[EXOFFI FREELANCE] SHADOW (Chapter 6)

SHADOW

SHADOW  |

| Oh Sehun & Hwang Mora |

| Bae Irene, Huang Zitao |

| Angst x Drama |

| PG-17 | Chaptered |

2017 – Storyline by JHIRU H.

Seperti bayangan, kita selalu bersama.

Tetapi tidak dapat bersatu.

Prev : Prologue|1|2|3|4|5

*Hargai karya penulis dengan meninggalkan jejak di kolom comment

◦ ◘ ♯ ♯ ♯ ◘ ◦

Aku sedang membangun sebuah bendungan,

Dengan nama kenangan.

Dan melepaskan orang yang belum bisa kulupakan.

—×◦ shadow ◦×—

In Author’s Eyes . . .

“Mora tidak makan? Apa dia baik-baik saja?”

Seluruh atensi bersarang pada Kakek Sehun, sejak awal suasana makan siang di Keluarga Oh tidaklah terlalu baik. Sebelum Kakek Sehun memecah keheningan, tidak ada satupun dari mereka yang mengeluarkan suara atau mereka memang enggan mengungkitnya.

“Apa lukanya parah? Kupikir kita perlu membawa Mora ke rumah sakit,”

Sehun melirik Ibu Mora yang sejak tadi hanya diam, kini dia tahu dari mana ketenangan yang didapat oleh Mora jika gadis itu sedang menghadapi suatu masalah. Setelah dipikir-pikir, sifat ibunya dan Mora tidaklah berbeda jauh. Mereka sama-sama keras kepala dan sangat disiplin pada diri sendiri, darah sungguh kental.

“Dia hanya memar, tidak perlu membawanya ke rumah sakit. Mora hanya butuh istirahat,”

“Tapi sepertinya dia tidak baik-baik saja,”

Akhirnya, Sehun mengeluarkan pendapatnya. Sejak kemarin, dia begitu khawatir dengan keadaan Gadis Hwang itu. Tapi Mora begitu keras kepala tidak ingin ke rumah sakit. Begitu tiba di rumah, gadis itu langsung masuk ke kamar dan hingga sekarang Sehun belum melihatnya sama sekali.

Ibu Mora menghela napas, beliau tahu bahwa keadaan anak gadisnya tidak begitu baik.

“Dia tidak suka rumah sakit dan begitu keras kepala tidak ingin pergi ke sana, aku tidak mau memaksanya. Itu hanya akan membuat Mora tertekan, biarkan saja dia beristirahat.”

Ah, satu lagi yang Sehun ketahui mengenai Mora. Dia tidak suka rumah sakit, pantas saja kemarin gadis itu berteriak marah ingin pulang.

“Sehun, hari ini kau tidak boleh menganggu Mora. Jangan mengusiknya dan jangan membuat keributan,” ujar Kakek Sehun memberi peringatan.

“Kau bisa menemuinya saat sore hari atau malam nanti, kupikir dia akan jauh lebih baik jika ada teman yang mengajaknya bicara.”

Sehun tertegun mendengar ucapan mantan Ny. Hwang itu, dipikirnya Ibu Mora hanya bisa memaksakan kehendaknya tanpa peduli keadaan anaknya. Ini sungguh diluar dugaan.

“Jika memungkinkan, besok aku akan mengambil cuti. Kupikir, aku akan menemani Mora di rumah saja.”

“Kau sudah menghubungi sekolah?”

Ibu Mora hanya mengangguk mendengar pertanyaan dari Kakek Sehun. Lalu entah kenapa, Sehun menjadi malas untuk pergi sekolah dan berangkat les besok. Dipikirnya, apa dia membolos saja besok.

“Baiklah, kalau begitu aku akan pergi sekarang. Hari ini, ada klien yang harus kutemui.”

Kakek Sehun pergi meninggalkan meja makan, hanya Sehun serta Ibu Mora yang ada di sana.

“Apa terjadi sesuatu? Selain perkelahian Mora dan Irene,”

“Tidak, tidak ada. Seteleh mereka bertengkar, Mora langsung masuk ke mobil dan kami pulang ke rumah.”

Ibu Mora tampak tak percaya, beliau hanya diam dan sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Sehun pun enggan melanjutkan konversasi, dia tak bersuara dan hanya melanjutkan acara makannya.

“Sehun, jika hal ini terjadi lagi kau harus membawanya menjauhi tempat kejadian. Lalu, jauhkan benda-benda berbahaya dari Mora.”

Sehun menatap bingung, dia tidak mengerti atas ucapan Mantan Ny.Hwang itu. Memangnya, apa yang akan terjadi pada Mora? Apa gadis itu mempunyai penyakit? Apa penyakitnya parah? Adakah cara untuk menyembuhkannya? Berbagai pertanyaan berputar di pikirannya, tetapi satupun tak bisa diucapkannya. Sehun terlalu terkejut dan bingung.

“Melihatmu kebingungan, pasti Mora belum mengatakan apapun. Aku bisa saja memberitahumu, tapi akan lebih baik jika dia memberitahukannya sendiri.”

“Apa Mora belum sepenuhnya percaya padaku?”

Ibu Mora hanya menatap iba pada Sehun, beliau tahu bukan itu alasannya. Ini bukan tentang kepercayaan. Hanya saja, anak gadisnya itu tidak ingin orang lain tahu mengenai kelemahannya.

“Aku akan menunggu hingga Mora memberitahukannya, tapi bibi jika anda memang peduli pada Mora. Kenapa anda melarang Mora melakukan hal yang disukainya? Dia begitu menyukai astronomi,”

“Dia hanya menyukai astronomi, tak lebih dari itu. Mora tidak sungguh-sungguh melakukan apa yang dia inginkan, Sehun. Aku ibunya, dan aku tahu itu.”

Sehun tertegun, Mora benar-benar orang yang rumit. Terlalu banyak hal yang disembunyikannya, apa sejak dulu dia memang orang yang seperti itu? Sungguh sangat sulit untuk memahaminya.

Pada akhirnya, hanya ada Sehun dan Mora yang berada di rumah. Ibu Mora pergi mengurus pekerjaannya agar besok beliau mempunyai waktu kosong. Sejujurnya, mereka tak benar-benar tinggal berdua di rumah. Ada beberapa pengurus rumah dan Pak Lee, tapi mereka sibuk dengan pekerjaannya sendiri.

Lalu, Sehun yang mendekam sendirian di dalam kamar. Dulu, sebelum Mora datang, Sehun akan menghabiskan waktu liburan dengan pergi keluar bersama teman-temannya atau bermain game seharian di rumah dan pada sore hari dia akan membawa vivi, anjing kesayangannya untuk pergi jalan-jalan.

Tapi semua itu, tidaklah menarik lagi bagi Sehun. Menghabiskan waktu bersama Mora, jauh lebih menyenangkan. Sehun tak pernah menyukai membaca buku, tetapi saat Mora sibuk dengan tumpukkan buku tentang perbintangan. Sehun akan mendekat dan ikut membaca, karena mempelajarinya bersama Mora akan terasa lebih menarik.

Sehun tidak suka pergi ke tempat bimbingan belajar, dia bahkan malas belajar di sekolah. Tetapi Mora membuatnya lebih bersemangat dan kompetitif dalam belajar. Meski Sehun selalu mendapatkan kata bodoh dari Mora, dia tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Ada banyak hal yang sudah berubah dan Sehun menyukainya, walaupun awal pertemuan mereka tidak terlalu baik. Sehun harap, pada akhirnya hubungan mereka membaik dan benar-benar menjadi keluarga.

Entah sudah keberapa kali, mata itu melirik jam yang berada pada dinding kamarnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore dan Sehun hanya termenung menatap layar monitor, dia ingin melihat keadaan Mora tapi Sehun takut menganggu gadis itu. Dengan malas, Sehun melangkah menuju kamar mandi. Dipikirnya dengan mandi akan membuat pikirannya lebih segar.

Sehun salah, mandi tak membuat perbedaan apapun. Dia tetap saja khawatir dan gelisah, sedangkan Sehun tak punya keberanian untuk menemui Mora. Pemuda itu hanya berseliweran di depan kamar Mora, tanpa berani masuk ataupun mengetuk pintu kamar.

“Tuan Muda, apa yang sedang anda lakukan di sini?”

Langkah kakinya berhenti, Sehun menatap Bibi Ahn yang membawa beberapa kue dan susu. Ah, itu pasti akan diberikan pada Mora. Sehun mengambil alih nampan yang dibawa Bibi Ahn dan menawarkan diri untuk memberikan pada Mora, pengurus rumah itu hanya mengangguk setuju menurut pada Tuan Mudanya.

Sedikit gugup saat mendekati pintu kamar, lalu Sehun mengetuk pintu dan memanggil Mora. Tidak ada jawaban dari dalam, membuat Sehun ragu untuk menerobos masuk. Mengabaikan rasa ragunya, Sehun membuka pintu dan masuk begitu saja.

Tidak ada. Sehun tidak melihat keberadaan gadis itu, dia masuk lebih dalam dan meletakkan nampan yang dibawanya pada meja kecil.

‘Cklek’

Mora keluar dari balik pintu kamar mandi, rambutnya masih basah. Sehun melirik tangan kanan Mora yang membawa pengering rambut, sepertinya gadis itu baru saja sudah mandi.

“Aku membawakan kue untukmu,”

Hanya anggukkan yang didapat Sehun sebagai jawaban, Mora datang mendekat dan memandang curiga pada Sehun.

“Lalu?”

Sehun mengernyit bingung, apa maksudnya? Lalu? Lalu apa?

“Lalu?” ulang Sehun.

“Maksudku, lalu apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kau sudah meletakkan kuenya,”

“Oh itu, Hmm… aku membeli beberapa buku astronomi, jika kau mau kita bisa membacanya bersama.”

“Ooh,”

Mora berjalan mendekati tempat tidurnya dan mencolokkan pengering rambut pada aliran listrik, Sehun sendiri hanya diam di tempat tanpa melakukan apapun. Dia bingung, Mora menyetujui tawarannya atau tidak.

“Kenapa kau masih di sini? Kau tidak mengambil buku-bukunya?”

Begitu mendengar jawaban dari Mora, Sehun segera berlari keluar kamar dan mengambil beberapa buku yang kemarin dibelinya. Secepat mungkin, pemuda itu kembali ke kamar Mora.

Sehun meletakkan buku-buku yang dibawanya pada lantai karpet kamar Mora, dia memandang Gadis Hwang itu yang masih sibuk dengan rambutnya.

“Mau kubantu?”

“Apanya?”

“Mengeringkan rambutmu,”

Sejenak, Mora memandang Sehun. Dia tak mengeluarkan ekspresi apapun, hanya memandang Sehun tepat di matanya. Lalu, Sehun sendiri tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

“Baiklah,”

Mora menyerahkan pengering rambut pada Sehun, lalu pemuda itu mengambilnya dan duduk di atas tempat tidur. Sedangkan Mora, dia duduk di lantai yang sudah dilapisi karpet samping tempat tidur.

Sehun menyentuh rambut Mora, dia mulai mengeringkan rambut Gadis Hwang itu. Samar-samar, tercium aroma buah peach.

“Apa kau menyukai aroma buah peach?”

“Tidak juga, kenapa? Kau bisa mencium wangi sampo-nya? Ini peach blossom,”

“Hmm, iya.”

Sejujurnya, Sehun sedikit bingung. Jika Mora tidak menyukai  wangi peach, kenapa gadis itu memakainya? Dia pikir, tidak mungkin seorang Hwang Mora tidak mampu membeli sampo atau jika gadis itu mau, Mora bisa memberi tahu pada Bibi Ahn untuk mengganti samponya.

“Lalu, kenapa kau memakainya? Kau bisa minta Bibi Ahn untuk menggantinya,”

“Minhyun oppa sangat menyukai aroma ini. Lagipula, aku kan tidak bilang benci aroma ini.”

Oh baiklah, Sehun pikir mungkin Mora hanya ingin mengingat kakaknya.

“Lalu, sampo aroma apa yang kau sukai?”

“Orange, aku menyukai wangi itu.”

“Aku akan membelikannya, jadi kau harus memakainya. Kau tidak perlu menggunakan sampo dengan wangi peach itu lagi,”

Mora menganggukkan kepalanya, tanda bahwa dia menyetujui usul dari Sehun.

Tuan Muda Oh itu mematikan alat pengering rambut dan mencabutnya dari aliran listrik, sedangkan Mora memeriksa rambutnya.

“Kupikir tidak ada hal yang bisa kau lakukan, ternyata kau bisa juga melakukan sesuatu.”

“Hey, apa kau pikir aku ini bodoh dan tidak berguna? Kau lupa? Hadiah untuk ayahmu, aku yang memilihkannya.”

Mora memutar kedua matanya jengah, dia berjalan mendekati tumpukkan buku yang tadi dibawa Sehun. Lalu mengambil salah satu buku dan duduk santai sambil membuka halaman secara acak, Sehun mengikutinya sambil membawa kue yang tadi dibawanya dan meletakkan tidak jauh dari mereka duduk.

Sehun mengambil beberapa kue dan memakannya, mata pemuda itu memperhatikan Mora yang mulai fokus pada bukunya.

“Apa dahi dan pipimu masih sakit?”

Gelengan kepala adalah jawaban atas pertanyaan Sehun, Mora sama sekali bergeming dan tetap fokus membaca.

“Apa perlu mengompresnya lagi? Aku akan membantumu, jika itu diperlukan.”

“Tidak perlu, tadi aku sudah mengompresnya.”

Gadis Hwang itu tetap pada atensinya membaca buku, dia sama sekali tidak terganggu dengan tatapan Sehun ataupun pertanyaan yang diajukan oleh Pemuda Oh itu.

“Kau pasti sangat menyukai Astronomi, bahkan mengambil Cambridge sebagai universitas pilihanmu.”

“Tidak juga, aku hanya sedikit tertarik dengan perbintangan.”

Sehun tertegun, lalu dia lebih mendekat pada Mora. Diturunkannya buku yang sejak tadi dibaca gadis itu, Sehun mendapatkan atensi dari Mora.

“Lalu kenapa kau jauh-jauh sekolah ke Inggris? Sebenarnya, apa yang kau inginkan?”

Mora memicingkan matanya menatap heran, kenapa Sehun begitu cerewet sih? Pemuda Oh itu selalu ingin tahu dan menginvestigasi Mora dengan berbagai pertanyaan. Apa tidak ada hal lain yang menarik minatnya, selain mengganggu Mora dan terus menyuruhnya untuk melakukan ini-itu.

“Oh Sehun, apa kau tahu? Kau begitu cerewet sekali, berhentilah terus mengangguku. Hampir setiap aku melihat wajahmu, pertanyaan selalu keluar dari mulutmu.”

“Aku hanya ingin lebih tahu tentangmu, kau juga bisa menanyakan hal yang sama padaku. Aku akan menjawabnya dengan senang hati,”

Lihat, Mora tahu bahwa Sehun memiliki berbagai alasan untuk menjawabnya.

“Sayangnya, aku tidak ingin tahu apapun tentangmu.”

“Kalau begitu, aku sendiri yang akan menceritakan tentang diriku padamu. Jadi, apa cita-citamu?”

Mora menghela napas dan menatap malas Sehun, dia meraih buku yang tadi diletakkan oleh Sehun di lantai. Mora kembali membuka buku itu sambil mencari halaman yang tadi dia baca.

“Dokter, aku ingin menjadi dokter. Tapi ada beberapa hal yang membuatku tidak bisa mengambil profesi itu,”

“Apa? Apa alasannya?”

Gadis itu diam sesaat, memikirkan apa Sehun harus tahu atau tidak.

“Pertama, karena aku orang gila.”

Sehun tertawa mendengarnya, apa Mora sekarang sedang bercanda? Alasan macam apa itu? Tidakkah gadis itu memiliki alasan yang lebih baik daripada ini. Sehun menghentikan tawanya dan kembali fokus pada Mora.

“Kalau kau gila, harusnya kau berada di rumah sakit jiwa.”

Mora hanya mengangkat kedua bahunya tanda bahwa dia tidak peduli, sama sekali tak menggubris tawa atau ucapan Sehun. Matanya tetap tertuju pada buku yang dipegangnya.

“Kedua, karena aku tidak suka darah. Lalu ketiga, aku ingin mewujudkan impian kakakku.”

Tuan Muda Oh itu menganggukkan kepalanya, tanda dia mengerti dan baru saja tahu bahwa Mora tidak menyukai darah. Tapi tunggu, alasan ketiga karena kakaknya. Itu berarti, Mora tidak benar-benar menyukai astronomi. Apa ini maksud dari ucapan Ibu Mora?

“Tapi, kau harus melakukan hal yang sungguh-sungguh kau inginkan. Kau tetaplah dirimu, Mora. Aku tahu, kau begitu menyayangi kakakmu. Tapi bukan begini caranya,”

Itu benar, Sehun sama sekali tidak menyukai Mora yang memaksakan diri melakukan hal yang tidak disukainya. Seperti aroma sampo yang gadis itu gunakan, kenapa Mora harus menggunakan sampo itu, jika dia menyukai aroma orange. Begitu pula dengan jurusan dan universitas pilihannya, bukankah ini hidupnya sendiri.

“Aku sudah bilang kan, bukan berarti aku tidak menyukai aroma peach ataupun astronomi. Hanya saja, itu seperti opsi keduaku.”

“Kenapa kau selalu memberi alasan? Kau selalu saja mengelak,”

Mendengar ucapan Sehun, Mora membanting buku yang sejak tadi dia lihat. Gadis itu menatap tajam pada Sehun.

“Kau sendiri, berhentilah menyuruhku untuk melakukan ini dan itu!”

“Aku tidak memaksamu, aku hanya ingin kau melakukan apa yang kau mau lakukan. Hanya itu,”

Mora diam dan merenungkan ucapan Sehun, Mora pikir tak seharusnya dia marah dan berteriak pada Sehun. Kenapa emosinya akhir-akhir ini sangat tidak stabil? Ukh, entah kenapa Mora sekarang merasa bersalah pada Sehun.

“Maaf, aku tidak bermaksud untuk berteriak padamu.”

Sehun tersenyum melihat Mora yang menundukkan kepalanya, dia bisa melihat Mora yang merasa bersalah karena sudah marah padanya. Ini lucu, Sehun tak pernah merasa marah saat gadis itu menyindirnya ataupun mengejeknya bodoh. Karena dia pikir, Mora tak sungguh-sungguh pada ucapannya. Malah, Sehun cukup menyukai ekspresi Mora ketika gadis itu mulai mengomel atau merasa bersalah padanya. Yah, memang benar dulu Sehun sempat marah dengan semua sindiran Mora. Tapi itu dulu, sebelum Sehun cukup mengenal Mora.

“Tentu saja, aku tahu kau tidak bermaksud marah padaku. Ini minum dulu,”

Sehun memberikan susu yang tadi dibawanya, Mora mengangkat kepalanya dan mengambil gelas dari tangan Sehun. Tapi gadis itu mengernyit heran dan hanya memandangi gelas yang berada di tangannya.

“Kau meminumnya?”

Ah, Sehun tidak sadar sudah meminumnya. Isi gelas itu hanya tinggal seperempat, Mora melirik kue yang tidak jauh dari mereka duduk. Bahkan, kue-kue itu hampir habis. Sehun memakan dan meminum semuanya.

“Entah kenapa, aku jadi mengantuk.”

Sehun mengabaikan pertanyaan Mora, dia merebahkan tubuhnya di atas karpet. Berbalik, memunggungi Mora yang sekarang menatapnya tajam.

“Tentu saja, kau mengantuk setelah memakan semua kue-kue itu. Kau kan ayahnya vivi, anjing itu juga akan tertidur setelah makan.”

Tidak ada jawaban, Sehun berpura-pura tidak mendengar ucapan Mora. Gadis itu berdiri dengan kesal dan melemparkan bantal kamarnya, itu tepat mengenai kepala Sehun. Tapi Sehun tetap diam tak bersuara.

“Aku akan turun ke bawah mengambil minum,”

Sehun mendengarnya, langkah kaki Mora yang perlahan menjauh. Dia membuka mata dan mengelus kepalanya, lemparan Mora cukup membuat kepalanya sakit. Pemuda itu meraih bantal yang tadi dilemparkan Mora. Entah kenapa, sekarang dia sungguhan mengantuk.

×◦◦×

In Mora’s Eyes . . .

“Apa seseorang akan datang? Kenapa banyak sekali bahan makanan?”

Satu persatu plastik yang berada di atas meja dapur kuperiksa, begitu banyak bahan-bahan untuk membuat kue. Ini aneh, tidak biasanya Bibi Ahn membeli begitu banyak bahan makanan.

“Tidak, nona. Ny. Besar yang membelinya untuk dibuat besok bersama nona, beliau mengambil cuti agar dapat menemani nona.”

“Ibu mengambil cuti? Itu berarti besok aku tidak sekolah, ASSA!”

Bibi Ahn terkejut melihatku berteriak senang. Refleks tanganku menutup mulutku sendiri. Oh astaga, ini sudah malam dan aku berteriak.

“Ini susu untuk nona,”

Aku meraih gelas yang Bibi Ahn berikan dan meminumnya.

“Saya pikir meski nona sedang demam sekalipun, anda akan tetap pergi ke sekolah. Ternyata, anda sama saja dengan tuan muda Sehun.”

Kutaruh gelasku di atas meja dan memandang tidak setuju atas ucapan Bibi Ahn. Itu benar bahwa aku senang tidak perlu masuk sekolah, tapi ini semua karena memar di wajahku bukan karena aku malas atau apa. Lagipula, aku berteriak senang bukan karena itu saja. Besok ibuku akan seharian di rumah, itu berarti aku bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengannya.

“Bibi Ahn, jangan sama kan aku dengan Tuan Muda cerewet itu. Dia sih memang pemalas,”

“Tapi akhir-akhir ini, sepertinya Tuan Muda lebih bersemangat pergi ke sekolah. Bahkan, bersedia ikut bimbingan belajar,”

“Benarkah? Mungkin, karena aku sudah terlalu sering mengejeknya bodoh dan mengatakan nilainya sangat parah, tak bisa terselamatkan lagi.”

Bibi Ahn tertawa geli sambil mengangguk setuju. Wah, aku harap Sehun tidak mendengar percakapan kami dari atas sana. Sejujurnya, nilai Sehun tidak separah itu. Setidaknya, dia masuk limapuluh besar peringkat atas di sekolah.

“Saya tidak tahu, anda lumayan banyak bicara dan lucu. Anda harus sering keluar, jangan berdiam diri terus di dalam kamar. Saya akan sangat senang, jika anda bersedia sering mengobrol seperti ini dengan saya.”

“Oh benarkah? Aku juga lebih senang mengobrol dengan Bibi Ahn daripada mendengar ocehan Sehun. Apa Sehun tidak pernah mengajak bibi mengobrol?”

“Tuan Muda lebih senang berbicara dengan Vivi, karena kami sering meledeknya. Apalagi, jika ada Tao.”

Aku tersenyum geli mendengarnya. Ah pantas saja, setiap Tao menjaga kami, Sehun akan mulai mengoceh dan mengatakan bahwa betapa risihnya dia ketika Tao terus mengikuti kami. Wah, Sehun dikelilingi orang-orang yang menyenangkan. Lalu, kenapa dia sendiri seperti itu? Terlalu cerewet dan senang sekali menyuruh ini-itu.

“Bibi, sepertinya aku sudah terlalu lama meninggalkan Sehun. Aku kembali ke atas dulu, terima kasih atas minumannya.”

Sebelum kembali ke atas, aku menghabiskan terlebih dahulu minumanku. Lalu, sedikit terburu-buru aku berjalan menuju kamar. Saat pintu kamar terbuka, kulihat Sehun yang sedang berbaring di atas karpet. Apa dia benar-benar tertidur?

“Sehun, Oh Sehun!”

Aku mendekat dan berjongkok di hadapannya, melihat napasnya yang teratur sepertinya dia benar-benar tertidur. Belum juga, tigapuluh menit aku meninggalkannya. Dia sudah tertidur pulas, kau sungguh pemalas. Oh Sehun.

Karena kakiku mulai keram, akhirnya aku benar-benar duduk di hadapannya. Kuguncang sedikit lengannya, berniat menyuruh Sehun pindah ke kamarnya sendiri. Tapi kuhentikan niatku, tidak ada salahnya kubiarkan Sehun tidur sebentar di sini.

Kuraih buku yang tadi sempat kutinggalkan, membuka halaman secara acak. Ukhh, kenapa juga aku terus memperhatikannya? Fokus Mora, aku mencoba berkonsentrasi pada buku yang berada di hadapanku. Tapi mataku terus mencoba mengintip Sehun yang sedang tertidur di sana, melihat seseorang yang tertidur bukan tindakkan krimininal kan?

Kuletakkan buku di lantai dan mendekatkan diri melihat Sehun, aku tidak melakukan sesuatu yang salah, bukan? Ini bukan pelanggaran hukum, aku hanya ingin melihatnya. Oh ya ampun, kenapa Sehun begitu mempesona? Bibirnya begitu mungil. Bulu matanya memang tidak panjang dan lentik tapi ketika Sehun tersenyum, mata itu akan terlihat begitu lucu membentuk bulan sabit.

“Kau sungguh membuatku gila, Oh Sehun.”

Tak seharusnya, aku begini. Kenapa sangat sulit untuk mengabaikanmu? Aku tak pernah berniat mengenalmu lebih jauh, situasi ini sungguh diluar dugaan. Aku tidak tahu, ini sebuah keberuntungan atau sebuah malapetaka untukku.

“Oh Sehun, apa yang harus kulakukan?”

Sejak awal, aku tak pernah berharap apapun. Itu akan sangat menyakitkan, jika nanti aku kecewa. Tapi kau membuatnya menjadi lebih sulit, aku harus bagaimana? Terus berada di dekatmu membuatku semakin tenggelam. Aku harus melupakanmu, Oh Sehun.

“Aku harus melepaskanmu,”

Ada begitu banyak alasan, kita tidak bisa bersama. Point utamanya adalah perasaanmu sendiri, aku tahu tak ada tempat untukku. Karena itu aku harus melepaskan genggaman tanganmu, orang yang tak mampu kumiliki, tetapi sangat berarti untukku. Pada akhirnya, aku harus melepaskanmu. Seseorang yang tak mampu ku jaga dan aku lupakan, Oh Sehun.

—×◦ to be continued ◦×—

Menyedihkan, ini menyedihkan.

Dengan angin yang berhembus,

Aku menutup mataku bersamaan dengan hatiku.

◦ ◘ ♯ ♯ ♯ ◘ ◦

JHIRU’s Note :

Terima kasih sudah membaca fanfic ini hingga habis.

Dan please pakai banget-nget-nget, jadilah pembaca yang baik dan menghargai karya tulis penulis dengan meninggalkan jejak di kolom comment. Itu berarti banget buat ane. Sekian dan terima kasih ^^

 

 

 

 

22 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] SHADOW (Chapter 6)”

    1. mmng nyesek amat hdupnya Mora, mana si Sehun prnah suka sma Irene pula (kakak tirinya). thank u ats smngatnya, ditunggu chapter brikutnya y ><

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s