[CHEN BIRTHDAY PROJECT] HIGHEST

timeline_20170923_105437

[CHEN BIRTHDAY PROJECT] HIGHEST – iridescent
CHEN & HAEIN || Romance, Angst || G

Hey, kau sibuk?”

“Tidak juga, ada apa?”

“Umm, aku merindukanmu, bisakah kita jalan-jalan malam ini?”

Kim Jongdae,
Ia tersenyum dan memandang ke arah Haein yang sedaritadi menunggunya yang berkutat dengan pensil dan sketchbooknya. Menggambar pakaian-pakaian yang bahkan Haein tak tahu modelnya.

Jongdae beranjak dari duduknya, menghampiri Haein yang sedang berdiri di depan pintu ruang kerjanya. Haein menunduk malu saat Jongdae semakin dekat ke arahnya. Pipinya merona dan ia tak mau ketahuan.

“Kau lucu sekali, aku jadi gemas”

Jongdae terkekeh, memperhatikan wajah Haein yang kini menatapnya kesal, membuatnya semakin lucu. Demi apapun, Jongdae sangat menyanyangi Haein, tak ada yang membuatnya mencintai seseorang begitu dalam sebelumnya, seperti yang Haein lakukan padanya saat ini.

“Ajakan diterima”

Mata Haein berbinar, pasalnya Jongdae sangat sibuk, ia harus mengurusi beberapa model pakaian yang akan di tampilkan pada Seoul Fashion Week tiga bulan mendatang.

“Serius????”

“Ya” Ucap Jongdae final.

“Terimakasih Oppa!”

Haein melompat kegirangan, sampai ia kehilangan kendali dan akhirnya membuat kepalanya terbentur di kusen pintu. Haein meringis kesakitan, Jongdae dengan segera memeriksa kepala Haein, wajahnya sarat akan kekhawatiran. Namun tiba-tiba Haein tertawa kecil, menurutnya, ekspresi Jongdae itu berlebihan, ayolah, ini tak begitu sakit.

“Kenapa tertawa?” Tanya Jongdae dengan wajah seriusnya.

Haein hanya menggeleng dan masih tertawa kecil, mendongak memerhatikan Jongdae yang masih sibuk mengelus lembut kepalanya dan meniup-niupnya.

Satu kecupan Jongdae berikan di pucuk kepala Haein. Membuat Haein kembali merona.

“Sembuh”

Haein tersenyum. Begitu juga dengan Jongdae, mereka saling bertatapan, menyalurkan kasih sayang satu sama lain melalui tatapan itu.

 

“Berangkat sekarang?”

Spontan Haein melirik jam tangannya, pukul 7 malam.

Haein mengangguk semangat, “Ayo!”

 

β€’β€’β€’

 

“Kenapa kau ingin kesini?” Tanya Jongdae sambil melilitkan syal ke leher Haein.

“Hanya ingin”

Entahlah, akhir-akhir ini Haein sangat ingin mengunjungi sungai Han, ia pernah bilang bahwa sungai Han menyimpan banyak kenangan untuknya, tempat dimana keluarganya sering piknik, tempat dimana ia pergi saat pergumulan hidupnya datang, tempat dimana ia dan Jongdae mengikat janji untuk yang pertama kalinya.

“Tempat ini, apa kau ingat? Dua tahun yang lalu?”

Haein tersenyum ke arah Jongdae

“Tentu saja, bagaimana aku bisa lupa?” Balas Jongdae dengan senyuman yang tak kalah menawan dari gadis di sampingnya.

“Saat itu kau menyatakan perasaanmu, lucu sekali mengingat tanganmu yang bergetar memegang buket bunga itu”

Masa-masa yang indah

Haein tertawa, menerawang kembali kejadian yang takkan pernah ia lupakan seumur hidupnya.

“Kau tahu, semua pria akan gugup jika itu menyangkut confession pada orang yang mereka sukai”

Hening, Haein tak berniat membalas, lebih memilih menikmati angin yang menerpa kulitnya.

Jongdae kembali ingin membuka suara namun ia di dahului oleh suara ledakan yang tak jauh dari arah mereka berdiri.

Telinga Jongdae berdengung, ia tak dapat mendengar apa-apa, keseimbangannya berkurang dan akhirnya jatuh terduduk sambil memegangi telinganya yang sakit.

Ia bisa melihat Haein yang berada di depannya menangis ketakutan, dengan gerakan tergesah, ia menarik tangan Haein dan membawanya jauh dari sana. Baru saja beberapa langkah berlari, Jongdae dapat melihat segerombol orang lari ke arah mereka.

Mereka membawa senjata dan pakaian mereka berwarna hitam. Jongdae mempererat pegangan tangannya pada Haein dan mempercepat langkahnya.

Telinganya kembali berfungsi, namun hanya sebelah. Ia dapat mendengar dengan jelas tangis Haein yang berada di belakangnya. Mereka berlari cukup jauh, tapi segerombolan orang itu masih mengikuti mereka.

Suara tembakan terdengar. Peluru menembus kaki kanan Haein, membuatnya berteriak kesakitan dan akhirnya terjatuh di tanah.

“HAEIN!!”

“Tidak, tidak, bagaimana ini ya Tuhan”

Isakan Haein semakin terdengar nyaring, melihat Haein terluka dihadapannya membuat hatinya hancur, kaki Haein tak kunjung berhenti mengeluarkan darah. Dengan cepat, Jongdae merobek sedikit pakaiannya dan membalut luka Haein.

Jongdae memapah tubuh Haein dan bergerak secepat yang mereka bisa, menghindari para teroris yang tengah mengejar dari belakang.

 

Dua suara tembakan kembali terdengar, keduanya terhempas kedepan, peluru tepat mengenai bahu kanan dan lengan kiri Jongdae.

 

“Ya Tuhan, Jongdae, lenganmu” air mata mengalir deras di pipi Haein, melihat Jongdae terkapar tak berdaya di tanah.

Suara deru langkah yang tak beraturan menyadarkan keduanya bahwa teroris itu semakin dekat.

 

Tak ada pilihan lain

 

“JONGDAE LARI!”

 

“Tidak, apa maksudmu, kita akan pergi dari sini” Jawab Jongdae, suaranya bergetar.

“Jongdae kumohon, pergilah. Lari sekuat yang kau bisa”

“Apa?! Kau bodoh?! Tidak aku tak akan pernah melakukannya”

 

“Jongdae, mereka mendekat. CEPAT LARI!”

 

“TIDAK TANPAMU LEE HAEIN”

Haein meraih wajah Jongdae, menatapnya dalam. Air mata telah mengalir dari kedua pasang mata itu.

“Kau pernah bilang, kasih itu butuh pengorbanan. Demi apapun di dunia ini, aku mengasihimu, aku mencintaimu Kim Jongdae. Dan aku memilih berkorban untukmu, jadi ku mohon pergi dari sini!”

 

“Tidak tidak tidak” Jongdae menggeleng cepat, air matanya tak kunjung berhenti.

 

“Aku mohon Kim Jongdae, jika kau sampai tertangkap aku takkan memaafkan diriku sendiri”

 

“Baik, akan kulakukan tapi, tutup matamu”

“Apa?”

“Tutup matamu Haein”

Haein bingung. Apa yang sedang Jongdae coba lakukan, namun ia menuruti apa yang dikehendaki pria itu. Ia menutup matanya.

Setelahnya, Haein dapat mendengar suara langkah kaki menjauh, diikuti suara derap kaki yang lain, orang itu mendekat. Haein membuka matanya perlahan, mendapati seseorang berpakaian hitam dengan senjata api, mengarahkan benda itu ke arahnya. Disana tak ada lagi Jongdae. Ia lega.

“Ucapkan selamat tinggal nona”

 

Haein menutup matanya, tak lagi mencoba untuk melawan ataupun menyelamatkan diri. Inilah akhir dari seorang Lee Haein, yang berkorban untuk cintanya. Dalam hati, ia menyerukan kalimat yang sekiranya dapat tersampaikan

Setelah ini, ku mohon hiduplah dengan bahagia, lupakan kenangan yang menyakitkan, hanya ingat yang menyenangkan. Berjanjilah kau akan segera menemukan penggantiku, Kim Jongdae, aku mencintaimu, bahkan lebih dari diriku sendiri..

 

Suara peluru itu terdengar nyaring di telinga Haein.

Aneh,
Ia tak merasakan apapun.
Ia hanya mendapati seseorang tersungkur di depannya, menghalangi peluru itu menembus kepalanya.

Sekarang ia mengerti.

 

Pada akhirnya, sebesar apapun keinginannya untuk berkorban, Jongdae takkan membiarkan itu terjadi.

Apakah cinta membutakan semuanya?

Tidak.
Cinta membuka mata hatimu, menutup nalar dan logikamu.

Apakah cinta membuatmu melakukan hal konyol?

Tidak.
Cinta membuatmu melakukan hal berdasarkan hati, perasaan, ego.

Tak peduli kau sendiri merasa kesasakitan dan sekarat, kau akan melakukan cara apapun agar orang yang kau cintai bahagia.

 

Inilah tingkat tertinggi dari sebuah cinta.

 

Pengorbanan.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s