[CHEN BIRTHDAY PROJECT] NOT-SO-ROMANTIC-PROPOSED – Leavendouxr

046ff9160d42b3829ff7aab525cdb636.jpg

 [CHEN BIRTHDAY PROJECT] NOT-SO-ROMANTIC-PROPOSED – Leavendouxr

Scriptwriter: Leavendouxr

Cast(s): EXO’s Jongdae, Eve [OC]

Genre: half-romance

Rated: T

Duration: Vignette
.

.

Eve pikir, dia akan dilamar saat makan malam romantis di tengah laut dan penuh dengan lilin.


.

.

.

.

.

Evenna Stailson tersentak kaget begitu satu tangannya mengayunkan pintu flat ke dalam, berniat melihat siapa yang belum lama ini mengganggu jam produktifnya dengan bertamu di jam malam.

Bibirnya terbuka sedikit, “Jongdae!” pekiknya tertahan, antara ingin protes tapi juga takut membangunkan tetangga satu tembok kanan-kirinya.

Kim Jongdae, masih dengan kemeja dan dasi (meski kusut sana-sini), menaruh tas kerja beserta bokong besarnya ke atas sofa. Wajahnya lelah, rambutnya berantakan, dan aroma parfumnya lenyap entah ke mana menjadi bau keringat walaupun matahari sudah enyah sejak lima jam yang lalu.

Eve mengunci pintu flatnya kembali, menghadap Jongdae dengan tangan terlipat di dada, “Jadi, sir, apa yang kaulakukan malam-malam di flatku?”

“Aku mau menginap.”

Santai sekali, seperti minta air minum.

“Sayangnya pemilik flat ini tidak setuju.”

“Ada alasan masuk akal kenapa kau tidak setuju kalau aku menginap?”

Eve menggelengkan kepalanya, “Ini sudah malam, harusnya kau tahu kalau aku tidak suka menerima tamu.”

“Tapi kau membukakan pintunya.”

“Well, Jongdae, ayahku akan berkunjung. Kau tidak boleh di sini.”

Senyum nakal bermain di bibir Jongdae, “Ini sudah malam. Ayahmu tidak akan datang malam ini juga, ‘kan? Tapi tidak masalah, kami bisa main catur bersama. ”

“Jangan harap, yang ada juga kepalamu bakalan jadi hiasan dinding sampai ayahku tahu ada laki-laki lain yang datang ke flatku. Apalagi sampai menginap.”

“Bukan salahku, sih, karena putrinya yang membukakan pintu.”

Eve mengangkat kedua tangan, “Aku menyerah.” kemudian kaki-kaki mungilnya menapaki lantai menuju dapur kecil di sudut ruangan.

“Jadi aku boleh menginap?”

“Sudah terlanjur. Kalau aku mengusirmu juga kau tidak bakalan mau pergi.”

“Nah, itu baru pacarku.”

Gadis itu kembali ke ruang tamu dengan secangkir teh, kemudian menaruhnya di meja. Jongdae melepas dasi yang mengikat lehernya dan kembali merebahkan badan besarnya di sofa.

“Kau bisa tidur di sini. Nanti aku bawakan bantal dan selimut.” Eve bersiap pergi, tapi satu tangannya dicekal pelan.

“Kau mau kemana?”

“Ke kamar.”

“Mau tidur sekarang?”

“Aku punya banyak tugas yang harus di kumpulkan besok. Kau mengganggu waktu produktifku, sebenarnya.” Jongdae melepas genggamannya, dan ikut berdiri sambil membawa cangkir teh.

“Well, keberatan kalau aku temani? Kita bisa sekalian ngobrol sambil kau mengerjakan tugas.”

Eve mengendikkan bahu, “Terserah.”

.

.

.

.

.

Jadi, di sinilah Kim Jongdae. Duduk sendirian di pinggir ranjang, menahan kantuk sembari menatap punggung pacarnya yang masih menekuni tugas kuliah. Eve serius sekali, Jongdae jadi membayangkan wajah gadis itu yang dipenuhi gurat kebingungan atau kadang menaik-turunkan alisnya.

Ia tersenyum pelan.

Eve menoleh, memandang Jongdae yang baru saja mengusap kedua matanya, “Apa kau mengantuk?”

“Tidak. Aku baru saja mengutuk Arnold karena memberimu banyak tugas. Apa aku perlu menegurnya untuk tidak menyusahkan mahasiswinya?”

“Jangan menyalahgunakan wewenangmu. Santai saja, sebentar lagi juga selesai. Lagipula, kenapa kau mau menginap? Kau bisa tidur lebih cepat kalau di rumah, ‘kan?”

Jongdae membaringkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar, “Aku kangen.”

Eve mendenguskan tawanya dari kursi, “Usiamu bahkan sudah di penghujung tiga puluh.”

“Memangnya cuma anak bau kencur saja yang boleh bilang kangen ke pacarnya? Aku juga boleh, dong?”

“Well, terserahmu sajalah.”

Pria itu berguling ke samping, menyanggah kepalanya dengan satu tangan, “Memangnya berapa usiamu?”

“Dua puluh enam tahun, dan aku sedang menempuh kuliah pascasarjana.”

“Sudah cukup untuk menikah, ya, berarti. Jujur saja, aku lelah disindir perjaka tua terus. Kau tahu Evans Roley, ‘kan? Dosen Sosiologi di fakultasmu, dia bahkan seumuran denganku tapi anaknya sudah tiga.”

Gadis itu berbalik, memilih menatap Jongdae yang kini juga tengah memandang serius ke arahnya, “Maksudmu?”

“Kita menikah saja, yuk.”

Eve menaikkan alis. Dia sebenarnya sudah mengerti sekalipun Jongdae tidak menyebutkan kata ‘menikah’ secara jelas. Sejujurnya dia juga sering jadi bulan-bulanan di keluarganya jika sedang ada pertemuan karena usianya sudah lumayan cukup untuk menimang anak.

Bukannya tidak siap, malah dia kelewat siap menjalani rumah tangga, apalagi dengan Jongdae yang notabene sudah mapan luar dalam. Tapi masalahnya, Eve cuma bingung.

“Kenapa diam saja? Kau tidak mau menikah denganku?”

Gadis itu mengerjapkan matanya, Jongdae masih menatapnya dengan mata terang-benderang, padahal tadi sudah mengantuk sekali.

“Bukan, bukan itu. Aku cuma bingung. Aku tidak menyangka bakalan dilamar di kamarku, tengah malam dan kelewat santai begini. Kupikir, kau akan menyiapkan makan malam romantis di tengah laut, penuh dengan lilin, lalu dengan musik mendayu, dan sekotak cincin berlian.”

Jongdae membuka mulutnya, kaget.

“Wow.”

“Tidak, kok,” Eve tersenyum lebar, menghampiri Jongdae di kasurnya, “aku bercanda. Syukurlah kau sadar umur. Aku berpikir untuk meninggalkanmu sampai kau tidak melamarku tahun depan.”

“Jahat sekali.”

Jongdae bangkit dari kasur, menerima uluran pelukan dari Eve, “Aku akan bertemu orangtuamu Sabtu nanti. Kau juga harus ikut. Setidaknya kalau lamaranku ditolak, kita bisa langsung kawin lari.”

Eve melepas pelukannya, menempeleng pelan kepala Jongdae, “Jangan konyol.”

“Pokoknya aku mau secepatnya. Supaya kita bisa pulang bersama tanpa takut ketahuan mahasiswa lain, supaya aku tidak perlu bertamu malam-malam ke flatmu, apalagi jadi pajangan dinding sampai ketahuan ayahmu.”

Gadis itu tertawa, memeluk Jongdae sekali lagi, “Terimakasih.”

“Omong-omong, tugasmu belum kelar, ‘kan?”

“Oh, dammit, aku lupa tugasku.”

Eve beranjak, namun Jongdae menahan tangannya lagi, menarik pelan hingga gadis itu mendekat dan mencuri satu ciuman singkat.

“Aku menyayangimu.”

-fin.

[sorry for typos and mind to review? ^^]

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s