[CHEN BIRTHDAY PROJECT] UNTITLED STORY

bd9323749390be9a228cd8ce251ab115.jpg

Judul : UNTITLED STORY

Brengsek!”

Lelaki berjaket hitam berteriak sekencang-kencangnya seolah sedang memaki lawannya. Emosi di dalam ruangan sekitar empat kali lima meter itu sangat memuncak, ditambah beberapa tonjokan yang menghantam wajah pria berkepala empat.  Pria itu sudah tidak berdaya lagi, wajahnya sudah babak belur.

“Jawab aku apa kau pantas menjadi ayah?”

Saking kesalnya lelaki itu melepas jaket kulitnya dan melemparnya dengan penuh kebencian. Amarah itu semakin menggebu-gebu sejak tadi. Di tempat yang berbeda, seorang gadis yang tampaknya baru saja memasuki ruangan itu melempar tasnya dan spontan berteriak.

“Ya! Apa yang kau lakukan!” Ia mendorong lelaki itu jauh dari lawannya, parahnya lagi, ia mengenali orang itu.
“…K-kim Jong-Dddae?” Bibirnya melafalkan nama itu, wajahnya menunjukan kekecewaan.

Pertama matanya berkaca-kaca, kedua, matanya mengeluarkan cairan kesedihan, ia menangis lalu kemudian, ia menyeritkan dahinya ke arah lelaki itu. Seolah mengatakan, hey, ada apa?

Lelaki di hadapanya menatap heran penuh dengan tanya hingga akhirnya lelaki itu berbalik pergi meninggalkan ruangan. Ekspresinya seolah tidak peduli atas apa yang telah ia lakukan tadi.
“Appa, kumohon kau baik-baik saja.” Dengan nada yang begitu lirih, gadis ini berharap ayahnya berbicara walaupun dengan satu patah kata.
“Gwaenchanayo.” Pria itu berhasil membuat gadis yang sedari tadi mengkhawatirkannya sedikit lebih tenang. Rasanya seperti mendapatkan setetes air pada situasi kekeringan. Segera ia membantu ayahnya untuk bangun dan mencari posisi yang tepat untuk merebahkan badan.

**

I have no reason to live, my head is a mess. And In the morning, my heart feels so empty.

“Jika satu menit berada pada posisiku, apa kau tidak akan menuntut jawaban?” Pertanyaan itu membuat Jong-Dae diam. Amarah yang memuncak dalam dadanya seketika menguap. Sudah satu tahun sejak kejadian itu Jong-Dae acuh kepada Soo-Hye. Untuk kesekian kalinya, ia tidak pernah mendengarkan apapun. Sifatnya mengeras sekeras batu. Wajah Soo-Hye pias, termenung, memikirkan bagaimana cara agar Jong-Dae dapat mendengarkannya. Karena bukti itu sudah ada di tangan Soo-Hye, ia mungkin akan membuktikan beberapa bukti yang mungkin tidak mengarah pada ayahnya.

***

Tidak peduli ini sekolah.
Alunan musik yang indah, Curtain dari Suho EXO terputar dengan santainya. Lagu itu sangat menyayat hati, suaranya yang lembut dan nadanya yang indah. Tidak peduli dengan lirik yang jelas lagu ini indah bagi Soo-Hye.

Satu ditambah satu sama dengan dua, aku ditambah kamu sama dengan … ah tidak, jawabannya bukan dua ataupun kita. Jika a ditambah b maka jawabannya pikir saja sendiri, aku pusing. Ah eomma, maaf. Soo-Hee eonnie, maaf. Appa aku akan segera membuktikan itu dan bersabarlah, Baek-hyunie terimakasih.

Soo-Hye meluangkan waktunya untuk berbicara sendiri, mungkin ia tidak sadar bahwa beberapa orang sudah berada di belakangnya sedari tadi.

“..E-emm, Soo-Hye~yya.”

Ia menyadari bahwa yang ia dengar adalah suara Baek-Hyun. “Ah, aku dengan Jong-Dae dan Soo-Hee.” Kata Baek-Hyun.

“Maaf Jong-Dae.” Soo-Hye memulai pembicaraan berharap mencairkan suasana.

“Hanya ini? Sudahlah.” Untuk kesekian kalinya ia bersikap menyebalkan. Dia pikir meninggalkan adalah sesuatu yang hebat? Huh. Kemudian ketika Jong-Dae hendak pergi, Soo-Hye menghentikannya. Bukan dengan nada yang lirih seperti biasa, tapi dengan nada yang tegas.

“Tidak ada yang brengsek disini kecuali aku. Dia brengsek, seseorang yang bahkan dalam situasi seperti ini pun masih tidak melihatku.”

I’m so in love with you, it kills me to think of life without you.

Perkataan itu memang berhasil membuat Jong-Dae terdiam, Soo-Hee pun sama, sedari tadi ia memang tidak berprinsip, yang ia lakukan hanya mengikuti Jong-Dae.

“Aku tidak pernah melihat ada rasa ingin tahu dimatamu. Begitu jauh aku mengetahui tentangmu. Karena aku bangun sambil memikirkanmu, maka aku membuang semua kesedihanku.” Ketika itu terucap Soo-Hye sebenarnya malu “Tolong beri aku kesempatan.” Soo-Hye tidak bisa menyerah hari ini, kalaupun ia harus mati. Tidak, tidak hari ini. Ia tidak boleh mati sebelum semua ini selesai.

Tik tok tik tok, ini sama sekali tidak berfungsi, rasanya semua ini harus dimulai dari to the point saja.

“Ini bukti yang kita ambil di rumah Jong-Dae, dan..” Baru saja Baek-Hyun memulai, pembicaraanya jelas-jelas di potong oleh Jong-Dae.

“Aku tahu.” Sikat Jong-Dae. Baiklah.

“..E-eemm, kau salah, ayahku bukanlah ayahmu. Aku juga tahu siapa ayahmu sebenarnya.” Pernyataan canggung dari Soo-Hye.

“Hah. Omong kosong apa ini, sudah jelas pak tua itu brengsek.” Jong-Dae tersenyum sinis.

“Lihat kalungmu, disana ada nama ayahmu yang sudah mulai memudar.” perjelas Soo-Hye. Lalu kemudian Jong-Dae memeriksanya.

“Lalu kenapa nama ayahmu selalu muncul dalam buku catatan ibuku? Dia bahkan menggambar sketsa kami bertiga. Tertulis jelas nama ayahmu.” Lanjut Jong-Dae.

Soo-Hye menunjukan sebuah catatan, “Dihalaman ini kau tidak membacanya secara teliti. Padahal ibumu menulis kejadian bagaimana kau ada.” Menunjukkannya, lalu meneruskan “Ibumu sangat menyukai ayahku, sayangnya ayahku lebih menyukai ibuku. Perjelasnya.

“Sial!” Emosi Jong-Dae lebih muncul disini.

“Jadi semua ini tidak benar? Hey maafkan aku.” Kata Soo-Hee yang lalu memeluk erat saudara kembarnya. Soo-Hye tersenyum ditambah dengan tangis kebahagiaan. Sementara Jong-Dae terpukul sendiri. Soo-Hye tidak pernah melihat ini sebelumnya. Ia menghampiri  Jong-Dae, berharap temannya ini berhenti menangis.

“Mianhae, Soo-Hye.” Ucap Jong-Dae.

“Gwaenchana Jong-Dae~ssi, uljima.” Soo-Hye masih menepuk-nepuk pundak Jong-Dae.

Every time you call my name, I can’t stop smilling.

“Sekarang aku tahu caramu menangis, ternyata ini menyakitkan.” Soo-Hye pun tersenyum, ya, meskipun air matanya memang tidak pernah berhenti dari tadi. Jong-Dae berbalik memandang Soo-Hye.

“Aku sudah kehilangan ibuku. Bahkan dengan mata tertutup aku tidak bisa menerima ini.” Kata Jong-Dae. “Aku memang menyukaimu, aku mengetahui tentangmu. Tapi aku tidak akan pernah memaksamu untuk menyukaiku. Maaf, karena aku bersikap kasar padamu, maaf karena aku menghajar ayahmu.” Perkataan itu membuat Soo-Hye terpaku. Speechless. Sejujurnya memang Soo-Hye sangat menyukai Jong-Dae sejak dulu.

“…T-tapi a..aku.” Ucap Soo-Hye terbata-bata.

“Santailah, berhenti mengkhawatirkan.”
Ucapan Jong-Dae membuat hati Soo-Hye luluh, senyuman di keduanya sangat manis. Baek-Hyun dan Soo-Hee pun ikut memperhatikan mereka dari belakang disertai dengan senyuman yang sedikit haru.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s