[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Laugh Love – Schweickart Lia

a6ec7e9d22c855ce752aa1341eaea424.jpg

[CHEN BIRTHDAY PROJECT]

Laugh Love

Copyright 2017, Schweickart Lia

Sebuah fanfiksi dengan nyala roman keluarga dalam PG-15.

Dibintangi oleh EXO Kim Jong Dae x OC Kim Dae Hee.

***

Apa makna tertawa bagimu?

***

“Apakah anggaran kosakatamu defisit sehingga seharian kau memutuskan untuk hemat berdialog?” tanya Jong Dae pada gadis mungil di hadapannya.

Ia terlihat melipat acak ujung piama merah jambunya, gusar. Lantas berucap “Tidak. Aku hanya menahan diri untuk tidak menceritakan lelucon pada kakak.”

“Kau tahu kakak tidak bisa tertawa, Dae Hee sayang..”

Suara itu,

perpaduan intonasi nada selembut beledu yang selalu mengetuk lembut rungunya untuk melepaskan diri dari tautan bunga tidur dengan cara yang menyenangkan.

Ya, sangat menyenangkan.

Terlalu menyenangkan hingga rasanya ia akan kalap jika semesta merajut takdir dari kemungkinan terburuk yang berotasi di kepalanya.

Penyakit setengah sindrom sialan itu seharusnya tak pernah ada.

Monster dalam nadinya terlalu egois untuk bisa merelakan.

Jika kakaknya harus pergi..

“Bukan tidak bisa, tidak boleh..” Gadis sebelas tahun itu mengoreksi.

Jong Dae tersenyum penuh arti. “Kau bahkan lebih mengerti. Lagi pula kau tahu selera humorku..”

“Yaa..” balas Dae Hee getir. Mata bulat dengan iris biru -warisan mendiang ibunya- itu enggan untuk kembali beradu pandang dengan sepasang netra lain yang sangat serupa dengan milik ayahnya -yang telah lama tiada-.

Paras cantik itu perlahan tertutup oleh rambut hitamnya yang terurai. Lalu ia menggembungkan pipinya, bersamaan dengan bibir yang mengerucut. Serta jari telunjuknya yang enggan diam, terus membuat pola melingkar pada seprai di bawahnya.

Muncul lipatan pada kening pria itu, ia lantas merapatkan posisi duduknya. “Sesuatu mengganggu pikiranmu?” Gadis itu menggeleng cepat.

“Tidak perlu berbohong..” Responsnya tak kalah cepat.

Kepala itu masih menunduk, namun mata bulatnya sedikit mencuri pandang. “Hm.. Ya, ada sebuah pertanyaan..”

“Katakan..”

“Judul skripsi yang dulu kakak ambil?”

“Estimasi Maksimum Likelihood Pada Model Arima (1, 1, 0) Box-Jenkins.” Ia mengatakannya tanpa cela seakan baru menyusunnya kemarin, padahal kini telah genap setahun sejak ia meraih gelar doktornya.

“Terdengar terlalu ilmiah, tapi itu sangat keren. Apakah pernah harus direvisi?”

Pria berambut hitam itu terlihat menaikkan sebelah alisnya. “Ya. Sekitar dua atau tiga kali..”

“Dan apakah kakak tahu? Mahasiswa di departemenku mendadak terkenal karena mengajukan skripsi berjudul ‘Dampak Revisi Terhadap Revisi Yang Direvisi’.”

Subjek yang diajak bicara tak banyak bereaksi, tepat seperti apa yang terbayang oleh Dae Hee. Namun, ia sendiri mangatupkan bibirnya rapat-rapat dengan pipi tembam yang memerah, menahan tawa.

Setelah beberapa sekon, akhirnya ia membuang napas. “Oh astaga, itu. sangat. lucu. Bolehkah aku tertawa? Sekarang juga?” Gadis itu bertanya, tak lupa memberikan penekanan pada setiap katanya.

Jong Dae kembali tersenyum, ia sangat gemas dengan adiknya ini. “Sudah berkali-kali kukatakan, jangan segan. Kau boleh tertawa kapan pun kau mengiginkannya.”

Agaknya gadis mungil itu terlampau segan, ragu, dan.. takut. Pilihannya kali ini adalah mereguk semua tawa yang seharusnya mengangkasa.

Padahal, jika saja ia tahu.

Jong Dae sangat menyukai tawanya yang seindah melodi surga itu.

“Hatimu akan sesak jika kau menahan tawamu.” Tembakan silabel jitu yang selalu sama jika Dae Hee menanyakan pertanyaan yang serupa.

Mengapa,

rasanya seperti benar-benar ada timah panas bersarang tepat di jantungnya?

Jadilah, gadis itu lagi-lagi membuang wajahnya. Kendati tanpa berbicara, kini Jong Dae mengerti apa yang menjadi sumber kekalutan adiknya ini.

Ia meraih jemari gadis mungilnya, mengusap punggung tangannya lembut, dan berujar. “Kau sangat dingin sayang.. Apakah di ujung jarimu tak sedikit pun kehangatan mentari yang tersisa?”

Alih-alih menanggapi, gadis itu berucap. “Hm.. Aku ingin tidur saja kak..”

Gadis mungilnya mengalihkan topik, Jong Dae mengerti. “Mau kakak bacakan dongeng Rapunzel?”

“Hm.. Itu terdengar bagus.”

“Rupanya mahasiswi kecil ini masih menyukai dongeng, hm?” Goda Jong Dae sambil menaikkan selimut untuknya.

Dae Hee kembali megerucutkan bibir, tanda tak senang. “Lain kali, mungkin akan lebih baik jika kakak membacakan jurnal ilmiah dan karya non-fiksi saja. Atau setidaknya sebuah wacana tentang bagaimana Burung Takahe yang telah punah, muncul kembali di tahun 1948.”

Ia bergerak memindai posisi tidur yang nyaman. Lantas berpikir, dan teringat akan sesuatu. “Dongeng Rapunzel?” ulangnya. Jong Dae mengangguk.

“Gadis dengan rambut pirang sepanjang menara itu? Oh tidak tidak tidak..” tolaknya mentah-mentah sambil melipat lengan dengan kepala yang menggeleng kuat.

Ia melanjutkan. “Rata-rata rambut manusia hanya tumbuh 12 mm setiap bulan. Berarti dalam 17 tahun, rambut akan tumbuh sepanjang 2,448 m. Dan menara jauh lebih tinggi dari itu. Sangat tidak logis!”

“Haha.. Itulah dongeng, Dae Hee sayang.. ”

Tunggu.

Apa yang rungunya sensor pasti salah.

Kakaknya, Kim Jong Dae.

Tertawa.

Sreet..

Duk!

Raga pria itu tersungkur, terjerembap di atas dinginnya lantai. Ia seakan mengaku kalah terhadap gaya gravitasi.

“KAKAK!!”

Dae Hee terisak. Kristal bening dengan segala egonya, kini mencair.

Ia mencengkram sembarang bagian selimut terdekat dari jemarinya. Kepalanya mendadak berat, dan pusing.

Tak ada gunanya sang kakak mengajarinya arti kehidupan.

Jika mulai sekarang.

Ia harus hidup sendiri.

.

.

.

.

Penyakit Osteogenesis Imperfecta bisa mengakibatkan penderitanya patah tulang pada leher hanya karena tertawa.

.

.

.

.

.

.

.

“Astaga Kim Dae Hee, aku hanya bercanda.”

Sekonyong-konyong pria itu bangkit sambil sedikit mengaduh. Ia melanjutkan. “Aku hanya mengatakan ‘haha’, dan itu bukan berarti aku tertawa.”

Masih sambil sedikit terisak, Dae Hee membulatkan matanya tak percaya. Demi otak encer kakaknya, ia sangat kesal!

“Selera humor kakak jelek sekali. Mati saja sana!”

“BERANI SEKALI KAU BERBICARA SEPERTI ITU, KIM DAE HEE!”

-Tamat-

One thought on “[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Laugh Love – Schweickart Lia”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s