[EXOFFI FREELANCE] Stay With Me Chapter 19

picsart_09-19-05-49-51

STAY WITH ME

Author :

Angeline

Main Cast :

Oh Sehun (EXO)

x

Bae Joo Hyun a.k.a Irene (RV)

Additional Cast :

 EXO Members |Kim Ji Yeon (LOVELYZ)|Kim Seolhyun (AOA)| Im Jung Hoo  (B.I.G)| Lee Hyo Eun (STELLAR) |Krystal Jung (FX) |Wu Yifan a.k.a Kris Bae | etc~

 Rating PG-17|Length Series Fic

Genre : romance | Angst | AU |slice of life | Drama |etc~

Disclaimer :

Ff ini murni dari pemikiran author sendiri , ceritanya tiba-tiba muncul dalam otak author #ea ,dan dari pada lupa langsung dituangkan dalam bentuk FF seperti ini. Bila ada kesamaan tokoh maupun jalan cerita didalam ff ini , itu bukan merupakan bentuk plagiat #noplagiat! melainkan unsur ketidaksengajaan. Don’t judge, don’t copas.  Terimakasih sudah mau meluangkan waktu untuk membacanya  (nunduk)

Summary :

Bagaimana jika seorang Oh sehun yang berwatak dingin dan tidak pernah peduli pada orang lain terjebak bersama seorang gadis amnesia bernama Irene?. Melalui sebuah pertemuan tidak terduga hingga masalah-masalah yang datang saat keduanya tengah menjalin sebuah hubungan.

 

Poster bye ByunHyunji @ Poster Channel

–Chapter 19–

.

.

Pria bernama dengan rahang tegas itu menatap foto gadis cantik pada sebuah bingkai foto. Pria itu tersenyum sambil mengusap kaca bingkai itu, seakan ia memang sedang bersentuhan dengan orang yang ada di dalam foto tersebut. Ia mendekatkan foto itu pada bibirnya, dan menciumnya dengan kelembutan. Mungkin ia sudah gila, anggaplah seperti itu.

Rasanya ia tidak bisa menahan gejolak hatinya untuk segera bertemu dengan gadisnya, dan mengatakan bagaimana perasaannya saat ini. Di mana perasaannya memiliki kerinduan yang luar biasa untuk gadis itu, dan betapa besar cintanya untuk gadis itu sejak dulu. Ia tahu, mungkin akan sulit mendapatkan gadis itu, namun ia tidak peduli karena yang ia butuhkan bukan persetujuan dari gadis itu, melainkan ia hanya membutuhkan gadis itu untuk tetap berada di sisinya.

Mungkin karena sebuah insiden mengerikan yang sudah ia lakukan, membuatnya jauh dari sang gadis. Tapi itulah akibatnya jika ia sudah terobsesi dengan gadisnya. Ia tidak memperdulikan hal lain, meskipun hal itu akan menyakiti hati gadisnya. Sebut saja nama gadis itu Irene.

“Aku merindukanmu sayang.” Lirihnya dengan mata terpejam, sebuah perasaan hancur kembali membendung hatinya.

Hatinya sangat sakit saat memandangi gadis yang saat ini berada di pelukan pria lain, bahkan ia sampai rela menyusun rencana keji hanya demi mendapatkan gadis itu kembali. Misi mendapatkan Irene tidak pernah luntur sedikit pun dari benaknya , bahkan itulah tujuan hidupnya , ia tidak bisa jika tidak ada Irene dalam hidupnya, selama ia hidup yang ia lakukan hanya menguntit gadis itu secara diam-diam, bahkan saat mereka masih menjabat statu siswa di sekolah yang sama dulu. Ya, ia adalah teman sekolah Irene, hingga mereka kuliah. 7 tahun anggaplah, selama 7 tahun ia selalu memperhatikan Irene dalam diam, mengikuti segala kegiatan gadis itu.

namun 7 tahun itu ia anggap tidak berarti apa-apa, karena cinta butanya yang bisa dibilang sebuah obsesi pada seorang wanita, gila? Oh, ia tidak peduli dengan kata itu, ia bahkan bisa lebih dari orang gila.

“Kita akan bersama lagi Hyun-ah, bersabarlah sedikit lagi, karena aku akan membawamu pulang.” Ucapnya pelan sambil mengusap foto Irene yang terlapis kaca di dalam bingkai foto itu.

Tok tok tok …

Pria itu menyimpan foto Irene sedikit terburu-buru, di dalam laci meja kantornya, kemudian ia bersuara sedikit keras, “Masuk”.

Krieet…

Pintu kantor berwarna cokelat itu terbuka, dan mata Pria tersebut langsung memcing tidak suka, saat melihat sosok pria yang membuat rencananya gagal itu, berada di kantornya. Pria itu membuang nafasnya dan memalingkan wajahnya ke samping, tangannya terkepal kuat, seperti ingin membunuh pria di depannya itu.

Pria yang baru masuk ke dalam ruangan kantor itu, mendekat dan duduk di depannya. Keduanya saling beradu pandang dengan sengit, rasanya atmosfir yang tercipat benar-benar kuat dan dipenuhi dengan amarah.

“Kau muncul di depanku? Berani sekali.”

“Kita harus bicara! Ini semua salahmu brengsek!”

“Aku huh? Sadarkah kau, karena ulah bejatmu bersama Hyo Eun kalian ketahuan?!” bentaknya dengan mata tajamnya, pria di depannya lantas menatapnya semakin geram. Im Jung Hoo mengepalkan tangannya kuat menatap netra pria di depannya itu.

“Ini bukan salahku ! Harusnya kau berfikir, aku sudah memberitahu resiko apa yang akan kita alami, tapi otakmu! Kau benar-benar keras kepala.” Seru Jung Hoo dengan sedikit mmebentak.

“DIAM! Aku tidak butuh nasehatmu itu! Aku sudah bilang untuk bertahan sebentar saja, tapi apa? Kau merusak segalanya sebulan yang lalu!” bentak pria itu dengan menggebrak meja membuat Jung Hoo terkejut.

Jung hoo menghela nafasnya kasar, ia melirik pria di depannya sekilas dan tertawa kecil. Lantas, mendapat respon seperti itu dari Jung Hoo, ia menggeram marah karena merasa Jung hoo sedang meremehkannya  saat ini. Jung hoo pun berdiri dan menatap pria yang tersulut emosi itu, dengan senyuman miring.

“Kau tidak lebih dari pria yang menyedihkan. Mengemis akan cinta seseorang yang tidak akan kau dapatkan! Cih.” ujar Jung Hoo tertawa dan pria itu, dengan kesalnya mendekat pada Jung Hoo kemudian menarik kerah kemeja Jung Hoo dengan kasar. Ia sudah bersabar menghadapi pria Im ini, namun sepertinya Jung Hoo sudah melewati batas kali ini. Ia tidak terima direndahkan oleh seseorang.

“Jangan coba merendahkanku seperti itu, karena kau tidak pantas melakukannya! Selama ini aku bersabar denganmu jung hoo-ah. Aku melepaskanmu saat aku tahu kau dan Hy Eun menjual Joo Hyun pada laki-laki gila Sex itu, dan membuat Joo Hyun akhirnya menghilang selama 1 bulan! Aku memilih tidak membunuhmu dengan tanganku sendiri! Tapi Jangan sekali-kali mencoba membuatku berubah pikiran dan membunuhmu saat ini juga! Keparat!” Kata pria itu tegas, dan mendorong tubuh Jung Hoo sedikit kasar hingga pria itu terdorong ke belakang .

Jung Hoo sedikit tertampar dengan ucapan kasar pria itu, namun semua yang diucapkannya benar sialnya. Jung Hoo benci jika pria ini mengingatkannya pada kejadian 2 bulan lalu, di mana ia kehilangan akal sehat dan sudah berbuat kejahatan yang sangat hina. Entah bagaimana akal sehatnya saat itu, namun yang jelas, ia menyesal saat ini.

“Keluar dari kantorku sekarang, dan jangan pernah muncul di hadapanku! Atau aku akan membunuhmu saat itu terjadi!” Bentak pria itu dan membalikkan tubuhnya membelakangi Jung Hoo.

Dengan gerakan perlahan, Jung Hoo berjalan mendekati pintu dan membukanya dengan pelan. Ia masih menatap punggung pria itu, kemudian menghela nafasnya.

“Kau tahu? Aku mengatakan ini bukan sebagai musuhmu, melainkan sebagai sahabatmu. Lebih baik kau hentikan semua ini, sebelum kau menyesal nantinya. Aku pergi….Ji Sung-ah.” Setelah itu, pria yang dipanggil Ji Sung itu mendengar suara pintu tertutup. Ia tertawa, kemudian menghela nafasnya.

“Aku tidak akan berhenti sebelum mendapatkannya!”

.

.

Seorang gadis Seksi turun dari mobil Audi hitam miliknya . Kacamata yang bertengger sempurna di wajahnya menutupi matanya dari sinar matahari . Pakaian ketatnya memperlihatkan lekukkan tubuhnya yang sangat sexy. Gadis itu berjalan memasuki kawasan rumah seseorang . Setelah memasuki rumah itu, pandangannya menatap seorang pria yang sibuk bermain billiard seorang diri di rumah itu. Sang gadis akhirnya melepaskan kacamata yang bertengger di wajahnya, kemudian mendekat pada pria itu.

Greb

Tangan kecil itu melingkar sempurna di perut pria itu. Sang pria menghentikan kegiatan membidiknya sebenta, dan dengan gerakan cepat ia memutar tubuhnya lalu mengangkat tubuh gadis itu kemeja billiard, dan tanpa berpikir panjang, pria itu langsung mencium bibir sang gadis hingga turun pada rahang dan lehernya. Gadis itu mendesah tertahan sambil meremas rambut pria itu.

“Bagaimana dengan Leo, apa ia masih mengganggumu?” tanya pria bernama Jung Hoo pada kekasihnya, Hyo Eun.

“Aku berjanji padanya akan segera menemukan gadis itu. tapi nyatanya, Irene sudah kembali dengan keluarganya, apa yang harus aku lakukan sekarang?” tanya Hyo Eun kemudian memeluk tubuh gadis itu, Jung Hoo nampak diam dan mengusap surai rambut Hyo Eun dengan sayang.

“Aku bertemu Ji Sung tadi, dan sepertinya ia tetap akan merebut Irene kembali.” Kata Jung Hood an Hyo Eun tidak menjawab.

“Aku tidak mau ikut campur dalam masalah ini lagi. Haruskah kita lapor polisi?” tanya Hyo Eun dan Jung Hoo membulatkan matanya, “Kau gila?! Kita juga akan ikut terseret karena menjualnya sayang! Kau mau kita masuk penjara?”

“Tapi–“

“Aku sudah menyiapkan tiket menuju Shanghai, setidaknya kita harus melarikan diri sementara.” Hyo Eun nampak ragu dengan ajakan Jung Hoo untuk melarikan diri, namun ia tidak bisa membantah pria itu, dan akhirnya hanya mengangguk pelan. Jung Hoo tersenyum dan mencium bibirnya lembut.

.

.

Sepertinya, hampir 2 minggu Irene tetap setia menunggu Sehun untuk sadar. Ia sampai melupakan makan siangnya jika seseorang tidak mengingatkannya. Bahkan ia juga tidak nafsu makan sama sekali. Ia ingin makan jika Sehun bangun, tapi itu tidak mungkin kan? Bagaimana jika Sehun bangun sebulan lagi? Atau satu tahun lagi? Apa gadis itu masih mau mogok makan?

Sama seperti siang ini, Irene memegang tangan Sehun dan mengusapnya dengan handuk basah. Ia melakukannya denganlembut, dan setelah melakukannya ia mencium tangan Sehun dengan lembut kemudian tersenyum pada sosok yang terbaring lemah di ranjang, dengan berbagai alat medis di tubuhnya.

“Sehun, kapan kau bangun? Aku kesepian.” Lirihnya sambil mengecup punggung tangan Sehun berkali-kali.

Sret

Seseorang membuka pintu ruang rawat Sehun membuat Irene menoleh, nampak Krystal dan Kai yang datang bersama dengan membawa sebuah kotak makan. Krystal tersenyum kemudian menatap Sehun sebentar yang masih menutup matanya.

“Sehun-ah, aku datang.” Ucap Krystal mengusap punggung tangan Sehun dengan sayang. Kai mengelus kepala Krystal dengan lembut, kemudian tersenyum.

“Irene, kau pasti belum makan lagi. Cah, sekarang makan. Aku yang memasaknya.” Kata Krystal menyodorkan kotak makan itu, dan Irene menerimanya dengan senyuman tipis, “Terimakasih.” Ujarnya pelan kemudian membuka kotak makan itu dan segera melahap masakan Krystal yang tergolong enak.

“Hah, terasa sangat lama hm?” ucap Krystal menatap Sehun yang tidak kunjung sadar.

“Kita harus yakin jika dia pasti sadar sayang.” Ucap Kai merangkul pundak Krystal dan mengusapnya dengan lembut. Krystal mengangguk dan memeluk Kai. Berbeda dengan Irene yang melahap makanannya tanpa niat sedikit pun.

Hingga..

“Eoh?” Krystal membulatkan matanya saat ia baru saja melihat sebuah pergerakan kecil dari tangan Sehun.

“Ada apa?” tanya Kai dan Irene bersamaan.

“Tangannya bergerak!” ujar Krystal menunjuk jemari Sehun yang memang sedang bergerak lemah, namun mereka semua bisa melihat itu dengan jelas.

Langsung saja Kai berlari keluar memanggil Donghae untuk memriksa keadaan Sehun.

.

.

Beberapa menit di luar nampaknya membuat beberapa orang di sana tidak sabar dengan hasil yang akan mereka dengar sebentar lagi. Semua berkumpul di sana setelah Krystal menelfon jika Sehun menunjukkan tanda-tanda akan sadar. Dan saat itu juga semua meninggalkan pekerjaan mereka dan menuju rumah sakit, bahkan Kris dan ayahnya juga berada di sana.

Irene masih duduk di kursi sambil melipat tangannya, berdoa jika Tuhan memberikan kabar baik untuk mereka. Irene bernar-benar gelisah, karena Donghae belum keluar dari kamar Sehun. Harus berapa lama lagi mereka menunggu?

Sret

Donghae membuka pintu kamar Sehun dan segera keluar dengan wajah yang sulit diartikan. Berharap cemas jika Donghae tidak memberikan berita buruk untuk mereka. Donghae menatap setiap pasang mata yang menunggunya berucap. Kemudian pria Lee itu menyunggingkan sebuah senyuman kelegaan, membuat hati mereka ikut lega.

“Dia sudah sadar.”

Irene hampir saja terjatuh jika Baekhyun tidak menahan tubuh gadis itu. Irene merasa kakinya lemas saat mendengar berita bahagia itu. Tanpa menunggu lama, Irene langsung masuk ke dalam dan melihat pria yang masih terbaring di ranjang, namun kali ini dengan mata yang terbuka dan sedikit sayup itu. Semua alat sudah di lepas dari tubuhnya, kecuali selang infus dan gips yang masih berada di tangan dan kakinya.

Irene berjalan mendekat, dan Sehun yang masih lemah itu hanya menatap gadis itu dengan wajah lelahnya. Irene tahu pria itu lelah tidur selama 2 minggu tanpa melakukan kegiatan apa pun. Lantas, Irene menggenggam tangan Sehun dengan lembut, namun Sehun masih menatap tanpa expresi pada Irene. Bahkan tidak ada respon yang ia berikan saat Irene menggenggam tangannya. Bibir Sehun masih keluh untuk berbicara.

“Hun?” ucap Irene dengan tangisannya. Irene menunjukkan senyumannya pada Sehun.

“Hun, ini aku sayang.” Ucap Irene mengusap pipi Sehun. tanpa sadar, pria itu menitihkan air matanya dari sudut matanya. Tanda ia juga mengenali Irene, dan sadar jika Irene berada di sisinya. Perlahan, Irene merasa tangannya sedikit di genggam oleh Sehun meski itu sangat sedikit terasa. Namun Irene cukup tahu Sehun sadar jika Irene berada di sini.

“Sa –sayang.” Ucap Sehun sangat pelan, namun Irene mendengarnya dengan jelas. Irene mengangguk kemudian mencium tangan Sehun dengan air matanya yang masih mengalir. Ia tidak menyangka hari ini akan datang.

“Aku di sini Sehun,” ucap Irene tersenyum.

“A –aku…me –merindukan..mu.” kata Sehun dengan susah payah, dan Irene langsung mengecup kening Sehun, “Aku jauh merindukanmu sayang.” Ucap Irene mengusap surai hitam Sehun.

“Ia akan menjalan fisioterapi untuk melatih otot-ototnya.” Kata Donghae pada tuan Oh, dan ayah Sehun itu hanya mengangguk sambil bernafas lega, “Ya, lakukan yang terbaik untuk putraku Donghae.” Kata tuan Oh menyerahkan masalah kesembuhan Sehun pada dokter kepercayaannya itu, Donghae tersenyum sambil mengangguk, kemudian pergi bersama beberapa suster.

Mereka nampak tersenyum pada Sehun, meski Sehun belum bisa membalas senyuman mereka. Tapi setidaknya, mereka tahu jika Sehun sangat berterimakasih karena mereka sudah setia menunggu Sehun di rumah sakit.

“Te –terimakasih.” Ucapnya pelan, Irene hanya tersenyum, sambil masih memegang tangan Sehun dengan sayang.

“Kau membuat kami khawatir tuan Oh. Cepatlah sembuh!” kata Chanyeol tersenyum.

“Baiklah, sudah cukup kau menakutkan kami 2 minggu ini.” Kata Baekhyun terkekeh.

“Oh Depyeonim, kuharap kau kembali ke kantor sesegera mungkin, karena aku hampir stress menggantikanmu.” Ucap Jongdae yang akhirnya membuat tawa mereka memecah. Dan Irene semakin tersenyum, saat prianya mencoba tersenyum meski sangat susah, namun Irene sangat senang melihatnya.

.

.

Irene nampak sibuk meniup-niupkan bubur, untuk makan siang Sehun itu. Sehun hanya tersenyum melihat kegiatan kekasihnya itu. Irene melirik sekilas pada Sehun yang sedang menyandarkan tubuhnya pada ranjang yang sedikit tegak itu, dan gadis Bae itu ikut tersenyum, kemudian menyuapkan bubur tersebut pada Sehun.

“Enak?”

“Tidak.” Jawabnya. Irene ikut mencoba bubur dari rumah sakit itu, dan ternyata rasanya hambar.

“Ah, Lee ssaem bilang kau tidak boleh makan makanan yang lain, kecuali dari rumah sakit.” Kata Irene sedih dan menaruh bubur itu di atas nakas. Sehun mengerucutkan bibirnya mmebuat Irene menatapnya dengan wajah menahan tawanya.

“Kau tidak cocok bersifat lucu seperti itu.” kata Irene memberikan minum untuk Sehun.

“Irene?” panggil Sehun, membuat gadis yang memakai cardigan abu-abu itu menatap Sehun sebentar, “Ya?” tanya Irene tersenyum. Sehun menggeser tubuhnya sedikit, kemudian menepuk sisi sampingnya.

“Tidur di sini.” Ucap Sehun membuat Irene sedikit ragu.

“Tapi–“

“Sayang, tidur di sini.” Ucap Sehun menunjuk sisi sampingnya dengan kepalanya. Irene sedikit ragu, namun akhirnya ia naik ke atas ranjang itu, dan tidur dengan beralaskan lengan kanan Sehun. Irene memeluk pinggang Sehun secara menyamping, merasakan detak jantung Sehun yang ikut membuatnya berdebar.

Chup

Sehun mencium kening Irene dengan lembut, dan Irene rasanya lemas tak berdaya. Irene menangis bahagia, cukuplah masalah yang mereka hadapi saat ini. Ia mohon agar takdir tidak kembali memisahkan mereka, karena Irene tidak sanggup hidup tanpa Sehun, begitu pun sebaliknya.

“Kau tahu apa yang aku mimpikan saat aku koma?” tanya Sehun mengusap surai Irene dengan tangan kanannya yang di pakai bantala Irene itu.

“Apa?”

“Kau. aku memimpikanmu hidup bahagia bersamaku selamanya.” Irene menggigit bibir bawahnya, dan mendongak menatap Sehun yang ikut menatapnya.

“Maafkan aku Sehun, aku sudah meninggalkanmu saat itu. Aku sangat menyesal.”

“Harusnya aku yang minta maaf, karena sudah menyembunyikanmu dari keluargamu. Namun aku punya alasan untuk itu, kau tahu sendiri jika kau memiliki tunangan, dan aku sangat takut jika kau meninggalkanku.” Ucap Sehun jujur membuat Irene tersenyum dan kembali meletakkan kepalanya pada dada bidang Sehun.

“Aku mengerti sayang.” Ucap Irene tersenyum.

Irene menegakkan dirinya dan mengusap pipi Sehun dengan lembut. Sehun memejamkan matanya sesaat, hingga kemudian ia kembali menatap Irene yang begitu cantik.

“Aku mencintaimu sayang.” Ucap Sehun, dan Irene mengangguk kemudian mendekatkan wajahnya pada Sehun.

Pria itu memejamkan matanya, saat bibir Irene mencium dan melumat bibir Sehun. Jangan tanya pada siapa Irene belajar hal ini, tentu dari kekasihnya ini. Semakin lama, Sehun yang sudah mendominasi permainan bibir mereka itu, menekan tengkuk Irene dengan tangan kanannya, dan semakin dalam mencium Irene. Menyusupkan lidahnya, seakan ia tidak peduli jika tubuhnya masih lemah. Irene ikut membalas lumatan Sehun yang semakin liar menciumnya.

Bahkan terdengar suara desahan kecil dari bibir Irene, yang membuat Sehun semakin gencar menciumnya. Saling memagut dan melumat, itulah kegiatan panas mereka.

Sret

Donghae yang baru masuk ke dalam melebarkan matanya ketika melihata adegan panas itu. Apalagi, saat tangan Sehun menurunkan cardigan Irene sedikit, dan mengusap punggung gadis itu.

“Uhuk Uhuk..” Donghae sengaja batuk. Namun sialnya, kedua orang itu tidak mendengarnya dan semakin asik melumat bibir masing-masing.

“Ekhm!” sekali lagi, Donghae hanya menjadi angina di sana. Karena Irene maupun Sehun sama sekali tidak mendengarnya bersuara. Apa terlalu nikmat?

“Permisi! Kurasam kesehatanmu lebih penitng dibanding kegiatan kalian di sini.” Kata Donghae yang sudah berdiri di samping ranjang Sehun.

Lantas kedua pasangan yang mendengar suara Donghae itu, langsung menyudahi kegiatan panas mereka. Irene terkejut, dan menaikkan cardigannya dengan wajah memerah, dan bibir membengkak. Sehun memutar matanya jengah menatap Donghae yang menganggu acaranya.

Irene masih duduk di ranjang Sehun, karena pria itu menyuruhnya untuk tetap di sana. Bahkan tangan kanan Sehun memeluk pinggang Irene, membuat Donghae mencibir pria itu. namun Sehun hanya tersenyum manis pada kekasihnya tanpa memperdulikan Donghae yang kesal.

“Bagaiman dengan fisioterapimu?” tanya Donghae.

“Baik, tanganku sudah bisa bergerak. Namun kakiku masih sulit. Apakah aku masih harus dirawat di rumah sakit? Aku sudah tidak betah hyung.” Kata Sehun sambil memainkan jemari Irene, namun wajahnya nampak frustasi menatap Donghae.

“Kau bisa pulang. Hanya saja kau harus rutin untuk melakukan fisioterapi, jika kau ingin kembali berjalan.” Kata Donghae menegaskan, dan Sehun mengangguk sambil menatap Irene yang tersenyum lega mendengarnya. Sehun sudah bisa pulang.

“Kapan tepatnya? Apa hari ini bisa?” Sehun menatap Donghae dengan senyum antusiasnya, dan Donghae menggeleng sambil menyentil kening Sehun.

“Aw!” Sehun meringis memegangi kepalanya, dan kemudian menatap Irene dengan rengekannya.

“Sakit sayang.” Ucap Sehun mengelus keningnya. Donghae berdecak pinggang, ia dongkol luar biasa pada pasien yang ia anggap adiknya sendiri itu.

“Yak! Aku hanya menyentilmu pelan! Kenapa manja sekali sih?!” bentak Donghae geram, namun Sehun tidak memperdulikannya, dan tetap bermanja-manja pada Irene.

Gadis itu mengelus kening Sehun, dan meniup-niup lembut. Dan berakhir mencium kening kekasihnya, Sehun tersenyum senang dan mengecup jemari Irene dengan gemas. Donghae ingin munta melihat aksi pria yang terlalu berlebihan itu rasanya.

“Maka dari itu, aku menyuruhmu untuk mencari istri. Agar kau tahu bagaimana caranya bermesraan!” kata Sehun mencibir, dan Donghae menjambak rambut Sehun membuat pria itu meringis kesakitan. Kali ini benar, Sehun kesakitan menerima perlakuan Donghae.

“Dasar bocah kurang ajar! Tahu begitu, aku menyuntikmu mati saja!” kesal Donghae dan langsung keluar dari kamar Sehun dengan menggeser pintu itu dengan keras. Irene menggeleng dan mencubit pipi Sehun.

“Kau tidak boleh begitu.” Kata Irene, Sehun masih mengelus rambutnya yang sakit.

“Di sini juga sakit sayang.” Kata Irene merengek meminta Irene mengusapnya. Dengan sabar, Irene mengusap rambut itu dan mencium puncak kepala Sehun.

“Di sini juga, sakit.” Kata Sehun menunjuk bibirnya, membuat Irene merona kemudian memukul lengan Sehun yang terkekeh.

“Mau melanjutkan yang tadi?”

“Kau belum makan Sehun, setidaknya makan dulu hm? Nanti kau bisa sakit.” Ucap Irene lembut.

“Setelah itu berciuman lagi?”

“Sehun!”

“Aku anggap itu sebagai jawaban, kau setuju. Baiklah, mana buburnya? Biar aku habiskan.” Ucap Sehun semangat, namun ia tidak tahu jika Irene tengah berdebar hebat sekarang.

.

.

Irene mendorong kursi roda Sehun memasuki rumah pria itu, ajhuma Han beserta keluarga besar mereka sudah menunggu di rumah Sehun. Sepertinya, pesta kecil akan menyenangkan untuk menyambut kepulangan pria Oh itu dari rumah sakit.

Sehun tersenyum senang melihat mereka berkumpul di rumahnya. Terasa ia memiliki keluarga yang hangat, ah bahkan ibu kandungnya berada di sana. Sehun mengembangkan senyumnya, ketika sang ibu memeluk Sehun dengan sayang.

Eomma.” Lirih Sehun hingga tanpa sadar ia menitihkan air matanya.

“Sayang, maafkan eomma baru bisa menjengukmu sekarang. Eomma adalah ibu yang buruk kan? Maafkan eomma Sehun-ah.”

“Tidak apa-apa eomma, aku sangat senang eomma ada di sini.” Kata Sehun tersenyum, kemudian melepaskan pelukan itu.

Ibu Sehun melirik Irene sekilas dengan senyuman tipis nan menggoda, Ibu Sehun melihat putranya yang hanya tersenyum malu.

“Dia calon menantuku?” tanya ibu Sehun, dan putranya itu mengangguk mantap.

“Siapa namamu sayang?”

“Irene nyonya.”

“Ey, panggil saja eomma, seperti Sehun hm?”

“Ne, eomma.” Ucap Irene tersenyum.

Mereka melanjutkan acar itu dengan makan bersama, tawa kebahagiaan menghiasi rumah itu. Bahkan Sehun yang tidak pernah tertawa lepas seperti itu, membuat orang-orang yang melihatnya ikut bahagia.

Ya, Sehun sudah bahagia sekarang. Tidak ada yang bisa memisahkannya dengan Irene lagi.

Drrt drrt..

Sehun yang asik mengobrol ceria bersama sahabat-sahabatnya itu merogoh sakunya, untuk mengambil ponselnya yang baru saja bergetar.

Sebuah pesan masuk dari Suho, Sehun baru ingat jika ia meminta Suho mencari siapa yang mengirim Irene pesan sialan itu. dengan cepat, Sehun membuka pesan itu.

From Suho : “Bisakah kita bertemu? Ini tentang nomor orang yang kau cari. Sepertinya, kekasihmu dalam bahaya.”

12

 

Wkwkwk, aku seneng baget baca komentar kalian, meskipun sekarang aku jarang bales. Ya itu semua karena ini bukan lapak pribadi aku, gak enak aja hehe. Tapi, aku selalu baca kok, aku gak pernah ngabaikan setiap komentar kalian.

So, tetap ninggalin jejak sehabis baca ya 🙂

Saranghae -,-

19 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Stay With Me Chapter 19”

  1. Seneng bacanya dan tau mereka udh bahagia,
    Tapi gak lama
    Adalagi masalah muncul….
    Emang sih kalo ceritanya panjang tp gak ada gregetnya itu agak gimana gt ya mungkin flat..
    Wkwkkw
    Semangat author, im waiting for your next project!!

  2. badai belum reda lagi… sebenernya bgus karna gk bkal cpt tamat /dgampar/ tpi pengen cepet2 liat hunrene bahagia…tpi …tpi…/dibunuhauthor/hihii
    keep writing ae lah tor fighting!!!!!!!!!!

  3. Nyesek dah pas diawal…terus ketawa2 pas hun udah sadar eh akhirnya sad lagi.Baru aja seneng udah dateng lagi masalahnya..Pokonya satuun sehun sama irene thor…
    Semangat buat kelanjutannya

  4. Aaahhh terharu liat Irene sama sehun bisa tersenyum bahagia lagii 😍 semoga bisa bahagia selamanya seperti mimpi sehun 😇 di tunggu next nya Thor 😘

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s