[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Fiction

[CHEN BIRTHDAY PROJECT]
Fiction
By yourblackcat

 

Lelah. Aku terlalu membuang banyak waktu hanya untuk mengikuti pria yang paling kucintai di SMA ini. Aku tahan kepanasan dengan keringat yang membanjiri di sekitar dahiku hanya untuk melihat dia bermain bola basket di lapangan luar sekolah.

 

Aku suka dia. Kim Jongdae akan menjadi pria penyemangatku untuk datang ke sekolah. Setiap dia tersenyum matanya akan menyipit dan membentuk sebuah garis mata yang sangat lucu. Jika diceritakan pasti sangat panjang intinya aku menyukainya, mencintainya, dan membencinya di satu sisi.

 

Seperti saat ini, aku tak suka dia bermain basket di luar. Ini membuatku kepanasan hanya karena menungguinya saja. Tapi apa dia sadar jika aku mencintainya?

 

Aku melangkah dengan terseok-seok menuju ke perpustakaan sesuai janjiku bersama Seulgi di pagi hari tadi. Dari jauh aku sudah melihat dia membawa banyak buku geografi.

 

“Hampigo

 

satu jam aku menunggu! Kau selalu saja mementingkan si Jongdae daripada proyek kita.” datang-datang aku sudah diamuk oleh Seulgi saja.

 

Aku hanya menyengir kuda dan menaruh tasku di meja perpustkaan yang untungnya saat ini keadaannya sedang sepi.

 

“Kau tahu kan, aku sedang jatuh cinta saat ini.” ucapku sambil melihat Seulgi yang menaiki tangga untuk meraih buku di rak yang paling tinggi.

 

“Tapi dia tak menganggapmu lebih, kan? Jatuh cinta membuatmu bodoh.” Seulgi seperti membenci diriku yang sedang jatuh cinta dengan Jondae.

 

Lalu dia turun dari tangga lipat itu dan menghampiriku di bawah.

 

“Aku tak sampai. Bisa kau ambilkan buku biru tebal itu untukku?” tanya Seulgi. Aku langsung menaiki tangga itu perlahan.

 

Badannya terlalu pendek jadi aku memakluminya dan setelah itu aku mengambil buku yang ia maksud. Saat melihat ke bawah aku tak melihat Seulgi berada di dekat tangga.

 

Aku perlahan turun dan ini membuatku ketakutan, karena tangga ini cukup tinggi. Saat aku turun kakiku kesulitan menyentuh anak tangga berikutnya, itu membuat tangga ini goyah. Dan kakiku langsung terpleset.

Aaargghh..!!!”

 

BRUK

 

Tumpukan buku di rak menghujani kepalaku. Kepalaku terbentur kuat oleh tangga itu dan rasa sakitnya menjalar tak kalah hebat hingga selanjutnya kurasakan aku yang terjatuh di lantai dengan posisi telingaku yang terbentur duluan.

 

Aku melihat Seulgi menghampiriku dengan cemas. Ia berbicara kepadaku, namun aku tak mendengar jelas karena telingaku sangat sakit saat ini. Aku menangis kesakitan hingga kegelapan menyelimuti penglihatan ku dan semuanya serasa mati.

 

*****

 

Sinar matahari menyeruak masuk ke mataku. Silau cahayanya langsung membangungkanku dari tidurku yang serasa menyakitkan ini. Aku masih memakai baju sekolah. Rasa pusing masih terasa di kepalaku, aku langsung bangun dengan cepat dan menyadari ini bukan kamarku.

 

“Kau sudah bangun?”

 

Aku menoleh ke belakang ketika ada suara yang memanggilku dan alangkah terkejutnya aku.

 

“Syukurlah jika kau sudah bangun, Hye Ra.”

 

Dia memanggil namaku. Dia berjalan ke arahku dan aku dapat mengingat jelas siapa dia.

 

KIM JONGDAE!

 

“Tunggu- kenapa aku bisa ada di sini?” Itu pertanyaan yang keluar dari kepalaku ketika semuanya buntu.

 

“Kau pingsan di halte sekolah kita yang dulu dan kenapa kau memakai baju sekolah lama?” Jongdae menatapku dengan serius.

 

“Setahuku tadi aku habis pulang sekolah…”

 

Jongdae langsung tertawa. Aku bingung dengan situasi sekarang.

 

“Kau itu sudah berumur dua puluh dua, Hye Ra dan kenapa kau masih sekolah…”

 

APA?! Setahuku pagi tadi aku masih berusia 17 dan sekarang aku sudah berusia 22. Apa yang terjadi sekarang?

 

“Aku ingin pulang..” Aku tak peduli jika aku ingin bersamanya tapi sekarang aku harus mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.

 

Aku pamit dengan keluarga Jongdae lalu aku pulang, walau aku tak tahu sedang berada dimana saat ini. Aku terus berjalan saja hingga aku menyadari rintikan hujan mengenai tubuhku. Masa bodoh.

 

Semakin aku berjalan aku merasa ada payung yang melindungiku dari hujan. Menoleh ke belakang aku melihat ada sosok Jongdae disana dan ia langsung berteduh di satu payung yang sama.

 

“Aku datang karena kau kehujanan.”

 

Aku tersenyum. Dia manis sekali. Aku jadi malu sendiri karenanya.

 

“Minggu depan ada pesta reuni sekolah. Kau mau ikut?”

 

Pesta? Dia mengajakku berdansa? Aku langsung mengiyakan ajakannya. aku tak peduli jika kemarin dia mencuekkiku di sekolah.

 

*****

 

Ini hari yang kutunggu. Tapi aku datang telat ke pesta. Penampilanku hanya mengenakan dress hitam selutut dengan hiasan brokat dan rambut yang ku urai dan kukepang kecil di bagian kiri. Yang pasti penampilanku sangat buruk.

 

Aku bertemu dengan kawan lamaku yang tampak berubah di usia 20an mereka. Mereka tampak dewasa atau aku yang masih mirip dengan remaja labil. Aku berjalan mencari sosok Jongdae dan aku menemukannya. Ia mengenakan setelan jas hitam. Aku akui ia paling tampan disini.

 

Kuhampiri dia langsung dan ia menyambutku dengan manis. Kami berbincang sedikit dan selanjutnya aku jatuh ke dalam mimpi termanisku. Tangannya mengenggamku erat dan aku bisa mencium aroma khasnya yang begitu memabukkan.

 

Saat aku masih berdansa dengannya, aku terkejut melihat seorang wanita yang menarik keras Jongdae (ku). Ia terlibat adu mulut dengannya. Hingga wanita itu menjelaskan padaku jika dia adalah tunangan Jongdae. Jongdae tak menyetujui pertunangan itu.

 

“Hye Ra kenapa keningmu berdarah?”

 

Jongdae tengah menatapku dengan cemas saat ia tak sengaja melihatku. Aku menyentuh keningku dan ada banyak darah di tanganku. Aku terkejut dan selanjutnya aku merasa pusing hingga penghilatanku gelap semuanya.

 

*****

 

Deg

 

Deg

 

Deg

 

TIN..

 

Kelopak mataku dengan berat membiarkan mataku melihat saat ini. Semuanya putih dan aku mencium aroma obat-obatan yang sangat menyengat. Lalu tatapanku selanjutnya beralih menatap seorang perempuan yang berada di sampingku.

 

“Hye Ra kau sudah bangun!” ia memekik menyerukan namaku.

 

“Seu..Seulgi. Apa yang terjadi?” Akhirnya aku bisa mengingatnya.

 

“Kau koma selama dua minggu lebih dan aku mencemaskanmu jika kelak kau tak bangun lagi.” Seulgi langsung memelukku.

 

Koma dua minggu?! separah itu keadaanku? Aku masih tak percaya dengan yang aku alami. Lalu aku teringat dengan Jongdae yang mengajakku berdansa di bawah lampu sorot.

 

“Jongdae…”

 

“Uhm, dia sudah pindah sekolah, Hye. Lupakanlah dia.”

 

Aku memejamkan mataku. Rasanya ini baru satu hari berlalu, yang ku alami semua ini adalah halusinasi. Semuanya tak akan nyata tapi aku senang bisa melihatnya 5 tahun di masa depan. Dia berdansa denganku semalam lalu paginya aku terbangun dengan halusinasiku sendiri.

 

If he leaves, let him go

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s