[CHEN BIRTHDAY PROJECT] – WALK ON MEMORIES – Chenxxi

f448a3ec0bab108604c019c0cdfc0677.jpg

[CHEN BIRTHDAY PROJECT] – WALK ON MEMORIES – Chenxxi – Chen&OC – Romance – G

“Semoga dia tidak mengingatku”


***
Gadis dengan syal yang menggulung dilehernya itu tak henti-henti mengutuk dirinya sendiri. Beberapa saat lalu ia berpapasan dengan cinta pertamanya. Lebih tepatnya lelaki yang ia cintai secara rahasia. Ya… Hanya ia yang memiliki perasaan tersebut. Selebihnya, lelaki itu mungkin hanya mengenalnya. Entahlah… Dia baik hati kepada semua orang, sehingga tak sedikit yang berharap padanya.

Jika di beberkan, pria itu memiliki seribu pesona. Ya… Seribu, atau bahkan lebih. Senyumnya menawan, pandai, dan sejauh ini ia juga masih menggeluti ekstra jurnalistik yang pernah diikuti semasa sekolah menengah dulu. Sebenarnya ia bukan pria tertampan di kampus. Tapi yakinlah, jika kalian bertemu langsung kalian pasti akan jatuh cinta padanya. Aku jamin!
***
Sore itu adalah hari pertama turunnya hujan. Seola sedang duduk bersantai di cafe yang tak jauh dari kampusnya. Karena diluar masih hujan, iapun memutuskan untuk tinggal lebih lama dan memesan secangkir kopi. Seola jadi mengingat bagaimana sejarah ia mencintai lelaki untuk pertama kalinya.

Kenangan itu terjadi enam tahun yang lalu, ia masih duduk di bangku Sekolah Menengah. Sore itu hujan sangatlah deras. Seola menghabiskan waktunya sendirian di teras sekolah menunggu hujan reda. Ia sendirian karena tidak memiliki teman di sekolahnya.

Bukan tanpa alasan, itu juga bukan atas kehendaknya. Ia terlahir dengan mata sipit tanpa kelopak mata ganda, hidungnya besar dan rahangnya yang lebar membuat wajahnya berbentuk bulat. Ia tidak gemuk, hanya saja karena wajahnya yang terlewat biasa membuat teman-teman di kelas membencinya.

“Seol Hee! Kau harus melakukan operasi plastik saat dewasa”.
“Hidungmu seperti babi!”
“Kau lebih buruk dari pada yang terburuk”

Sekiranya begitulah cacian setiap harinya bagi Seola. Ia juga sadar ia tak secantik temannya disekolah. Ia hanya gadis buruk rupa yang hidup di pinggiran kota Busan. Ya… Ia sadar.

Hujan telah reda, dan hari sudah petang. Seola memutuskan untuk segera pulang. Sebelum tiba, ia membeli pembalut di minimarket yang tak jauh dari rumahnya. Setelah membeli pembalut, di pertengahan jalan langkahnya dihentikan oleh tiga teman sekelasnya. Ketiganya cantik, anak dari keluarga terpandang. Tiga dewi idaman disekolahnya itu adalah Irene, Yoona dan Krystal.

Tanpa diduga pembalutnya diraih oleh Krystal, sementara Irene mendorong tubuh kecilnya hingga dahinya terbentur aspal. Tidak sakit, hanya saja dahinya mengeluarkan sedikit darah. Tak hanya sampai di situ, pembalutnya kini sudah berada di tong sampah, dan ketiga gadis itu malah tertawa bahagia.

Saat itu ingin rasanya Seola menjambak rambut ketiga penyihir itu. Tapi mereka berada di kasta yang jauh darinya. Bahkan walaupun hanya satu lawan satu dan ia berada diposisi yang benar pasti orang tua ketiga wanita itu tetap menganggap ia sebagai pihak yang bersalah.

Tapi tuhan maha adil. Malam itu datanglah lelaki berponi. Ia menggunakan piyama dan membawa kamera. Lalu setelah itu ia balik mengancam Irene dan kedua temannya untuk pergi dengan ancaman foto pembullyan itu akan disebar. Seola beruntung, pria ini penyelamatnya.

“Bolehkah aku duduk disini?”
Tiba-tiba suara yang tak asing membuyarkan lamunan Seola, bahkan tak terasa kopi yang diaduknya sedari tadi suhunya telah menurun. Sontak ia menatap lamat wajah pria didepannya.

Demi neptunus! Apa Seola bermimpi? Pria ini, Kim Jongdae? Duduk didepannya? Apa mungkin pria ini mengingatnya? Tidak! Ia tidak boleh mengingat apapun!

“Kau melamun?” tanya pria itu.
“A.. Ahh iya. Uh maksudku tidak.” Seola mendadak gugup.
“Apakah kita pernah bertemu? Sepertinya aku tidak asing denganmu.”

“Tidak. Siapa namamu?”. Dengan cepat Seola menggeleng. Ia terpaksa tidak mengenali Jongdae. Bagaimanapun ia harus menutupi identitas yang sebenarnya.

“Oh, aku Kim Jongdae.” lelaki berambut blonde itu tersenyum, bibirnya yang membentuk ombak itu begitu menawan.

Seola mengangguk, ya… Dia tau jika nama pria berambut blonde itu adalah Kim Jongdae. Batinnya.
“Kamu? Siapa namamu?” pria itu berbicara formal didepan Seola.

“Seola.” Jawab Seola pelan.

Jongdae ber-oh ria, mengangguk, lalu mengajak Seola untuk makan. Dari sini Seola ingin berteriak. Ini takdir!. Hatinya kini sedang berpesta menyalakan banyak kembang api. Dia memang sudah berpapasan dengan Kim Jongdae beberapa kali semenjak menjadi mahasiswa baru. Namun baru kali ini mereka duduk hanya berdua.

Setelah kejadian pembullyan itu Seola memang tidak berada di Busan lagi. Keluarganya pindah di Seoul dan memulai segalanya dari nol. Di Seoul inilah Seola mulai merasakan hidup . Dia merasa di manusiakan oleh teman-temannya, dan dia bahkan mengganti nama lahirnya. Bingo! Seola adalah nama barunya saat ini.
***
Seola POV
Hari berganti. Satu minggu ini aku sering bertemu dengan Jongdae. Kami sudah tak lagi canggung, dan bonusnya Jongdae sudah berbicara nonformal kepadaku. Senangnya.

Kami kembali bertemu hari ini, kebetulan jurusanku sedang mengadakan bazar dan Jongdae terlihat sedang berkeliling stan. Ia berhenti di stanku, menanyakan produk yang kami jual. Akupun dengan senang hati menjelaskan.

Akhirnya diakhir pembicaraan ia memborong produk yang kami jual. Dia memang kaya, terlihat dari hobinya yang senang membeli kamera.

Jongdae mengeluarkan dompetnya, aku sedikit melirik, disana ia menyelipkan sebuah foto. Gadis kecil berambut hitam dengan hidung besar.

Aku menyipitkan mataku memperjelas penglihatan. Aku berfikir, apa ada yang salah dengan mataku? Tapi foto itu terlihat seperti wajahku. Penasaran akupun bertanya pada Jongdae.
“Apa itu adikmu?”
Ia setengah kaget mendengar pertanyaanku. Ia lalu menunjukkan foto itu tepat didepanku. “Ini?”
Benar! Itu fotoku. Kenapa bisa terdapat di dompetnya? Aku mencoba tidak mengenali foto itu senatural mungkin. Aku hanya mengangguk.

Jongdae lalu menghentikan kegiatannya yang semula mengambil uang cash dari dompet. Ia menekuk kembali dompetnya dan menyelipkan di saku belakang celana.
“Ia cinta pertamaku” ucap Jongdae.
“Hah?” aku shock. Mana mungkin! Ini mustahil.

Jongdae kembali menghela nafas dan menatapku. “Ya… Dia adalah wanita pertama yang membuatku berdebar. Aku mengenalnya enam tahun lalu. Aku bahkan menyelamatkan pembalutnya yang nyaris di buang oleh tiga temannya sewaktu sekolah menengah. Tapi sayangnya ia tak berterima kasih dan malah meninggalkanku ke Seoul.”

“Apa?” aku kembali mengeluarkan pertanyaan yang sebenarnya tidak berguna. Aku masih shock. Apa itu kisahku? Aku tak yakin.

Dia melanjutkan. “Kau tahu? Saat aku menyusulnya untuk berkuliah di tempat yang sama ia malah seolah tak mengenalku, walaupun sudah berpisah aku masih mengenalnya. Tapi ia malah bersembunyi, mengganti wajahnya dan mengganti namanya”

“Jongdae-ssi…. Bagaimana.. ” kata-kataku sekali lagi terhenti. Jadi selama ini ia mengenalku?.

“Apa kau sudah mengingatku nona pembalut?”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s