[EXOFFI FREELANCE] KOKOBOP (TRACK 3)

K O K O B O P (Track 3)

Author: El Byun

Chaptered

Rate: PG-17

Genre:

Alternate Universe, Action, Romance, Angst, Mature

Cast:

Lee Hanbi (OC)

Zhang Yixing aka Lay | Huang Zitao aka Tao | Wu Yifan aka Kris |Xi Luhan aka Luhan

Summary:

Ketika tarian musim panas mengajakmu untuk memiliki seorang pasangan. Kemudian seseorang yang tidak kau ketahui melemparmu ke dalam kencan buta dengan 8 pria beda profesi.

Desclimer:

This story is my real imagination from ‘Kokobop’ song. Don’t be plagiarsm, please! Be a good readers!

Fanfic ini juga dipost di akun Wattpad saya @elisabethbyun bersama dengan karya saya yang lain.

Previous list: Cast + Introduction | Intro | Verse| Chorus | Track 1 | Track 2

~~~

[Track 3: DEAL]

~~~

“Untuk apa kau membawaku ke sini?”

Pria Zhang itu memberontak saat agennya mengait lengannya pergi dari sebuah tempat parkir departement store elit di pusat kota Seoul.

“Aku tidak akan melepaskannya sebelum kita sampai, boss tenang saja!”

Kali ini kelakuan bawahannya yang bernama Zitao itu mulai melunjak. Ia menyeringai membelakangi wajah atasannya menyusuri lorong parkir menuju lantai bawah. Yang ia tahu tindakannya kali ini sudah benar.

“Hey, pesawatku akan berangkat 1 jam lagi dan kau ingin membawaku ke tempat seperti ini?” omelnya lagi.

Bisa saja ia melumpuhkan pria jangkung ini dengan sekali gerakan. Namun pria bermarga Huang ini telah menyita tiket pesawatnya. Ia mengancam akan merobeknya jika tidak mengikutinya pergi ke tempat ini.

Tidak ada balasan lagi dari konversasi mereka. Mereka telah memasuki sebuah cafe bergaya Jepang lengkap dengan pohon sakura imitasi di pintu masuk dan pelayan berbusana kimono menyambut kedatangan mereka.

“Okaerinasai! (Selamat Datang)” ucap wanita bermake up putih di depan mereka. Zitao terus menyeret atasannya masuk ke dalam mengabaikan sambutan wanita itu.

Netra berkantung itu menangkap sosok yang dicarinya. Ia tengah terlihat duduk sambil menyantap makanannya membelakangi kedatangan mereka.

“Hanbi!”

Seketika pria Zhang itu membulatkan matanya. Ia berusaha menarik dirinya kembali sebelum Zitao ini berhasil mempertemukan mereka.

‘Apa dia gila?’ batinnya.

“Dengar, misi ini hanya omong kosong. Dan aku sudah angkat tangan, jadi kau jangan coba-coba…”

“Temui dia dulu, baru kau boleh pergi. Aku tidak lupa dengan tiketmu.” Mereka berdebat dalam berbisik.

Setelah melalui pertimbangan yang sulit, akhirnya pria Zhang itu mengikuti perkataan bawahannya.

Pria jangkung itu melangkahkan kaki pergi menemui gadisnya dengan riang. Ia menarik kursi di depan meja Hanbi dan duduk di sana.

“Bi, maaf membuatmu menunggu.”

Seorang wanita berkuncir kuda yang menunggu kedatangan mereka langsung menegakkan punggungnya menghentikan aktivitas sarapan paginya yang kelewat siang.

Pria Zhang itu akhirnya mengikuti apa yang dilakukan Zitao, ia menarik kursi satu lagi lalu duduk di sebelahnya. Kedua penglihatannya tidak sudi melihat wanita itu. Ia mengalihkan pandangan pada ruangan cafe yang di penuhi pengunjung.

Kedua lengan gadis itu saling bertautan di depan dadanya menunggu salah satu dari mereka untuk berbicara. Ekspresi wajahnya terlanjur dingin setiap bertemu dengan pria berkantung mata ini.

“Woah, kau ganti warna rambutmu lagi? Kau semakin terlihat cantik!” ucapnya dengan nada yang terkesan murahan di telinga Hanbi. Pria Zhang yang mendengar rayuan gombal bawahannya itu hanya berdeham saja.

“Apa menurutmu kemarin aku jelek?” sahutnya sakartis.

Pffttt…

Tiba-tiba suara umpatan menahan tawa terdengar dari sisi yang bersebelahan dengan lawan bicaranya.

Pria bernama Zitao itu langsung memandang kesal pada si pengumpat tawa tadi. Jika ia tidak ingat bahwa orang ini adalah atasannya, mungkin ia akan memukul kepalanya saat ini juga.

‘sial!’ batinnya.

Netra gadis itu juga mengalihkan fokus pada pria di sebelah pria menyebalkan ini, menurutnya. Sadar, ia memang tidak lupa dengan wajahnya. Bahkan balutan perban di lengannya sudah cukup membuat Hanbi mengingat kembali semua kejadian tempo hari. Ia menggelengkan kepalanya pelan untuk menyadarkan pikirannya kembali.

“Baiklah, kita langsung saja. Apa yang ingin kalian bicarakan?”

Hanbi menatap mereka bergantian dengan tatapan datarnya. Ia bahkan masih menyilangkan kedua lengan di dadanya. Kini kedua kaki mulus wanita itu juga saling bertindihan di balik meja besarnya.

“Apa kau ingin aku balas budi untuk tindakan sok pahlawanmu kemarin lusa?”

Ia berbicara pada pria berwajah China di sebelah pria serumpun dengan pelatih bela dirinya. Kali ini Hanbi memicing dengan tatapan mengintimidasi. Ia cukup lihai membaca pikiran orang lain.

Pria yang diketahui bermarga Zhang itu berdecih dalam kerongkongannya. Ia tak habis pikir, targetnya ini terlanjur frontal sebelum ia bicara hal yang hampir sama. Ketahuilah, mungkin bukan pria Zhang ini yang memikirkan hal itu. Tapi ia tahu jalan pikiran bawahannya yang terkesan sangat klise.

Ia sudah menolak melanjutkan misi pada bawahannya dan memutuskan untuk kembali ke tanah air. Sebenarnya tidak hanya itu, ia ingin menyusul kepergian Luhan yang diduga akan bertemu dengan tunangannya, Lian.

Pria ini memiliki asumsi yang kuat ketika menerima sinyal-sinyal mencurigakan dari konversasinya dengan Luhan saat itu. Lebih-lebih ketika ia memohon untuk melindungi Hanbi dan hal itu sangat mengusik pikirannya.

Pasalnya ia sekarang tahu siapa petinggi yang di rahasiakan untuk membuatnya keluar dari wilayah teritorialnya.

Lagi, Luhan datang bersamaan dengannya di satu pesawat yang sama. Lalu hari ini ia akan bertolak menuju Taipei yang ia ketahui tunangannya juga berada di sana. Selama ini hanya pikiran itu yang menyita perhatian pria Zhang ini.

“Kalian akan selamanya diam atau aku yang akan pergi dari sini!” Suara ketus gadis itu membuyarkan lamunannya.

“Hey, santai saja Bi. Kau bisa habiskan makan siangmu lagi.”

“Ini makan pagiku jika kau tahu!”

Pria bermarga Huang itu hanya nyengir saja saat sahutan pedas itu keluar lagi dari bibir plum milik wanita muda itu.

“Maaf, tapi pesawatku menuju Beijing akan take off sebentar lagi. Jadi aku rasa tidak ada urusan lagi di sini.” Pria Zhang itu bangkit dari posisi duduknya. Namun sekon kemudian lengannya kembali di tarik hingga ia harus menjatuhkan bokongnya lagi di kursi meja makan itu.

“Tidak Bi, dia sebenarnya hanya beralasan. Kau tahu, pasportnya kemarin disita oleh petugas kepolisian.”

“Hey!” tiba-tiba pria Zhang itu menyahut. Ia pikir memasukkan nama kepolisian dalam alasannya itu sangat berbahaya.

“Dan dia tidak bisa pergi kemanapun….” Pria Zhang itu mendorong pundak bawahannya kasar. Ia tidak ingin membuat keberadaannya semakin rumit.

“Dia bohong? Kembalikan tiketku!”

“Dia tidak punya uang…”

Pria Zhang itu menggerayangi kantong-kantong yang dimiliki pria Huang itu yang tengah membual tentang dirinya untuk mencari persembunyian tiket pesawatnya.

“Dia menumpang di condominium sempitku…”

Pria Zhang itu mengeluarkan semua isi kantong yang ia dapat di atas meja.

“Mengusirku dari tempat tidurku sendiri…” Hanbi memutar bola matanya malas.

“Memenuhi kapasitas pembuangan kotoranku..” Kali ini ia hampir tersedak. Ia bahkan tidak perduli lagi bahwa di depannya banyak makanan yang belum tersantap.

“Menghabiskan seluruh persediaan makananku… dan..”

BUG!!!

“KEMANA KAU SEMBUNYIKAN TIKETKU?? HAH..” Teriaknya dengan dialek China.

Pria Zhang yang tersulut emosi dan diburu gelisah itu memukul wajah rekannya keras hingga terjungkal ke lantai. Ia tidak bisa menemukan tiket pesawatnya di tubuh pria jangkung ini. Mendadak keheningan menyelimuti atmosfer dalam ruangan itu. Semua penghuni cafe itu tiba-tiba mengarahkan pandangan pada mereka.

Pria Huang itu menyeka ujung bibir berdarahnya dengan usapan ibu jarinya. Ia meringis ketika sakit menjalar di pipi dan mulutnya. Ia sadar kelakuannya tadi sangat berlebihan. Tapi ia juga tidak akan menyerah sampai atasannya ini menerima misinya untuk melindungi Hanbi. Ia tidak bisa melindungi gadis ini sendirian tanpa bantuannya.

Zitao bangkit dari duduk tersungkurnya di lantai. Ia menjajarkan posisi tubuhnya dengan atasannya seolah tidak takut.

“Aku membuangnya ke tempat sampah seingatku. Kau keberatan?” balasnya dengan bahasa yang sama.

Pria Zhang itu memajukan badannya hingga menempel pada pria jangkung itu. Walaupun tinggi mereka tidak sebanding, namun derajatnya jauh lebih tinggi dari dirinya. Ia mencengkeram kedua kerah pria Huang itu. Memandangnya dengan tatapan mematikan.

“Kau benar-benar membuang waktuku! Brengsek!” bentaknya kesal.

Seketika ia menghempaskan tubuh pria jangkung itu menjauh darinya. Ia melangkahkan kaki pergi dari posisinya. Bahkan keberadaan wanita muda yang seharusnya menjadi target perlindungannya ia hiraukan. Ia sudah muak dengan semua omong kosong yang menimpanya.

Semenjak kepergiannya suasana cafe menjadi tidak kondusif, banyak pengunjung yang memutuskan untuk pergi. Pria Zhang yang masih berada lantai food court melangkah sembari mengacak ponselnya. Ia berharap bisa menaiki pesawat di penerbangan berikutnya.

Saat ia hendak turun ke lantai bawah menggunakan eskalator, tidak sengaja netranya menangkap sekelompok berseragam formal hitam naik di jalur berseberangan dengannya. Ia pikir mereka pasti petugas keamanan di gedung ini.

Namun ketika melangkah ke lantai dasar ia melihat kejanggalan dengan keberadaan sosok pria yang mungkin dikenalnya. Pria itu terlihat berjalan tergesa-gesa menuju eskalator naik.

“Luhan?”

Luhan, pria itu seharusnya sudah berangkat ke China. Ia menangkap ekspresi kegelisahan di raut wajahnya. Pria itu mulai naik, dan tanpa pertimbangan lagi pria Zhang itu juga menyusulnya. Ia melangkah sedikit lebih cepat untuk mengimbangi bahkan ketika eskalator terus berjalan.

Sreeet..

“Hey!!”

Pria Zhang itu berhasil menarik lengan Luhan hingga ia berbalik dan berhenti sejenak.

“Kau? Untung kau disini. Ayo!”

“Tunggu!” pria Zhang itu menarik kembali lengan Luhan sebelum beranjak pergi.

“Bukankah pesawatnya sudah berangkat?”

Luhan tidak segera menjawab karena mereka berada di ujung tangga. Baru setelah melangkahkan kaki keluar ia menjawab.

“Itu tidak penting, sekarang Hanbi sedang dalam bahaya!” sekon kemudian ia berlalu dengan cepat meninggalkan pria Zhang itu berdiri di sebelah tangga eskalator.

Pikirannya kembali berputar lagi. Asumsinya tentang misi omong kosong sirna sudah. Potongan memori tentang sekelompok pria mencurigakan melintas di kepalanya. Ia mendongakkan wajahnya yang sedari tadi menatap lembaran marmer di bawah kakinya. Ia berlari menyusul Luhan.

“Dia di cafe bergaya Jepang!” pria Zhang itu hanya menyebutkan ciri-ciri tempatnya yang bahkan namanya ia tidak perduli. Kembali, pria itu justru menyusul mendahului langkah Luhan.

“Apa!!”

~~~

“HUANG, STOP!”

Pria yang ia panggil langsung menghentikan pergerakkannya. Ia sedang dalam posisi mengunci lengan salah seorang dari gerombolan mereka yang mendahului untuk menyerangnya. Bahkan luka dibibirnya kian parah setelah perkelahian tadi.

“Bagaimana? Jadi kau bersedia ikut kami?” ungkap seorang berbadan gempal yang disinyalir adalah pimpinan kelompok itu berbicara pada Hanbi.

“Bisa beri aku alasan yang kuat, kenapa ayahku yang brengsek itu berurusan dengan kalian?”

Hanbi menekan kata ‘Brengsek’ dengan penuh emosi. Ia tahu setiap pergerakan ayahnya. Tapi tidak pernah sekalipun melibatkan dirinya hingga menyuruh Hanbi untuk datang. Tidak sama sekali. Kecuali ketika ia akan dijodohkan dengan Yifan. Ia tidak datang, namun ayahnya juga tidak mencari. Ia mencurigai sesuatu yang mungkin orang ini hanya mengalihkan alibinya dengan mengatasnamakan ayahnya, Lee Donghae.

“Hey, nona! Kau ini cantik tapi tidak untuk mulut busukmu. Haha..” pria gembal itu mulai mencibir bahkan anak buahnya ikut tertawa bersamanya. Ingin rasanya menghabisi orang ini, batin Zitao. Ia melihat sendiri bagaimana tatapan pria gempal ini tidak jauh dari kata mesum saat melihat Hanbi.

Bisa dikatakan suasana cafe ini sudah berubah sejak gerombolan orang-orang ini masuk menghancurkan seluruh perabotan. Mereka mengusir seluruh penghuni cafe ini hingga menyisakan mereka berdua saja.

Pria gempal itu mulai mendekati Hanbi dan lansung menyambar rahang wanita itu, mencengkeramnya erat-erat. Tentu saja Hanbi meronta, kemudian Zitao mencoba melepaskan cengkeraman tangan pria itu di rahang Hanbi namun tidak berhasil karena dihalangi anak buahnya.

“Kau tahu, kesalahan ayahmu yang ‘brengsek’ itu adalah menjodohkan Yifan keparat itu dengan putri kesayangannya yang cantik ini. Cuih!” Pria gempal itu meludah di sisi  kanan tubuh Hanbi. Ia mendorong keras wajah Hanbi hingga cengkeramannya terlepas. Zitao memberontak dan berhasil masuk ditengah-tengah pagar manusia yang dibuat anak buahnya. Ia berdiri di depan Hanbi melindungi gadis kesayangannya.

“Haha.. Gadis ini hanya punya satu bodyguard ternyata. Cih..”

“Memangnya apa urusanmu?” Kali ini Hanbi yang berbicara. Ia cukup jengah dengan tingkah orang-orang tak berkelas seperti mereka.

Pria Gempal itu kembali mengacungkan tangannya untuk meraih Hanbi, namun sayangnya Zitao berhasil menampiknya. Mereka saling berselisih pandang. Kedua netranya tak enggan untuk mengamati setiap gerak-gerik orang-orang ini.

“Dengar, salah jika Donghae memilih si kaya raya hasil lotre seperti Yifan. Aku yakin setelah kalian menikah, keluarga Lee akan bangkrut. Jadi aku sarankan, kau seharusnya menikah denganku. Ambilah andil dalam keturunan Won (*marga).”

Rahang Zitao mengeras. Selain ia baru tahu bahwa Hanbi wanita kesayangannya telah dijodohkan, ia juga benci membiarkan pria brengsek ini terus mengoceh tanpa saringan. Menikah? Dengan pria tua gempal ini? Batinnya seakan ikut tertawa. Mana mungkin Hanbi menyukai tipe macam dirinya.

“Baiklah!” sahut Hanbi cepat.

Jantung Zitao seakan jatuh berkeping-keping. Ia tidak percaya Hanbi menyetujuinya. Ia menatap Hanbi seolah ia memohon bahwa apa yang dikatakan barusan adalah bohong.

“Lagi pula aku tidak ingin menikah dengan Yifan.” Sekarang harapan Zitao pupus. ia masih belum percaya Hanbi akan melakukannya. Seketika terdengar gelak tawa dari anak buah pria gempal itu. Mereka bahkan tertawa bersama. Merayakan kemenangannya mendapatkan gadis itu.

“Aku juga tidak bilang akan menikahimu, bakpao berjalan. Heh!” Hanbi menyeringai. Ia berhasil membuat suara riuh tawa tadi membisu. Tapi jangan lupakan wajah Zitao yang bahagianya bukan main mendengar penolakan sekaligus sindiran untuk pria itu. Ia merasa menang dalam batin.

“Dengar itu ‘Bakpao Berjalan’!” Zitao menunjuk-nunjuk dada pria gembal itu, menekannya dengan keras.

BUG!!

Detik kemudian pria gempal itu justru memukul Zitao keras hingga tersungkur ke lantai. Ia meringis. Ini mendapat pukulan paling keras hari ini. Bahkan tubuhnya tak sanggup lagi untuk berdiri.

Kedua lengan pria itu melambai pada anak buahnya mengintruksinya untuk menyerang tubuh Zitao yang sudah tak berdaya itu. Bahkan Hanbi yang berada di dekatnya langsung diseret paksa oleh anak buahnya pergi. Tentu saja Hanbi meronta, namun dengan tenaga wanitanya dan kemampuan bela dirinya yang masih belum matang mengalahkannya.

BRAKK!!!

Suara hantaman pintu menggaung di ruangan itu, namun tidak sedikitpun menarik perhatian mereka. Mereka terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing.

Namun suara perkelahian di sudut yang berbeda dari posisi mereka mengalihkan perhatian si pria berbadan gempal itu. Ia membalik badannya untuk melihat. Dua orang asing sedang berusaha melawan anak buahnya yang berjaga di area pintu masuk.

“Hey, kau!!” teriak pria gempal itu. Mendengarnya, para anak buah yang sibuk memukuli Zitao dan menarik Hanbi diam sesaat.

“AARRGGHH…” Hanbi menggigit salah seorang lengan yang memeganginya dari kesempatan ini.

BUG!!

Dan Zitao menendang serampangan orang-orang yang memukulinya. Mereka gelimpungan menghadapi pria jangkung ini. Mereka pikir pria ini sudah sekarat. Namun Zitao justru bangkit kembali dengan semangat yang menggebu-gebu. Ia kembali memukul orang-orang itu dengan bersemangat. Ia seperti mendapat kekuatan saat melihat atasannya yang bermarga Zhang itu kembali untuk menolongnya.

“BI, BERLINDUNG!”

BUG!!

Zitao berhasil melayangkan tendangannya pada pria di belakang Hanbi yang ingin mencoba membungkamnya.

Situasi ruangan itu sudah kacau balau. Semua tergeletak lemas setelah dikalahkan 2 pria manly dan seorang pria manis. Kecuali pria gempal ini.

“Hahaha.. Kalian benar-benar licik! Tapi juga bodoh! Cih..” kembali pria itu meludah.

Zitao dan Luhan tampak mengernyit heran, tak terkecuali Hanbi.

“Luhan, bawa wanita itu pergi dari sini!” titah pria Zhang yang berdiri di depan mereka. Ia telah memprediksi kejadian yang akan terjadi.

“CEPAT!!” Teriakan pria Zhang itu dibarengi dengan datangnya pria bersetelan hitam datang, entah darimana mereka bersembunyi. Seingat pria Zhang itu jumlah mereka tidak sebanyak ini. Tapi…

“Aku dan pria jangkung ini akan mengalihkan perhatian mereka. Kau bawa Hanbi pergi saja!”

“OPPA!” Hanbi memekik. Ia tidak menyetujui keputusan pria berwajah manis itu.

“Kau gila ya?” Pria Zhang itu berteriak dalam berbisik sambil menatap tajam Luhan.

Luhan yang saat itu berdiri di belakangnya mendekat. Matanya menyiratkan akan sesuatu.

“Aku memanggil polisi. Jadi kau yang seharusnya pergi, atau kedokmu terbongkar!” ia berbisik di pundak pria Zhang itu.

Mendengarnya pria itu menggesekkan kedua rahangnya. Ia menimbang dalam hati sembari memperhatikan tatapan memohon Luhan yang ia benci itu.

“Hajar mereka!”

“Sialan!” umpat pria Zhang.

Mereka kembali berkelahi melawan anak buah pria gempal itu dengan susah payah. Pasalnya lawan yang mereka hadapi sekarang cukup tangguh daripada sebelumnya.

Kini wajah mulus pria Zhang dan Luhan ikut membengkak setelah beberapa kali gagal melawan mereka.

BUG!

“Cepat bawa Hanbi pergi dari sini. Situasinya semakin kacau!” Luhan berbicara pada sang pria Zhang sesaat setelah melumpuhkan salah seorang lawannya.

“Kau saja yang pergi!”

BUG!! BUG!!

“Arrggh!” pukulan lolos dari pengawasan pria Zhang hingga ia tertunduk sembari memegangi area perutnya.

“Kau tidak tertolong.”

BUG! Pukul Luhan membalas.

“Larilah bersama Hanbi, aku percayakan keselamatannya padamu. Kami baik-baik saja disini!”

“Baiklah, tapi kau masih berhutang penjelasan padaku!”

GREB!!!

Seketika pergelangan tangan Hanbi ditarik oleh seseorang. Yah, pria Zhang itu akhirnya memutuskan untuk membawa Hanbi pergi. Ia sudah tidak tahu lagi alasan apa yang akan dijelaskan pada wanita ini perihal dirinya.

Ia sedikit kesal wanita ini justru memberontak saat akan diselamatkan olehnya. Mereka bahkan telah keluar dari gedung menuju area parkir, namun gadis ini tidak pernah bisa diam.

“Lepas, iihh..!”

Dengan sangat terpaksa pria Zhang itu melepasnya. Bahkan hanya dihempaskan begitu saja, seolah tidak punya beban. Ia sungguh jengkel kenapa ada wanita macam dirinya yang menolak diselamatkan dari keadaan berbahaya seperti tadi.

“Apa kau gila? Kau meninggalkan mereka bertarung melawan orang-orang itu? Jumlah mereka kalah telak kau tahu!”

Pria Zhang yang mendapat omel Hanbi hanya terkekeh. Seolah ia juga orang jahat di sini.

“Brengsek!” umpat gadis itu. Ia mendapat cengkraman keras di lengannya sesaat setelah ia berbalik untuk kembali.

“Kau mencari pemakamanmu sendiri ya? Hah?”

Pria Zhang itu lalu kembali menarik paksa Hanbi menuju sudut ruangan dimana Zitao memarkirkan mobilnya. Dalam perjalanan Hanbi memukuli lengan pria itu bertubi-tubi. Bahkan ia tidak ingat telah memukul area dimana bekas peluru pernah bersarang di lengannya.

“HEY!”

CKITTT…..

Laju mobil mereka tiba-tiba berhenti saat pria Zhang itu menekan pedal remnya.

Nafas Hanbi sesak mendapati tatapan menyeramkan milik pria China itu. Ia tahu memang mengganggunya saat menyetir akan membahayakan mereka, tapi lebih khawatir lagi Hanbi mengkhawatirkan keselamatan Oppanya yang tengah berjuang di sana.

Pria Zhang itu akhirnya melepaskan pergelangan tangan Hanbi dan mulai memukul-mukul setirnya kesal. Ia sudah jelas-jelas ingin keluar dari misi ini, tapi ia justru kembali yang membuatnya harus berada dalam masalah yang lebih rumit lagi. Ia menyesali kebodohannya menyusul Luhan saat itu.

Brak… Brak..

“Arghh…!” erangnya kesal. Ia memeluk setir di depannya mengabaikan wanita yang tengah heran memperhatikannya.

“Hey, lenganmu berdarah lagi?” suara lembut wanita muda itu memecah ketegangan. Hanbi terlambat menyadarinya setelah usai memukul bagian itu berkali-kali selama perjalanan mereka. Tidak ada orang yang tidak simpati mendapati orang lain terluka, apa lagi setelah menyelamatkannya.

Hanbi mencoba untuk membuka perban di lengan pria itu, namun ditolak. Pria itu justru memilih untuk membukanya sendiri. Namun setelah berusaha beberapa kali akhirnya ia menyerah. Sulit membuka tanpa bantuan orang lain.

Tanpa permisi Hanbi menyahut tangan pria itu untuk menyingkir dan membiarkannya untuk membuka perban. Pria Zhang itu berdecih. Ia pikir wanita ini sudah tidak punya hati lagi untuk menolong orang lain.

“Kenapa kau menolongku?” Hanbi bertanya sembari melingkarkan kain perbannya lepas tanpa menatap pria itu.

“Menolongmu yang mana?” pria itu akhirnya bersuara.

Hanbi menghela nafasnya. Netranya melirik pria itu yang sedang menatapnya. Ia tahu pertanyaannya terlalu umum untuk ditanyakan. Pasalnya ia sudah diselamatkan pria ini sebanyak dua kali. Di tempat berbeda dengan alasan yang berbeda pula.

“Terserah kau ingin menjawab yang mana?” Hanbi kembali fokus pada perbannya. Pria Zhang itu membisu sejenak.

“Banyak orang licik di sekitarmu.”

“Itu bukan jawaban!” Hanbi menyahut dengan ketus sambil menalikan kembali perban itu ke tempat semula.

Pria itu terkekeh. Entah kenapa jawaban wanita ini selalu di luar nalar. Ia kembali menatap wanita itu setelah menyadari bahwa tindakannya tidak dapat diterima. Ingat, ini bukan gurauan semata. Hanbi menatapnya kesal.

“Maaf..”

“Untuk?” dan sialnya lagi Hanbi harus membuatnya bungkam dengan pertanyaan menohok itu.

“Kau ingin menyelamatkan Luhan?” ia mengalihkan pembicaraan.

“Tentu saja!” Hanbi menyandarkan punggungnya pada kursinya dan mulai fokus ke arah depan. Ia menyilangkan kedua lengan di depan dadanya.

“Kau ingin menjadi partnerku?” tiba-tiba pria itu mengacungkan telapak tangannya.

“Kau bisa bertarung?” detik kemudian Hanbi tergerak dan mulai menatap pria itu malas.

“Deal?” Pria Zhang itu masih mengacungkan tangannya dan mulai menggoyangkannya. Ia sungguh pegal jika harus menunggu lama lagi.

Perlahan, tangan kanan Hanbi mulai bergerak untuk menyahut telapak tangan pria itu.

“Deal!” ucapnya dengan malas. Namun dalam hatinya ia senang akan kembali membantu Luhan. Pikirannya kembali berpikir tentang apa hubungan pria ini dengan pria terkasihnya.

Apa mereka berteman?

Atau memang memiliki riwayat hubungan sebelum akhirnya mereka bertemu dengannya?

Pria itu kemudian melepaskan jabatan tangan mereka. Ia berdeham dan mulai menyalakan mesin mobilnya. Ia melirik ke arah sprion memutar kemudi dengan derajat penuh, namun kemudian menatap wanita itu kembali yang masih terheran menatapnya.

“Aku manusia yang memiliki nama, panggil aku Lay!”

“Ceh, siapa yang menganggapmu hantu?”

…TBC…

ATTENTION:

Mengingat banyaknya yang berminat pada part awal (cast, intro, dsb). Tapi kenapa di Track inti tidak banyak yang respon? Why? Saya tidak tahu alasannya..

Mungkin kalian banyak yang bertanya2 kapan 8 bias kalian muncul?

Mungkin kenapa judulnya kokobop yang muncul bukan mereka ber 8?

Sabar aja, semua butuh proses. /eakk…

Tapi maaf kalau saya ada salah-salah kata. Author juga manusia.

Q & A boleh di kolom komentar kok. I’ll wait!

Jadi pengumumannya Track 4 yang akan datang akan dipassword. Dengan syarat:

  • Harus komen di part inti (Track 1,2,3) nggak banyak kok.
  • Mengingat adanya adegan tidak pantas untuk usia readers dibawah umur, author juga minta konfirmasi umur kalian.
  • Format permintaan:
  • Sebutkan ID komen kalian
  • Umur (Jujur berapapun umur kalian, author akan pertimbangkan.)
  • Kirim ke:

Email: ikaikhey21@gmail.com

Line: elizabeth_ikaa (*aktif kembali)

FB page: @byunelisabeth (Elisabeth Agustin)

10 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] KOKOBOP (TRACK 3)”

  1. ceritanya makin seru thor👍
    Makin penasaran ma kelanjutannya…
    Jadi penasaran 8 member yg lain kok blum muncul?
    Jangan lama* updatenya thor
    Fighting untuk karya*nya 💪

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s