SUNDAY IN SEPTEMBER – 2nd Week – by AYUSHAFIRAA

wp-1505236245401.jpg

`SUNDAY IN SEPTEMBER`

 

A fanfiction by AYUSHAFIRAA

`Starring Lee Jieun, Byun Baekhyun, Ji Hyeran`

|| Drama, Friendship, Romance ||

// PG-15 // Mini-Chaptered //

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.


September List :

 [ Prologue1st Week2nd Week ― [Coming Soon] ]


© AYUSHAFIRAA, 2017. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

.

.

.

[Luka di atas Bahagia]

Inilah alasan sebenarnya aku bekerja begitu keras dari pagi hingga pagi lagi. Lelah hanya akan membuatku tak sanggup melanjutkan hidup. Karena saat aku kelelahan, aku akan tertidur dan memimpikannya, lagi dan lagi. Saat aku terbangun dari tidurku, aku hanya akan mendapati mataku yang basah karena airmata. Bahkan saat bermimpi pun, aku akan tahu kalau semua itu hanyalah mimpi.

“Jieun? Kau sudah sadar?”

Bibi Lee, pemilik toko kue, adalah orang yang pertama kali kulihat saat aku kembali membuka mataku malam itu. Aku terbaring di atas ranjang rumah sakit. Selang infus bahkan menusuk kulit tanganku saat ini.

“Kau ini kenapa harus terlalu memaksakan diri untuk bekerja sih?! Bagaimanapun, kau seharusnya mementingkan kesehatanmu! Uang yang kau timbun selama bekerja lama-lama akan habis juga jika kau sakit!” omel Kyungsoo.

“Aku tidak sakit. Aku hanya bermimpi sebentar tadi.”

“Mimpi? Mimpi apa?” aku malas bercerita padanya, bisa-bisa dia terus bertanya sampai ke akar-akar.

“Ah, Jieun. Tadi, seorang pria sudah melunasi biaya rumah sakitmu. Awalnya, Bibi bilang biar Bibi saja yang bertanggung jawab, namun dia bersikeras ingin melakukannya untukmu.” Terang Bibi Lee.

“Siapa pria itu?” keningku mengkerut.

“Ini, dia meninggalkan kartu nama ini di atas nakas.”

Giant Group

Hwang Baek Hyun

General Manager

“Baekhyun?” lagi, airmataku lolos begitu saja. Pertemuanku dengan lelaki itu yang kukira hanya bisa sebatas mimpi, caranya memanggilku yang tidak pernah berubah, juga pancaran rindu yang kulihat dari tatapannya… ternyata bukanlah mimpi belaka.

Even after time passes

I can feel it

Your loving heart, I know…

‘Bahagia’ adalah kata langka dalam kamusku. Di saat aku terlihat lemah di mata orang lain, orang akan semakin menginjak-injakku. Dulu aku pernah menganggap Hyeran adalah sumber kekuatanku, namun tidak lagi, setelah aku mendengarnya menggunjingkanku di belakang dan menyebar fitnah pada anak-anak panti yang lain kalau aku pernah diperkosa oleh pamanku sendiri.

7 tahun setelah hari itu, aku menemukan sumber kekuatanku yang baru. Dia yang mau menggenggam hangat tanganku saat aku gemetar ketakutan karena difitnah melanggar peraturan untuk tidak pergi ke bangunan khusus putra, juga dia yang rela mendapatkan hukuman apapun demi membelaku yang menurutnya tidak bersalah.

“Kau mau ke mana, Jieun?” tanya Kyungsoo yang melihatku turun dari ranjang. Dia melotot saat aku nekat mencabut selang infusku.

“Kau lupa ya? Sore inikan kita harus pergi ke rumah pelanggan untuk melukisnya!” Kyungsoo sendiri yang kemarin mengatakan itu. Masa sekarang dia yang lupa?

Lelaki itu berdecak-decak, “Kurasa kau memang robot, Lee Jieun.”

Terserah dia bilang apa. Terjebak di ruangan putih ini tak membuatku nyaman sama sekali. Aku ingin cepat-cepat pergi, bekerja lagi, hingga tak ada waktu bagiku untuk larut dalam masa lalu.

Seandainya memang benar ‘Hwang Baekhyun’ adalah ‘Baekhyun’-ku di masa lalu, aku sudah melupakannya sejak lama.

“Sudah! Sudah! Biar aku saja yang membawa semuanya! Kau kan harus melukis nanti!”

Kyungsoo membawakan banyak peralatan melukis kami seorang diri. Meskipun dia terlihat kewalahan membawanya, aku tidak peduli. Toh, dia sendiri yang melarangku untuk membantu.

“Rumahnya besar sekali.”

Tolong jangan membayangkan bahwa sekarang ini aku berdecak kagum hanya karena melihat sebuah bangunan mewah di depan mataku. Itu ekspresi Kyungsoo. Ekspresiku biasa saja karena aku memang pernah merasakan bagaimana rasanya tinggal di rumah mewah milik orang tuaku. Ya, tentunya sebelum mereka meninggal dan sebelum kerabat orang tuaku menyingkirkanku untuk mengambil alih harta mereka.

Para asisten rumah tangga langsung mengarahkan kami berdua menuju sebuah taman di belakang rumah. Taman yang cukup indah untuk menjadi objek lukisanku kali ini.

“Kita akan melukis taman ini?” tanyaku pada Kyungsoo.

Lelaki itu meletakkan peralatan lukis yang dibawanya di atas rumput. Sebelum menjawab pertanyaanku, dia menyempatkan diri untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.

“Tidak, Jieun. Kita akan melukis pasangan suami istri pemilik rumah ini di sini.”

Aku mengangguk-anggukan kepala, mengerti. Tidak sulit untuk menggambar dua insan yang saling mencinta.

“Ah! Selamat sore, Tuan! Kami dari toko lukisan milik Tuan Hong.”

Mendengar Kyungsoo memberi sapaan, aku otomatis berbalik ke arah yang sama dengan Kyungsoo untuk menyapa calon pelangganku sore ini. Namun, aku lagi-lagi hanya bisa terdiam mematung setelah netraku melihat sosok Baekhyun berdiri jarak beberapa langkah dariku.

“Saya Do Kyungsoo, dan dia teman saya yang akan melukis anda hari ini-“

“Lee Jieun.” Baekhyun menyebut namaku lebih dulu daripada Kyungsoo. Kyungsoo tampaknya sedikit terkejut mengetahui aku dan Baekhyun sudah saling mengenal satu sama lain tanpa harus memperkenalkan diri lagi.

Ah! Kenapa dadaku rasanya sesak sekali?!

Terlintas lagi di pikiranku, adegan pertemuanku dengan lelaki itu semalam. Bolu untuk peringatan hari jadi pernikahan yang kuhias begitu cantik semalam, Baekhyun yang datang untuk mengambilnya. Hari ini, Kyungsoo berkata kalau kami akan melukis pasangan suami istri, dan pelanggan kami itu adalah seorang tuan pemilik rumah ini yang tak lain adalah Baekhyun?

Cinta pertamaku yang telah kutunggu selama 7 tahun, yang kuharap akan datang untuk mencariku… kini sudah menikah dengan orang lain?

“Sayang, aku sudah siap!”

Pandangku beralih ke asal suara manis itu. Wanita yang bergelayut manja di lengan Baekhyun kemudian menunjukkan ekspresi keterkejutan yang sama dengan Baekhyun sebelumnya saat melihat akulah, Lee Jieun, yang berdiri sebagai pelukis di rumah mereka.

“Jieun?” panggil wanita berambut panjang itu, ragu.

Iya, namaku masih Lee Jieun.

“Sudah lama tidak bertemu, Kak Hyeran.”

Di antara berjuta wanita di dunia, jika memang itu bukan aku, kenapa Baekhyun harus bersama Hyeran?

Aku tidak lagi bisa menampik bahwa aku tidak terluka. Aku terluka, sangat dalam. Aku kira, menjadi ‘robot’ yang gila kerja akan berhasil membuatku melupakan segalanya tentang Baekhyun. Aku pikir, aku telah menguburnya jauh di dalam hatiku. Kenyataannya, aku hanya berusaha menipu diriku sendiri, untuk kesekian kali.

[Minggu, 12 September 2010]

Tidak ada yang tahu kelemahanmu sebaik sahabatmu. Meski aku tahu Hyeran hanya berpura-pura menjadi sahabatku sejak awal, dia akan tetap tahu di mana titik terlemahku. Aku sendiri tidak tahu apa sebenarnya yang membuat dia begitu membenciku. Seperti orang-orang yang senang akan gugurnya dedaunan hingga jatuh ke tanah di bulan September, sepertinya orang-orang di panti juga senang melihatku terjatuh bagai dedaunan itu.

Angin musim gugur berhembus melalui jendela kamarku yang terbuka lebar. Minggu ini, giliran anak-anak putra membersihkan lingkungan panti setelah selesai beribadah di gereja. Sedangkan anak-anak putri, kembali ke kegiatan bebas masing-masing.

Untukku yang menyukai kegiatan melukis, Ibu Panti pernah menghadiahiku alat-alat lukis lengkap saat hari ulang tahunku Mei lalu. Hadiah itu kini sudah habis karena sering kupakai dan hasilnya adalah lukisan-lukisan ‘semauku’ yang terpajang di kamar ini.

cr. Owner | Pinterest
cr. Owner | Pinterest

Hyeran pernah memuji lukisanku, tapi aku tidak tahu apa dia tulus atau tidak saat mengatakannya.

Saking tak ada yang dapat kulakukan, aku jadi teringat pesan Baekhyun untuk membaca sebuah novel yang baru diberikannya sepulang sekolah kemarin hari ini, tepat setelah kembali dari gereja. Baru saja aku bersandar pada tumpukan bantal di atas kasur dan membuka lembar pertama, aku menemukan secarik kertas terselip di tengah-tengahnya.

‘Selamat hari minggu, Ji!^-^ Aku tunggu di taman belakang bangunan putri ya!^-^ Sampai jumpa^-^’

Hyeran masuk ke kamar dengan tak lupa akan kebiasaannya membanting pintu. Tapi kali ini, aku bisa melihat raut wajahnya yang sedikit kesal entah karena apa.

“Kenapa, Kak?” tanyaku, iseng.

“Tidak apa-apa, hanya saja kurasa musim gugur kali ini ‘panas’ sekali!” jawab anak SMP itu diakhiri tawa garingnya.

Kalau aku tertawa sekarang, apa aku berdosa? Aku merasakan bahagia di saat Hyeran justru sedang kesal setengah mati. Aku yakin, ‘panas’ musim gugur yang dimaksud Hyeran bukanlah dalam arti yang sebenarnya.

“Masa sih?” aku bangkit dari posisiku semula, menghampiri cermin untuk merapikan penampilanku.

“Kak Baekhyun memintamu untuk menemuinya di taman belakang, Jieun.” Hyeran melangkah mendekat, menatapku penuh selidik. “Apa kalian sudah berkencan?”

“Tidak kok!” bantahku cepat.

Dia tersenyum lebar merespon bantahanku. “Kalau begitu, aku ikut ya?!”

Alisku beradu, saking tak mengerti apa maksud gadis itu.

“Memangnya kau mau ketahuan oleh Ibu Kepala Panti sedang berduaan dengan Baekhyun? Kalau yang tertangkap basah kita bertiga kan Ibu Kepala Panti tidak akan berpikir kita sedang pacaran!”

Sudah tepat bagiku untuk memanggilnya kakak, dia memang memiliki pemikiran yang sama sekali tak sesuai dengan usianya yang baru 14 tahun.

“SELAMAT HARI MINGGU, JI!” Baekhyun mengejutkanku dengan menggenggam beberapa tangkai bunga berwarna kuning menutupi wajahnya. Dia benar-benar menungguku di taman belakang sesuai catatan kecilnya di secarik kertas itu. Dia merencanakan adegan romantis ini khusus untukku.

“HA! KETAHUAN!” Hyeran keluar dari balik punggungku, membuat raut Baekhyun seketika berubah sedikit kecewa.

“Aku kira kau datang sendirian,” lelaki itu tertawa paksa. “Aku jadi malu.”

Kulihat Baekhyun menyembunyikan kembali bunganya di belakang punggung, namun gadis nakal yang datang bersamaku itu merebutnya.

“Kalau tidak jadi diberikan pada Jieun, untukku saja ya, Kak?”

“Iya, ambillah untukmu saja.” ucap Baekhyun, kini aku yang merasa sedikit dikecewakan olehnya. Dia mempersiapkan bunga itu untukku, tapi dia memperbolehkan orang lain untuk memilikinya bahkan sebelum aku mencium wanginya sedikitpun.

“Bisakah kau tinggalkan kami berdua, Hyeran?” pinta lelaki itu.

Because precious people protected me

My heart is getting warm…

“Kau tidak ikut bersih-bersih?” tanyaku memecah keheningan yang sedaritadi tercipta di antara aku dan Baekhyun setelah Hyeran dengan berat hati mau meninggalkan kami berdua saja di taman belakang yang sepi. Saat ini, kami terduduk di bawah sebuah pohon besar yang daunnya mulai berguguran.

Baekhyun berpaling menatapku, sedikit kaku. “Sudah kok! Aku kebagian membersihkan kamar mandi putra, jadi cepat selesai.”

“Ji, apa kau datang ke sini karena aku yang meminta bantuan Hyeran?” tanyanya kemudian.

Aku menggeleng, “Tanpa Hyeran memberitahuku pun, aku akan datang ke sini. Aku sudah membaca kertas yang kau selipkan di novel itu.”

Senyumnya mengembang saat itu juga, tak lagi bersikap canggung padaku.

“Kenapa kau memberiku kejutan dengan memberi bunga itu? Aku kan tidak sedang ulang tahun.”

Baekhyun mengubah posisi duduknya bersila menghadapku, menopang dagu dengan sebelah tangannya. Tatapan matanya entah kenapa selalu mampu membuat jantungku berdegup kencang.

“Karena ini hari minggu, Ji. Bagiku, hari minggu adalah hari yang spesial.”

“Spesial? Apa alasannya?” sepertinya aku menjadi benar-benar penasaran sekarang.

Lelaki bersurai hitam itu lagi-lagi tersenyum, kali ini diselingi tawa kecilnya. “Alasannya adalah…”

“Adalah?”

“RAHASIA!” tawa kecilnya berubah menjadi tawa puas. Ya, puas melihat ekspresi jelekku yang menjadi korban penasaran akan ceritanya tentang hari minggu. Aku memukul-mukul bahunya, kesal, sementara yang menerima pukulan hanya terdengar tertawa tanpa jeda.

“Ji,” panggil Baekhyun lembut. Aku membiarkan dia berbaring dengan kepala yang bertumpu pada kedua pahaku.

Untuk menatapnya, jelas aku harus menunduk. Dia tersenyum lagi, “Kau tahu apa yang kusuka dari musim gugur?”

“Apa itu sebuah rahasia?” aku tidak mau bertanya ‘kenapa?’, bisa-bisa dia mempermainkanku lagi seperti tadi. Tapi sepertinya dia lelah untuk kembali bercanda. Kini, dia menggeleng.

“Ketika dedaunan jatuh ke tanah, dia sedang berkorban untuk si pohon.” Ucapnya. Pandangannya mulai menerawang ke arah dedaunan yang sudah mulai berubah warna sejak awal September. “Agar pohon bisa terus bertahan hidup, dia harus merelakan daunnya berguguran dan mati di tanah. Tapi aku yakin, pohon tak akan pernah melupakannya. Dedaunan yang mati dan bersatu dengan tanah akan menjadi penyubur bagi tanah itu agar bisa ditanami lagi. Itu artinya, bahkan jika dia harus mati, dia memberi banyak manfaat bagi sekelilingnya.”

Aku tersentuh mendengar cerita di balik musim gugur yang diceritakan Baekhyun. Tanganku bergerak membelai rambutnya, “Lalu, kau mau menjadi yang mana? Pohon atau daun?”

“Aku tidak mau menjadi keduanya,”

Tanpa sadar aku menundukkan kepalaku lebih dekat ke wajahnya, “Kenapa?” sedetik kemudian, aku sadar akan jarak wajah kami yang terlalu dekat.

Belum sempat aku menjauh, Baekhyun lebih cepat memberiku sebuah kecupan singkat di bibir. Entah seperti apa jadinya rona pipiku sekarang.

“Aku hanya tidak mau kisahku berakhir menyedihkan seperti musim gugur, Ji.”

[Minggu, 10 September 2017]

Setelah 7 tahun berlalu, akhirnya aku kembali ke jalan ini, jalan yang akan menuntunku menuju tempatku bernaung dari kekejaman dunia setelah orang tuaku tiada. Mulai hari ini, aku akan bekerja sebagai pengasuh anak-anak dibawah 5 tahun di panti asuhan yang dulu pernah menerimaku dengan tangan terbuka.

Jalan yang ku susuri ini adalah jalan yang sama yang pernah ku susuri bersama Baekhyun. Aku sudah bertahan selama ini tanpa kenangan, namun Baekhyun tiba-tiba hadir lagi ke dalam hidupku sebagai suami dari orang lain. Itu sudah cukup menyakitkan. Tapi lebih menyakitkan lagi saat aku tahu Hyeran-lah yang kini hidup bahagia sebagai istrinya.

‘Every love story is beautiful, but ours is my favorite.’

Kalimat itulah yang dipesan Baekhyun untuk menghiasi kue peringatan hari jadi pernikahannya yang ke 1 tahun, 6 hari yang lalu. Bahkan, aku sendiri yang menulisnya. Dan kata-kata romantis itu Baekhyun persembahkan untuk Hyeran, bukan untukku.

Love makes everything change

It really changed me…

Aku tidak tahu kenapa aku bisa bertahan selama ini hanya untuk seseorang yang pada akhirnya memilih melupakanku dan mencintai orang lain. Mungkin aku yang terlalu bodoh karena telah membiarkannya merebut hatiku seutuhnya hingga tak ada yang tersisa lagi untuk lelaki lain. Mungkin aku juga yang terlalu naif akan makna sesungguhnya ‘mencintai’.

Kyungsoo pernah menyatakan perasaannya padaku jauh sebelum Baekhyun kembali. Tapi tentu aku tidak bisa menjadikannya korban pelampiasan rasaku. Aku tidak bisa mencintai Kyungsoo. Tidak, untuk orang selain Baekhyun. Cinta, tidak dapat dipaksakan, bukan?

“Nah sekarang, cobalah mengakrabkan diri dengan mereka, Jieun.” ucap ibu kepala panti.

Panti asuhan-ku sudah banyak berubah. Termasuk kepala panti yang sudah diganti karena kepala panti yang dulu sudah meninggal dunia karena sakit.

Aku sekarang berdiri di sebuah ruangan di mana anak-anak balita menghabiskan waktu mereka untuk  bermain. Gemas sekali rasanya melihat mereka yang masih memiliki kesempatan menjalani hidup tanpa beban yang berarti. Kebanyakan dari mereka dititipkan sejak bayi karena orang tua mereka yang tak mau bertanggung jawab hingga meletakkan mereka yang masih merah tanpa dosa di depan pintu gerbang panti.

“Hai, gadis kecil! Siapa namamu?” tanyaku selembut mungkin pada seorang gadis kecil lucu yang sedang bermain bersama bonekanya.

“Cheonsa.” Jawabnya, malu-malu.

“Cheonsa? Nama yang bagus!” aku memberi sinyal padanya untuk ber-hi five ria, untungnya dia mau menyambut tanganku. “Nama kakak Jieun. Cheonsa bisa memanggil kakak ‘Kak Jieun’.”

“Teman-teman! Aku punya kakak baru, namanya Kak Jieun!” serunya pada teman-teman sebayanya, tak lepas dari logat khas anak kecil.

“Kak Jieun!”

“Kak Jieun, ayo main bersama! Kakak bisa pinjam bonekaku!”

“Bonekaku saja, Kak! Punyaku lebih bagus!”

Aku tertawa melihat tingkah mereka yang begitu polos. Ingin rasanya aku mencubiti pipi gembul mereka satu-persatu, tapi apa daya, aku tak boleh membuat anak-anak kecil ini menangis di hari pertamaku bekerja sebagai pengasuh paruh waktu mereka.

“Baiklah! Baiklah! Kakak akan bermain bersama kalian, tapi dengan satu syarat!”

“Apa syaratnya?” tanya mereka, kompak.

“Mudah saja,” aku tersenyum lebar. “Kalian harus menjadi anak baik! mengerti?”

“Mengerti, Kak!”

Aku bermain bersama mereka, bermain apa saja yang sekiranya membuat mereka bahagia menjadi anak-anak. Saat seumur mereka, walaupun hidup sebagai anak tunggal, aku tidak pernah merasa sendirian. Ada orang tua yang selalu menemaniku, menjadikanku prioritas utama mereka melebihi hal lain di dunia.

Meski berada di tempat yang membuatku rentan bernostalgia, di sini aku tidak merasa sedih, setidaknya jika mereka ―anak-anak kecil itu― berada di sampingku.

“Jieun, bisakah kau membantu kami sebentar?” tanya seorang pengasuh anak-anak di atas 5 tahun.

“Tentu. Apa yang bisa kubantu?” aku bangkit dari posisi jongkok, meninggalkan anak-anak asuhanku untuk menghampiri perempuan yang membutuhkan bantuanku.

“Kami kehilangan anak laki-laki bernama Sowon, dia sedang sakit. Bisa kau bantu kami mencarinya di sekitar panti?”

Anak yang sedang sakit, hilang?

“Ciri-cirinya?”

“Dia memakai masker dan mengenakan jaket berwarna hitam. Tingginya sekitar 120 sentimeter.”

Aku bergegas mengambil langkah cepat mencari sosok Sowon yang menghilang di hampir setiap penjuru panti yang sudah kuketahui luar dalamnya. Hingga ke setiap tempat terpencil yang berpotensi menjadi tempat persembunyian anak-anak seusianya, Sowon tak kunjung menampakkan batang hidungnya.

Di satu titik, langkahku terhenti. Aku berdiri di tempat pertama kali Baekhyun memberiku kejutan di hari minggu dan mencuri ciuman pertamaku. Taman belakang bangunan putri yang selalu sepi. Tidak banyak yang berubah di sini. Bahkan, pohon tempat kami berdua duduk bersama di bawahnya pun masih ada, lengkap dengan pemandangan daun yang berubah warna kuning kejingga-jinggaan.

“Kakak tahu, Sowon lelah. Tapi, apa yang dilakukan kakak-kakak panti tak lain demi kebaikan Sowon, demi melihat Sowon sembuh.”

“Baekhyun?” panggilku ragu saat aku mengenali sayup-sayup suaranya di balik pohon besar itu. Aku menemukan anak laki-laki yang kutebak adalah Sowon, bersamanya.

Tunggu!

Kumohon jangan buat aku semakin berdosa karena mencintai lelaki itu.

Dalam genggamannya, beberapa tangkai bunga berwarna kuning tampak terikat menjadi satu, persis seperti yang ia ingin berikan padaku 7 tahun lalu namun Hyeran yang pada akhirnya menyimpannya.

Di sini. Di tempat ini. 7 tahun lalu. Sekarang. Kenapa hanya Baekhyun yang bisa menemukan Sowon di tempat ini?

“Selamat hari minggu, Ji.”

Airmataku menetes sejadi-jadinya saat dia memberikan bunga berwarna kuning itu untukku. Lelaki itu tidak lupa. Dia sama sekali tidak melupakanku.

Tidak! Aku tidak boleh mengharapkan Baekhyun lagi!

Aku lekas menghapus kembali sisa-sisa airmataku yang tadi jatuh tak tertahankan.

“Kau yang bernama Sowon? Ayo kembali, kakak-kakak panti mencarimu loh!” ucapku yang langsung memusatkan perhatianku pada Sowon, mengabaikan seikat bunga yang masih dalam genggaman lelaki itu.

Sowon bersembunyi di balik Baekhyun seperti sudah sangat dekat dengannya.

“Aku akan mengantar Sowon kembali ke kamarnya, jangan khawatir.”

“Kenapa kau bisa ada di sini?” duniaku rasanya semakin sempit dan sesak akhir-akhir ini.

“Perusahaan ayah angkatku merupakan penyumbang terbesar di panti ini. Aku sesekali datang berkunjung untuk menemui anak-anak. Aku tak menyangka bisa bertemu denganmu lagi di sini, Ji.” Jelasnya.

Apa aku bekerja di tempat yang salah? setelah ini, aku pasti akan bertemu lagi dengannya. Sesungguhnya, aku bahagia. Tapi, rasa terlukaku berada jauh di atas bahagiaku.

“Terimalah, Ji.”

Baekhyun mencoba memberiku bunga dalam genggamannya lagi. Aku terdiam, tak menerimanya.

“Terimalah jika kau tak mau melihatku memberikannya lagi pada Hyeran.”

Ketika Baekhyun menyebut nama istrinya di depanku, kebahagiaan kecilku seketika runtuh, terkalahkan oleh rasa luka.

Percayalah, Baekhyun. Aku merasa jauh lebih terluka bukan saat kau pergi, tapi saat… kau kembali.

 

[ To Be Continued ]

 

Wattpad | WordPress

14 tanggapan untuk “SUNDAY IN SEPTEMBER – 2nd Week – by AYUSHAFIRAA”

  1. percayalah kak, aku baca ff ini sampe nangis gara gara nyesek banget.aku bayangin gimana jadi jieun dan rasanya sedih banget. baekhyun jahattt ihhh. kenapa milih hyeran jadi istri?!!!

    1. Huweeee maapin yaa udah bikin kamu nangis plus nyesek 😭 iyaaa hidupnya Jieun di sini tuh emang kampret syekaleh :’) ditambah dengan kehadiran cowok masa lalu yg nikah sama musuh sendiri ugh ohoks :””” Tau tuh Baek, kayak gak ada stok cewek lain aja :””””

  2. Percayalah baekhyun aku jauh lbih trluka bukan saat kau prgi tp saat kau kmbali. Huaaaa nyesseekk oii. Nggu 7th taunya zoonnkk!!! Bca fict ini smbil dgerin lagunya kyuhyun yg 7 years of love tmbah bkin pngen mwek. kl gw jd jieu mah pas blik ngrung dri dkmar,mtiin lmpu nkmati galau smbil dgrrin lagu GD feat sky fereira yg black smbil mkan es krim coklat wadah jumbo tkaran bwt 1 kluarga. Ckck malang nsib mu jieun. Plis thor tak adkah sttik kbhgiaan bwt jieun???

    1. Kalo kembalinya masih single sih gapapa, lah ini udah married setahun gimana gak kampret momen coba wkwk :’) huwahaha bisa bisa lagu itu, soalnya sama sama menikah dengan orang lain uhukz :’v galau aja dinikmatin ya allah xD yg makan es krim jumbo itu mah rakus 😂😂😂👌 hmmm, ada tidaya ada tidaya? 😆😆😆 semoga aja ada yaa 😍😍😍

  3. ugh… dari sekian banyak cewek kenapa harus Hyeran? trus Baekhyunnya juga… Ugh… bikin sakit hati… penantian sekama 7 tahun berakhir sia-sia…
    rasanya nyesek banget thor… feelnya dapat bangettt… 😢 dtunggu chapter selanjutnya… 😊

    1. Iyaaa itu juga yg dirasain jieun :’) Baekhyun emang kampret banget pas udah dewasa hiks :’v hooh udah ngelakuin segala macem biar bisa lupain baekhyun, eh baekhyunnya balik lagi ohoksss :’v makasih, alhamdulillah kalo feelnya dapet^^ siip siip coming soon yaa😘😘😘

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s