[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Dear Prince

[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Dear Prince-Elnano

Kim Jongdae x Kang Seulgi|PG-17|Fantasy, Romance|Ficlet

.

.

.

.

.

Merah dan hitam. Kastil tua yang memang kotor dan berdebu kini semakin usang. Pengap, panas, ruang yang dulu digunakan lantai dansa kini dilahap kobaran api.

Bersandar di salah satu pilar, Pangeran Jongdae menempelkan tubuhnya lekat-lekat. Napasnya terengah, detak jantungnya memompa cepat tidak teratur, pun kelopak matanya yang merapat. Berpikir keras di kondisi yang genting. Berbagai strategi satu persatu muncul, baik dan buruk dari dampaknya tersaring, akhirnya ia pun telah memutuskan satu strategi.

Bersiap keluar dari persembunyian, Pangeran Jongdae mencengkeram kuat hulu pedang yang sedari tadi terhunus berada di sampingnya. Langkahnya terhenti ketika ular besar bersayap menyemburkan api menggunakan mulut, lalu mengenai sisi kiri tubuhnya. Segera menghindar, berlari dan melompat di atas puing-puing bangunan yang hancur. Ujung maniknya menangkap siluet perempuan yang menebas kaki si ular raksasa.

Raungan sakit menggelegar dahsyat, Pangeran Jongdae menutup kedua telinganya mencegah dengingan keras itu melumpuhkan pendengarannya. Menyaksikan monster raksasa yang menggeliat ke sana-kemari dengan mata merahnya yang menatap nyalang membara, menubruk tiang ataupun dinding hingga sisik berkilaunya berguguran, Pangeran Jongdae mencuri waktu untuk menyimpan tenaganya.

“Pangeran Jongdae! Sekarang!”

Menoleh pada sumber suara, Pangeran Jongdae membelalak saat perempuan yang memanggilnya terpental ditendang oleh Naga yang mengamuk. Sudah ia peringatkan perempuan itu untuk langsung pulang akan tetapi ia begitu kukuh ingin membantunya melawan Naga.

“BERANINYA KAU NAGA BURA!” teriak Pangeran Jongdae marah seraya berlari, cepat dan lincah menuju tengkuk si Naga. Pada akhirnya, ia harus mengubah strategi yang telah tersusun.

Saat Naga Bura terfokus menyerang perempuan yang berusaha bangkit akibat tersungkur, Pangeran Jongdae menyeringai lebar serta meloncat tinggi, mengapung di udara bersiap menghujam akan tetapi Naga Bura mengibaskan ekornya, membuat Pangeran Jongdae jatuh berlutut.

Tidak ada yang bisa terlewat oleh netra tajam Pangeran, termasuk cara licik Naga yang membuat muslihat seakan tidak menyadari eksitensi musuh yang berusaha menyerang, Pangeran Jongdae berhasil membabat ekornya sebelum melibas pada dirinya.

Tidak melewatkan kesempatan emas, Pangeran Jongdae melangkah secepat kilat pada Naga yang menggelepar liar, juga mengaum atas rasa perih nan pedih.

Krak!

Berhasil. Pangeran Jongdae telah membunuh sang Naga. Perlahan namun pasti, monster raksasa itu berubah mengecil hingga asap gelap yang sebelumnya menyelimuti tubuhnya memudar, menampakkan wujud aslinya, seorang wanita paruh baya. Mendekat ke arahnya, Pangeran Jongdae membungkuk setelah berdiri di sampingnya, memperhatikan bagian leher sebelum menarik paksa kalung berliontin merah delima yang dipakainya.

“Semoga dosa-dosamu diampuni,” ujar Pangeran Jongdae.

Berbalik meninggalkan si wanita paruh baya yang tubuhnya mulai terbakar dari ujung kaki hingga ujung kepala, Pangeran Jongdae berlari menghampiri perempuan yang menyandar di tumpukan bebatuan.

Berjongkok dan mengelus pipi si perempuan, Pangeran berkata tegas, menurunkan titah yang tidak dapat dibantah. “Naiklah ke punggungku.”

Si perempuan menggeleng lemah, menjauhkan tangan Pangeran yang mengusap pipinya. Tidak seharusnya ia mendapatkan perlakuan seperti itu dari manusia, apalagi seorang Pangeran yang berjuang susah payah mendapatkan permaisuri.

“Jemputlah Putri Rapunzel, beliau menunggu Anda, Pangeran.” Halus dan lembut bagai beledu, Pangeran Jongdae terdiam mendengar suara si perempuan yang mengalun indah. Benar perkataanya, tujuan awalnya memanglah untuk menyelamatkan sang Putri, akan tetapi mengapa kini ia tak begitu antusias lagi bahkan setelah menaklukkan musuh yang paling berbahaya?

Diamnya sang Pangeran membuat si perempuan menghela napas.

“Pangeran,” panggil si perempuan, iris zamrudnya berbinar sendu. “Cepatlah selamatkan Putri sebelum kastil ini runtuh.”

“Lalu bagaimana denganmu, Seulgi?”

Mengapa perhatian kecil dari sang Pangeran terasa menyakitkan?

“Saya bisa menggunakan sayap.”

Seulgi melebarkan sayap, memberi tahu pada Pangeran bahwa dirinya tidak perlu dikhawatirkan, Seulgi tidak ingin membebani Pangeran.

“Begitukah?” tanya Pangeran ragu.

Seulgi mengangguk-anggukkan kepala sebagai jawaban.

Pangeran bukannya tidak tahu atas sikap hipokrit Seulgi, lemah tetapi mengaku kuat. Sama seperti saat pertama kali mereka bertemu di hutan rawa. Seulgi mengaku sedang berenang padahal jelas sekali dirinya tengah terjebak dan diisap lumpur.

“Maukah kau menungguku? Kau bisa ikut bersama kami. Kita pulang bersama.”

Kalimatnya terlalu cepat hingga terkesan menggebu-gebu, Seulgi terkekeh kecil. Ikut? Pulang bersama? Pertanyaan yang aneh. Apakah Pangeran lupa bahwa mereka berdua berbeda asal?

“Rakyat Anda akan membunuh saya jika saya menginjakkan kaki di kerajaan Pangeran. Manusia akan merasa terancam dengan kedatangan Elf seperti saya.”

Sadar diri, bagaimanapun Seulgi tahu maksud Pangeran baik. Tetapi cukup sampai di sini saja, sesuai dengan perjanjian yang menyatakan Seulgi akan membantu Pangeran Jongdae menunjukkan jalan menuju kastil, sebagai ganti dari pertolongan agar Seulgi selamat dari lumpur pengisap.

“Aku lupa tentang hal itu.” Jongdae tertawa kecil, merutuki kebodohannya tentang perbedaan mereka. Sesungguhnya perbedaan fisiknya tidak begitu jauh dengan manusia, klan Elf mempunyai telinga panjang runcing dan sepasang sayap yang tidak dimiliki manusia. Hanya itu, cara berpakaiannya pun sama seperti manusia.

“Kalau begitu sampai jumpa,” pamit Pangeran Jongdae.

Harusnya selamat tinggal, bukan sampai jumpa, mereka tidak akan bertemu kembali. Dan pada akhirnya Seulgi harus menatap punggung lelaki yang ia sayang.

Meniti tangga transparan buatan Seulgi, Pangeran menoleh pada Seulgi yang mengobati luka bakar di lengan kirinya dengan kekuatan spesial yang dimilikinya.

“Terima kasih, Seulgi.”

Kembali kasih teruntuk dirinya si manusia yang ia cinta. Teruntuk dirinya ia serahkan segala kekuatan untuk kehidupannya. Sejatinya sang Pangeran tidak akan bertahan oleh api panas Naga Bura, tetapi karena Seulgi memberi perisai Elf-nya, sang Pangeran terlindungi. Akibatnya Seulgi-lah yang harus menanggung kematian.

“Terima kasih kembali, Pangeran Jongdae. Aku sangat menikmati waktu yang kulewati bersamamu walau sekejap.” Menatap cahaya tubuhnya yang perlahan memudar, Seulgi mendongak ke anak tangga teratas, tempat terakhir kali presensi Pangeran terlihat. “Aku mencintaimu, Pangeran.”

FIN.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s