[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Hold The Reins – Ranfzhr

b89b6bc6b3a720c7f2bcde89bad2d774.jpg

[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Hold The Reins – Ranfzhr

Chen & Xiumin || Mystery, Family || PG-13

.

.

“Boo!”

“Astaga!”


Torehan tinta yang tak diinginkan menodai kertas dimana Xiumin tengah merancang proyek terbarunya. Si perancang sudah nyaris menangis karena usaha kerasnya untuk menjaga gambar rancangan agar tetap rapi pada akhirnya harus kacau juga. Dan itu sekadar karena tepukan mengejutkan dari seseorang yang wajahnya menyerupai persegi dengan rambut oranye ini, yang kini bahkan hanya nyengir lebar tanpa (mau) tahu akibat yang ditimbulkannya.

“Chen! Ya Tuhan, berapa kali lagi kau mau mengacaukan tugasku? Kau tahu ini tidak mudah, di saat aku bahkan harus mengisi ulang tinta hanya untuk setiap tiga goresan trekpen ini di atas kertas sampai setengah gila. Kuingatkan sekali lagi, Chen,—“

“Mengganggu pekerjaan orang itu tidak baik.” Si pemuda berambut oranye menyambar, jelas tahu persis lanjutan atas perkataan pemuda satunya yang terlihat masih gatal ingin berpetuah lebih banyak.

“Ya, bagus sekali. Kau tahu itu dan tetap melakukannya dalam frekuensi teramat sering.” Xiumin meremas kertas-produk-gagal nya dan melemparnya telak ke keranjang sampah. Tangannya cekatan mempersiapkan kertas baru beserta tetek-bengek lain untuk mengulang pekerjaannya sambil bersungut-sungut.

Yang dipanggil Chen hanya tertawa renyah. Faktanya menjadi penyebab atas kekesalan sepupunya itu tidak pernah cukup untuk membuatnya merasa bersalah. Celotehan kesal Xiumin menyenangkan untuk dilihat, setidaknya bagi Chen. Namun tawa itu tak berlangsung lama. Karena jelas, kedatangannya ke flat sang kakak sepupu tidak sebatas untuk mencari hiburan dengan cara mengganggunya semata. Untuk itu ditariknya sebuah kursi lain ke hadapan Xiumin, duduk dengan posisi kursi terbalik dan menyangga dagu di sandarannya.

Selama beberapa menit yang singkat, Chen memilih untuk diam terlebih dulu. Membiarkan serta mengamati kakaknya yang tengah tekun melakukan pekerjaannya untuk sesaat. Sampai akhirnya Xiumin menjadi yang pertama berinisiatif untuk bertanya.

“Ada apa?” tanya pemuda dengan tatanan rambut amat rapi itu. Segala pena dan tinta telah diletakkannya, seolah tahu persis bahwa setelah ini akan ada permbicaraan yang cukup serius.

Jeda dua detik, Chen berkata singkat, “Aku dituduh lagi.”

Satu kedipan. Xiumin melihat seulas senyum tipis di bibir adiknya. Dan dia memahami itu sebagai tanda kesedihan.

Tapi Xiumin bukan tipe kakak melankolis yang akan memberi kata-kata lembut penyemangat dalam masalah semacam ini. Ia jelas lebih memilih jalan tegas untuk mendidik adiknya. Sambil mengambil kembali pena dan lanjut menggambar, Xiumin memasang tampang setengah cueknya.

“Kali ini apalagi?” tanyanya dengan fokus mata yang masih terpancang pada kertas di atas meja.

“Seorang anggota klub drama tewas di gedung teater kampus.” Chen menghela napas tak kentara, “dan.. yah, selanjutnya adalah aku dituduh sebagai pelaku hanya karena tertangkap berada di tempat kejadian, tepat di hadapan mayatnya.”

Gerakan pena Xiumin terhenti. Sesungguhnya, Xiumin cukup terkejut dalam hati karena rupanya masalah Chen kali ini menyangkut kematian seseorang. Biasanya hanya tuduhan tak begitu penting seperti perusak hubungan orang, atau paling parah tuduhan terlibat pencurian barang berharga. Jadi kali ini, Xiumin benar-benar merasa tidak terima. Mana ada anak baik-baik seperti adiknya ini sampai hati untuk membunuh?

Pena kembali diletakkan dan kertas tak lagi dihiraukan. Xiumin melipat lengan di atas meja, menumpukan perhatian sepenuhnya pada Chen. “Biar kutebak. Kau tahu siapa pelakunya tapi tak punya bukti apapun untuk buka suara?”

Chen mengangguk bersama ulasan senyum tipisnya. Oh ya Tuhan, pemilik senyum seteduh itu disangka membunuh? Xiumin emosi sampai tak sadar telapak telah mengepal.

“Aku sudah sering bilang padamu, biar orang-orang itu urus masalah mereka sendiri. Kenapa kau selalu melibatkan diri?”

Chen mengambil pena milik Xiumin, memainkannya sekadar untuk menyibukkan matanya sendiri. “Bagaimana caranya?” Chen masih tersenyum, “Bagaimana caranya menjadi masa bodoh atas apa yang terlanjur kau ketahui, Hyung?”

Membuang napas kasar, Xiumin memijat pelipisnya yang mulai terasa berdenyut.

“Cukup biarkan mereka, Chen. Menjauh dan pura-puralah tidak tahu apapun.” Nada suaranya tedengar sangat jengah. Ia kesal, bahkan marah, terhadap sifat adiknya yang terlampau baik hati. Seharusnya Chen belajar untuk menjadi jahat sesekali. Sesekali saja, hanya agar dirinya tidak lagi terlibat dalam masalah apapun.

Atmosfer di antara keduanya mendadak aneh. Chen jadi merasa tak enak hati karena lagi-lagi membawa kabar buruk. Kakaknya jelas sekali terlihat menahan amarah hingga tak berminat lagi melanjutkan pekerjaan. Ia hanya sibuk memijati pelipisnya sendiri.

“Biar kubantu.” Chen berdiri gesit. Dia menyingkirkan tangan Xiumin dan mengambil alih untuk memijat pelipis kakaknya.

“Lihat, hal sekecil ini saja kau campuri. Dasar kotak baik hati.” umpat sang kakak dengan mata terpejam. Meski berucap demikian, ia menggumam senang karena pijatan Chen memang selalu yang terbaik.

Ponsel Xiumin di atas meja bergetar singkat. Sang pemilik sudah terpejam—setengah tidur karena begitu nyamannya efek pijatan di kepala. Karena itu Chen berinisiatif mengeceknya. Dan sebuah pesan masuk lah yang ia dapati.

“Hyung? Kau memesan pizza?” tanya Chen setelah membaca isi pesan tersebut.

“Hmm.. ya. Kenapa?” Berkat sebelah tangan Chen yang masih terus memijati kepalanya, Xiumin dibuat benar-benar nyaris tertidur.

“Dia menanyakan apakah jalan yang diambilnya sudah benar atau belum.” lapornya.

“Kau saja yang balas.” ujar sang kakak malas. Ia sedang berusaha membuka matanya lebar-lebar karena teringat pekerjaannya yang belum selesai.

Setelah menggumamkan kata ‘oke’, Chen mengetikkan balasan kepada si pengantar pizza. Kemudian hanya berselang beberapa menit, bel pintu depan flat sederhana itu berbunyi.

“Ah, dia datang.” Chen tersenyum lebar dan melangkah ringan menuju pintu. Pizza itu makanan kesukaannya omong-omong. Sepertinya Xiumin memang sengaja memesannya karena Chen datang berkunjung.

Chen membuka pintu. Ia sudah siap bersama senyum sumringahnya menyambut seseorang di depan pintu. Orang berseragam dan bertopi merah itu turut tersenyum. Di tangannya terjinjing dua kotak pipih berlogo restoran cepat saji.

Namun begitu melihat wajah pengantar pizza itu, jantung Chen entah mengapa berdegup tak normal. Terlebih, ketika tak sengaja Chen menatapnya tepat di mata. Tak lama-lama Chen bertanya-tanya apa sebab degupan itu, sebab ia harus cepat bergerak.

Pintu dibanting tertutup. Chen terengah karena berusaha melawan rasa takut yang tiba-tiba muncul dan menguasai dirinya. Matanya bergerak kesana-kemari seiring otaknya yang berpikir keras hal yang sekiranya harus dilakukan.

Tangannya gemetar meraih tombol interkom. Dari layar kecil itu, Chen mengamati wajah si pengantar pizza bersama setetes peluh yang mengaliri pelipisnya.

Dia bukan sekadar pengantar pizza.

Dengan napas memburu Chen memastikan pintu telah tertutup rapat, kemudian berjalan menghampiri sang kakak sepupu yang telah kembali menekuni pekerjaan. Kakinya lemas, sementara jantungnya semakin berdetak bertalu-talu.

“Hyung..” panggilnya. Xiumin menoleh, bertanya kebingungan mengapa Chen tidak datang bersama pizza pesanannya.

“Temanmu datang…” Chen berkata gamang. Xiumin mengerutkan dahi atas guratan ketakutan yang begitu besar di wajah adiknya. “..menyamar—“

Mungkinkah Chen telah mengetahui sesuatu? Xiumin baru saja hendak menghampiri adiknya yang tampak aneh, tapi—

“—dan berniat membunuhmu.”

.

.

fin.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s