[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Birthday Wish

[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Birthday Wish – IKENACHU || CHEN & YOU || Romance, Hurt || G

“Hari ini ulang tahunku, jadilah orang yang mencintaiku untuk sehari ini saja, aku mohon.”

===

Hari ini adalah ulang tahun Kim Jongdae, Pria yang mempunyai rahang tegas dengan suara madu yang memabukan bagi siapapun yang mendengarnya. Aku berteman dengannya hampir setengah hidupku, semuanya berawal dari aku yang lugu mengajaknya untuk berteman hingga akhirnya jatuh cinta dan menderita. Kau tanya mengapa? Karena apa yang dikatakan orang-orang memang benar adanya. Cinta itu menyakitkan. Cinta itu jebakan. Sekali kau terperangkap, kau tidak bisa melepaskan diri.

Jongdae akan pergi. Dia akan pergi meninggalkanku. Dia akan menikah.

Kau tau apa yang aku rasakan? Hancur. Kakiku lemas seperti tak bertulang ketika ia berkata bahwa ia akan menikah setelah hari ulang tahunnya, Jongdae terpaksa melakukannya demi ayah dan ibunya yang terbelit hutang. Aku tersenyum bodoh berusaha untuk tetap tegar dan mengucapkan selamat, kemudian pergi begitu saja meninggalkannya mematung.

Jongdae aku mencintaimu. Sungguh, sangat sakit rasanya sampai kerongkonganku tercekat, membayangkan semua kenyataan pahit ini. Kau tidak tahu bukan? Tentu tidak. Karena aku tidak pernah mengungkapkan perasaanku yang sesungguhnya.

Kemudian pagi itu kau datang ke rumahku dengan wajah yang kusut pucat pasi, membawa kue dengan lilin dan bernyanyi lalu meniup lilin tersebut seraya tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa. Dan berkata,

“Maafkan aku, aku menaruh hati padamu.” Jongdae kau manusia kurang ajar. Aku benci padamu, kau membuat hatiku terasa di tusuk dengan mengatakan kau menyukaiku sehari sebelum kau pergi. Selama ini aku mencoba untuk diam, aku mencoba untuk menahan untuk berkata ‘aku menyukaimu’ karena takut ini akan terjadi. Aku takut kau menderita sama sepertiku. Tapi semuanya terlambat.

Kau melarangku untuk berbicara, kemudian mengatakan apa yang kau harapkan pada saat itu, “hari ini ulang tahunku, jadilah orang yang mencintaiku untuk sehari ini saja, aku mohon… ” ucapmu terlihat sangat menyiksa. Aku mengiyakan mencoba terlihat baik-baik saja, yang dimana sejujurnya sudah sekarat.

Seharian kau dan aku bersama layaknya sepasang kekasih, yang membuatku semakin kehilangan akal sehatku akan sakit yang aku rasakan setiap kali kau tersenyum dan tertawa seakan dunia akan berakhir jika kau terdiam. Lalu saat sore, kita memilih untuk duduk di taman kota. Mencoba untuk menikmati beberapa jam menuju kekecewaan ku yang terbesar.

Angin dingin musim gugur berhembus mengusak rambutnya di hadapanku, bau tanah yang menyengat diakibatkan hujan-yang tumben sekali turun di musim gugur, dan awan awan yang kelabu membuat semuanya semakin sempurna seakan meledek.

“Kau tau apa yang paling menyedihkan?” tanyanya menyender pada bangku taman, aku menggeleng lemas, tatapan mata Jongdae tampak sangat bersalah. Ia menghela nafas lalu melanjutkan, “banyak sekali orang yang mengikat janji tapi tidak saling mencintai, dan begitu sebaliknya. Banyak orang yang saling mencintai tapi tidak mengikat janji.”

Aku menatap mata cokelatnya lebih dalam lagi tidak mengerti. Ia tersenyum canggung, “seperti kita.” ujarnya, kemudian seketika hatiku terasa tertonjok oleh palu. Apa Jongdae sudah tau aku menyukainya?

“Hey Jongdae, sudahlah… ini memang bukan takdir…” ucap ku dengan senyum semanis mungkin agar dia tidak mengetahui betapa hancurnya aku melihatnya menderita.

“Kau bilang ini takdir? Bullshit.”

“Aku tidak percaya akan takdir. Jika ini yang dinamakan takdir.” jongdae memejamkan matanya, air wajahnya terlihat sedih. Aku menundukan wajahku tidak tau harus bagaimana, perasaanku terlalu kusut untuk di jelaskan.

“Maafkan aku,” air mataku mengalir deras, benar-benar sesak. Aku tidak kuat lagi. Mendengarnya meminta maaf seperti itu… Membuatku menjadi orang yang lemah.

“Dulu kau sering menangis untukku, sekarang kau justru menangis karenaku, maafkan aku.” cukup Jongdae. Hentikan.

“Aku sangat mencintaimu.”

Tolong-

“Maafkan aku.”

Hentikan.

Aku menangis sejadi-jadinya ketika Jongdae membawaku kepelukannya, rasanya hangat, sangat hangat aku hampir lupa bahwa pelukannya bukan milikku lagi. Aku sudah tidak bisa apa-apa. Yang ku lakukan hanya menangis.

“Terimakasih untuk hari ini,” ia melepaskan pelukan kami. Wajahnya terlihat sudah kacau, rambutnya berantakan serta matanya yang berkaca seakan mengatakan selamat tinggal untukku. Aku meremas ujung kaus yang ia pakai sambil terisak menyedihkan. Jongdae berusaha menenangkan, tapi tak berhasil. Aku terus menangis, dan berteriak. Tidak peduli dengan orang sekitar yang menatap dengan pandangan anehnya. Mereka tidak tau apa yang aku rasakan hingga rasanya lebih baik di panggang dari pada seperti ini.

Jongdae, kau berbohong bila berkata setiap hari ulang tahunmu adalah hari yang sangat menyenangkan. Nyatanya sekarang, kau dan aku, sudah seperti kupu-kupu yang kehilangan sayap indahnya di telan angin.

Aku mencintaimu…. Jongdae…

Jangan tinggalkan aku.

Aku mohon.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s