[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Surreal

[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Surreal – Namssi
Kim Jongdae (EXO’s Chen)-Min Sehee (OC) // Surrealism, Friendship, Hurt // G

-happy reading-

Langkahnya perlahan menyusuri jalan meninggalkan jejak yang hilang disapu debu. Senyuman kecil terlukis di bibir indahnya. Matanya menerawang jauh. Terbayang kembali masa dulu. Ia merindukannya. Begitu pula dengan sosoknya.

Derap langkahnya menyusuri pinggiran sungai yang sudah berlapis aspal. Langkahnya terhenti. Tubuhnya kini menghadap ke aliran sungai yang begitu tenang. Pikirannya kembali melayang Festival musim gugur sudah dimulai sejak minggu lalu. Mengingatkannya pada sosok yang dulunya selalu merengek minta ditemani ke festival musim gugur ini.

Suasana begitu ramai di sekitar sungai. Hingga tak sengaja seorang menyenggol bahunya dan kakinya sukses tergelincir dari penapakannya. Kakinya tak lagi menggapai dasar. Dinginnya suhu air dibulan yang memasuki musim gugur semakin menjadi. Paru-parunya kehabisan oksigen. Matanya terbuka lebar mecoba meraih permukaan. Ia tenggelam.

“Inikah akhir hidupku? Haruskah aku mati seperti ini? Bahkan aku belum membalas penyesalanku kepadanya. Akankah aku melihatnya lagi ketika aku memilih meninggalkan dunia ini?”

Tubuhnya mulai melemas. Paru-parunya enggan bekerja. Hingga sebuah suara masuk ke indera pendengarannya.

“Kau mau? Melakukan yang kau sebut dengan membalas penyesalan itu?”

“Bisakah? Kalau begitu, aku mau.”

~~~

Sebuah sinar yang memasuki netranya membuatnya menyipit kesilauan. Ia mengerjapkan matanya mencoba bersekongkol dengan sinar itu. Hingga ia kembali mendapatkan fokus untuk melihat sekelilingnya. Ia menangkap seolah gadis yang menatapnya dengan tatapan kesalnya.

Matanya terbelalak melihat sosok gadis itu. “Min Sehee?” Tanyanya lebih ke dirinya sendiri. Gadis itu mendengus. “Kau sudah bangun, Kim Jongdae-ssi?” Tanya gadis bermarga Min itu.

Apakah ini disurga? Apakah aku benar-benar sudah mati? Setahunya Min Sehee, sahabatnya, telah menemui ajal karena penyakitnya kankernya. Sehee yang melihatnya melamun memukul kepalanya sampai si empu mengaduh kesakitan.

“Bahkan di surga pun, ia masih sempat memukulku. Apa aku terlalu berdosa?” guman Jongdae. Sayanganya Si gadis masih bisa menangkap gumanan dengan suara kecilnya itu. Min Sehee memandang kawannya, Kim Jongdae dengan tatapan tidak percaya.

“Kau bermimpi apa Tuan Kim? Surga? Apa aku terlalu cantik seperti malaikat di surga?” tutur Sehee sarkastis. Jongdae mencibir kelakuannya. Cantik? Malaikat? Mungkin jika ia melihatnya dari Mount Everest menggunakan sedotan kopi yang disumpal menggunakan permen karet ia akan mengakuinya.

Tapi tunggu, jika ini bukan surge lalu apa? Diliriknya Si gadis yang baru ia sadari menggunakan seragam sekolah yang begitu tersampir pas di tubuhnya. Lalu melirik dirinya sendiri. Sama halnya dengan Si gadis yang masih menggunakan seragam sekolah, ia pun sama.

“Ini bukan mimpi, kan? Bukannya aku sudah mati? Sehee-ya, bisa kau tampar aku?” Tanpa pikir panjang kepalanya kembali dipukul. Bahkan kali ini lebih keras. Kini kepalanya sudah berdenyut. Sungguh rasanya ia merasa tangan Si gadis sekeras palu.

Sehee menegakkan badannya melangkah pergi sambil memakai tasnya. “Ayo!” Jongdae menatapnya dengan tatapan bertanyanya. Sehee mendengus. “Kau berjanji akan menemaniku ke festival musim gugur tahun ini. Kau lupa lagi?!” Jongdae terdiam dan berpikir. Tapi tangannya sudah ditarik kuat oleh Si gadis.

~~~

Senyum mereka mengembang. Melangkah bersisihan dan sesekali SI gadis menarik Si pemuda menuju kedai-kedai kecil di sana. Tapi di balik senyuman SI pemuda, pikirannya menerawang jauh. Melirik Sang gadis yang sekarang sedang asik memakan permen kapas berwarna merah muda.

Kalau boleh jujur, ia merindukan wajah itu. Wajah yang dulunya sering ia lihat dengan penuh senyuman di wajahnya. Ia masih memikirkan bagaimana ia kembali ke tujuh tahun yang lalu? Ia teringat suara bisikan itu. Mungkinkah ini kesempatan yang ia katakan? Jika iya, maka bisakan ia menebus penyesalannya.

Kini mereka duduk di bangku panjang di depan seungai yang mengalir dengan damainya. “Kau lapar?” Tanya Jongdae. Sehee menatapnya dan mengangguk dengan cengiran khasnya. Jongdae terkekeh menyaksikannya. Ia beranjak dari duduknya dan berjalan meninggalakan Sehee untuk mencari makanan sebagai pengganjal perut mereka.

Sudah hampir dua puluh menit Sehee menunggu ditemani semilir angin yang mulai mendingin di awal musim gugur. Ia sempatkan menggores catatan kecil di buku ungunya. Setelah selesai, ia memikirkan kira-kira kemana perginya lelaki bermarga Kim itu? Akhirnya ia memutuskan beranjak mencoba mencari kawannya itu.

Langkahnya terhenti di pinggir jalan ketika di seberangnya melihat pemuda Kim itu mengacungkan plastik hitam yang entah apa isinya. Tapi yang pasti itu bisa menyumpal mulut cacing-cacing yang sudah merengek di perutnya.

Begitu juga Jongdae yang melihat Min Sahee yang tersenyum di seberang salan itu. Plasik hitam di tangannya ia acungkan tinggi-tinggi dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.

Saat lampu jalan berubah hijau, ia melangkah mendekati Sehee yang masih tersenyum di seberang. Kebetulan jalanan tidak terlalu ramai. Sampai ia melihat senyuman itu hilang perlahan. Dilihatnya Sehee berlari ke arahnya dengan wajah paniknya. Saat berada di depannya, Sehee mendorong tubuhnya kuat-kuat hingga ia terpental beberapa meter dari semula.

Kepalanya sedikit pening. Ia ingin menyumpahi Sehee yang hampir membuat tubuhnya terluka. Tapi yang ia lihat kini malah membuat batinnya terluka. Di sana, Sahee berlumuran darah dengan truk yang baru saja berbenturan dengan tiang listrik.

Hatinya hancur. Ia melangkah dengan langkah gontai. Setetes kristal tumpah dari pelupuk matanya. Menghampiri gadisnya yang terenyum kecil ke arahnya dengan darah yang kini memoles wajah cantiknya.

Dipangkunya kepala Sehee dengan penuh kehati-hatian. Senyuman Sehee justru membuat tetes bening itu makin tumpah. Kepalanya yang berdarah saja tak ia pedulikan. Perlahan tubuh Sehee melemas. Ingin rasanya ia berteriak. Tapi tubuhnya pun juga mulai melemas. Hingga ia kehilangan kesadarannya tepat saat seorang Min Sehee menyunggingkan senyum terakhirnya.

~~~

“Bangunlah.”

Bisikan lembut itu membuatnya terbangun. Tapi yang ia lihat hanyalah dinding putih. Disampingnya ada wanita berseragam putih yang langsung menyadari kesadarannya. Wanita itu menekan tombol di samping ranjangnya hingga dua orang berjas putih itu datang.

“Ah, aku tadi menemukan ini di meja. Mungkin seseorang memberikan kepadamu,” kata wanita itu tiba-tiba. Ia menyerahkan kotak kecil kepadanya. Dengan ragu ia mengambilnya. Setelah itu Si wanita meninggalkannya seorang diri.

Jongdae membuka kotak itu. Ada sebuah robekan kertas berlumur darah dengan tulisan tangan yang ia yakin siapa pemiliknya. Tetes bening kembali menetes dari matanya.

“Besok hari kelahiranmu, Bintangku.
Kuucapkan selamat melalui goresan pena ini.
Biarkan aku mengungkapnya.
Sebuah perasaan murni dari jiwaku, yang kini telah mencintaimu.
Aku tahu ini akhirnya.
Hiduplah tanpa penyesalan dihidupmu.
Biarkan diriku untuk terus menyimpan senyumanmu yang akan selalu menggores sisi memoriku.
Dengan begini, bisa ku ucapkan selamat tinggal untukmu, Bintangku”

-End of Story-

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s