera pengawas. Menyerah karena terus berdiam, Jia-yi akhirnya melangkah ke arah komputer yang ada di meja kerja ruangan tersebut. Dia rindu kampung halaman, dia mempertanyakan keadaan Ayahnya, dan bagaimana reaksi Ayahnya saat tahu dia dan Jin-yi ada di sini.

Setelah beberapa menit menunggu komputer menyala, Jia-yi lantas membuka salah satu aplikasi yang bisa menghubungkannya pada email. Diam-diam, Jia-yi mengembuskan nafas lega saat nyatanya dia bisa menemukan koneksi internet yang terhubung.

Segera, Jia-yi mengakses surel miliknya. Dikirimkannya sebuah surel pada Yixing di Hunan, sekedar menanyakan bagaimana kabar Yixing, juga kabar Ayah Jia-yi. Bagaimana kehidupan mereka di Hunan, dan Jia-yi juga mengabarkan pada Yixing tentang bagaimana dia telah bertualang dan berhasil menemukan Jin-yi.

Tentu Jia-yi melewatkan semua bagian mengerikannya. Dia tak mungkin dengan santai berkelakar tentang Baekhyun si pembunuh, atau Chanyeol, atau Sehun si dokter yang ternyata seorang pembelot dari Korea Utara.

Dia juga tak mungkin menceritakan tentang situasi hampir-mati yang pernah dihadapinya pada Yixing. Tidak, satu buah surel tak akan cukup untuk menceritakan itu semua. Jadi Jia-yi hanya bisa memberitahu Yixing beberapa poin saja.

Jia-yi baik-baik saja. Jia-yi sudah menemukan Jin-yi. Bagaimana kabar Ayahnya. Bagaimana kabar Yixing sendiri. Jia-yi ingin kembali. Jia-yi rindu pada rumah. Hanya poin-poin itu yang bisa Jia-yi sampaikan. Sebab, dia sendiri mungkin akan menangis jika dia menceritakan terlalu banyak pada Yixing.

Sungguh, Jia-yi rindu rumah. Dia rindu pekerjaannya, kehidupan normal yang dijalaninya sebelum dia dengan nekad membuang diri ke Seoul untuk mencari Jin-yi dan berujung terlibat dalam masalah pelik di mana nyawanya dan nyawa Jin-yi adalah bayaran terhadap apa yang Ayahnya telah perbuat.

Tapi Jia-yi juga tidak menyesali apa yang sudah dia lakukan. Terlalu terlambat untuk menyesal, toh pada akhirnya Jia-yi tahu kekejaman apa yang sudah Ayahnya lakukan.

“Eh? Tunggu dulu, nama ini terlihat tidak asing…” Jia-yi tanpa sadar menggumam saat ditemukannya salah satu local disk komputer yang dipakainya sekarang memiliki nama yang cukup familiar.

“Jongin… Jongin… Bukankah dia—” tanpa menyelesaikan kalimatnya, jemari Jia-yi dengan lancang justru bergerak membuka tiap folder yang ada di dalam local disk tersebut.

Maniknya hampir saja melompat dari persinggahan begitu dia dapati ada begitu banyak folder mengenai Jongdae dan Arin di dalam sana. Ya, bagaimana tidak, folder itu diberi nama begitu kentara. Seperti: ‘Pergerakan Arin (1)’ lalu ada yang diberi nama ‘Rekaman Suara Jongdae (1)’ dan masih banyak yang lainnya.

Apa Jongdae dan Arin tahu soal ini? Dan… tunggu, jika komputer ini diakses oleh Jongin. Itu artinya Jongin juga tinggal bersama Chanyeol? Tapi mengapa Jia-yi sama sekali tidak melihat eksistensinya?

Atau… sesuatu terjadi pada Jongin karena Jongdae dan Arin?

Lekas, Jia-yi membuka satu persatu laci kayu yang ada di rak belakang komputer tersebut. Ditemukannya beberapa USB driver ada di dalam sana. Jia-yi ambil semuanya, dan satu-satu dibukanya USB tersebut.

Tidak ada yang benar-benar penting di dalam empat USB pertama, dan di dua USB terakhir Jia-yi menemukan copyan dari file serupa di dalam local disk milik Jongin. Tampaknya, Jongin memindahkan isi dari komputer tersebut ke dalam dua USB berwarna merah tua yang sekarang tengah Jia-yi buka.

Satu USB lagi berisi file-file dalam format pdf yang isinya tidak begitu Jia-yi pahami, tapi melihat bagaimana tiap file tersebut berada dalam folder dengan nama-nama berbeda yang pernah Jia-yi singgahi: Hunan, Hong-dae, Seodae-mun, dan beberapa tempat lain, dia yakin bahwa USB ini pastilah berguna.

Akhirnya, Jia-yi lepaskan tiga USB merah tersebut dari gantungan yang mengikatnya, gadis itu menyelipkan USB tersebut di dalam kantung kecil pada celana yang dikenakannya sekarang.

Pertanyaan lainnya terlahir dari benak Jia-yi. Dimana Jongin? Tapi belum sempat gadis itu memikirkan apapun untuk jadi spekulasinya tentang keberadaan Jongin, sebuah notifikasi kecil malah muncul dari aplikasi internet yang dibukanya.

Surel balasan dari Yixing masuk, berisi sebuah pesan pendek yang maknanya kini membuat Jia-yi terperangah.

From: yxzhang.hn@rmail.co

Aku baik-baik saja, tapi Ayahmu tidak.

Lekaslah kembali kalau kau ingin memastikan keadaan Ayahmu, Jia.

Aku tak bisa berbuat banyak.

Apa maksud Yixing? Ada apa dengan Ayahnya? Jia-yi harus kembali jika dia ingin memastikan keadaan Ayahnya? Apa maksud balasan Yixing sekarang? Mengapa Yixing tidak bisa berbuat banyak?

Jemari Jia-yi lekas mengetikkan sebuah balasan pada Yixing saat pintu ruangannya terbuka, menampakkan sosok Baekhyun yang masuk dengan wajah tertekuk menahan amarah.

“Jia-yi, apa yang sedang kau lakukan?”

Alih-alih mengharapkan sebuah hiburan atau pertanyaan yang menyambut, pandang Baekhyun justru semakin nanar saat ditemukannya bagaimana Jia-yi tengah melakukan kontak dengan seseorang dari Hunan.

“Apa yang kau lakukan!?” belum sempat Jia-yi menekan perintah send pada surelnya, Baekhyun sudah menarik gadis itu dengan sangat kasar, menghempaskan tubuh Jia-yi menjauh sebelum Baekhyun mengambil alih komputer tersebut dan menghapus balasan yang hendak Jia-yi kirim.

“Baekhyun! Hentikan! Sesuatu terjadi pada Ayahku di sana!” Jia-yi berteriak geram, dia bisa terima jika dirinya dijadikan ancaman, atau bahkan hendak dibunuh. Tapi dia tak bisa berdiam kala keadaan Ayahnya di Hunan sana menjadi tanya.

“Tidak tahukah kau dengan siapa kau berurusan!?” teriakan Baekhyun membuat Jia-yi terhuyung mundur, Baekhyun tak pernah berteriak sebegitu lantang padanya, dan reaksi kelewat mengerikan yang sekarang pria itu pamerkan tak ayal membuat nyali Jia-yi menciut juga.

“Yixing adalah temanku…” lirih Jia-yi saat ditatapnya bagaimana Baekhyun melogout surelnya dan mematikan komputer tersebut.

“Dia bukan temanmu. Tidak ada kata teman dalam peperangan ini, Jia-yi. Yang ada hanya partner. Hanya rekan semata, yang berada di dekatmu ketika kau menguntungkannya, dan meninggalkanmu saat kau sudah tidak dibutuhkan.

“Tidakkah kau memahami situasinya? Semua orang menginginkan kematian keluargamu. Ibumu, hilangnya Jin-yi, lalu kau yang membuang diri ke sini, semuanya bagian dari rencana untuk menghancurkan keluargamu.

“Apa aku harus menjelaskannya serinci itu untuk membuatmu mengerti? Kupikir kau cukup pintar, tapi ternyata kau sama saja dengan wanita-wanita lainnya, mengutamakan emosi yang membutakan ketimbang pemikiran logis.”

Kalimat-kalimat Baekhyun sekarang menyadarkan Jia-yi, membawanya terlempar kembali pada fakta menyakitkan yang harus dia telan bulat-bulat, cepat atau lambat dia dan Jia-yi akan dibunuh.

Entah, oleh siapa, di mana, dengan cara apa. Mungkin saja, bukan Baekhyun yang akan membunuhnya. Tapi masih ada musuh-musuh lain Ayahnya. Jia-yi sadar benar Ayahnya mungkin telah jadi pendosa yang melahirkan begitu banyak pembunuh dan membesarkan belasan dendam.

“Lalu aku harus bagaimana? Tetap tenang sepertimu? Aku sudah menerima semua yang terjadi padaku, Baekhyun. Tapi aku tidak bisa membiarkan sesuatu terjadi pada Ayahku. Meski pikiranku terus memberontak dan mengatakan bahwa aku tidak salah, bahwa aku tidak pantas menerima kebencian dari kalian semua yang menyimpan dendam pada Ayahku, tapi aku menerimanya.

“Aku terima jika aku yang dijadikan substitusi atas kesalahan yang Ayahku lakukan. Tapi Yixing, dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa di sana. Dan keadaan Ayahku pasti sangat mengerikan sampai dia tidak bisa mengatakannya padaku.

“Aku harus kembali, Baekhyun. Kau mungkin ingin membunuhku, jadi silakan bunuh aku setelah aku kembali ke Hunan dan menemui Ayahku. Aku harus pastikan Ayah dan Jia-yi selamat.”

Terdiam, adalah hal yang berikutnya Baekhyun lakukan setelah mendengar kemarahan frustasi Jia-yi. Gadis itu mungkin mulai mencapai limit kewarasannya, Baekhyun paham, keadaan Jia-yi bisa saja memburuk karena situasi yang dia hadapi.

“Kau tidak paham situasi yang sekarang kau hadapi.” kata Baekhyun membuat Jia-yi lantas mendengus jengah.

“Bagaimana bisa aku mengerti jika yang kalian semua lakukan selama ini adalah menutupi situasi itu dariku!?” teriakan Jia-yi terdengar begitu lantang sekarang, gadis itu mengacak surainya frustasi, dia tenggelamkan wajahnya di balik surai panjangnya yang sekarang terurai.

Isak tangis samar-samar bahkan terdengar masuk ke dalam rungu Baekhyun, tapi pria itu masih bergeming. Dia bisa saja menjelaskan semua situasinya pada Jia-yi. Tapi saat ini situasi Jia-yi sendiri sedang tidak stabil, dan Baekhyun tak mau mengambil resiko. Selama ini, Jia-yi mungkin terlihat begitu kuat dan berani, mana tahu Baekhyun kalau nyatanya katastrofi yang dihadapinya selama beberapa hari terakhir justru meremukkan Jia-yi dari dalam?

Lantas, kalau situasinya sudah berubah jadi seperti ini, bagaimana mungkin Baekhyun bisa menjelaskan semuanya pada Jia-yi?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Perang dingin akhirnya terjadi antara Baekhyun dan Jia-yi sepanjang sore itu. Niatan Jia-yi untuk memberitahu Baekhyun tentang USB yang ditemukannya pun sirna seketika karena perdebatannya dengan si pria.

Dia bahkan membatalkan rasa ingin tahu yang sempat mencuat begitu Baekhyun kembali tadi. Ya, awalnya Jia-yi berniat menanyakan tentang pembicaraan Baekhyun bersama Arin dan Jongdae tadi.

Tapi semua keinginan itu berganti dengan kemarahan dan gengsi tinggi untuk bicara ketika Jia-yi sadar dia sudah mendiamkan Baekhyun selama hampir tiga jam.

Sebentar lagi jam makan malam, dan Jia-yi sendiri tidak tahu, berapa lama waktu yang bisa dia habiskan di tempat Chanyeol sebelum Baekhyun melanjutkan rencananya. Jia-yi tahu, berdiam seperti ini akan merugikannya. Tapi dia juga tidak mau buka mulut duluan.

Marah masih mendominasi emosinya. Dan seolah sudah terbiasa pada kesunyian, Baekhyun juga tampak tenang-tenang saja melewati waktu tanpa konversasi.

“Apa yang kau bicarakan dengan Jongdae dan Arin?” akhirnya tanya itu lolos juga dari bibir Jia-yi.

“Wah, pada akhirnya kau penasaran juga.” kata Baekhyun.

“Bagaimana aku tidak penasaran, kalian membicarakannya seolah aku tidak boleh mendengar.” kata Jia-yi menahan kekesalan, gadis itu masih enggan menatap Baekhyun sebab dia pasti akan teringat pada tindakan Baekhyun yang membuatnya kesal tadi.

“Memang, kau tidak perlu tahu kami bicara apa.” akhirnya Jia-yi melengos kesal saat mendengar perkataan Baekhyun. Untuk apa pria itu tadi memancingnya jika pada akhirnya tak jua memberi Jia-yi jawaban?

“Bagus, jadi aku juga tidak perlu memberitahumu apa yang aku tahu, bukan?” Jia-yi berkata menantang, namun ucapannya malah membuat Baekhyun menatapnya tajam.

“Apa maksudmu?” tanya Baekhyun.

Sejenak, Jia-yi terdiam. Berdebat dengan pikiran juga spekulasinya tentang apa yang mungkin Baekhyun rencanakan di belakangnya. Nyawa Jia-yi adalah taruhannya, omong-omong. Dan Jia-yi tak bisa untuk tidak menaruh curiga, pada akhirnya.

“Lupakan saja. Kau terlalu senang bermain teka-teki, Baekhyun.” kata Jia-yi.

Keduanya pun kembali terdiam. Jia-yi sendiri hanyut pada rencana-rencananya untuk menyelamatkan diri, sementara Baekhyun tampak memikirkan hal lain yang jauh lebih kompleks.

Dia sudah terlampau sering menjadi pengkhianat. Dan rasanya, Baekhyun harus segera mengakhiri semua ini, setidaknya dia juga ingin menghabiskan kehidupannya dengan cara yang dia inginkan.

“Aku bekerja pada Chanyeol sebelum ini, bersama dengan seorang hacker, dan Putri dari seorang Jenderal Korea Selatan juga. Rencana kami menghentikan penyerangan yang Korea Utara lakukan pun sudah gagal karena tindakan ceroboh Putri Jenderal tadi, Yara namanya.

“Sehingga Chanyeol putuskan untuk membuang Yara meski sebenarnya mereka berdua saling mencinta. Tapi tidak sampai di sana, Chanyeol masih berkeras merekrut orang-orang untuk ada di pihaknya. Dia lantas merekrut Kyungsoo, dan kedatangan Kyungsoo lah yang membuatku akhirnya membelot dari Chanyeol.

“Setelah aku membelot, Chanyeol merekrut Arin dan Jongdae, tanpa tahu kalau mereka berdua adalah orang suruhan Arshavin. Kami bicara enam mata tadi, karena tengah bicara soal apa yang kulakukan setelah melepaskan diri dari Chanyeol.

“Sama sekali tak ada hubungannya denganmu, dan kalau kau mendengar, kau mungkin akan tahu terlalu banyak tentang kami, Jia-yi. Kyungsoo mati, Yara dibawa pergi oleh ayahnya… tapi keberadaan hacker yang bekerja sama dengan Chanyeol itu belum kuketahui.”

“Apa hacker itu… Jongin?” tanya Jia-yi hati-hati.

Baekhyun menatap gadis itu. “Ya, kau pernah bertemu dengannya? Kalau Kyungsoo adalah tangan kanan Chanyeol, maka Jongin adalah tangan kirinya. Tanpa dua orang itu, Chanyeol akan mudah dimanipulasi.

“Dan itu yang sekarang Arin juga Jongdae lakukan. Lenyapnya sepasang lengan Chanyeol adalah kesempatan bagi mereka untuk mengisi kekosongan itu. Memanipulasi Chanyeol dan tanpa sadar mengatur pergerakannya.

“Aku tidak tahu dengan pasti, tapi kupikir… selagi kita di sini Jongdae pasti telah merencanakan sesuatu bersama wanita itu.”

“Dan kau tidak bisa mencari tahu dimana keberadaan hacker itu?” tanya Jia-yi.

Baekhyun menggeleng. “Dalam keadaan seperti ini? Tidak. Aku pandai menyelinap, dan masuk ke kamar Jongdae bukanlah hal sulit. Tapi kamarnya terlalu bersih dan aku tak bisa menemukan apapun.

“Aku bisa saja masuk ke dalam kamar Arin. Tapi well, kau tahu… aku masih punya hati. Menyelinap masuk ke dalam kamar seorang wanita benar-benar bukan gayaku.” Jia-yi sekarang terlongo mendengar penjelasan Baekhyun.

Bukan gayanya? Bisa-bisanya Baekhyun menjadikan hal itu sebagai alasan?

“Lebih tepatnya, sesuatu mungkin ada di kamar Arin. Dan dia akan curiga jika tidak menemukanku berkeliaran. Lebih terdengar masuk akal jika kau mengurung diri di kamar, daripada aku.

“Jadi, bagaimana kalau kau yang menyelinap masuk ke dalam kamar Arin, selagi aku menyibukkan mereka dengan rencana-rencana kecil?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Awalnya, Jia-yi amat-sangat tidak setuju dengan rencana yang Baekhyun utarakan. Tapi mau bagaimana lagi, dia juga merasa penasaran pada apa yang disembunyikan Arin dan juga Jongdae. Mungkin saja, masuk ke kamar Arin berarti dia bisa menemukan satu-dua hal kecil yang berhubungan dengan kasus ini.

Baekhyun katakan, dia sudah membawa senjata. Jadi jika Arin merasa curiga pada Jia-yi, Baekhyun akan menyerangnya sebelum Arin punya kesempatan untuk mengejar Jia-yi. Baekhyun sudah siap pada perang darah, tapi Jia-yi tidak.

Dia masih ingin hidup.

Dan berada di dalam kamar Arin setelah mengendap-endap selama hampir lima belas menit lamanya adalah sebuah ancaman bagi kelangsungan hidup Jia-yi.

Bisa dia lihat bagaimana dua buah kamera berwarna merah berkedip-kedip di sudut ruangan, dan sesuai arahan Baekhyun, Jia-yi menutupi kamera kecil itu dengan menggunakan selotip hitam yang dibawanya.

Masa bodoh dengan Arin yang sadar jika kameranya telah dirusak, yang penting Arin tidak tahu apa yang Jia-yi lakukan dan apa yang Jia-yi ambil di dalam—

Ugh!”

—sialan. Suara apa itu!? Jia-yi berjengit kaget saat didengarnya erangan kesakitan seseorang dari dalam lemari pakaian Arin.

Pencahayaan redup berwarna merah di kamar Arin nampaknya semakin memacu adrenalin Jia-yi. Bagaimana tidak, lantai kamar Arin berwarna gelap, dan satu-satunya penerangan yang ada hanyalah lampu berwarna merah yang tidak begitu terang.

Samar-samar, Jia-yi bawa langkahnya mendekati lemari pakaian Arin, menyernyit saat diendusnya bau tak sedap dari dalam lemari tersebut. Hampir saja Jia-yi memuntahkan isi perutnya—yang sebenarnya mungkin Jia-yi hanya akan muntah air saja—kalau dia tidak mengingatkan dirinya bahwa aroma menusuk tak sedap ini serupa dengan aroma luka membusuk yang sering dia temui di rumah sakit.

Hati-hati, Jia-yi buka kunci lemari pakaian tersebut, dan betapa terkejutnya Jia-yi begitu dia temukan tubuh berlumur darah di dalamnya.

“K-Kau… siapa?” tanya Jia-yi setelah dirinya beringsut menjauh, ketakutan tentu saja.

“Jia-yi…?” lirih vokal itu mengingatkan Jia-yi pada sebuah fakta, bahwa sosok berlumur darah yang sekarang terikat rantai yang terpaku ke dinding lemari di belakang sana adalah seseorang yang mungkin mengenalnya.

“Jongin!?” Jia-yi hampir saja memekik, lengannya sudah akan bergerak meraih rantai yang memborgol Jongin jika saja dia tidak menahan mual lantaran melihat bagaimana kulit lengan Jongin melepuh dan terkelupas, memamerkan otot kemerahan yang mengerikan.

Kuku-kuku jari Jongin juga terlihat mencuat, hendak terlepas dari tempatnya tapi nampaknya sengaja dibiarkan dalam keadaan semenyakitkan itu.

“Apa… Arin melakukannya?” tanya Jia-yi membuat sosok Jongin memaksakan maniknya untuk membuka.

Sklera—bagian putih di bola mata—milik pria itu sudah berwarna merah, memar dan Jia-yi pastikan ada banyak pembuluh darahnya yang pecah. Saat Jongin membuka mulut, gigi seri Jongin tampak mencuat keluar, hampir terlepas dari gusinya, sementara darah segar mengucur keluar dari bibirnya.

“Kau… bersamanya?” tanya lirih itu lolos dari bibir Jongin.

“Tidak. Maksudku, ya, aku bertemu dengannya. Tapi aku tidak berada di pihak yang sama dengannya. Apa yang sudah dia lakukan padamu? Bagaimana… dia tega…” isakan tanpa sadar lolos dari bibir Jia-yi, tanpa bisa dia kontrol, likuid bening dari kedua kelopak matanya juga ikut berjatuhan.

Tidak bisa dia bayangkan bagaimana rasa sakit itu selama ini menyiksa tubuh Jongin. Darah di sekujur tubuh Jongin dan bau busuk yang tercium dari tubuhnya, sudah jelas dia setidaknya selama beberapa minggu menerima penyiksaan mengerikan ini.

“Gigiku…”

“Apa?” Jia-yi menatap tak mengerti.

Jongin mengembuskan nafas, kepayahan. “Ada micro-sd di celah gerahamku…” lirih Jongin, “…, Arin tidak berhasil menemukannya. Dan gusiku hancur…” sambung Jongin masih dalam kepayahan kata akibat rasa sakit yang melanda tubuhnya sekarang.

“…, di dalamnya ada semua bukti yang dulu kita cari, Jia-yi. Tentang Arshavin…”

Sebuah micro-sd? Terselip di antara geligi geraham Jongin yang sudah bersimbah darah? Bagaimana mungkin Jia-yi berkeinginan mendapatkannya sementara membayangkan jemarinya menyentuh mulut berdarah Jongin saja Jia-yi sudah tidak sampai hati.

“Tidak, kita harus bawa kau keluar dari sini, Jongin.” kata Jia-yi memutuskan.

Gelengan pelan Jongin berikan sebagai penolakan. “Ambil micro-sd itu, Jia-yi…”

Mulut Jongin lantas membuka, membuat Jia-yi tiba-tiba saja mual lantaran membayangkan adegan-adegan horor eksorsisme akan menimpanya jika dia memberanikan diri mencari letak micro-sd itu di dalam mulut Jongin.

“Geraham kiri bawah…” lagi-lagi Jongin berkata. Jia-yi akhirnya menatap tangannya, sejenak gadis itu berbalik, dibawanya langkah ke arah wastafel kecil yang ada di dekat pintu kamar mandi ruangan Arin, dicucinya tangan kanannya sebelum dia kemudian kembali pada Jongin lagi.

“Aku tidak bisa pastikan apa tanganku bersih.” mau tak mau insting Jia-yi sebagai tenaga kesehatan juga muncul, dia tak pernah menyentuh luka terbuka seperti ini dengan tangan kosong. Terlalu beresiko.

Bagaimana jika Jongin ternyata punya penyakit menular?

Hati-hati, Jia-yi masukkan jari telunjuk dan ibu jarinya ke dalam mulut Jongin. Dia pejamkan mata lantaran bergidik ngeri ketika jemarinya jelas menyentuh likuid kental yang dia yakini sebagai darah.

Jemari Jia-yi terhenti pada sebuah benda kecil yang mencuat di antara dua buah gigi geraham belakang Jongin. Benda itu seolah tertancap mati di sela tersebut.

“Jongin… berapa lama micro-sd ini di dalam mulutmu? Mungkin akan sakit jika aku menariknya paksa.” kata Jia-yi, sebab saat dia goyang-goyangkan benda itu tak juga bergerak dari tempatnya terselip.

Kalau Jia-yi tarik paksa, bisa saja luka lain tercipta di gusi Jongin. Atau lebih buruk lagi, mungkin geligi Jongin yang sudah rapuh lainnya ikut terlepas. Mana tega Jia-yi membayangkan Jongin kehilangan semua giginya?

Anggukan samar yang Jongin berikan kemudian Jongin berikan sebagai jawaban. Jia-yi lantas mengerahkan tenaganya untuk menarik paksa micro-sd tersebut dan—

Akh!”

“Ah! Maafkan aku!”

—seperti dugaan Jia-yi, gigi Jongin yang lain menjadi korban. Satu gigi taring dan satu gigi seri bawah Jongin yang tadi dilihat Jia-yi mencuat hendak terlepas, sekarang benar-benar terlepas dari persinggahannya karena Jia-yi menarik keluar dua jemarinya.

Ugh…” Jongin mengerang kesakitan. Rupanya, rasa sakit itu juga karena luka baru yang micro-sd itu tinggalkan di antara giginya. Tapi terlebih dari itu, Jia-yi lah yang paling merasa ketakutan.

Bagaimana tidak, tangannya sekarang berlumur darah, sementara di jemarinya sudah ada sebuah micro-sd yang entah sejak kapan bersarang di gusi Jongin. Lekas, Jia-yi bawa tangannya ke wastafel, dia bersihkan tangan kanannya dari darah, dengan mengapit erat-erat micro-sd tersebut.

“Benda ini tidak akan rusak karena air ‘kan?” tanya Jia-yi tanpa sadar, dia bahkan berniat merendam micro-sd itu dengan larutan alkohol kalau saja bisa.

“Tidak… pergilah Jia-yi, bawa benda itu pada Chanyeol.” kata Jongin.

“Lalu bagaimana denganmu?” tanya Jia-yi selagi dia sibuk mencuci tangannya.

“Seseorang harus tinggal dan mati dalam peperangan, jika ingin yang lainnya selamat.” terbata-bata Jongin utarakan kalimat itu.

Jia-yi tahu, Jongin ketakutan. Memangnya siapa di dunia ini yang benar-benar berani mati? Apalagi dengan cara yang begitu menyakitkan?

“Aku pastikan seseorang akan menyelamatkanmu, Jongin. Mungkin bukan aku, karena aku terlalu lemah. Tapi seseorang pasti kuminta untuk menyelamatkanmu. Kau percaya padaku, bukan?”

Jongin lantas mengangkat kepalanya, dipandangnya Jia-yi dengan sisa tenaga yang dia miliki sebelum dia sunggingkan sebuah senyum menyakitkan.

“Selamatkan saja dirimu sendiri…” kata Jongin, “…, cepat keluar, dan tutup pintu lemari ini, sebelum psikopat wanita itu menemukanmu.”

please wait for the next story: Hol(m)es in Gangnam-gu (3) —

IRISH’s Fingernotes:

Sek, aku ngilu…

YA LORD AKU NGILU. AKU BENCI DENTIST DAN HARUS NGEBAYANGIN SESEORANG MENGOGROK-OGROK MULUT PAKE TANGAN, NYABUT MEMORY-CARD, ITU MENYAKITKAN.

Sek, tarik nafas-hembuskan, kayak mau melahirkan, Jongin maaf kamu harus kuaniaya begini. Nanti kuselametin deh di cerita berikutnya. Aku baik kok, masa iya kamu enak banget dibunuh begitu doang huhu. Nanti matinya dengan cara yang keren aja ya /slapped/.

DAN MAS ICING YA ALLAH MAAF LOH KAMU BELUM MUNCUL. MAKLUM, SEHARUSNYA SERIES INI SUDAH BERAKHIR MAS, TAPI DIPERPANJANG TENGGATNYA SAMPE ULTAH CHANYEOL NANTI. MAAF LOH MAS ICING.

AKIBAT KAMU KAMBEK SEBAGAI BAGIAN DARI SHAWN THE SYIP AKU JADI NGAKAK MULU KALO BAYANGIN KAMU MAS. DASAR WOLF BERBULU SHEEP KAMU MAS.

Ahem, btw ini series Lay dirapel sama Suho yang kemarin enggak sempet kebagian jatah ya… semoga aja bisa cepet selesai yang berikutnya WKWK.

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

9 tanggapan untuk “[LAY BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in GANGNAMGU (2) — IRISH’s Tale”

  1. Teringat aku belom komen di sini, aku komen SPJ aja /ditampar

    WANJIRRRRRR, SIYALAN, BENERAN AKU MASIH INGET PAS ITU BACA INI MIDNIGHT, MOJOK SAMA NYAMUK DAN NGERI PAS BAGIAN NGAMBIL USB ITU DARI GIGINYA KAI, YA ALLAH ARIN SAIKOPAT. SAMA KAYAK KAKAKNYA /DITABOK REN

    BTW SI ICING MUNCUL VIA EMAIL DOANG, MANA KAYAKNYA DI HUNAN KEADAANNYA LG GAK BAIK ATAU ICING BERBULU DOMBA DGN BERDUSTA? NGEKEK TAU GAK INGET LGU BARUNYA YG SHEEP WKWKWKWK.

    eh btw kak, kl series ini tamat, ingin lanjut series bday yg gimandos lagi?

    1. komen spj itu maksudnya begimandos? aku pahamnya spj adalah surat perintah jalan XD wkwkwkwkwkwkwkwkwkwk
      EH TOLONG ELS, DIKONDISIKAN, AKU UDAH GA INGET SAMA SEKALI SAMA BAGIAN THRILLER ITU DAN KAMU MENGINGATKANKU LAGI….

    2. SPJ ITU SINGKAT, PADAT, JELAS : ((((

      PLS KAK AKU JG GAK MAU INGET2 LAGI, NGERIK SIH -____- KRIS AKU TUNGGU POKOKNYA, UDAH MAU AKHIR BULAN LOH ~~~

  2. Eieyuhh..😖 kecian bgt kai
    Ya lord.. Trnyt arin saiko!! ini turunan gen klrg d.o kyny mah 😰
    Sbr ya kai, moga bntr lg 백 dtg nyelametin kamu.
    Aseek, tenggat’ny smp bday’ny 찬, bearti 크리스 eike bkl nongol lg 😀 kunanti sngt..
    Si junmen leader korban bullying para mmbr2ny blm nongol2 jg nih, len msh sbk kah? Bukan prioritas bgt ya si uke 1 itu 😙
    Lay cm nongol via email doang 😞 pa kbr di hunan, lg musim sinkhole jg ga disana?
    Pasangan dabel det 세훈-runa & luhan-hye dah slng ktmu kah?

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s