[EXOFFI FREELANCE] Reason Why I Life – Chapter 20 (END)

REASON WHY I LIFE

Tittle/judul fanfic                    : Reason Why I Life

Author                                     : Park Rin

Length                                     : Chaptered

Genre                                      : Romance, Family, Angst

Rating                                     : PG-13

Main Cast&Additional Cast   : Baekhyun

Park Sung Rin (OC)

Mingyu Seventeen

All EXO’s Members

Ect.

Summary                                 : Saat kau hanya memintaku untuk bersamamu. Aku bahkan tak mampu untuk mengabulkannya.

Disclaimer                               : FF ini murni buatan author sendiri. Ada beberapa cerita yang mengisnpirasi author dalam membuat karakter disini. Namun, jalan cerita dan alur cerita murni buatan author sendiri. FF ini juga bisa kalian temukan di akun wattpad milik author. Id author @ParkRin98. Baca juga di blog milik author https://parkrin98.wordpress.com/

 

Rin tersenyum kecut, matanya menatap jauh kedepan. “Aku juga berharap akan jadi seperti itu.” Bisiknya sedih. Sebuah bisikan yang bisa sampai di telinga Mingyu, sebuah bisikan yang membuat hatinya berubah remuk.

***

Suasana latihan hari ini terasa begitu melelahkan bagi Baekhyun meskipun latihan baru berjalan tiga puluh menit. Beberapa kali Baekhyun kehilangan fokus dan tertinggal beberapa gerakan. Bibir lelaki itu hanya mengatakan maaf sambil mengacak rambutnya saat ia melakukan kesalahan, dan member lain hanya bisa mendengus mendengar permintaan maaf Baekhyun.

“Kita istirahat 15 menit,” ucap Suho setelah ikut frustasi dengan keadaan sekarang. Mereka bahkan belum menyelesaikan satu lagupun.

Suho mengambil dua buah botol air mineral dari lemari pendingin, kemudian mendekati Baekhyun yang duduk di pojok ruangan.

“Apa yang mengganggumu?” tanya suho sambil menyerahkan air dingin tersebut.

Baekhyun mengambil botol itu, lalu membukannya. “Aku bertengkar lagi,” kata Baekhyun kecil, kemudiam menenggak air minum itu. “Tapi, pertengkaranku kali ini terasa aneh,” tambah Baekhyun lagi.

“Maksudmu?”

“Kau tahu kan, hyung. Aku memang sering bertengkar dengan Rin karena ia selalu mengatakan hal-hal aneh,” ujar Baekhyun yang di jawab anggukan dari Suho. “Tapi tadi, Rin marah padaku dengan sangat berebeda. Ia meninggalkanku tidur setelah kita bertengkar, ia bahkan tidak mau membuka pintu kamarnya setelah aku mengetuk pintunya beberapa kali. Terakhir kali ia marah sebesar ini adalah saat skadalku dan Taeyeon noona. Setelah itu, semarah apapun Rin padaku ia tidak pernah meninggalkaku seperti itu.”

Suho mengangguk, ia sedikit paham tentang apa yang dirasakan adiknya.

“Kurasa…”.

Saat Suho akan mengeluarkan kalimatnya, tiba-tiba ponsel Baekhyun ordering. Lelaki itu segera mengambil ponselnya, membuat Suho terdiam sebentar memperhatikan rekannya menelepon.

Suho merasa ada yang salah dengan telepon itu, karena setelah Baekhyun mengangkatnya lelaki itu sama sekali tidak mengucap kata apapun lagi. Matanya menatap kosong dan wajahnya memucat. Suho bingung, saat hendak meraih bahu Baekhyun, tiba-tiba saja lelaki itu menoleh.

Hyung, aku harus pergi,” katanya singkat, dengan tatapan yang sangat sulit ia cerna dan tanpa Suho memberikan ijin, Baekhyun pergi meninggalkannya.

“Ada apa dengan Baekkie, hyung?” tanya Chanyeol yang sendari tadi hanya memperhatikan mereka di seberang sana.

“Entahlah, chan… tapi, aku merasa akan terjadi sesuatu yang tidak baik,” ucap Suho memandang jaket hitam yang tergantung di sebelah pintu.

***

 

Baekhyun terus berlari meskipun dingin itu menusuk kulitnya. Baekhyun melupakan jaketnya. Sesekali ia mendengar beberapa gadis berteriak memanggil namanya, namun itu sama sekali tidak ia pedulikan. Satu-satunya hal yang ia pedulikam adalah cara untuk mencapai rumah sakit dengan cepat. Ia bahkan menabrak orang-orang disekitarnya, hingga terdengar umpatan-umpatan kasar untuknya, sesekali Baekhyun juga terjatuh karena tidak memperhatikan jalan di sekitarnya.

Hyung, cepat datang ke rumah sakit! Rin koma,” ucapan itu adalah ucapan terakhir yang Baekhyun dengar sebelum akhirnya ia menjadi seperti ini.

Kaki lelaki itu memasuki bangunan putih itu, tanpa sadar tangannya kini berubah gemetar. Langkahnya mulai memelan, matanya menoleh kiri dan kanan mencoba menemukan lelaki tinggi yang meneleponnya tadi.

Baekhyun tidak menemukan orang itu di UGD, kemudian langkah Baekhyun tanpa canggung berjalan menuju ruang ICU. Entah mengapa Baekhyun menjadi sangat familiar dengan gedung ini.

Lelaki itu terus menerus berdoa, berharap tidak menemukan lelaki itu disini. Baekhyun harap telingannya tadi salah mendengar. Ia sangat tidak berharap bisa menemukan lelaki itu disini, diruangan menakutkan ini.

Namun, sepertinya semua itu hanya harapan saja. Dada Baekhyun berubah makin menyesak saat menemukan lelaki tinggi dengan jaket hitam panjang berdiri di depan sebuah ruangan. Kepalanya sedikit tertunduk dan bahunya gemetar, hal yang membuat Baekhyun makin ketakutan.

Hyung?” ucap lelaki itu setelah menyadari keberadaan Baekhyun disana.

“Apa yang terjadi, Ming?” Tanya Baekhyun takut.

Mingyu memandang ke atas, ia berusaha menahan air matanya yang sudah siap meluncur lagi.

“Tadi, setelah aku memberikan Rin obat, dia tidur. Aku kemudian pergi untuk memasak dan membersihkan rumah. Setelah itu, aku kembali untuk membangunkannya, tapi Rin tidak bangun. Ia tidak bernafas.” Kata Mingyu gemetar. “Kata dokter, kankernya sudah menyebar ke alat vitalnya. Ia bahkan tidak bisa menjamin apakah Rin bisa bertahan hingga besok atau tidak,” Tambah Mingyu, kemudian terdengar kembali isak tangisnya.

Seketika telinga Baekhyun berdenging, pikirannya berubah kosong. Kakinya melemas, matanya panas. Baekhyun ingin menangis juga.

Hyung, bukankah sebaiknya kita ikhlaskan Rin pergi? Aku merasa kasihan dengannya. Ia terus menerus mencoba bertahan meskipun ia tersiksa,” ucap Mingyu yang tengah duduk memandang lantai putih rumah sakit.

Baekhyun terdiam, kepalanya masih kosong. Pikirannya bercampur aduk.

“Aku sekali kasihan padanya, hyung. Tiga tahun lalu, aku masih sangat ingat ia tersenyum ceria dengan daging panggang di depannya. Ia makan begitu lahap, hingga bibir nya belepotan sambal. Tapi, ia hanya menatapku sambil tertawa, kemudian berkata bahwa dagingnya sangat enak,” Mingyu terdiam sebentar, berusaha menahan air matanya lagi. “Setelah makan dengan lahap, Rin kemudian langsung berbaring di kasurnya sambil mengelur perutnya yang kekenyangan. Aku sangat ingat waktu itu aku mengejeknya “Babi” karena ia makan banyak dan setelah itu langsung ingin tidur, dan Rin malah tertawa lepas,” Mingyu kembali terdiam. “Tapi, sekarang aku bahkan tidak bisa melihat senyuman itu. Bahkan untuk memakan satu suap bubur saja, Rin sangat tersiksa. Setelah itu, ia bahkan tidak bisa merasakan perut kenyangnya setelah makan, karena ia akan memuntahkan kembali isi perutnya.”

Hyung… bukankah menahan Rin terlalu lama hanya akan membuatnya makin tersiksa?” Tanya Mingyu nanar. Air matanya kembali meluap.

Baekhyun terdiam… ia menatap kosong lantai putih di bawahnya. Bayangan Rin yang tersenyum cerah tiga tahun lalu kembali datang. Gudah seketika mendatanginya, Baekhyun tidak rela melepaskan gadisnya, tetapi ia tidak mungkin membiarkan gadis itu menderita lebih lama lagi.

Hyung… aku tahu kau tidak rela. Tapi, kita tidak bisa terus menerus membiarkan Rin menderita. Setidaknya jangan tahan dia jika dia memang ingin pergi,” ucap Mingyu lagi sambil menggenggam bahu hyung-nya itu.

Baekhyun memejamkan matanya. Ia tidak bisa… sungguh ia tidak bisa.

Hyung… bila benar kau mencintai adikku, jangan membuatnya makin tersiksa. Selama hidupnya adikku sudah banyak menderita. Aku tidak ingin ia menderita lagi karena penyakit yang ia alami ini. Bukannya aku ingin menyerah, hyung. Aku sangat ingin Rin sembuh, tapi jika melihat kondisinya sekarang…” Mingyu menghentikan ucapannya sebentar. Tangannya mengusap air mata di pipinya.

“Biarkan dia memilih jalannya dengan tenang dan tanpa paksaan. Aku ingin melihatnya bahagia. Hyung… ingat mencintai bukan berarti dia harus tetap tinggal disisimu selamanya. Kau harus membiarkan orang yang kau cintai bahagia,” Ucap Mingyu final. Ia menggosok bahu Baekhyun pelan, kemudian meninggalkan laki-laki itu di tengah gundahnya.

Baekhyun terduduk di bangku itu. Matanya masih kosong, pikirannya bercampur aduk. Ia tidak rela… sangat tidak rela… tapi yang di katakan Mingyu benar. Ia tidak bisa membiarkan kekasihnya memilih jalan yang makin membuatnya menderita.

***

Suara mesin-mesin itu seakan menjadi alunan musik bagi Baekhyun yang tengah menatap kekasihnya sedih. Tangannya mecoba menggenggam dengan baik jari ringkih disana, seakan menyalurkan kekhawatiran yang tengah dirasakannya.

“Hei, Rin… Apa yang kau inginkan sekarang?” tanya Baekhyun pada kekasihnya yang memejamkan mata.

“Sudah dua hari kau tidur seperti ini tanpa ada kejelasan. Apakah kau akan bangun atau tidur lebih lama lagi?” Lelaki itu mengusap punggung tangan kekasihnya, berharap mendapatkan jawaban dari kekasihnya.

“Dua hari yang lalu, Mingyu mengatakan sesuatu yang menurutku begitu berat. Ia memintaku untuk melepaskanmu, aku harus membiarkanmu memilih jalan yang bisa membuatmu tidak tersiksa lagi.” Ucapnya lagi. “Jujur… aku masih bingung apa aku harus membiarkanmu atau tidak. Tiga tahun bersamamu membuatku sulit untuk melepaskanmu. Aku ingin selalu bersamamu dan melihatmu bahagia.”

“Namun, sepertinya aku salah… pilihanku untuk ingin selalu bersamamu rasanya benar-benar salah. Aku tahu, kau sangat terbebani dengan apa yang aku inginkan bukan? Dua hari lalu, dokter mengatakan bahwa ia tidak bisa menjamin bahwa kau bisa hidup selama dua puluh empat jam kedepan, tapi nyatanya kau masih bertahan hinga sekarang. Kemarin aku cukup senang bahwa dua puluh empat jam yang dikatakan dokter itu ternyata salah, tapi… jika di pikir lagi ini bukan sesuatu yang baik,” Baekhyun menghentikan ucapannya sebentar, kemudian mengelus pipi tirus yang tengah ditutupi masker oksigen tersebut.

“Kau tidak menunjukan pertanda untuk bangun, Rin. Apa kau memang benar-benar menunggu keputusan dariku?” Baekhyun kembali menggenggam tangan itu.

“Rin… maafkan aku, bukannya menjadi cahaya bagimu, tapi aku malah membuat bahumu semakin berat. Sepertinya aku memang bukan kekasih yang baik.”

“Sepertinya aku memang harus belajar untuk melepaskanmu… Rin.” Baekhyun teridam, air matanya meluap.

“Rin… Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan. Aku tidak akan pernah mencoba untuk menahanmu lagi, ataupun mencoba untuk mengikutimu kemanapun kau pergi. Aku ingin kau bahagia…” Setelah itu, air mata Baekhyun menetes.

Samar, terlihat wanita ringkih itu juga meneteskan air mata. Melihat hal itu, air mata Baekhyun makin deras mengalir. Dadanya tiba tiba terasa sangat sesak. Perlahan jemarinya menggenggam erat tangan itu.

“Aku sangat mencintaimu, Rin.” Bisiknya lirih.

Tak lama kemudian suara mesin yang tadinya teratur berubah kacau, membuat Baekhyun panik. Satu tangannya menggenggam erat tangan kekasihnya, dan yang lain mecoba menekan bel untuk memanggil petugas medis.

“Rin… apa ini jalan yang kau inginkan?” tanya Baekhyun saat tak sengaja melihat wajah kekasihnya yang sedikit basah karena menangis.

Baekhyun kembali menyesak saat melihat wajah kekasihnya yang tiba-tiba tersenyum, seyum tipis yang terlihat begitu damai.

Lelaki itu kembali duduk, menggenggam kembali tangan kekasihnya dengan kedua tangannya. “Jika ini yang kau inginkan…” Baekhyun menghentikan ucapannya sebentar, kemudian berusaha menarik nafas kuat sebelum melanjutkan kata-katanya. “Aku rela melepaskanmu,” ucap Baekhyun akhirnya.

Sedetik kemudian suara gaduh mesin-mesin itu berubah menjadi dengingan. Baekhyun terdiam, berusaha menahan semua air mata yang akan kembali jatuh. Tangan yang tadinya terasa hangat perlahan berubah semakin dingin, dan di detik selanjutnya tangan kekasihnya terjatuh, bersamaan dengan terbukanya pintu ruangan itu.

***

Pagi itu, Baekhyun sedang duduk di dalam van saat salju pertama turun, Tangan lelaki itu bergerak untuk membuka kaca jendela mobil yang tengah diam karena lampu merah, kemudian ia mengeluarkan tangannya agar bisa merasakan salju pertama yang tengah jatuh itu.

“Kenapa dibuka? Dingin tahu.” Ucap Kai sedikit protes karena udara dingin langsung masuk kedalam mobil. Diiringingi dengan geramanan setuju dari member EXO-K lain yang juga sedikit kedinginan di dalam van.

Baekhyun sedikit tersentak, kemudian dengan cepat memasukkan kembali tangannya dan menutup kaca jendela.

Hyung, nanti sore aku tidak ada jadwal kan?” tanya Baekhyun tanpa mengubris Chanyeol yang menatapnya aneh.

Ne… Wae?” Ucap Manajer yang perlahan menggerakan mobilnya maju.

“Bisa antarkan aku ke makam, Rin nanti sore. Aku ada janji dengannya.” Ucap Baekhyun yang seketika membuat seluruh isi van melirik ke arahnya.

Wae?” Tanya Baekhyun risih.

“Baek, bagaimana bisa?” tanya chanyeol aneh.

Baekhyun mengulum senyumnya, akhirnya mengerti dengan arti tatapan aneh mereka semua. “Aku ingin menepati janji kecil yang tidak pernah bisa aku tepati.”

Semua terdiam, Baekhyun kemudian menggambil secarik kertas yang ia sisipkan di saku jaketnya. “Ia selalu ingin bertemu saat salju pertama turun, tapi aku tidak pernah bisa melakukannya. Aku pernah bilang, suatu hari nanti jika jadwalku kosong saat salju pertama turun aku akan menemuinya. Ku rasa sekarang adalah waktunya.” Jelas Baekhyun sambil mengusap kertas putih itu.

***

Baekhyun beridiri di depan tiga makam di atas bukit Incheon sore itu. Di belakangnya terlihat Mingyu, Chanyeol, dan Suho yang tengah menata meja yang nantinya akan di taruh berbagai jenis makanan kesukaan Rin dan kedua orang tuanya.

Tangannya perlahan mengambil kembali secarik kertas putih di balik jaketnya. “Rin, aku datang… aku menepati janjiku untuk bertemu di hari salju pertama turun. Sekarang aku boleh membaca surat ini kan?

Setelah itu Baekhyun membuka kertas itu, sedetik kemudian ia melihat tulisan tangan orang yang sangat ia rindukan.

“Ya, Byun Baekhyun akhirnya kau menepati janjimu. Hm… aku penasaran saat kau membaca surat ini apakah aku sedang ada bersamamu atau aku sudah tidur di dalam tidur panjangku? Hahaha… apapun keadaanku saat ini kau masih mencintaiku kan?

Oppa, hari ini salju pertama turun ya? Apa salju pertama yang turun hari ini sangat indah? Hm… kurasa indah. Ku harap aku juga bisa melihat salju hari ini turun.

Oppa, kau ingat pertama kali kita bertemu juga saat salju turun? Aku masih ingat jelas detak jantungku yang berdetak seribu kali lebih cepat saat aku mengetahui orang yang aku tabrak adalah Baekhyun EXO.

Jika saja waktu itu kita tidak bertemu, mungkin aku sudah bunuh diri karena Mingyu oppa menjauhiku. Hehehehe…. Jangan katakan ini pada Mingyu oppa.

Kau tahu? Kau adalah penyelamat hidupku. Jika saja kita tidak di takdirkan bertemu, mungkin hidupku sudah menjadi gelap. Kekuatanmu menyelamatkanku.

Maafkan aku yang tidak bisa memberikanmu apa-apa selama kita bersama. Aku pasti hanya merepotkanmu’kan? Bahkan saat aku selalu merepotkanmu, pada akhirnya aku akan tetap memilih pergi disaat kau hanya memintaku untuk selalu bersamamu.

Maafkan aku karena tidak bisa menjadi kekasih yang baik untukmu, oppa. Tapi, satu hal yang perlu kau tahu.

Oppa… aku sangat mencintaimu. Aku benar-benar tidak berharap untuk pergi meninggalkamu seperti ini, tapi sepertinya tuhan punya rencana lain. Aku tidak boleh membebanimu lebih lama lagi, jadi ia memintaku pulang untuk bertemu kembali dengan orang tuaku.

Oppa… aku harap kau bisa tetap bahagia, karena hanya hal itu yang bisa membuatku lega. Aku akan menjadi makin menderita saat kau tidak bahagia, maka dari itu tersenyumlah, meskipun kita sudah hidup di alam berbeda.

Terakhir, terima kasih karena sudah menjadi alasanku untuk hidup lebih lama di dunia. Aku tidak akan pernah melupakanmu. Ku harap di kehidupan selanjutnya kita bisa bertemu kembali dengan keadaan yang lebih baik.

Sampai Jumpa, oppa….

RIN”

“Sampai Jumpa, Rin…” ucap Baekhyun lirih kemudian membiarkan angin meniup suaranya hingga sampai ke telinga kekasihnya.

END

Note.

Halo kalian semua yang pada nungguin cerita ini selesai, nih udah diselesain ceritanya. Maaf banget ya author updatenya lamaaaaaaa banget, soalnya author lagi ada beberapa kesibukan yang gak bisa di tinggal. L

Next, author ada project baru… di tunggu ya! Thank you atas semua like dan comment kalian dari chapter 1 sampe terakhir ini.

Sampai Jumpa!!!

 

 

5 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Reason Why I Life – Chapter 20 (END)”

  1. Author…. naf banget yaa baru komen…😔😔😔
    Aku baru tau ff ini kemaren dan aku baru aja nyelesain baca ff ini…. AKU NANGIS LHI THOR….
    Ini ffpertama yg aku baca setelah sekian lama gabaca ff… terimakasih karna sudah membuat ff yg super bagus iniii
    Keep writing ya thor!! ditunggu karya berikutnya!! Fighting😊😊!!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s